Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 1983 | 11 Oct 2024
Klinis : pasien laki-laki usia 48 tahun, Acral hangat, nadi ireguler dan sulit devaluasi,T 114/49 mhg N 48x/m RR 32x/m Spo2 sulit dievaluasi. Tiba- tiba pasien kejang. GCS 111
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi pasien yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
1. Penurunan Perfusi Jaringan Perifer Berhubungan dengan Gangguan Fungsi Kardiovaskular
2. Ketidakstabilan Tanda-Tanda Vital Berhubungan dengan Gangguan Fungsi Kardiovaskular
3. Risiko Cedera Berhubungan dengan Kejang
Penjelasan Singkat:
1. Penurunan Perfusi Jaringan Perifer Berhubungan dengan Gangguan Fungsi Kardiovaskular:
SDKI: Penurunan Perfusi Jaringan Perifer
SLKI: Perfusi Jaringan
SIKI: Manajemen Perfusi Jaringan
2. Ketidakstabilan Tanda-Tanda Vital Berhubungan dengan Gangguan Fungsi Kardiovaskular:
SDKI: Ketidakstabilan Tanda-Tanda Vital
SLKI: Stabilitas Hemodinamik
SIKI: Peningkatan Stabilitas Hemodinamik
3. Risiko Cedera Berhubungan dengan Kejang:
SDKI: Risiko Cedera
SLKI: Keselamatan Pasien
SIKI: Manajemen Risiko Cedera
Penjelasan Singkat:
1. Penurunan Perfusi Jaringan Perifer Berhubungan dengan Gangguan Fungsi Kardiovaskular:
Kondisi ini ditandai dengan adanya ekstremitas yang hangat, nadi yang ireguler dan sulit dievaluasi, serta tekanan darah yang tidak stabil. Hal ini menunjukkan adanya gangguan pada fungsi kardiovaskular yang dapat menyebabkan penurunan perfusi jaringan perifer.
2. Ketidakstabilan Tanda-Tanda Vital Berhubungan dengan Gangguan Fungsi Kardiovaskular:
Pasien menunjukkan tanda-tanda vital yang tidak stabil, seperti tekanan darah yang tinggi, nadi yang cepat, dan laju pernapasan yang cepat. Hal ini mengindikasikan adanya ketidakstabilan tanda-tanda vital yang berkaitan dengan gangguan fungsi kardiovaskular.
3. Risiko Cedera Berhubungan dengan Kejang:
Pasien mengalami kejang, yang dapat menyebabkan risiko cedera pada pasien. Perawatan yang tepat diperlukan untuk mencegah komplikasi akibat kejang. -
Article No. 1984 | 11 Oct 2024
Klinis : Hasil pengkajian perawat disebuah sekolah dasar didapatkan data siswa biasa membawa bekal makan siang berupa jajanan warung seperti chiki, permen, dan coklat. Namun ada beberapa juga yang membawa bekal nasi dan lauk saja. Apakah pengkajian lebih lanjut yang harus dilakukan oleh perawat a. Status gizi siswa b. Fasilitas kantin sekolah c. Tingkat atau kelas sasaran yang mempunyai masalah d. Menanyakan alokasi dana yang ada jika dilakukan pendidikan kesehatan e. Aspek yang ingin dicapai dalam pendidikan kesehatan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, terdapat beberapa hal yang dapat diidentifikasi dan menjadi fokus pengkajian lebih lanjut oleh perawat:
1. Status Gizi Siswa (a)
- Pengkajian lebih lanjut mengenai status gizi siswa, seperti pengukuran berat badan, tinggi badan, dan perhitungan indeks massa tubuh (IMT) untuk mengetahui apakah ada masalah gizi (kelebihan atau kekurangan gizi).
2. Fasilitas Kantin Sekolah (b)
- Pengkajian mengenai fasilitas dan menu yang tersedia di kantin sekolah. Hal ini dapat memberikan gambaran mengenai ketersediaan makanan sehat di sekolah.
3. Tingkat atau Kelas Sasaran yang Mempunyai Masalah (c)
- Pengkajian yang lebih fokus pada tingkat atau kelas tertentu yang memiliki masalah terkait pola makan atau pemilihan jajanan. Ini dapat memberikan informasi yang lebih spesifik untuk intervensi yang tepat.
4. Alokasi Dana Pendidikan Kesehatan (d)
- Pengkajian mengenai ketersediaan dana atau sumber daya yang dapat digunakan untuk melakukan pendidikan kesehatan bagi siswa. Hal ini akan membantu perencanaan dan implementasi program yang efektif.
5. Aspek yang Ingin Dicapai dalam Pendidikan Kesehatan (e)
- Perawat dapat mengidentifikasi aspek-aspek yang ingin dicapai dalam pendidikan kesehatan, seperti meningkatkan pengetahuan siswa tentang gizi seimbang, mengubah perilaku pemilihan makanan yang sehat, atau mendorong keterlibatan orang tua dalam mendukung pemilihan makanan yang sehat bagi anak-anak.
Dalam melakukan pengkajian lebih lanjut, perawat dapat menggunakan pendekatan akademis dan berperan sebagai pakar kesehatan untuk menyampaikan informasi yang akurat dan komprehensif kepada siswa, guru, dan pihak terkait di sekolah. Tujuan utamanya adalah untuk memberikan edukasi yang tepat dan mendorong perilaku makan yang sehat di lingkungan sekolah. -
Article No. 1985 | 11 Oct 2024
Klinis : asien laki-laki, 48 tahun. kesadaran menurun, sesak nafas dan grok-grok .acral hangat, nadi ireguler dan sulit dievaluasi. T 114/49 mhg N 48x/m RR 32x/m Spo2 sulit dievaluasi. Tiba- tiba pasien kejang. GCS 111
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, pasien laki-laki berusia 48 tahun dengan kondisi sebagai berikut:
1. Diagnosa Keperawatan (SDKI):
a. Penurunan Kesadaran
b. Gangguan Pola Napas
c. Resiko Perfusi Jaringan Tidak Efektif
d. Resiko Kejang
2. Penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI:
a. Penurunan Kesadaran
- SDKI: Penurunan kemampuan individu untuk merespons stimulasi eksternal atau internal secara tepat.
- SLKI: Peningkatan Kesadaran
- SIKI: Manajemen Penurunan Kesadaran
b. Gangguan Pola Napas
- SDKI: Perubahan dalam frekuensi, kedalaman, atau usaha pernapasan yang dapat mengancam kesehatan.
- SLKI: Peningkatan Pola Napas
- SIKI: Manajemen Ventilasi
c. Resiko Perfusi Jaringan Tidak Efektif
- SDKI: Ancaman gangguan sirkulasi darah ke jaringan yang dapat menyebabkan kerusakan sel.
- SLKI: Peningkatan Perfusi Jaringan
- SIKI: Manajemen Sirkulasi
d. Resiko Kejang
- SDKI: Ancaman terjadinya kontraksi otot yang tidak terkendali dan tidak terkoordinasi yang dapat mengancam keselamatan.
- SLKI: Peningkatan Pengendalian Kejang
- SIKI: Manajemen Kejang
Berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI, perawat dapat menyusun rencana asuhan keperawatan yang komprehensif untuk mengatasi masalah kesehatan pasien, mulai dari pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi, hingga evaluasi. -
Article No. 1986 | 11 Oct 2024
Klinis : Hasil pengkajian yang dilakukan perawat disebuah sekolah dasar didapatkan data bahwa mayoritas siswa tidak mencuci tangan sebelum makan; tampak siswa yang jajan sembarangan; dan tidak terdapat sarana cuci tangan disekolah. Guru UKS mengatakan bahwa masalah kesehatan yang paling sering dialami oleh siswanya adalah diare. Hasil pengkajian lebih lanjut didapatkan data: 30% anak menderita diare, angka berkunjung ke klinik sekolah dengan keluhan sakit perut, fasilitas klinik sekolah sangat terbatas. Dari hasil observasi dikantin didapatkan data tidak ada fasilitas cuci tangan, anak tidak melakukan cuci tangan saat akan makan. Apakah masalah kesehatan utama pada kelompok tersebut? a. Minimnya fasilitas cuci tangan b. Masalah tingginya prevalensi diare c. Rendahnya fasilitas kesehatan d. Rendahnya perilaku sehat e. Tingginya keluhan sakit perut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan hasil pengkajian yang diberikan, masalah kesehatan utama pada kelompok tersebut adalah:
b. Masalah tingginya prevalensi diare
Penjelasan:
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Diare Berhubungan Dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Yang Kurang
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Risiko diare adalah kondisi di mana individu atau kelompok berisiko atau berpotensi mengalami masalah diare.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan untuk meningkatkan perilaku higienis dan sanitasi lingkungan yang baik, sehingga dapat mencegah terjadinya diare.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi yang dapat dilakukan antara lain:
1. Edukasi tentang pentingnya mencuci tangan sebelum makan.
2. Fasilitasi penyediaan sarana cuci tangan di sekolah.
3. Promosi perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah.
Dengan tingginya prevalensi diare (30%) serta minimnya fasilitas dan perilaku sehat terkait kebersihan, maka masalah utama kelompok tersebut adalah risiko tinggi terjadinya diare. -
Article No. 1987 | 11 Oct 2024
Klinis : Sebuah wilayah ditemukan data bahwa 70% laki-laki usia produktif merokok rata-rata 1 bungkus/hari, 30% nya memiliki penyakit Hipertensi dan 80% diantara nya tidak kontrol secara teratur dan 85% keluarga tidak mengetahui tentang perawatan hipertensi di rumah. Menurut penanggung jawab program Penyakit Tidak Menular (PTM) di puskesmas, wilayah tersebut belum memiliki pos pembinaan terpadu (posbindu) karena belum ada kader yang dilatih. Apakah diagnosis keperawatan komunitas yang tepat untuk kasus di atas? a. Defisit kesehatan komunitas b. Perilaku kesehatan cenderung beresiko c. Ketidakefektifan koping komunitas d. Gangguan pemeliharaan kesehatan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis keperawatan komunitas yang paling tepat untuk kasus di atas adalah:
d. Gangguan pemeliharaan kesehatan
Penjelasan:
- Dalam kasus ini, terdapat beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan gangguan pemeliharaan kesehatan di komunitas:
1. 70% laki-laki usia produktif merokok rata-rata 1 bungkus/hari (perilaku berisiko)
2. 30% memiliki penyakit hipertensi, dan 80% di antaranya tidak terkontrol secara teratur (pemeliharaan kesehatan tidak efektif)
3. 85% keluarga tidak mengetahui tentang perawatan hipertensi di rumah (kurangnya pengetahuan)
4. Belum ada pos pembinaan terpadu (posbindu) karena belum ada kader yang terlatih (sumber daya dan akses layanan kesehatan terbatas)
- Diagnosis keperawatan "Gangguan pemeliharaan kesehatan" tepat untuk menggambarkan kondisi ini, karena komunitas mengalami masalah dalam mempertahankan, mencapai, atau memulihkan status kesehatan yang optimal.
Penjelasan singkat terkait SDKI, SLKI, dan SIKI:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) adalah standar diagnosis keperawatan yang digunakan oleh perawat di Indonesia.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) adalah standar luaran atau hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) adalah standar intervensi keperawatan yang dapat dilakukan oleh perawat.
- Standar-standar ini dikembangkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk memastikan kualitas dan keseragaman praktik keperawatan di Indonesia. -
Article No. 1988 | 11 Oct 2024
Klinis : Hasil kunjungan rumah pada beberapa keluarga dengan remaja, perawat memperoleh keluhan terkait perubahan sikap remaja terhadap orang tua. Remaja dikeluhkan lebih agresif secara lisan, cenderung membantah apa yang diminta dilakukan oleh orang tua. Perawat merencanakan akan memberi pendidikan kesehatan pada remaja untuk memfasilitasi hubungan remaja dengan orang tuanya. Apakah metode pendidikan kesehatan yang tepat dilakukan oleh perawat a. Mengadakan seminar kesehatan remaja b. Melakukan konseling pada remaja terkait pemahaman tugas perkembangan c. Menyebarkan leaflet dan penempelan poster tentang perkembangan remaja d. Membentuk kelompok pendukung remaja e. Memberikan penyuluhan pada sekelompok remaja tentang komunikasi efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang diberikan, Diagnosa Keperawatan yang sesuai adalah:
Diagnosa Keperawatan: Komunikasi Keluarga Tidak Efektif
Penjelasan:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Komunikasi Keluarga Tidak Efektif adalah ketidakmampuan anggota keluarga untuk menyampaikan informasi, perasaan, dan kebutuhan dengan jelas dan terbuka sehingga terjadi hambatan dalam memahami dan merespons satu sama lain.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Luaran yang diharapkan adalah Komunikasi Keluarga Efektif, yaitu kemampuan anggota keluarga untuk saling menyampaikan informasi, perasaan, dan kebutuhan dengan jelas dan terbuka sehingga dapat saling memahami dan merespons satu sama lain.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi yang dapat dilakukan adalah Peningkatan Komunikasi Keluarga, yaitu memfasilitasi kemampuan keluarga untuk menyampaikan informasi, perasaan, dan kebutuhan dengan jelas dan terbuka sehingga dapat saling memahami dan merespons satu sama lain.
Metode pendidikan kesehatan yang tepat dilakukan oleh perawat adalah:
E. Memberikan penyuluhan pada sekelompok remaja tentang komunikasi efektif, dengan tone = akademis, persona = pakar, nurse.
Penjelasan:
- Memberikan penyuluhan pada sekelompok remaja tentang komunikasi efektif merupakan metode yang sesuai dengan kondisi yang diberikan, yaitu memfasilitasi hubungan remaja dengan orang tuanya.
- Pemilihan tone = akademis dan persona = pakar, nurse akan memberikan kesan profesional dan kredibel bagi remaja, sehingga mereka akan lebih terbuka untuk menerima informasi yang diberikan.
Metode ini lebih efektif dibandingkan dengan memilih opsi lain, seperti seminar kesehatan remaja yang cenderung lebih formal, konseling individual yang kurang efisien, atau pembentukan kelompok pendukung yang membutuhkan waktu lebih lama untuk terbentuk. -
Article No. 1989 | 11 Oct 2024
Klinis : Seorang perawat merencanakan akan melakukan pendidikan kesehatan pada kelompok remaja di RW 3 kelurahan X tentang bahaya merokok. Menetapkan salah satu kriteria evaluasi keberhasilan pendidikan kesehatan adalah diikuti oleh 80% remaja dari target sasaran. Apakah jenis kriteria evaluasi yang ditetapkan oleh perawat? a. Evaluasi formatif b. Evaluasi Struktur c. Evaluasi Sumatif d. Evaluasi hasil e. Evaluasi Proses
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, jenis kriteria evaluasi yang ditetapkan oleh perawat adalah Evaluasi Sumatif.
Penjelasan:
Evaluasi Sumatif adalah evaluasi yang dilakukan pada akhir suatu kegiatan atau program untuk menilai keberhasilan program tersebut secara keseluruhan. Dalam kasus ini, perawat menetapkan kriteria evaluasi keberhasilan pendidikan kesehatan yang diikuti oleh 80% remaja dari target sasaran, yang merupakan indikator hasil akhir dari kegiatan tersebut.
Evaluasi Sumatif bertujuan untuk menilai sejauh mana tujuan program atau kegiatan telah tercapai. Kriteria evaluasi yang ditetapkan perawat, yaitu persentase remaja yang mengikuti pendidikan kesehatan, merupakan indikator hasil akhir yang dapat digunakan untuk menentukan keberhasilan program secara keseluruhan.
Jadi, jenis kriteria evaluasi yang ditetapkan oleh perawat dalam rencana pendidikan kesehatan pada kelompok remaja adalah Evaluasi Sumatif. -
Article No. 1990 | 11 Oct 2024
Klinis : Seorang perawat melakukan pengkajian menemukan bahwa suatu kelurahan memiliki kebiasaan mengkonsumsi minuman beralkohol setiap melaksanakan suatu kegiatan perayaan di kelurahan tersebut. Apakah program yang cocok dikembangkan oleh perawat? a. JKN b. GERMAS c. Kualitas Puskesmas d. PIS PK e. Yoga Terapi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Untuk kondisi tersebut, program yang sesuai untuk dikembangkan oleh perawat adalah:
b. GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat)
Penjelasan:
Berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), kondisi ini dapat dikategorikan sebagai:
Diagnosis Keperawatan:
- Risiko Penyalahgunaan Zat (Alkohol)
Penjelasan singkat:
- Risiko Penyalahgunaan Zat (Alkohol) adalah keadaan di mana individu/kelompok berisiko menggunakan zat (alkohol) secara berlebihan atau tidak sesuai indikasi yang dapat menyebabkan masalah kesehatan.
Intervensi Keperawatan:
- Intervensi yang sesuai adalah GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat), yang merupakan program untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat.
Dalam hal ini, perawat dapat mengembangkan program GERMAS yang berfokus pada pencegahan penyalahgunaan alkohol di masyarakat, seperti edukasi tentang bahaya konsumsi alkohol, promosi pola hidup sehat, dan pemberdayaan masyarakat untuk mengurangi kebiasaan konsumsi alkohol dalam kegiatan perayaan. -
Article No. 1991 | 11 Oct 2024
Klinis : Seorang perawat memberikan gambaran bahwa penyumbatan pembuluh darah dapat diakibatkan oleh penumpukan lemak dengan membawa contoh berupa miniatur pipa dan plastik peraga. Apakah intervensi sekunder yang dilakukan perawat? a. Manajemen diri penyakit akut b. Pengetahuan ketahanan personal c. Pengajaran proses penyakit d. Pendidikan kesehatan e. Pengajaran perawatan penyakit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, intervensi sekunder yang dilakukan oleh perawat dalam kasus ini adalah:
e. Pengajaran perawatan penyakit
Penjelasan:
Diagnosa Keperawatan:
Kurang Pengetahuan terkait Penyakit Jantung Koroner
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Kurang Pengetahuan terkait Penyakit Jantung Koroner
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Pengetahuan Perilaku Sehat
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Pengajaran Perawatan Penyakit
Dalam kasus ini, perawat memberikan edukasi tentang penyumbatan pembuluh darah yang diakibatkan oleh penumpukan lemak. Hal ini termasuk dalam intervensi sekunder, yaitu pengajaran perawatan penyakit. Perawat menggunakan alat peraga berupa miniatur pipa dan plastik untuk menjelaskan proses penyumbatan pembuluh darah secara lebih konkret.
Dengan demikian, jawaban yang paling tepat adalah e. Pengajaran perawatan penyakit. -
Article No. 1992 | 11 Oct 2024
Klinis : Perawat puskesmas memberikan pendidikan kesehatan mengenai TB pada kelompok dewasa di suatu kelurahan. Perawat menjelaskan bahwa lingkungan yang memiliki kelembaban yang tinggi dan sirkulasi udara yang tidak baik. Perawat juga menjelaskan jika seseorang terkena panyakit TB dan tidak menuntaskan pengobatan akan mengalami komplikasi atau perparahan penyakit berupa resistensi obat dan dapat menghabiskan biaya pengobatan hingga 200 juta. Bentuk kegiatan yang dilakukan oleh perawat tersebut adalah? a. Kuratif b. Preventif c. Rehabilitatif d. Promotif e. Resosialitatif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, bentuk kegiatan yang dilakukan oleh perawat tersebut adalah:
d. Promotif
Penjelasan:
Dalam situasi ini, perawat di puskesmas memberikan pendidikan kesehatan kepada kelompok dewasa di suatu kelurahan mengenai penyakit tuberkulosis (TB). Perawat menjelaskan faktor lingkungan yang dapat memengaruhi risiko penularan TB, serta konsekuensi dari tidak menuntaskan pengobatan TB. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan perilaku masyarakat dalam mencegah dan mengendalikan penyakit TB.
Kegiatan promotif adalah upaya meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran, dengan tujuan memelihara dan meningkatkan kesehatan. Hal ini sejalan dengan peran perawat dalam memberikan pendidikan kesehatan untuk mempromosikan kesehatan TB pada kelompok dewasa di masyarakat.