Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 838 | 28 Sep 2024
Klinis : Tn. S, berjenis kelamin laki-laki, usia 62 tahun, tanggal lahir 15 Mei 1960, status menikah, agama islam, suku bangsa serawai, pendidikan terakhir SMA, pekerjaan petani, alamat Jl. Semangka 3 kelurahan Panorama, Kec.Pati Kota Bengkulu, bahasa yang digunakan bahasa Indonesia. Identitas penanggung jawab nama Ny. N (istri pasien), bekerja sebagai ibu rumah tangga, usia 58 tahun. Nomor registrasi Pasien 849888 Pasien masuk IGD RSUD Dr.M Yunus Kota Bengkulu pada Kamis, 02 Juni 2022 pukul 16:35 WIB. Pasien datang dengan keluhan anggota tubuh sebelah kiri tidak bisa digerakan. Pasien mengatakan memiliki riwayat penyakit hipertensi. Timbulnya KODE SOAL 1 keluhan yaitu pasien merasakan kesemutan di kaki sebelah kiri kurang lebih 1 minggu. Pada Kamis, 02 Juni 2022 pukul 04.40 WIB sebelum pasien ingin sholat subuh, tiba-tiba pasien langsung terjatuh di lantai karena mengalami kelemahan otot kaki sebelah kiri. ± 12 jam pasein mengeluh anggota badan sebelah kiri sulit digerakan. Penanganan yang telah dilakukan di rumah yaitu pasein minum obat amlodipine yang diberikan bidan. Kemudian keluarga pasien membawa pasien ke rumah sakit Dr.M.Yunus Kota Bengkulu karena tidak ada perubahan Pada saat di IGD keadaan umum pasein lemah, kesadaran composmentis, tekanan darah 180/130 MmHg, nadi 98x/menit, pernapasan 20x/menit Suhu 36,7 ℃. Pasien dipasang infus Rl 20 TPM, injeksi OMZ 1 vial, citicolin 1 amp dan diberi obat amplodipine 10 mg, candesartan 16 mg, CT scan kepala, cek AGD, serta terpasang kateter. Pada pukul 21:19 WIB pasien dipindahkan ke ruang stroke RSUD Dr.M Yunus Kota Bengkulu. Saat dilakukan pengkajian pada tanggal 03 Juni 2022 pukul 09.15 WIB pasien mengeluh tangan dan kaki kiri sulit digerakan, merasa cemas saat bergerak, kekuatan otot tangan kiri 1, kekuatan otot kaki kiri 0, sendi kaku, dan mengeluh sulit tidur pada malam hari, sering terbangun saat tidur, tampak mengantuk dan menguap saat diajak mengobrol. Keadaan umum pasien lemah, kesadaran composmentis, GCS E4 V5 M6, tekanan darah 140/100 MmHg, frekuensi nadi 85x/m, pernapasan 20 x/m, suhu 36,2 ℃ Pasien mengatakan ada riwayat penyakit hipertensi, riwayat merokok semenjak pasien SMP. Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat operasi, tidak mengkonsumsi minuman beralkohol dan tidak memiliki riwayat alergi obat dan makan-makanan. Pasien mengatakan ada keluarga yang memiliki penyakit hipertensi dari pihak ibu pasien. Hasil pengkajian pola kesehatan: 1. Kebutuhan Oksigenasi : Tidak terdapat keluhan batuk, tidak ada produksi sputum, kemampuan bernapas baik, tidak ada sesak, tidak ada nyeri dada, pemenuhan kebutuhan oksigenasi terpenuhi. 2. Kebutuhan sirkulasi : Kesadaran composmentis, pasien mengatakan tidak ada perasaan berdebar-debar, tidak ada perasaan lelah berat, tidak ada sesak, tidak terdapat keluhan sesak saat istirahat (orthopnea), tidak ada edema, tidak ada nyeri pada bagian ekstremitas. 3. Kebutuhan nutrisi dan cairan : Pasien mengatakan frekuensi makan 3x sehari, jenis makanan lunak, nafsu makan kurang baik, porsi makan yang dihabiskan 1/2 porsi, tidak ada alergi makanan, tidak ada penggunaan alat bantu (NGT), tidak ada keluhan pemenuhan kebutuhan nutrisi. Frekuensi minum 4-5 gelas sehari, jenis minuman air putih, jumlah minum ±1200 cc, kemampuan menelan kurang baik karena kesulitan menelan makanan, tidak ada masalah pemenuhan kebutuhan nutrisi dan cairan. 4. Kebutuhan eliminasi : Frekuensi BAK ±1000 cc sehari, warna urine kuning cerah, tidak ada nyeri saat BAK, tidak ada keluhan gangguan saat BAK, menggunakan alat bantu (kateter). Frekuensi BAB 1x sehari, warna feses coklat, konsistensi lunak, tidak ada penggunaan laxatif, tidak ada keluhan saat BAB. 5. Kebutuhan istirahat dan tidur: Keluarga pasien mengatakan semenjak masuk rumah sakit lama tidur siang pasien 1 jam, lama tidur malam 3 jam, pasien mengatakan sering terbangun saat tidur malam karena merasa tidak nyaman dengan penyakitnya yaitu stroke sehingga struktur otak yang mengatur tidur pasien menjadi terganggu, mengeluh tidak puas tidur karena pasien merasa gelisah dengan kebisingan yang diakibatkan oleh jumlah pengunjung yang menjenguk pasien maupun pasien lain, pasien merasa tidak segar saat bangun tidur, pasien tampak menguap, pasien tampak mengantuk. 6. Kebutuhan aktivitas mobilisasi: Pasien mengatakan lemah otot bagian kiri, personal hygine dibantu keluarga, kemampuan berjalan terbatas, pemenuhan kebutuhan makan dibantu keluarga, pemenuhan kebutuhan aktivitas dan mobilisasi terganggu. 7. Kebutuhan rasa nyaman: Pasien mengatakan tidak ada rasa nyeri dan tidak ada perasaan mual muntah. 8. Kebutuhan personal hygiene : Pasien mengatakan frekuensi mandi 2x sehari dengan cara di lap, waktu mandi pagi dan sore, frekuensi oral hygiene 2x sehari, frekuensi cuci rambut tidak ada, frekuensi ganti baju 2x sehari, pemenuhan kebutuhan personal hygiene dibantu keluarga. Hasil Pemeriksaan Fisik 1. Pemeriksaan Fisik Umum : Keadaan umum lemah, tingkat kesadaran composmentis, BB 68 kg, TB 170 cm, IMT 23,5. 2. Kepala : bentuk normocephali, distribusi rambut merata, tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan. 3. Mata : Posisi mata asimetris, konjungtiva anemis, pupil reaktif terhadap cahaya, penglihatan pada mata sebelah kiri sedikit buram, tidak ada tanda-tanda radang. 4. Hidung : Posisi simetris, tidak ada deviasi septum, tidak ada nyeri tekan 5. Mulut : bibir asimetris, mukosa lembab, refleks mengunyah kurang baik, 6. Telinga : Daun telinga simetris, tidak ada lesi, tidak ada cairan dari telinga, fungsi pendengaran baik, tidak menggunakan alat bantu pendengaran. 7. Leher : tidak ada benjolan, tidak ada JVD, Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid 8. Dada : Paru : Frekuensi RR 20x/menit, irama teratur, tidak terdapat penggunaan otot bantu pernapasan, Perkusi sonor, suara nafas vesikuler pada semua lapang paru Jantung: tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan, ictus cordis teraba pada ICS 5 mid clavicula (s), bunyi jantung S1S2 tunggal, tidak ada bunyi tambahan 9. Abdomen: bentuk flat, tampak bekas luka penyuntikan insulin disekitar umbilikus warna kecoklatan, Auskultasi: bising usus 16 kali per menit, tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolah abnormal, perkusi timpani. 10. Genetalia: tidak ada nyeri, tidaka da kemerahan. 11. Ekstremitas: lengkap kiri dan kanan. Kekuatan otot tangan dan kaki kanan 5 (dapat melawan tekanan pemeriksaan dengan kekuatan penuh), Kekuatan otot tangan kiri 1 (terlihat ada kontraksi tetapi tidak ada gerakan sendi), kekuatan otot kaki kiri 0 (tidak ada kontraksi sama sekali). Tidak ada edema pada kedua ekstremitas Riwayat psikososial dan spiritual Pasien mengatakan keluarga terdekat pasien adalah istri pasien, interaksi dalam keluarga baik, pembuatan keputusan dengan musyawarah, tidak ada dampak penyakit pasien pada keluarga, mekanisme koping terhadap masalah baik, hal yang dipikirkan saat ini adalah pasien ingin segera sembuh, dan melakukan aktivitas seperti biasanya. Aktivitas agama seperti sholat masih tetap dilakukan. Hasil Pemeriksaan Penunjang: GDS : 110 mg/dL Hb: 14,6 g/dL Hematokrit : 42% Leukosit: 8.600 iu Trombosit: 209.000 iu Kolestrol total : 192 mg/dL LDL cholesterol : 131 mg/dL HDL cholesterol: 50 mg/dL Trigliserida : 81 mg/dL Uric acid : 6,7 mg/dL
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, dapat disimpulkan bahwa pasien Tn. S mengalami kondisi stroke iskemik. Berikut adalah diagnosa keperawatan, penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi tersebut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakstabilan neurovaskular berhubungan dengan gangguan aliran darah otak.
2. Mobilitas fisik terganggu berhubungan dengan kelemahan otot hemiparese.
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan kecemasan akibat kondisi penyakit.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Ketidakstabilan neurovaskular:
- Definisi: Gangguan dalam regulasi sistem saraf dan vaskular yang menyebabkan perubahan perfusi jaringan.
- Penyebab: Gangguan aliran darah, edema, vasospasme.
- Karakteristik: Perubahan status mental, defisit neurologis, perubahan tanda-tanda vital.
2. Mobilitas fisik terganggu:
- Definisi: Keterbatasan dalam melakukan pergerakan yang disengaja dan terarah dari sebagian atau seluruh tubuh.
- Penyebab: Gangguan neuromuskuloskeletal, penurunan kekuatan otot, penurunan kapasitas fisik.
- Karakteristik: Keterbatasan rentang gerak, kelemahan otot, ketidakmampuan melakukan aktivitas.
3. Gangguan pola tidur:
- Definisi: Perubahan dalam kuantitas dan kualitas tidur yang menyebabkan distres dan gangguan fungsi.
- Penyebab: Ansietas, nyeri, ketidaknyamanan.
- Karakteristik: Sulit memulai tidur, sering terbangun, tidur tidak restoratif.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Stabilitas neurologis
2. Mobilitas
3. Kualitas tidur
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen hipertensi
2. Manajemen mobilitas
3. Manajemen pola tidur
Penjelasan singkat:
1. Pasien mengalami gangguan aliran darah otak yang menyebabkan kelemahan pada anggota gerak kiri (hemiparese). Ini membutuhkan intervensi untuk menstabilkan kondisi neurologis dan memulihkan mobilitas.
2. Pasien juga mengalami gangguan pola tidur akibat kecemasan terhadap kondisinya. Intervensi diperlukan untuk mengelola pola tidur yang terganggu.
3. Riwayat hipertensi pasien juga perlu dipertimbangkan dalam perencanaan intervensi keperawatan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. -
Article No. 839 | 28 Sep 2024
Klinis : Ny. X adalah pasien CAD 3VD post operasi CABG pada 2 minggu yang lalu. Saat ini Ny. X mengeluh tenggorokan gatal dan suara serak sejak operasi hingga saat ini.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan kondisi yang digambarkan, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis:
1. Kode ICD-10:
- Kode: I25.10
- Deskripsi: Penyakit arteri koroner aterosklerotik dengan angina tak stabil
2. Kode ICD-9-CM (jika ada):
- Kode: 36.10
- Deskripsi: Pembedahan bypass arteri koroner, tidak ditentukan, dengan grafting tulang
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 I25.10 (Penyakit arteri koroner aterosklerotik dengan angina tak stabil) menggambarkan kondisi Ny. X yang menderita penyakit jantung koroner dengan angina tak stabil, yang kemudian menjalani operasi bypass arteri koroner (CABG).
2. Kode ICD-9-CM 36.10 (Pembedahan bypass arteri koroner, tidak ditentukan, dengan grafting tulang) menggambarkan prosedur pembedahan bypass arteri koroner yang telah dilakukan pada Ny. X, di mana prosedur tersebut dilakukan dengan menggunakan graft atau jaringan tulang.
Terkait dengan keluhan tenggorokan gatal dan suara serak yang dialami oleh Ny. X, hal ini dapat terkait dengan komplikasi pasca operasi CABG, seperti iritasi atau inflamasi pada saluran pernapasan bagian atas akibat tindakan intubasi atau parut operasi. Namun, untuk memberikan kode diagnosis yang lebih spesifik, diperlukan evaluasi dan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter yang menangani Ny. X. -
Article No. 840 | 28 Sep 2024
Klinis : Ny. X adalah pasien CAD 3VD post operasi CABG pada 2 minggu yang lalu. Saat ini Ny. X mengeluh tenggorokan gatal dan suara serak sejak operasi hingga saat ini.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang diderita Ny. X, yaitu pasien CAD 3VD post operasi CABG dengan keluhan tenggorokan gatal dan suara serak sejak operasi, berikut adalah Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI yang dapat dipertimbangkan:
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Pola Suara
- Definisi: Perubahan dalam kualitas, pitch, volume, atau kemampuan untuk menghasilkan suara yang disebabkan oleh faktor fisik, psikologis, atau lingkungan.
- Faktor Terkait: Prosedur invasif, proses penyakit.
- Gejala dan Tanda: Suara serak, suara rendah, suara parau, susah bicara.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Karakteristik Utama: Perubahan dalam kualitas, pitch, volume, atau kemampuan untuk menghasilkan suara.
- Faktor Terkait: Trauma pada struktur suara (misalnya, trakea, laring), proses penyakit, reaksi terhadap obat-obatan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang Diharapkan: Klien mendemonstrasikan perbaikan dalam kualitas, pitch, volume, atau kemampuan untuk menghasilkan suara.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi Keperawatan:
1. Manajemen Jalan Napas: Memantau status pernapasan dan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi jalan napas.
2. Terapi Suara: Memberikan intervensi untuk meningkatkan kualitas suara klien.
3. Edukasi Kesehatan: Memberikan informasi tentang penyebab dan manajemen gangguan pola suara.
Penjelasan Singkat:
Ny. X mengalami gangguan pola suara dalam bentuk suara serak sejak operasi CABG yang dilakukan 2 minggu lalu. Hal ini dapat disebabkan oleh trauma pada struktur suara akibat prosedur invasif selama operasi. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen jalan napas untuk memantau status pernapasan, terapi suara untuk memperbaiki kualitas suara, dan edukasi kesehatan agar Ny. X dapat memahami penyebab dan cara mengelola gangguan pola suaranya. -
Article No. 841 | 28 Sep 2024
Klinis : Gangguan pola suara nomor sdki
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, akan saya berikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI untuk kondisi gangguan pola suara.
Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Pola Suara (SDKI Kode: 10053)
Definisi:
Perubahan dalam kualitas, volume, nada, atau artikulasi suara yang mengganggu komunikasi verbal.
Penyebab:
1. Anatomi dan fisiologi sistem pernapasan yang tidak normal
2. Penyakit atau cedera pada struktur atau fungsi pita suara
3. Faktor psikologis, seperti kecemasan atau depresi
4. Penggunaan obat-obatan tertentu
Gejala/Karakteristik:
1. Perubahan kualitas suara (serak, kasar, rendah, atau tidak stabil)
2. Perubahan volume suara (terlalu keras atau terlalu pelan)
3. Perubahan nada suara (terlalu tinggi atau terlalu rendah)
4. Kesulitan menghasilkan suara atau berbicara
Penjelasan Singkat SDKI-SLKI-SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
SDKI merupakan standar yang digunakan dalam proses pengkajian dan penentuan diagnosis keperawatan yang relevan dengan kondisi pasien. Dalam kasus ini, SDKI mengategorikan "Gangguan Pola Suara" sebagai salah satu diagnosis keperawatan yang dapat digunakan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
SLKI adalah standar yang digunakan untuk menentukan luaran atau hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan. Untuk kasus gangguan pola suara, beberapa luaran yang dapat ditetapkan antara lain: perbaikan kualitas suara, peningkatan kemampuan berkomunikasi, dan peningkatan kepuasan pasien terhadap kemampuan komunikasi.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
SIKI adalah standar yang digunakan untuk menentukan intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mencapai luaran yang diharapkan. Untuk kasus gangguan pola suara, intervensi yang dapat dilakukan antara lain: terapi suara, pengaturan postur tubuh, pelatihan artikulasi, dan pemberian konseling atau dukungan psikologis. -
Article No. 842 | 28 Sep 2024
Klinis : SIKI untuk gangguan pola suara
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi gangguan pola suara:
Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Pola Suara
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Gangguan Pola Suara didefinisikan sebagai perubahan kualitas, volume, nada, atau resonansi suara yang menghambat komunikasi efektif.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari asuhan keperawatan pada pasien dengan Gangguan Pola Suara antara lain: Peningkatan komunikasi, Kenyamanan, dan Kemampuan perawatan diri.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi Gangguan Pola Suara meliputi:
1. Manajemen Vokal: Mengidentifikasi faktor penyebab, Mengajarkan teknik vokal, Menyediakan alat bantu suara, Merujuk ke ahli terapi wicara.
2. Manajemen Nyeri: Menilai nyeri, Mengatur posisi, Memberikan analgesik.
3. Edukasi Kesehatan: Memberikan informasi tentang gangguan pola suara, Mengajarkan teknik menjaga kesehatan suara.
Dalam praktik keperawatan, perawat dapat menggunakan SDKI, SLKI, dan SIKI sebagai panduan untuk melakukan pengkajian, merumuskan diagnosis, menetapkan luaran, dan menentukan intervensi yang sesuai dengan kondisi pasien. -
Article No. 843 | 28 Sep 2024
Klinis : SIKI untuk gangguan pola suara OTEK
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi gangguan pola suara Otitis Externa (OTEK), berikut merupakan Diagnosa Keperawatan, penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan:
Gangguan pola suara berhubungan dengan edema dan inflamasi telinga luar.
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Gangguan pola suara adalah kondisi di mana pasien mengalami perubahan kualitas, intensitas, atau kemampuan menghasilkan suara.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan pada pasien dengan gangguan pola suara adalah pemulihan pola suara normal.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan pada pasien dengan gangguan pola suara OTEK meliputi:
1. Manajemen nyeri: Mengidentifikasi dan mengelola nyeri telinga yang terkait dengan OTEK.
2. Perawatan telinga: Membersihkan dan merawat telinga luar yang terkena infeksi.
3. Edukasi kesehatan: Memberikan informasi tentang penyebab, gejala, dan penanganan OTEK.
4. Manajemen infeksi: Memantau tanda-tanda infeksi dan memberikan pengobatan sesuai indikasi.
5. Dukungan psikologis: Membantu pasien beradaptasi dengan perubahan pola suara akibat OTEK.
Dengan penerapan intervensi keperawatan yang tepat, diharapkan pasien dapat memulihkan pola suara normal dan mencegah komplikasi yang lebih parah. -
Article No. 844 | 28 Sep 2024
Klinis : SDKI gangguan pola suara nomor
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi gangguan pola suara:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Gangguan Pola Suara
Definisi:
Perubahan dalam kualitas, intensitas, nada atau artikulasi suara yang menyimpang dari normal.
Karakteristik Utama:
- Perubahan dalam kualitas suara (misalnya serak, kasar, gemetar)
- Perubahan dalam intensitas suara (misalnya suara lemah, berbisik)
- Perubahan dalam nada suara (misalnya suara monoton, terlalu tinggi/rendah)
- Perubahan dalam artikulasi (misalnya sulit berbicara, tidak jelas)
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Pemulihan Pola Suara
Tujuan: Klien menunjukkan pemulihan pola suara yang normal.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Asesmen Fungsi Suara
- Identifikasi karakteristik pola suara klien
- Identifikasi faktor penyebab gangguan pola suara
2. Manajemen Gangguan Pola Suara
- Ajarkan teknik untuk memulihkan pola suara (misalnya latihan vokal, relaksasi)
- Kolaborasi dengan terapi wicara jika diperlukan
- Berikan edukasi terkait perawatan suara (misalnya menghindari iritasi, menjaga hidrasi)
3. Monitoring dan Evaluasi
- Pantau perubahan pola suara klien
- Evaluasi efektivitas intervensi yang diberikan
Penjelasan Singkat:
Gangguan pola suara merupakan kondisi di mana terjadi perubahan dalam kualitas, intensitas, nada, atau artikulasi suara yang menyimpang dari normal. Diagnosa ini memerlukan asesmen fungsi suara, manajemen gangguan pola suara, serta monitoring dan evaluasi untuk mencapai pemulihan pola suara yang normal. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi identifikasi karakteristik pola suara, identifikasi faktor penyebab, pemberian edukasi, dan kolaborasi dengan terapi wicara jika diperlukan. -
Article No. 845 | 28 Sep 2024
Klinis : SDKI gangguan pola suara kode
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI untuk kondisi gangguan pola suara:
1. Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Pola Suara (SDKI kode: 07040)
2. Penjelasan singkat:
a. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Gangguan Pola Suara merupakan diagnosa keperawatan yang digunakan untuk menggambarkan kondisi individu dengan perubahan pada kualitas, intensitas, atau karakter suara yang mengganggu komunikasi.
- Karakteristik definisi dari Gangguan Pola Suara mencakup beberapa aspek, seperti perubahan pada pitch, volume, atau kekuatan suara, suara serak, atau perubahan pada kemampuan berbicara.
b. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan dari Gangguan Pola Suara adalah peningkatan kemampuan berbicara dan komunikasi, perbaikan kualitas suara, serta pencapaian kemampuan vokalisasi yang optimal.
- Contoh luaran spesifik yang dapat diukur, seperti pasien dapat berbicara dengan volume dan pitch yang sesuai, serta dapat menyampaikan pesan secara efektif.
c. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi Gangguan Pola Suara meliputi terapi vokal, latihan pernapasan, dan pemberian edukasi terkait perawatan suara.
- Contoh intervensi spesifik, seperti latihan teknik pernapasan diafragma, latihan artikulasi, serta pemberian informasi mengenai penggunaan suara yang tepat dan perawatan suara.
Dalam praktik keperawatan, diagnosa, luaran, dan intervensi ini dapat disesuaikan dengan kondisi spesifik pasien dan digunakan sebagai panduan dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif. -
Article No. 846 | 28 Sep 2024
Klinis : SDKI gangguan pola suara kode 07040 atau 10053
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi gangguan pola suara dengan kode 07040 atau 10053:
Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Pola Suara
Penjelasan singkat:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Kode: 07040 atau 10053
- Definisi: Perubahan dalam kualitas, pitch, volume, atau ketepatan suara yang mempengaruhi komunikasi dan interaksi.
- Karakteristik Utama: Perubahan suara, misalnya serak, suara parau, suara monoton, suara bergetar, atau suara rendah.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang Diharapkan: Pasien dapat mempertahankan pola suara yang efektif.
- Indikator Hasil: Pasien menunjukkan kemampuan berkomunikasi secara efektif, pasien menunjukkan kemampuan untuk berbicara dengan jelas, pasien menunjukkan perbaikan dalam kualitas suara.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi Keperawatan: Manajemen Terapi Wicara, Terapi Suara, Teknik Komunikasi.
- Tujuan Intervensi: Mempertahankan atau meningkatkan pola suara yang efektif, meningkatkan kemampuan berkomunikasi, dan mengurangi gangguan dalam pola suara.
- Aktivitas Keperawatan: Melakukan evaluasi pola suara, mengidentifikasi penyebab gangguan pola suara, memberikan terapi wicara atau terapi suara, mengajarkan teknik komunikasi efektif, dan memantau efektivitas intervensi.
Dalam praktiknya, perawat akan melakukan pengkajian komprehensif, menetapkan diagnosa keperawatan, merencanakan, dan melaksanakan intervensi yang tepat untuk membantu pasien dalam mengatasi gangguan pola suara dan mempertahankan kemampuan komunikasi yang efektif. -
Article No. 847 | 28 Sep 2024
Klinis : SDKI gangguan pola suara kode 07040 atau 10053 yang benar
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Pola Suara
Definisi:
Gangguan dalam produksi suara yang menyebabkan perubahan kualitas, volume, atau resonansi suara.
Penjelasan:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Kode SDKI: 07040 atau 10053
- Definisi: Perubahan dalam produksi suara yang menyebabkan perubahan kualitas, volume, atau resonansi suara.
- Karakteristik Definisi:
- Perubahan suara (serak, serak, berbisik, atau bergetar)
- Perubahan volume suara (peningkatan atau penurunan volume)
- Perubahan resonansi suara (nasal atau hipernasalitas)
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Tujuan Keperawatan: Klien menunjukkan pola suara yang efektif.
- Kriteria Hasil:
- Klien menunjukkan suara yang jelas dan lancar
- Klien menunjukkan volume suara yang sesuai
- Klien menunjukkan resonansi suara yang baik
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi Keperawatan:
- Manajemen Pola Suara
- Terapi Suara
- Edukasi Kesehatan
- Aktivitas Keperawatan:
- Mengevaluasi pola suara klien
- Mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pola suara
- Memberikan latihan pernafasan dan teknik fonasi
- Mengajarkan teknik penggunaan suara yang efektif
- Memberikan edukasi kepada klien dan keluarga tentang gangguan pola suara
Dalam kasus ini, diagnosis keperawatan yang sesuai adalah "Gangguan Pola Suara" dengan kode SDKI 07040 atau 10053. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan meliputi manajemen pola suara, terapi suara, dan edukasi kesehatan untuk membantu klien mencapai pola suara yang efektif.