Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 21280 | 31 Aug 2025
Klinis : Pasien mengatakan bahwa ia memiliki riwayat hipertensi selama 5 tahun terakhir yang tidak terkontrol dengan baik. Selain itu, pasien juga mengungkapkan bahwa ia merokok 10 batang sehari sejak usia 20 tahun, namun telah berhenti merokok sejak 2 tahun yang lalu. Pasien mengatakan bahwa ayahnya meninggal akibat serangan jantung pada usia 58, yang menunjukkan adanya faktor genetik yang dapat berkontribusi pada peningkatan risiko penyakit jantung koroner (PJK) pada dirinya Pasien makanan tinggi lemak dan garam, dengan frekuensi makan 3 kali sehari. Tidak banyak mengonsumsi buah dan sayur.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang dipaparkan, dapat ditetapkan beberapa diagnosis keperawatan berdasarkan SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
1. Diagnosis Keperawatan:
a. Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh (RKNTB)
- Kode: 00002
- Definisi: Berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
b. Intoleransi Aktivitas (IA)
- Kode: 00092
- Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan akibat keterbatasan fisik dan/atau psikologis.
c. Risiko Perubahan Perfusi Jaringan Kardiovaskular (RPJK)
- Kode: 00096
- Definisi: Berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke jantung dan pembuluh darah yang dapat mengganggu suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan.
2. Penjelasan Singkat:
a. Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh (RKNTB):
Pasien memiliki pola makan yang tidak sehat, dengan tinggi lemak dan garam serta kurang konsumsi buah dan sayur. Hal ini meningkatkan risiko terjadinya ketidakseimbangan nutrisi.
b. Intoleransi Aktivitas (IA):
Riwayat hipertensi yang tidak terkontrol dengan baik dan faktor genetik dari ayah yang meninggal akibat serangan jantung dapat menyebabkan penurunan kemampuan fisik dan psikologis pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
c. Risiko Perubahan Perfusi Jaringan Kardiovaskular (RPJK):
Riwayat hipertensi yang tidak terkontrol dan faktor genetik dari ayah yang meninggal akibat serangan jantung meningkatkan risiko terjadinya perubahan perfusi jaringan kardiovaskular, yang dapat berdampak pada suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan.
Kode dan definisi di atas mengacu pada Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). -
Article No. 21281 | 31 Aug 2025
Klinis : Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun yang sebelumnya sehat, dibawa kerumah sakit karena keluhan pembengkakan pada wajah dan perut kembung selama 3 hari setelah tiga minggu demam yang tidak kunjung sembuh dan perubahan warna urin menjadi kemerahan. Hasil pemeriksaan urin didapatkan hasil protein 2+ dan adanya sel darah merah pada urin. Pemeriksaan lebih lanjut juga menunjukkan anemia (hemoglobin 6,6 g/dl) dan urea 90 mg/dl dan kreatinin serum 4,5 mg/dl. Sebelumnya anak pernah dirawat di ruang perawatan anak RS lainnya, dengan diagnosis glomerulonefritis akut. Namun, urea dan kreatinin serum terus meningkat (Urea: 300 mg/dl dan kreatinin: 6,2 mg/dl) dan anak dipindahkan ke rumah sakit umum rujukan untuk pengobatan lebih lanjut (kemungkinan diperlukan dialysis). Saat masuk, pemeriksaan menunjukkan anak pucat dengan edema ringan pada kedua tungkai kaki, tekanan darah 120/80 mmHg. Anak tidak demam, sedikit takikardi (denyut jantung 115 denyut/menit), dan saturasi 98% di udara ruangan. Tidak ada riwayat nyeri sendi/bengkak atau ruam kulit serta riwayat nyeri dada, sesak napas, hemoptisis, palpitasi, hepatitis, dan perubahan tingkat kesadaran.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan yang sesuai untuk kondisi anak laki-laki berusia 10 tahun dengan keluhan pembengkakan pada wajah, perut kembung, perubahan warna urin, anemia, dan gangguan fungsi ginjal.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Ketidakseimbangan Volume Cairan (+) berhubungan dengan gangguan fungsi ginjal yang ditandai dengan pembengkakan pada wajah dan perut kembung.
2. Intoleransi Aktivitas (+) berhubungan dengan anemia yang ditandai dengan pucat.
3. Risiko Komplikasi (+) berhubungan dengan penyakit ginjal yang ditandai dengan peningkatan urea dan kreatinin serum.
Luaran/Output yang Diharapkan SLKI:
1. Ketidakseimbangan Volume Cairan:
- Tanda-tanda vital stabil
- Tidak ada edema
- Intake dan output cairan seimbang
- Laboratorium (urea, kreatinin, hemoglobin) dalam batas normal
2. Intoleransi Aktivitas:
- Anak mampu berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari sesuai usia
- Anak tidak tampak lelah atau sesak napas saat beraktivitas
- Nilai hemoglobin meningkat
3. Risiko Komplikasi:
- Tidak ada komplikasi terkait penyakit ginjal (misalnya hipertensi, gagal jantung, anemia berat)
- Fungsi ginjal membaik (penurunan kadar urea dan kreatinin serum)
- Tidak memerlukan dialisis
Intervensi Keperawatan SIKI:
1. Ketidakseimbangan Volume Cairan:
- Monitor tanda-tanda vital secara teratur
- Ukur dan catat intake dan output cairan secara akurat
- Batasi asupan cairan dan natrium sesuai rekomendasi
- Berikan diuretik sesuai indikasi
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan terkait penanganan edema
2. Intoleransi Aktivitas:
- Evaluasi toleransi anak terhadap aktivitas
- Atur aktivitas sesuai dengan kemampuan anak
- Berikan bantuan dalam aktivitas sehari-hari sesuai kebutuhan
- Berikan terapi oksigen jika diperlukan
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk meningkatkan asupan nutrisi
3. Risiko Komplikasi:
- Monitor tanda-tanda komplikasi secara teratur
- Berikan obat-obatan sesuai indikasi (misalnya antihipertensi, diuretik, suplemen besi)
- Berikan pendidikan kesehatan kepada anak dan keluarga terkait perawatan penyakit ginjal
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan terkait rencana terapi dialisis jika diperlukan
Penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin di atas telah diberikan. Saya berharap informasi ini dapat membantu Anda dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif untuk anak laki-laki tersebut. Silakan jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut. -
Article No. 21282 | 31 Aug 2025
Klinis : Seorang laki-laki (36 tahun) diantar ke IGD dengan keluhan sesak napas yang meningkat sejak 2 hari yang lalu, dipengaruhi aktifitas dan batuk. Pasien dirujuk dari RS sebelumnya setelah dilakukan Tindakan torakosintesis sebanyak 2 kali dengan total cairan 2500 cc bewarna seperti air teh. Hasil pengkajian di dapatkan: RR: 27x/menit, napas cepat dan dangkal; penggunaan otot bantu napas (+), TD: 123/70 mmHg, HR: 86x/menit, teraba kuat dan teratur, CRT < 2 detik, pasien mengeluh nyeri dada sebelah kiri dengan skala nyeri 6, nyeri sudah diraskan sejak 1 bulan yang lalu dan hilang timbul, suhu 36,50C, kesadaran kompos mentis, pasien tampak tegang dan gelisah, sesekali bertanya apakah penyakitnya masih bisa untuk disembuhkan. Hasil CT Scan dengan kontras dari rumah sakit sebelumnya menggambarkan: tumor paru sinistra dengan efusi pleura sinistra (T4N0M1a).
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi pasien yang dipaparkan, berikut adalah diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai, luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan (SLKI), serta intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran (SIKI):
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas berhubungan dengan adanya efusi pleura yang mengganggu ekspansi paru.
2. Nyeri Kronis berhubungan dengan adanya tumor paru.
3. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas:
- Pasien dapat mempertahankan jalan napas yang efektif.
- Pasien dapat menunjukkan peningkatan kemampuan dalam batuk efektif.
- Pasien dapat menunjukkan perbaikan pada pola napas.
2. Nyeri Kronis:
- Pasien dapat melaporkan penurunan intensitas nyeri.
- Pasien dapat menunjukkan peningkatan kemampuan dalam mengelola nyeri.
- Pasien dapat menunjukkan peningkatan kemampuan dalam beraktivitas.
3. Ansietas:
- Pasien dapat menunjukkan penurunan tingkat ansietas.
- Pasien dapat menunjukkan peningkatan kemampuan dalam mengelola ansietas.
- Pasien dapat menunjukkan peningkatan kemampuan dalam beradaptasi dengan perubahan status kesehatan.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas:
- Lakukan pemantauan tanda-tanda vital secara rutin.
- Anjurkan pasien untuk melakukan teknik batuk efektif.
- Berikan oksigen sesuai indikasi.
- Lakukan suction jika diperlukan.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk penanganan efusi pleura.
2. Nyeri Kronis:
- Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif.
- Berikan terapi analgesik sesuai indikasi.
- Ajarkan pasien teknik manajemen nyeri non-farmakologis.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk penanganan nyeri.
3. Ansietas:
- Lakukan pengkajian tingkat ansietas pasien.
- Beri dukungan emosional dan psikologis.
- Ajarkan teknik relaksasi dan manajemen stres.
- Kolaborasi dengan tim kesehatan mental jika diperlukan.
- Libatkan keluarga dalam proses asuhan keperawatan.
Penjelasan di atas memberikan rincian yang lengkap mengenai diagnosa keperawatan SDKI, luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan (SLKI), serta intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran (SIKI) berdasarkan kondisi pasien yang dipaparkan. Diharapkan informasi ini dapat membantu dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan sesuai dengan kebutuhan pasien. -
Article No. 21283 | 31 Aug 2025
Klinis : Seorang laki-laki (36 tahun) diantar ke IGD dengan keluhan sesak napas yang meningkat sejak 2 hari yang lalu, dipengaruhi aktifitas dan batuk. Pasien dirujuk dari RS sebelumnya setelah dilakukan Tindakan torakosintesis sebanyak 2 kali dengan total cairan 2500 cc bewarna seperti air teh. Hasil pengkajian di dapatkan: RR: 27x/menit, napas cepat dan dangkal; penggunaan otot bantu napas (+), TD: 123/70 mmHg, HR: 86x/menit, teraba kuat dan teratur, CRT < 2 detik, pasien mengeluh nyeri dada sebelah kiri dengan skala nyeri 6, nyeri sudah diraskan sejak 1 bulan yang lalu dan hilang timbul, suhu 36,50C, kesadaran kompos mentis, pasien tampak tegang dan gelisah, sesekali bertanya apakah penyakitnya masih bisa untuk disembuhkan. Hasil CT Scan dengan kontras dari rumah sakit sebelumnya menggambarkan: tumor paru sinistra dengan efusi pleura sinistra (T4N0M1a).
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
1. Gangguan Pertukaran Gas berhubungan dengan efusi pleura sinistra dan gangguan ventilasi sebagaimana ditunjukkan dengan peningkatan frekuensi napas, penggunaan otot bantu napas, dan rasa sesak.
2. Nyeri berhubungan dengan tumor paru sinistra sebagaimana ditunjukkan dengan keluhan nyeri dada skala 6.
3. Kecemasan berhubungan dengan kondisi penyakit yang mengancam jiwa sebagaimana ditunjukkan dengan pasien tampak tegang dan gelisah, serta menanyakan tentang prognosis penyakitnya.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Gangguan Pertukaran Gas:
- Pasien menunjukkan perbaikan pola napas dengan RR 20-24x/menit.
- Pasien menunjukkan pengurangan penggunaan otot bantu napas.
- Pasien menunjukkan saturasi oksigen dalam batas normal (>95%).
2. Nyeri:
- Pasien melaporkan pengurangan skala nyeri dari 6 menjadi 2-3.
- Pasien menunjukkan tanda-tanda vital dalam batas normal.
- Pasien dapat beristirahat dengan nyaman.
3. Kecemasan:
- Pasien mampu mengungkapkan perasaan cemas secara verbal.
- Pasien menunjukkan tanda-tanda fisiologis kecemasan yang menurun.
- Pasien dapat mempertahankan konsentrasi dan fokus selama komunikasi.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Gangguan Pertukaran Gas:
- Pantau tanda-tanda vital dan saturasi oksigen.
- Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan.
- Latih teknik pernapasan yang efektif.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk penanganan efusi pleura.
2. Nyeri:
- Kaji intensitas, lokasi, durasi, dan karakteristik nyeri.
- Berikan analgetik sesuai resep.
- Ajarkan teknik manajemen nyeri non-farmakologis.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk penanganan nyeri.
3. Kecemasan:
- Kaji tingkat kecemasan dan faktor penyebabnya.
- Ciptakan lingkungan yang tenang dan mendukung.
- Berikan informasi yang jelas tentang kondisi dan rencana perawatan.
- Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi.
- Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan.
- Kolaborasi dengan tim medis dan psikolog untuk penanganan kecemasan.
Penjelasan rinci:
Dalam kasus ini, pasien mengalami efusi pleura sinistra dan tumor paru yang menyebabkan gangguan pertukaran gas, nyeri dada, serta kecemasan akan kondisi penyakitnya. Intervensi keperawatan yang diberikan harus berfokus pada mengatasi permasalahan pernapasan, nyeri, dan kecemasan, serta kolaborasi dengan tim medis untuk penanganan medis yang komprehensif. Luaran yang diharapkan adalah perbaikan fungsi pernapasan, pengurangan nyeri, dan manajemen kecemasan yang efektif, sehingga pasien dapat mencapai kualitas hidup yang optimal. -
Article No. 21284 | 31 Aug 2025
Klinis : implementasi keperawatan bersihan jalan nafas
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Dengan hormat, untuk kondisi "implementasi keperawatan bersihan jalan nafas", dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: Z51.81
- Deskripsi: Perawatan penatalaksanaan lainnya
Penjelasan:
Kode ICD-10 Z51.81 "Perawatan penatalaksanaan lainnya" dapat digunakan untuk mengkodekan tindakan keperawatan yang dilakukan untuk membersihkan jalan napas pasien. Meskipun tidak ada kode spesifik untuk "implementasi keperawatan bersihan jalan napas", kode Z51.81 dapat mencakup berbagai intervensi keperawatan yang bertujuan untuk memelihara dan mempertahankan fungsi pernapasan yang optimal.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 93.94
- Deskripsi: Suction of respiratory tract
Penjelasan:
Kode ICD-9-CM 93.94 "Suction of respiratory tract" dapat digunakan untuk mengkodekan tindakan pembersihan jalan napas melalui penyedotan (suction) yang dilakukan sebagai bagian dari intervensi keperawatan. Prosedur ini melibatkan penggunaan alat suction untuk mengeluarkan sekret atau benda asing dari saluran pernapasan pasien, sehingga membantu menjaga kebersihan dan permeabilitas jalan napas.
Dalam praktik klinis, dokter atau perekam medis dapat mempertimbangkan penggunaan kode-kode ini untuk mendokumentasikan secara akurat tindakan keperawatan yang dilakukan untuk membersihkan jalan napas pasien. -
Article No. 21285 | 31 Aug 2025
Klinis : implementasi keperawatan bersihan jalan nafas
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat profesional, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta:
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi implementasi keperawatan bersihan jalan nafas:
Diagnosa Keperawatan yang sesuai dalam Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) adalah "Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif". Diagnosa ini menggambarkan adanya gangguan pada kemampuan individu untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari jalan napas untuk mempertahankan patensi jalan napas.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Sesuai dengan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), luaran yang diharapkan setelah pemberian Asuhan Keperawatan untuk mengatasi "Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif" adalah:
a. Bersihan Jalan Napas: Individu dapat mempertahankan patensi jalan napas yang ditandai dengan:
i. Tidak ada suara napas tambahan (ronki, wheezing, stridor)
ii. Tidak ada sianosis
iii. Frekuensi napas dalam rentang normal
iv. Tidak ada kesulitan bernapas
b. Pertukaran Gas: Pertukaran gas dalam batas normal, yang ditandai dengan:
i. Saturasi oksigen dalam batas normal
ii. Tidak ada sianosis
iii. Irama dan kedalaman pernapasan dalam batas normal
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran "Bersihan Jalan Napas" dan "Pertukaran Gas" adalah:
a. Manajemen Jalan Napas
i. Posisikan pasien untuk memfasilitasi ventilasi
ii. Lakukan suction untuk mengeluarkan sekret
iii. Berikan oksigen sesuai kebutuhan
iv. Kolaborasi pemberian bronkodilator dan mukolitik jika diperlukan
b. Manajemen Ventilasi
i. Monitor frekuensi, kedalaman, dan irama pernapasan
ii. Monitor saturasi oksigen
iii. Ajarkan teknik pernapasan dalam/pernapasan diafragma
iv. Kolaborasi pemberian ventilasi mekanik jika diperlukan
c. Manajemen Nutrisi
i. Sediakan nutrisi yang sesuai untuk mendukung pemulihan
ii. Monitor asupan dan output cairan
Penjelasan rinci di atas mencakup Diagnosa Keperawatan SDKI, Luaran/Output SLKI, dan Intervensi Keperawatan SIKI yang diperlukan untuk mengatasi kondisi "Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif". Sebagai perawat profesional, saya berharap informasi ini dapat membantu Anda dalam memberikan Asuhan Keperawatan yang komprehensif dan berkualitas. -
Article No. 21286 | 31 Aug 2025
Klinis : Seorang anak laki-laki berusia 14 tahun datang dengan keluhan adanya benjolan keras pada punggung kiri (skapula) dan tungkai bawah kanan (tibia-fibula) yang sudah muncul sejak usia sekitar 4 tahun dan terus bertambah besar hingga saat ini. Pasien memiliki berat badan 42 kg dan tinggi badan 152 cm. Keluhan utama pasien adalah adanya benjolan yang mengganggu penampilan, meskipun tidak menimbulkan nyeri saat istirahat maupun bergerak. Dari riwayat keluarga diketahui bahwa ayah pasien juga memiliki kelainan serupa, sehingga memperkuat dugaan adanya penyakit keturunan dengan pola autosomal dominan. Pada pemeriksaan fisik, pasien dalam keadaan umum baik, sadar penuh, dengan tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 88 x/menit, frekuensi napas 20 x/menit, suhu 36,8°C. Ditemukan benjolan multipel pada skapula kiri dan tibia-fibula kanan, berukuran keras, teraba tidak nyeri, dan kulit di atasnya tampak normal. Range of motion (ROM) bahu kiri, lutut, serta pergelangan kaki masih baik dan tidak terbatas. Pasien tidak mengeluhkan gangguan tidur atau nafsu makan, namun menyatakan merasa cemas dan malu dengan kondisi tubuhnya, sehingga terkadang menarik diri dari aktivitas sosial bersama teman-temannya. Pemeriksaan penunjang menunjukkan hasil laboratorium normal, meliputi hemoglobin 13 g/dL, leukosit 7.200/mm³, trombosit 280.000/mm³, ureum 25 mg/dL, kreatinin 0,7 mg/dL, serta urinalisis dalam batas normal. Pemeriksaan radiografi polos pada bahu kiri memperlihatkan adanya osteokondroma sessile pada scapula, sedangkan pada tibia-fibula kanan tampak lesi sessile multipel yang melebar dari metafisis, dengan gambaran berkorteks baik, sebagian mengapur menyerupai kembang kol, dan arah pertumbuhan menjauhi epifisis. Cartilage cap terukur < 1,5 cm. Tidak ditemukan tanda-tanda transformasi ganas seperti litik, destruksi tulang, atau kalsifikasi jaringan lunak. CT scan maupun MRI tidak dilakukan, karena hasil foto polos radiografi sudah cukup menegakkan diagnosis dan menyingkirkan keganasan. Diagnosis medis pasien ditegakkan sebagai Eksostosis Herediter Ganda (Multiple Hereditary Exostoses / Osteochondroma Multipel). Pasien mendapatkan terapi non-farmakologis berupa edukasi dan konseling psikologis untuk membantu mengatasi kecemasan dan masalah citra tubuh. Tindakan pembedahan sebenarnya diindikasikan untuk alasan kosmetik dan pencegahan komplikasi, namun keluarga menolak operasi pada saat ini. Terapi farmakologis hanya berupa analgesik ringan (parasetamol 500 mg, jika nyeri) yang diberikan bila pasien mengeluh nyeri setelah aktivitas.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi tersebut:
1. Citra Tubuh Terganggu
Definisi: Persepsi negatif atau kekhawatiran terhadap penampilan fisik.
Penyebab:
- Perubahan penampilan fisik akibat penyakit (eksostosis multipel)
- Perasaan malu dan tidak percaya diri akibat penampilan fisik yang berbeda
2. Kecemasan
Definisi: Respon emosional terhadap sumber ancaman atau bahaya yang tidak jelas, tidak spesifik, atau tidak diketahui.
Penyebab:
- Kekhawatiran terhadap penampilan fisik yang tidak sesuai harapan
- Ketakutan terhadap dampak atau komplikasi dari penyakitnya
Luaran/Output yang Diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Citra Tubuh Positif
- Pasien dapat mengekspresikan penerimaan terhadap penampilan fisiknya
- Pasien dapat berpartisipasi dalam aktivitas sosial tanpa merasa malu
- Pasien dapat memahami dan menerima perubahan fisik yang terjadi
2. Kecemasan Terkendali
- Pasien dapat mengidentifikasi penyebab kecemasan
- Pasien dapat menggunakan teknik relaksasi untuk mengurangi kecemasan
- Pasien dapat menunjukkan perilaku yang tenang dan fokus
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
1. Intervensi untuk Citra Tubuh Terganggu:
- Terapi Aktivitas Kelompok: Memfasilitasi diskusi kelompok untuk berbagi pengalaman dan menerima kondisi fisik
- Terapi Bermain: Memfasilitasi aktivitas kreatif untuk mengekspresikan perasaan terkait penampilan fisik
- Konseling: Memberikan dukungan psikologis dan meningkatkan penerimaan diri
2. Intervensi untuk Kecemasan:
- Manajemen Kecemasan: Mengajarkan teknik relaksasi, distraksi, dan pengalihan perhatian untuk mengurangi kecemasan
- Terapi Kognitif: Mengidentifikasi dan memodifikasi pikiran negatif yang menyebabkan kecemasan
- Edukasi Kesehatan: Memberikan informasi tentang penyakit dan prognosis untuk mengurangi ketakutan
Penjelasan rinci:
Dalam kondisi ini, pasien mengalami dua masalah keperawatan utama, yaitu Citra Tubuh Terganggu dan Kecemasan. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai adalah Citra Tubuh Terganggu dan Kecemasan. Kedua diagnosa ini muncul akibat adanya perubahan penampilan fisik yang signifikan dan menimbulkan perasaan malu serta tidak percaya diri pada pasien. Hal ini juga menyebabkan kecemasan yang berkaitan dengan dampak dan komplikasi dari penyakitnya.
Luaran yang diharapkan adalah Citra Tubuh Positif, di mana pasien dapat menerima kondisi fisiknya dan berpartisipasi dalam aktivitas sosial tanpa merasa malu, serta Kecemasan Terkendali, di mana pasien dapat mengelola kecemasan dengan baik menggunakan teknik-teknik relaksasi dan terapi kognitif.
Intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran tersebut meliputi Terapi Aktivitas Kelompok dan Terapi Bermain untuk mengatasi Citra Tubuh Terganggu, serta Manajemen Kecemasan, Terapi Kognitif, dan Edukasi Kesehatan untuk menangani Kecemasan. Intervensi-intervensi ini bertujuan untuk memfasilitasi penerimaan diri pasien, meningkatkan kepercayaan diri, dan mengelola kecemasan yang dialami. -
Article No. 21287 | 31 Aug 2025
Klinis : Seorang anak laki-laki berusia 14 tahun datang dengan keluhan adanya benjolan keras pada punggung kiri (skapula) dan tungkai bawah kanan (tibia-fibula) yang sudah muncul sejak usia sekitar 4 tahun dan terus bertambah besar hingga saat ini. Pasien memiliki berat badan 42 kg dan tinggi badan 152 cm. Keluhan utama pasien adalah adanya benjolan yang mengganggu penampilan, meskipun tidak menimbulkan nyeri saat istirahat maupun bergerak. Dari riwayat keluarga diketahui bahwa ayah pasien juga memiliki kelainan serupa, sehingga memperkuat dugaan adanya penyakit keturunan dengan pola autosomal dominan. Pada pemeriksaan fisik, pasien dalam keadaan umum baik, sadar penuh, dengan tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 88 x/menit, frekuensi napas 20 x/menit, suhu 36,8°C. Ditemukan benjolan multipel pada skapula kiri dan tibia-fibula kanan, berukuran keras, teraba tidak nyeri, dan kulit di atasnya tampak normal. Range of motion (ROM) bahu kiri, lutut, serta pergelangan kaki masih baik dan tidak terbatas. Pasien tidak mengeluhkan gangguan tidur atau nafsu makan, namun menyatakan merasa cemas dan malu dengan kondisi tubuhnya, sehingga terkadang menarik diri dari aktivitas sosial bersama teman-temannya. Pemeriksaan penunjang menunjukkan hasil laboratorium normal, meliputi hemoglobin 13 g/dL, leukosit 7.200/mm³, trombosit 280.000/mm³, ureum 25 mg/dL, kreatinin 0,7 mg/dL, serta urinalisis dalam batas normal. Pemeriksaan radiografi polos pada bahu kiri memperlihatkan adanya osteokondroma sessile pada scapula, sedangkan pada tibia-fibula kanan tampak lesi sessile multipel yang melebar dari metafisis, dengan gambaran berkorteks baik, sebagian mengapur menyerupai kembang kol, dan arah pertumbuhan menjauhi epifisis. Cartilage cap terukur < 1,5 cm. Tidak ditemukan tanda-tanda transformasi ganas seperti litik, destruksi tulang, atau kalsifikasi jaringan lunak. CT scan maupun MRI tidak dilakukan, karena hasil foto polos radiografi sudah cukup menegakkan diagnosis dan menyingkirkan keganasan. Diagnosis medis pasien ditegakkan sebagai Eksostosis Herediter Ganda (Multiple Hereditary Exostoses / Osteochondroma Multipel). Pasien mendapatkan terapi non-farmakologis berupa edukasi dan konseling psikologis untuk membantu mengatasi kecemasan dan masalah citra tubuh. Tindakan pembedahan sebenarnya diindikasikan untuk alasan kosmetik dan pencegahan komplikasi, namun keluarga menolak operasi pada saat ini. Terapi farmakologis hanya berupa analgesik ringan (parasetamol 500 mg, jika nyeri) yang diberikan bila pasien mengeluh nyeri setelah aktivitas.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kasus yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan, penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI beserta kodenya yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
1. Citra Tubuh Terganggu (00118)
2. Kecemasan (00146)
Penjelasan SDKI-SLKI-SIKI:
1. Citra Tubuh Terganggu (00118)
- SDKI: Citra tubuh terganggu adalah persepsi negatif individu terhadap penampilan fisiknya.
- SLKI: Citra tubuh terganggu adalah masalah yang ditandai dengan persepsi negatif terhadap penampilan fisik.
- SIKI: Citra tubuh terganggu adalah respons individu yang ditandai dengan persepsi negatif terhadap penampilan fisik.
2. Kecemasan (00146)
- SDKI: Kecemasan adalah perasaan tidak nyaman atau khawatir yang disertai respons otonom, perasaan tertekan, dan perilaku avoidance yang merupakan antisipasi terhadap bahaya.
- SLKI: Kecemasan adalah perasaan tidak nyaman atau khawatir yang disertai respons otonom, perasaan tertekan, dan perilaku menghindar yang merupakan antisipasi terhadap bahaya.
- SIKI: Kecemasan adalah perasaan tidak nyaman atau khawatir yang disertai respons otonom, perasaan tertekan, dan perilaku menghindar yang merupakan antisipasi terhadap bahaya.
Penjelasan Kasus:
Seorang anak laki-laki berusia 14 tahun datang dengan keluhan adanya benjolan keras pada punggung kiri (skapula) dan tungkai bawah kanan (tibia-fibula) yang sudah muncul sejak usia sekitar 4 tahun dan terus bertambah besar. Pasien merasa cemas dan malu dengan kondisi tubuhnya, sehingga terkadang menarik diri dari aktivitas sosial bersama teman-temannya. Hal ini menunjukkan adanya diagnosa keperawatan "Citra Tubuh Terganggu" dan "Kecemasan". -
Article No. 21288 | 31 Aug 2025
Klinis : Seorang anak laki-laki berusia 14 tahun datang dengan keluhan adanya benjolan keras pada punggung kiri (skapula) dan tungkai bawah kanan (tibia-fibula) yang sudah muncul sejak usia sekitar 4 tahun dan terus bertambah besar hingga saat ini. Pasien memiliki berat badan 42 kg dan tinggi badan 152 cm. Keluhan utama pasien adalah adanya benjolan yang mengganggu penampilan, meskipun tidak menimbulkan nyeri saat istirahat maupun bergerak. Dari riwayat keluarga diketahui bahwa ayah pasien juga memiliki kelainan serupa, sehingga memperkuat dugaan adanya penyakit keturunan dengan pola autosomal dominan. Pada pemeriksaan fisik, pasien dalam keadaan umum baik, sadar penuh, dengan tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 88 x/menit, frekuensi napas 20 x/menit, suhu 36,8°C. Ditemukan benjolan multipel pada skapula kiri dan tibia-fibula kanan, berukuran keras, teraba tidak nyeri, dan kulit di atasnya tampak normal. Range of motion (ROM) bahu kiri, lutut, serta pergelangan kaki masih baik dan tidak terbatas. Pasien tidak mengeluhkan gangguan tidur atau nafsu makan, namun menyatakan merasa cemas dan malu dengan kondisi tubuhnya, sehingga terkadang menarik diri dari aktivitas sosial bersama teman-temannya. Pemeriksaan penunjang menunjukkan hasil laboratorium normal, meliputi hemoglobin 13 g/dL, leukosit 7.200/mm³, trombosit 280.000/mm³, ureum 25 mg/dL, kreatinin 0,7 mg/dL, serta urinalisis dalam batas normal. Pemeriksaan radiografi polos pada bahu kiri memperlihatkan adanya osteokondroma sessile pada scapula, sedangkan pada tibia-fibula kanan tampak lesi sessile multipel yang melebar dari metafisis, dengan gambaran berkorteks baik, sebagian mengapur menyerupai kembang kol, dan arah pertumbuhan menjauhi epifisis. Cartilage cap terukur < 1,5 cm. Tidak ditemukan tanda-tanda transformasi ganas seperti litik, destruksi tulang, atau kalsifikasi jaringan lunak. CT scan maupun MRI tidak dilakukan, karena hasil foto polos radiografi sudah cukup menegakkan diagnosis dan menyingkirkan keganasan. Diagnosis medis pasien ditegakkan sebagai Eksostosis Herediter Ganda (Multiple Hereditary Exostoses / Osteochondroma Multipel). Pasien mendapatkan terapi non-farmakologis berupa edukasi dan konseling psikologis untuk membantu mengatasi kecemasan dan masalah citra tubuh. Tindakan pembedahan sebenarnya diindikasikan untuk alasan kosmetik dan pencegahan komplikasi, namun keluarga menolak operasi pada saat ini. Terapi farmakologis hanya berupa analgesik ringan (parasetamol 500 mg, jika nyeri) yang diberikan bila pasien mengeluh nyeri setelah aktivitas. 6 diagnosis
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang dideskripsikan, berikut adalah diagnosa keperawatan SDKI, luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan (SLKI), dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran (SIKI):
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Citra Tubuh Terganggu
2. Kecemasan
3. Gangguan Tidur
4. Isolasi Sosial
5. Ketidakefektifan Aktivitas
6. Risiko Komplikasi Muskuloskeletal
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Citra Tubuh Terganggu
- Pasien dapat menerima kondisi tubuhnya
- Pasien dapat mengidentifikasi perubahan fisik yang dialami
- Pasien dapat mengatasi perasaan malu dan cemas terhadap kondisi fisiknya
2. Kecemasan
- Pasien dapat mengidentifikasi penyebab kecemasan
- Pasien dapat mengendalikan kecemasan
- Pasien dapat menerapkan teknik relaksasi untuk mengurangi kecemasan
3. Gangguan Tidur
- Pasien dapat tidur tanpa kesulitan
- Pasien dapat mempertahankan pola tidur yang adekuat
4. Isolasi Sosial
- Pasien dapat berinteraksi dengan orang lain
- Pasien dapat berpartisipasi dalam aktivitas sosial
5. Ketidakefektifan Aktivitas
- Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan mandiri
- Pasien dapat beradaptasi dengan keterbatasan gerak akibat kondisi fisik
6. Risiko Komplikasi Muskuloskeletal
- Pasien tidak mengalami komplikasi muskuloskeletal
- Pasien dapat mempertahankan fungsi ROM yang adekuat
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Citra Tubuh Terganggu
- Berikan konseling dan terapi kognitif-perilaku untuk membantu pasien menerima kondisi fisiknya
- Fasilitasi pasien untuk mengidentifikasi perubahan fisik yang dialami dan mengekspresikan perasaannya
- Bantu pasien mengembangkan strategi koping yang adaptif untuk menghadapi masalah citra tubuh
2. Kecemasan
- Identifikasi penyebab kecemasan dan faktor pencetus
- Ajarkan teknik relaksasi (napas dalam, visualisasi, meditasi) untuk mengurangi kecemasan
- Berikan dukungan emosional dan bantu pasien mengembangkan strategi koping yang efektif
3. Gangguan Tidur
- Identifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pola tidur pasien
- Ajarkan teknik untuk mempertahankan pola tidur yang adekuat (misalnya, menjaga rutinitas tidur, menghindari stimulasi sebelum tidur)
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (misal, dokter) untuk evaluasi dan intervensi farmakologis, jika diperlukan
4. Isolasi Sosial
- Bantu pasien mengidentifikasi sumber dukungan sosial yang tersedia
- Dorong pasien untuk berpartisipasi dalam aktivitas sosial sesuai dengan kemampuan
- Kolaborasi dengan keluarga dan lingkungan sosial pasien untuk meningkatkan keterlibatan dalam aktivitas sosial
5. Ketidakefektifan Aktivitas
- Identifikasi kemampuan dan keterbatasan pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari
- Berikan latihan fisik yang bertahap untuk mempertahankan dan meningkatkan kemampuan fungsional
- Ajarkan teknik adaptasi dan modifikasi aktivitas untuk mengakomodasi keterbatasan fisik
6. Risiko Komplikasi Muskuloskeletal
- Monitor tanda-tanda perkembangan lesi dan perubahan ROM
- Anjurkan pasien untuk menghindari aktivitas yang dapat menyebabkan trauma pada area yang terkena
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (misal, dokter ortopedi) untuk evaluasi dan intervensi medis yang diperlukan
Keseluruhan intervensi keperawatan ini bertujuan untuk membantu pasien beradaptasi dengan kondisi fisiknya, mengelola kecemasan dan masalah citra tubuh, mempertahankan fungsi fisik, dan mencegah komplikasi muskuloskeletal. Kolaborasi dengan keluarga, tenaga kesehatan lain, dan dukungan sosial juga diperlukan untuk mencapai hasil yang optimal. -
Article No. 21289 | 31 Aug 2025
Klinis : Seorang anak laki-laki berusia 14 tahun datang dengan keluhan adanya benjolan keras pada punggung kiri (skapula) dan tungkai bawah kanan (tibia-fibula) yang sudah muncul sejak usia sekitar 4 tahun dan terus bertambah besar hingga saat ini. Pasien memiliki berat badan 42 kg dan tinggi badan 152 cm. Keluhan utama pasien adalah adanya benjolan yang mengganggu penampilan, meskipun tidak menimbulkan nyeri saat istirahat maupun bergerak. Dari riwayat keluarga diketahui bahwa ayah pasien juga memiliki kelainan serupa, sehingga memperkuat dugaan adanya penyakit keturunan dengan pola autosomal dominan. Pada pemeriksaan fisik, pasien dalam keadaan umum baik, sadar penuh, dengan tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 88 x/menit, frekuensi napas 20 x/menit, suhu 36,8°C. Ditemukan benjolan multipel pada skapula kiri dan tibia-fibula kanan, berukuran keras, teraba tidak nyeri, dan kulit di atasnya tampak normal. Range of motion (ROM) bahu kiri, lutut, serta pergelangan kaki masih baik dan tidak terbatas. Pasien tidak mengeluhkan gangguan tidur atau nafsu makan, namun menyatakan merasa cemas dan malu dengan kondisi tubuhnya, sehingga terkadang menarik diri dari aktivitas sosial bersama teman-temannya. Pemeriksaan penunjang menunjukkan hasil laboratorium normal, meliputi hemoglobin 13 g/dL, leukosit 7.200/mm³, trombosit 280.000/mm³, ureum 25 mg/dL, kreatinin 0,7 mg/dL, serta urinalisis dalam batas normal. Pemeriksaan radiografi polos pada bahu kiri memperlihatkan adanya osteokondroma sessile pada scapula, sedangkan pada tibia-fibula kanan tampak lesi sessile multipel yang melebar dari metafisis, dengan gambaran berkorteks baik, sebagian mengapur menyerupai kembang kol, dan arah pertumbuhan menjauhi epifisis. Cartilage cap terukur < 1,5 cm. Tidak ditemukan tanda-tanda transformasi ganas seperti litik, destruksi tulang, atau kalsifikasi jaringan lunak. CT scan maupun MRI tidak dilakukan, karena hasil foto polos radiografi sudah cukup menegakkan diagnosis dan menyingkirkan keganasan. Diagnosis medis pasien ditegakkan sebagai Eksostosis Herediter Ganda (Multiple Hereditary Exostoses / Osteochondroma Multipel). Pasien mendapatkan terapi non-farmakologis berupa edukasi dan konseling psikologis untuk membantu mengatasi kecemasan dan masalah citra tubuh. Tindakan pembedahan sebenarnya diindikasikan untuk alasan kosmetik dan pencegahan komplikasi, namun keluarga menolak operasi pada saat ini. Terapi farmakologis hanya berupa analgesik ringan (parasetamol 500 mg, jika nyeri) yang diberikan bila pasien mengeluh nyeri setelah aktivitas. 6 diagnosis
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kasus yang dipaparkan, berikut adalah 6 diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai, beserta luaran/output yang diharapkan (SLKI) dan intervensi keperawatan yang diperlukan (SIKI):
1. Diagnosa Keperawatan: Cemas
SLKI:
- Tingkat kecemasan menurun
- Pasien mampu mengidentifikasi penyebab kecemasan
- Pasien mampu menggunakan teknik relaksasi untuk mengatasi kecemasan
SIKI:
- Lakukan asesmen tingkat kecemasan
- Berikan informasi tentang penyakit dan pengobatannya untuk mengurangi ketidakpastian
- Latih teknik relaksasi (napas dalam, distraksi, visualisasi)
- Dukung pasien untuk terlibat dalam aktivitas sosial
- Kolaborasi dengan ahli psikologi/konselor untuk konseling
2. Diagnosa Keperawatan: Gangguan Citra Tubuh
SLKI:
- Pasien menerima kondisi fisiknya
- Pasien mampu mengungkapkan perasaan tentang perubahannya
- Pasien dapat beradaptasi dengan perubahan penampilan
SIKI:
- Kaji persepsi pasien terhadap perubahan fisik
- Berikan informasi tentang penyakit dan pengaruhnya terhadap citra tubuh
- Dorong pasien untuk mengekspresikan perasaan terhadap perubahannya
- Libatkan pasien dalam perawatan diri untuk meningkatkan rasa kontrol
- Kolaborasi dengan ahli psikologi/konselor untuk konseling
3. Diagnosa Keperawatan: Risiko Komplikasi
SLKI:
- Tidak terjadi komplikasi (patah tulang, tumor ganas, dll)
- Tidak terjadi perburukan kondisi fisik
SIKI:
- Pantau tanda-tanda perburukan kondisi fisik
- Edukasi pasien dan keluarga tentang komplikasi yang dapat terjadi
- Kolaborasi dengan dokter untuk evaluasi dan intervensi medis yang tepat
- Dorong pasien untuk patuh terhadap pengobatan dan rencana perawatan
4. Diagnosa Keperawatan: Aktivitas Bermain Terganggu
SLKI:
- Pasien dapat berpartisipasi dalam aktivitas bermain/rekreasi
- Pasien mampu beradaptasi dengan perubahan aktivitas bermain
SIKI:
- Asesmen kemampuan dan minat pasien dalam aktivitas bermain
- Modifikasi aktivitas bermain/rekreasi sesuai kondisi fisik pasien
- Dukung pasien untuk terlibat dalam aktivitas bermain yang sesuai
- Kolaborasi dengan terapis okupasi untuk intervensi yang tepat
5. Diagnosa Keperawatan: Intoleransi Aktivitas
SLKI:
- Pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa kelelahan yang berlebihan
- Pasien menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas
SIKI:
- Asesmen tingkat aktivitas dan toleransi pasien
- Berikan edukasi tentang pengaturan aktivitas dan istirahat
- Latih teknik konservasi energi dalam melakukan aktivitas
- Kolaborasi dengan fisioterapis untuk program latihan yang aman
6. Diagnosa Keperawatan: Risiko Ketidakstabilan Sendi
SLKI:
- Tidak terjadi cedera sendi
- Pasien mampu mempertahankan stabilitas sendi
SIKI:
- Asesmen kemampuan gerak sendi dan stabilitas sendi
- Edukasi pasien dan keluarga tentang risiko ketidakstabilan sendi
- Latih teknik mobilisasi dan perawatan sendi yang aman
- Kolaborasi dengan fisioterapis untuk intervensi yang tepat
Penjelasan rinci dan terperinci untuk setiap poin di atas:
1. Diagnosa Keperawatan: Cemas
Pasien mengalami kecemasan dan malu dengan kondisi fisiknya, sehingga terkadang menarik diri dari aktivitas sosial. Luaran yang diharapkan adalah penurunan tingkat kecemasan, kemampuan pasien untuk mengidentifikasi penyebab kecemasan, serta penggunaan teknik relaksasi untuk mengatasi kecemasan. Intervensi keperawatan yang diperlukan meliputi asesmen kecemasan, pemberian informasi tentang penyakit, latihan teknik relaksasi, dukungan untuk beraktivitas sosial, serta kolaborasi dengan ahli psikologi/konselor.
2. Diagnosa Keperawatan: Gangguan Citra Tubuh
Pasien merasa cemas dan malu dengan perubahan fisik yang terjadi, sehingga dapat mempengaruhi citra tubuhnya. Luaran yang diharapkan adalah penerimaan pasien terhadap kondisi fisiknya, kemampuan untuk mengungkapkan perasaan, serta adaptasi dengan perubahan penampilan. Intervensi keperawatan meliputi pengkajian persepsi pasien, pemberian informasi tentang penyakit dan pengaruhnya pada citra tubuh, dorongan untuk mengekspresikan perasaan, pelibatan dalam perawatan diri, serta kolaborasi dengan ahli psikologi/konselor.
3. Diagnosa Keperawatan: Risiko Komplikasi
Pasien memiliki risiko terjadinya komplikasi, seperti patah tulang atau transformasi tumor menjadi ganas. Luaran yang diharapkan adalah tidak terjadi komplikasi dan perburukan kondisi fisik. Intervensi keperawatan mencakup pemantauan tanda-tanda perburukan, edukasi pasien dan keluarga tentang komplikasi, kolaborasi dengan dokter untuk evaluasi dan intervensi medis yang tepat, serta dorongan kepatuhan pasien terhadap pengobatan.
4. Diagnosa Keperawatan: Aktivitas Bermain Terganggu
Kondisi fisik pasien dapat mengganggu partisipasi dalam aktivitas bermain/rekreasi. Luaran yang diharapkan adalah kemampuan pasien untuk berpartisipasi dalam aktivitas bermain/rekreasi dan beradaptasi dengan perubahan aktivitas. Intervensi keperawatan meliputi asesmen kemampuan dan minat pasien, modifikasi aktivitas bermain, dukungan keterlibatan dalam aktivitas yang sesuai, serta kolaborasi dengan terapis okupasi.
5. Diagnosa Keperawatan: Intoleransi Aktivitas
Kondisi fisik pasien dapat menyebabkan intoleransi terhadap aktivitas sehari-hari. Luaran yang diharapkan adalah kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas sehari-hari tanpa kelelahan berlebihan dan peningkatan toleransi terhadap aktivitas. Intervensi keperawatan mencakup asesmen tingkat aktivitas dan toleransi, edukasi tentang pengaturan aktivitas dan istirahat, latihan teknik konservasi energi, serta kolaborasi dengan fisioterapis untuk program latihan yang aman.
6. Diagnosa Keperawatan: Risiko Ketidakstabilan Sendi
Kondisi tulang yang terpengaruh dapat berisiko menyebabkan ketidakstabilan sendi. Luaran yang diharapkan adalah tidak terjadi cedera sendi dan kemampuan pasien untuk mempertahankan stabilitas sendi. Intervensi keperawatan meliputi asesmen kemampuan gerak sendi dan