Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24903 | 06 Apr 2026
Klinis : pasien bayi baru lahir dengan kejang 1x
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bayi Baru Lahir dengan Kejang
Kode SDKI: 0028
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakstabilan Suhu Tubuh
Kode SLKI: 1409
Deskripsi : Pengaturan Suhu Tubuh
Kode SIKI: 3401
Deskripsi : Pemantauan Suhu Tubuh
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI): Risiko Ketidakstabilan Suhu Tubuh (Kode 0028)
Definisi: Keadaan rentan terhadap ketidakmampuan mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal, yang dapat membahayakan kesehatan. Pada bayi baru lahir, terutama yang mengalami kejang, risiko ini sangat tinggi. Kejang pada neonatus merupakan kondisi serius yang sering disebabkan oleh gangguan metabolik (seperti hipoglikemia, hipokalsemia), infeksi (sepsis, meningitis), hipoksia, atau perdarahan intrakranial. Kejang itu sendiri merupakan aktivitas metabolik yang sangat tinggi dan menguras energi, yang dapat mengganggu mekanisme termoregulasi. Bayi baru lahir memiliki luas permukaan tubuh yang besar relatif terhadap massa tubuh, lapisan lemak subkutan yang tipis, dan sistem saraf otonom yang belum matang, sehingga kemampuan mereka untuk menghasilkan dan mempertahankan panas sangat terbatas. Setelah episode kejang, bayi sering mengalami fase post-iktal yang ditandai dengan kelelahan dan penurunan tonus otot, yang semakin mengurangi kemampuan untuk menghasilkan panas melalui aktivitas otot. Selain itu, penyebab dasar kejang (misalnya infeksi) dapat mengganggu pusat pengatur suhu di hipotalamus. Oleh karena itu, diagnosis ini menjadi prioritas utama karena hipotermia dapat memperburuk kondisi neurologis, meningkatkan konsumsi oksigen, dan memperberat hipoglikemia, menciptakan siklus yang memperparah kejang.
Luaran Keperawatan (SLKI): Pengaturan Suhu Tubuh (Kode 1409)
Definisi: Kemampuan untuk mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal. Luaran yang diharapkan pada pasien ini adalah suhu tubuh aksila stabil dalam rentang 36,5°C - 37,5°C, kulit hangat dan kering, tidak ada tanda-tanda hipotermia (suhu <36,5°C, kulit dingin, kaki dan tangan akral dingin, letargi) atau hipertermia. Pencapaian luaran ini sangat krusial untuk menunjang stabilitas neurologis dan metabolik bayi. Suhu tubuh yang normal mendukung fungsi enzimatik optimal, mengurangi beban metabolik, dan mencegah komplikasi seperti gangguan pembekuan darah atau peningkatan resistensi pembuluh darah paru. Pemantauan pencapaian luaran ini dilakukan melalui pengukuran suhu berkala, observasi warna dan kehangatan kulit, serta evaluasi aktivitas bayi. Keberhasilan pengaturan suhu tubuh juga merupakan indikator tidak langsung bahwa intervensi keperawatan dan medis untuk menangani penyebab kejang berjalan efektif.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Pemantauan Suhu Tubuh (Kode 3401)
Definisi: Pengukuran dan interpretasi data suhu tubuh untuk menentukan tindakan lebih lanjut. Intervensi ini merupakan tindakan fundamental dan terus-menerus pada bayi baru lahir dengan kejang. Pelaksanaannya meliputi: 1) Mengukur suhu tubuh secara berkala (setiap 1-2 jam atau sesuai protokol instabilitas) menggunakan termometer aksila yang akurat, mencatat tren perubahannya. 2) Mempertahankan lingkungan termoneutral dengan menggunakan sumber panas eksternal seperti inkubator atau radiant warmer yang disetel pada suhu servo-control berdasarkan suhu kulit bayi, atau dengan metode kanguru jika kondisi bayi memungkinkan. 3) Memastikan kelembaban lingkungan yang adekuat dalam inkubator untuk mengurangi kehilangan panas melalui evaporasi. 4) Meminimalkan paparan udara dingin selama prosedur perawatan (misalnya saat mengganti popok, melakukan pemeriksaan). 5) Memantau tanda-tanda vital lain (denyut jantung, pernapasan) yang dapat berubah akibat ketidakstabilan suhu. 6) Mengobservasi tanda klinis hipotermia (dingin pada ekstremitas, kulit marmorata, lethargy, poor feeding) atau hipertermia (kulit kemerahan, panas, gelisah). 7) Melaporkan segera setiap deviasi suhu dari rentang normal kepada tim medis, karena dapat menjadi indikator perkembangan infeksi atau komplikasi neurologis. 8) Memantau kadar glukosa darah, karena hipotermia meningkatkan risiko hipoglikemia yang dapat memicu kejang berulang. Intervensi ini tidak berdiri sendiri, tetapi terintegrasi dengan intervensi lain seperti pemantauan neurologis, pemberian nutrisi, dan pemberian obat antikonvulsan sesuai instruksi dokter. Tujuannya adalah deteksi dini dan pencegahan ketidakstabilan suhu untuk mendukung proses penyembuhan dan mencegah cedera neurologis lebih lanjut.
-
Article No. 24904 | 06 Apr 2026
Klinis : Tn. C (70 tahun), seorang mantan perokok berat (2 bungkus/hari selama 40 tahun), mengeluh sesak napas yang kronis dan batuk berdahak berwarna putih kental yang sulit dikeluarkan. Pasien tampak menggunakan otot bantu napas (sternokleidomastoideus) dan melakukan pursed-lip breathing. Bentuk dada tampak simetris namun cembung (barrel chest). Pada pemeriksaan auskultasi, terdengar wheezing pada kedua lapang paru. Pasien mengatakan nafsu makan menurun karena setiap kali makan merasa sesak, berat badan turun 5 kg dalam 2 bulan terakhir. TD: 140/90 mmHg, HR: 95x/menit, RR: 26x/menit, Suhu: 36,8°C. Hasil AGD menunjukkan asidosis respiratorik ringan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas dan Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif pada PPOK
Kode SDKI: 0007 & 0008
Deskripsi Singkat: Berdasarkan data klinis Tn. C (riwayat perokok berat, barrel chest, penggunaan otot bantu napas, pursed-lip breathing, wheezing, sesak napas kronis, batuk berdahak kental, dan hasil AGD asidosis respiratorik), dua diagnosa keperawatan utama yang sangat relevan adalah Gangguan Pertukaran Gas (SDKI 0007) dan Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (SDKI 0008). Keduanya saling berkaitan dalam konteks Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Gangguan pertukaran gas didefinisikan sebagai kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler. Hal ini secara langsung terlihat dari upaya napas yang berat, penggunaan otot aksesori, dan yang paling objektif, hasil analisis gas darah (AGD) yang menunjukkan asidosis respiratorik ringan. Asidosis respiratorik terjadi karena retensi karbon dioksida (CO2) akibat ketidakmampuan paru untuk mengeluarkannya secara adekuat, sebuah ciri khas dari PPOK lanjut. Sementara itu, bersihan jalan napas tidak efektif didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas paten. Pada Tn. C, hal ini dimanifestasikan oleh batuk berdahak putih kental yang sulit dikeluarkan dan suara wheezing. Wheezing menunjukkan adanya penyempitan jalan napas, sementara dahak kental yang sulit dikeluarkan menghambat aliran udara dan memperburuk pertukaran gas. Kedua masalah ini menjadi siklus yang saling memperberat: jalan napas yang tersumbat dan menyempit menghambat pertukaran gas, dan hipoksia serta hiperkapnia yang terjadi dapat mengurangi efektivitas refleks batuk dan fungsi silia.
Kode SLKI: 1401 & 0401
Deskripsi : Untuk mengatasi kedua diagnosa tersebut, ditetapkan luaran (SLKI) yang ingin dicapai. Untuk Gangguan Pertukaran Gas (SDKI 0007), luaran yang ditetapkan adalah Perbaikan Pertukaran Gas (SLKI 1401). Luaran ini didefinisikan sebagai perbaikan oksigenasi dan ventilasi. Kriteria luaran yang diharapkan pada Tn. C meliputi: hasil analisis gas darah (AGD) dalam rentang normal (terutama normalisasi pH dan penurunan PaCO2), frekuensi pernapasan (RR) menuju rentang normal (16-20x/menit), penurunan atau hilangnya penggunaan otot bantu napas, serta saturasi oksigen (jika diukur) yang dipertahankan di atas 92%. Pursed-lip breathing yang sudah dilakukan pasien adalah upaya adaptif untuk meningkatkan pertukaran gas dan perlu dipertahankan. Sementara untuk masalah Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (SDKI 0008), luaran yang ditetapkan adalah Bersihan Jalan Napas Efektif (SLKI 0401). Luaran ini didefinisikan sebagai jalan napas yang paten dengan suara napas bersih. Kriteria luaran yang diharapkan meliputi: kemampuan mengeluarkan sekresi jalan napas secara efektif (dahak tidak lagi kental dan sulit dikeluarkan), penurunan atau hilangnya suara napas abnormal (wheezing), batuk yang efektif dan terkontrol, serta pasien mampu mendemonstrasikan teknik batuk efektif dan/atau penggunaan alat bantu jika diperlukan. Pencapaian luaran ini akan secara langsung mendukung tercapainya luaran perbaikan pertukaran gas.
Kode SIKI: 1401 & 0401
Deskripsi : Untuk mencapai luaran tersebut, intervensi keperawatan (SIKI) yang direncanakan difokuskan pada dua intervensi utama. Pertama, Manajemen Jalan Napas (SIKI 0401) untuk menangani masalah bersihan jalan napas. Intervensi ini meliputi: (1) Mengajarkan dan mendorong latihan batuk efektif dan napas dalam, (2) Melakukan fisioterapi dada (postural drainage dan chest percussion) jika indikasi untuk membantu mobilisasi sekresi, (3) Memonitor karakteristik sputum (jumlah, warna, konsistensi), (4) Meningkatkan hidrasi dengan mendorong asupan cairan yang adekuat (kecuali ada kontraindikasi jantung) untuk mengencerkan sekresi, (5) Mengatur posisi pasien (misalnya, posisi duduk tinggi/semi-Fowler) untuk memaksimalkan ekspansi paru, dan (6) Kolaborasi pemberian obat bronkodilator dan mukolitik sesuai resep untuk melebarkan jalan napas dan mengencerkan dahak. Kedua, Manajemen Pertukaran Gas (SIKI 1401) untuk mengatasi gangguan pertukaran gas. Intervensi ini meliputi: (1) Memonitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, penggunaan otot bantu) dan status oksigenasi (melalui AGD dan pulse oximetry), (2) Mengajarkan dan memfasilitasi teknik pernapasan diafragma dan pursed-lip breathing untuk meningkatkan ventilasi dan mengurangi udara terperangkap, (3) Memberikan terapi oksigen dengan aliran rendah sesuai program dokter (1-2 liter/menit) dengan hati-hati pada pasien PPOK dengan risiko hiperkapnia, (4) Memonitor tanda-tanda peningkatan kerja napas dan kelelahan, (5) Mengatur aktivitas dan istirahat untuk menghemat energi dan mengurangi konsumsi oksigen, serta (6) Memberikan pendidikan mengenai pentingnya berhenti merokok dan menghindari polutan udara. Selain itu, perlu juga intervensi untuk masalah nutrisi (nafsu makan menurun dan penurunan berat badan) seperti pemberian makanan dalam porsi kecil tapi sering, makanan tinggi kalori dan protein, serta makan dalam posisi duduk tegak untuk mengurangi tekanan pada diafragma. Semua intervensi ini harus dilakukan secara terintegrasi, dimonitor secara berkala, dan dievaluasi perkembangannya menuju kriteria luaran yang telah ditetapkan.
-
Article No. 24905 | 06 Apr 2026
Klinis : Tn. C (70 tahun), seorang mantan perokok berat (2 bungkus/hari selama 40 tahun), mengeluh sesak napas yang kronis dan batuk berdahak berwarna putih kental yang sulit dikeluarkan. Pasien tampak menggunakan otot bantu napas (sternokleidomastoideus) dan melakukan pursed-lip breathing. Bentuk dada tampak simetris namun cembung (barrel chest). Pada pemeriksaan auskultasi, terdengar wheezing pada kedua lapang paru. Pasien mengatakan nafsu makan menurun karena setiap kali makan merasa sesak, berat badan turun 5 kg dalam 2 bulan terakhir. TD: 140/90 mmHg, HR: 95x/menit, RR: 26x/menit, Suhu: 36,8°C. Hasil AGD menunjukkan asidosis respiratorik ringan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas dan Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif terkait Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) Eksaserbasi
Kode SDKI: D.0005 & D.0006
Deskripsi Singkat: Diagnosa keperawatan utama pada Tn. C adalah kombinasi dari Gangguan Pertukaran Gas (D.0005) dan Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0006). Keduanya berhubungan langsung dengan patofisiologi PPOK yang dideritanya. Gangguan Pertukaran Gas didefinisikan sebagai kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler. Pada Tn. C, kondisi ini dimanifestasikan oleh sesak napas kronis, penggunaan otot bantu napas, pursed-lip breathing, barrel chest (hiperinflasi), wheezing, dan yang terpenting adalah hasil Analisis Gas Darah (AGD) yang menunjukkan asidosis respiratorik ringan. Asidosis respiratorik terjadi karena retensi karbondioksida (CO2) akibat ketidakmampuan untuk mengeluarkan udara secara efektif (air trapping), yang merupakan ciri khas PPOK. Sementara itu, Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas tetap paten. Pada Tn. C, hal ini ditunjukkan oleh batuk berdahak putih kental yang sulit dikeluarkan. Dahak kental ini menyumbat jalan napas, memperburuk obstruksi, dan meningkatkan kerja napas. Kombinasi kedua masalah ini menyebabkan hipoksemia dan hiperkapnia, memicu sesak napas yang kemudian menurunkan nafsu makan dan menyebabkan penurunan berat badan yang tidak diinginkan.
Kode SLKI: L.04001 & L.03001
Deskripsi : Luaran yang diharapkan (SLKI) untuk Tn. C adalah Perbaikan Pertukaran Gas (L.04001) dan Perbaikan Bersihan Jalan Napas (L.03001). Kriteria luaran Perbaikan Pertukaran Gas mencakup: tanda-tanda vital dalam rentang normal (target: RR < 24x/menit, HR menurun), tidak ada sianosis, tidak menggunakan otot bantu napas, gas darah arteri dalam rentang normal (pH, PaO2, PaCO2, HCO3), dan kesadaran penuh. Secara spesifik, untuk Tn. C, tujuan jangka pendek adalah menurunkan frekuensi pernapasan, mengurangi penggunaan otot bantu, dan memperbaiki nilai AGD dari kondisi asidosis. Sementara itu, kriteria luaran Perbaikan Bersihan Jalan Napas meliputi: suara napas bersih (mengi/wheezing berkurang atau hilang), batuk efektif (dahak dapat dikeluarkan), sekresi jalan napas tidak ada atau minimal, dan tidak ada sianosis. Pada Tn. C, targetnya adalah mampu mengeluarkan dahak dengan teknik batuk yang efektif, konsistensi dahak menjadi lebih encer, dan bunyi wheezing pada auskultasi berkurang. Pencapaian luaran ini akan secara signifikan mengurangi keluhan sesak napas, meningkatkan kenyamanan, dan pada akhirnya dapat meningkatkan asupan nutrisi serta mencegah penurunan berat badan lebih lanjut.
Kode SIKI: I.05280, I.09003, I.09011, I.09015, I.10070
Deskripsi : Intervensi keperawatan (SIKI) yang direncanakan bersifat komprehensif untuk menangani kedua diagnosa. Pertama, Manajemen Jalan Napas (I.09003) dilakukan dengan memonitor status pernapasan, membantu latihan batuk efektif, dan melakukan fisioterapi dada jika diperlukan untuk mobilisasi sekret. Kedua, Manajemen Pernapasan (I.09011) dengan memposisikan pasien semi-Fowler atau tinggi untuk memudahkan ekspansi dada, mengajarkan serta memantau teknik pernapasan bibir mengerucut (pursed-lip breathing) dan pernapasan diafragma untuk mengurangi kerja napas dan meningkatkan ventilasi. Ketiga, Suplementasi Oksigen (I.09015) diberikan sesuai order dengan metode nasal kanul atau masker venturi dengan aliran rendah (1-2 L/menit) untuk mengoreksi hipoksemia tanpa menekan drive pernapasan, sambil memantau ketat AGD. Keempat, Manajemen Nutrisi (I.10070) sangat krusial mengingat penurunan berat badan Tn. C. Intervensi ini meliputi kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun diet tinggi kalori dan protein dalam porsi kecil namun sering, memastikan lingkungan makan yang nyaman tanpa gangguan, serta memberikan edukasi tentang pentingnya nutrisi untuk kekuatan otot pernapasan. Kelima, Edukasi Kesehatan (I.05280) diberikan secara terus-menerus mengenai penyakit PPOK, pentingnya berhenti merokok (meski sudah mantan, perlu penguatan), teknik menghemat energi, pencegahan infeksi, pemantauan gejala eksaserbasi, dan kepatuhan pengobatan (bronkodilator, ekspektoran). Semua intervensi ini dilakukan secara terintegrasi, dimonitor, dan dievaluasi perkembangannya untuk mencapai luaran yang telah ditetapkan.
-
Article No. 24906 | 06 Apr 2026
Klinis : Tn. A (65 tahun) datang ke IGD dengan keluhan sesak napas yang semakin berat sejak 3 hari terakhir. Sesak dirasakan memberat saat beraktivitas bahkan saat berbaring terlentang, sehingga pasien harus tidur dengan 3 bantal agar bisa bernapas lega. Pasien mengatakan kaki bagian bawahnya membengkak dan terasa berat. Hasil pengkajian fisik menunjukkan adanya edema pitting (+3) pada kedua ekstremitas bawah, distensi vena jugularis (JVP 5+4 cmH2O), dan terdengar suara ronkhi basah halus di basal paru. TD: 160/95 mmHg, HR: 110x/menit (teraba lemah dan tidak teratur), RR: 28x/menit, dan SpO2: 90% pada udara ruangan. Hasil rontgen thorax menunjukkan kardiomegali dan edema paru. Pasien memiliki riwayat hipertensi tidak terkontrol selama 10 tahun.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Kondisi ketidakcukupan darah yang dipompa oleh jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Curah jantung membaik. Ditandai dengan: 1) Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan, 2) Denyut nadi dalam rentang yang diharapkan, 3) Nadi perifer teraba kuat dan simetris, 4) Haluaran urine adekuat, 5) Kulit hangat dan kering, 6) Tidak ada edema, 7) Tidak ada dispnea atau ortopnea, 8) Suara jantung dalam batas normal, 9) Tidak ada distensi vena jugularis, 10) Status mental baik.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Manajemen Penurunan Curah Jantung. Tindakan: 1) Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) dan saturasi oksigen. 2) Kaji kualitas dan irama nadi (apikal dan perifer). 3) Auskultasi suara jantung (irama, gallop). 4) Kaji status pernapasan (dispnea, ortopnea, batuk, sputum, bunyi napas). 5) Kaji adanya edema (pretibial, sakral, anasarka) dan lakukan pengukuran lingkar ekstremitas jika diperlukan. 6) Kaji distensi vena jugularis. 7) Monitor balance cairan (intake dan output, berat badan harian). 8) Kolaborasi pemberian terapi oksigen sesuai kebutuhan. 9) Kolaborasi pemberian terapi farmakologi sesuai resep (seperti diuretik, inotropik, vasodilator). 10) Anjurkan tirah baring dengan posisi semi-Fowler atau tinggi. 11) Bantu aktivitas sehari-hari sesuai toleransi. 12) Berikan pendidikan kesehatan tentang penyakit, pengobatan, diet (restriksi natrium dan cairan), dan aktivitas. 13) Monitor respons terhadap terapi dan munculnya efek samping obat. 14) Kaji tingkat kecemasan dan berikan dukungan psikologis.
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Kondisi ketidakmampuan untuk bernapas secara adekuat untuk mempertahankan pertukaran gas (O2 dan CO2) yang optimal.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Pola napas efektif. Ditandai dengan: 1) Frekuensi napas dalam rentang normal, 2) Irama napas reguler, 3) Kedalaman napas adekuat, 4) Penggunaan otot bantu napas tidak ada, 5) Bunyi napas bersih, 6) Saturasi oksigen dalam rentang normal, 7) Gas darah arteri dalam rentang normal, 8) Tidak ada sianosis, 9) Tidak ada dispnea, 10) Posisi napas nyaman.
Kode SIKI: I.04002
Deskripsi : Manajemen Pola Napas Tidak Efektif. Tindakan: 1) Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha pernapasan. 2) Auskultasi bunyi napas setiap 4 jam atau sesuai kebutuhan. 3) Monitor saturasi oksigen secara terus menerus atau berkala. 4) Kaji warna kulit, membran mukosa, dan kuku (adanya sianosis). 5) Atur posisi pasien untuk memaksimalkan ventilasi (semi-Fowler/Fowler tinggi). 6) Kolaborasi pemberian terapi oksigen sesuai indikasi dan protokol. 7) Kolaborasi pemeriksaan analisis gas darah arteri. 8) Ajarkan dan bantu latihan napas dalam dan batuk efektif jika memungkinkan. 9) Bantu dan ajarkan penggunaan otot pernapasan dan teknik pernapasan bibir mengerucut (pursed-lip). 10) Lakukan fisioterapi dada jika diindikasikan. 11) Kolaborasi pemberian bronkodilator atau obat lain sesuai resep. 12) Monitor respons terhadap terapi. 13) Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk mengurangi konsumsi oksigen. 14) Kaji tingkat kecemasan terkait sesak napas.
Kondisi: Kelebihan Volume Cairan
Kode SDKI: D.0013
Deskripsi Singkat: Kondisi peningkatan retensi cairan dan natrium yang berlebihan dalam tubuh.
Kode SLKI: L.06001
Deskripsi : Keseimbangan cairan tercapai. Ditandai dengan: 1) Balance cairan seimbang, 2) Tanda-tanda vital dalam rentang normal, 3) Berat badan stabil, 4) Tidak ada edema, 5) Turgor kulit baik, 6) Membran mukosa lembab, 7) Tidak ada distensi vena jugularis, 8) Bunyi napas bersih, 9) Haluaran urine adekuat.
Kode SIKI: I.06001
Deskripsi : Manajemen Kelebihan Volume Cairan. Tindakan: 1) Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan). 2) Kaji status cairan (balance intake dan output setiap 24 jam, berat badan harian dengan skala yang sama, waktu, dan pakaian yang sama). 3) Kaji adanya edema (lokasi, derajat pitting, pengukuran lingkar ekstremitas). 4) Kaji distensi vena jugularis. 5) Auskultasi bunyi napas (mencari tanda ronkhi/krekels). 6) Kaji turgor kulit dan kelembaban membran mukosa. 7) Kolaborasi pemberian terapi diuretik sesuai resep dan monitor efek serta efek sampingnya (seperti hipokalemia). 8) Anjurkan dan atur pembatasan asupan cairan dan natrium sesuai program terapi. 9) Atur posisi untuk mengurangi edema (tinggikan ekstremitas edema, hindari posisi tergantung lama). 10) Monitor hasil pemeriksaan laboratorium (seperti elektrolit, BUN, kreatinin). 11) Lakukan perawatan kulit pada area edema untuk mencegah kerusakan integritas kulit. 12) Berikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya diet rendah garam, pembatasan cairan, dan pemantauan berat badan mandiri.
-
Article No. 24907 | 06 Apr 2026
Klinis : Tn. A (65 tahun) datang ke IGD dengan keluhan sesak napas yang semakin berat sejak 3 hari terakhir. Sesak dirasakan memberat saat beraktivitas bahkan saat berbaring terlentang, sehingga pasien harus tidur dengan 3 bantal agar bisa bernapas lega. Pasien mengatakan kaki bagian bawahnya membengkak dan terasa berat. Hasil pengkajian fisik menunjukkan adanya edema pitting (+3) pada kedua ekstremitas bawah, distensi vena jugularis (JVP 5+4 cmH2O), dan terdengar suara ronkhi basah halus di basal paru. TD: 160/95 mmHg, HR: 110x/menit (teraba lemah dan tidak teratur), RR: 28x/menit, dan SpO2: 90% pada udara ruangan. Hasil rontgen thorax menunjukkan kardiomegali dan edema paru. Pasien memiliki riwayat hipertensi tidak terkontrol selama 10 tahun.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Curah jantung tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Curah jantung membaik, ditandai dengan: 1) Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan, 2) Denyut nadi dalam rentang yang diharapkan, 3) Nadi perifer teraba kuat dan simetris, 4) Pengisian kapiler kurang dari 3 detik, 5) Tidak ada distensi vena jugularis, 6) Tidak ada edema, 7) Tidak ada perubahan status mental, 8) Kulit hangat dan kering, 9) Haluaran urine adekuat, 10) Tidak dispnea/ortopnea, 11) Tidak ada suara napas tambahan (ronkhi, wheezing).
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : 1) Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) dan status hemodinamik. 2) Monitor status pernapasan (irama, kedalaman, usaha napas, bunyi napas, saturasi oksigen). 3) Monitor status sirkulasi (warna, suhu, kelembaban kulit, pengisian kapiler, nadi perifer, edema). 4) Monitor status neurologis (kesadaran, orientasi). 5) Monitor keseimbangan cairan (intake dan output, berat badan). 6) Kolaborasi pemberian terapi oksigen sesuai kebutuhan. 7) Atur posisi semi-Fowler atau Fowler untuk memfasilitasi pernapasan. 8) Lakukan manajemen jalan napas. 9) Berikan istirahat fisik dan psikologis. 10) Batasi aktivitas sesuai toleransi. 11) Kolaborasi pemberian terapi farmakologi sesuai program (seperti diuretik, vasodilator, inotropik). 12) Ajarkan pasien/keluarga tentang kondisi, pengobatan, dan perawatan. 13) Rujuk ke tim kesehatan lain sesuai kebutuhan.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Toleransi aktivitas membaik, ditandai dengan: 1) Mampu melakukan aktivitas sesuai kemampuan, 2) Tanda-tanda vital dalam rentang normal saat aktivitas (tekanan darah, nadi, pernapasan), 3) Tidak mengeluh lelah/lemah, 4) Tidak sesak napas saat aktivitas, 5) Tidak nyeri dada saat aktivitas, 6) Tidak pusing saat aktivitas.
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : 1) Monitor respons pasien terhadap aktivitas (tanda vital, keluhan sesak, lelah, nyeri dada, pusing). 2) Kaji faktor penyebab intoleransi aktivitas. 3) Bantu pasien mengidentifikasi aktivitas yang dapat dilakukan. 4) Rencanakan periode istirahat yang cukup sebelum dan sesudah aktivitas. 5) Bantu pasien dalam aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan. 6) Tingkatkan aktivitas secara bertahap sesuai toleransi. 7) Ajarkan teknik penghematan energi. 8) Kolaborasi pemberian terapi oksigen selama aktivitas jika diperlukan. 9) Berikan lingkungan yang aman dan nyaman. 10) Libatkan keluarga dalam perawatan.
Kondisi: Kelebihan Volume Cairan
Kode SDKI: D.0013
Deskripsi Singkat: Peningkatan retensi cairan dan natrium yang berlebihan.
Kode SLKI: L.10001
Deskripsi : Keseimbangan cairan membaik, ditandai dengan: 1) Tidak ada edema, 2) Tidak ada kenaikan berat badan yang signifikan, 3) Bunyi napas bersih, 4) Tidak dispnea/ortopnea, 5) Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan, 6) Nadi dalam rentang yang diharapkan, 7) Tidak ada distensi vena jugularis, 8) Haluaran urine adekuat sesuai intake.
Kode SIKI: I.10001
Deskripsi : 1) Monitor status cairan (intake-output, balance cairan, berat badan harian, tanda edema, distensi vena jugularis, bunyi napas). 2) Monitor tanda-tanda vital dan status pernapasan. 3) Batasi asupan cairan dan natrium sesuai program terapi. 4) Kolaborasi pemberian terapi diuretik sesuai program. 5) Atur posisi semi-Fowler atau Fowler. 6) Lakukan perawatan kulit pada area edema. 7) Ajarkan pasien/keluarga tentang pembatasan cairan dan diet rendah garam. 8) Ajarkan pasien/keluarga untuk memantau tanda-tanda kelebihan cairan (edema, sesak, kenaikan berat badan).
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0011
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas paten.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Bersihan jalan napas efektif, ditandai dengan: 1) Jalan napas paten, 2) Tidak dispnea, 3) Tidak sianosis, 4) Bunyi napas bersih, 5) Mampu mengeluarkan sekret efektif, 6) Frekuensi napas dalam rentang normal, 7) Irama napas teratur.
Kode SIKI: I.04001
Deskripsi : 1) Monitor status pernapasan (irama, kedalaman, usaha napas, bunyi napas, saturasi oksigen). 2) Kaji kemampuan batuk efektif dan karakteristik sputum. 3) Atur posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi. 4) Lakukan fisioterapi dada (batuk efektif, perkusi, vibrasi, postural drainage) jika diperlukan dan sesuai kondisi. 5) Lakukan penghisapan lendir (suction) jika diperlukan. 6) Kelola pemberian oksigen dan nebulizer sesuai program. 7) Berikan cairan yang adekuat sesuai toleransi untuk mengencerkan sekret. 8) Ajarkan teknik batuk efektif dan napas dalam. 9) Berikan lingkungan dengan kelembaban udara yang adekuat. 10) Kolaborasi pemberian obat bronkodilator atau mukolitik sesuai program.
-
Article No. 24908 | 06 Apr 2026
Klinis : Kasus 5: Stroke Hemoragik (Neurologi) Ny. E (62 tahun) dibawa ke RS dalam keadaan penurunan kesadaran secara mendadak saat sedang berkebun. Saat pengkajian, GCS pasien adalah E2M4V2 (Somnolen). Pasien mengalami hemiparesis (kelemahan) pada sisi tubuh sebelah kanan. Mulut tampak mencong ke kiri dan pasien mengalami afasia (kesulitan bicara). Berdasarkan keterangan keluarga, pasien memiliki riwayat hipertensi yang sangat tinggi (sering mencapai 190/110 mmHg) namun sering lupa minum obat. Hasil CT-Scan menunjukkan adanya perdarahan di hemisfer kiri. TD saat ini: 185/105 mmHg, HR: 72x/menit, RR: 16x/menit, Suhu: 37,0°C. Pasien terpasang NGT untuk nutrisi dan kateter urine. Risiko dekubitus tinggi karena pasien tidak mampu mengubah posisi secara mandiri.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Stroke Hemoragik dengan Penurunan Kesadaran, Hemiparesis, dan Afasia
Kode SDKI: D.0004
Deskripsi Singkat: Risiko Penurunan Perfusi Jaringan Otak
Kode SLKI: L.03120
Deskripsi : Perfusi Serebral Terpelihara
Kode SIKI: I.01279
Deskripsi : Pemantauan Perfusi Serebral
Kondisi: Stroke Hemoragik dengan Penurunan Kesadaran, Hemiparesis, dan Afasia
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Gangguan Komunikasi Verbal
Kode SLKI: L.06001
Deskripsi : Komunikasi Verbal Meningkat
Kode SIKI: I.05107
Deskripsi : Fasilitasi Komunikasi
Kondisi: Stroke Hemoragik dengan Penurunan Kesadaran, Hemiparesis, dan Afasia
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Mobilitas Fisik Meningkat
Kode SIKI: I.04001
Deskripsi : Manajemen Mobilitas
Kondisi: Stroke Hemoragik dengan Penurunan Kesadaran, Hemiparesis, dan Afasia
Kode SDKI: D.0023
Deskripsi Singkat: Risiko Cedera
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Cedera Tidak Terjadi
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Pencegahan Cedera
Kondisi: Stroke Hemoragik dengan Penurunan Kesadaran, Hemiparesis, dan Afasia
Kode SDKI: D.0122
Deskripsi Singkat: Risiko Kerusakan Integritas Kulit
Kode SLKI: L.10001
Deskripsi : Integritas Kulit Terpelihara
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : Perawatan Kulit
-
Article No. 24909 | 06 Apr 2026
Klinis : Kasus 5: Stroke Hemoragik (Neurologi) Ny. E (62 tahun) dibawa ke RS dalam keadaan penurunan kesadaran secara mendadak saat sedang berkebun. Saat pengkajian, GCS pasien adalah E2M4V2 (Somnolen). Pasien mengalami hemiparesis (kelemahan) pada sisi tubuh sebelah kanan. Mulut tampak mencong ke kiri dan pasien mengalami afasia (kesulitan bicara). Berdasarkan keterangan keluarga, pasien memiliki riwayat hipertensi yang sangat tinggi (sering mencapai 190/110 mmHg) namun sering lupa minum obat. Hasil CT-Scan menunjukkan adanya perdarahan di hemisfer kiri. TD saat ini: 185/105 mmHg, HR: 72x/menit, RR: 16x/menit, Suhu: 37,0°C. Pasien terpasang NGT untuk nutrisi dan kateter urine. Risiko dekubitus tinggi karena pasien tidak mampu mengubah posisi secara mandiri.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Stroke Hemoragik dengan Penurunan Kesadaran, Hemiparesis, dan Afasia
Kode SDKI: D.0011
Deskripsi Singkat: Risiko Penurunan Perfusi Jaringan Otak
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : Perfusi Jaringan Otak Membaik
Kode SIKI: I.14001
Deskripsi : Pemantauan Perfusi Serebral
Kondisi: Stroke Hemoragik dengan Penurunan Kesadaran, Hemiparesis, dan Afasia
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Perfusi Jaringan Otak Tidak Efektif
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : Perfusi Jaringan Otak Membaik
Kode SIKI: I.14001
Deskripsi : Pemantauan Perfusi Serebral
Kondisi: Stroke Hemoragik dengan Penurunan Kesadaran, Hemiparesis, dan Afasia
Kode SDKI: D.0087
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah
Kode SLKI: L.0311
Deskripsi : Tekanan Darah Terkontrol
Kode SIKI: I.0311
Deskripsi : Manajemen Tekanan Darah
Kondisi: Stroke Hemoragik dengan Penurunan Kesadaran, Hemiparesis, dan Afasia
Kode SDKI: D.0128
Deskripsi Singkat: Gangguan Komunikasi Verbal
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Komunikasi Efektif
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : Fasilitasi Komunikasi
Kondisi: Stroke Hemoragik dengan Penurunan Kesadaran, Hemiparesis, dan Afasia
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Risiko Cedera
Kode SLKI: L.01002
Deskripsi : Cedera Tidak Terjadi
Kode SIKI: I.01002
Deskripsi : Pencegahan Cedera
Kondisi: Stroke Hemoragik dengan Penurunan Kesadaran, Hemiparesis, dan Afasia
Kode SDKI: D.0104
Deskripsi Singkat: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SLKI: L.06001
Deskripsi : Mobilitas Fisik Meningkat
Kode SIKI: I.06001
Deskripsi : Latihan Rentang Gerak
Kondisi: Stroke Hemoragik dengan Penurunan Kesadaran, Hemiparesis, dan Afasia
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Infeksi Tidak Terjadi
Kode SIKI: I.01001
Deskripsi : Pencegahan Infeksi
Kondisi: Stroke Hemoragik dengan Penurunan Kesadaran, Hemiparesis, dan Afasia
Kode SDKI: D.0124
Deskripsi Singkat: Defisit Perawatan Diri
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Perawatan Diri Terpenuhi
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Bantuan Perawatan Diri Total
-
Article No. 24910 | 06 Apr 2026
Klinis : Kasus 5: Stroke Hemoragik (Neurologi) Ny. E (62 tahun) dibawa ke RS dalam keadaan penurunan kesadaran secara mendadak saat sedang berkebun. Saat pengkajian, GCS pasien adalah E2M4V2 (Somnolen). Pasien mengalami hemiparesis (kelemahan) pada sisi tubuh sebelah kanan. Mulut tampak mencong ke kiri dan pasien mengalami afasia (kesulitan bicara). Berdasarkan keterangan keluarga, pasien memiliki riwayat hipertensi yang sangat tinggi (sering mencapai 190/110 mmHg) namun sering lupa minum obat. Hasil CT-Scan menunjukkan adanya perdarahan di hemisfer kiri. TD saat ini: 185/105 mmHg, HR: 72x/menit, RR: 16x/menit, Suhu: 37,0°C. Pasien terpasang NGT untuk nutrisi dan kateter urine. Risiko dekubitus tinggi karena pasien tidak mampu mengubah posisi secara mandiri.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Stroke Hemoragik dengan Penurunan Kesadaran, Hemiparesis, dan Afasia
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Risiko Penurunan Perfusi Jaringan Otak
Kode SLKI: L.03133
Deskripsi : Perfusi Serebral Meningkat
Kode SIKI: I.01222
Deskripsi : Pemantauan Tekanan Darah
Kondisi: Stroke Hemoragik dengan Penurunan Kesadaran, Hemiparesis, dan Afasia
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Mobilitas Meningkat
Kode SIKI: I.04001
Deskripsi : Manajemen Mobilitas
Kondisi: Stroke Hemoragik dengan Penurunan Kesadaran, Hemiparesis, dan Afasia
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Risiko Kerusakan Integritas Kulit
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Integritas Kulit Dipertahankan
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : Manajemen Perawatan Kulit
Kondisi: Stroke Hemoragik dengan Penurunan Kesadaran, Hemiparesis, dan Afasia
Kode SDKI: D.0123
Deskripsi Singkat: Gangguan Komunikasi Verbal
Kode SLKI: L.06001
Deskripsi : Komunikasi Meningkat
Kode SIKI: I.06001
Deskripsi : Manajemen Komunikasi
-
Article No. 24911 | 06 Apr 2026
Klinis : Mrs. SM, 27 years old, is a pregnant woman who checked her health at the Lina Asep Clinic on November 12th, 2022. The patient came with complaints of severe dizziness for the last 2 weeks. In addition, patients also complain of weakness, weakness, no energy,and no appetite. Actually, all of these complaints have been felt since the beginning of pregnancy, but they were intermittent and then reappeared and got worse in the last 2 weeks. Denied complaints of nausea, vomiting, abdominal pain, and bleeding spots. The patient said that she was currently pregnant with her 4th child,aged 27-28 weeks, with active fetal movements. The patient's previous medical history had anemia,and blood transfusions were carried out at the hospital during a previous pregnancy. Examination of pregnancy at 12 weeks of gestation had an examination of hemoglobin (Hb) levels obtained at 9 mg/dl. Medical history of a new patient taking paracetamol for complaints of unbearable dizziness. The patient had been taking vitamins regularly since the beginning of her pregnancy but did not want to take iron tablets because she complained of constipation every time she took the drug. History of eating during the first trimester:Thepatient had difficulty eating due to severe nausea and vomiting, but starting from the second trimester until now, she has been able to eat normally. Every day,the patient feels that he has consumed food as he should, namely, the contents of his plate already consist of carbohydrates, protein, fat,and fiber. Consumption of red meat has also been carried out, although not routinely, but patients regularly consume vitamins and milk for pregnancy.History of first menstruation or menarche at the age of 12 years, menstrual cycles 28-30 days, menstrual duration 5-7 days, number of pads changed 3-5 times a day. The firstday of last menstruation (HPHT) is April28th,2022,and the estimated day of birth (HPL) is February 4th,2023. History of marriage:1 time in 7 years. History of childbirth:Thepatient gave birth to all her children through normal delivery. Thefirst child is a girl who is currently 6 years old with a birth weight (BW) of 3100 gr, the second child is a 3-year-old boy with a BWof 3200 gr, and the third child is a girl aged 20 months with a BW2500 gr. The patient had never used contraception before. The patient works as a housewife,and the husband works as a factory worker.From the physical examination obtained compos mentis awareness, the general condition of the patient looked mildly ill, blood pressure 100/70 mmHg, pulse 98x/minute, respiration 20x/minute, temperature 36.8°C, weight (BB) 58kg with a pre-pregnancy weight of 50kg, and height (TB) 156cm and mid-upper arm circumference (MUAC) 24 cm. The nutritional status of the patient before pregnancy has a body mass index (BMI) of 20.5 kg/m2, which is included in the normal BMI. The increase in weight up to the third trimester is still included in the normal weight gain according to the recommendations of the Institute of Medicine (IOM) 2009. Examination of the general status of the face looked pale, the eyes found anemic conjunctiva, and the sclera was not blue and not icteric. Ears,nose,throat within normal limits, mouth mucosa lips pale, thorax,heart,and lungs within normal limits. Examination of the extremities showed no edema but the skin was pale. Examination of the obstetrical status showed that the fundal height of the uterus (TFU) was 26.7 cm, the longitudinal position of the back was on the right, the head presentationand the fetal heart rate (FHR) was 145x/minute. A simple blood laboratory examination showed Hb 7 mg/dl, leukocytes 8900 mg/dl, platelets 259,000 mg/dl, and hematocrit 21.2%. Based on anamnesis physical examination and simple laboratory tests performed, the patient was diagnosed with G4P3A0,28 weeks pregnant,with moderate anemia. The management given to patients is in the form of medical and non-medical therapy. For medical therapy,the patient is given oral iron therapy with maltofer tablets 2x a day and 500 mg paracetamol tablets taken if necessary. Forpregnancy,vitamins that are routinely consumed,such as folamil genio and Cal95,can be continued. Non-medical in the form of education for diet modification by consuming foods high in iron content such as red meat, beef liver, chicken liver, fish and seafood, and green vegetables such as spinach, tofu,and beans with a varied menu so that patients don't get bored. Patients are advised to eat iron-containing foods with foods high in vitamin C together (such as tomatoes and oranges)to maximize iron absorption by the body. However, they are asked to avoid foods that can inhibit iron absorption, such as bread, tea, and milk. In addition, patients are expected to increase consumption of high-fiber foods and increase consumption of water to prevent constipation. The next step is that the patient is given a referral to the local hospital for further treatment and treatment with an obstetrician.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Jaringan Serebral Tidak Efektif dan Risiko Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh terkait Anemia pada Kehamilan
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko Perfusi Jaringan Serebral Tidak Efektif adalah keadaan dimana seseorang berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat mengakibatkan gangguan nutrisi dan oksigenasi jaringan otak. Pada kasus Mrs. SM, risiko ini ditandai dengan keluhan utama pusing berat yang memberat dalam 2 minggu terakhir, konjungtiva anemis, mukosa bibir pucat, kulit pucat, dan hasil laboratorium Hb 7 mg/dl dengan hematokrit 21.2%. Nilai hemoglobin yang sangat rendah (anemia berat menurut klasifikasi WHO untuk ibu hamil) secara langsung mengurangi kapasitas darah mengangkut oksigen ke seluruh tubuh, termasuk otak, sehingga menimbulkan gejala pusing, lemas, dan tidak bertenaga. Riwayat anemia dan transfusi darah pada kehamilan sebelumnya semakin memperkuat kerentanan pasien. Keluhan ini bersifat intermittent sejak awal kehamilan dan memberat, menunjukkan bahwa kompensasi tubuh sudah tidak lagi memadai untuk mempertahankan perfusi serebral yang adekuat.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : SLKI 0801 berfokus pada Pemantauan Neurologis. Pada Mrs. SM, intervensi keperawatan yang direncanakan meliputi: (1) Memantau tanda-tanda vital secara berkala, khususnya tekanan darah (100/70 mmHg) dan nadi (98x/menit) yang sudah berada di batas bawah normal, untuk mendeteksi dini tanda syok atau hipotensi yang dapat memperburuk perfusi otak. (2) Mengkaji karakteristik pusing (onset, durasi, frekuensi, faktor pencetus dan pereda) secara detail. (3) Mengobservasi tingkat kesadaran (compos mentis) dan orientasi pasien secara terus-menerus. (4) Memantau adanya gejala neurologis lain seperti sakit kepala hebat, penglihatan kabur, atau parestesia. (5) Mendokumentasikan respons pasien terhadap terapi yang diberikan (paracetamol, terapi besi). Tujuan SLKI ini adalah untuk mendeteksi secara dini setiap penurunan kondisi neurologis yang mengancam dan mengevaluasi efektivitas intervensi yang dilakukan.
Kode SIKI: 3520
Deskripsi : SIKI 3520 adalah Pemberian Suplemen. Intervensi ini sangat krusial bagi Mrs. SM karena pasien memiliki riwayat ketidakpatuhan mengkonsumsi tablet besi akibat efek samping konstipasi. Implementasinya meliputi: (1) Memberikan edukasi mendalam tentang pentingnya terapi besi (Maltofer 2x sehari) untuk mengatasi anemia dan mengurangi gejala pusing serta lemas. (2) Menjelaskan mekanisme kerja Maltofer yang umumnya lebih minim efek samping konstipasi dibanding preparat besi sulfat. (3) Mengajarkan dan memotivasi pasien untuk mengkonsumsi suplemen besi bersama sumber vitamin C (seperti jus jeruk) untuk meningkatkan absorpsi, dan menghindari konsumsi bersamaan dengan teh, susu, atau antasida yang dapat menghambat penyerapan. (4) Berkolaborasi dengan dokter untuk memastikan dosis dan jenis preparat besi yang tepat. (5) Memantau kepatuhan pasien dan mengevaluasi adanya keluhan efek samping, serta memberikan solusi seperti peningkatan asupan serat dan air untuk mencegah konstipasi. Keberhasilan SIKI ini diukur dari kemauan dan konsistensi pasien dalam mengkonsumsi suplemen besi yang diresepkan.
Kondisi: Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: 1003
Deskripsi Singkat: Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh adalah keadaan dimana asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Pada Mrs. SM, diagnosis ini didukung oleh data: (1) Keluhan subjektif lemas, tidak bertenaga, dan nafsu makan menurun. (2) Riwayat kesulitan makan pada trimester pertama akibat mual muntah berat, yang merupakan periode kritis untuk pemenuhan nutrisi. (3) Pola makan meskipun dianggap lengkap (karbohidrat, protein, lemak, serat) namun konsumsi sumber besi hewani (daging merah) tidak rutin. (4) Hasil laboratorium Hb 7 mg/dl dan hematokrit 21.2% yang secara objektif mencerminkan defisiensi besi kronis. (5) Riwayat kehamilan sebanyak 4 kali dalam waktu relatif singkat (anak terakhir 20 bulan) tanpa penggunaan kontrasepsi, yang mengindikasikan cadangan besi ibu yang belum pulih sempurna sebelum hamil lagi. Kebutuhan besi yang meningkat drastis selama kehamilan tidak diimbangi dengan asupan dan suplementasi yang adekuat, sehingga berujung pada anemia defisiensi besi yang signifikan.
Kode SLKI: 1402
Deskripsi : SLKI 1402 adalah Manajemen Nutrisi. Intervensi keperawatan untuk Mrs. SM meliputi: (1) Melakukan pengkajian pola makan yang lebih mendetail, termasuk jenis, porsi, dan frekuensi konsumsi sumber besi (hewani dan nabati). (2) Mengukur parameter antropometri (BB 58 kg, TB 156 cm, LILA 24 cm) dan membandingkan kenaikan BB dengan standar IOM untuk memastikan kecukupan kalori secara umum. (3) Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana diet tinggi besi dan serat yang sesuai dengan kondisi pasien. (4) Memberikan pendidikan kesehatan secara komprehensif tentang modifikasi diet seperti yang telah direncanakan (konsumsi daging merah, hati, sayuran hijau, serta kombinasi dengan vitamin C). (5) Memantau asupan makanan pasien selama perawatan dan mengevaluasi hambatan psikologis (bosan) atau fisiologis (mual) yang mungkin muncul. Tujuan SLKI ini adalah meningkatkan asupan nutrisi, khususnya zat besi, melalui makanan sehari-hari sebagai terapi adjuvan dari suplementasi.
Kode SIKI: 4120
Deskripsi : SIKI 4120 adalah Edukasi Kesehatan. Edukasi merupakan intervensi kunci untuk mengatasi masalah nutrisi dan anemia pada Mrs. SM. Implementasinya mencakup: (1) Menjelaskan hubungan antara asupan nutrisi, anemia, dan gejala yang dialami (pusing, lemas) dengan bahasa yang mudah dipahami. (2) Mendemonstrasikan cara perencanaan menu harian yang kaya zat besi dan bervariasi untuk mencegah kebosanan. (3) Memberikan informasi tertulis (leaflet) tentang sumber makanan tinggi besi dan tips pengolahannya. (4) Menekankan pentingnya menghindari penghambat penyerapan besi (teh, kopi, susu) di saat makan utama. (5) Memberikan edukasi tentang pentingnya istirahat yang cukup untuk menghemat energi dan mengurangi keluhan pusing. (6) Memberikan penjelasan tentang perlunya follow-up dan kemungkinan terapi lanjutan di rumah sakit sesuai rujukan. Edukasi yang efektif diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku pasien dalam menangani kondisi anemianya secara mandiri.
-
Article No. 24912 | 06 Apr 2026
Klinis : A 45-year-old male patient was newly diagnosed with diabetes mellitus. The patient stated that she did not understand the diet. Examination: random blood sugar 250 mg/dL, and the patient appeared confused during the education session.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Kurang Pengetahuan tentang Penyakit, Prognosis, dan Penatalaksanaan
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Keterbatasan atau tidak adanya informasi kognitif terkait kondisi, prognosis, dan penatalaksanaan penyakit.
Kode SLKI: L.08030
Deskripsi : Pengetahuan pasien tentang penyakit, prognosis, dan penatalaksanaan meningkat. SLKI ini ditandai dengan pencapaian kriteria hasil sebagai berikut: 1) Menyebutkan informasi dasar tentang penyakit. 2) Mengidentifikasi faktor penyebab atau faktor risiko. 3) Menyebutkan tanda dan gejala penyakit. 4) Menjelaskan tindakan penatalaksanaan penyakit. 5) Menjelaskan komplikasi penyakit. 6) Menyebutkan informasi tentang pengobatan. 7) Menjelaskan tindakan pencegahan penyakit. 8) Menjelaskan tindakan pencegahan komplikasi. 9) Menjelaskan prognosis penyakit. 10) Melaporkan kepatuhan terhadap program terapeutik.
Kode SIKI: I.08030
Deskripsi : Edukasi Penatalaksanaan Penyakit. Intervensi keperawatan ini meliputi serangkaian tindakan yang direncanakan untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan pasien dalam mengelola penyakitnya. Implementasinya mencakup: 1) Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang penyakit, prognosis, dan penatalaksanaannya. 2) Identifikasi kesalahan konsep atau informasi yang dimiliki pasien. 3) Jelaskan informasi dasar tentang penyakit (definisi, patofisiologi singkat). 4) Diskusikan faktor penyebab dan faktor risiko yang dapat dimodifikasi. 5) Ajarkan tanda dan gejala penyakit, serta gejala hipoglikemia dan hiperglikemia khusus untuk diabetes. 6) Jelaskan seluruh aspek penatalaksanaan penyakit: diet (prinsip 3J: Jumlah, Jenis, Jadwal), aktivitas fisik, pengobatan (jika sudah diresepkan), dan pemantauan glukosa darah mandiri. 7) Demonstrasikan dan mintakan kembali demonstrasi teknik pemeriksaan glukosa darah mandiri dan penyuntikan insulin (jika diperlukan). 8) Diskusikan komplikasi akut dan kronik penyakit serta cara pencegahannya. 9) Berikan informasi tentang obat: nama, dosis, jadwal, cara kerja, efek samping, dan cara penyimpanan. 10) Tekankan pentingnya kepatuhan terhadap program terapeutik dan kunjungan rutin. 11) Libatkan keluarga dalam sesi edukasi jika memungkinkan. 12) Gunakan media edukasi (brosur, gambar, video) yang sesuai dengan tingkat pemahaman pasien. 13) Berikan kesempatan bagi pasien untuk bertanya dan mengungkapkan perasaannya. 14) Rencanakan sesi edukasi berulang dan evaluasi pemahaman dengan metode "teach back". 15) Rujuk ke ahli gizi untuk penjelasan detail tentang diet diabetes. 16) Berikan sumber informasi yang dapat diakses pasien setelah pulang.