Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 241 | 21 Sep 2024
Klinis : Setelah beberapa hari dirawat, pasien masih menunjukkan penolakan untuk mengikuti anjuran medis terkait pengobatan penyakit paru-parunya. Pasien tidak mau menjalani terapi pernapasan yang dianjurkan oleh tim medis, meskipun dijelaskan tentang pentingnya untuk memperbaiki fungsi paru-parunya. Pasien juga menolak menggunakan inhaler yang diresepkan dan merasa bahwa terapi tersebut tidak akan membantu. Ketika diberikan edukasi tentang perilaku sehat, seperti berhenti merokok dan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah infeksi berulang, pasien tampak acuh tak acuh dan menyatakan bahwa masalah kesehatannya akan hilang dengan sendirinya. Pasien juga tidak menunjukkan tanda-tanda perilaku adaptif terhadap situasi kesehatannya. Ia lebih memilih mengabaikan nasihat medis dan bergantung pada pengobatan alternatif yang tidak terbukti secara medis. Keluarga pasien telah berusaha memberikan dukungan, namun pasien sering kali menolak bantuan dan merasa dirinya mampu menangani kondisinya sendiri tanpa perawatan profesional. Dalam beberapa kesempatan, pasien bahkan menyatakan bahwa dirinya tidak perlu bantuan tambahan karena tidak merasa ada masalah yang signifikan. Berdasarkan perilaku tersebut, pasien menunjukkan tanda-tanda **Pemeliharaan Kesehatan Tidak Efektif**, ditandai dengan kurangnya pemahaman tentang perilaku sehat, ketidakmampuan menjalankan perilaku adaptif, dan kurangnya minat untuk meningkatkan kesehatan. Hal ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh penolakan pasien terhadap kondisi kesehatannya serta ketidakmampuan membuat penilaian yang tepat terhadap situasinya.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang Anda berikan, dapat ditetapkan beberapa diagnosa keperawatan yang relevan dengan kondisi pasien, serta penjelasan singkat terkait SDKI, SLKI, dan SIKI.
Diagnosa Keperawatan:
1. Pemeliharaan Kesehatan Tidak Efektif
- Definisi: Ketidakmampuan untuk mengidentifikasi, mengelola, dan/atau mencari bantuan untuk memelihara kesehatan.
- Faktor Terkait: Ketidakmampuan membuat penilaian yang tepat, kurangnya pengetahuan, penolakan terhadap kondisi kesehatan.
2. Ketidakpatuhan
- Definisi: Perilaku seseorang yang tidak sesuai dengan rencana pengobatan atau rekomendasi dari penyedia layanan kesehatan.
- Faktor Terkait: Persepsi negatif terhadap pengobatan, kurangnya pemahaman tentang pentingnya pengobatan, penolakan terhadap kondisi kesehatan.
3. Kesiapan Peningkatan Pengetahuan Kesehatan
- Definisi: Kemampuan yang dapat ditingkatkan untuk belajar tentang proses kesehatan dan penyakit.
- Faktor Terkait: Kurangnya pengetahuan, keinginan untuk belajar, motivasi untuk meningkatkan kesehatan.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Merupakan standar yang berisi definisi, karakteristik definitif, dan faktor terkait untuk setiap diagnosis keperawatan.
- Berfungsi sebagai pedoman dalam menegakkan diagnosis keperawatan yang akurat dan komprehensif.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Merupakan standar yang berisi definisi, kriteria hasil, dan indikator untuk setiap luaran keperawatan.
- Berfungsi sebagai panduan dalam menetapkan luaran keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Merupakan standar yang berisi definisi, aktivitas, dan kriteria intervensi untuk setiap intervensi keperawatan.
- Berfungsi sebagai acuan dalam menentukan intervensi keperawatan yang tepat untuk mencapai luaran yang diharapkan.
Dengan menggunakan SDKI, SLKI, dan SIKI, perawat dapat menegakkan diagnosa keperawatan, menetapkan luaran yang ingin dicapai, dan merencanakan intervensi keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien, sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan berkualitas. -
Article No. 242 | 21 Sep 2024
Klinis : nyeri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berikut adalah contoh Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi nyeri:
Diagnosa Keperawatan: Nyeri Akut
Penjelasan Singkat:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia)
- Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial.
- Penyebab: Cedera, penyakit, prosedur medis, atau sebab lainnya.
- Gejala dan Tanda: Manifestasi verbal dan nonverbal nyeri.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia)
- Tujuan Luaran: Tingkat nyeri pasien menurun.
- Indikator Luaran:
1. Tingkat nyeri
2. Kontrol nyeri
3. Kemampuan mengatasi nyeri
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia)
- Intervensi Keperawatan:
1. Pengkajian nyeri
2. Manajemen nyeri farmakologis
3. Manajemen nyeri nonfarmakologis
4. Dokumentasi
Secara garis besar, Diagnosa Keperawatan "Nyeri Akut" menggambarkan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) bertujuan untuk menurunkan tingkat nyeri pasien, dengan indikator seperti tingkat nyeri, kontrol nyeri, dan kemampuan mengatasi nyeri. Sedangkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) mencakup pengkajian nyeri, manajemen nyeri farmakologis, manajemen nyeri non-farmakologis, serta dokumentasi. -
Article No. 243 | 21 Sep 2024
Klinis : nyeri
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Untuk kondisi nyeri, berikut adalah kode ICD-10 dan ICD-9-CM yang sesuai:
1. Kode ICD-10:
- Kode: R52
- Deskripsi: Nyeri, tidak diklasifikasikan di tempat lain
2. Kode ICD-9-CM (jika ada):
- Kode: 338.0-338.9
- Deskripsi: Nyeri, tidak diklasifikasikan di tempat lain
Penjelasan:
- Kode ICD-10 R52 digunakan untuk mengkodekan nyeri yang tidak diklasifikasikan di tempat lain. Ini mencakup nyeri yang tidak memiliki penyebab organik yang jelas atau tidak dapat dihubungkan dengan kondisi medis tertentu.
- Kategori ICD-9-CM 338.0-338.9 juga digunakan untuk mengkodekan nyeri yang tidak diklasifikasikan di tempat lain, seperti nyeri kronis, nyeri akut, dan nyeri tidak terspesifikasi.
- Kode-kode ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan melacak keluhan nyeri pada pasien, yang dapat membantu dalam proses diagnosis dan penanganan yang tepat. -
Article No. 244 | 21 Sep 2024
Klinis : nyeri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berikut adalah diagnosis keperawatan dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi nyeri:
Diagnosis Keperawatan:
Nyeri (Pain)
Penjelasan Singkat:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial.
- Karakteristik nyeri meliputi lokasi, intensitas, frekuensi, kualitas, durasi, dan faktor yang memengaruhinya.
- Tanda dan gejala nyeri dapat berupa ekspresi verbal, perilaku nonverbal, dan respons fisiologis.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan pada pasien dengan nyeri adalah berkurangnya intensitas nyeri, peningkatan kemampuan mengatasi nyeri, dan perubahan respons psikologis menjadi positif.
- Indikator luaran dapat mencakup penurunan skor nyeri, peningkatan kemampuan menggunakan teknik manajemen nyeri, dan ekspresi wajah yang lebih rileks.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi keperawatan untuk mengatasi nyeri dapat meliputi pemberian analgetik, terapi non-farmakologis (seperti teknik relaksasi, distraksi, atau terapi modalitas), serta pendidikan dan dukungan bagi pasien dan keluarga.
- Tujuan intervensi adalah mengurangi intensitas nyeri, meningkatkan kemampuan pasien dalam mengatasi nyeri, dan mencapai kenyamanan yang optimal.
Jadi, dalam kondisi nyeri, diagnosis keperawatan yang sesuai adalah "Nyeri", dan intervensi keperawatan dapat dirancang berdasarkan SDKI, SLKI, serta SIKI untuk mencapai luaran yang diharapkan, yaitu penurunan intensitas nyeri, peningkatan kemampuan mengatasi nyeri, dan respons psikologis yang positif. -
Article No. 245 | 21 Sep 2024
Klinis : SIKI penurunan curah jantung bd perubahan preload
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan: Penurunan Curah Jantung
Penjelasan:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Penurunan Curah Jantung didefinisikan sebagai penurunan volume darah yang dipompa oleh jantung per satuan waktu, yang dapat menyebabkan ketidakcukupan suplai oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan dari penanganan penurunan curah jantung meliputi peningkatan curah jantung, peningkatan perfusi jaringan, dan stabilitas hemodinamik.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi penurunan curah jantung akibat perubahan preload (volume darah yang mengisi ventrikel) antara lain:
a. Pemantauan hemodinamik (tekanan darah, nadi, saturasi oksigen, dll.)
b. Manajemen cairan (pemberian cairan intravena, pembatasan cairan, dll.)
c. Terapi oksigen
d. Posisioning (mengatur posisi pasien untuk meningkatkan preload)
e. Manajemen aktivitas (pembatasan aktivitas untuk mengurangi kebutuhan metabolik)
f. Edukasi pasien dan keluarga tentang tanda-tanda dan gejala penurunan curah jantung serta penanganannya.
Dalam kasus ini, fokus utama intervensi adalah mengatasi perubahan preload yang menyebabkan penurunan curah jantung. Intervensi yang tepat dan komprehensif dapat membantu meningkatkan curah jantung, perfusi jaringan, dan stabilitas hemodinamik pasien. -
Article No. 246 | 21 Sep 2024
Klinis : Seorang perempuan umur 55 tahun masuk RS melalui IGD dengan keluahan nyeri dada sebelah kiri, menjalar hingga punggung dan lengan. Nyeri seperti ditimpa benda berat, skala 7. Keluhan ini dirasakan sejak satu bulan terakhir, kadang disertai dengan berdebar-debar dan sesak nafas dirasakan memberat. TD 90/50 mmHg, HR 112 x/m, suhu badan 37o c, saturasi O2 100 %. Pasien merasa lemah, lebih banyak berbaring di tempat tidur, dan aktifitas dibantu oleh keluarga. Pemeriksaan fisik kepala: konjungtiva anemis, sclera anikterik, Leher JVP tidak meningkat. Thoraks : batuk dan gerak simetris, SI dan SII ireguler, murmur (+), gallop (-). Pulmo : Vesikuler kiri-kanan. Rongten: kardiomegali, LAB : HB 9,2 gr/dL, Leukosit 10.400, GDDS 124, LDL 150 mg/dL, Trigliserida 250 mg/dL, CK 175U/L, CKMB 15 U/L.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis keperawatan yang sesuai untuk kondisi pasien tersebut adalah:
1. Nyeri akut berhubungan dengan penyakit jantung iskemik, ditandai dengan keluhan nyeri dada menjalar ke punggung dan lengan, skala nyeri 7.
Penjelasan singkat:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Pasien akan melaporkan nyeri terkontrol, menunjukkan perilaku yang sesuai dengan pengurangan rasa nyeri, dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi yang dapat dilakukan adalah manajemen nyeri, kolaborasi pemberian obat-obatan, terapi relaksasi, dan edukasi tentang pengelolaan nyeri.
2. Penurunan curah jantung berhubungan dengan infark miokard, ditandai dengan TD 90/50 mmHg, HR 112 x/m, dan pasien merasa lemah.
Penjelasan singkat:
- SDKI: Penurunan curah jantung adalah kondisi di mana jantung tidak dapat memompa darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
- SLKI: Pasien akan menunjukkan peningkatan tekanan darah, peningkatan saturasi oksigen, dan peningkatan aktivitas.
- SIKI: Intervensi yang dapat dilakukan adalah pengaturan aktivitas, pemberian oksigen, pemberian obat-obatan, dan pemantauan tanda-tanda vital.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan curah jantung, ditandai dengan pasien lebih banyak berbaring di tempat tidur dan memerlukan bantuan keluarga untuk aktivitas.
Penjelasan singkat:
- SDKI: Intoleransi aktivitas adalah ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan atau diperlukan, akibat keterbatasan fisik.
- SLKI: Pasien akan mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
- SIKI: Intervensi yang dapat dilakukan adalah manajemen aktivitas, edukasi tentang aktivitas yang tepat, dan pemberian latihan fisik. -
Article No. 247 | 21 Sep 2024
Klinis : Seorang perempuan umur 55 tahun masuk RS melalui IGD dengan keluahan nyeri dada sebelah kiri, menjalar hingga punggung dan lengan. Nyeri seperti ditimpa benda berat, skala 7. Keluhan ini dirasakan sejak satu bulan terakhir, kadang disertai dengan berdebar-debar dan sesak nafas dirasakan memberat. TD 90/50 mmHg, HR 112 x/m, suhu badan 37o c, saturasi O2 100 %. Pasien merasa lemah, lebih banyak berbaring di tempat tidur, dan aktifitas dibantu oleh keluarga. Pemeriksaan fisik kepala: konjungtiva anemis, sclera anikterik, Leher JVP tidak meningkat. Thoraks : batuk dan gerak simetris, SI dan SII ireguler, murmur (+), gallop (-). Pulmo : Vesikuler kiri-kanan. Rongten: kardiomegali, LAB : HB 9,2 gr/dL, Leukosit 10.400, GDDS 124, LDL 150 mg/dL, Trigliserida 250 mg/dL, CK 175U/L, CKMB 15 U/L.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, kode ICD-10 dan ICD-9-CM yang sesuai adalah:
1. Kode ICD-10:
- Kode: I20.0
- Deskripsi: Angina pektoris tidak stabil
2. Kode ICD-9-CM (jika ada):
- Kode: 410.10
- Deskripsi: Infark miokard akut, episode awal, dengan elevasi segmen ST (STEMI)
Penjelasan:
- Pasien perempuan usia 55 tahun masuk ke rumah sakit melalui IGD dengan keluhan nyeri dada bagian kiri yang menjalar ke punggung dan lengan, disertai berdebar-debar dan sesak napas yang memberat. Gejala-gejala ini mengarah pada diagnosis Angina pektoris tidak stabil (I20.0).
- Hasil pemeriksaan penunjang menunjukkan adanya kelainan kardiovaskular, seperti kardiomegali, peningkatan enzim jantung (CK, CK-MB), serta profil lipid yang abnormal (LDL dan trigliserida tinggi). Hal ini mendukung diagnosis Angina pektoris tidak stabil.
- Tatalaksana yang mungkin diberikan adalah berupa pemeriksaan dan terapi untuk penyakit jantung koroner, seperti pemeriksaan angiografi, pemasangan stent, atau revaskularisasi. Dalam ICD-9-CM, tindakan tersebut dapat dikodekan sebagai Infark miokard akut, episode awal, dengan elevasi segmen ST (STEMI) (410.10). -
Article No. 248 | 21 Sep 2024
Klinis : perfusi perifer tidak efektif
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan kondisi yang diberikan, yaitu "perfusi perifer tidak efektif", berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis yang mungkin sesuai:
1. Kode ICD-10:
- Kode: I87.8
- Deskripsi: Gangguan lain yang ditetapkan dari pembuluh darah perifer
2. Kode ICD-9-CM (jika ada):
- Kode: 99.79
- Deskripsi: Prosedur lain untuk perawatan peredaran darah
Penjelasan:
- Kode ICD-10 I87.8 (Gangguan lain yang ditetapkan dari pembuluh darah perifer) dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi "perfusi perifer tidak efektif". Ini mencakup berbagai gangguan pembuluh darah perifer yang menyebabkan perfusi tidak memadai.
- Kode ICD-9-CM 99.79 (Prosedur lain untuk perawatan peredaran darah) dapat digunakan untuk mengkodekan tindakan medis yang dilakukan untuk meningkatkan perfusi perifer, seperti terapi vasoaktif, terapi oksigen, atau intervensi lainnya.
Perlu diperhatikan bahwa kode yang digunakan dapat bervariasi tergantung pada kondisi spesifik pasien dan tindakan medis yang dilakukan. Diagnosis dan tindakan medis harus ditentukan oleh tenaga medis yang berwenang berdasarkan evaluasi klinis yang komprehensif. -
Article No. 249 | 21 Sep 2024
Klinis : perfusi perifer tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi perfusi perifer tidak efektif:
Diagnosa Keperawatan:
Perfusi perifer tidak efektif
Penjelasan Singkat:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia)
- Definisi: Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen pada jaringan perifer.
- Karakteristik Utama: Penurunan pengisian kapiler, ekstremitas dingin, nyeri/kram, perubahan warna kulit.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia)
- Luaran yang Diharapkan: Pasien akan mendemonstrasikan perfusi perifer yang efektif yang ditandai dengan pengisian kapiler normal, ekstremitas hangat, dan tidak ada nyeri/kram.
- Indikator:
- Pengisian kapiler kurang dari 3 detik
- Suhu ekstremitas hangat
- Tidak ada nyeri/kram pada ekstremitas
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia)
- Intervensi Keperawatan:
- Monitor tanda-tanda vital, terutama tekanan darah dan nadi perifer
- Elevasi ekstremitas untuk meningkatkan aliran darah perifer
- Berikan lingkungan yang hangat untuk mencegah vasokonstriksi
- Ajarkan pasien latihan/aktivitas untuk meningkatkan aliran darah perifer
- Kolaborasi dengan tim medis untuk penanganan penyebab utama (jika perlu)
Dalam praktik keperawatan, diagnosa keperawatan, luaran yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang sesuai dengan SDKI, SLKI, dan SIKI akan membantu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang terstandar dan berpusat pada pasien. -
Article No. 250 | 21 Sep 2024
Klinis : perfusi perifer tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, untuk kondisi "perfusi perifer tidak efektif", berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI:
Diagnosa Keperawatan:
Perfusi Perifer Tidak Efektif
Definisi (SDKI):
Penurunan sirkulasi darah ke ekstremitas yang dapat mengganggu suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan.
Karakteristik (SDKI):
- Perubahan warna kulit (pucat, sianosis, kemerahan)
- Suhu ekstremitas dingin
- Edema
- Nyeri ekstremitas
- Pulsasi arteri menurun atau tidak teraba
Faktor Berhubungan (SDKI):
- Penyakit vaskular perifer
- Gangguan sirkulasi
- Trauma
- Penurunan cardiac output
Intervensi Keperawatan (SLKI):
- Identifikasi faktor penyebab perfusi perifer tidak efektif
- Pantau tanda-tanda vital dan sirkulasi perifer
- Atur posisi ekstremitas untuk memperbaiki sirkulasi
- Kolaborasi dengan tim kesehatan untuk pengobatan penyebab
Luaran Keperawatan (SIKI):
- Perbaikan sirkulasi perifer
- Perbaikan status kulit
- Perbaikan rasa nyaman
Dalam konteks ini, diagnosa keperawatan "Perfusi Perifer Tidak Efektif" menggambarkan kondisi penurunan sirkulasi darah ke ekstremitas yang dapat mengganggu suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan. Intervensi keperawatan difokuskan pada identifikasi penyebab, pemantauan tanda-tanda vital, pengaturan posisi, dan kolaborasi dengan tim kesehatan untuk pengobatan. Luaran yang diharapkan adalah perbaikan sirkulasi perifer, status kulit, dan rasa nyaman.