Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 22875 | 19 Nov 2025
Klinis : Pasien Ny. Sunarti berusia 43 tahun dirawat di ruang rawat inap Sumbadra (akut) RSJD dr. Arif Zainuddin dengan diagnosa medis Skizofrenia tak terdiferensiasi (F20.3). Pasien rawat ulang dari Blora dengan onset 20 tahun dan tidak rutin kontrol obat. Putra kedua Ny. Sunarti telah meninggal dunia setelah 3 hari dilahirkan. Pada hari saat dilakukan pengkajian merupakan hari ke 2 pasien dirawat di ruang Sumbadra. Pasien dibawa ke RSJD oleh tetangga dan dokter spesialis jiwa dari Puskesmas Jiken dengan alasan mengamuk, marah-marah, merusak barang dan meresahkan warga. Sebelum dibawa ke RSJD pasien mendapat injeksi diazepam 1amp IV dan 1 amp IM dari Puskesmas setempat. Hasil pengkajian pada tanggal 14 November 2025 jam 07.00 WIB didapati, pasien tampak bingung, verbal keras, cepat, dan kacau. Pasien tampak kesal, mondar-mandir, dan sesekali berbicara sendiri. Pasien mengatakan sering melihat Sardi (tentara) ingin membunuhnya. Respon pasien adalah marah, mengamuk, mencak-mencak, dan melempar barang. Hasil pemeriksaan tanda vital didapatkan; tekanan darah 108/87; nadi 90x/menit; suhu 36,7°C; pernapasan 20x/menit; SpO2 99%. Terapi psikofarmako yang diperoleh Ny. Sunarti adalah: risperidone 2x3mg, THP 2x2mg, CP2 2x100mg.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Perilaku Kekerasan
Kode SDKI: D.0035
Deskripsi Singkat: Perilaku Kekerasan adalah keadaan di mana seorang individu menunjukkan perilaku yang dapat menyebabkan kerusakan fisik dan psikologis, baik terhadap diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Pada kasus Ny. Sunarti, kondisi ini sangat jelas terlihat dari data pengkajian yang menunjukkan ia mengamuk, marah-marah, merusak barang, mencak-mencak, dan melempar barang. Perilaku ini didorong oleh gejala psikotik aktif, khususnya halusinasi penglihatan dan mungkin juga persepsi delusional bahwa ada orang (Sardi, sang tentara) yang ingin membunuhnya. Persepsi yang terdistorsi ini menimbulkan rasa takut, ancaman, dan kemarahan yang sangat besar, yang kemudian diekspresikan melalui perilaku kekerasan sebagai bentuk pertahanan diri. Faktor pencetus lain termasuk riwayat duka cita yang tidak terselesaikan (kematian putra kedua) dan ketidakpatuhan minum obat yang menyebabkan kekambuhan. Perilaku kekerasan bukan hanya merupakan ancaman bagi keselamatan orang lain dan perawat, tetapi juga merupakan indikasi dari penderitaan dan disorganisasi mental yang parah pada pasien, yang memerlukan intervensi segera untuk menciptakan rasa aman dan menurunkan agitasi.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : SLKI L.03115 berfokus pada pengendalian perilaku kekerasan. Tujuan utamanya adalah agar pasien dapat mengendalikan perilaku kekerasannya. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: (1) Pasien tidak menyakiti diri sendiri atau orang lain, yang merupakan prioritas utama dalam manajemen keperawatan. (2) Pasien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan, dalam hal ini adalah halusinasi dan ide delusional yang dialaminya. (3) Pasien dapat mengungkapkan perasaan marah dan kesal secara verbal yang konstruktif, bukan melalui tindakan fisik. (4) Pasien dapat menunjukkan perilaku yang dapat diterima secara sosial dan tidak merusak lingkungan sekitarnya. (5) Pasien dapat menggunakan strategi koping adaptif untuk mengelola amarah dan ansietasnya, seperti meminta waktu sendiri atau berbicara dengan perawat ketika merasa kesal. Pada Ny. Sunarti, pencapaian kriteria ini akan ditandai dengan berkurangnya intensitas dan frekuensi marah-marah, berhentinya aksi melempar dan merusak barang, serta kemampuan untuk berkomunikasi tentang halusinasinya tanpa langsung bereaksi dengan kekerasan.
Kode SIKI: I.03259
Deskripsi : SIKI I.03259 merupakan intervensi keperawatan untuk mengelola perilaku kekerasan. Intervensi ini bersifat komprehensif dan meliputi beberapa tindakan kunci: (1) Mengidentifikasi faktor-faktor yang memicu perilaku kekerasan pada pasien. Dari kasus, pemicunya adalah halusinasi visual tentang "Sardi" dan mungkin juga kondisi lingkungan yang dirasakan mengancam. (2) Memindahkan benda-benda yang berpotensi membahayakan dari sekitar pasien untuk meminimalkan risiko cedera. (3) Menempatkan pasien di ruangan yang tenang dan minim stimulasi untuk mengurangi agitasi dan kecemasan. (4) Menggunakan pendekatan yang tenang dan tidak mengancam saat berinteraksi dengan pasien. Perawat harus berbicara dengan suara lembut, nada rendah, dan bahasa tubuh yang netral. (5) Memberikan pengobatan sesuai program terapi (dalam hal ini risperidone, THP, dan CPZ) dan memantau efek serta efek sampingnya. (6) Mengajarkan teknik relaksasi, seperti latihan napas dalam, untuk membantu pasien menenangkan diri saat merasa gelisah. (7) Melibatkan pasien dalam aktivitas terapeutik yang menyalurkan energi secara positif. (8) Melakukan observasi ketat dan kontinu terhadap perilaku pasien untuk mengantisipasi eskalasi kekerasan. Intervensi ini tidak hanya bersifat restriktif, tetapi juga terapeutik, bertujuan untuk membantu pasien mendapatkan kembali kendali atas perilakunya dan memahami pengalaman internalnya.
-
Article No. 22876 | 19 Nov 2025
Klinis : Pasien Ny. Sunarti berusia 43 tahun dirawat di ruang rawat inap Sumbadra (akut) RSJD dr. Arif Zainuddin dengan diagnosa medis Skizofrenia tak terdiferensiasi (F20.3). Pasien rawat ulang dari Blora dengan onset 20 tahun dan tidak rutin kontrol obat. Putra kedua Ny. Sunarti telah meninggal dunia setelah 3 hari dilahirkan. Pada hari saat dilakukan pengkajian merupakan hari ke 2 pasien dirawat di ruang Sumbadra. Pasien dibawa ke RSJD oleh tetangga dan dokter spesialis jiwa dari Puskesmas Jiken dengan alasan mengamuk, marah-marah, merusak barang dan meresahkan warga. Sebelum dibawa ke RSJD pasien mendapat injeksi diazepam 1amp IV dan 1 amp IM dari Puskesmas setempat. Hasil pengkajian pada tanggal 14 November 2025 jam 07.00 WIB didapati, pasien tampak bingung, verbal keras, cepat, dan kacau. Pasien tampak kesal, mondar-mandir, dan sesekali berbicara sendiri. Pasien mengatakan sering melihat Sardi (tentara) ingin membunuhnya. Respon pasien adalah marah, mengamuk, mencak-mencak, dan melempar barang. Hasil pemeriksaan tanda vital didapatkan; tekanan darah 108/87; nadi 90x/menit; suhu 36,7°C; pernapasan 20x/menit; SpO2 99%. Terapi psikofarmako yang diperoleh Ny. Sunarti adalah: risperidone 2x3mg, THP 2x2mg, CP2 2x100mg.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html
Diagnosa Keperawatan, SDKI, SLKI, dan SIKI Berdasarkan Kondisi Pasien Ny. Sunarti
Ringkasan Kondisi Pasien Ny. Sunarti
Ny. Sunarti, 43 tahun, dirawat di RSJD dr. Arif Zainuddin dengan diagnosa medis Skizofrenia tak terdiferensiasi (F20.3). Pasien memiliki riwayat onset 20 tahun dan tidak rutin kontrol obat. Riwayat trauma kehilangan putra kedua setelah 3 hari dilahirkan. Pasien dibawa ke RSJD karena mengamuk, marah-marah, merusak barang, dan meresahkan warga. Pada pengkajian hari ke-2 perawatan (14 November 2025), pasien tampak bingung, verbal keras, cepat, dan kacau. Pasien tampak kesal,
Article No. 22877 | 19 Nov 2025
Klinis : Pasien berusia 43 tahun dirawat di ruang rawat inap Sumbadra (akut) RSJD dr. Arif Zainuddin dengan diagnosa medis Skizofrenia tak terdiferensiasi (F20.3). Pasien rawat ulang dari Blora dengan onset 20 tahun dan tidak rutin kontrol obat. Putra kedua Ny. Sunarti telah meninggal dunia setelah 3 hari dilahirkan. Pada hari saat dilakukan pengkajian merupakan hari ke 2 pasien dirawat di ruang Sumbadra. Pasien dibawa ke RSJD oleh tetangga dan dokter spesialis jiwa dari Puskesmas Jiken dengan alasan mengamuk, marah-marah, merusak barang dan meresahkan warga. Sebelum dibawa ke RSJD pasien mendapat injeksi diazepam 1amp IV dan 1 amp IM dari Puskesmas setempat. Hasil pengkajian pada tanggal 14 November 2025 jam 07.00 WIB didapati, pasien tampak bingung, verbal keras, cepat, dan kacau. Pasien tampak kesal, mondar-mandir, dan sesekali berbicara sendiri. Pasien mengatakan sering melihat Sardi (tentara) ingin membunuhnya. Respon pasien adalah marah, mengamuk, mencak-mencak, dan melempar barang. Hasil pemeriksaan tanda vital didapatkan; tekanan darah 108/87; nadi 90x/menit; suhu 36,7°C; pernapasan 20x/menit; SpO2 99%. Terapi psikofarmako yang diperoleh Ny. Sunarti adalah: risperidone 2x3mg, THP 2x2mg, CP2 2x100mg.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi Keperawatan Berdasarkan SDKI, SLKI, SIKI
Berdasarkan data pengkajian pada Ny. Sunarti, 43 tahun, dengan diagnosa medis Skizofrenia tak terdiferensiasi (F20.3) yang menunjukkan perilaku mengamuk, marah-marah, merusak barang, meresahkan warga, serta halusinasi visual ("melihat Sardi (tentara) ingin membunuhnya"), maka diagnosa keperawatan utama yang dapat ditegakkan adalah Perilaku Kekerasan yang berhubungan dengan Halusinasi (Persepsi Sensori Terganggu).
1. Diagnosa Keperawatan (SDKI)
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) adalah panduan yang digunakan perawat untuk menegakkan diagnosis keperawatan berdasarkan data klinis pasien. Diagnosis keperawatan ini menggambarkan respons manusia terhadap masalah kesehatan aktual atau potensial.
Komponen
Detail
Kode SDKI
D.0143
Definisi
Perilaku Kekerasan adalah tindakan agresif yang diarahkan pada diri sendiri, orang lain, atau lingkungan, yang dapat menyebabkan cedera fisik atau psikologis. Pada kasus Ny. Sunarti, perilaku ini dimanifestasikan melalui mengamuk, marah-marah, merusak barang, meresahkan warga, serta melempar barang.
Penyebab (Etiologi)
Halusinasi (Persepsi Sensori Terganggu). Pasien mengatakan "sering melihat Sardi (tentara) ingin membunuhnya", yang memicu respons marah, mengamuk, mencak-mencak, dan melempar barang. Halusinasi merupakan gangguan persepsi sensori yang menyebabkan individu mengalami sensasi tanpa adanya stimulus eksternal yang nyata, dan seringkali menjadi pemicu perilaku kekerasan pada pasien skizofrenia.
Data Mayor (Subjektif & Objektif)
- Subjektif: Pasien mengatakan "sering melihat Sardi (tentara) ingin membunuhnya".
- Objektif:
- Mengamuk, marah-marah, merusak barang, meresahkan warga (riwayat).
- Tampak bingung, verbal keras, cepat, dan kacau.
-
Article No. 22878 | 19 Nov 2025
Klinis : Pasien berusia 43 tahun dirawat di ruang rawat inap Sumbadra (akut) RSJD dr. Arif Zainuddin dengan diagnosa medis Skizofrenia tak terdiferensiasi (F20.3). Pasien rawat ulang dari Blora dengan onset 20 tahun dan tidak rutin kontrol obat. Putra kedua pasien telah meninggal dunia setelah 3 hari dilahirkan. Pada hari saat dilakukan pengkajian merupakan hari ke 2 pasien dirawat di ruang Sumbadra. Pasien dibawa ke RSJD oleh tetangga dan dokter spesialis jiwa dari Puskesmas Jiken dengan alasan mengamuk, marah-marah, merusak barang dan meresahkan warga. Sebelum dibawa ke RSJD pasien mendapat injeksi diazepam 1amp IV dan 1 amp IM dari Puskesmas setempat. Hasil pengkajian pada tanggal 14 November 2025 jam 07.00 WIB didapati, pasien tampak bingung, verbal keras, cepat, dan kacau. Pasien tampak kesal, mondar-mandir, dan sesekali berbicara sendiri. Pasien mengatakan sering melihat tentara ingin membunuhnya. Respon pasien adalah marah, mengamuk, mencak-mencak, dan melempar barang. Hasil pemeriksaan tanda vital didapatkan; tekanan darah 108/87; nadi 90x/menit; suhu 36,7°C; pernapasan 20x/menit; SpO2 99%. Terapi psikofarmako yang diperoleh Ny. Sunarti adalah: risperidone 2x3mg, THP 2x2mg, CP2 2x100mg.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang pakar keperawatan, berdasarkan data pengkajian yang telah disampaikan, pasien Ny. Sunarti menunjukkan gejala dan tanda yang sangat relevan dengan diagnosis keperawatan jiwa. Prioritas utama adalah mengatasi risiko perilaku kekerasan yang dapat membahayakan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan
-
Article No. 22879 | 19 Nov 2025
Klinis : Pasien berusia 43 tahun dirawat di ruang rawat inap Sumbadra (akut) RSJD dr. Arif Zainuddin dengan diagnosa medis Skizofrenia tak terdiferensiasi (F20.3). Pasien rawat ulang dari Blora dengan onset 20 tahun dan tidak rutin kontrol obat. Putra kedua pasien telah meninggal dunia setelah 3 hari dilahirkan. Pada hari saat dilakukan pengkajian merupakan hari ke 2 pasien dirawat di ruang Sumbadra. Pasien dibawa ke RSJD oleh tetangga dan dokter spesialis jiwa dari Puskesmas Jiken dengan alasan mengamuk, marah-marah, merusak barang dan meresahkan warga. Sebelum dibawa ke RSJD pasien mendapat injeksi diazepam 1amp IV dan 1 amp IM dari Puskesmas setempat. Hasil pengkajian pada tanggal 14 November 2025 jam 07.00 WIB didapati, pasien tampak bingung, verbal keras, cepat, dan kacau. Pasien tampak kesal, mondar-mandir, dan sesekali berbicara sendiri. Pasien mengatakan sering melihat Sardi (tentara) ingin membunuhnya. Pasien mengatakan mendengar suara yang mengancam ingin membunuhnya. Pasien mengatakan tersinggung dengan tuduhan tetangga yang mengatakan bahwa ia memiliki hutang dan suka main dengan laki-laki sampai malam hari, padahal yang dilakukan adalah mengikuti kumpulan pengajian didaerah yang cukup jauh. Respon pasien adalah marah, mengamuk, mencak-mencak, dan melempar barang. Hasil pemeriksaan tanda vital didapatkan; tekanan darah 108/87; nadi 90x/menit; suhu 36,7°C; pernapasan 20x/menit; SpO2 99%. Terapi psikofarmako yang diperoleh Ny. Sunarti adalah: risperidone 2x3mg, THP 2x2mg, CP2 2x100mg.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html