Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 566 | 25 Sep 2024
Klinis : Ny. S berusia 46 tahun dirawat di ruang seruni terpasang infus di lengan kiri. Suami pasien memanggil perawat karena infus istrinya tidak menetes. Perawat pun langsung ke ruangan Ny.S untuk mengeceknya. Infuse Ny.S tidak menetes karena botol infuse tidak digantung pada ketinggian. Perawat segera mengatur tinggi tiang infuse dan menggantungkan botol infuse kembali. Cairan infuse akhirnya menetes dengan lancar. Ny.S di rawat dengan keluhan luka dibagian kaki kirinya bau dan menghitam. TTV dalam batas normal. Pasien lalu diberikan perawatan luka dengan melakukan observasi pada daerah luka. Luka dengan diameter 5 cm dan kedalaman 2cm, bernanah dan bau. Hasil GDS pasien 320mmol/L, pasien mendapat terapi antibiotik 1 amp levofloxacin intra vena. Perawat menganjurkan agar pasien mengikuti diit rendah gula. Perawat melakukan pemeriksaan CRT > 3 detik, turgor kulit menurun dan akral teraba dingin. Pemeriksaan TTV : TD 140/100 mmHg, N 89 x/m, RR 22 x/m, S 36 C.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis:
1. Kode ICD-10:
- Kode: E11.9
- Deskripsi: Diabetes mellitus tipe 2 tanpa komplikasi spesifik
- Kode: L97.2
- Deskripsi: Ulkus ekstremitas bawah, unspecified
2. Kode ICD-9-CM (jika ada):
- Kode: 99.15
- Deskripsi: Injeksi atau infus obat terapeutik atau biologis
- Kode: 86.22
- Deskripsi: Debridement luka
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 E11.9 untuk Diabetes mellitus tipe 2 tanpa komplikasi spesifik, karena pasien memiliki hasil GDS yang tinggi (320 mmol/L) dan mendapat terapi antibiotik intravena.
2. Kode ICD-10 L97.2 untuk Ulkus ekstremitas bawah, unspecified, karena pasien memiliki luka di kaki kiri yang bau dan menghitam, dengan diameter 5 cm dan kedalaman 2 cm, serta bernanah.
3. Kode ICD-9-CM 99.15 untuk Injeksi atau infus obat terapeutik atau biologis, karena pasien mendapatkan terapi intravena dengan pemberian levofloxacin.
4. Kode ICD-9-CM 86.22 untuk Debridement luka, karena perawat melakukan perawatan luka dengan observasi pada daerah luka.
Selain itu, pasien juga menunjukkan tanda-tanda syok, dengan pemeriksaan CRT > 3 detik, turgor kulit menurun, dan akral teraba dingin, serta tanda-tanda infeksi seperti luka bau dan menghitam. Oleh karena itu, perawat juga harus memperhatikan dan memberikan perawatan yang sesuai untuk kondisi tersebut. -
Article No. 567 | 25 Sep 2024
Klinis : Ny. S berusia 46 tahun dirawat di ruang seruni terpasang infus di lengan kiri. Suami pasien memanggil perawat karena infus istrinya tidak menetes. Perawat pun langsung ke ruangan Ny.S untuk mengeceknya. Infuse Ny.S tidak menetes karena botol infuse tidak digantung pada ketinggian. Perawat segera mengatur tinggi tiang infuse dan menggantungkan botol infuse kembali. Cairan infuse akhirnya menetes dengan lancar. Ny.S di rawat dengan keluhan luka dibagian kaki kirinya bau dan menghitam. TTV dalam batas normal. Pasien lalu diberikan perawatan luka dengan melakukan observasi pada daerah luka. Luka dengan diameter 5 cm dan kedalaman 2cm, bernanah dan bau. Hasil GDS pasien 320mmol/L, pasien mendapat terapi antibiotik 1 amp levofloxacin intra vena. Perawat menganjurkan agar pasien mengikuti diit rendah gula. Perawat melakukan pemeriksaan CRT > 3 detik, turgor kulit menurun dan akral teraba dingin. Pemeriksaan TTV : TD 140/100 mmHg, N 89 x/m, RR 22 x/m, S 36 C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang dipaparkan, berikut adalah Diagnosis Keperawatan, serta penjelasan singkat tentang SDKI, SLKI, dan SIKI yang relevan:
Diagnosis Keperawatan:
1. Risiko Infeksi Terkait Prosedur Invasif (Infus)
2. Perfusi Jaringan Perifer Tidak Efektif Terkait Komplikasi Diabetes Melitus
3. Integritas Kulit Terganggu Terkait Luka Kaki
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Risiko Infeksi Terkait Prosedur Invasif (Infus): Kondisi di mana individu rentan mengalami infeksi akibat prosedur invasif, seperti pemasangan infus.
2. Perfusi Jaringan Perifer Tidak Efektif Terkait Komplikasi Diabetes Melitus: Kondisi di mana aliran darah ke jaringan perifer tidak adekuat, terkait komplikasi dari diabetes melitus.
3. Integritas Kulit Terganggu Terkait Luka Kaki: Kondisi di mana terjadi kerusakan pada struktur dan fungsi kulit, yang disebabkan oleh luka di kaki.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Risiko Infeksi Terkait Prosedur Invasif (Infus): Luaran yang diharapkan adalah tidak terjadi infeksi terkait prosedur invasif.
2. Perfusi Jaringan Perifer Tidak Efektif Terkait Komplikasi Diabetes Melitus: Luaran yang diharapkan adalah perfusi jaringan perifer yang efektif.
3. Integritas Kulit Terganggu Terkait Luka Kaki: Luaran yang diharapkan adalah integritas kulit yang baik.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Risiko Infeksi Terkait Prosedur Invasif (Infus): Intervensi yang dapat dilakukan adalah perawatan akses vaskuler, pemberian antibiotik, dan edukasi pasien.
2. Perfusi Jaringan Perifer Tidak Efektif Terkait Komplikasi Diabetes Melitus: Intervensi yang dapat dilakukan adalah pemantauan tanda-tanda vital, manajemen cairan, dan edukasi tentang perawatan kaki.
3. Integritas Kulit Terganggu Terkait Luka Kaki: Intervensi yang dapat dilakukan adalah perawatan luka, pemberian antibiotik, dan edukasi tentang perawatan luka. -
Article No. 568 | 25 Sep 2024
Klinis : pasien datang dengan keluhan flue dan setiap bangun pagi mengigil dan sakit kepala serta batuk
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang dideskripsikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat dari SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Pola Napas (SDKI)
- Definisi: Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat.
- Gejala: Batuk, sesak napas, frekuensi napas tidak normal.
2. Intoleransi Aktivitas (SDKI)
- Definisi: Ketidakmampuan untuk menahan atau menyelesaikan aktivitas harian.
- Gejala: Merasa lemah, mudah lelah, batuk.
3. Hipertermia (SDKI)
- Definisi: Suhu tubuh di atas kisaran normal.
- Gejala: Menggigil, sakit kepala.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Pola Napas Efektif
2. Toleransi Aktivitas Meningkat
3. Suhu Tubuh dalam Batas Normal
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Jalan Napas
- Tindakan: Membantu pasien dalam bernapas, menggunakan oksigen bila diperlukan, mengajarkan teknik batuk efektif.
2. Manajemen Energi
- Tindakan: Mengatur dan menjadwalkan aktivitas pasien, memberikan istirahat yang cukup.
3. Manajemen Hipertermia
- Tindakan: Memantau suhu tubuh, menggunakan kompres dingin, mengatur lingkungan yang nyaman.
Penjelasan singkat:
Pasien dengan keluhan flu, menggigil, sakit kepala, dan batuk memiliki kemungkinan diagnosa keperawatan terkait gangguan pola napas, intoleransi aktivitas, dan hipertermia. Tujuan keperawatan adalah mencapai pola napas efektif, toleransi aktivitas yang meningkat, dan suhu tubuh dalam batas normal. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen jalan napas, manajemen energi, dan manajemen hipertermia. -
Article No. 569 | 25 Sep 2024
Klinis : pasien datang dengan keluhan ashma
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan keluhan asma yang dialami pasien, berikut adalah diagnosis keperawatan dan penjelasan singkat terkait SDKI, SLKI, dan SIKI:
1. Diagnosis Keperawatan:
- Pola Napas Tidak Efektif
Penjelasan: Pola napas tidak efektif adalah kondisi di mana pasien mengalami kesulitan dalam mempertahankan pola napas yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan oksigen.
2. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Pola napas tidak efektif adalah kondisi di mana pasien mengalami ketidakmampuan untuk menginspirasi dan/atau mengekspirasi udara secara adekuat.
- Karakteristik Utama: Perubahan frekuensi, kedalaman, dan irama napas.
- Faktor Terkait: Adanya obstruksi saluran napas, perubahan mekanika pernapasan, dan kelelahan otot pernapasan.
3. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang Diharapkan: Pasien menunjukkan pola napas yang efektif.
- Kriteria Hasil:
1. Frekuensi napas dalam batas normal.
2. Kedalaman napas dalam batas normal.
3. Irama napas teratur.
4. Tidak ada tanda-tanda pernapasan cuping hidung.
5. Tidak ada retraksi dinding dada.
4. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi Keperawatan:
1. Manajemen Jalan Napas
2. Terapi Oksigen
3. Edukasi Manajemen Asma
- Tujuan Intervensi:
1. Mempertahankan jalan napas terbuka.
2. Memenuhi kebutuhan oksigen.
3. Meningkatkan pemahaman pasien tentang manajemen asma.
Dalam menangani pasien dengan keluhan asma, perawat perlu melakukan intervensi yang komprehensif, mencakup manajemen jalan napas, terapi oksigen, dan edukasi manajemen asma. Tujuannya adalah untuk mempertahankan pola napas yang efektif, memenuhi kebutuhan oksigen, dan meningkatkan pemahaman pasien tentang pengelolaan kondisi asmanya. -
Article No. 570 | 25 Sep 2024
Klinis : pasien datang dengan keluhan ashma
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan keluhan asma pada pasien, berikut adalah contoh diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Pola Napas Berhubungan dengan Obstruksi Jalan Napas Akibat Penyempitan Bronkus
SDKI (Standar Diagnostik Keperawatan Indonesia):
1. Domain: Aktivitas/Istirahat
2. Kelas: Fungsi Kardiovaskular dan Pulmonal
3. Kode Diagnosa: 00032
4. Definisi: Ketidakmampuan untuk bernapas dengan lancar
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Domain: Pemulihan Kesehatan
2. Kelas: Pemulihan Sistem Pernapasan
3. Kode: 0202
4. Judul: Fungsi Pernapasan
5. Definisi: Kemampuan untuk melakukan fungsi pernapasan yang normal
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Domain: Fisiologis Kompleks
2. Kelas: Manajemen Pernapasan
3. Kode: 3400
4. Judul: Terapi Inhalasi
5. Definisi: Pemberian obat-obatan melalui inhaler untuk mengurangi gejala asma
Penjelasan singkat:
- Gangguan Pola Napas Berhubungan dengan Obstruksi Jalan Napas Akibat Penyempitan Bronkus merupakan diagnosa keperawatan yang menggambarkan kondisi pasien dengan asma, di mana terjadi penyempitan jalan napas sehingga menyebabkan gangguan dalam bernapas.
- SDKI memberikan definisi dan komponen-komponen terkait diagnosa ini, seperti domain, kelas, dan kode diagnosa.
- SLKI menyediakan standar luaran keperawatan yang dapat diukur, yaitu pemulihan sistem pernapasan agar fungsi pernapasan dapat kembali normal.
- SIKI menyediakan intervensi keperawatan yang dapat dilakukan, yaitu terapi inhalasi untuk mengurangi gejala asma dan memperbaiki fungsi pernapasan. -
Article No. 571 | 25 Sep 2024
Klinis : pasien memegangi perut akibat tidak bisa buang air kecil. baunag air kecil terakhir jam 9 pagi dengan aliran tidak lancar tersendat.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang diberikan, pasien mengalami kesulitan buang air kecil, memegangi perut, dan memiliki riwayat terakhir buang air kecil pada jam 9 pagi dengan aliran tidak lancar. Dari kondisi tersebut, dapat ditetapkan beberapa diagnosa keperawatan serta penjelasan singkat terkait SDKI, SLKI, dan SIKI, sebagai berikut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Eliminasi Urin berhubungan dengan obstruksi saluran kemih, ditandai dengan riwayat susah buang air kecil, perut terasa penuh, dan aliran urin tersendat.
Penjelasan singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Ketidakmampuan untuk mengeluarkan urin secara adekuat.
- Faktor yang berhubungan: Obstruksi saluran kemih.
- Karakteristik definisi: Perut terasa penuh, susah buang air kecil, aliran urin tersendat.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan: Pasien dapat buang air kecil secara lancar.
- Kriteria hasil: Frekuensi buang air kecil normal, aliran urin normal, dan pasien tidak merasakan sensasi penuh di perut.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi keperawatan: Manajemen eliminasi urin, meliputi pengkajian pola eliminasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (misal: dokter), serta tindakan perawatan untuk memfasilitasi buang air kecil.
Dengan demikian, diagnosa keperawatan yang tepat adalah "Gangguan Eliminasi Urin berhubungan dengan obstruksi saluran kemih", dan penjelasan singkat terkait SDKI, SLKI, dan SIKI telah disampaikan. -
Article No. 572 | 25 Sep 2024
Klinis : Seorang klien laki-laki berusia 56 tahun datang ke IGD RS sambil memegangi perutnya dengan keluhan nyeri akibat ingin buang air kecil namun tidak dapat keluar. Ia terakhir buang air kecil tadi pagi pukul 9 pagi dengan aliran agak tersendat dan kecil, tidak memancar. Pak A biasa meminum air 7 gelas per hari dan selalu mengkonsumsi buah dan sayur. Ia merasakan gangguan pada perkemihannya mulai beberapa minggu yang lalu.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dari informasi yang diberikan, dapat disimpulkan bahwa klien mengalami kondisi Retensi Urin. Berikut adalah penjelasan singkat mengenai diagnosa keperawatan, serta SDKI, SLKI, dan SIKI yang terkait:
Diagnosa Keperawatan:
Retensi Urin
Definisi: Ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih secara lengkap.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Retensi Urin
Definisi: Ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih secara lengkap.
Penyebab: Obstruksi saluran kemih, gangguan neurologi, atau lainnya.
Gejala & Tanda: Nyeri atau rasa penuh pada kandung kemih, tidak dapat berkemih, peningkatan frekuensi atau kesulitan berkemih.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Pengeluaran Urin Adekuat
Definisi: Kemampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan lancar dan lengkap.
Kriteria Hasil: Frekuensi berkemih normal, volume urin normal, tidak ada nyeri/ketidaknyamanan saat berkemih.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Manajemen Retensi Urin
Definisi: Tindakan untuk memfasilitasi pengeluaran urin secara adekuat.
Intervensi: Kolaborasi dengan tenaga medis untuk penanganan retensi urin, pemberian edukasi, monitor intake-output, dll.
Jadi, berdasarkan kondisi klien, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Retensi Urin. SDKI, SLKI, dan SIKI di atas dapat digunakan sebagai acuan dalam proses asuhan keperawatan untuk mengatasi masalah tersebut. -
Article No. 573 | 25 Sep 2024
Klinis : Seorang klien laki-laki berusia 7 tahun, datang ke RS dengan keluhan pasien sesak, panas hari ke 3 suhu naik turun, meninggi sampai 39c, epistaksis, nyeri abdomen, mual, muntah, nafsu makan menurun, tampak lemah, dan disertai buang air besar lebih dari 3x/hari. Ibu klien mengatakan anaknya tidak mau makan, sesekali minta bubur, hanya dimakan setegah porsi, minum setengah gelas hanya 3 sampai 4 kali sehari.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan gejala dan kondisi yang diderita oleh klien laki-laki berusia 7 tahun, dapat ditegakkan Diagnosa Keperawatan sebagai berikut:
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
- SDKI: Ketidakseimbangan Nutrisi
- SLKI: Asupan Nutrisi Tidak Adekuat
- SIKI: Pemantauan Nutrisi
Penjelasan:
Klien mengalami penurunan nafsu makan, hanya makan setengah porsi, dan minum sedikit, sehingga terjadi ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
2. Resiko dehidrasi
- SDKI: Resiko Dehidrasi
- SLKI: Cairan Tubuh Tidak Adekuat
- SIKI: Pemantauan Cairan
Penjelasan:
Klien mengalami gejala seperti buang air besar lebih dari 3 kali per hari, mual, muntah, dan minum sedikit, sehingga berisiko mengalami dehidrasi.
3. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- SDKI: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- SLKI: Patensi Jalan Napas Terganggu
- SIKI: Asuhan Keperawatan Bersihan Jalan Napas
Penjelasan:
Klien mengalami sesak napas, yang dapat menyebabkan bersihan jalan napas tidak efektif.
4. Hipertermia
- SDKI: Hipertermia
- SLKI: Suhu Tubuh Meningkat
- SIKI: Manajemen Demam
Penjelasan:
Klien mengalami demam tinggi mencapai 39°C, yang menandakan adanya hipertermia.
5. Perubahan Pola Tidur
- SDKI: Perubahan Pola Tidur
- SLKI: Pola Tidur Terganggu
- SIKI: Manajemen Tidur
Penjelasan:
Klien terlihat lemah, yang mungkin dapat mempengaruhi pola tidurnya.
Penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) merupakan standar yang digunakan untuk menetapkan diagnosis keperawatan.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) merupakan standar yang digunakan untuk menetapkan luaran atau hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) merupakan standar yang digunakan untuk menetapkan intervensi keperawatan yang tepat untuk mencapai luaran yang diharapkan. -
Article No. 574 | 25 Sep 2024
Klinis : Seorang klien laki-laki berusia 56 tahun datang ke IGD RS sambil memegangi perutnya dengan keluhan nyeri akibat ingin buang air kecil namun tidak dapat keluar. Ia terakhir buang air kecil tadi pagi pukul 9 pagi dengan aliran agak tersendat dan kecil, tidak memancar. Pak A biasa meminum air 7 gelas per hari dan selalu mengkonsumsi buah dan sayur. Ia merasakan gangguan pada perkemihannya mulai beberapa minggu yang lalu.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Retensi Urin (Urinary Retention)
Penjelasan:
Retensi urin adalah kondisi di mana seseorang tidak dapat mengosongkan kandung kemihnya secara lengkap. Dalam kasus ini, klien mengalami kesulitan untuk buang air kecil dan merasakan nyeri di area perut. Gejala lainnya adalah aliran urin yang tersendat dan kecil, serta frekuensi berkemih yang terganggu.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Retensi Urin (Urinary Retention)
Definisi: Ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih secara lengkap.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Kandung kemih kosong
2. Eliminasi urin lancar
3. Bebas dari rasa nyeri/tidak nyaman saat berkemih
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Eliminasi Urin
2. Manajemen Nyeri
3. Perawatan Kateter Urin
Penjelasan singkat:
SDKI adalah sistem klasifikasi standar diagnosis keperawatan di Indonesia. SLKI adalah sistem klasifikasi standar luaran keperawatan di Indonesia. SIKI adalah sistem klasifikasi standar intervensi keperawatan di Indonesia. Ketiga sistem ini digunakan sebagai panduan dalam proses pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi asuhan keperawatan bagi klien. -
Article No. 575 | 25 Sep 2024
Klinis : Bab lendir 2 - 3 x / hari 4 hari. lendir (+), ampas Riwayat batuk - pilek (+) Demam (-) ASI + PASI
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis yang sesuai adalah:
1. Kode ICD-10:
- Kode: R31.1
- Deskripsi: Hematuria intermiten
2. Kode ICD-9-CM (tidak ada)
Penjelasan:
- Kode ICD-10 R31.1 adalah untuk diagnosis "Hematuria intermiten", yang merupakan keluarnya darah atau lendir melalui saluran kemih secara intermiten atau tidak terus-menerus.
- Gejala yang disebutkan, yaitu "Bab lendir 2 - 3 x / hari 4 hari, lendir (+), ampas" serta "Riwayat batuk - pilek (+)", mengarah pada kemungkinan adanya infeksi saluran kemih atau gangguan pada saluran urinaria.
- Tidak ada kode ICD-9-CM yang spesifik untuk tindakan medis, karena informasi yang diberikan tidak mencakup tindakan medis yang dilakukan.