Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 3108 | 22 Oct 2024
Klinis : Ny. R berusia 40 tahun, BB 54 kg, dirawat dengan GEA. Hasil pengkajian didapatkan muntah setiap kali makan dan minum sejak 2 hari yang lalu, buang air besar cair 5-6 kali sehari. Mata cekung, bibir kering, mukosa mulut kering, dan pasien mengeluh haus. Tekanan 90/60 mmHg, Nadi 120x/mnt, Temperatur: 37,8°C. Pasien mendapat Instruksi Loading Cairan RL 1 Liter dalam 1 jam.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi Ny. R.
Diagnosa Keperawatan:
1. Defisit Volume Cairan berhubungan dengan Kehilangan Cairan Aktif yang ditandai dengan muntah, diare, mata cekung, bibir kering, mukosa mulut kering, dan pasien mengeluh haus.
Penjelasan Singkat SDKI-SLKI-SIKI:
- SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia): Defisit Volume Cairan didefinisikan sebagai keadaan di mana individu mengalami kekurangan volume cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraseluler.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan untuk mengatasi Defisit Volume Cairan adalah pasien dapat mendemonstrasikan tanda-tanda hidrasi yang adekuat, seperti turgor kulit baik, membran mukosa lembab, produksi urin normal, dan tanda-tanda vital dalam batas normal.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi Defisit Volume Cairan meliputi pemberian cairan intravena, pemantauan status hidrasi, pembatasan asupan cairan, dan edukasi tentang manajemen kehilangan cairan.
Dalam kasus Ny. R, intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah pemberian cairan intravena RL 1 Liter dalam 1 jam sesuai instruksi dokter, pemantauan tanda-tanda vital dan status hidrasi, serta edukasi tentang manajemen diare dan muntah. -
Article No. 3109 | 22 Oct 2024
Klinis : Kasus IV Seorang wanita pascamenopause berusia 52 tahun datang ke unit gawat darurat pada Februari 2023 dengan gejala sakit kepala berat dan kebingungan. Pasien tidak menunjukkan tanda atau gejala positif lainnya. Karena pasien aktif dan dapat melakukan aktivitas perawatan diri > 50%, status kinerjanya skala 2 menurut skala performa Eastern Cooperative Oncology Group (ECOG). Pasien awalnya datang dengan benjolan di kuadran luar atas payudara kanan setahun yang lalu. Pada saat itu, pasien tidak memiliki penyakit penyerta atau gejala lain. Biopsi dengan panduan ultrasound dari lesi payudara mengonfirmasi keganasan, dan pemeriksaan imunohistokimia selanjutnya menunjukkan ekspresi negatif dari reseptor estrogen (Er), progesteron (Pr), dan human epidermal growth factor 2 (HER2/neu). Pasien menjalani pemeriksaan menyeluruh, termasuk pemindaian tulang dan CT seluruh tubuh, yang melaporkan bahwa terdapat tumor terbatas pada payudara dan aksila kanan. Pasien didiagnosis dengan tumor stadium 3 menurut American Joint Committee on Cancer (AJCC edisi ke-8). Pasien memulai terapi sistemik neo-adjuvant dengan empat siklus doxorubicin, siklofosfamid, dan pembrolizumab, diikuti oleh empat siklus paklitaksel, karboplatin, dan pembrolizumab. Pasien menjalani mastektomi parsial dengan diseksi kelenjar getah bening aksila lengkap, dan laporan patologi menunjukkan tidak adanya penyakit sisa. Enam minggu setelah operasi, pasien mengalami sakit kepala berat, mual, dan muntah. Beberapa pemeriksaan MRI otak dan tulang belakang tidak menunjukkan kelainan spesifik, sementara analisis dan mikroskopi cairan serebrospinal (CSF) melaporkan keberadaan sel-sel ganas, yang mengonfirmasi adanya karcinomatosis leptomeningeal. Pasien menjalani terapi metotreksat intratekal dan menyelesaikan 12 siklus mingguan sebelum kembali ke unit gawat darurat rumah sakit dengan keluhan sakit kepala berat dan kebingungan pada Februari 2023. Pemindaian CT ulang otak menunjukkan tidak adanya lesi massa definitif (Gambar 1), sementara analisis dan mikroskopi ulang cairan kraniospinal (CSF) mengungkapkan sel-sel ganas dalam cairan (Gambar 2–3), yang mengonfirmasi keberlanjutan karcinomatosis leptomeningeal. Hal ini dianggap sebagai perkembangan dari kanker payudara triple-negatif yang sudah ada sebelumnya, yang awalnya didiagnosis pada Januari 2022. Seperti yang disebutkan sebelumnya, kanker payudara triple-negatif pasien pertama kali teridentifikasi sebagai benjolan berukuran 8 cm × 5 cm di payudara kanan. Studi pencitraan, termasuk CT dada (Gambar 4) dan MRI payudara (Gambar 5), mengonfirmasi keberadaan massa dan kelenjar getah bening aksila ipsilateral. Karena kondisi pasien semakin memburuk dan karcinomatosis leptomeningeal terus berlanjut, tim onkologi medis merujuk pasien ke perawatan paliatif. Tim perawatan paliatif memulai manajemen medis untuk mengendalikan gejala pasien, yang meliputi penggunaan analgesik opioid, kortikosteroid, antiemetik, dan laksatif. Dexamethasone 4 mg secara intravena, 3x1, bersama dengan pantoprazole 40 mg intravena, mulai diberikan. Kodein-parasetamo-l mengendalikan nyeri dengan baik, dan polyethylene glycol digunakan untuk mencegah konstipasi yang disebabkan oleh opioid. Ondansetron 8 mg intravena 1x1 dan Metoclopramide 10 mg intravena diberikan saat diperlukan diberikan untuk mengendalikan mual dan muntah. Pasien dan keluarganya diberikan informasi terperinci tentang penyakit, prognosis, dan pentingnya rencana perawatan lanjutan. Tim perawatan paliatif memastikan bahwa preferensi pasien menjadi prioritas utama dan berkomitmen untuk mencapai kontrol gejala yang lengkap serta kualitas hidup yang optimal bagi pasien dan keluarganya. Within 24 hours of meeting with the palliative care team, the patient's symptoms were controlled, and the patient reported minimal pain (2/10) according to the numerical pain scale [11]. The patient and her husband expressed a desire to return to their home country for further management and to be closer to their family. The patient was discharged and travelled to her home country without any complications or symptoms. Dalam waktu 24 jam setelah bertemu dengan tim perawatan paliatif, gejala pasien berhasil dikendalikan, dan pasien melaporkan nyeri minimal (2/10) menurut skala nyeri numerik. Pasien dan suaminya menyatakan keinginan untuk kembali ke negara asal mereka untuk perawatan lebih lanjut dan untuk lebih dekat dengan keluarga mereka. Pasien dipulangkan dan melakukan perjalanan ke negara asalnya tanpa komplikasi atau gejala.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan, penjelasan singkat, serta standar SDKI, SLKI, dan SIKI yang dapat diterapkan untuk kondisi pasien tersebut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan perfusi serebral berhubungan dengan karsinomatosis leptomeningeal (SDKI: Gangguan Perfusi Serebral)
2. Mual dan muntah berhubungan dengan efek samping terapi (SDKI: Mual Muntah)
3. Nyeri akut berhubungan dengan karsinomatosis leptomeningeal (SDKI: Nyeri Akut)
4. Risiko ketidakefektifan manajemen kesehatan berhubungan dengan perubahan kondisi kesehatan (SLKI: Manajemen Kesehatan)
Penjelasan Singkat:
1. Gangguan Perfusi Serebral: Karsinomatosis leptomeningeal menyebabkan gangguan pada perfusi serebral, yang dapat menimbulkan gejala sakit kepala berat dan kebingungan pada pasien.
2. Mual Muntah: Efek samping terapi sistemik, seperti kemoterapi, dapat menyebabkan mual dan muntah pada pasien.
3. Nyeri Akut: Karsinomatosis leptomeningeal dapat menyebabkan nyeri kepala berat pada pasien.
4. Manajemen Kesehatan: Pasien mengalami perubahan kondisi kesehatan yang signifikan, sehingga memerlukan manajemen kesehatan yang efektif.
Standar SDKI, SLKI, dan SIKI:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Gangguan Perfusi Serebral: Definisi, faktor yang berhubungan, karakteristik, dan intervensi keperawatan.
- Mual Muntah: Definisi, faktor yang berhubungan, karakteristik, dan intervensi keperawatan.
- Nyeri Akut: Definisi, faktor yang berhubungan, karakteristik, dan intervensi keperawatan.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Manajemen Kesehatan: Definisi, kriteria hasil, dan intervensi keperawatan.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi yang sesuai untuk mengatasi gangguan perfusi serebral, mual muntah, nyeri akut, dan manajemen kesehatan.
Dengan mengacu pada standar SDKI, SLKI, dan SIKI, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan berpusat pada pasien, serta membantu mencapai kontrol gejala yang optimal dan kualitas hidup yang baik bagi pasien dan keluarganya. -
Article No. 3110 | 22 Oct 2024
Klinis : gangguan kecemasan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI untuk kondisi gangguan kecemasan.
Diagnosa Keperawatan:
Kecemasan
Definisi SDKI:
Keadaan emosional dan pengalaman subyektif individu yang mencakup perasaan khawatir, gelisah, takut, dan tegang yang disebabkan oleh antisipasi bahaya, baik internal maupun eksternal.
Definisi SLKI:
Kemampuan individu untuk mengenali, mengekspresikan, dan mengatasi perasaan cemas.
Definisi SIKI:
Intervensi keperawatan untuk membantu individu mengenali, mengekspresikan, dan mengatasi perasaan cemas.
Penjelasan:
Kecemasan merupakan gangguan psikologis yang ditandai dengan perasaan khawatir, gelisah, takut, dan tegang. Kecemasan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik internal (seperti pikiran negatif) maupun eksternal (seperti situasi yang mengancam).
Standar SDKI, SLKI, dan SIKI yang dikembangkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) memberikan kerangka kerja yang komprehensif untuk mengidentifikasi, mengelola, dan menangani kondisi kecemasan. SDKI mendefinisikan kecemasan sebagai diagnosa keperawatan, SLKI menjelaskan kemampuan individu untuk mengenali, mengekspresikan, dan mengatasi perasaan cemas, sedangkan SIKI menetapkan intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk membantu individu dengan gangguan kecemasan.
Dengan mengacu pada standar SDKI-SLKI-SIKI, perawat dapat melakukan penilaian yang menyeluruh, merumuskan rencana perawatan yang sesuai, dan melaksanakan intervensi yang efektif untuk membantu pasien dengan gangguan kecemasan. -
Article No. 3111 | 22 Oct 2024
Klinis : resiko ketidakseimbangan elektrolit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi risiko ketidakseimbangan elektrolit.
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit
Definisi:
Risiko perubahan serum konsentrasi elektrolit, seperti natrium, kalium, kalsium, magnesium, yang dapat mengancam kesehatan.
Faktor Risiko:
1. Kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan (misalnya diare, muntah, keringat berlebih)
2. Asupan nutrisi tidak adekuat
3. Gangguan sistem endokrin (misalnya diabetes insipidus)
4. Gangguan fungsi ginjal
5. Penggunaan obat-obatan tertentu (misalnya diuretik)
Tujuan Keperawatan:
1. Pasien akan mempertahankan keseimbangan elektrolit dalam batas normal.
2. Pasien akan bebas dari tanda dan gejala ketidakseimbangan elektrolit.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Pantau kadar elektrolit serum secara teratur
2. Identifikasi penyebab risiko ketidakseimbangan elektrolit
3. Kolaborasi dengan tim kesehatan untuk pengelolaan elektrolit
4. Edukasi pasien dan keluarga tentang pola makan dan asupan cairan yang sesuai
5. Pantau tanda dan gejala ketidakseimbangan elektrolit
Hasil yang Diharapkan (SLKI):
1. Pasien menunjukkan kadar elektrolit serum dalam batas normal.
2. Pasien bebas dari tanda dan gejala ketidakseimbangan elektrolit.
3. Pasien dan keluarga memahami pola makan dan asupan cairan yang sesuai.
Semoga penjelasan ini dapat membantu Anda memahami diagnosa keperawatan dan standar SDKI-SLKI-SIKI terkait risiko ketidakseimbangan elektrolit. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, saya siap membantu. -
Article No. 3112 | 22 Oct 2024
Klinis : us 2 Nn. H, 26 tahun datang ke poli CAPD dengan mengeluh cairan dialisat kemerahan sejak tadi malam. Tidak ada nyeri, keluhan dirasakan tiba-tiba. TD 110/70 mmHg, HR 72x/mnt, RR 18 x/mnt, Suhu 36,8 ˚C, BB 48 kg, TB 145 cm. Klien rutin melakukan pergantian cairan dianeal 4x/hari (1,5% - 1,5% - 1,5% - 2,5%), dilakukan pergantian cairan dengan dialisat 2,5%, volume keluar 2100 ml (20 menit), volume masuk 2000 ml (10 menit), warna cairan kemerahan, tidak tampak fibrin, tidak tampak kemerahan pada luka exit site.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang dideskripsikan, Diagnosa Keperawatan yang sesuai adalah:
1. Risiko Infeksi Peritoneal
- SDKI: Risiko Infeksi Peritoneal
- Definisi: Kondisi rentan terhadap invasi dan perkembangan mikroorganisme patogen pada membran peritoneal yang dapat menyebabkan infeksi.
- Faktor risiko: Prosedur CAPD dengan pergantian cairan dialisis yang tidak sesuai.
Penjelasan Singkat:
- Klien dengan CAPD memiliki risiko infeksi peritoneal yang tinggi, terutama jika terdapat masalah dalam prosedur pergantian cairan dialisis.
- Tanda dan gejala awal infeksi peritoneal yang dialami klien adalah cairan dialisat berwarna kemerahan, yang dapat menandakan adanya proses inflamasi.
- Untuk mencegah infeksi peritoneal, perlu dilakukan intervensi keperawatan yang cepat dan tepat, seperti pemantauan tanda-tanda infeksi, edukasi prosedur pergantian cairan dialisis yang benar, dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Risiko Infeksi: Bebas dari gejala dan tanda-tanda infeksi.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Manajemen Cairan Dialisis
- Pencegahan Infeksi
- Pemantauan Tanda Vital -
Article No. 3113 | 22 Oct 2024
Klinis : us 2 Nn. H, 26 tahun datang ke poli CAPD dengan mengeluh cairan dialisat kemerahan sejak tadi malam. Tidak ada nyeri, keluhan dirasakan tiba-tiba. TD 110/70 mmHg, HR 72x/mnt, RR 18 x/mnt, Suhu 36,8 ˚C, BB 48 kg, TB 145 cm. Klien rutin melakukan pergantian cairan dianeal 4x/hari (1,5% - 1,5% - 1,5% - 2,5%), dilakukan pergantian cairan dengan dialisat 2,5%, volume keluar 2100 ml (20 menit), volume masuk 2000 ml (10 menit), warna cairan kemerahan, tidak tampak fibrin, tidak tampak kemerahan pada luka exit site.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis dan tindakan yang sesuai adalah:
1. Kode ICD-10:
- Kode: N18.6
- Deskripsi: Gagal ginjal stage akhir
2. Kode ICD-9-CM Procedure:
- Kode: 54.98
- Deskripsi: Dialisis peritoneal kontinyu ambulatori (CAPD)
Penjelasan:
Pasien Nn. H, seorang wanita berusia 26 tahun, datang ke poli CAPD dengan keluhan cairan dialisat kemerahan sejak tadi malam. Kondisi ini dapat mengarah pada diagnosis Gagal Ginjal Stage Akhir (N18.6) berdasarkan kode ICD-10, di mana pasien telah menjalani terapi dialisis peritoneal kontinyu ambulatori (CAPD) secara rutin.
Kode ICD-9-CM Procedure 54.98 menunjukkan tindakan dialisis peritoneal kontinyu ambulatori (CAPD) yang sedang dilakukan oleh pasien. Hal ini sesuai dengan informasi bahwa pasien rutin melakukan pergantian cairan dialisat 4 kali per hari.
Perubahan warna cairan dialisat menjadi kemerahan dapat mengindikasikan adanya komplikasi atau infeksi pada saluran peritoneal. Namun, dengan tidak adanya keluhan nyeri dan tanda-tanda infeksi lainnya, kondisi ini dapat disebabkan oleh faktor lain, seperti perdarahan minor atau reaksi terhadap cairan dialisat.
Pemantauan ketat terhadap tanda-tanda infeksi dan evaluasi lebih lanjut oleh tim medis diperlukan untuk menentukan penyebab dan penanganan yang sesuai. -
Article No. 3114 | 22 Oct 2024
Klinis : us 2 Nn. H, 26 tahun datang ke poli CAPD dengan mengeluh cairan dialisat kemerahan sejak tadi malam. Tidak ada nyeri, keluhan dirasakan tiba-tiba. TD 110/70 mmHg, HR 72x/mnt, RR 18 x/mnt, Suhu 36,8 ˚C, BB 48 kg, TB 145 cm. Klien rutin melakukan pergantian cairan dianeal 4x/hari (1,5% - 1,5% - 1,5% - 2,5%), dilakukan pergantian cairan dengan dialisat 2,5%, volume keluar 2100 ml (20 menit), volume masuk 2000 ml (10 menit), warna cairan kemerahan, tidak tampak fibrin, tidak tampak kemerahan pada luka exit site.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang dideskripsikan untuk Nn. H, 26 tahun, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Infeksi Peritonitis
Penjelasan singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Berisiko mengalami inflamasi pada lapisan peritoneum yang disebabkan oleh mikroorganisme.
- Faktor risiko: Prosedur dialisis peritoneal, gangguan sistem imun, higiene yang buruk.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan: Tidak terjadi infeksi peritonitis.
- Kriteria hasil: Tidak ada tanda-tanda infeksi (demam, nyeri, cairan peritoneal keruh), pemeriksaan laboratorium normal.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi keperawatan: Pemantauan tanda-tanda infeksi, edukasi tentang teknik pergantian cairan dialisis yang aseptik, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk pemberian terapi antibiotik jika diperlukan.
Penjelasan singkat:
Nn. H, 26 tahun, datang dengan keluhan cairan dialisat kemerahan sejak tadi malam. Meskipun tidak ada nyeri, kondisi ini berisiko menyebabkan infeksi peritonitis jika tidak segera ditangani dengan tepat. Perawat perlu melakukan pemantauan tanda-tanda infeksi, edukasi tentang teknik pergantian cairan dialisis yang aseptik, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk pemberian terapi antibiotik jika diperlukan. -
Article No. 3115 | 22 Oct 2024
Klinis : us 2 Nn. H, 26 tahun datang ke poli CAPD dengan mengeluh cairan dialisat kemerahan sejak tadi malam. Tidak ada nyeri, keluhan dirasakan tiba-tiba. TD 110/70 mmHg, HR 72x/mnt, RR 18 x/mnt, Suhu 36,8 ˚C, BB 48 kg, TB 145 cm. Klien rutin melakukan pergantian cairan dianeal 4x/hari (1,5% - 1,5% - 1,5% - 2,5%), dilakukan pergantian cairan dengan dialisat 2,5%, volume keluar 2100 ml (20 menit), volume masuk 2000 ml (10 menit), warna cairan kemerahan, tidak tampak fibrin, tidak tampak kemerahan pada luka exit site.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang dipaparkan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat sesuai dengan SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
Infeksi saluran peritoneum berhubungan dengan kontaminasi cairan dialisis, ditandai dengan cairan dialisat berwarna kemerahan.
Penjelasan:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Keadaan di mana seseorang mengalami invasi dan multiplikasi mikroorganisme patogen di dalam rongga peritoneum yang dapat menyebabkan peradangan.
- Penyebab: Kontaminasi cairan dialisis, gangguan integritas kulit, prosedur yang tidak aseptik, dan imunodefisiensi.
- Tanda dan Gejala: Cairan dialisat berwarna kemerahan, nyeri abdomen, demam, dan leukositosis.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan: Tidak terjadi komplikasi infeksi, tidak ada tanda-tanda infeksi, dan fungsi peritoneal tetap baik.
- Kriteria Hasil: Cairan dialisat normal, tidak ada nyeri abdomen, tidak ada demam, dan hasil laboratorium normal.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi Keperawatan: Observasi tanda-tanda infeksi, pemantauan cairan dialisis, perawatan exit site, pemberian antibiotik (jika perlu), dan edukasi tentang pencegahan infeksi.
- Rasional: Untuk mencegah komplikasi infeksi, memonitor kondisi klien, dan memastikan perawatan yang tepat.
Dalam kasus ini, pasien mengalami infeksi saluran peritoneum yang ditandai dengan cairan dialisat berwarna kemerahan. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah observasi tanda-tanda infeksi, pemantauan cairan dialisis, perawatan exit site, dan pemberian antibiotik (jika diperlukan) serta edukasi tentang pencegahan infeksi. -
Article No. 3116 | 22 Oct 2024
Klinis : pasien pria umur 42 tahun, datang dengan keluhan panas mulai 5 hari yang lalu , batuk, pusing, nyeri perut, tidak bisa tidur
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan gejala yang dipaparkan, yaitu panas mulai 5 hari yang lalu, batuk, pusing, nyeri perut, dan tidak bisa tidur yang dialami oleh pasien pria berusia 42 tahun, diagnosis yang sesuai adalah sebagai berikut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: J15.9
- Deskripsi: Pneumonia bakteri, tidak diklasifikasi di tempat lain
Penjelasan:
- Pasien mengalami gejala-gejala yang mengarah pada infeksi pernafasan seperti panas, batuk, dan pusing, yang dapat menunjukkan adanya pneumonia.
- Kode J15.9 digunakan untuk pneumonia bakteri yang tidak diklasifikasikan di tempat lain, karena tidak ada informasi spesifik tentang penyebab bakteri yang menyebabkan pneumonia pada pasien ini.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 99.21
- Deskripsi: Pemberian antibiotik intravena
Penjelasan:
- Pada kasus pneumonia, salah satu tindakan medis yang mungkin dilakukan adalah pemberian antibiotik intravena untuk mengatasi infeksi bakteri.
- Kode ICD-9-CM 99.21 digunakan untuk prosedur pemberian antibiotik intravena, yang dapat menjadi bagian dari manajemen penanganan pasien dengan pneumonia.
Penatalaksanaan lebih lanjut dapat meliputi pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah, ronsen dada, atau pemeriksaan mikrobiologi untuk mengidentifikasi penyebab pneumonia dan memastikan pemberian terapi yang tepat. -
Article No. 3117 | 22 Oct 2024
Klinis : pasien pria umur 42 tahun, datang dengan keluhan panas mulai 5 hari yang lalu , batuk, pusing, nyeri perut, tidak bisa tidur
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat menggunakan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Hipertermia
- Definisi: Peningkatan suhu tubuh di atas normal.
- Penyebab: Infeksi, dehidrasi, gangguan sistem imun.
- Gejala: Panas, menggigil, sakit kepala, nyeri otot.
2. Gangguan pola tidur
- Definisi: Perubahan kuantitas dan kualitas tidur yang mengganggu fungsi sehari-hari.
- Penyebab: Stres, nyeri, gangguan fisiologis.
- Gejala: Sulit memulai atau mempertahankan tidur, tidak merasa segar saat bangun.
3. Nyeri akut
- Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial.
- Penyebab: Proses penyakit, peradangan.
- Gejala: Keluhan nyeri, perubahan tanda vital, perilaku protektif.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Memuat definisi, penyebab, gejala, karakteristik, dan faktor yang berhubungan dengan diagnosa keperawatan.
- Membantu perawat dalam menentukan diagnosa keperawatan yang tepat.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Memuat hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan.
- Membantu perawat dalam menetapkan tujuan dan evaluasi keperawatan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Memuat tindakan keperawatan yang dapat dilakukan untuk mencapai luaran yang diharapkan.
- Membantu perawat dalam merencanakan dan melaksanakan intervensi keperawatan yang komprehensif.
Penggunaan SDKI, SLKI, dan SIKI membantu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang terstandar, sistematis, dan berkualitas.