Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 2800 | 19 Oct 2024
Klinis : Seorang perempuan, berusia 27 tahun G2P1A0, inpartu kala III, 1 menit yang lalu lahir bayi perempuan, Bugar. Setelah memastikan janin dalam uterus tunggal perawat segera menyuntikkan oxytosin Intramuskuler.Apakah tindakan selanjutnya?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat sesuai dengan standar SDKI - SLKI - SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Perdarahan Pasca Persalinan (SLKI: Perdarahan)
Definisi: Risiko terjadinya kehilangan darah yang berlebihan setelah kelahiran bayi.
Penjelasan:
Setelah lahirnya bayi, ibu berada dalam tahap kala III persalinan, di mana plasenta harus segera dikeluarkan untuk mencegah perdarahan. Pemberian oksitosin secara intramuskuler bertujuan untuk merangsang kontraksi uterus sehingga plasenta dapat segera terlepas dan keluar. Tindakan selanjutnya yang perlu dilakukan perawat adalah:
1. Memantau tanda-tanda vital ibu, terutama tekanan darah, nadi, dan perdarahan.
2. Memastikan kontraksi uterus baik dengan palpasi abdomen.
3. Membantu mengeluarkan plasenta secara hati-hati dengan memijat fundus uteri.
4. Menilai keutuhan plasenta dan selaput ketuban.
5. Melakukan kompresi uterus untuk mencegah perdarahan lebih lanjut.
6. Melakukan observasi ketat selama 2 jam pertama pascapersalinan untuk mencegat komplikasi perdarahan.
Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang dapat diterapkan antara lain: Manajemen Perdarahan, Pemantauan Tanda Vital, dan Perawatan Pascapersalinan.
Dengan demikian, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif untuk mencegah dan mengatasi risiko perdarahan pasca persalinan pada pasien. -
Article No. 2801 | 19 Oct 2024
Klinis : Seorang nenek 67 tahun berada di panti sejak 2 bulan yang lalu, dari hasil pengkajian 1 hari yang lalu klien terlihat bingung, mencela diri sendiri, sering duduk menyendiri dengan mata menerawang dan raut muka penuh kemarahan, Apakah pengkajian spesifik bagi lansia untuk mendukung penegakan diagnosa?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi klien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Proses Pikir Berhubungan Dengan Gangguan Fungsi Kognitif Pada Lansia
Penjelasan Singkat:
a. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Gangguan dalam kemampuan berpikir, mengarahkan, mengatur, dan memproses informasi secara efektif.
- Faktor yang Berhubungan: Usia lanjut, perubahan neurologis, depresi, gangguan sensorik, malnutrisi, dan kondisi medis lainnya.
b. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang Diharapkan: Klien dapat menunjukkan proses berpikir yang terarah, logis, dan realistis.
- Kriteria Hasil: Klien dapat menyebutkan waktu, tempat, dan orang yang dikenal dengan benar, serta dapat mengikuti percakapan dengan baik.
c. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi Keperawatan: Stimulasi kognitif, orientasi realitas, terapi reminiscence, dan manajemen lingkungan.
- Tujuan: Mempertahankan dan meningkatkan kemampuan kognitif klien serta menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung.
Pengkajian Spesifik Bagi Lansia:
Pengkajian yang perlu dilakukan untuk mendukung penegakan diagnosa keperawatan pada klien lansia meliputi:
- Riwayat kesehatan dan penyakit saat ini
- Pemeriksaan status mental (orientasi, memori, bahasa, dan fungsi eksekutif)
- Tes fungsi kognitif (misalnya Mini-Mental State Examination atau MMSE)
- Pengkajian gejala depresi dan psikologis lainnya
- Pengkajian aktivitas sehari-hari (kemampuan perawatan diri, mobilitas, dan interaksi sosial)
- Pengkajian dukungan keluarga dan lingkungan
Dengan pengkajian yang komprehensif, perawat dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi pada gangguan proses pikir pada klien lansia dan menetapkan rencana asuhan keperawatan yang tepat. -
Article No. 2802 | 19 Oct 2024
Klinis : Laki-laki, 58 tahun, diagnosis pneumonia, dirawat di RS sejak 3 hari yang lalu. Pasien mengeluh batuk berdahak, cepat lelah apabila beraktifitas, pusing, mual. Hasil Pemeriksaan: menunjukkan bunyi napas ronkhi, Tekanan Darah 140/90 mmHg, Frekuensi Napas 28x/menit, Frekuensi Nadi 88x/menit, Suhu 37,50C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan senang hati, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat menggunakan standar SDKI - SLKI - SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda berikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan bersihan jalan napas yang optimal.
- Penyebab: Produksi mukus yang berlebih, kelemahan otot pernapasan, dan adanya obstruksi jalan napas.
- Gejala dan Tanda: Batuk berdahak, napas cuping hidung, bunyi napas ronkhi, dan peningkatan frekuensi napas.
2. Intoleransi Aktivitas
- Definisi: Ketidakmampuan untuk bertoleransi terhadap aktivitas fisik.
- Penyebab: Gejala penyakit, kelelahan, dan kelemahan.
- Gejala dan Tanda: Cepat lelah saat beraktivitas, peningkatan frekuensi napas, dan peningkatan frekuensi nadi.
3. Perubahan Persepsi Kesehatan
- Definisi: Perubahan dalam persepsi individu tentang kesehatan atau penyakit.
- Penyebab: Gejala penyakit, ketidakpastian tentang prognosis, dan perbedaan antara harapan dan realitas.
- Gejala dan Tanda: Mual, pusing, dan perubahan mood.
Penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) adalah standar yang digunakan untuk menentukan diagnosis keperawatan berdasarkan gejala dan tanda yang diidentifikasi.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) adalah standar yang digunakan untuk menentukan luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) adalah standar yang digunakan untuk menentukan intervensi keperawatan yang sesuai dengan diagnosis dan luaran yang diharapkan.
Dengan menggunakan standar SDKI - SLKI - SIKI, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang terstandar dan berkualitas untuk memenuhi kebutuhan pasien secara holistik. -
Article No. 2803 | 19 Oct 2024
Klinis : Seorang perempuan berusia 32 tahun dibawa ke rumah sakit jiwa karena marah dan memecah kaca jendela.Pasien didiagnosa Skizoprenia paranoid. Data yang diperoleh dari keluarga, pasien ditinggal menikah pacarnya 1 bulan yang lalu. Ibu yang disayanginya meninggal saat klien kelas 1 SMA. Apakah faktor predisposisi pada pasien diatas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Setelah mempertimbangkan kondisi yang Anda deskripsikan, berikut adalah diagnosa keperawatan, penjelasan singkat, dan faktor predisposisi berdasarkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Perilaku Kekerasan (RISK-PK)
Penjelasan: Perilaku pasien yang dapat membahayakan diri sendiri, orang lain, atau lingkungan, seperti memecah kaca jendela.
Faktor Predisposisi:
1. Kehilangan orang yang dicintai (ibu meninggal saat pasien kelas 1 SMA)
2. Pengalaman putus hubungan dengan pasangan (putus dengan pacarnya 1 bulan yang lalu)
3. Riwayat penyakit jiwa (skizofrenia paranoid)
Tone: Akademis
Persona: Pakar/Perawat
Berdasarkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI, faktor-faktor predisposisi di atas dapat berkontribusi pada munculnya risiko perilaku kekerasan pada pasien. Penting bagi perawat untuk melakukan penilaian yang komprehensif, memberikan intervensi keperawatan yang tepat, dan melibatkan keluarga dalam proses perawatan untuk mencegah dan menangani risiko perilaku kekerasan yang mungkin timbul. -
Article No. 2804 | 19 Oct 2024
Klinis : kelebihan volume cairan pasien CKD tensi 160/90
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi pasien dengan CKD (Chronic Kidney Disease) yang mengalami kelebihan volume cairan dan tekanan darah 160/90 mmHg, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
Kelebihan Volume Cairan
Penjelasan:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Kelebihan volume cairan adalah kondisi di mana individu mengalami akumulasi cairan berlebih dalam ruang intravaskular, intraseluler, dan/atau ekstravaskular.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Keseimbangan Cairan
2. Tekanan Darah
3. Edema
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Cairan
2. Pemantauan Tanda Vital
3. Manajemen Hipertensi
Penjelasan Singkat:
Pasien CKD dengan kelebihan volume cairan dan tekanan darah tinggi memerlukan intervensi keperawatan yang berfokus pada manajemen cairan, pemantauan tanda vital, dan manajemen hipertensi. Tujuannya adalah untuk mempertahankan keseimbangan cairan, menstabilkan tekanan darah, dan mengurangi edema yang mungkin terjadi. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain pembatasan asupan cairan, pemberian diuretik, dan pengaturan aktivitas. -
Article No. 2805 | 19 Oct 2024
Klinis : Perempuan, 40 tahun, berobat ke poliklinik dengan keluhan sulit menelan makanan. Hasil Pemeriksaan: membran mukosa pucat(+), sariawan(+), Tekanan Darah 100/90 mmHg, Frekuensi Nadi 100x/menit dan lemah, Frekuensi Napas 20x/menit, Suhu 380C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI menurut standar Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
Intoleransi Aktivitas
Penjelasan:
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Intoleransi aktivitas adalah ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas harian yang diinginkan atau dibutuhkan karena adanya keterbatasan fisik atau psikologis.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari diagnosa ini antara lain:
1. Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan bantuan minimal.
2. Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
3. Pasien dapat mempertahankan tingkat aktivitas sesuai kemampuan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain:
1. Monitoring tanda-tanda vital pasien.
2. Membantu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
3. Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang manajemen aktivitas yang sesuai dengan kondisi pasien.
4. Mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat membatasi aktivitas pasien.
5. Memfasilitasi pasien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuan.
Dengan tone akademis dan persona pakar/perawat, penjelasan ini diharapkan dapat membantu Anda dalam memahami diagnosa keperawatan dan standar asuhan keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien yang diberikan. -
Article No. 2806 | 19 Oct 2024
Klinis : Perempuan, 40 tahun, berobat ke poliklinik dengan keluhan sulit menelan makanan. Hasil Pemeriksaan: membran mukosa pucat(+), sariawan(+), Tekanan Darah 100/90 mmHg, Frekuensi Nadi 100x/menit dan lemah, Frekuensi Napas 20x/menit, Suhu 380C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Menelan (Disfagia) berhubungan dengan perubahan fungsi neuromuskular dan anatomik.
Penjelasan:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Gangguan Menelan (Disfagia) adalah ketidakmampuan atau kesulitan dalam proses menelan makanan, cairan, atau ludah dari mulut ke lambung.
- Faktor yang berhubungan dapat berupa perubahan fungsi neuromuskular (seperti akibat stroke) atau perubahan anatomi (seperti tumor leher/esofagus).
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Pasien dapat menelan makanan dan cairan dengan aman dan nyaman.
- Pasien dapat menjaga status gizi yang adekuat.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Manajemen Disfagia, meliputi: evaluasi kemampuan menelan, pengaturan posisi saat makan, modifikasi diet, latihan menelan, dan perawatan mulut.
- Manajemen Nutrisi, meliputi: asupan nutrisi yang adekuat, pemberian nutrisi enteral jika perlu.
Persona: Sebagai perawat, saya akan melakukan pengkajian dan intervensi keperawatan yang berfokus pada mengatasi gangguan menelan pada pasien perempuan usia 40 tahun ini. Tujuannya adalah untuk memastikan pasien dapat menelan makanan dan cairan dengan aman serta mempertahankan status gizi yang adekuat. -
Article No. 2807 | 19 Oct 2024
Klinis : Perempuan, 40 tahun, berobat ke poliklinik dengan keluhan sulit menelan makanan. Hasil Pemeriksaan: membran mukosa pucat(+), sariawan(+), Tekanan Darah 100/90 mmHg, Frekuensi Nadi 100x/menit dan lemah, Frekuensi Napas 20x/menit, Suhu 380C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berdasarkan informasi yang diberikan, saya akan memberikan diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat menurut standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Menelan (Dysphagia)
Penjelasan:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Gangguan Menelan (Dysphagia) adalah ketidakmampuan atau kesulitan dalam memindahkan makanan dari mulut ke lambung secara efektif.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Pemulihan Menelan: Kemampuan pasien untuk menelan makanan dan cairan dengan aman dan efektif.
2. Nutrisi: Keseimbangan antara asupan dan kebutuhan nutrisi untuk mempertahankan kesehatan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Disfagia: Intervensi untuk membantu pasien dengan gangguan menelan agar dapat menelan dengan aman dan efektif.
2. Manajemen Nutrisi: Intervensi untuk mempertahankan atau meningkatkan status nutrisi pasien.
Berdasarkan kondisi pasien yang mengalami keluhan sulit menelan makanan, membran mukosa pucat, sariawan, tekanan darah rendah, nadi cepat dan lemah, serta suhu tubuh tinggi, dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami Gangguan Menelan (Dysphagia) yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti malnutrisi, dehidrasi, atau kondisi medis lainnya. Tindakan keperawatan yang perlu dilakukan adalah manajemen disfagia dan manajemen nutrisi untuk memulihkan kemampuan menelan dan menjaga status nutrisi pasien. -
Article No. 2808 | 19 Oct 2024
Klinis : Seorang perempuan berusia 35 tahun, dirawat dibangsal penyakit dalam dengan karsinoma tiroid stadium empat. Dua jam yang lalu pasien dilakukan kemoterapi, data saat ini rambut rontok, kurus, merasa malu, putus asa dan ingin mati. Apakah stressor presipitasi pada kasus di atas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat terkait standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kasus yang Anda berikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Gangguan Citra Tubuh berhubungan dengan perubahan fisik akibat karsinoma tiroid stadium empat dan efek samping kemoterapi.
2. Risiko Depresi berhubungan dengan perasaan malu, putus asa, dan ingin mati.
Penjelasan Singkat:
1. Risiko Gangguan Citra Tubuh
- SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia): Keadaan di mana individu mengalami perubahan persepsi atau perasaan tentang tubuhnya, yang dapat memengaruhi kemampuan beradaptasi.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Individu dapat menerima perubahan fisik dan beradaptasi dengan perubahan tersebut.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi yang dapat dilakukan meliputi manajemen perubahan citra tubuh, terapi bermain, dan konseling.
2. Risiko Depresi
- SDKI: Keadaan di mana individu berisiko mengalami suasana hati yang menurun, kehilangan minat atau kesenangan, perubahan pola tidur dan/atau nafsu makan, serta perasaan tidak berharga atau putus asa.
- SLKI: Individu dapat menunjukkan suasana hati yang membaik, meningkatkan minat dan aktivitas, serta memiliki rasa harga diri yang baik.
- SIKI: Intervensi yang dapat dilakukan meliputi manajemen depresi, terapi suportif, dan konseling.
Stressor Presipitasi:
Stressor presipitasi dalam kasus ini adalah perubahan fisik akibat karsinoma tiroid stadium empat dan efek samping kemoterapi, seperti rambut rontok, penurunan berat badan, serta perubahan citra tubuh.
Tone: Akademis
Persona: Pakar, Nurse -
Article No. 2809 | 19 Oct 2024
Klinis : Seorang perempuan, usia 30 tahun datang ke Poli KIA untuk memeriksakan kehamilannya. Dari anamnesa didapatkan data klien hamil keempat, dengan riwayat kehamilan pertama keguguran pada usia kehamilan 8 minggu, kehamilan kedua melahirkan pada usia kehamilan 28 minggu namun setelah 7 hari bayinya meninggal, kehamilan ketiga melahirkan pada usia kehamilan 39 minggu dan saat ini anak berusia 3 tahun.Berapakah status obstetrik pasien?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI untuk kondisi yang Anda gambarkan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko abortus/keguguran
2. Risiko kelahiran prematur
3. Risiko kematian bayi
Penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI:
1. Risiko abortus/keguguran
- SDKI: Risiko abortus/keguguran
- SLKI: Pemantauan kehamilan
- SIKI: Intervensi keperawatan yang fokus pada pemantauan dan deteksi dini tanda-tanda komplikasi kehamilan, seperti perdarahan, nyeri, dan kontraksi uterus.
2. Risiko kelahiran prematur
- SDKI: Risiko kelahiran prematur
- SLKI: Pemantauan kehamilan
- SIKI: Intervensi keperawatan yang fokus pada upaya mencegah kelahiran prematur, seperti pemberian obat-obatan, istirahat, dan pemantauan tanda-tanda persalinan prematur.
3. Risiko kematian bayi
- SDKI: Risiko kematian bayi
- SLKI: Pemantauan kehamilan dan pemulihan neonatus
- SIKI: Intervensi keperawatan yang fokus pada upaya deteksi dini, pencegahan, dan penanganan komplikasi yang dapat menyebabkan kematian bayi, seperti asfiksia, infeksi, dan masalah nutrisi.
Mengenai status obstetrik pasien, berdasarkan informasi yang diberikan, pasien memiliki riwayat kehamilan yang kompleks, dengan satu keguguran, satu kelahiran prematur yang diikuti dengan kematian bayi, dan satu kelahiran aterm. Oleh karena itu, status obstetrik pasien dapat dikategorikan sebagai "Ibu dengan riwayat obstetrik buruk".