Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 2191 | 14 Oct 2024
Klinis : Seorang perempuan 57 tahun (BB: 60 kg, TB: 160 cm) sudah 1 minggu dirawat di bangsal IPD karena luka pada kaki kanannya yang tidak kunjung sembuh. Pasien mempunyai riwayat diabetes sejak 5 tahun yang lalu. Saat pengkajian didapatkan pasien mengeluh mual, ingin muntah dan mulut terasa pahit. Pasien mengeluh sulit untuk berpindah dari tempat tidur, kekuatan otot Pasien mengatakan sulit sekali untuk dapat minum air putih karena mual. Pemeriksaan fisik didapatkan Nadi: 104x/menit dan teraba lemah, RR: 17x/menit dan regular, TD: 100/60 mmHg, Suhu aksila: 36.7OC, perkusi dada: sonor, otot bantu napas (-), turgor kulit 5 detik, mukosa bibir kering, bising usus 10x/menit, urine output 20cc/jam, gula darah sewaktu 413 gr/dl. Pengkajian luka didapatkan panjang 10 cm, kedalaman 3 cm, eritema (+), pus (+). Saat ini, pasien mengatakan tidur 7-8 jam perhari, dapat istirahat dengan baik dan ingin menambah jam tidur saat malam hari.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan, penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI, serta intervensi keperawatan yang dapat diterapkan untuk kondisi pasien tersebut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
2. Resiko Perfusi Perifer Tidak Efektif
3. Intoleransi Aktivitas
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
- Definisi: Asupan nutrisi yang tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh.
- Penyebab: Mual, muntah, anoreksia.
- Karakteristik: Berat badan menurun, asupan oral rendah, kadar gula darah tidak terkontrol.
2. Resiko Perfusi Perifer Tidak Efektif
- Definisi: Berisiko mengalami gangguan sirkulasi darah ke bagian tubuh tertentu.
- Penyebab: Diabetes mellitus, luka pada ekstremitas.
- Karakteristik: Nyeri, edema, perubahan warna kulit, suhu kulit menurun.
3. Intoleransi Aktivitas
- Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
- Penyebab: Kelemahan fisik, gangguan mobilitas.
- Karakteristik: Kelelahan, dyspnea, kesulitan dalam melakukan aktivitas.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Keseimbangan Nutrisi
2. Perfusi Perifer
3. Toleransi Aktivitas
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Nutrisi
- Monitor asupan dan output nutrisi
- Kolaborasi dengan tim gizi untuk menyusun rencana diet yang sesuai
- Berikan nutrisi enteral/parenteral jika perlu
2. Manajemen Perfusi Perifer
- Perawatan luka secara optimal
- Kolaborasi dengan tim medis untuk penanganan diabetes
- Edukasi pasien dan keluarga terkait perawatan ekstremitas
3. Manajemen Aktivitas
- Bantuan dalam aktivitas sehari-hari sesuai kemampuan pasien
- Latihan mobilisasi secara bertahap
- Edukasi pasien dan keluarga terkait pentingnya aktivitas
Penerapan intervensi keperawatan ini diharapkan dapat membantu mengatasi masalah kesehatan pasien secara komprehensif. -
Article No. 2192 | 14 Oct 2024
Klinis : Pasien meminum racun, mual muntah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan menyediakan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi pasien yang meminum racun, mengalami mual muntah.
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Keracunan Obat/Zat Kimia
Penjelasan Singkat:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Keadaan di mana individu berisiko mengalami efek yang tidak diinginkan akibat zat atau bahan yang dimakan, dihirup, atau diinjeksi.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Individu bebas dari efek yang tidak diinginkan akibat zat atau bahan yang dimakan, dihirup, atau diinjeksi.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi yang dilakukan untuk mencegah, mengurangi, atau mengatasi efek yang tidak diinginkan akibat zat atau bahan yang dimakan, dihirup, atau diinjeksi.
Penjelasan tambahan:
Pasien yang meminum racun berisiko mengalami keracunan. Perawat harus segera melakukan tindakan pertolongan pertama, seperti memastikan jalan napas terbuka, pemberian cairan, dan peningkatan frekuensi pemantauan tanda-tanda vital. Selain itu, perawat juga harus melakukan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai bahaya racun, pencegahan, dan tindakan yang harus dilakukan jika terjadi keracunan. -
Article No. 2193 | 14 Oct 2024
Klinis : An. R, seorang anak laki-laki berusia 2 tahun 6 bulan dibawa oleh ibunya, Ny. A ke klinik karena menunjukkan perilaku yang mengkhawatirkan. Ny. A melaporkan bahwa An. R sangat cemas saat berada di lingkungan baru, seperti saat menghadiri acara keluarga atau bermain di taman, dan lebih suka bermain sendiri daripada berinteraksi dengan anak-anak lain seusianya. Ia sering mengalami tantrum yang berlangsung cukup lama ketika tidak mendapatkan perhatian atau saat harus berpisah dari ibunya, seperti ketika ibu pergi ke kamar mandi atau berbicara dengan orang dewasa lainnya. An. R juga menunjukkan keterlambatan dalam perkembangan bicara; ia hanya mampu mengucapkan satu atau dua kata sederhana, seperti "mama" dan "papa," dan jarang berusaha untuk berkomunikasi lebih lanjut. Tanda vitalnya menunjukkan nadi 85 x/menit, suhu 36,9°C, tekanan darah 95/60 mmHg, respirasi 24 x/menit, berat badan 13 kg, dan tinggi badan 88 cm, yang semuanya dalam rentang normal namun tidak mencerminkan perkembangan sosial yang sehat.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Keterlambatan Perkembangan Anak (SKPD) berhubungan dengan perilaku sosial yang maladaptif.
Penjelasan:
a. SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
- Risiko Keterlambatan Perkembangan Anak (SKPD) adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan kondisi individu yang berisiko mengalami penyimpangan atau kemunduran dalam satu atau lebih area perkembangan.
b. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan adalah anak dapat menunjukkan perkembangan yang sesuai dengan usianya, termasuk dalam aspek sosial, emosional, komunikasi, dan motorik.
c. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi yang dapat dilakukan antara lain: stimulasi perkembangan, terapi bermain, konseling orangtua, dan kolaborasi dengan ahli tumbuh kembang anak.
Berdasarkan kondisi An. R yang menunjukkan perilaku sosial yang maladaptif, keterlambatan perkembangan bicara, dan adanya tanda-tanda kecemasan, diagnosis keperawatan yang sesuai adalah Risiko Keterlambatan Perkembangan Anak (SKPD) berhubungan dengan perilaku sosial yang maladaptif. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah stimulasi perkembangan, terapi bermain, konseling orangtua, dan kolaborasi dengan ahli tumbuh kembang anak untuk membantu meningkatkan perkembangan An. R. -
Article No. 2194 | 14 Oct 2024
Klinis : keluhan gatal di bagian tangan kiri dekat pergelangan dan di kedua punggung kaki. bila basah terasa perih. keluhan dirasakan sedah lama kurang lebih 6 bulan dan sudah berobat rutin ke puskesmas sempat membaik tapi kambuh lagi.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda jelaskan.
Diagnosa Keperawatan:
Berdasarkan gejala yang Anda paparkan, yaitu keluhan gatal di bagian tangan kiri dekat pergelangan dan di kedua punggung kaki, serta rasa perih saat basah, diduga pasien mengalami Dermatitis Kontak.
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Diagnosis keperawatan yang sesuai adalah Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan gejala gatal dan rasa perih pada kulit.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran keperawatan yang diharapkan adalah Toleransi Aktivitas Meningkat, dengan indikator klinis seperti pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami gejala gatal dan perih pada kulit.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat diberikan antara lain:
1. Manajemen Gejala: Mengidentifikasi dan mengelola faktor penyebab gejala gatal dan perih pada kulit.
2. Terapi Topikal: Pemberian obat topikal sesuai resep dokter untuk mengurangi gejala kulit.
3. Edukasi Kesehatan: Memberikan edukasi tentang perawatan kulit, pencegahan faktor pemicu, dan pentingnya kepatuhan berobat.
Dengan penerapan standar asuhan keperawatan SDKI, SLKI, dan SIKI yang komprehensif, diharapkan kondisi pasien dapat teratasi dan mencapai pemulihan yang optimal. -
Article No. 2195 | 14 Oct 2024
Klinis : klien mengatakan penglihatan meredup. lapang pandang berkurang. klien juga mengeluh sakit kepala dan sering pusing
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat berdasarkan standar SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Penglihatan berhubungan dengan perubahan struktural atau fungsional pada sistem visual.
Penjelasan:
- SDKI: Gangguan Penglihatan didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk melihat dengan jelas atau mempertahankan fungsi visual yang normal.
- SLKI: Luaran yang diharapkan dari penanganan Gangguan Penglihatan adalah klien dapat mempertahankan atau meningkatkan fungsi visual.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain pemantauan fungsi visual, pemberian obat-obatan, edukasi tentang perawatan mata, serta modifikasi lingkungan untuk memaksimalkan fungsi penglihatan.
Selain itu, berdasarkan gejala yang Anda sampaikan, terdapat kemungkinan diagnosa tambahan, yaitu:
Nyeri Kepala berhubungan dengan perubahan fisiologis.
Penjelasan:
- SDKI: Nyeri Kepala didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan terkait dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial di area kepala.
- SLKI: Luaran yang diharapkan dari penanganan Nyeri Kepala adalah klien dapat mengontrol nyeri dan meningkatkan kualitas hidup.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain pemantauan tanda-tanda vital, pemberian analgesik, teknik relaksasi, serta edukasi tentang manajemen nyeri kepala.
Harapan saya, penjelasan ini dapat membantu Anda memahami diagnosa keperawatan dan standar asuhan keperawatan yang sesuai untuk kondisi yang Anda deskripsikan. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, saya akan senang untuk menjawabnya. -
Article No. 2196 | 14 Oct 2024
Klinis : merasa lelah putus asa ingin mengakhiri hidup
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, sebagai seorang perawat profesional, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai standar SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi yang Anda sampaikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Bunuh Diri
Definisi: Adanya kemungkinan individu untuk melakukan tindakan yang dapat menyebabkan kematian dengan sengaja.
Penjelasan:
Berdasarkan gejala yang Anda sampaikan, yaitu merasa lelah, putus asa, dan ingin mengakhiri hidup, maka diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Risiko Bunuh Diri. Kondisi ini menunjukkan adanya indikasi kuat bahwa individu tersebut memiliki potensi untuk melakukan tindakan yang dapat mengakibatkan kematian.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Tidak Berusaha Bunuh Diri
2. Kemampuan Mengatasi Krisis
3. Stabilitas Emosi
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Risiko Bunuh Diri
2. Terapi Kognitif
3. Terapi Suportif
Peran perawat dalam kondisi ini adalah memberikan intervensi keperawatan yang komprehensif untuk mencegah tindakan bunuh diri, meningkatkan kemampuan individu dalam mengatasi krisis, serta menstabilkan kondisi emosi. Hal ini dilakukan melalui pendekatan terapeutik, pemberian dukungan psikologis, dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya.
Sebagai seorang perawat profesional, saya akan memberikan pendampingan dan perawatan yang holistik untuk membantu Anda keluar dari kondisi sulit ini. Saya siap membantu Anda melalui proses pemulihan dan memastikan Anda mendapatkan dukungan yang dibutuhkan. -
Article No. 2197 | 14 Oct 2024
Klinis : pasien saat ini tidak ada keluhan, keluhan gelisah tidak ada, cemas tidak ada, tidur cukup, nafsu makan baik. tiidur malam jam 22:00 dan bangun jam 05:00
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi pasien yang diberikan, dimana pasien saat ini tidak ada keluhan, tidak ada gelisah, tidak ada cemas, tidur cukup, nafsu makan baik, serta tidur malam jam 22:00 dan bangun jam 05:00, maka dapat disimpulkan bahwa pasien tersebut tidak memiliki masalah kesehatan yang signifikan.
Diagnosa Keperawatan yang sesuai untuk kondisi pasien tersebut adalah:
1. Pola Tidur Efektif
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Pola Tidur Efektif
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Tidur yang Terpelihara
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Manajemen Tidur
Penjelasan singkat:
Pola Tidur Efektif adalah kemampuan individu untuk mempertahankan tidur yang berkualitas dan memuaskan sesuai dengan kebutuhannya. Pasien dalam kondisi ini dapat mencapai tidur yang terpelihara, dengan indikator waktu tidur malam yang cukup (22.00-05.00) dan tidak ada keluhan terkait tidur. Intervensi keperawatan yang dapat diberikan adalah manajemen tidur, seperti mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi tidur, memberikan lingkungan yang nyaman, dan mengajarkan teknik relaksasi.
Dalam konteks akademis, persona yang diberikan adalah pakar dan perawat, maka penjelasan ini dapat diberikan dengan nada yang formal, obyektif, dan memberikan informasi komprehensif terkait kondisi pasien dan standar keperawatan yang digunakan. -
Article No. 2198 | 14 Oct 2024
Klinis : pasien saat ini tidak ada keluhan, keluhan gelisah tidak ada, cemas tidak ada, tidur cukup, nafsu makan baik. tiidur malam jam 22:00 dan bangun jam 05:00
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Dengan memperhatikan kondisi pasien saat ini yang tidak ada keluhan, gelisah, cemas, tidur cukup, dan nafsu makan baik, serta pola tidur yang teratur dari jam 22:00 hingga 05:00, maka dapat disimpulkan bahwa pasien tersebut tidak memiliki kondisi medis yang memerlukan diagnosis atau tindakan medis spesifik. Berikut adalah format yang diminta:
1. Kode ICD-10:
- Kode: Z00.00
- Deskripsi: Pemeriksaan medis rutin tanpa keluhan, kecurigaan atau diagnosis teridentifikasi
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Tidak ada kode yang sesuai, karena tidak ada tindakan medis yang dilakukan.
Penjelasan:
- Kode ICD-10 Z00.00 (Pemeriksaan medis rutin tanpa keluhan, kecurigaan atau diagnosis teridentifikasi) digunakan untuk mengkodekan situasi di mana seorang pasien menjalani pemeriksaan rutin tanpa adanya keluhan atau diagnosis tertentu. Hal ini sesuai dengan kondisi pasien yang tidak memiliki keluhan apa pun saat ini.
- Tidak ada tindakan medis yang dilakukan pada pasien, sehingga tidak ada kode ICD-9-CM Procedure yang sesuai. -
Article No. 2199 | 14 Oct 2024
Klinis : pasien saat ini tidak ada keluhan, keluhan gelisah tidak ada, cemas tidak ada, tidur cukup, nafsu makan baik. tiidur malam jam 22:00 dan bangun jam 05:00
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan kondisi pasien yang Anda deskripsikan, saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Pola Tidur Efektif
Definisi: Pola tidur yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur individu.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Domain: Aktivitas/Istirahat
- Kelas: Kenyamanan Tidur
- Diagnosa Keperawatan: Pola Tidur Efektif
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran Keperawatan: Tidur yang Adekuat
- Kriteria Hasil: Pasien menunjukkan pola tidur yang adekuat, seperti bisa tidur malam hari selama 6-8 jam, bangun segar di pagi hari, dan merasa cukup istirahat.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi Keperawatan: Manajemen Tidur
- Aktivitas Keperawatan: Memantau pola tidur pasien, memberikan lingkungan yang nyaman untuk tidur, menganjurkan aktivitas yang dapat meningkatkan kualitas tidur, dll.
Penjelasan singkat:
Pasien yang tidak memiliki keluhan dan dapat tidur selama 6-8 jam per malam dapat dikategorikan sebagai memiliki Pola Tidur Efektif. Diagnosa ini menunjukkan bahwa kebutuhan istirahat dan tidur pasien terpenuhi dengan baik. Perawat akan melakukan intervensi untuk mempertahankan pola tidur yang efektif, seperti memantau pola tidur, memberikan lingkungan yang nyaman, dan memberikan edukasi tentang teknik untuk meningkatkan kualitas tidur. -
Article No. 2200 | 14 Oct 2024
Klinis : klien mengatakan terdapat cenang di hampir seluruh bagian tubuh. terasa gatal dan kadang-kadang ada nyeri bila tumbuh yang baru
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat profesional, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat terkait SDKI, SLKI, dan SIKI berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
Berdasarkan gejala yang Anda deskripsikan, yaitu adanya cenang (lesi kulit) di hampir seluruh bagian tubuh yang terasa gatal dan kadang-kadang nyeri, kemungkinan besar pasien mengalami Gangguan Integritas Kulit.
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Gangguan Integritas Kulit adalah kondisi di mana terjadi perubahan struktur dan/atau fungsi kulit.
- Karakteristik utamanya adalah adanya lesi kulit, rasa gatal, dan nyeri pada area lesi baru.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan adalah Integritas Kulit Membaik, di mana kondisi kulit pasien membaik dan tidak terjadi kerusakan lebih lanjut.
- Indikator keberhasilannya antara lain tidak ada lesi baru, gatal berkurang, dan nyeri berkurang.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi yang dapat dilakukan adalah Perawatan Luka, di mana perawat akan melakukan tindakan perawatan pada lesi kulit untuk mencegah infeksi dan mempercepat penyembuhan.
- Selain itu, perawat juga dapat memberikan edukasi kepada pasien tentang perawatan kulit dan pengendalian gejala.
Dengan menggunakan kerangka SDKI, SLKI, dan SIKI, perawat dapat menyusun rencana asuhan keperawatan yang komprehensif dan terstruktur untuk mengatasi masalah kesehatan pasien secara efektif.