Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 21410 | 02 Sep 2025
Klinis : Kasus Dermatitis Seorang pasien, Tn. A, usia 35 tahun, jeni kelamin laki-laki, pekerjaan tukang bangunan dengan status perkawinan menikah, datang ke poli kulit dengan keluhan gatal-gatal dan kemerahan di lengan dan betis sejak 1 minggu terakhir. Keluhan semakin parah saat pasien banyak berkeringat dan terkena debu semen di tempat kerja. Pasien juga mengeluhkan kulit terasa panas, kering, dan kadang pecah-pecah. Keluhan muncul pertama kali setelah pasien bekerja di proyek baru yang banyak menggunakan semen. Pasien sering menggaruk karena gatal sehingga muncul luka lecet kecil. Pasien sudah mencoba menggunakan bedak salisilat tetapi tidak banyak membantu. Pasien tidak ada riwayat alergi obat. Pasien pernah mengalami keluhan serupa 2 tahun lalu, membaik setelah diberi salep oleh dokter, namun pasien tidak memiliki riwayat penyakit kulit menular. Dari hasil pengkajian didapatkan data ayah pasien memiliki riwayat asma, tidak ada anggota keluarga dengan keluhan kulit yang sama. Pasien merasa malu dengan kulitnya yang kemerahan dan sering digaruk. Saat ini berperan sebagai kepala keluarga, hubungan baik dengan istri dan anak. Pasien jarang memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, lebih sering membeli obat di warung, pasien tidak mengetahui cara pencegahan dermatitis. Aktivitas sehari-hari sebagai tukang bangunan, banyak berkeringat. Tidak ada keluhan sesak atau nyeri saat beraktivitas. Saat malam tidur malam terganggu karena gatal (sering terbangun 2–3 kali), dan rasa panas di kulit. Pasien mengatasi gatal dengan menggaruk atau menggunakan bedak. Kadang pasien merasa stres karena kulit makin rusak jika digaruk. Pasien meyakini sakit ini sebagai ujian, serta tidak ada pantangan khusus terkait kepercayaan. Nafsu makan pasien baik, dengan asupan cairan ± 1–1,5 liter/hari, BAB 1x/hari, konsistensi normal, BAK 4–5x/hari, warna kuning jernih. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital: TD 120/80 mmHg, Nadi 84x/menit, RR 20x/menit, Suhu 36,8°C. Pada kulit: terdapat eritema (kemerahan) difus di lengan bawah dan betis, papul kecil, ekskoriasi akibat garukan, kulit kering, tidak ada pus, mukosa bibir lembab, tidak ada limfadenopati. Pada pemriksaan penunjang didapatkan: ? Tes alergi kulit (patch test): positif terhadap bahan semen. ? Darah rutin: normal. ? IgE serum: sedikit meningkat. Foto lengan bawah pasien saat awal kejadian.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kasus Tn. A dengan diagnosa dermatitis, berikut adalah diagnosa keperawatan, penjelasan singkat, kode, serta definisi dari SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Intoleransi aktivitas (SDKI kode: 00092)
Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan.
2. Gangguan Integritas Kulit (SDKI kode: 00046)
Definisi: Kerusakan pada epidermis dan/atau dermis.
3. Gangguan Pola Tidur (SDKI kode: 00198)
Definisi: Gangguan dalam kuantitas dan kualitas tidur yang mengganggu fungsi normal individu.
4. Kecemasan (SDKI kode: 00146)
Definisi: Perasaan tidak nyaman atau khawatir yang diekspresikan.
Rencana Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Pemulihan Integritas Kulit (SLKI kode: 1720)
Definisi: Mempertahankan atau memulihkan kesatuan, struktur, dan fungsi kulit.
2. Manajemen Nyeri (SLKI kode: 1410)
Definisi: Mencegah, mengurangi, atau menghilangkan rasa nyeri sehingga klien dapat beraktivitas.
3. Manajemen Stres (SLKI kode: 1450)
Definisi: Membantu klien untuk mengenali dan mengatasi stres.
4. Peningkatan Tidur (SLKI kode: 1850)
Definisi: Memfasilitasi tidur yang berkualitas dan mencukupi.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Perawatan Luka (SIKI kode: I13067)
Definisi: Tindakan untuk memelihara dan memulihkan integritas kulit.
2. Terapi Relaksasi (SIKI kode: I13158)
Definisi: Tindakan untuk mengurangi ketegangan fisik dan mental.
3. Manajemen Lingkungan: Kenyamanan (SIKI kode: I13097)
Definisi: Tindakan untuk memfasilitasi kenyamanan klien.
4. Edukasi Kesehatan (SIKI kode: I13050)
Definisi: Tindakan untuk memberikan informasi yang meningkatkan pengetahuan dan keterampilan klien. -
Article No. 21293 | 01 Sep 2025
Klinis : - kejang jam 6 pagi ini sekitar 2 menit tidak respon, kemudian menangis - nafas grok grok disertai batuk sejak kemarin - demam sejak kemarin - muntah (-)
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah analisis diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Risiko Kejang Berhubungan dengan Perubahan Metabolisme
- Definisi: Keadaan di mana individu rentan mengalami perubahan pola aktivitas listrik otak yang tidak terkontrol.
- Faktor yang Berhubungan: Perubahan metabolisme (demam, hipoksia, elektrolit).
2. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif Berhubungan dengan Peningkatan Produksi Sekret
- Definisi: Ketidakmampuan untuk mengeluarkan sekret atau benda asing dari saluran napas.
- Faktor yang Berhubungan: Peningkatan produksi sekret (infeksi saluran pernapasan).
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Risiko Kejang Berhubungan dengan Perubahan Metabolisme:
- Klien terbebas dari kejang selama perawatan.
- Tanda-tanda vital stabil (suhu, pernapasan, nadi).
- Klien tidak menunjukkan tanda-tanda komplikasi akibat kejang.
2. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif Berhubungan dengan Peningkatan Produksi Sekret:
- Klien menunjukkan jalan napas yang bebas dari sumbatan.
- Klien dapat batuk/bersin secara efektif untuk mengeluarkan sekret.
- Klien tidak menunjukkan tanda-tanda distress pernapasan.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Risiko Kejang Berhubungan dengan Perubahan Metabolisme:
- Pantau tanda-tanda vital secara berkala (suhu, pernapasan, nadi).
- Identifikasi faktor-faktor pencetus kejang (perubahan metabolisme, infeksi, dll).
- Berikan antikonvulsan sesuai dengan instruksi medis.
- Pantau respons terhadap pengobatan antikonvulsan.
- Ajarkan keluarga tentang cara menangani kejang dan tindakan yang harus dilakukan.
- Ciptakan lingkungan yang aman untuk mencegah cedera saat terjadi kejang.
2. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif Berhubungan dengan Peningkatan Produksi Sekret:
- Pantau tanda-tanda distress pernapasan (frekuensi, kedalaman, wheezing, dll).
- Berikan oksigen dan monitor kadar oksigen dalam darah.
- Lakukan suction jika diperlukan untuk mengeluarkan sekret.
- Ajarkan teknik batuk efektif dan latihan pernapasan.
- Berikan bronkodilator dan mukolitik sesuai dengan instruksi medis.
- Tingkatkan asupan cairan untuk membantu melunakkan sekret.
- Pertahankan posisi semi-fowler untuk memfasilitasi drainase sekret.
Penjelasan rinci dan terperinci untuk setiap poin di atas disajikan dari perspektif seorang perawat profesional dengan nada akademis. -
Article No. 21294 | 01 Sep 2025
Klinis : kencing batu
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Sebagai seorang dokter atau perekam medis, saya akan memberikan kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis terkait dengan kondisi "kencing batu" sebagai berikut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: N20.0
- Deskripsi: Batu ginjal
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 55.03
- Deskripsi: Lithotripsi ginjal, tanpa pemecahan batu, menggunakan gelombang kejut ekstrakorporeal (ESWL)
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 N20.0 untuk "Batu ginjal" adalah kode yang tepat untuk menggambarkan kondisi "kencing batu". Hal ini karena kencing batu, atau urolithiasis, umumnya terjadi ketika kristal-kristal mineral terbentuk di dalam ginjal, membentuk batu-batu kecil.
2. Untuk tindakan medis yang sering dilakukan dalam menangani kasus kencing batu, kode ICD-9-CM 55.03 untuk "Lithotripsi ginjal, tanpa pemecahan batu, menggunakan gelombang kejut ekstrakorporeal (ESWL)" adalah yang paling sesuai. ESWL merupakan salah satu prosedur non-invasif yang umum digunakan untuk memecahkan batu ginjal tanpa perlu operasi.
Kode-kode tersebut digunakan oleh tenaga medis dan perekam medis untuk mengklasifikasikan dan mendokumentasikan diagnosis serta prosedur medis yang dilakukan dalam penatalaksanaan kondisi "kencing batu" secara terstandar. -
Article No. 21295 | 01 Sep 2025
Klinis : sariawan
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis sariawan, serta kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis yang mungkin terkait:
1. Kode ICD-10:
- Kode: K12.0
- Deskripsi: Stomatitis aftosa, sariawan
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 98.01
- Deskripsi: Aplikasi lokal agen terapeutik ke rongga mulut dan faring
Penjelasan:
Sariawan, yang secara medis dikenal sebagai stomatitis aftosa, adalah kondisi yang ditandai dengan adanya luka atau lepuhan kecil di dalam rongga mulut. Sariawan umumnya tidak berbahaya dan biasanya sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari hingga seminggu.
Kode ICD-10 K12.0 mengacu spesifik pada kondisi sariawan atau stomatitis aftosa. Sementara itu, kode ICD-9-CM 98.01 menunjukkan prosedur aplikasi lokal agen terapeutik, seperti obat-obatan topikal, ke rongga mulut dan faring, yang mungkin dilakukan untuk mengatasi sariawan dan mempercepat penyembuhannya.
Sebagai dokter atau perekam medis, penting untuk mencatat kode diagnosis dan prosedur yang sesuai dalam rekam medis pasien untuk memastikan dokumentasi yang akurat dan memfasilitasi proses penagihan serta penelusuran data epidemiologi. -
Article No. 21296 | 01 Sep 2025
Klinis : gondongen
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis terkait kondisi gondongen:
1. Kode ICD-10:
- Kode: N41.0
- Deskripsi: Gondongen (Prostatitis akut)
Gondongen atau prostatitis akut merupakan kondisi peradangan pada kelenjar prostat yang dapat disebabkan oleh infeksi bakteri atau nonbakteri. Kondisi ini dapat menyebabkan gejala seperti nyeri panggul, rasa tidak nyaman saat berkemih, dan demam.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 60.81
- Deskripsi: Aspirasi atau biopsi prostat
Jika diperlukan, prosedur aspirasi atau biopsi prostat dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis dan menentukan penyebab gondongen. Prosedur ini dilakukan dengan menggunakan jarum untuk mengambil sampel cairan atau jaringan dari kelenjar prostat untuk diperiksa lebih lanjut di laboratorium. -
Article No. 21297 | 01 Sep 2025
Klinis : parotitis
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis parotitis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis yang terkait:
1. Kode ICD-10:
- Kode: K11.0
- Deskripsi: Parotitis
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 42.23
- Deskripsi: Eksisi atau obstruksi glandula parotis
Parotitis adalah peradangan kelenjar parotis, yang merupakan salah satu dari tiga pasang kelenjar ludah utama. Kode ICD-10 K11.0 digunakan untuk mengkodekan kondisi ini. Dalam kasus tertentu, pasien dengan parotitis mungkin memerlukan tindakan eksisi atau obstruksi kelenjar parotis, yang tercakup dalam kode ICD-9-CM 42.23. Dokter atau perekam medis akan memilih kode yang sesuai berdasarkan dokumentasi klinis dan prosedur yang dilakukan. -
Article No. 21298 | 01 Sep 2025
Klinis : berat anggota gerak kanan sejak 4 hari smrs, Bicara pelo (+), Bibir mencong (-) Nyeri kepala (-). Mual (-). Muntah (-) Kejang (-) demam (-), Reflek menelan (+). Pingsan (-). BAB dan BAK normal. os sudah ct scan dari RSUD gunung tua dan disarankan MRi, tidak ada sumbatan jalan nafas, tidak ada sesak RPD: Riw. Hipertensi (-), Riw. DM T2 (-), Riw. stroke (-), riw. dislipidemia (-), riw. sakit jantung (-) RPO:
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, mari saya berikan analisis yang rinci untuk kondisi yang Anda sampaikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Berdasarkan gejala yang Anda paparkan, yaitu berat anggota gerak kanan sejak 4 hari, bicara pelo, reflek menelan positif, namun tidak ada sumbatan jalan nafas dan tidak ada sesak, maka diagnosa keperawatan yang sesuai adalah:
1. Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan dengan kelemahan hemiparese (penurunan kekuatan otot di satu sisi tubuh).
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Pasien dapat melakukan aktivitas fisik secara mandiri.
2. Pasien mendemonstrasikan peningkatan kemampuan fungsional.
3. Pasien menunjukkan peningkatan kekuatan otot.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Aktivitas: Membantu pasien untuk melakukan aktivitas fisik secara bertahap dan terukur sesuai kemampuannya, seperti latihan rentang gerak, latihan kekuatan otot, dan latihan koordinasi.
2. Terapi Latihan: Memberikan latihan fisik yang terstruktur dan terjadwal untuk meningkatkan kekuatan, koordinasi, dan kemampuan fungsional pasien.
3. Manajemen Nyeri: Mengelola nyeri yang mungkin timbul selama aktivitas fisik dengan pemberian analgetik, kompres, atau modalitas lain sesuai indikasi.
4. Edukasi Pasien: Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya latihan fisik, manajemen nyeri, dan perawatan anggota gerak yang terkena.
5. Kolaborasi dengan Fisioterapis: Berkolaborasi dengan fisioterapis untuk menyusun program latihan fisik yang sesuai dengan kondisi pasien.
Penjelasan Rinci:
Diagnosa keperawatan "Gangguan Mobilitas Fisik" dipilih karena pasien mengalami kelemahan pada anggota gerak kanan yang merupakan gejala utama dari hemiparese. Hemiparese adalah penurunan kekuatan otot di satu sisi tubuh, yang sering terjadi akibat gangguan neurologis seperti stroke.
Luaran yang diharapkan setelah asuhan keperawatan adalah agar pasien dapat melakukan aktivitas fisik secara mandiri, menunjukkan peningkatan kemampuan fungsional, dan peningkatan kekuatan otot. Hal ini bertujuan untuk memulihkan mobilitas dan kemampuan fungsional pasien.
Intervensi keperawatan yang diperlukan meliputi manajemen aktivitas, terapi latihan, manajemen nyeri, edukasi pasien, dan kolaborasi dengan fisioterapis. Tujuannya adalah untuk membantu pasien meningkatkan kekuatan, koordinasi, dan kemampuan fungsional secara bertahap, serta mengelola nyeri yang mungkin timbul selama aktivitas.
Peran perawat dalam asuhan ini adalah sebagai fasilitator dalam proses pemulihan, edukator untuk meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga, serta kolaborator dengan tenaga kesehatan lain untuk mencapai luaran yang optimal. -
Article No. 21299 | 01 Sep 2025
Klinis : berat anggota gerak kanan sejak 4 hari smrs, Bicara pelo (+), Bibir mencong (-) Nyeri kepala (-). Mual (-). Muntah (-) Kejang (-) demam (-), Reflek menelan (+). Pingsan (-). BAB dan BAK normal. os sudah ct scan dari RSUD gunung tua dan disarankan MRi, tidak ada sumbatan jalan nafas, tidak ada sesak RPD: Riw. Hipertensi (-), Riw. DM T2 (-), Riw. stroke (-), riw. dislipidemia (-), riw. sakit jantung (-) RPO:
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis yang sesuai adalah:
1. Kode ICD-10:
- Kode: G81.1
- Deskripsi: Hemiplegia spastik, yang mempengaruhi lengan dan tungkai pada satu sisi tubuh.
Tidak ada prosedur atau tindakan medis yang dijelaskan dalam kasus ini, sehingga tidak ada kode ICD-9-CM yang dapat diberikan.
Penjelasan:
- Gejala utama yang dilaporkan adalah berat anggota gerak kanan sejak 4 hari, yang mengarah pada diagnosis hemiplegia spastik (kelumpuhan setengah badan sebelah kanan).
- Gejala lain yang dilaporkan, seperti bicara pelo, reflek menelan positif, dan tidak ada gangguan sadar, juga mendukung diagnosis hemiplegia spastik.
- Pemeriksaan CT Scan yang dilakukan di RSUD Gunung Tua dan saran untuk melakukan pemeriksaan MRI selanjutnya menunjukkan bahwa belum ditemukan penyebab yang jelas, sehingga diperlukan investigasi lebih lanjut.
- Riwayat penyakit lain (hipertensi, DM, stroke, dislipidemia, penyakit jantung) tidak dilaporkan, sehingga tidak ada riwayat penyakit yang terkait.
Kesimpulannya, diagnosis yang sesuai adalah hemiplegia spastik (G81.1) berdasarkan gejala yang dilaporkan. -
Article No. 21300 | 01 Sep 2025
Klinis : alergi
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis alergi beserta penjelasannya:
1. Kode ICD-10:
- Kode: T78.4
- Deskripsi: Alergi, tidak tergolongkan di tempat lain
Penjelasan:
- Kode T78.4 dalam ICD-10 digunakan untuk mengkodekan kondisi alergi yang tidak dapat diklasifikasikan ke kategori yang lebih spesifik.
- Alergi adalah reaksi hipersensitivitas dari sistem imun tubuh terhadap paparan bahan atau zat tertentu, yang dapat menyebabkan gejala seperti ruam kulit, gatal, pembengkakan, sesak napas, dan bahkan reaksi anafilaksis yang mengancam jiwa.
- Diagnosis alergi biasanya didasarkan pada anamnesis riwayat paparan, gejala klinis, dan jika perlu didukung oleh pemeriksaan penunjang seperti uji alergi.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: Tidak ada kode ICD-9-CM prosedur yang spesifik untuk alergi.
Penjelasan:
- Pada ICD-9-CM, tidak ada kode prosedur atau tindakan medis yang spesifik untuk menangani kondisi alergi.
- Manajemen alergi biasanya meliputi pemberian obat-obatan antihistamin, kortikosteroid, atau epinefrin, serta tindakan pencegahan terhadap pemicu alergi.
- Jika diperlukan, dapat dilakukan prosedur diagnostik seperti uji alergi kulit atau tes provokasi, namun tidak ada kode ICD-9-CM yang secara khusus mewakili tindakan ini. -
Article No. 21301 | 01 Sep 2025
Klinis : tinggal kapas dalam telinga
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \rtf1\ansi\ansicpg1252\deff0\nouicompat{\fonttbl{\f0\fnil\fcharset0 Calibri;}}
{\colortbl;\red0\green0\blue0;\red0\green0\blue255;}
{\*\generator Riched20 10.0.22621}\viewkind4\uc1
\pard\sa200\sl276\slmult1\f0\fs22\lang1057 Berdasarkan kondisi \b tinggal kapas dalam telinga\b0 , berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat sesuai standar SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):\par
\par
\b Diagnosa Keperawatan:\b0\par
\cf2\ul Gangguan Sensori Persepsi: Pendengaran\cf0\ulnone (Kode: 00122)\par
\b Definisi:\b0 Perubahan dalam jumlah atau pola stimulus yang masuk disertai dengan respons yang kurang, berlebihan, atau terganggu terhadap stimulus tersebut (pada kasus ini, akibat obstruksi kanalis auditorius eksternus).\par
\par
\b Luaran Keperawatan (SLKI):\b0\par
\cf2\ul Status Sensori: Pendengaran\cf0\ulnone (Kode: 0902)\par
\b Definisi:\b0 Kemampuan untuk mendengar dan memahami suara.\par
\b Indikator Luaran:\b0\par
1. Klien melaporkan pendengaran membaik.\par
2. Klien dapat berkomunikasi secara verbal dengan jelas.\par
3. Tidak terdapat tanda iritasi atau infeksi pada telinga.\par
\par
\b Intervensi Keperawatan (SIKI):\b0\par
\cf2\ul Manajemen Impaksi Serumen\cf0\ulnone (Kode: 3580)\par
\b Definisi:\b0 Penggunaan teknik dan tindakan untuk mengeluarkan atau melunakkan serumen atau benda asing dari liang telinga.\par
\b Aktivitas Intervensi:\b0\par
1. Lakukan pengkajian status pendengaran dan integritas membran timpani.\par
2. Lakukan irigasi telinga dengan larutan steril hangat (jika tidak terdapat kontraindikasi).\par
3. Keluarkan kapas secara hati-hati menggunakan forsep atau alat yang sesuai.\par
4. Anjurkan klien untuk menghindari penggunaan cotton bud atau benda asing untuk membersihkan telinga.\par
5. Monitor tanda-tanda infeksi atau iritasi pasca-prosedur.\par
\par
Demikian penjelasan singkat sesuai standar PPNI. Tindakan harus dilakukan dengan memperhatikan aspek keselamatan dan kenyamanan klien.\par
}