Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 21314 | 01 Sep 2025
Klinis : Diare akibat Jajanan Tidak Sehat Lima siswa kelas 2 SD mengalami diare setelah jajan makanan di kantin sekolah yang kurang higienis. Seorang anak perempuan usia 8 tahun dirujuk ke puskesmas karena diare lebih dari 5 kali dalam 24 jam. Observasi menunjukkan kantin sekolah tidak memiliki fasilitas cuci tangan yang memadai, dan banyak makanan disajikan terbuka tanpa penutup. Guru melaporkan bahwa sebagian besar siswa tidak terbiasa mencuci tangan sebelum makan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Diare akut (NAND-00013)
Definisi: Pengeluaran feses cair atau lembek dalam jumlah yang meningkat (lebih dari 3 kali per hari) dengan atau tanpa darah/lendir.
Penjelasan SDKI, SLKI, SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
NAND-00013 Diare Akut
Definisi: Pengeluaran feses cair atau lembek dalam jumlah yang meningkat (lebih dari 3 kali per hari) dengan atau tanpa darah/lendir.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
NOUL-00025 Kontrol Diare
Definisi: Kemampuan individu untuk mengendalikan frekuensi dan konsistensi pengeluaran feses.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
NICI-00069 Manajemen Diare
Definisi: Serangkaian tindakan yang dilakukan untuk mengurangi frekuensi dan volume diare, mengatasi dehidrasi, dan mencegah komplikasi.
Dalam konteks kasus ini, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Diare Akut (NAND-00013). Hal ini berdasarkan gejala yang dialami oleh siswa, yaitu pengeluaran feses cair atau lembek dalam jumlah yang meningkat (lebih dari 5 kali per hari) tanpa disertai darah atau lendir. Diare ini diduga disebabkan oleh konsumsi makanan tidak sehat di kantin sekolah. -
Article No. 21315 | 01 Sep 2025
Klinis : Diare akibat Jajanan Tidak Sehat Lima siswa kelas 2 SD mengalami diare setelah jajan makanan di kantin sekolah yang kurang higienis. Seorang anak perempuan usia 8 tahun dirujuk ke puskesmas karena diare lebih dari 5 kali dalam 24 jam. Observasi menunjukkan kantin sekolah tidak memiliki fasilitas cuci tangan yang memadai, dan banyak makanan disajikan terbuka tanpa penutup. Guru melaporkan bahwa sebagian besar siswa tidak terbiasa mencuci tangan sebelum makan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi diare akibat jajanan tidak sehat yang dialami oleh 5 siswa kelas 2 SD.
Diagnosa Keperawatan:
1. Diare Akut (00299)
Definisi: Pengeluaran feses cair atau encer yang terjadi secara tiba-tiba dan terus-menerus.
Penjelasan SDKI - SLKI - SIKI:
1. SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia)
- Kode: 00299
- Definisi: Pengeluaran feses cair atau encer yang terjadi secara tiba-tiba dan terus-menerus.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia)
- Kode: LS 01101
- Judul: Pemulihan Keseimbangan Cairan
- Definisi: Kemampuan individu untuk mengembalikan keseimbangan cairan yang optimal.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia)
- Kode: SI 01101
- Judul: Manajemen Diare
- Definisi: Serangkaian tindakan keperawatan untuk mengatasi diare, yaitu pengeluaran feses cair atau encer secara tiba-tiba dan terus-menerus.
Berdasarkan kasus yang disampaikan, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Diare Akut (00299) karena terdapat lima siswa kelas 2 SD yang mengalami diare setelah jajan makanan di kantin sekolah yang kurang higienis. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah Manajemen Diare (SI 01101) untuk memulihkan keseimbangan cairan dan mengatasi diare. -
Article No. 21316 | 01 Sep 2025
Klinis : Diare akibat Jajanan Tidak Sehat Lima siswa kelas 2 SD mengalami diare setelah jajan makanan di kantin sekolah yang kurang higienis. Seorang anak perempuan usia 8 tahun dirujuk ke puskesmas karena diare lebih dari 5 kali dalam 24 jam. Observasi menunjukkan kantin sekolah tidak memiliki fasilitas cuci tangan yang memadai, dan banyak makanan disajikan terbuka tanpa penutup. Guru melaporkan bahwa sebagian besar siswa tidak terbiasa mencuci tangan sebelum makan.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis yang terkait dengan kondisi diare akibat jajanan tidak sehat:
1. Kode ICD-10:
- Kode: A09
- Deskripsi: Diare dan gastroenteritis karena infeksi yang diasumsikan bawaan
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 45.23
- Deskripsi: Observasi gastrointestinal
Penjelasan:
Kode ICD-10 A09 (Diare dan gastroenteritis karena infeksi yang diasumsikan bawaan) sesuai dengan kondisi diare yang dialami oleh lima siswa kelas 2 SD setelah mengonsumsi makanan dari kantin sekolah yang kurang higienis. Berdasarkan informasi, ada beberapa faktor yang mendukung diagnosis ini, yaitu:
1. Riwayat konsumsi makanan dari kantin sekolah yang kurang higienis, seperti tidak adanya fasilitas cuci tangan yang memadai dan makanan disajikan terbuka tanpa penutup.
2. Gejala diare yang dialami oleh beberapa siswa, dengan seorang anak perempuan usia 8 tahun mengalami diare lebih dari 5 kali dalam 24 jam.
3. Laporan guru bahwa sebagian besar siswa tidak terbiasa mencuci tangan sebelum makan, yang meningkatkan risiko kontaminasi dan infeksi.
Terkait dengan kode ICD-9-CM, kode 45.23 (Observasi gastrointestinal) dapat digunakan untuk mencatat prosedur observasi yang dilakukan di puskesmas terhadap anak perempuan usia 8 tahun yang dirujuk karena diare lebih dari 5 kali dalam 24 jam. Observasi ini dilakukan untuk memantau kondisi pasien dan memastikan diagnosis serta perawatan yang tepat. -
Article No. 21317 | 01 Sep 2025
Klinis : Diare akibat Jajanan Tidak Sehat Lima siswa kelas 2 SD mengalami diare setelah jajan makanan di kantin sekolah yang kurang higienis. Seorang anak perempuan usia 8 tahun dirujuk ke puskesmas karena diare lebih dari 5 kali dalam 24 jam. Observasi menunjukkan kantin sekolah tidak memiliki fasilitas cuci tangan yang memadai, dan banyak makanan disajikan terbuka tanpa penutup. Guru melaporkan bahwa sebagian besar siswa tidak terbiasa mencuci tangan sebelum makan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan, penjelasan singkat, kode, dan definisi SDKI-SLKI-SIKI yang sesuai:
Diagnosa Keperawatan:
D.0104 Diare Akut
Penjelasan Singkat:
Diare akut yang disebabkan oleh konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi mikroorganisme patogen, seperti virus, bakteri, atau parasit. Kondisi ini ditandai dengan peningkatan frekuensi dan volume defekasi dengan konsistensi lembek atau cair.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
D.0104 Diare Akut
Definisi: Pengeluaran tinja cair atau lembek yang terjadi lebih dari 3 kali dalam 24 jam, yang disebabkan oleh infeksi atau iritasi usus.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
L.0901 Pemulihan Diare
Definisi: Pemulihan dari diare dengan indikator: 1) Frekuensi defekasi menurun menjadi normal, 2) Konsistensi tinja kembali normal, 3) Tidak ada tanda-tanda dehidrasi.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
I.0902 Manajemen Diare
Definisi: Serangkaian tindakan untuk mengidentifikasi dan mengatasi penyebab diare serta mencegah komplikasi. -
Article No. 21318 | 01 Sep 2025
Klinis : Diare akibat Jajanan Tidak Sehat Lima siswa kelas 2 SD mengalami diare setelah jajan makanan di kantin sekolah yang kurang higienis. Seorang anak perempuan usia 8 tahun dirujuk ke puskesmas karena diare lebih dari 5 kali dalam 24 jam. Observasi menunjukkan kantin sekolah tidak memiliki fasilitas cuci tangan yang memadai, dan banyak makanan disajikan terbuka tanpa penutup. Guru melaporkan bahwa sebagian besar siswa tidak terbiasa mencuci tangan sebelum makan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \rtf1\ansi\ansicpg1252\deff0\nouicompat\deflang1057{\fonttbl{\f0\fnil\fcharset0 Calibri;}}
{\colortbl ;\red0\green0\blue0;}
{\*\generator Riched20 10.0.22621}\viewkind4\uc1
\pard\nowidctlpar\sa200\sl276\slmult1\qj\cf1\f0\fs24\lang3081\b DIAGNOSIS KEPERAWATAN\b0\par
\par
\b Kode\b0 : D.0016\par
\b Diagnosis\b0 : Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan\par
\b Definisi\b0 : Berisiko mengalami penurunan, peningkatan, atau pergeseran cepat dari satu kompartemen cairan ke kompartemen lain.\par
\b Faktor Risiko\b0 :\par
1. Kehilangan cairan berlebihan melalui feses (diare >5 kali/24 jam)\par
2. Kurangnya pengetahuan tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)\par
3. Lingkungan yang tidak mendukung praktik higiene (fasilitas cuci tangan tidak memadai)\par
\par
\b INTERVENSI KEPERAWATAN (SIKI)\b0\par
\par
\b Kode\b0 : I.09010\par
\b Intervensi\b0 : Manajemen Diare\par
\b Definisi\b0 : Memberikan asuhan dan edukasi untuk mengurangi kehilangan cairan dan meningkatkan konsistensi feses.\par
\b Aktivitas\b0 :\par
1. Memantau frekuensi, volume, dan konsistensi feses\par
2. Memberikan terapi rehidrasi oral (oralit) sesuai protokol\par
3. Mengajarkan teknik cuci tangan yang benar dengan sabun dan air mengalir\par
4. Kolaborasi pemberian terapi farmakologis jika diperlukan\par
\par
\b Kode\b0 : I.13017\par
\b Intervensi\b0 : Edukasi Kesehatan\par
\b Definisi\b0 : Mengembangkan kesadaran dan pengetahuan tentang perilaku sehat.\par
\b Aktivitas\b0 :\par
1. Menjelaskan pentingnya memilih jajanan yang tertutup dan higienis\par
2. Demonstrasi praktik penyimpanan dan penyajian makanan yang aman\par
3. Memberikan edukasi tentang prinsip "5 Kunci Keamanan Pangan" (WHO)\par
\par
\b KRITERIA HASIL (SLKI)\b0\par
\par
\b Kode\b0 : L.14016\par
\b Kriteria Hasil\b0 : Keseimbangan Cairan\par
\b Definisi\b0 : Mempertahankan keseimbangan antara asupan dan pengeluaran cairan.\par
\b Indikator\b0 :\par
1. Frekuensi diare berkurang menjadi <3 kali/hari\par
2. Turgor kulit elastis dan mukosa mulut lembab\par
3. Asupan cairan oral adekuat sesuai kebutuhan\par
\par
\b Kode\b0 : L.13064\par
\b Kriteria Hasil\b0 : Perilaku Pencegahan Penyakit\par
\b Definisi\b0 : Tindakan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit.\par
\b Indikator\b0 :\par
1. Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan\par
2. Memilih jajanan yang tertutup dan bersih\par
3. Menghindari konsumsi makanan yang terkontaminasi\par
\par
\b CATATAN\b0 : Semua kode dan definisi mengacu pada \i Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) Edisi 6, Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) Edisi 5, dan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) Edisi 5\i0 yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).\par
} -
Article No. 21319 | 01 Sep 2025
Klinis : Tn. P usia 47 tahun masuk Rumah Sakit dengan keluhan luka bakar seluruh tubuh. Kejadian berawal ketika ada ledakan kompor minyak tanah saat memasak, Tn.P mencoba menyiram dengan air tetapi api dengan cepat membesar dan menyambar Tn.P. klien mengeluh nyeri pada area luka bakar dan merasa agak sesak. Hasil pemeriksaan ditemukan luka bakar grade II-III di regio thorak abdomen 28%, kemerahan dan nyeri tekan. Di region ekstremitas atas terdapat luka bakar grade II dengan luas 14% dan nyeri tekan. Pada ekstremitas bawah terdapat luka bakar grade II dengan luas 22%, kemerahan dan terasa nyeri. TD: 130/85 mmHg, N: 87x/ menit, RR: 26x/ menit, Suhu: 36,8oC. Hasil pemeriksaan laboratorium Hb: 15,4 gr/dl, Ht: 21, Leukosit: 10.800 mg/dl, Trombosit: 280.000 mg/dl.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan, luaran keperawatan, dan intervensi keperawatan yang sesuai untuk kondisi Tn. P.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Risiko Perubahan Integritas Kulit (00047)
- Ditandai dengan adanya luka bakar grade II-III pada 28% regio torak abdomen, 14% ekstremitas atas, dan 22% ekstremitas bawah.
- Faktor yang berkontribusi adalah paparan api pada saat ledakan kompor minyak tanah.
2. Nyeri Akut (00132)
- Ditandai dengan keluhan nyeri pada area luka bakar, kemerahan, dan nyeri tekan.
- Faktor yang berkontribusi adalah adanya kerusakan jaringan akibat luka bakar.
3. Gangguan Pertukaran Gas (00030)
- Ditandai dengan keluhan sesak nafas.
- Faktor yang berkontribusi adalah luas luka bakar pada torak yang dapat menyebabkan edema dan penurunan fungsi paru.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Integritas Kulit: Luka Bakar (1103)
- Indikator: Kemerahan, eksudat, dan ukuran luka bakar
- Kriteria hasil: Luas luka bakar berkurang, tidak ada tanda-tanda infeksi, dan proses penyembuhan luka berjalan dengan baik.
2. Kontrol Nyeri (1605)
- Indikator: Intensitas nyeri dan tingkat kenyamanan
- Kriteria hasil: Klien melaporkan nyeri terkontrol dan merasa nyaman.
3. Status Pernapasan (0415)
- Indikator: Frekuensi pernapasan, irama pernapasan, dan saturasi oksigen
- Kriteria hasil: Frekuensi pernapasan normal, irama pernapasan teratur, dan saturasi oksigen adekuat.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen Luka Bakar (3540)
- Pengkajian luka bakar
- Perawatan luka bakar
- Pemantauan tanda-tanda infeksi
- Pemberian terapi topikal
2. Manajemen Nyeri (1400)
- Pengkajian nyeri
- Pemberian analgesik
- Terapi komplementer (distraksi, relaksasi, terapi es/hangat)
- Evaluasi efektivitas intervensi
3. Manajemen Jalan Napas (3140)
- Pemantauan status pernapasan
- Pemberian oksigen sesuai indikasi
- Latihan pernapasan
- Manajemen edema
Penjelasan rinci:
Diagnosa keperawatan yang muncul pada kondisi Tn. P adalah risiko perubahan integritas kulit, nyeri akut, dan gangguan pertukaran gas. Luaran/output yang diharapkan adalah penyembuhan luka bakar, kontrol nyeri, dan status pernapasan yang membaik. Intervensi keperawatan yang diperlukan meliputi manajemen luka bakar, manajemen nyeri, dan manajemen jalan napas untuk mencapai tujuan tersebut. Intervensi dilakukan secara komprehensif dengan memperhatikan kondisi klien, tanda-tanda vital, dan hasil pemeriksaan laboratorium. -
Article No. 21320 | 01 Sep 2025
Klinis : Tn. P usia 47 tahun masuk Rumah Sakit dengan keluhan luka bakar seluruh tubuh. Kejadian berawal ketika ada ledakan kompor minyak tanah saat memasak, Tn.P mencoba menyiram dengan air tetapi api dengan cepat membesar dan menyambar Tn.P. klien mengeluh nyeri pada area luka bakar dan merasa agak sesak. Hasil pemeriksaan ditemukan luka bakar grade II-III di regio thorak abdomen 28%, kemerahan dan nyeri tekan. Di region ekstremitas atas terdapat luka bakar grade II dengan luas 14% dan nyeri tekan. Pada ekstremitas bawah terdapat luka bakar grade II dengan luas 22%, kemerahan dan terasa nyeri. TD: 130/85 mmHg, N: 87x/ menit, RR: 26x/ menit, Suhu: 36,8oC. Hasil pemeriksaan laboratorium Hb: 15,4 gr/dl, Ht: 21, Leukosit: 10.800 mg/dl, Trombosit: 280.000 mg/dl.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis yang sesuai:
1. Kode ICD-10:
- Kode: T30.3
- Deskripsi: Luka bakar tidak ditentukan tingkatnya, melibatkan 20-29% permukaan tubuh
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 93.57
- Deskripsi: Debridemen luka bakar, kulit dan subkutan
Penjelasan detail:
1. Kode ICD-10 T30.3 menggambarkan kondisi Tn. P, yaitu luka bakar yang tidak ditentukan tingkatnya (campuran derajat II dan III) dan melibatkan 20-29% permukaan tubuh. Hal ini sesuai dengan temuan pemeriksaan fisik yang menunjukkan luka bakar grade II-III pada regio toraks abdomen (28%), ekstremitas atas (14%), dan ekstremitas bawah (22%).
2. Kode ICD-9-CM 93.57 menunjukkan tindakan debridemen luka bakar pada kulit dan subkutan yang mungkin dilakukan sebagai bagian dari penanganan luka bakar pada pasien. Debridemen diperlukan untuk membersihkan dan menyiapkan luka bakar agar dapat dilakukan perawatan lanjutan.
Berdasarkan data laboratorium, ditemukan peningkatan jumlah leukosit (10.800 mg/dl) yang dapat menunjukkan adanya respons inflamasi akibat luka bakar yang luas. Selain itu, penurunan nilai hematokrit (21%) dapat mengindikasikan adanya kehilangan cairan dan darah akibat luka bakar. Pemantauan keadaan umum dan status cairan pasien serta pemberian terapi cairan dan manajemen luka bakar yang tepat menjadi sangat penting dalam penanganan kasus ini. -
Article No. 21321 | 01 Sep 2025
Klinis : Tn. P usia 47 tahun masuk Rumah Sakit dengan keluhan luka bakar seluruh tubuh. Kejadian berawal ketika ada ledakan kompor minyak tanah saat memasak, Tn.P mencoba menyiram dengan air tetapi api dengan cepat membesar dan menyambar Tn.P. klien mengeluh nyeri pada area luka bakar dan merasa agak sesak. Hasil pemeriksaan ditemukan luka bakar grade II-III di regio thorak abdomen 28%, kemerahan dan nyeri tekan. Di region ekstremitas atas terdapat luka bakar grade II dengan luas 14% dan nyeri tekan. Pada ekstremitas bawah terdapat luka bakar grade II dengan luas 22%, kemerahan dan terasa nyeri. TD: 130/85 mmHg, N: 87x/ menit, RR: 26x/ menit, Suhu: 36,8oC. Hasil pemeriksaan laboratorium Hb: 15,4 gr/dl, Ht: 21, Leukosit: 10.800 mg/dl, Trombosit: 280.000 mg/dl.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi Tn. P yang mengalami luka bakar seluruh tubuh, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI yang dapat diterapkan:
1. Diagnosa Keperawatan: Nyeri Akut
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Kode 00132
- Definisi: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan, aktual atau potensial, atau dijelaskan dalam istilah seperti itu (International Association for the Study of Pain)
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Kode 1605, 1609
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Kode 3440, 3660, 6040
2. Diagnosa Keperawatan: Intoleransi Aktivitas
- SDKI: Kode 00092
- Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan karena keterbatasan fisik dan/atau psikologis
- SLKI: Kode 0005, 0206, 0208
- SIKI: Kode 0200, 0202, 0203
3. Diagnosa Keperawatan: Risiko Infeksi
- SDKI: Kode 00004
- Definisi: Peningkatan risiko terserang organisme patogen
- SLKI: Kode 1101, 1102, 1910
- SIKI: Kode 6550, 6680, 7920
4. Diagnosa Keperawatan: Gangguan Citra Tubuh
- SDKI: Kode 00118
- Definisi: Gangguan persepsi tentang penampilan fisik seseorang
- SLKI: Kode 1200, 1201, 1202
- SIKI: Kode 5220, 5250, 5400
Penjelasan singkat dari masing-masing diagnosa keperawatan tersebut:
1. Nyeri Akut: Klien mengalami nyeri pada area luka bakar yang perlu segera diatasi.
2. Intoleransi Aktivitas: Klien mengalami keterbatasan fisik akibat luka bakar sehingga terjadi gangguan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
3. Risiko Infeksi: Luka bakar yang luas meningkatkan risiko terjadinya infeksi pada klien, sehingga perlu pencegahan dan penanganan yang tepat.
4. Gangguan Citra Tubuh: Klien kemungkinan akan mengalami gangguan persepsi terhadap penampilan fisiknya akibat luka bakar yang terjadi. -
Article No. 21322 | 01 Sep 2025
Klinis : Tn. P usia 47 tahun masuk Rumah Sakit dengan keluhan luka bakar seluruh tubuh. Kejadian berawal ketika ada ledakan kompor minyak tanah saat memasak, Tn.P mencoba menyiram dengan air tetapi api dengan cepat membesar dan menyambar Tn.P. klien mengeluh nyeri pada area luka bakar dan merasa agak sesak. Hasil pemeriksaan ditemukan luka bakar grade II-III di regio thorak abdomen 28%, kemerahan dan nyeri tekan. Di region ekstremitas atas terdapat luka bakar grade II dengan luas 14% dan nyeri tekan. Pada ekstremitas bawah terdapat luka bakar grade II dengan luas 22%, kemerahan dan terasa nyeri. TD: 130/85 mmHg, N: 87x/ menit, RR: 26x/ menit, Suhu: 36,8oC. Hasil pemeriksaan laboratorium Hb: 15,4 gr/dl, Ht: 21, Leukosit: 10.800 mg/dl, Trombosit: 280.000 mg/dl.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah analisis diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan yang sesuai untuk kasus Tn. P:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum akibat luka bakar yang luas.
Kondisi Tn. P dengan luka bakar yang mencakup 64% luas permukaan tubuh dapat menyebabkan kelemahan umum dan penurunan toleransi terhadap aktivitas.
2. Nyeri Akut berhubungan dengan luka bakar.
Tn. P mengalami nyeri yang signifikan pada area luka bakar di regio thorak, abdomen, ekstremitas atas, dan ekstremitas bawah.
3. Risiko Infeksi berhubungan dengan kerusakan integritas kulit akibat luka bakar.
Luka bakar yang luas pada Tn. P dapat meningkatkan risiko infeksi karena kerusakan pada integritas kulit sebagai barier pertahanan tubuh.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Intoleransi Aktivitas:
- Klien dapat melakukan aktivitas dasar sehari-hari dengan bantuan minimal.
- Klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas perawatan diri dengan bantuan minimal.
- Klien dapat beradaptasi secara bertahap terhadap peningkatan aktivitas.
2. Nyeri Akut:
- Klien dapat mengenali faktor-faktor yang memicu nyeri.
- Klien dapat mengatasi nyeri menggunakan teknik manajemen nyeri yang efektif.
- Klien dapat mempertahankan toleransi terhadap aktivitas yang menyebabkan nyeri.
3. Risiko Infeksi:
- Tidak terjadi tanda-tanda infeksi pada luka bakar.
- Klien dapat melakukan perawatan luka secara mandiri.
- Klien dan keluarga dapat mengenali tanda-tanda infeksi dan melaporkannya secara tepat.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Intoleransi Aktivitas:
- Kaji tingkat aktivitas dan toleransi klien.
- Berikan latihan aktivitas secara bertahap sesuai dengan kondisi klien.
- Libatkan keluarga dalam perawatan aktivitas klien.
- Ajarkan teknik konservasi energi dan manajemen aktivitas.
2. Nyeri Akut:
- Kaji karakteristik nyeri klien (lokasi, intensitas, durasi, dan faktor pemicu).
- Berikan manajemen nyeri farmakologis dan non-farmakologis yang sesuai.
- Ajarkan teknik manajemen nyeri mandiri kepada klien dan keluarga.
- Kolaborasi dengan tim kesehatan untuk optimalisasi penatalaksanaan nyeri.
3. Risiko Infeksi:
- Lakukan perawatan luka bakar secara aseptik dan teratur.
- Pantau tanda-tanda infeksi pada luka bakar.
- Ajarkan klien dan keluarga tentang perawatan luka bakar secara mandiri.
- Kolaborasi dengan tim kesehatan untuk penanganan infeksi, jika diperlukan.
Penjelasan di atas mencakup diagnosa keperawatan, luaran yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mengelola kondisi Tn. P dengan luka bakar yang luas. Asuhan keperawatan yang komprehensif dan kolaboratif diharapkan dapat membantu pemulihan Tn. P secara optimal. -
Article No. 21323 | 01 Sep 2025
Klinis : hemophilia
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Sebagai dokter atau perekam medis, saya akan memberikan kode ICD-10 untuk diagnosis hemofilia, serta kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis yang mungkin terkait, jika ada.
1. Kode ICD-10:
- Kode: D66
- Deskripsi: Hemofilia A (faktor VIII defisiensi)
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 99.02
- Deskripsi: Pemberian faktor pembekuan darah, tidak diklasifikasikan di tempat lain
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 D66 digunakan untuk menggambarkan hemofilia A, yang merupakan gangguan perdarahan herediter yang disebabkan oleh defisiensi faktor VIII, salah satu faktor pembekuan darah. Hemofilia A adalah jenis hemofilia yang paling umum.
2. Kode ICD-9-CM 99.02 merujuk pada pemberian faktor pembekuan darah, yang merupakan salah satu terapi utama untuk mengelola episode perdarahan pada pasien dengan hemofilia. Faktor pembekuan darah dapat diberikan melalui infus atau injeksi untuk membantu mempertahankan kadar faktor pembekuan yang memadai dan mencegah atau mengendalikan episode perdarahan.
Penanganan hemofilia biasanya melibatkan terapi penggantian faktor pembekuan, profilaksis untuk mencegah episode perdarahan, dan pengelolaan komplikasi terkait seperti artropati hemofilik. Kode ICD-9-CM lain yang mungkin terkait adalah 99.04 (Pemberian antihemofilia faktor) dan 99.06 (Pemberian faktor pembekuan lainnya).