Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 848 | 28 Sep 2024
Klinis : Nomor kode SDKI Gangguan pola suara
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berikut adalah informasi mengenai Diagnosa Keperawatan, SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi "Gangguan Pola Suara":
Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Pola Suara
Penjelasan Singkat:
Gangguan Pola Suara merupakan diagnosa keperawatan yang menggambarkan perubahan atau masalah dalam produksi suara yang mengganggu komunikasi dan interaksi sosial.
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Kode: 00051
Judul: Gangguan Pola Suara
Definisi: Gangguan dalam produksi suara yang mengganggu komunikasi.
Karakteristik Utama:
1. Suara serak
2. Suara parau
3. Suara monoton
4. Suara lemah
5. Suara bergetar
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Kode: 01654
Judul: Kemampuan Komunikasi Verbal
Definisi: Kemampuan individu untuk menyampaikan pesan atau informasi secara lisan.
Kriteria Hasil:
1. Menggunakan nada suara yang tepat
2. Menggunakan artikulasi yang jelas
3. Berbicara dengan kecepatan yang sesuai
4. Mengekspresikan diri dengan baik
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Kode: 03201
Judul: Terapi Suara
Definisi: Tindakan keperawatan untuk membantu individu dalam mengontrol dan memperbaiki pola suara.
Aktivitas Keperawatan:
1. Identifikasi penyebab gangguan pola suara
2. Lakukan latihan pernapasan dan fonasi
3. Anjurkan mengatur volume dan nada suara
4. Ajarkan teknik relaksasi otot-otot fonasi
5. Berikan edukasi tentang perawatan suara
Jadi, dalam kasus Gangguan Pola Suara, perawat dapat menggunakan Diagnosa Keperawatan, SDKI, SLKI, dan SIKI di atas sebagai panduan dalam melakukan pengkajian, perencanaan, intervensi, dan evaluasi asuhan keperawatan yang diberikan. -
Article No. 849 | 28 Sep 2024
Klinis : obesitas SDKI SLKI dan SIKI
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berikut adalah Diagnosis Keperawatan, serta penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi obesitas:
Diagnosis Keperawatan: Obesitas
Penjelasan singkat:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia)
- Definisi: Kondisi tubuh yang berlebihan dalam mengakumulasi lemak, sehingga menyebabkan peningkatan berat badan yang signifikan.
- Kategori: Masalah Nutrisi
- Kode Diagnosis: 00232
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia)
- Luaran Keperawatan yang Relevan:
a. Berat Badan: Kemampuan individu untuk mempertahankan berat badan yang sehat.
b. Perawatan Diri: Kemampuan individu untuk melakukan perawatan diri secara mandiri.
c. Manajemen Berat Badan: Kemampuan individu untuk mengelola berat badan secara efektif.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia)
- Intervensi Keperawatan yang Relevan:
a. Manajemen Berat Badan: Tindakan untuk memfasilitasi individu dalam mencapai dan mempertahankan berat badan yang sehat.
b. Edukasi Gizi: Tindakan untuk memberikan informasi dan pendidikan terkait kebutuhan nutrisi yang sesuai.
c. Terapi Gaya Hidup: Tindakan untuk memfasilitasi individu dalam mengadopsi gaya hidup yang sehat.
Dalam penanganan pasien dengan obesitas, perawat dapat menggunakan SDKI, SLKI, dan SIKI sebagai panduan untuk menetapkan diagnosis keperawatan, merumuskan luaran keperawatan, dan merancang intervensi keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien. Tujuannya adalah membantu pasien mencapai dan mempertahankan berat badan yang sehat melalui pendekatan komprehensif yang melibatkan aspek nutrisi, aktivitas fisik, dan perubahan gaya hidup. -
Article No. 768 | 27 Sep 2024
Klinis : Tn. H 51 tahun diantar ke IGD 3 hari yang lalu, dengan keluhan nyeri dada yang menjalar ke tangan sebelah kiri, sesak nafas disertai dada terasa berat sejak 2.5 jam sebelum masuk rumah sakit, saat sedang membawa mobil, durasi lebih dari 20 menit disertai keringat dingin. Nyeri dan sesak nafas yang tidak berkurang dengan istirahat, dan merasa mual. Pasien memiliki faktor risiko penyakit jantung koroner hipertensi, dislipidemia, riwayat keluarga dengan penyakit jantung koroner (PJK) dan perokok. Saat ini pasien dirawat di ruang perawatan jantung. Hasil pengkajian saat ini didapatkan tingkat kesadaran kompos mentis, nyeri dada masih dirasakan dengan skala nyeri 4/10, tekanan darah 92/63 mmHg, denyut jantung 94 x/menit, laju pernafasan 38 x/ menit dengan saturasi oksigen 93% dan suhu 37,60C. Pemeriksaan fisik didapatkan murmur ejection sistolik 3/6 pada batas tepi kiri sternum (LLSB) dan murmur pan sistolik 3/6 di apex sementara pemeriksaan lainnya dalam batas normal.EKG menunjukkan irama sinus rhytm dengan QRS rate 84 kali per menit, aksis QRS normal, gelombang P mitral, Interval PR 0.18 detik, durasi komplek QRS 0.08 detik, dengan ST depresi I, avL, V5, V6, T inverted I, aVL, V5V6, LVH (+). Hasil Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar haemoglobin 17.2 gr/dl, hematokrit 51%, leukosit 12670 /ul, ureum 29 mg/dl, level kreatinin 0.82 mg/dl, gula darah sewaktu 153 mg/dl, natrium 137 mmol/l, kalium 3.5 mmol/l, kalsium total 2.23 mmol/l, dan klorida 108 mmol/l. Enzim jantung menunjukkan nilai CKMB 28 dan Troponin T 0.127. Pemeriksaan foto thoraks menunjukkan rasio jantung-thoraks sebesar 52%. Segmen Aorta Elongasi dan segmen pulmonal normal dengan apex jantung downward dan pinggang jantung mendatar, disertai dengan tanda- tanda kongesti dan infiltrat. Pasien didiagnosa dengan NSTEMI TIMI skor 4/7 skor GRACE 280, Pneumonia Komunitas (CAP). Pasien direncanakan tindakan pemasangan stent Pasien bekerja sebagai buruh pabrik, memiliki satu orang istri dan 4 orang anak. Istri pasien bekerja sebagai buruh cuci. 3 orang anak pasien masih duduk di bangku sekolah. Sejak mengalami sakit, pasien tidak mampu lagi bekerja dengan maksimal. Pasien selalu bertanya apakah saat ini dia bisa sembuh kembali seperti semula.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI yang sesuai untuk kondisi Tn. H:
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri akut berhubungan dengan infark miokard akut
2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan infark miokard akut
3. Risiko ketidakstabilan hemodinamik berhubungan dengan infark miokard akut
4. Kecemasan berhubungan dengan kondisi kesehatan yang mengancam
5. Ketidakefektifan manajemen kesehatan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan pengobatan
Penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI:
1. Nyeri akut berhubungan dengan infark miokard akut
- SDKI: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah seperti itu (Internasional Association for the Study of Pain, 1979).
- SLKI: Tujuan yang diharapkan adalah pasien dapat melaporkan nyeri berkurang dan dapat beristirahat dengan nyaman.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah memberikan analgesik, mengatur posisi yang nyaman, dan memberikan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri.
2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan infark miokard akut
- SDKI: Ketidakefektifan pola napas adalah ketidakmampuan untuk bernapas dengan mudah dan lancar.
- SLKI: Tujuan yang diharapkan adalah pasien dapat mempertahankan pola napas yang efektif dan meningkatkan saturasi oksigen.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah mengatur posisi pasien, berikan bantuan oksigen, dan latihan pernapasan.
3. Risiko ketidakstabilan hemodinamik berhubungan dengan infark miokard akut
- SDKI: Risiko ketidakstabilan hemodinamik adalah keadaan di mana individu berisiko mengalami perubahan yang merugikan dalam tekanan darah, denyut nadi, atau curah jantung.
- SLKI: Tujuan yang diharapkan adalah pasien dapat mempertahankan stabilitas hemodinamik.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah memantau tanda-tanda vital, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk intervensi medis yang tepat, dan mengelola cairan.
4. Kecemasan berhubungan dengan kondisi kesehatan yang mengancam
- SDKI: Kecemasan adalah perasaan tidak nyaman atau khawatir yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya.
- SLKI: Tujuan yang diharapkan adalah pasien dapat mengatasi kecemasan dan mampu beradaptasi dengan kondisinya.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah memberikan informasi yang jelas, ajarkan teknik relaksasi, dan dukung emosional pasien.
5. Ketidakefektifan manajemen kesehatan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan pengobatan
- SDKI: Ketidakefektifan manajemen kesehatan adalah ketidakmampuan individu untuk mengidentifikasi, mengelola, dan melakukan tindakan yang diperlukan untuk memelihara kesehatan.
- SLKI: Tujuan yang diharapkan adalah pasien dapat menunjukkan perilaku untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah memberikan edukasi tentang penyakit, pengobatan, dan gaya hidup sehat, serta melibatkan keluarga dalam perawatan. -
Article No. 769 | 27 Sep 2024
Klinis : Tn. H 51 tahun diantar ke IGD 3 hari yang lalu, dengan keluhan nyeri dada yang menjalar ke tangan sebelah kiri, sesak nafas disertai dada terasa berat sejak 2.5 jam sebelum masuk rumah sakit, saat sedang membawa mobil, durasi lebih dari 20 menit disertai keringat dingin. Nyeri dan sesak nafas yang tidak berkurang dengan istirahat, dan merasa mual. Pasien memiliki faktor risiko penyakit jantung koroner hipertensi, dislipidemia, riwayat keluarga dengan penyakit jantung koroner (PJK) dan perokok. Saat ini pasien dirawat di ruang perawatan jantung. Hasil pengkajian saat ini didapatkan tingkat kesadaran kompos mentis, nyeri dada masih dirasakan dengan skala nyeri 4/10, tekanan darah 92/63 mmHg, denyut jantung 94 x/menit, laju pernafasan 38 x/ menit dengan saturasi oksigen 93% dan suhu 37,60C. Pemeriksaan fisik didapatkan murmur ejection sistolik 3/6 pada batas tepi kiri sternum (LLSB) dan murmur pan sistolik 3/6 di apex sementara pemeriksaan lainnya dalam batas normal.EKG menunjukkan irama sinus rhytm dengan QRS rate 84 kali per menit, aksis QRS normal, gelombang P mitral, Interval PR 0.18 detik, durasi komplek QRS 0.08 detik, dengan ST depresi I, avL, V5, V6, T inverted I, aVL, V5V6, LVH (+). Hasil Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar haemoglobin 17.2 gr/dl, hematokrit 51%, leukosit 12670 /ul, ureum 29 mg/dl, level kreatinin 0.82 mg/dl, gula darah sewaktu 153 mg/dl, natrium 137 mmol/l, kalium 3.5 mmol/l, kalsium total 2.23 mmol/l, dan klorida 108 mmol/l. Enzim jantung menunjukkan nilai CKMB 28 dan Troponin T 0.127. Pemeriksaan foto thoraks menunjukkan rasio jantung-thoraks sebesar 52%. Segmen Aorta Elongasi dan segmen pulmonal normal dengan apex jantung downward dan pinggang jantung mendatar, disertai dengan tanda- tanda kongesti dan infiltrat. Pasien didiagnosa dengan NSTEMI TIMI skor 4/7 skor GRACE 280, Pneumonia Komunitas (CAP). Pasien direncanakan tindakan pemasangan stent Pasien bekerja sebagai buruh pabrik, memiliki satu orang istri dan 4 orang anak. Istri pasien bekerja sebagai buruh cuci. 3 orang anak pasien masih duduk di bangku sekolah. Sejak mengalami sakit, pasien tidak mampu lagi bekerja dengan maksimal. Pasien selalu bertanya apakah saat ini dia bisa sembuh kembali seperti semula.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kasus yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, SIKI yang sesuai:
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri akut berhubungan dengan infark miokard
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan curah jantung
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan fungsi paru
4. Kecemasan berhubungan dengan kondisi kesehatan yang mengancam
Penjelasan singkat SDKI, SLKI, SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Nyeri akut: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau dijelaskan dalam istilah seperti kerusakan itu (IASP, 2011).
2. Intoleransi aktivitas: Ketidakmampuan untuk mentoleransi atau menyelesaikan aktivitas rutin karena kelelahan yang tidak proporsional.
3. Gangguan pertukaran gas: Ketidakmampuan membentuk atau mempertahankan pertukaran gas yang memadai di alveoli dan kapiler.
4. Kecemasan: Respon emosional dan psikologis individu terhadap sumber ancaman, bahaya, atau tantangan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Tingkat nyeri terkontrol, pola aktivitas normal, kualitas hidup meningkat.
2. Toleransi aktivitas meningkat, kelelahan menurun, kemampuan fungsional meningkat.
3. Pertukaran gas membaik, frekuensi napas normal, saturasi oksigen membaik.
4. Tingkat kecemasan menurun, kemampuan koping meningkat, fungsi psikologis membaik.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen nyeri, pemberian analgetik, terapi relaksasi.
2. Manajemen aktivitas, peningkatan mobilitas, latihan fisik bertahap.
3. Terapi oksigen, pengaturan posisi, pemantauan status pernapasan.
4. Konseling, terapi kognitif, dukungan keluarga.
Secara umum, pasien ini memerlukan penatalaksanaan keperawatan yang komprehensif untuk mengatasi masalah nyeri, intoleransi aktivitas, gangguan pertukaran gas, dan kecemasan yang timbul akibat kondisi infark miokard dan penyakit penyerta lainnya. Keterlibatan dan dukungan keluarga juga penting untuk membantu proses pemulihan pasien. -
Article No. 770 | 27 Sep 2024
Klinis : gatal gatal di badan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan gejala gatal-gatal di badan, berikut adalah contoh diagnosis keperawatan, penjelasan singkat terkait SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosis Keperawatan:
1. Intoleransi aktivitas
2. Gangguan Pola Tidur
3. Gangguan Kenyamanan
Penjelasan Singkat:
1. Intoleransi aktivitas
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diinginkan atau dibutuhkan akibat adanya keterbatasan fisik, psikologis, dan/atau lingkungan.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Peningkatan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi yang dilakukan untuk membantu pasien meningkatkan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
2. Gangguan Pola Tidur
- SDKI: Perubahan dalam jumlah dan kualitas tidur yang mengganggu fungsi seseorang.
- SLKI: Pemulihan pola tidur yang adekuat.
- SIKI: Intervensi yang dilakukan untuk membantu pasien memulihkan pola tidur yang adekuat.
3. Gangguan Kenyamanan
- SDKI: Pengalaman subjektif yang tidak menyenangkan (misalnya nyeri, gatal, mual) yang mengganggu fungsi normal seseorang.
- SLKI: Peningkatan kenyamanan.
- SIKI: Intervensi yang dilakukan untuk membantu pasien meningkatkan kenyamanan.
Tujuan penggunaan SDKI, SLKI, dan SIKI adalah untuk memastikan perawatan yang diberikan terstandar dan terfokus pada kebutuhan pasien serta memudahkan komunikasi antar tenaga kesehatan. -
Article No. 771 | 27 Sep 2024
Klinis : gatal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berikut adalah contoh Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi "gatal":
1. Diagnosa Keperawatan: Pruritus (Gatal)
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Pruritus adalah sensasi tidak nyaman pada kulit yang menyebabkan keinginan untuk menggaruk.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Pruritus terkendali
2. Kulit tidak terluka akibat garukan
3. Klien mengelola pruritus
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Identifikasi penyebab pruritus
2. Manajemen gejala pruritus (misalnya aplikasi pelembab, menghindari iritasi, penggunaan obat topikal antipruritus)
3. Edukasi klien tentang manajemen pruritus
4. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (misalnya dokter) untuk pengobatan penyebab pruritus
Penjelasan singkat:
Pruritus atau gatal adalah sensasi tidak nyaman pada kulit yang menyebabkan keinginan untuk menggaruk. Diagnosa ini mengarah pada manajemen gejala pruritus, seperti mengidentifikasi penyebabnya, mengaplikasikan pelembab, menghindari iritasi, menggunakan obat topikal antipruritus, serta memberikan edukasi kepada klien tentang cara mengelola pruritus. Tujuannya adalah untuk mengendalikan pruritus, mencegah kerusakan kulit akibat garukan, dan memampukan klien dalam mengelola pruritus. -
Article No. 772 | 27 Sep 2024
Klinis : Batuk berdahak, makan hanya 1/2 porsi mual muntah tidak ada, demam tidak ada Suhu 36.5, rr: 22x/mnt, spo2 100%
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, berikut adalah Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI:
Diagnosa Keperawatan:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Penjelasan:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi saluran napas untuk mempertahankan patensi jalan napas.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Pasien dapat mempertahankan patensi jalan napas yang ditandai dengan perubahan frekuensi pernapasan, bunyi napas, dan penggunaan otot bantu pernapasan.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi yang dapat dilakukan antara lain manajemen jalan napas, manajemen batuk, dan oksigenasi.
Penjelasan Singkat:
Pasien dengan keluhan batuk berdahak dapat mengindikasikan adanya masalah pada bersihan jalan napas yang tidak efektif. Hal ini dapat disebabkan oleh akumulasi sekret atau obstruksi pada saluran napas. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen jalan napas, manajemen batuk, dan oksigenasi untuk mempertahankan patensi jalan napas. -
Article No. 717 | 27 Sep 2024
Klinis : intervensi apa untuk pasien BPH dengan diagnosa gangguan eliminasi urin
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Untuk kondisi pasien dengan benign prostatic hyperplasia (BPH) yang disertai dengan gangguan eliminasi urin, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis yang mungkin dilakukan:
1. Kode ICD-10:
- Kode: N40.1
- Deskripsi: Benign prostatic hyperplasia dengan obstruksi dan other lower urinary tract symptoms (LUTS)
2. Kode ICD-9-CM (jika ada):
- Kode: 60.2
- Deskripsi: Transurethral resection of prostate (TURP)
Penjelasan:
- Kode ICD-10 N40.1 menggambarkan kondisi benign prostatic hyperplasia (BPH) dengan gejala obstruksi dan gangguan eliminasi urin lainnya (LUTS).
- Kode ICD-9-CM 60.2 mengacu pada tindakan transurethral resection of prostate (TURP), yang merupakan salah satu intervensi utama untuk mengatasi gejala BPH dengan gangguan eliminasi urin.
- TURP adalah prosedur pembedahan minimal invasif yang dilakukan untuk mengurangi ukuran prostat yang membesar dan memperbaiki aliran urin.
- Tindakan lain yang mungkin dilakukan untuk mengatasi kondisi ini adalah terapi farmakologis, seperti penggunaan obat-obatan alfa-blocker atau inhibitor 5-alpha reductase, atau intervensi lainnya seperti transurethral needle ablation (TUNA) atau holmium laser enucleation of the prostate (HoLEP). -
Article No. 718 | 27 Sep 2024
Klinis : intervensi apa untuk pasien BPH dengan diagnosa gangguan eliminasi urin
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berikut adalah penjelasan mengenai diagnosis keperawatan, SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi pasien BPH dengan gangguan eliminasi urin:
Diagnosis Keperawatan:
Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan hipertrofi prostat jinak (BPH) ditandai dengan gejala seperti poliuria, nokturia, disuria, retensi urin, dan inkontinensia.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Gangguan Eliminasi Urin
- Definisi: Ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih secara lengkap pada waktu yang diinginkan.
- Faktor yang berhubungan: Obstruksi aliran urin, penurunan kontraktilitas otot detrusor.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Keefektifan Pola Berkemih
- Definisi: Kemampuan untuk mengosongkan kandung kemih secara lengkap pada waktu yang diinginkan.
- Indikator: Frekuensi berkemih, volume urin, nyeri saat berkemih, masalah inkontinensia.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Gangguan Eliminasi Urin
- Definisi: Serangkaian tindakan yang dilakukan untuk membantu klien mengatasi masalah dalam mengosongkan kandung kemih.
- Tindakan Keperawatan:
- Nilai pola eliminasi urin: frekuensi, volume, nyeri saat berkemih, inkontinensia.
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (dokter) untuk evaluasi dan manajemen BPH.
- Ajarkan teknik berkemih yang benar dan latihan otot dasar panggul (Kegel).
- Monitor intake dan output cairan, serta tanda-tanda infeksi saluran kemih.
- Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang manajemen BPH dan gangguan eliminasi urin.
Jadi, intervensi keperawatan utama untuk pasien BPH dengan gangguan eliminasi urin adalah manajemen gangguan eliminasi urin, yang meliputi penilaian pola eliminasi urin, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain, edukasi, dan latihan otot dasar panggul. -
Article No. 719 | 27 Sep 2024
Klinis : keluarga mengatakan badan sebelah kiri tidak bisa di gerakan keluarga mengatakan untuk kegiatan sehari hari di bantu sebagian pasien terlihat sulit menggerakan kaki dan tangan kiri pasien terlihat di bantu untuk melakukan aktifitas tekanan darah : 186/98 nadi : 79 frekuensi pernapasan : 20 spo2 : 96 e4-m6-v5
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami kondisi stroke. Berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI terkait kondisi tersebut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan dengan Gangguan Fungsi Motorik Akibat Stroke
2. Gangguan Aktivitas Perawatan Diri berhubungan dengan Gangguan Fungsi Motorik Akibat Stroke
Penjelasan SDKI - SLKI - SIKI:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Gangguan Mobilitas Fisik: Keterbatasan dalam gerakan fisik yang disebabkan oleh gangguan muskuloskeletal, neurologis, atau faktor lain.
- Gangguan Aktivitas Perawatan Diri: Keterbatasan dalam melakukan aktivitas perawatan diri yang disebabkan oleh penurunan fungsi fisik, psikologis, atau kognitif.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Untuk Gangguan Mobilitas Fisik, luaran yang diharapkan adalah Mobilitas Fisik Membaik, dengan indikator seperti Kemampuan Mobilisasi Meningkat, Kekuatan Otot Membaik, dan Koordinasi Motorik Membaik.
- Untuk Gangguan Aktivitas Perawatan Diri, luaran yang diharapkan adalah Perawatan Diri Membaik, dengan indikator seperti Kemampuan Mandi Meningkat, Kemampuan Berpakaian Meningkat, dan Kemampuan Makan Meningkat.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi untuk Gangguan Mobilitas Fisik dapat berupa Latihan Gerak Aktif dan Pasif, Terapi Okupasi, dan Perawatan Neuromuskular.
- Intervensi untuk Gangguan Aktivitas Perawatan Diri dapat berupa Pelatihan Aktivitas Perawatan Diri, Bantuan Perawatan Diri, dan Edukasi Keluarga dalam Perawatan Diri.
Kesimpulan, berdasarkan data yang diberikan, pasien mengalami stroke yang menyebabkan gangguan mobilitas fisik dan gangguan aktivitas perawatan diri. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah terapi latihan, terapi okupasi, dan pelatihan aktivitas perawatan diri dengan melibatkan keluarga.