Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 688 | 26 Sep 2024
Klinis : Pasien datang dengan keluhan gatal-gatal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baiklah, berdasarkan keluhan pasien yang mengalami gatal-gatal, berikut adalah contoh diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI yang dapat digunakan:
Diagnosa Keperawatan:
1. Pruritus (Gatal-Gatal)
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
- Pruritus adalah sensasi tidak nyaman kulit yang menyebabkan keinginan untuk menggaruk.
- Faktor penyebab dapat mencakup kondisi kulit, reaksi alergi, infeksi, dan lain-lain.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan dari penanganan pruritus adalah pasien dapat mengurangi gejala gatal, tidak terjadi komplikasi seperti infeksi sekunder akibat menggaruk, dan pasien dapat beristirahat dengan nyaman.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk menangani pruritus antara lain: menilai penyebab gatal, memberikan obat antihistamin, mengajarkan teknik relaksasi dan distraksi untuk mengurangi dorongan menggaruk, serta merawat kulit untuk menjaga kelembaban.
Jadi, dalam kasus pasien dengan keluhan gatal-gatal, diagnosa keperawatan yang tepat adalah Pruritus. Manajemen keperawatannya mengacu pada standar SDKI, SLKI, dan SIKI yang telah dijelaskan di atas. -
Article No. 689 | 26 Sep 2024
Klinis : CEMAS
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi CEMAS:
Diagnosa Keperawatan:
Kecemasan
Penjelasan Singkat:
1. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI):
- Definisi: Respon emosional dan psikologis individu terhadap sumber kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman atau bahaya.
- Karakteristik Utama: Perasaan khawatir, tegang, takut, atau gelisah.
- Faktor yang Berhubungan: Perubahan status kesehatan, perubahan lingkungan, dan pengalaman traumatis.
2. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):
- Tujuan Keperawatan: Klien dapat mengelola kecemasan.
- Indikator Hasil: Ekspresi wajah tenang, nada suara normal, dan mampu mengidentifikasi penyebab kecemasan.
3. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
- Intervensi Keperawatan: Manajemen Kecemasan
- Definisi: Serangkaian tindakan yang dilakukan untuk membantu klien mengenali, mengatasi, dan mengurangi kecemasan.
- Aktivitas Keperawatan: Identifikasi penyebab kecemasan, anjurkan teknik relaksasi, berikan informasi yang realistis, dan pantau respon psikologis dan fisiologis klien.
Dalam praktiknya, perawat akan melakukan penilaian komprehensif terhadap klien, mengidentifikasi penyebab kecemasan, dan mengembangkan rencana asuhan keperawatan yang sesuai dengan kebutuhan klien. Tujuannya adalah membantu klien mengelola kecemasan dan mencapai kesejahteraan psikologis. -
Article No. 690 | 26 Sep 2024
Klinis : tidak bisa bergerak karan hidrosefalus
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang diberikan, yaitu tidak bisa bergerak karena hidrosefalus, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI yang relevan:
1. Diagnosa Keperawatan:
Diagnosa: Gangguan Mobilitas Fisik Berhubungan dengan Hidrosefalus
2. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Keterbatasan dalam melakukan gerakan tubuh secara mandiri dan terkoordinasi.
- Penyebab: Gangguan sistem saraf pusat, seperti hidrosefalus.
- Karakteristik: Keterbatasan dalam melakukan gerakan tubuh, kekuatan otot yang menurun, koordinasi gerak yang buruk.
3. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan: Pasien dapat meningkatkan mobilitas fisik secara bertahap.
- Indikator:
1. Pasien dapat melakukan pergerakan secara pasif.
2. Pasien dapat melakukan pergerakan secara aktif terbatas.
3. Pasien dapat bergerak dengan bantuan alat bantu.
4. Pasien dapat bergerak secara mandiri.
4. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi:
1. Manajemen Mobilitas
- Mengidentifikasi faktor-faktor yang membatasi mobilitas.
- Memfasilitasi mobilisasi dengan peralatan bantu yang sesuai.
- Mengajarkan dan melatih pasien untuk melakukan latihan mobilitas secara bertahap.
2. Perawatan Hidrosefalus
- Melakukan pemantauan tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial.
- Mengatur posisi pasien untuk meningkatkan drainase cairan serebrospinal.
- Melakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk penanganan hidrosefalus.
Penjelasan singkat:
Hidrosefalus dapat menyebabkan peningkatan cairan serebrospinal di dalam rongga kranial, sehingga menekan dan menyebabkan kerusakan pada jaringan otak. Hal ini dapat berdampak pada gangguan mobilitas fisik pasien. Intervensi keperawatan yang diperlukan adalah manajemen mobilitas dan perawatan hidrosefalus untuk memfasilitasi peningkatan mobilitas pasien secara bertahap. -
Article No. 691 | 26 Sep 2024
Klinis : pasien menderita kelebihan cairan dan elektrolit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, SIKI untuk pasien yang mengalami kelebihan cairan dan elektrolit:
Diagnosa Keperawatan:
1. Kelebihan Volume Cairan
- Definisi: Kondisi di mana individu mengalami akumulasi berlebih cairan intravaskular, interstisial, atau intraseluler.
- Penyebab: Gangguan mekanisme homeostasis cairan dan elektrolit, penyakit ginjal, penggunaan obat-obatan, dll.
- Gejala: Edema, peningkatan berat badan, distensi vena leher, takikardi, hipertensi, dll.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Kode: 10001
- Definisi: Kondisi di mana individu mengalami akumulasi berlebih cairan intravaskular, interstisial, atau intraseluler.
- Karakteristik Utama: Edema, peningkatan berat badan, distensi vena leher.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Kode: 10001
- Judul: Keseimbangan Cairan
- Tujuan: Individu menunjukkan keseimbangan cairan yang adekuat.
- Kriteria Hasil: Edema minimal, berat badan stabil, vital sign dalam batas normal.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Kode: 10001
- Judul: Manajemen Cairan
- Definisi: Intervensi untuk mengatur masukan dan pengeluaran cairan pasien.
- Aktivitas Keperawatan: Pantau tanda-tanda vital, intake dan output cairan, berat badan; Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit; Edukasi pasien dan keluarga.
Dalam penanganan pasien dengan kelebihan cairan dan elektrolit, perawat perlu melakukan pemantauan ketat, mengatur pemberian cairan dan elektrolit, serta memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga. Tujuannya adalah untuk mencapai keseimbangan cairan yang adekuat. -
Article No. 692 | 26 Sep 2024
Klinis : slki edukasi keluarga berencana
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah penjelasan singkat mengenai Diagnosa Keperawatan, SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi edukasi keluarga berencana:
1. Diagnosa Keperawatan:
- Kurang Pengetahuan Keluarga Tentang Keluarga Berencana
2. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Kurang Pengetahuan Keluarga Tentang Keluarga Berencana
- Definisi: Ketidakcukupan informasi yang dimiliki oleh keluarga tentang konsep dan praktik keluarga berencana.
- Penyebab: Kurangnya paparan informasi, kurangnya kemampuan memahami informasi, dan keterbatasan sumber informasi.
- Gejala dan Tanda: Keluarga menunjukkan kurangnya pemahaman tentang konsep dan praktik keluarga berencana, seperti tidak mengetahui metode kontrasepsi yang tersedia, tidak mengetahui manfaat dan risiko dari metode kontrasepsi, dan tidak mengetahui cara mengakses layanan keluarga berencana.
3. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Pengetahuan Keluarga: Keluarga Berencana
- Definisi: Tingkat pemahaman keluarga tentang konsep dan praktik keluarga berencana.
- Indikator:
1. Keluarga menjelaskan konsep keluarga berencana.
2. Keluarga menjelaskan metode kontrasepsi yang tersedia.
3. Keluarga menjelaskan manfaat dan risiko dari metode kontrasepsi.
4. Keluarga menjelaskan cara mengakses layanan keluarga berencana.
4. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Edukasi Keluarga: Keluarga Berencana
- Definisi: Intervensi untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman keluarga tentang konsep dan praktik keluarga berencana.
- Aktivitas:
1. Menilai tingkat pengetahuan keluarga tentang keluarga berencana.
2. Memberikan informasi tentang konsep dasar keluarga berencana.
3. Menjelaskan metode kontrasepsi yang tersedia dan manfaat serta risikonya.
4. Menyampaikan informasi tentang cara mengakses layanan keluarga berencana.
5. Memfasilitasi diskusi dan tanya jawab dengan keluarga.
6. Mengevaluasi peningkatan pengetahuan keluarga tentang keluarga berencana.
Dalam penerapannya, intervensi keperawatan yang sesuai adalah Edukasi Keluarga: Keluarga Berencana, dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman keluarga tentang konsep dan praktik keluarga berencana. -
Article No. 693 | 26 Sep 2024
Klinis : edukasi kesehatan keluarga berencana slki
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Pengetahuan Kurang Tentang Keluarga Berencana
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Pengetahuan Kurang Tentang Keluarga Berencana adalah keadaan di mana individu/keluarga menunjukkan defisit informasi terkait kontrasepsi dan perencanaan kehamilan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari diagnosa ini adalah Peningkatan Pengetahuan Tentang Keluarga Berencana, di mana individu/keluarga menunjukkan peningkatan pemahaman tentang kontrasepsi dan perencanaan kehamilan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi yang dapat dilakukan antara lain:
1. Edukasi Kesehatan Keluarga Berencana
2. Pemberian Informasi Tentang Kontrasepsi
3. Umpan Balik Terhadap Pemahaman Keluarga Berencana
Tujuan dari intervensi ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman individu/keluarga terkait keluarga berencana sehingga dapat membuat keputusan yang tepat dalam perencanaan kehamilan dan penggunaan kontrasepsi. -
Article No. 694 | 26 Sep 2024
Klinis : stuntung
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan untuk kondisi stunting adalah:
1. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Penjelasan:
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- Penyebab: Tidak adekuatnya asupan makanan, masalah dalam penyerapan, peningkatan kebutuhan nutrisi.
- Gejala: Penurunan berat badan, keterlambatan pertumbuhan, dan gangguan fungsi tubuh.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan: Pasien menunjukkan peningkatan status gizi, tidak ada tanda-tanda kekurangan gizi, dan terpenuhinya kebutuhan nutrisi.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi keperawatan: Pemberian nutrisi yang adekuat, pemantauan asupan dan output nutrisi, edukasi gizi pada pasien/keluarga, dan kolaborasi dengan ahli gizi.
2. Risiko Keterlambatan Perkembangan
Penjelasan:
SDKI:
- Definisi: Berisiko mengalami perkembangan yang tidak sesuai dengan potensi yang dimiliki.
- Penyebab: Gizi buruk, kurangnya stimulasi, kondisi medis yang menghambat.
- Gejala: Keterlambatan dalam pencapaian tahapan perkembangan.
SLKI:
- Luaran yang diharapkan: Pasien menunjukkan perkembangan sesuai usia, tidak ada keterlambatan dalam aspek perkembangan.
SIKI:
- Intervensi keperawatan: Stimulasi perkembangan, edukasi orang tua, pemantauan perkembangan, dan kolaborasi dengan ahli terapi perkembangan. -
Article No. 695 | 26 Sep 2024
Klinis : gizi buruk
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: 1. Kode ICD-10:
- Kode: E46
- Deskripsi: Malnutrisi yang tidak ditentukan
Penjelasan:
- Kode E46 dalam ICD-10 digunakan untuk mengklasifikasikan gizi buruk atau malnutrisi yang tidak didefinisikan secara spesifik.
- Kode ini mencakup berbagai kondisi yang disebabkan oleh kekurangan asupan nutrisi, seperti marasmus, kwashiorkor, dan bentuk campuran dari keduanya.
- Kode E46 digunakan ketika informasi yang tersedia tidak cukup untuk mengidentifikasi tipe malnutrisi yang lebih spesifik.
2. Kode ICD-9-CM (jika ada):
- Kode: 263.9
- Deskripsi: Malnutrisi, tidak ditentukan
Penjelasan:
- Kode 263.9 dalam ICD-9-CM digunakan untuk mengklasifikasikan malnutrisi yang tidak didefinisikan secara spesifik.
- Kode ini mencakup berbagai kondisi yang disebabkan oleh kekurangan asupan nutrisi, seperti marasmus, kwashiorkor, dan bentuk campuran dari keduanya.
- Kode 263.9 digunakan ketika informasi yang tersedia tidak cukup untuk mengidentifikasi tipe malnutrisi yang lebih spesifik. -
Article No. 696 | 26 Sep 2024
Klinis : gizi buruk
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi gizi buruk:
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh adalah keadaan di mana asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- Karakteristik Utama: Berat badan tidak sesuai usia, perubahan komposisi tubuh, perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit.
- Faktor yang Berhubungan: Intake nutrisi tidak adekuat, faktor biologis (penyakit, gangguan pencernaan, dll), faktor psikologis (anoreksia, depresi, dll), faktor lingkungan (kemiskinan, keterbatasan akses, dll).
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang ingin dicapai adalah Keseimbangan Nutrisi yang Membaik, dengan kriteria hasil seperti: Berat Badan Meningkat, Komposisi Tubuh Membaik, Kadar Elektrolit Normal.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi yang dapat dilakukan antara lain: Manajemen Nutrisi, Edukasi Gizi, Pemantauan Intake dan Output Nutrisi, Kolaborasi dengan Tim Gizi, dll.
Secara singkat, diagnosa keperawatan utama pada kondisi gizi buruk adalah Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh. Standar diagnosis, luaran, dan intervensi keperawatan yang dapat dilakukan dijabarkan dalam SDKI, SLKI, dan SIKI di atas. Tujuannya adalah untuk membantu pasien mencapai keseimbangan nutrisi yang membaik. -
Article No. 697 | 26 Sep 2024
Klinis : nafas sesak
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi nafas sesak:
Diagnosa Keperawatan:
1. Pola Napas Tidak Efektif
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Pola Napas Tidak Efektif: Ketidakmampuan untuk bernapas dengan mudah dan lancar.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Ventilasi Spontan
2. Adaptasi Napas
3. Kenyamanan Pernapasan
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Jalan Napas
2. Manajemen Oksigenasi
3. Manajemen Nyeri
Penjelasan Singkat:
Diagnosa keperawatan "Pola Napas Tidak Efektif" mengacu pada kondisi ketidakmampuan pasien untuk bernapas dengan mudah dan lancar, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti penyakit paru, gangguan neuromuskular, atau kondisi lainnya.
SDKI menjelaskan bahwa Pola Napas Tidak Efektif adalah ketidakmampuan bernapas dengan mudah dan lancar. SLKI menetapkan tiga luaran keperawatan utama yang perlu dicapai, yaitu ventilasi spontan, adaptasi napas, dan kenyamanan pernapasan.
Untuk mencapai luaran tersebut, SIKI menetapkan tiga intervensi utama, yaitu manajemen jalan napas (untuk menjaga kebersihan jalan napas), manajemen oksigenasi (untuk memenuhi kebutuhan oksigen), dan manajemen nyeri (jika ada nyeri yang menyertai).
Keseluruhan intervensi ini bertujuan untuk membantu pasien mencapai pola napas yang efektif, sehingga dapat mengurangi rasa sesak napas dan meningkatkan kualitas hidup.