Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 164 | 20 Sep 2024
Klinis : kpasien datang dengan keluhan keputihan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan keluhan pasien yang mengalami keputihan, berikut adalah contoh diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat terkait dengan SDKI (Standar Diagnostik Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Diagnosa Keperawatan:
Risiko Infeksi Vagina
2. Penjelasan Singkat:
a. SDKI (Standar Diagnostik Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen pada sistem reproduksi wanita yang dapat membahayakan kesehatan.
- Karakteristik Definisi: Adanya perubahan pada warna, bau, dan konsistensi cairan vagina, rasa nyeri atau gatal di area vagina, peningkatan frekuensi urination.
b. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan: Pasien terbebas dari infeksi vagina, tidak ada tanda-tanda infeksi, tidak ada keluhan gatal atau nyeri di area vagina.
c. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi Keperawatan:
1. Identifikasi penyebab dan faktor risiko infeksi vagina.
2. Berikan pendidikan kesehatan tentang personal hygiene, penggunaan celana dalam yang tepat, dan menghindari iritasi vagina.
3. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (dokter, bidan) untuk mendapatkan pengobatan yang sesuai.
4. Pantau tanda-tanda infeksi vagina dan efektivitas pengobatan.
5. Berikan kenyamanan pasien selama proses pengobatan.
Penjelasan singkat di atas memberikan gambaran umum tentang diagnosa keperawatan, luaran yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk menangani kondisi keputihan pada pasien. Penerapan SDKI, SLKI, dan SIKI dalam praktik keperawatan dapat membantu memberikan asuhan keperawatan yang terstandar dan berkualitas. -
Article No. 165 | 20 Sep 2024
Klinis : pasien datang dengan keluhan keputihan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan keluhan keputihan yang dialami oleh pasien, berikut adalah contoh diagnosis keperawatan dan penjelasan singkat terkait SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Diagnosis Keperawatan:
Infeksi Saluran Reproduksi
Penjelasan:
- SDKI: Infeksi Saluran Reproduksi adalah kondisi dimana terjadi infeksi pada organ-organ reproduksi wanita, yang ditandai dengan gejala keputihan, rasa gatal, iritasi, atau nyeri.
- SLKI: Luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan adalah pasien dapat mengenali tanda dan gejala infeksi saluran reproduksi, dapat merawat diri dengan baik, dan bebas dari infeksi.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain edukasi mengenai personal hygiene, pemberian obat-obatan sesuai resep, perawatan area genital, dan pemantauan perkembangan kondisi pasien.
Penjelasan singkat terkait SDKI, SLKI, dan SIKI:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Merupakan panduan baku dalam menetapkan diagnosis keperawatan yang didasarkan pada data yang dikumpulkan dari pasien.
- Diagnosis keperawatan mencakup masalah kesehatan, risiko kesehatan, dan potensi kesehatan.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Merupakan acuan dalam menetapkan luaran atau hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan.
- Luaran keperawatan menggambarkan perubahan status kesehatan pasien sebagai respons terhadap intervensi keperawatan.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Merupakan panduan dalam menentukan tindakan atau intervensi keperawatan yang sesuai dengan diagnosis keperawatan dan luaran yang diharapkan.
- Intervensi keperawatan mencakup aktivitas, prosedur, dan kolaborasi yang dilakukan oleh perawat untuk mencapai luaran yang diharapkan.
Penerapan SDKI, SLKI, dan SIKI membantu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang terstandar dan berkualitas. -
Article No. 166 | 20 Sep 2024
Klinis : Seorang laki-laki usia 63 tahun dirawat dengan BPH post TURP 8 jam yang lalu. Hasil pemeriksaan: Keluhan sebelum operasi adalah kencing sulit keluar, harus mengejan jika berkemih, tidak puas setelah berkemih. Saat ini pasien GCS 15. Pasien mengeluh nyeri di area kemaluan dan kandung kemih, nyeri skala 6 (1-10). Terdapat distensi kandung kemih dan meregang, Fundus VU teraba 2 jari di atas simphisis pubis . Pasien tidak bisa tidur karena nyeri yang dirasakan. Pasien terpasang kateter three way dan irigasi, kantong urin terisi 600 ml sejak 4 jam yang lalu. Urin dalam urine bag tidak terlihat ada bekuan darah, selang urin bag terlihat ada bekuan darah, urin tidak menetes di urin bag, belum ada penambahan urin/4 jam. Pasien merasa cemas dengan kondisinya, khawatir tidak bisa disembuhkan dan merasa tidak sempurna sebagai seorang laki-laki. Pasien khawatir jika harus memakai selang urin terus menerus. Hasil pemeriksaan pre-op: USG prostat menunjukkan pembesaran prostat. Hasil laboratorium darah (post op): 11mg/dL.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang dideskripsikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat terkait SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri akut berhubungan dengan prosedur operasi BPH post TURP
2. Gangguan rasa nyaman (cemas) berhubungan dengan perubahan citra tubuh
3. Risiko retensio urin berhubungan dengan pembengkakan prostat
Penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI:
1. SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
- Nyeri akut: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau yang dijelaskan dalam istilah tersebut (nyeri).
- Gangguan rasa nyaman (cemas): Pengalaman subjektif individu yang tidak menyenangkan berupa perasaan tidak pasti atau takut yang sumbernya sering tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu.
- Risiko retensio urin: Potensi untuk tertahannya urine dalam kandung kemih yang dapat mengancam kesehatan.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Nyeri terkontrol: Pasien melaporkan nyeri terkontrol sesuai target yang diharapkan.
- Cemas terkendali: Pasien melaporkan cemas terkendali sesuai target yang diharapkan.
- Pengeluaran urin adekuat: Pasien dapat mengosongkan kandung kemih secara adekuat.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Manajemen nyeri: Upaya untuk mengidentifikasi dan mengendalikan nyeri pada pasien.
- Manajemen kecemasan: Upaya untuk mengidentifikasi dan mengendalikan kecemasan pada pasien.
- Pemantauan fungsi kandung kemih: Upaya untuk memantau fungsi kandung kemih dan mencegah komplikasi.
Dalam konteks kasus ini, perawat perlu melakukan intervensi keperawatan yang sesuai untuk mengatasi nyeri, mengurangi kecemasan, dan memantau fungsi kandung kemih pada pasien pasca operasi BPH. -
Article No. 167 | 20 Sep 2024
Klinis : Seorang laki-laki usia 63 tahun dirawat dengan BPH post TURP 8 jam yang lalu. Hasil pemeriksaan: Keluhan sebelum operasi adalah kencing sulit keluar, harus mengejan jika berkemih, tidak puas setelah berkemih. Saat ini pasien GCS 15. Pasien mengeluh nyeri di area kemaluan dan kandung kemih, nyeri skala 6 (1-10). Terdapat distensi kandung kemih dan meregang, Fundus VU teraba 2 jari di atas simphisis pubis . Pasien tidak bisa tidur karena nyeri yang dirasakan. Pasien terpasang kateter three way dan irigasi, kantong urin terisi 600 ml sejak 4 jam yang lalu. Urin dalam urine bag tidak terlihat ada bekuan darah, selang urin bag terlihat ada bekuan darah, urin tidak menetes di urin bag, belum ada penambahan urin/4 jam. Pasien merasa cemas dengan kondisinya, khawatir tidak bisa disembuhkan dan merasa tidak sempurna sebagai seorang laki-laki. Pasien khawatir jika harus memakai selang urin terus menerus. Hasil pemeriksaan pre-op: USG prostat menunjukkan pembesaran prostat. Hasil laboratorium darah (post op): 11mg/dL.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang Anda berikan, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis yang sesuai:
1. Kode ICD-10:
- Kode: N40.1
- Deskripsi: Hiperplasia prostat benigna (BPH)
2. Kode ICD-9-CM:
- Kode: 60.2
- Deskripsi: Reseksi transurethral prostat (TURP)
Penjelasan:
- Kode ICD-10 N40.1 adalah untuk diagnosis Hiperplasia Prostat Benigna (BPH), yang merupakan kondisi medis di mana prostat membesar secara berlebihan, menyebabkan keluhan kencing sulit keluar, harus mengejan saat berkemih, dan tidak puas setelah berkemih.
- Kode ICD-9-CM 60.2 adalah untuk prosedur Reseksi Transurethral Prostat (TURP), yang merupakan tindakan pembedahan untuk mengatasi BPH dengan cara mengangkat sebagian prostat yang membengkak.
- Pasien mengalami komplikasi post-TURP, seperti nyeri di area kemaluan dan kandung kemih, distensi kandung kemih, dan masalah dengan pengeluaran urin melalui kateter.
- Pasien juga menunjukkan gejala kecemasan dan kekhawatiran terkait kondisinya dan penggunaan kateter urin. -
Article No. 168 | 20 Sep 2024
Klinis : pasien datang dengan keluhan luka di bagian tangan dan lutut karena kecelakaan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi pasien yang datang dengan keluhan luka di tangan dan lutut karena kecelakaan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI yang sesuai:
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Infeksi Berhubungan dengan Kerusakan Integumen
Penjelasan:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Risiko Infeksi adalah kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen yang dapat mengganggu kesehatan.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Luaran yang diharapkan adalah Tidak Terjadi Infeksi, dengan kriteria hasil seperti suhu tubuh normal, tidak ada tanda-tanda infeksi pada luka, dan tidak ada nyeri.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi yang dapat dilakukan adalah Perawatan Luka, Manajemen Infeksi, Pencegahan Infeksi, dan Kontrol Infeksi.
2. Gangguan Integritas Kulit Berhubungan dengan Kerusakan Fisik (Luka)
Penjelasan:
- SDKI: Gangguan Integritas Kulit adalah kerusakan pada epidermis dan/atau dermis.
- SLKI: Luaran yang diharapkan adalah Integritas Kulit Membaik, dengan kriteria hasil seperti luka tertutup, tidak ada tanda-tanda infeksi, dan tidak ada nyeri.
- SIKI: Intervensi yang dapat dilakukan adalah Perawatan Luka, Peningkatan Sirkulasi, Manajemen Nyeri, dan Edukasi Perawatan Luka.
Dalam penanganan kasus ini, perawat harus melakukan assessment komprehensif, memberikan perawatan luka yang tepat, memantau tanda-tanda infeksi, dan memberikan edukasi kepada pasien terkait perawatan luka yang baik dan pencegahan komplikasi. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (misalnya dokter) juga diperlukan untuk penanganan yang optimal. -
Article No. 169 | 20 Sep 2024
Klinis : resiko konstipasi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi tersebut, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) untuk risiko konstipasi:
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Konstipasi
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Risiko Konstipasi didefinisikan sebagai keadaan di mana individu rentan mengalami penurunan frekuensi, kesulitan, atau ketidaknyamanan dalam defekasi. Faktor risiko dapat meliputi asupan cairan yang tidak adekuat, aktivitas fisik yang terbatas, obat-obatan, pola makan, dan kondisi medis tertentu.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan untuk mengatasi risiko konstipasi antara lain:
1. Pola defekasi membaik
2. Gejala konstipasi berkurang
3. Kepuasan pasien terhadap tindakan penanggulangan konstipasi
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan untuk mengatasi risiko konstipasi meliputi:
1. Manajemen nutrisi: Meningkatkan asupan cairan dan serat, mengidentifikasi makanan pemicu konstipasi.
2. Manajemen aktivitas: Meningkatkan aktivitas fisik sesuai kondisi pasien.
3. Manajemen eliminasi: Memantau pola eliminasi, memberikan edukasi tentang perawatan diri, dan memfasilitasi eliminasi.
4. Manajemen obat-obatan: Mengevaluasi penggunaan obat-obatan yang dapat menyebabkan konstipasi.
5. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain jika diperlukan.
Penerapan intervensi-intervensi tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko konstipasi dan meningkatkan status eliminasi pasien. -
Article No. 170 | 20 Sep 2024
Klinis : SLE pada anak
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi SLE (Systemic Lupus Erythematosus) pada anak, dapat diberikan beberapa Diagnosa Keperawatan beserta penjelasan singkat mengenai SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Diagnosa Keperawatan: Nyeri Kronis
- SDKI: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah seperti itu (nyeri).
- SLKI: Tingkat nyeri yang dapat dikontrol, Kemampuan mengelola nyeri, Kenyamanan.
- SIKI: Manajemen Nyeri, Terapi Modalitas Nyeri, Edukasi Manajemen Nyeri.
2. Diagnosa Keperawatan: Intoleransi Aktivitas
- SDKI: Keterbatasan pada kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin.
- SLKI: Kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari, Tingkat kelelahan, Toleransi aktivitas.
- SIKI: Manajemen Energi, Manajemen Aktivitas, Edukasi Aktivitas.
3. Diagnosa Keperawatan: Risiko Infeksi
- SDKI: Peningkatan risiko terkena organisme patogen.
- SLKI: Bebas Infeksi, Pengendalian Infeksi.
- SIKI: Manajemen Infeksi, Pencegahan Infeksi, Edukasi Pencegahan Infeksi.
4. Diagnosa Keperawatan: Gangguan Citra Tubuh
- SDKI: Persepsi negatif terhadap penampilan fisik.
- SLKI: Citra tubuh yang positif, Penerimaan diri.
- SIKI: Konseling Citra Tubuh, Terapi Perilaku Kognitif, Edukasi Citra Tubuh.
Penjelasan singkat:
- SDKI: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia merupakan panduan untuk menetapkan diagnosa keperawatan berdasarkan data klinis yang ditemukan.
- SLKI: Standar Luaran Keperawatan Indonesia merupakan panduan untuk menetapkan luaran atau hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan.
- SIKI: Standar Intervensi Keperawatan Indonesia merupakan panduan untuk menetapkan intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mencapai luaran yang diharapkan.
Diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat tersebut dapat dipertimbangkan dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif pada anak dengan kondisi SLE. -
Article No. 171 | 20 Sep 2024
Klinis : SLE pada anak dengan tanda ruam pada kulit dan muka terdapat ruam kupu-kupu
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi SLE pada anak dengan tanda ruam pada kulit dan muka terdapat ruam kupu-kupu:
1. Diagnosa Keperawatan:
a. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan proses penyakit autoimun (SLE)
2. Penjelasan Singkat SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Gangguan integritas kulit: Kerusakan pada lapisan epidermis, dermis, atau subkutan kulit.
- Penyebab: Faktor internal (penyakit autoimun) dan faktor eksternal (trauma, infeksi).
- Tanda dan gejala: Ruam, warna kulit tidak normal, lesi, perubahan tekstur kulit.
3. Penjelasan Singkat SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Perbaikan integritas kulit: Kemampuan kulit kembali ke kondisi normal tanpa kerusakan.
- Kriteria hasil: Kulit kembali utuh dan sehat, tidak ada lesi atau ruam, tidak ada perubahan warna atau tekstur.
4. Penjelasan Singkat SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Perawatan luka: Intervensi untuk memulihkan kerusakan pada kulit atau jaringan.
- Intervensi: Penilaian luka, perawatan luka, penggunaan salep atau obat topikal, edukasi pasien dan keluarga.
- Tujuan: Mempercepat penyembuhan luka, mencegah komplikasi, dan mempertahankan integritas kulit.
Dalam kasus SLE pada anak dengan tanda ruam pada kulit dan muka terdapat ruam kupu-kupu, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah "Gangguan integritas kulit berhubungan dengan proses penyakit autoimun (SLE)". Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah perawatan luka, penggunaan obat topikal, dan edukasi pasien serta keluarga untuk mempercepat penyembuhan dan mempertahankan integritas kulit. -
Article No. 172 | 20 Sep 2024
Klinis : gangguan integritas kulit diagnosa keperawatan nomor berapa di SDKI?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah informasi terkait diagnosa keperawatan untuk gangguan integritas kulit berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI):
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Kode: 00046
Nama Diagnosa: Kerusakan Integritas Kulit
Penjelasan singkat:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) adalah sistem klasifikasi diagnosis keperawatan yang digunakan di Indonesia.
- Diagnosa "Kerusakan Integritas Kulit" termasuk ke dalam domain Aktivitas/Istirahat dan kelas Kenyamanan Fisik.
- Diagnosa ini didefinisikan sebagai perubahan struktur dan fungsi kulit yang normal.
- Faktor yang berhubungan dengan diagnosa ini antara lain imobilitas, ketidakmampuan untuk merawat diri, perubahan sensasi, malnutrisi, dan faktor lain yang dapat menyebabkan kerusakan kulit.
- Diagnosa ini memerlukan intervensi keperawatan untuk mencegah, meminimalkan, dan memperbaiki kerusakan pada integritas kulit.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) merupakan klasifikasi luaran dan intervensi keperawatan yang terkait dengan diagnosa Kerusakan Integritas Kulit di SDKI. -
Article No. 173 | 20 Sep 2024
Klinis : demam
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berikut kode ICD-10 untuk diagnosis demam dan kode ICD-9-CM untuk tindakan medis terkait:
1. Kode ICD-10:
- Kode: R50.9
- Deskripsi: Demam, tidak dispesifikasi
Penjelasan:
- R50.9 adalah kode ICD-10 untuk diagnosis demam yang tidak dispesifikasi atau tidak dapat diklasifikasikan di tempat lain.
- Kode ini digunakan untuk menggambarkan kondisi demam tanpa penyebab yang jelas atau tidak dapat ditentukan.
2. Kode ICD-9-CM (jika ada):
- Kode: 780.60
- Deskripsi: Demam, tidak dispesifikasi
Penjelasan:
- 780.60 adalah kode ICD-9-CM untuk diagnosis demam yang tidak dispesifikasi.
- Kode ini digunakan untuk mencatat kondisi demam tanpa adanya penyebab yang spesifik.
- Prosedur atau tindakan medis yang mungkin dilakukan terkait demam dapat meliputi pengukuran suhu tubuh, pemberian obat antipiretik, evaluasi laboratorium, atau intervensi lainnya sesuai dengan penyebab dan tingkat keparahan demam yang dialami pasien.