Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23347 | 18 Dec 2025
Klinis : Pusing TD 118/83 Hr 79 N 67 Rr 19 Sat 100% NK 2 lpm UO 1300/24/60 - 0.9 cc/kg/jam BC - 125 cc RBH - RBK + Rontgen : PN bilateral Bronchiectasis kanan EKG PVC Bigemini CI , Susp Wellen Type B Hb 11.7 Ht 36 L 13.9 Tr 322 GDS 127 Na 136 K 5.6 Cl 99 Ca 1.1 GDS 127 Ur 256 Cre 4.9 GDP 98 GD2PP 147 CHol 147 HDL 23 LDL 100 TG 147 Au 12.4 APTT 131 post HD Hb 10,5 Ht 32 L 14.8 Tr 283 Na 134 K 3.2 Cl 100 Ca 1,2 Ur 81 Cre 1.9 16.12.25 HBA1C 5.4 APTT 91 INR 1,4 Na 135 K 4.3 Cl 98 Ca 1.2 nyeri dada (-), sesak berkurang Ku lemah Kes: Composmentis TD: 145/76 HR: 71 RR: 23 S: 36,6 Spo2: 99 Mata : CA (-/-), SI (-/-), mata cowong (-/-) Mulut : lidah kotor (-), mukosa bibir kering (+) Thoraks : simetris kanan dan kiri, retraksi (-) Jantung : BJ I-II reguler (+), murmur (-) Paru : SDV (+/+), RBH (+/+), RBK (-/-), wheezing (-/-) Abdomen : supel (+), BU (+) dbn, timpani (+), nyeri tekan (+) Eks. Superior : akral hangat (+/+), oedem (-/-) crt < 2 dtk Eks. Inferior : akral hangat (+/+), oedem (-/-) crt < 2 dtk 14/12 ->15/12 (post hd) hb: 11,71 -> 10,55 AE:4,05 ->3,55 hct: 36,1 -> 32,3 AL:13,92 ->14,85 AT: 322 ->283 gds: 127 ur: 256,8 -> 81,3 cr: 4,94-> 1,98 sesak (+), batuk (+), nyeri perut (-) TD 112/72 mmhg Hr 68 x/mnt Rr 22 x/mnt Sat 100% NK 2 lpm RBH - Rontgen : PN bilateral Bronchiectasis kanan EKG PVC Bigemini CI , Susp Wellen Type B Hb 11.7 Ht 36 L 13.9 Tr 322 GDS 127 Na 136 K 5.6 Cl 99 Ca 1.1 GDS 127 Ur 256 Cre 4.9 GDP 98 GD2PP 147 CHol 147 HDL 23 LDL 100 TG 147 Au 12.4
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Keadaan rentan terhadap ketidakadekuatan darah yang dipompa oleh jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh, yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: L.14018
Deskripsi : Curah jantung memadai.
Kode SIKI: I.01246
Deskripsi : Pemantauan tanda-tanda vital dan status hemodinamik; Pemantauan status pernapasan; Pemantauan status kardiovaskuler; Pemantauan status neurologis; Pemantauan elektrolit; Pemantauan hasil pemeriksaan diagnostik; Kolaborasi pemberian terapi obat; Edukasi pasien/keluarga tentang kondisi dan penatalaksanaan.
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Keadaan rentan terhadap variasi kadar glukosa darah dari rentang normal, yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: L.14026
Deskripsi : Kadar glukosa darah dalam rentang yang diharapkan.
Kode SIKI: I.01254
Deskripsi : Pemantauan tanda-tanda vital; Pemantauan kadar glukosa darah; Pemantauan tanda dan gejala hipo/hiperglikemia; Manajemen nutrisi; Kolaborasi pemberian terapi insulin/obat anti-diabetik oral sesuai indikasi; Edukasi pasien/keluarga tentang manajemen glukosa darah.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas paten.
Kode SLKI: L.03004
Deskripsi : Jalan napas paten.
Kode SIKI: I.03011
Deskripsi : Pemantauan status pernapasan (irama, kedalaman, usaha napas, suara napas); Manajemen jalan napas; Posisi semi fowler/fowler; Latihan napas dalam dan batuk efektif; Fisioterapi dada; Suction; Terapi oksigen; Hidrasi adekuat; Kolaborasi pemberian bronkodilator/mukolitik; Edukasi pasien/keluarga tentang teknik batuk dan perawatan jalan napas.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0002
Deskripsi Singkat: Kekurangan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: L.09002
Deskripsi : Aktivitas terpenuhi.
Kode SIKI: I.09005
Deskripsi : Pemantauan respons pasien terhadap aktivitas (tanda vital, kelemahan, pusing); Bantu aktivitas perawatan diri sesuai toleransi; Rencanakan periode istirahat yang cukup; Atur posisi untuk kenyamanan dan penghematan energi; Tingkatkan aktivitas secara bertahap; Kolaborasi manajemen nyeri jika ada; Edukasi pasien/keluarga tentang teknik penghematan energi.
-
Article No. 23348 | 18 Dec 2025
Klinis : Seorang wanita berusia 24 tahun berkonsultasi karena demam tinggi, nyeri sendi yang progresif, batuk kering, sakit tenggorokan, dan ruam selama 2 minggu. Ia telah mengonsumsi antibiotik oral dan obat kumur antiseptik, tetapi mengalami nyeri dada, leher dan bahu kaku, kesulitan berjalan, dan kelemahan otot wajah setelah 4 hari. Ia mengeluarkan air liur dan harus menopang bibir bawahnya secara manual untuk menghindari tumpahan cairan setiap kali minum. Pasien dirawat inap dan peningkatan titer ASO dan reaktan fase akut memenuhi kriteria Jones untuk diagnosis demam reumatik. Riwayat medis, sosial, dan pribadi pasien tidak memberikan informasi yang relevan. Perkembangan kelemahan otot wajah mendorong rujukan ke THT dan Neurologi. Pemeriksaan fisik umum tidak menunjukkan kelainan, begitu pula pemeriksaan telinga, hidung, rongga mulut, dan orofaring. Ia mengalami kelumpuhan saraf wajah bilateral, House-Brackmann V (penutupan mata tidak sempurna, tidak dapat mengangkat alis, mengerutkan hidung, menggembungkan pipi, atau tersenyum dan mengerutkan kening). Elektromiografi-kecepatan konduksi saraf (EMG-NCV) dengan studi saraf wajah menunjukkan saraf wajah dan refleks kedip yang abnormal, konsisten dengan mononeuropati wajah bilateral akut (Bell's Palsy), sementara EMG-NCV anggota tubuh bagian atas dan bawah normal tanpa bukti neuropati distal fokal atau difus. Audiometri nada murni, timpanometri, dan pencitraan resonansi magnetik (MRI) otak dan saraf wajah normal, sementara Tes Schirmer menunjukkan penurunan produksi air mata bilateral. Pasien diberikan Prednison 60 mg/hari selama 6 hari untuk kemudian diturunkan secara bertahap selama sebulan, Ceftriaxone 2 g/IV sekali sehari selama 3 hari, lalu diganti dengan Cefuroxime 500 mg tablet dua kali sehari selama 1 minggu dan Aspirin 80 mg tablet setiap 8 jam. Demam, batuk, ruam, dan nyeri sendi serta tubuh mereda pada hari ke-5 perawatan di rumah sakit. Tidak ada perkembangan lebih lanjut dari kelumpuhan wajah, tetapi ia tidak dapat menggerakkan dahi, penutupan mata tidak sempurna, dan hanya sedikit gerakan mulut. Terapi fisik dan penanganan mata kering dimulai, dan ia dipulangkan pada hari ke-9 perawatan di rumah sakit dengan diagnosis akhir kelumpuhan Bell bilateral dan demam rematik yang telah sembuh. Pasien melanjutkan latihan fisioterapi di rumah sekali sehari untuk wajah dan dosis Prednison diturunkan secara bertahap hingga satu bulan. Dia diperiksa di departemen rawat jalan (OPD) setiap bulan dengan perbaikan yang nyata pada kelumpuhan wajah dari House Brackmann V menjadi House Brackmann II-III yang diamati selama rentang waktu 6 bulan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Mobilitas Wajah dan Risiko Kerusakan Integritas Kornea terkait Kelumpuhan Saraf Fasialis (Bell's Palsy) Bilateral pada Demam Reumatik
Kode SDKI: D.0126
Deskripsi Singkat: Gangguan Mobilitas Wajah didefinisikan sebagai kondisi terbatasnya atau tidak adanya kemampuan untuk menggerakkan otot-otot wajah secara volunter. Pada kasus ini, gangguan disebabkan oleh mononeuropati akut saraf fasialis bilateral (Bell's Palsy) yang merupakan komplikasi dari demam reumatik. Defisit ini secara langsung berdampak pada fungsi vital seperti ekspresi wajah, pengucapan kata (disfagia), mengunyah, dan yang paling kritis adalah mekanisme protektif mata (berkedip dan menutup mata). Ketidakmampuan menutup mata sempurna (lagophthalmos) dan penurunan produksi air mata (dari Tes Schirmer) menciptakan risiko tinggi untuk kerusakan kornea, seperti abrasi, ulserasi, dan infeksi, yang dapat mengancam penglihatan. Oleh karena itu, diagnosa keperawatan ini sering beririsan dengan risiko kerusakan integritas jaringan, khususnya kornea. Kondisi pasien yang memerlukan manual support untuk bibir saat minum dan adanya saliva yang menetes memperjelas tingkat ketergantungan dan gangguan fungsi motorik yang dialami.
Kode SLKI: L.15015
Deskripsi : Pemulihan Mobilitas Wajah. Luaran yang diharapkan adalah pasien menunjukkan peningkatan kekuatan dan fungsi otot-otot wajah, yang dapat diukur dengan skala House-Brackmann (dari V menjadi II-III seperti dalam perkembangan pasien). SLKI ini mencakup serangkaian intervensi dan kriteria evaluasi seperti: 1) Peningkatan kemampuan dalam melakukan gerakan wajah volunter seperti mengerutkan dahi, menutup mata dengan sempurna, mengerutkan hidung, dan tersenyum secara simetris. 2) Penurunan atau hilangnya tumpahan cairan saat minum dan kemampuan mengontrol saliva. 3) Peningkatan kejelasan artikulasi bicara. 4) Pemulihan refleks berkedip sebagai mekanisme proteksi kornea. Pencapaian luaran ini dilakukan melalui terapi farmakologis (kortikosteroid), terapi fisik khusus wajah, dan latihan mandiri di rumah. Perbaikan bertahap dalam 6 bulan menunjukkan efektivitas manajemen yang dilakukan.
Kode SIKI: I.15077
Deskripsi : Terapi Latihan Wajah. Intervensi keperawatan ini bersifat mendasar dan berkelanjutan untuk menangani gangguan mobilitas. Pelaksanaannya meliputi: 1) Edukasi dan demonstrasi latihan otot wajah secara aktif dan pasif, dimulai dari area dahi, mata, hidung, pipi, mulut, dan dagu. Contoh latihan termasuk mengangkat alis, menutup mata dengan erat, mengerutkan hidung, mengembangkan pipi, menarik sudut mulut ke samping (senyum), dan mengerutkan bibir. 2) Melakukan massage wajah secara lembut untuk meningkatkan sirkulasi dan mencegah atrofi otot. 3) Mengajarkan pasien untuk berlatih di depan cermin untuk mendapatkan umpan balik visual dan memastikan teknik yang benar. 4) Koordinasi dengan fisioterapis untuk program terstruktur dan memantau kemajuan. Intervensi ini harus dilakukan secara rutin (seperti sekali sehari di rumah) dan konsisten untuk merangsang regenerasi saraf dan mencegah kontraktur otot. Pada pasien ini, intervensi ini telah dimulai selama perawatan dan dilanjutkan di rumah.
Kondisi: Risiko Kerusakan Integritas Kornea terkait Lagophthalmos dan Penurunan Produksi Air Mata
Kode SDKI: D.0013
Deskripsi Singkat: Risiko Kerusakan Integritas Kornea didefinisikan sebagai keadaan rentan terhadap kerusakan pada lapisan epitel kornea, yang dapat berdampak pada kesehatan mata dan ketajaman penglihatan. Pada pasien dengan Bell's Palsy bilateral, risiko ini sangat tinggi akibat dua faktor utama: mekanik dan sekretori. Faktor mekanik adalah ketidakmampuan menutup kelopak mata secara sempurna (lagophthalmos), yang menyebabkan permukaan kornea terekspos terus-menerus, mengering, dan rentan terhadap gesekan atau trauma. Faktor sekretori adalah penurunan produksi air mata yang dibuktikan dengan Tes Schirmer abnormal, yang memperparah kekeringan pada mata. Kombinasi keduanya dapat dengan cepat menyebabkan xerosis kornea, abrasi epitel, ulkus, dan infeksi sekunder yang berpotensi menyebabkan perforasi dan kehilangan penglihatan. Oleh karena itu, meskipun mobilitas wajah yang membaik, proteksi mata harus menjadi prioritas keperawatan yang konstan sejak awal diagnosis.
Kode SLKI: L.13032
Deskripsi : Proteksi Kornea. Luaran yang diharapkan adalah integritas kornea tetap terjaga, ditandai dengan kornea yang tetap jernih, lembab, tanpa tanda-tanda abrasi, ulserasi, atau infeksi (seperti kemerahan, nyeri, atau sekret purulen). SLKI ini dicapai melalui: 1) Pemeliharaan kelembaban permukaan mata dengan penggunaan artificial tears (air mata buatan) tanpa pengawet secara teratur sepanjang hari. 2) Proteksi fisik kornea, terutama saat tidur, dengan menggunakan pelindung mata (eye shield) atau menutup kelopak mata dengan plester hipoalergenik secara hati-hati. 3) Pencegahan trauma tidak sengaja, seperti menginstruksikan pasien untuk menggosok mata dengan hati-hati atau menggunakan tetes mata untuk membasahi jika terasa kering. 4) Monitoring ketat tanda-tanda komplikasi oleh perawat dan tim medis, serta edukasi pada pasien dan keluarga untuk mengenali gejala darurat seperti nyeri mata mendadak, penglihatan kabur, atau fotofobia berat.
Kode SIKI: I.13044
Deskripsi : Perawatan Mata. Intervensi keperawatan ini bersifat protektif dan suportif untuk mempertahankan kelembaban dan integritas kornea. Pelaksanaannya meliputi: 1) Pemberian pelumas mata (ointment atau gel) yang lebih kental pada malam hari sebelum tidur untuk mencegah penguapan dan melindungi kornea selama periode tidak berkedip. 2) Instruksi dan bantuan dalam pemasangan eye shield atau teknik taping kelopak mata yang aman untuk memastikan penutupan mata selama tidur. 3) Administrasi tetes air mata buatan sesuai jadwal (misal, setiap 2-4 jam) pada siang hari. 4) Melakukan inspeksi rutin terhadap mata untuk melihat adanya kemerahan, sekret, atau keruh pada kornea. 5) Kolaborasi dengan dokter untuk terapi medikamentosa seperti antibiotik topikal jika ada tanda infeksi. 6) Edukasi pasien dan keluarga yang komprehensif tentang pentingnya perawatan mata, teknik pemberian tetes mata, dan tanda-tanda bahaya yang harus dilaporkan segera. Pada pasien ini, intervensi "penanganan mata kering" telah dimulai sejak perawatan di rumah sakit.
-
Article No. 23329 | 17 Dec 2025
Klinis : Edukasi Pencegahan Infeksi
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Edukasi Pencegahan Infeksi
Kode ICD-10: Z71.2
Deskripsi Singkat : Kode Z71.2 mengindikasikan seseorang yang berkonsultasi dengan profesional kesehatan untuk mendapatkan nasihat, edukasi, atau instruksi mengenai pencegahan infeksi, dan bukan karena sedang menderita penyakit tertentu. Kondisi ini mencakup edukasi tentang praktik higiene dasar (seperti cuci tangan yang benar), penggunaan alat pelindung diri (APD), pencegahan infeksi nosokomial, serta pencegahan penularan penyakit menular di komunitas (seperti influenza, tuberkulosis, atau HIV). Kode ini termasuk dalam bab 'Faktor-faktor yang mempengaruhi status kesehatan dan kontak dengan pelayanan kesehatan' (Z00-Z99), yang digunakan untuk mencatat keadaan yang bukan penyakit atau cedera tetapi menjadi alasan kontak dengan sistem kesehatan. Penggunaan kode ini tepat untuk kunjungan pasien atau masyarakat yang bertujuan khusus untuk mendapatkan pengetahuan pencegahan, misalnya dalam konteks persiapan operasi, perawatan luka di rumah, merawat anggota keluarga dengan penyakit menular, atau program kesehatan masyarakat. Kode ini menekankan pada aspek edukasi dan pencegahan proaktif sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23330 | 17 Dec 2025
Klinis : Edukasi Pencegahan Infeksi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Edukasi Pencegahan Infeksi
Kode SDKI: 0206
Deskripsi Singkat: Defisit pengetahuan tentang pencegahan infeksi berhubungan dengan kurangnya informasi atau kesalahpahaman tentang sumber infeksi, mekanisme penularan, dan perilaku pencegahan.
Kode SLKI: 4501
Deskripsi : Pengetahuan tentang pencegahan infeksi. Deskripsi: Pengetahuan klien dan/atau keluarga tentang cara mencegah infeksi meningkat, yang ditandai dengan: 1) Menyebutkan agen penyebab infeksi; 2) Menyebutkan cara penularan infeksi; 3) Menyebutkan tanda dan gejala infeksi; 4) Menjelaskan cara pencegahan infeksi; 5) Mendemonstrasikan cara mencuci tangan yang benar; 6) Mendemonstrasikan cara menggunakan alat pelindung diri (APD) dengan benar bila diperlukan; 7) Menjelaskan pentingnya kebersihan diri dan lingkungan; 8) Menjelaskan pentingnya imunisasi sesuai usia dan kondisi; 9) Menjelaskan prinsip penggunaan antibiotik yang rasional (jika relevan); 10) Mengidentifikasi kapan harus mencari pertolongan kesehatan jika terjadi tanda infeksi.
Kode SIKI: 4501
Deskripsi : Edukasi pencegahan infeksi. Deskripsi: Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan klien serta keluarga dalam mencegah terjadinya infeksi. Kegiatan ini meliputi: 1) Menilai tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang pencegahan infeksi; 2) Menjelaskan pengertian infeksi, sumber infeksi (mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur), dan cara penularannya (kontak langsung, udara, droplet, vektor, dll); 3) Menjelaskan faktor risiko yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi (misalnya, luka terbuka, daya tahan tubuh rendah, penyakit kronis); 4) Mendemonstrasikan dan meminta klien atau keluarga mendemonstrasikan kembali teknik mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer berbasis alkohol secara benar (7 langkah); 5) Mendemonstrasikan dan melatih etika batuk dan bersin yang benar (menggunakan tisu atau lengan baju bagian dalam); 6) Menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan diri (mandi, gosok gigi, perawatan kuku) dan kebersihan lingkungan (ventilasi, sampah, kebersihan tempat tidur); 7) Menjelaskan pentingnya imunisasi sesuai jadwal dan rekomendasi untuk meningkatkan kekebalan tubuh; 8) Memberikan edukasi tentang perawatan luka yang steril untuk mencegah infeksi pada klien dengan luka; 9) Menjelaskan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) seperti masker, sarung tangan, dan jas lab dalam konteks tertentu (merawat orang sakit, di fasilitas kesehatan); 10) Memberikan edukasi tentang pencegahan infeksi menular seksual jika relevan; 11) Menjelaskan pentingnya nutrisi seimbang dan istirahat yang cukup untuk meningkatkan sistem imun; 12) Memberikan penjelasan tentang bahaya penggunaan antibiotik tanpa resep dan tidak sesuai anjuran; 13) Melibatkan keluarga sebagai pendukung dalam penerapan perilaku pencegahan infeksi di rumah; 14) Memberikan bahan edukasi (leaflet, poster) sebagai pengingat; 15) Mengevaluasi pemahaman klien dan keluarga dengan metode tanya jawab atau demonstrasi ulang.
-
Article No. 23331 | 17 Dec 2025
Klinis : diagnosa bersihan jalan nafas, sputum banyak, sudah terpasang trakeostomi
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif dengan Sputum Banyak pada Pasien Trakeostomi
Kode ICD-10: J95.01
Deskripsi Singkat : Kondisi ini menggambarkan kegagalan atau ketidakefektifan dalam membersihkan sekresi (sputum banyak) dari saluran pernapasan pada pasien yang telah menjalani prosedur trakeostomi. Trakeostomi adalah pembuatan lubang di leher langsung ke trakea untuk membuka jalan napas, sering kali pada pasien dengan gangguan neurologis, kelemahan otot pernapasan, atau obstruksi jalan napas atas. Kode J95.01 secara spesifik mengacu pada "Mekonium dalam sekresi trakeobronkial akibat prosedur medis", yang dalam konteks klinis mencakup komplikasi seperti akumulasi sekresi yang berlebihan dan kental (sputum banyak) yang menghambat jalan napas pasca-pemasangan trakeostomi. Sputum yang banyak dapat disebabkan oleh infeksi, respons inflamasi, atau ketidakmampuan batuk efektif. Kondisi ini memerlukan intervensi keperawatan dan medis rutin seperti penghisapan lendir (suction) yang steril, nebulisasi, fisioterapi dada, serta pemantauan untuk mencegah komplikasi serius seperti pneumonia aspirasi, hipoksia, atau obstruksi total kanula trakeostomi. Kode ini termasuk dalam bab "Penyakit pada sistem pernapasan" dan subkategori "Gangguan saluran pernapasan pasca-prosedur, tidak diklasifikasikan di tempat lain", menekankan bahwa masalah ini adalah konsekuensi langsung dari tata laksana medis (trakeostomi).
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23334 | 17 Dec 2025
Klinis : klien dengan diagnosa icshialgia mengeluh nyeri pinggang menjalar ke kaki kanan nyeri terasa ditusuk tusuk, skala nyeri 7, nyeri dirasakan hilang timbul, nyeri bertambah ketika berjalan dan berdiri, nyeri berkurang ketika istirahat
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan atau antisipasi berakhir dalam waktu singkat.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Klien mengontrol nyeri dengan tindakan farmakologis dan/atau non-farmakologis. Indikator yang relevan untuk kasus ini meliputi: (1) Melaporkan nyeri berkurang/hilang, (2) Mengenali faktor pencetus nyeri, (3) Menggunakan metode non-farmakologis untuk mengatasi nyeri, (4) Menggunakan analgesik sesuai resep/prosedur, (5) Mempertahankan tingkat fungsi yang diinginkan, (6) Tampak rileks, mampu tidur/istirahat, dan (7) Tanda-tanda vital dalam rentang normal.
Kode SIKI: 0846
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Tindakan untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi. Intervensi yang relevan meliputi: (1) Kaji karakteristik nyeri (lokasi, kualitas, intensitas/skala, onset, durasi, frekuensi, faktor pencetus, dan faktor pereda). (2) Observasi tanda-tanda nonverbal ketidaknyamanan, terutama pada klien yang tidak mampu berkomunikasi dengan baik. (3) Ajarkan penggunaan skala nyeri yang sesuai. (4) Berikan analgetik sesuai indikasi, protokol, atau resep dokter, evaluasi efektivitas dan efek samping. (5) Lakukan tindakan non-farmakologis sebelum, setelah, dan di antara pemberian obat (misal: teknik relaksasi napas dalam, distraksi, terapi musik, posisi yang nyaman, kompres hangat/dingin). (6) Atur posisi untuk kenyamanan dan mengurangi ketegangan pada area nyeri. (7) Minimalkan faktor pencetus nyeri. (8) Berikan informasi tentang nyeri dan penanganannya. (9) Ajarkan untuk melaporkan nyeri segera ketika muncul. (10) Evaluasi respons klien terhadap intervensi nyeri.
-
Article No. 23336 | 17 Dec 2025
Klinis : Nyeri dada - sesak - lemas -,berdebar - TD 118/83 Hr 79 N 67 Rr 19 Sat 100% NK 2 lpm UO 1300/24/60 - 0.9 cc/kg/jam BC - 125 cc RBH - RBK + Rontgen : PN bilateral Bronchiectasis kanan EKG PVC Bigemini CI , Susp Wellen Type B Hb 11.7 Ht 36 L 13.9 Tr 322 GDS 127 Na 136 K 5.6 Cl 99 Ca 1.1 GDS 127 Ur 256 Cre 4.9 GDP 98 GD2PP 147 CHol 147 HDL 23 LDL 100 TG 147 Au 12.4 APTT 131 post HD Hb 10,5 Ht 32 L 14.8 Tr 283 Na 134 K 3.2 Cl 100 Ca 1,2 Ur 81 Cre 1.9 16.12.25 HBA1C 5.4 APTT 91 INR 1,4 Na 135 K 4.3 Cl 98 Ca 1.2 Nyeri dada - sesak - lemas + berdebar berkurang TD 121/69 mmhg Hr 61 x/mnt Rr 22 x/mnt Sat 100% NK 2 lpm RBH - Rontgen : PN bilateral Bronchiectasis kanan EKG PVC Bigemini CI , Susp Wellen Type B Hb 11.7 Ht 36 L 13.9 Tr 322 GDS 127 Na 136 K 5.6 Cl 99 Ca 1.1 GDS 127 Ur 256 Cre 4.9 GDP 98 GD2PP 147 CHol 147 HDL 23 LDL 100 TG 147 Au 12.4 nyeri dada (-), sesak berkurang O : KU : Lemah Kes : CM TD : 141/88 HR : 75 RR : 21 S : 36.4 SpO2 : 99 Mata : CA (-/-), SI (-/-), mata cowong (-/-) Mulut : lidah kotor (-), mukosa bibir kering (+) Thoraks : simetris kanan dan kiri, retraksi (-) Jantung : BJ I-II reguler (+), murmur (-) Paru : SDV (+/+), RBH (+/+), RBK (-/-), wheezing (-/-) Abdomen : supel (+), BU (+) dbn, timpani (+), nyeri tekan (+) Eks. Superior : akral hangat (+/+), oedem (-/-) crt < 2 dtk Eks. Inferior : akral hangat (+/+), oedem (-/-) crt < 2 dtk 14/12 ->15/12 (post hd) hb: 11,71 -> 10,55 AE:4,05 ->3,55 hct: 36,1 -> 32,3 AL:13,92 ->14,85 AT: 322 ->283 gds: 127 ur: 256,8 -> 81,3 cr: 4,94-> 1,98
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut dan Ketidakefektifan Pola Napas terkait Kondisi Kardiovaskular dan Pernapasan
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung kurang dari 3 bulan. Pada pasien ini, nyeri dada merupakan keluhan utama yang disertai gejala kardiovaskular (berdebar, EKG menunjukkan PVC Bigemini dan susp Wellens Type B) dan pernapasan (sesak, bronkiektasis, PN bilateral).
Kode SLKI: 1400
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Luaran yang diharapkan adalah pasien mampu mengontrol nyeri melalui metode farmakologis dan non-farmakologis. Indikator pada pasien ini meliputi: melaporkan nyeri berkurang atau hilang (terlihat dari perkembangan "nyeri dada -" dan "nyeri dada (-)"), menunjukkan perilaku nyaman (misalnya, tidak gelisah, tanda vital stabil), menggunakan teknik non-farmakologis untuk mengatasi nyeri, dan mematuhi regimen terapi analgesik yang diresepkan. Perkembangan kondisi dari "nyeri dada - sesak - lemas - berdebar" menjadi "nyeri dada (-), sesak berkurang, lemas + berdebar berkurang" menunjukkan progres positif menuju luaran ini.
Kode SIKI: 3360
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan yang sistematis meliputi: 1) Melakukan pengkajian nyeri komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, faktor pencetus dan pereda). 2) Memantau tanda-tanda fisiologis dan perilaku respons nyeri (perubahan TD, HR, pola napas, ekspresi wajah). 3) Memberikan tindakan kenyamanan non-farmakologis (posisi nyaman, teknik relaksasi napas dalam, lingkungan tenang). 4) Kolaborasi pemberian farmako-terapi analgesik sesuai indikasi dan memantau efek samping. 5) Mengajarkan pasien dan keluarga tentang metode pelaporan nyeri dan teknik manajemen nyeri mandiri. 6) Memodifikasi intervensi berdasarkan evaluasi respons pasien.
Kondisi: Ketidakefektifan Pola Napas terkait Gangguan Pertukaran Gas (Bronkiektasis dan Pneumonia)
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Ketidakefektifan Pola Napas adalah kondisi dimana individu mengalami inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat. Hal ini didukung oleh data pasien: keluhan sesak napas, diagnosis bronkiektasis kanan dan pneumonia bilateral, serta temuan fisik RBH (+/+) yang menunjukkan adanya sekret berlebih dan gangguan pertukaran gas meskipun saturasi oksigen normal dengan bantuan oksigen.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Status Pernapasan: Ventilasi. Luaran yang diharapkan adalah mempertahankan pola napas yang efektif dan pertukaran gas yang adekuat. Indikatornya meliputi: frekuensi napas dalam rentang normal (19-22x/menit), tidak ada tanda distress pernapasan (retraksi negatif), bunyi napas jernih atau membaik (dari RBK + menjadi RBK -/-), mampu melakukan aktivitas tanpa sesak, dan nilai analisa gas darah dalam batas normal. Perubahan dari "sesak" menjadi "sesak berkurang" dan hilangnya RBK merupakan indikator kemajuan.
Kode SIKI: 3180
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi keperawatan yang dilakukan: 1) Memantau status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, usaha napas) dan saturasi oksigen secara berkala. 2) Melakukan fisioterapi dada (batuk efektif, latihan napas dalam, postural drainage) untuk mobilisasi sekret. 3) Melakukan suction jalan napas sesuai indikasi. 4) Mempertahankan kepatenan jalan napas dengan posisi semi-fowler atau tinggi. 5) Memberikan terapi oksigen sesuai program (NK 2 lpm) dan memantau keefektifannya. 6) Kolaborasi pemberian bronkodilator, mukolitik, atau antibiotik. 7) Memonitor hasil pemeriksaan penunjang seperti rontgen thoraks.
Kondisi: Risiko Penurunan Curah Jantung terkait Aritmia (PVC Bigemini dan Susp Wellens Type B)
Kode SDKI: 00206
Deskripsi Singkat: Risiko Penurunan Curah Jantung adalah keadaan dimana seseorang berisiko mengalami ketidakadekuatan darah yang dipompa oleh jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Risiko ini tinggi pada pasien karena temuan EKG: PVC Bigemini (kontraksi ventrikel prematur berpasangan) dan susp Wellens Type B (polanya mengindikasikan iskemia arteri descendens anterior kiri yang signifikan), yang dapat mengganggu irama dan efisiensi pompa jantung, serta ditunjang keluhan lemas dan berdebar.
Kode SLKI: 0404
Deskripsi : Status Sirkulasi: Kardiak. Luaran yang diharapkan adalah mempertahankan curah jantung yang adekuat. Indikatornya meliputi: tekanan darah dalam rentang yang dapat diterima (TD 118/83 hingga 141/88), denyut nadi dalam rentang normal dan ritmis (HR 61-79), tidak ada keluhan berdebar atau lemas yang signifikan, haluaran urin adekuat (>0.5 cc/kg/jam), kulit hangat dan kering, serta status mental baik. Perbaikan keluhan lemas dan berdebar, serta stabilnya tanda vital pasca hemodialisa mendukung luaran ini.
Kode SIKI: 4040
Deskripsi : Pemantauan Hemodinamik. Intervensi keperawatan yang dilakukan: 1) Memantau tanda vital (TD, HR, Nadi, RR) secara ketat dan berkelanjutan, khususnya mengamati irama dan keteraturan nadi. 2) Memantau status jantung melalui auskultasi bunyi jantung dan pemantauan EKG terus menerus untuk mendeteksi perubahan irama. 3) Mengkaji tanda-tanda penurunan curah jantung (hipotensi, takikardia/bradikardia, penurunan kesadaran, penurunan haluaran urin, kulit dingin). 4) Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, khususnya memantau kadar kalium (K 5.6 -> 3.2 -> 4.3) yang sangat mempengaruhi irama jantung. 5) Kolaborasi pemberian terapi antiaritmia dan manajemen iskemia sesuai instruksi dokter. 6) Membatasi aktivitas untuk mengurangi beban kerja jantung selama fase akut.
Kondisi: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh terkait Peningkatan Kebutuhan Metabolik (Infeksi) dan Anemia
Kode SDKI: 00026
Deskripsi Singkat: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh adalah asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Data yang mendukung: adanya infeksi (pneumonia bilateral) yang meningkatkan kebutuhan metabolik, nilai hemoglobin yang cenderung turun (11.7 -> 10.5) menunjukkan anemia, albumin rendah (3.55), dan mukosa bibir kering. Meski asupan oral (BC) dilaporkan 125 cc, perlu dikaji kecukupan nutrisi secara keseluruhan.
Kode SLKI: 1103
Deskripsi : Status Nutrisi. Luaran yang diharapkan adalah kebutuhan nutrisi terpenuhi. Indikatornya meliputi: asupan makanan dan cairan sesuai kebutuhan, berat badan stabil atau meningkat, nilai laboratorium nutrisi dalam batas normal (Hb, Albumin, Limfosit), tidak ada tanda malnutrisi (kelemahan otot, luka sulit sembuh), dan memiliki energi yang cukup untuk beraktivitas. Peningkatan nilai albumin pasca HD dan perbaikan kondisi umum menjadi target luaran ini.
Kode SIKI: 1120
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Intervensi keperawatan yang dilakukan: 1) Mengkaji asupan nutrisi dan cairan per hari (balance cairan). 2) Memantau nilai laboratorium terkait nutrisi (Hb, Ht, Albumin, Elektrolit). 3) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori dan protein yang sesuai, terutama dengan kondisi penyakit ginjal (ureum & kreatinin tinggi). 4) Memberikan makanan dalam porsi kecil tapi sering dengan kandungan protein tinggi dan sesuai batasan ginjal. 5) Memberikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi untuk penyembuhan. 6) Memantau berat badan secara berkala. 7) Kolaborasi pemberian suplemen nutrisi atau terapi transfusi PRC jika diperlukan untuk mengatasi anemia.
-
Article No. 23307 | 16 Dec 2025
Klinis : penurunan kesadaran lemah, E2V2M1 TD 135/91 mmHg N 92 x/menit R 33 x/menit S 36,4 c Spo0 99 Mata : CA (-/-), SI (-/-) Mulut : lidah kotor (-) Thoraks : simetris kanan dan kiri, retraksi (-) Jantung : BJ I-II reguler (+), murmur (-) Paru : SDV (+/+), Rhonki +/+, wheezing (-/-) Abdomen : supel (+), BU (+) dbn, timpani (+), nyeri tekan (-) Eks. Superior : akral hangat (+/+), oedem (-/-) Pemeriksaan neurologi peripheral painful stimuli (+/+/+/+) Central painful stimuli (+) Meningial sign (-) -> Cranial nervus 1. Vision - voluntary eye movement (-) - Visual pursuit (-) - Blik to treat (-) 2. Pupillary assesment and refleks - Pupillary respond -> +/+, 2mm/2mm - The eye lid release test -> +/+ - Doll eyes -> +/+ - Corneal refleks -> +/+ 3. Motor assement Tonus - upper 1/1 - Lower 1/1 motor response - upper laterasasi dextra sinistra - lower laterasasi dextra sinistra 4. Motor refleks Refleks patologis (-/-) Refleks fisiologis +1/+1/+1/+1 5. plantar response +/+ NIHSS: 28 -26 CT scan Kesan : - Infark cerebri di occipitalis bilateral - Kalsifikasi curvilinier di occipitalis dextra - Atrofi cerebri - Tak tampak perdarahan intracerebri maupun intracerebelli RBK +/+ slrh lapangan paru EKG : Sinus Takikardia Hb 13.2 Ht 40 L 17,5 Tr 40 Na 132 K 4.9 Cl 95 Ca 0.8 GDS 171 Ur 83 Cre 1.77 GDP 149 Chol 154 HDL 22 LDL 97 TG 173 Au 9.1 AGD 7,12 BE -8 CO2 65 O2 174 HCO3 21 Sat 99 Laktat 1,6 --> 7.349 BE -2 CO2 42 O2 25 HCO3 23 Sat 42% laktat 3.7
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran (Gangguan Kesadaran) pada Infark Serebri Bilateral
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Gangguan kesadaran adalah suatu keadaan penurunan kemampuan seseorang untuk menerima dan merespons rangsangan dari lingkungan, mulai dari kebingungan ringan hingga koma. Pada kasus ini, pasien mengalami penurunan kesadaran berat dengan skor GCS E2V2M1 (total 5) dan respons hanya terhadap rangsang nyeri, baik sentral maupun perifer. Hal ini disebabkan oleh infark serebri bilateral di area oksipital dan atrofi serebri yang mengganggu fungsi kesadaran di batang otak dan sistem aktivasi retikularis ascendens (ARAS). Kondisi ini diperberat oleh adanya asidosis respiratorik (pH 7.12, pCO2 65) yang menunjukkan gagal napas akut hipoventilasi, kemungkinan akibat depresi pusat pernapasan atau inkoordinasi otot pernapasan. Penurunan kesadaran ini mengancam jiwa karena risiko aspirasi, hipoksia, dan kegagalan multi organ.
Kode SLKI: L.03113
Deskripsi : Tercapainya tingkat kesadaran yang optimal. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Pasien menunjukkan peningkatan skor Glasgow Coma Scale (GCS) mendekati normal (E4V5M6). 2) Fungsi vital (pernapasan, sirkulasi) dalam batas normal yang mendukung perfusi dan oksigenasi otak. 3) Refleks proteksi jalan napas (batuk, muntah) intact untuk mencegah aspirasi. 4) Tidak terdapat tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial lebih lanjut. 5) Fungsi neurologis (refleks fisiologis, tonus) stabil atau membaik. Pada pasien ini, tujuan utamanya adalah stabilisasi GCS, koreksi gangguan asam-basa (asidosis respiratorik), dan pencegahan komplikasi imobilisasi. Pemantauan ketat terhadap perubahan respons neurologis, pola napas, dan gas darah arteri merupakan indikator kemajuan.
Kode SIKI: I.08049
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mempertahankan dan meningkatkan kesadaran serta mencegah komplikasi. Intervensi utama meliputi: 1) **Pemantauan Neurologis Ketat**: Menilai GCS (E, V, M) setiap jam atau sesuai protokol, memantau ukuran dan reaksi pupil, serta respons motorik terhadap rangsang nyeri. Dokumentasi setiap perubahan. 2) **Manajemen Jalan Napas dan Pernapasan**: Posisikan pasien dalam posisi semi-fowler atau lateral jika memungkinkan untuk memfasilitasi ventilasi. Lakukan penghisapan lendir secara rutin dan hati-hati untuk menjaga jalan napas paten. Pantau status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman) dan saturasi oksigen secara terus-menerus. Kolaborasi dalam pemberian terapi oksigen dan persiapan ventilasi mekanik jika gagal napas memburuk (berdasarkan analisis AGD). 3) **Pemantauan Hemodinamik**: Pantau tekanan darah, nadi, suhu secara reguler. Tekanan darah 135/91 mmHg perlu dipantau untuk menghindari hipotensi yang memperburuk perfusi otak atau hipertensi yang berlebihan. 4) **Pencegahan Komplikasi Imobilisasi**: Lakukan perawatan kulit untuk mencegah dekubitus, latihan rentang gerak pasif untuk mencegah kontraktur, dan manajemen nutrisi enteral (jika ada indikasi) untuk memenuhi kebutuhan metabolik. 5) **Manajemen Lingkungan**: Kurangi stimulasi yang tidak perlu (suara, cahaya), tetapi berikan stimulasi yang terapeutik seperti berbicara dengan pasien saat melakukan perawatan. 6) **Kolaborasi**: Berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi medis (antikoagulan/antiplatelet setelah evaluasi, manajemen gula darah, koreksi gangguan elektrolit), serta terapi respiratorik. Intervensi ini bersifat dinamis dan disesuaikan dengan respons pasien terhadap terapi.
-
Article No. 23308 | 16 Dec 2025
Klinis : Ny. R, usia 23 tahun, datang ke puskesmas Dream pada tanggal 29 September 2025. Pasien mengeluhkan nyeri pada telinga kiri sejak 2 hari yang lalu, sehari sebelumnya telinga terasa gatal dan tidak enak sehingga pasien membersihkan telinganya dengan cotton buds. Terdapat cairan yang keluar dari liang telinga sebelah kiri dan adanya pembengkakan pada telinga sebelah kiri. Pasien mengaku sebelumnya kemasukan air saat sedang berenang. Pasien belum pernah berobat untuk mengatasi keluhannya. Tidak ada riwayat hipertensi, penyakit immunokompromise, dan kencing manis. Hasil TTV: TD: 120/70 mmHg, N: 84 x/menit, S: 36,5 C, RR: 20 x/menit.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut dan Risiko Infeksi terkait Otitis Eksterna dan Trauma Mekanik pada Liang Telinga
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung kurang dari 3 bulan. Pada kasus Ny. R, nyeri akut muncul sebagai keluhan utama dengan onset 2 hari yang lalu, dipicu oleh proses inflamasi/infeksi pada liang telinga kiri (otitis eksterna) yang diperburuk oleh trauma mekanik dari penggunaan cotton bud. Nyeri ini bersifat subjektif dan menjadi fokus utama intervensi keperawatan untuk mengurangi penderitaan dan meningkatkan kenyamanan pasien.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI ini bertujuan untuk mengendalikan nyeri yang dialami pasien. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: pasien mampu mendemonstrasikan penggunaan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri (seperti kompres), melaporkan penurunan skala nyeri (misalnya dari skala 7-8 menjadi ≤3 pada skala 0-10), tanda-tanda vital dalam rentang normal (seperti yang sudah terlihat pada TTV pasien, menunjukkan tidak ada respons stres sistemik yang signifikan), ekspresi wajah dan perilaku yang lebih rileks, serta mampu melakukan aktivitas sehari-hari dengan nyaman tanpa gangguan nyeri yang berarti. Pada kasus otitis eksterna, pengendalian nyeri sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup sementara proses penyembuhan infeksi berlangsung.
Kode SIKI: I.08041
Deskripsi : Intervensi manajemen nyeri ini meliputi serangkaian tindakan yang sistematis. Pertama, lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif meliputi P (provokasi/palliative), Q (quality), R (region/radiation), S (severity scale), dan T (time). Kedua, ajarkan dan bantu pasien untuk melakukan teknik non-farmakologis seperti kompres hangat atau dingin di area sekitar telinga (bukan langsung pada liang telinga) sesuai kenyamanan pasien untuk mengurangi inflamasi dan nyeri. Ketiga, kolaborasi dengan dokter/nakes lain untuk pemberian analgesik atau obat tetes telinga sesuai resep, dan edukasi pasien mengenai cara pemberian serta efek sampingnya. Keempat, ciptakan lingkungan yang tenang untuk mengurangi stimulasi yang dapat memperberat persepsi nyeri. Kelima, monitor efektivitas intervensi yang diberikan dengan mengevaluasi kembali skala nyeri dan respons pasien secara berkala. Intervensi ini harus dilakukan dengan mempertimbangkan penyebab nyeri, yaitu infeksi dan trauma, sehingga edukasi untuk menghindari manipulasi telinga juga merupakan bagian dari manajemen nyeri jangka panjang.
Kondisi: Risiko Infeksi (Penyebaran) terkait Kerusakan Integritas Kulit Liang Telinga dan Adanya Eksudat
Kode SDKI: D.0068
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi adalah keadaan dimana individu rentan terhadap invasi dan multiplikasi patogen, yang dapat mengancam kesehatan. Pada Ny. R, risiko ini sangat tinggi karena adanya faktor predisposisi: 1) Kerusakan integritas kulit liang telinga akibat trauma mekanik dari cotton bud, yang menghilangkan lapisan protektif kulit dan serumen; 2) Adanya media pertumbuhan yang ideal (lingkungan lembab dan hangat) akibat kemasukan air saat berenang (otitis eksterna tipe 'swimmer's ear'); 3) Adanya eksudat/cairan yang keluar dari liang telinga yang merupakan produk dari proses infeksi awal. Jika tidak dikelola dengan baik, infeksi dapat meluas ke jaringan sekitar (selulitis periaurikular) atau bahkan ke tulang temporal (otitis eksterna maligna), meskipun jarang.
Kode SLKI: L.10031
Deskripsi : SLKI ini bertujuan untuk mencegah penyebaran infeksi dan mencapai penyembuhan. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: luka/inflamasi pada liang telinga menunjukkan tanda-tanda penyembuhan (reduksi edema, pengeringan eksudat, tidak ada eritema yang meluas), tidak adanya demam (suhu tubuh tetap dalam rentang normal, seperti 36.5°C pada pasien), tidak ada keluhan nyeri yang memberat atau munculnya nyeri berdenyut yang hebat, serta pasien dan keluarga mampu mendemonstrasikan perilaku perawatan telinga yang benar untuk mencegah infeksi berulang. Hasil lab jika tersedia (seperti swab telinga) menunjukkan berkurangnya jumlah koloni bakteri.
Kode SIKI: I.10029
Deskripsi : Intervensi manajemen infeksi ini berfokus pada pencegahan komplikasi dan edukasi. Pertama, lakukan perawatan luka/area infeksi dengan teknik aseptik jika diperlukan pembersihan oleh tenaga kesehatan. Kedua, edukasi pasien secara komprehensif: a) Larangan keras untuk mengorek, menggaruk, atau memasukkan apapun (termasuk cotton bud) ke dalam liang telinga; b) Cara menjaga telinga tetap kering (misalnya menggunakan penutup telinga atau kapas yang dilapisi vaselin saat mandi, hindari berenang sampai dinyatakan sembuh); c) Teknik membersihkan telinga yang aman, yaitu hanya membersihkan daun telinga bagian luar dengan handuk lembut. Ketiga, monitor tanda-tanda penyebaran infeksi seperti peningkatan suhu tubuh, pembengkakan yang meluas, nyeri yang bertambah hebat, atau munculnya discharge purulen yang berbau. Keempat, kolaborasi ketat untuk pemberian terapi antibiotik topikal (tetes telinga) atau sistemik sesuai resep, dan pastikan kepatuhan pasien. Kelima, anjurkan asupan nutrisi yang adekuat untuk mendukung sistem imun. Intervensi ini bersifat protektif dan edukatif untuk memutus rantai infeksi dan mencegah kekambuhan.
-
Article No. 23309 | 16 Dec 2025
Klinis : Nyeri dada + khas angina (-) sesak - TD 95/61 Hr 47 N 47 Rr 18 Sat 98% NK 2 lpm RBH - NTE + CT scan 7.25 Infark cerebri di capsula interrna dextra TTE 7.25 LV dilatasi Ef 45% DD gr II Hb 11,6 Ht 35 L 7,4 Tr 225 Ur 27 Cre 0.8 Na 141 K 4.5 Cl 107 Ca 1.1 GDS 97 CKMB 37 GDP 105 Chol 158 HDL 41 LDL 99 TG 142 Au 6.8 HBA1C
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Curah jantung tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Pasien menunjukkan peningkatan curah jantung dengan kriteria hasil: tekanan darah dalam rentang yang dapat diterima untuk pasien, nadi perifer dapat diraba, kulit hangat dan kering, haluaran urine adekuat (≥ 0,5 mL/kgBB/jam), status mental baik, dan tidak ada dispneu atau ortopneu.
Kode SIKI: I.08001 - I.08008 (seleksi)
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk meningkatkan curah jantung meliputi: memonitor status hemodinamik termasuk tekanan darah, nadi, tekanan vena sentral, dan saturasi oksigen secara berkala (I.08001). Mempertahankan tirah baring dengan posisi kepala tempat tidur ditinggikan selama fase akut (I.08002). Mengatur keseimbangan cairan dengan memantau asupan dan keluaran, serta mengkaji tanda kelebihan beban cairan (I.08003). Memberikan terapi oksigen sesuai kebutuhan untuk mempertahankan saturasi oksigen >95% (I.08004). Memantau respons pasien terhadap obat-obatan inotropik, diuretik, atau afterload reducing agents jika diberikan (I.08005). Mengajarkan pasien dan keluarga untuk melaporkan gejala seperti sesak napas, kelelahan, edema, dan peningkatan berat badan secara tiba-tiba (I.08006). Kolaborasi dalam pemberian terapi farmakologis sesuai resep dan mempersiapkan pasien untuk prosedur lebih lanjut jika diperlukan (I.08007). Memberikan dukungan psikologis dan edukasi mengenai pembatasan aktivitas, diet rendah garam, serta pemantauan gejala (I.08008).
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Serebral
Kode SDKI: D.0160
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat menyebabkan gangguan nutrisi dan oksigenasi jaringan otak.
Kode SLKI: L.16001
Deskripsi : Perfusi jaringan serebral tetap adekuat dengan kriteria hasil: status neurologis stabil atau membaik (GCS 15), fungsi kognitif dan sensori intact, tanda-tanda vital dalam rentang normal, tidak ada peningkatan tekanan intrakranial, dan tidak terjadi defisit neurologis baru.
Kode SIKI: I.16001 - I.16008 (seleksi)
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mempertahankan perfusi serebral meliputi: memonitor status neurologis secara ketat dan berkala menggunakan skala GCS, ukuran pupil, dan kekuatan motorik (I.16001). Mempertahankan posisi kepala tempat tidur 30 derajat untuk memfasilitasi aliran balik vena dan mengurangi tekanan intrakranial (I.16002). Memonitor dan mempertahankan tekanan darah sistolik dalam rentang yang ditargetkan (misalnya 110-150 mmHg) untuk menjamin tekanan perfusi serebral yang adekuat (I.16003). Menghindari manuver valsava, batuk berlebihan, dan mengejan yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial (I.16004). Memonitor keseimbangan cairan dan elektrolit untuk mencegah hipotensi atau hipovolemia yang dapat memperburuk perfusi (I.16005). Kolaborasi dalam pemberian terapi neuroprotektif atau pengendalian tekanan darah sesuai resep (I.16006). Memberikan lingkungan yang tenang, mengurangi stimulasi berlebihan, dan mengatur aktivitas untuk menghemat energi (I.16007). Edukasi keluarga tentang tanda-tanda penurunan neurologis yang harus segera dilaporkan seperti sakit kepala hebat, muntah proyektil, penurunan kesadaran, kelemahan anggota gerak, atau bicara pelo (I.16008).
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0091
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Pasien menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas dengan kriteria hasil: mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa dispneu, nyeri dada, atau kelelahan berlebihan; tanda vital (nadi, tekanan darah, pernapasan) dalam rentang normal selama dan setelah aktivitas; serta mampu mengidentifikasi aktivitas yang aman sesuai kemampuan.
Kode SIKI: I.09001 - I.09007 (seleksi)
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk meningkatkan toleransi aktivitas meliputi: menilai respons fisiologis terhadap aktivitas (nadi, tekanan darah, pernapasan, saturasi oksigen, dan kelelahan) sebelum, selama, dan setelah aktivitas (I.09001). Merencanakan periode istirahat yang cukup sebelum dan sesudah aktivitas yang melelahkan (I.09002). Membantu pasien dalam aktivitas perawatan diri secara bertahap sesuai toleransi, dimulai dari aktivitas ringan seperti menyikat gigi di tempat tidur hingga duduk, berdiri, dan berjalan (I.09003). Mengajarkan teknik penghematan energi, seperti duduk saat melakukan aktivitas, membagi tugas menjadi bagian-bagian kecil, dan menghindari terburu-buru (I.09004). Kolaborasi dengan tim fisioterapi untuk program latihan bertahap yang aman (I.09005). Memberikan dukungan oksigen selama aktivitas jika diperlukan untuk mencegah hipoksia (I.09006). Edukasi pasien dan keluarga tentang tanda-tanda intoleransi aktivitas (pusing, sesak, nyeri dada, palpitasi, kelelahan ekstrem) yang mengharuskan penghentian aktivitas dan pelaporan kepada perawat (I.09007).