Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 21424 | 03 Sep 2025
Klinis : Seorang pasien, Tn. A, usia 35 tahun, jeni kelamin laki-laki, pekerjaan tukang bangunan dengan status perkawinan menikah, datang ke poli kulit dengan keluhan gatal-gatal dan kemerahan di lengan dan betis sejak 1 minggu terakhir. Keluhan semakin parah saat pasien banyak berkeringat dan terkena debu semen di tempat kerja. Pasien juga mengeluhkan kulit terasa panas, kering, dan kadang pecah-pecah. Keluhan muncul pertama kali setelah pasien bekerja di proyek baru yang banyak menggunakan semen. Pasien sering menggaruk karena gatal sehingga muncul luka lecet kecil. Pasien sudah mencoba menggunakan bedak salisilat tetapi tidak banyak membantu. Pasien tidak ada riwayat alergi obat. Pasien pernah mengalami keluhan serupa 2 tahun lalu, membaik setelah diberi salep oleh dokter, namun pasien tidak memiliki riwayat penyakit kulit menular. Dari hasil pengkajian didapatkan data ayah pasien memiliki riwayat asma, tidak ada anggota keluarga dengan keluhan kulit yang sama. Pasien merasa malu dengan kulitnya yang kemerahan dan sering digaruk. Saat ini berperan sebagai kepala keluarga, hubungan baik dengan istri dan anak. Pasien jarang memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, lebih sering membeli obat di warung, pasien tidak mengetahui cara pencegahan dermatitis. Aktivitas sehari-hari sebagai tukang bangunan, banyak berkeringat. Tidak ada keluhan sesak atau nyeri saat beraktivitas. Saat malam tidur malam terganggu karena gatal (sering terbangun 2–3 kali), dan rasa panas di kulit. Pasien mengatasi gatal dengan menggaruk atau menggunakan bedak. Kadang pasien merasa stres karena kulit makin rusak jika digaruk. Pasien meyakini sakit ini sebagai ujian, serta tidak ada pantangan khusus terkait kepercayaan. Nafsu makan pasien baik, dengan asupan cairan ± 1–1,5 liter/hari, BAB 1x/hari, konsistensi normal, BAK 4–5x/hari, warna kuning jernih. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital: TD 120/80 mmHg, Nadi 84x/menit, RR 20x/menit, Suhu 36,8°C. Pada kulit: terdapat eritema (kemerahan) difus di lengan bawah dan betis, papul kecil, ekskoriasi akibat garukan, kulit kering, tidak ada pus, mukosa bibir lembab, tidak ada limfadenopati. Pada pemriksaan penunjang didapatkan: • Tes alergi kulit (patch test): positif terhadap bahan semen. • Darah rutin: normal. • IgE serum: sedikit meningkat.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang dideskripsikan, diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai adalah:
1. Gangguan Integritas Kulit
Definisi: Kerusakan atau perubahan struktur dan fungsi kulit.
Penyebab: Pajanan terhadap iritan, cedera fisik, penyakit sistemik.
Tanda dan gejala: Eritema, papul, ekskoriasi, kulit kering, dan perubahan warna kulit.
2. Intoleransi Aktivitas
Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin.
Penyebab: Kelemahan, kelelahan, dan gangguan tidur.
Tanda dan gejala: Kelelahan saat beraktivitas, gangguan pola tidur, dan perubahan gaya hidup.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Integritas Kulit Membaik
- Kriteria hasil: Tidak ada eritema, papul, atau ekskoriasi; kulit lembab dan elastis.
- Intervensi keperawatan: Manajemen Kulit, Edukasi Perawatan Kulit, Manajemen Nyeri.
2. Toleransi Aktivitas Meningkat
- Kriteria hasil: Pasien dapat menyelesaikan aktivitas sehari-hari dengan mudah, pola tidur membaik.
- Intervensi keperawatan: Manajemen Energi, Peningkatan Tidur, Edukasi Manajemen Stres.
Penjelasan rinci:
1. Gangguan Integritas Kulit
- Penyebab: Pajanan terhadap iritan (semen) yang menyebabkan reaksi alergi pada kulit pasien.
- Tanda dan gejala: Eritema, papul, ekskoriasi, kulit kering, dan perubahan warna kulit yang diperparah saat berkeringat dan terkena debu semen.
- Intervensi keperawatan:
a. Manajemen Kulit: Identifikasi dan hindari faktor pencetus, aplikasi emolien, dan perawatan kulit lembab.
b. Edukasi Perawatan Kulit: Ajarkan pasien cara perawatan kulit yang benar, menghindari faktor pemicu, dan penggunaan emolien.
c. Manajemen Nyeri: Berikan intervensi non-farmakologis untuk mengurangi rasa gatal dan nyeri pada kulit.
2. Intoleransi Aktivitas
- Penyebab: Gangguan tidur akibat rasa gatal dan panas pada kulit, serta stres psikologis karena kondisi kulit yang memburuk.
- Tanda dan gejala: Kelelahan saat beraktivitas, gangguan pola tidur, dan perubahan gaya hidup.
- Intervensi keperawatan:
a. Manajemen Energi: Identifikasi dan kendalikan faktor yang mempengaruhi energi pasien.
b. Peningkatan Tidur: Intervensi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur pasien.
c. Edukasi Manajemen Stres: Ajarkan pasien teknik manajemen stres untuk mengatasi stres akibat kondisi kulitnya.
Secara keseluruhan, asuhan keperawatan yang diberikan bertujuan untuk memulihkan integritas kulit pasien dan meningkatkan toleransi aktivitas sehingga pasien dapat kembali beraktivitas dengan baik dan meningkatkan kualitas hidupnya. -
Article No. 21425 | 03 Sep 2025
Klinis : Seorang pasien, Tn. A, usia 35 tahun, jeni kelamin laki-laki, pekerjaan tukang bangunan dengan status perkawinan menikah, datang ke poli kulit dengan keluhan gatal-gatal dan kemerahan di lengan dan betis sejak 1 minggu terakhir. Keluhan semakin parah saat pasien banyak berkeringat dan terkena debu semen di tempat kerja. Pasien juga mengeluhkan kulit terasa panas, kering, dan kadang pecah-pecah. Keluhan muncul pertama kali setelah pasien bekerja di proyek baru yang banyak menggunakan semen. Pasien sering menggaruk karena gatal sehingga muncul luka lecet kecil. Pasien sudah mencoba menggunakan bedak salisilat tetapi tidak banyak membantu. Pasien tidak ada riwayat alergi obat. Pasien pernah mengalami keluhan serupa 2 tahun lalu, membaik setelah diberi salep oleh dokter, namun pasien tidak memiliki riwayat penyakit kulit menular. Dari hasil pengkajian didapatkan data ayah pasien memiliki riwayat asma, tidak ada anggota keluarga dengan keluhan kulit yang sama. Pasien merasa malu dengan kulitnya yang kemerahan dan sering digaruk. Saat ini berperan sebagai kepala keluarga, hubungan baik dengan istri dan anak. Pasien jarang memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, lebih sering membeli obat di warung, pasien tidak mengetahui cara pencegahan dermatitis. Aktivitas sehari-hari sebagai tukang bangunan, banyak berkeringat. Tidak ada keluhan sesak atau nyeri saat beraktivitas. Saat malam tidur malam terganggu karena gatal (sering terbangun 2–3 kali), dan rasa panas di kulit. Pasien mengatasi gatal dengan menggaruk atau menggunakan bedak. Kadang pasien merasa stres karena kulit makin rusak jika digaruk. Pasien meyakini sakit ini sebagai ujian, serta tidak ada pantangan khusus terkait kepercayaan. Nafsu makan pasien baik, dengan asupan cairan ± 1–1,5 liter/hari, BAB 1x/hari, konsistensi normal, BAK 4–5x/hari, warna kuning jernih. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital: TD 120/80 mmHg, Nadi 84x/menit, RR 20x/menit, Suhu 36,8°C. Pada kulit: terdapat eritema (kemerahan) difus di lengan bawah dan betis, papul kecil, ekskoriasi akibat garukan, kulit kering, tidak ada pus, mukosa bibir lembab, tidak ada limfadenopati. Pada pemriksaan penunjang didapatkan: • Tes alergi kulit (patch test): positif terhadap bahan semen. • Darah rutin: normal. • IgE serum: sedikit meningkat.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang dideskripsikan, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
1. Diagnosa Keperawatan:
Diagnosa: Intoleransi aktivitas (kode: 00092)
SDKI:
Intoleransi aktivitas adalah ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan atau diperlukan, yang disebabkan oleh keterbatasan fisik atau persepsi kesulitan dalam melakukan aktivitas tersebut.
SLKI:
Kode: 00118 - Toleransi Aktivitas
Definisi: Kemampuan untuk melakukan aktivitas rutin yang diinginkan atau diperlukan tanpa kelelahan yang berlebihan.
SIKI:
Kode: 6460 - Manajemen Aktivitas
Definisi: Upaya untuk mengatur dan memfasilitasi aktivitas individu untuk mempertahankan atau meningkatkan tingkat aktivitas yang optimal.
2. Diagnosa Keperawatan:
Diagnosa: Gangguan integritas kulit (kode: 00046)
SDKI:
Gangguan integritas kulit adalah kerusakan atau perubahan struktur dan fungsi kulit.
SLKI:
Kode: 00108 - Integritas Kulit
Definisi: Kemampuan untuk mempertahankan struktur dan fungsi kulit.
SIKI:
Kode: 3584 - Perawatan Kulit
Definisi: Upaya untuk memelihara kesehatan dan integritas kulit.
3. Diagnosa Keperawatan:
Diagnosa: Kecemasan (kode: 00146)
SDKI:
Kecemasan adalah perasaan tidak nyaman atau khawatir yang disertai respons otonom, perasaan tegang, dan perasaan berdebar-debar yang disebabkan oleh antisipasi bahaya.
SLKI:
Kode: 00137 - Tingkat Kecemasan
Definisi: Tingkat kekhawatiran, keprihatinan, atau ketakutan yang diekspresikan.
SIKI:
Kode: 5820 - Pengurangan Kecemasan
Definisi: Meminimalkan pengalaman rasa takut, kekhawatiran, atau keprihatinan yang dirasakan individu.
Dalam kasus ini, pasien Tn. A mengalami dermatitis kontak akibat paparan semen di tempat kerja, yang menyebabkan gangguan integritas kulit, intoleransi aktivitas, dan kecemasan terkait kondisi kulitnya. Diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi yang diuraikan di atas sesuai dengan kondisi pasien. -
Article No. 21426 | 03 Sep 2025
Klinis : Seorang pasien, Tn. A, usia 35 tahun, jeni kelamin laki-laki, pekerjaan tukang bangunan dengan status perkawinan menikah, datang ke poli kulit dengan keluhan gatal-gatal dan kemerahan di lengan dan betis sejak 1 minggu terakhir. Keluhan semakin parah saat pasien banyak berkeringat dan terkena debu semen di tempat kerja. Pasien juga mengeluhkan kulit terasa panas, kering, dan kadang pecah-pecah. Keluhan muncul pertama kali setelah pasien bekerja di proyek baru yang banyak menggunakan semen. Pasien sering menggaruk karena gatal sehingga muncul luka lecet kecil. Pasien sudah mencoba menggunakan bedak salisilat tetapi tidak banyak membantu. Pasien tidak ada riwayat alergi obat. Pasien pernah mengalami keluhan serupa 2 tahun lalu, membaik setelah diberi salep oleh dokter, namun pasien tidak memiliki riwayat penyakit kulit menular. Dari hasil pengkajian didapatkan data ayah pasien memiliki riwayat asma, tidak ada anggota keluarga dengan keluhan kulit yang sama. Pasien merasa malu dengan kulitnya yang kemerahan dan sering digaruk. Saat ini berperan sebagai kepala keluarga, hubungan baik dengan istri dan anak. Pasien jarang memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, lebih sering membeli obat di warung, pasien tidak mengetahui cara pencegahan dermatitis. Aktivitas sehari-hari sebagai tukang bangunan, banyak berkeringat. Tidak ada keluhan sesak atau nyeri saat beraktivitas. Saat malam tidur malam terganggu karena gatal (sering terbangun 2–3 kali), dan rasa panas di kulit. Pasien mengatasi gatal dengan menggaruk atau menggunakan bedak. Kadang pasien merasa stres karena kulit makin rusak jika digaruk. Pasien meyakini sakit ini sebagai ujian, serta tidak ada pantangan khusus terkait kepercayaan. Nafsu makan pasien baik, dengan asupan cairan ± 1–1,5 liter/hari, BAB 1x/hari, konsistensi normal, BAK 4–5x/hari, warna kuning jernih. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital: TD 120/80 mmHg, Nadi 84x/menit, RR 20x/menit, Suhu 36,8°C. Pada kulit: terdapat eritema (kemerahan) difus di lengan bawah dan betis, papul kecil, ekskoriasi akibat garukan, kulit kering, tidak ada pus, mukosa bibir lembab, tidak ada limfadenopati. Pada pemriksaan penunjang didapatkan: • Tes alergi kulit (patch test): positif terhadap bahan semen. • Darah rutin: normal. • IgE serum: sedikit meningkat.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang dideskripsikan, berikut diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI yang dapat ditetapkan:
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Integritas Kulit (SIKI: 00046)
Definisi: Kerusakan atau perubahan struktur dan fungsi kulit.
2. Intoleransi Aktivitas (SIKI: 00030)
Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin sehari-hari.
3. Gangguan Pola Tidur (SIKI: 00198)
Definisi: Gangguan dalam jumlah dan kualitas tidur yang menyebabkan ketidaknyamanan.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Gangguan Integritas Kulit
Kode: 00046
Definisi: Kerusakan atau perubahan struktur dan fungsi kulit yang disebabkan oleh faktor internal dan eksternal.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Integritas Kulit: Terintegrasi
Kode: 1101
Definisi: Kemampuan mempertahankan struktur dan fungsi kulit.
2. Toleransi Aktivitas
Kode: 0005
Definisi: Kemampuan untuk melakukan aktivitas rutin sehari-hari tanpa rasa lelah yang berlebihan.
3. Pola Tidur
Kode: 0004
Definisi: Pola istirahat dan tidur yang memenuhi kebutuhan individu.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Perawatan Luka: Lokal
Kode: 3505
Definisi: Tindakan keperawatan untuk memelihara integritas kulit yang rusak pada area tertentu.
2. Manajemen Aktivitas
Kode: 0200
Definisi: Tindakan untuk membantu pasien mempertahankan dan meningkatkan toleransi aktivitas.
3. Manajemen Tidur
Kode: 0180
Definisi: Tindakan untuk memfasilitasi pola tidur yang adekuat dan istirahat yang efektif. -
Article No. 21427 | 03 Sep 2025
Klinis : Demam, suhu 38.1c
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda berikan, yaitu demam dengan suhu 38.1°C, berikut adalah diagnosis keperawatan, penjelasan singkat, kode, dan definisi dari SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosis Keperawatan:
1. Hipertermia
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Kode: 00007
Definisi: Peningkatan suhu tubuh di atas batas normal.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Kode: 00301
Definisi: Pemulihan suhu tubuh normal.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Kode: 00001
Definisi: Tindakan untuk menurunkan suhu tubuh yang meningkat.
Penjelasan singkat:
Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh di atas batas normal, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti infeksi, dehidrasi, atau gangguan sistem termoregulasi. Tujuan utama penatalaksanaan hipertermia adalah menurunkan suhu tubuh ke dalam batas normal, mempertahankan fungsi vital, dan mencegah komplikasi. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan mencakup pemantauan suhu tubuh, pemberian kompres dingin, pemberian cairan, dan pemberian obat-obatan antipiretik sesuai indikasi. -
Article No. 21428 | 03 Sep 2025
Klinis : Seorang pasien, perempuan berusia 32 tahun, dirawat di rumah sakit dengan keluhan kulit kemerahan luas, nyeri, disertai lepuhan di tubuh dan luka di mulut sejak 3 hari terakhir. Pasien mengatakan awalnya mengalami demam, nyeri tenggorokan, serta mata terasa perih seperti terbakar. Dua hari kemudian, muncul ruam kemerahan di wajah yang menyebar ke dada, punggung, dan lengan. Ruam berkembang menjadi bula yang mudah pecah sehingga kulit tampak melepuh dan terasa sangat nyeri. Pasien juga mengalami sariawan parah yang membuatnya sulit makan dan minum. Saat ditanya riwayat sebelumnya, pasien mengatakan baru 10 hari lalu mengonsumsi obat antibiotik golongan sulfa untuk infeksi saluran kemih. Sejak itu pasien merasa badannya lemah dan muncul gejala prodromal menyerupai flu. Saat ini pasien tampak gelisah, menangis karena nyeri, dan sangat khawatir kondisi kulitnya akan semakin parah. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit kronis seperti diabetes mellitus, hipertensi, atau penyakit jantung. Riwayat alergi makanan tidak ada, namun pasien belum pernah diketahui alergi obat. Tidak ada riwayat penyakit kulit sebelumnya. Ayah pasien memiliki riwayat asma, ibu sehat. Tidak ada anggota keluarga dengan riwayat alergi obat berat atau penyakit kulit serupa. Pasien sadar compos mentis, orientasi baik. Keluhan utama pasien adalah nyeri kulit (skala 9/10), nyeri mulut, dan perih pada mata. Pasien juga mengatakan pandangannya mulai kabur sejak dua hari terakhir. Tidur sangat terganggu karena nyeri hebat pada kulit dan mulut. Pasien sering terbangun dan hanya tidur 2–3 jam per malam. Aktivitas sangat menurun karena nyeri dan lemah. Pasien lebih banyak berbaring, membutuhkan bantuan keluarga untuk berpindah tempat tidur. Sebelum sakit, pola BAB dan BAK normal. Saat ini BAK berkurang, urin lebih pekat karena asupan cairan kurang. aat ini pasien sulit makan karena adanya luka di mulut dan tenggorokan, serta bibir pecah-pecah. Nafsu makan sangat menurun, hanya bisa menelan bubur dan minum sedikit air. Berat badan menurun 2 kg dalam 1 minggu. Kulit tampak melepuh luas, beberapa area terkelupas. Pasien biasanya jarang sakit, tetapi jika sakit lebih sering mengonsumsi obat dari apotek tanpa resep dokter. Tidak pernah mendapat edukasi mengenai alergi obat. Pasien merasa cemas, takut wajah dan kulitnya akan rusak permanen. Ia merasa citra dirinya menurun dan malu bila bertemu orang lain. Pasien tampak menangis dan gelisah, sulit menenangkan diri. Saat ditanya cara mengatasi stres, ia mengatakan berdoa dan mendapat dukungan dari suami. Pasien meyakini bahwa sakit merupakan ujian. Ia percaya dengan pengobatan medis dan doa, ia bisa sembuh. Pemeriksaan Fisik ? Keadaan umum: tampak sakit sedang-berat, kesadaran compos mentis. ? Tanda vital: TD 100/70 mmHg, Nadi 108x/menit, RR 24x/menit, Suhu 38,5°C. ? Kulit: ruam eritema menyebar di wajah, dada, punggung, lengan, sebagian tungkai. Lepuhan multipel dengan epidermis mudah terkelupas (positif tanda Nikolsky). Luas area luka ±15–20% TBSA. ? Mata: konjungtiva merah, sekret mukopurulen, pasien mengeluh nyeri dan pandangan kabur. ? Mulut: mukosa bibir dan orofaring penuh ulserasi, terdapat krusta berdarah, pasien sulit menelan. ? Genitalia: tampak lesi eritema dan erosi di daerah vulva. Pemeriksaan Penunjang ? Darah rutin: Leukosit 13.000/?L (meningkat), Hb 12 g/dL, Trombosit 220.000/?L. ? Elektrolit: Na 130 mmol/L (menurun), K 3,2 mmol/L (menurun). ? Fungsi ginjal: Ureum 45 mg/dL, Kreatinin 1,6 mg/dL ? tanda awal gangguan ginjal akibat dehidrasi. ? Tes fungsi hati: SGOT/SGPT meningkat ringan. ? Kultur darah & swab luka: sedang dalam pemeriksaan untuk menilai infeksi sekunder. ? Konsultasi oftalmologi: ditemukan konjungtivitis berat dengan risiko kerusakan kornea.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi di atas:
1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan reaksi alergi obat yang ditandai dengan adanya ruam eritema, lepuhan, dan epidermis yang mudah terkelupas.
2. Nyeri berhubungan dengan reaksi alergi obat yang ditandai dengan adanya lesi kulit dan mukosa yang sangat nyeri.
3. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan reaksi alergi obat yang ditandai dengan adanya nyeri kulit dan mukosa yang hebat.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum dan nyeri yang hebat.
5. Risiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan kondisi kulit yang mudah terluka dan terinfeksi.
6. Risiko gangguan keseimbangan cairan berhubungan dengan asupan cairan yang kurang dan kehilangan cairan melalui kulit yang luas.
7. Risiko infeksi berhubungan dengan kerusakan integritas kulit dan mukosa.
8. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan fisik yang signifikan.
9. Kecemasan berhubungan dengan ketakutan akan komplikasi dan dampak jangka panjang.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Integritas kulit membaik, ditandai dengan berkurangnya luas area lesi kulit dan mukosa yang melepuh.
2. Nyeri terkontrol, ditandai dengan penurunan skor nyeri dari 9/10 menjadi 4/10.
3. Kenyamanan meningkat, ditandai dengan pasien dapat tidur lebih dari 6 jam per hari.
4. Aktivitas meningkat, ditandai dengan pasien dapat melakukan perawatan diri secara mandiri.
5. Tidak terjadi komplikasi infeksi pada lesi kulit dan mukosa.
6. Keseimbangan cairan terpenuhi, ditandai dengan peningkatan volume urin dan pemulihan elektrolit.
7. Tidak terjadi infeksi sekunder pada lesi kulit dan mukosa.
8. Citra tubuh membaik, ditandai dengan pasien merasa lebih percaya diri dan menerima perubahan penampilan.
9. Kecemasan berkurang, ditandai dengan pasien dapat mengendalikan emosi dan fokus pada proses penyembuhan.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Perawatan kulit dan mukosa: Lakukan perawatan luka pada area kulit yang melepuh, menggunakan krim dan salep yang sesuai. Berikan kompres dingin untuk mengurangi rasa nyeri dan mencegah infeksi. Lakukan perawatan mukosa oral dengan obat kumur antiseptik.
2. Manajemen nyeri: Berikan analgesik sesuai resep dokter. Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi untuk mengurangi nyeri. Kolaborasi dengan dokter untuk meminimalkan efek samping obat.
3. Peningkatan kenyamanan: Atur posisi tidur yang nyaman, batasi aktivitas, dan bantu pasien saat berpindah tempat. Berikan alas tempat tidur yang lembut dan tidak mengiritasi kulit.
4. Peningkatan aktivitas: Bantu pasien melakukan perawatan diri sederhana sesuai toleransi. Ajarkan latihan gerak pasif pada ekstremitas untuk mencegah kontraktur.
5. Pencegahan infeksi: Terapkan teknik aseptik saat merawat lesi kulit dan mukosa. Pantau tanda-tanda infeksi dan segera laporkan bila ditemukan. Kolaborasi dengan dokter untuk terapi antibiotik atau antivirus jika perlu.
6. Manajemen cairan dan elektrolit: Berikan asupan cairan yang cukup melalui jalur parenteral atau enteral. Monitor intake-output, elektrolit, dan fungsi ginjal. Kolaborasi dengan dokter untuk terapi cairan dan elektrolit yang adekuat.
7. Pencegahan komplikasi: Lakukan pemeriksaan penunjang rutin untuk mendeteksi komplikasi dini. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (ahli mata, kulit) untuk mencegah komplikasi.
8. Dukungan psikologis: Berikan empati, dengarkan keluhan pasien, dan bantu pasien untuk tetap optimistis. Fasilitasi komunikasi dengan keluarga untuk memberikan dukungan. Ajarkan teknik manajemen stres yang positif.
9. Edukasi dan konseling: Berikan edukasi tentang alergi obat, pencegahan komplikasi, dan manajemen gejala. Konseling untuk membangun kepercayaan diri dan menerima perubahan fisik.
Saya berharap penjelasan yang rinci ini dapat membantu Anda dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif untuk pasien dengan kondisi tersebut. Jangan ragu untuk menanyakan lebih lanjut jika ada hal yang belum jelas. -
Article No. 21429 | 03 Sep 2025
Klinis : Seorang pasien, Tn. A, usia 35 tahun, jeni kelamin laki-laki, pekerjaan tukang bangunan dengan status perkawinan menikah, datang ke poli kulit dengan keluhan gatal-gatal dan kemerahan di lengan dan betis sejak 1 minggu terakhir. Keluhan semakin parah saat pasien banyak berkeringat dan terkena debu semen di tempat kerja. Pasien juga mengeluhkan kulit terasa panas, kering, dan kadang pecah-pecah. Keluhan muncul pertama kali setelah pasien bekerja di proyek baru yang banyak menggunakan semen. Pasien sering menggaruk karena gatal sehingga muncul luka lecet kecil. Pasien sudah mencoba menggunakan bedak salisilat tetapi tidak banyak membantu. Pasien tidak ada riwayat alergi obat. Pasien pernah mengalami keluhan serupa 2 tahun lalu, membaik setelah diberi salep oleh dokter, namun pasien tidak memiliki riwayat penyakit kulit menular. Dari hasil pengkajian didapatkan data ayah pasien memiliki riwayat asma, tidak ada anggota keluarga dengan keluhan kulit yang sama. Pasien merasa malu dengan kulitnya yang kemerahan dan sering digaruk. Saat ini berperan sebagai kepala keluarga, hubungan baik dengan istri dan anak. Pasien jarang memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, lebih sering membeli obat di warung, pasien tidak mengetahui cara pencegahan dermatitis. Aktivitas sehari-hari sebagai tukang bangunan, banyak berkeringat. Tidak ada keluhan sesak atau nyeri saat beraktivitas. Saat malam tidur malam terganggu karena gatal (sering terbangun 2–3 kali), dan rasa panas di kulit. Pasien mengatasi gatal dengan menggaruk atau menggunakan bedak. Kadang pasien merasa stres karena kulit makin rusak jika digaruk. Pasien meyakini sakit ini sebagai ujian, serta tidak ada pantangan khusus terkait kepercayaan. Nafsu makan pasien baik, dengan asupan cairan ± 1–1,5 liter/hari, BAB 1x/hari, konsistensi normal, BAK 4–5x/hari, warna kuning jernih. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital: TD 120/80 mmHg, Nadi 84x/menit, RR 20x/menit, Suhu 36,8°C. Pada kulit: terdapat eritema (kemerahan) difus di lengan bawah dan betis, papul kecil, ekskoriasi akibat garukan, kulit kering, tidak ada pus, mukosa bibir lembab, tidak ada limfadenopati. Pada pemriksaan penunjang didapatkan: • Tes alergi kulit (patch test): positif terhadap bahan semen. • Darah rutin: normal. • IgE serum: sedikit meningkat. Buatkan do ds
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan data yang diberikan, Diagnosa Keperawatan yang dapat ditetapkan untuk Tn. A adalah:
1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keterbatasan fisik akibat gatal-gatal dan kemerahan kulit (TKKS-4)
2. Gangguan pola tidur berhubungan dengan gatal-gatal dan rasa panas pada kulit (TPCT-2)
3. Risiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan garukan (TKKS-5)
Penjelasan singkat diagnosa berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI:
1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keterbatasan fisik akibat gatal-gatal dan kemerahan kulit (TKKS-4)
- SDKI: Intoleransi aktivitas
- SLKI: Pemulihan aktivitas
- SIKI: Manajemen aktivitas
- Kode: TKKS-4
2. Gangguan pola tidur berhubungan dengan gatal-gatal dan rasa panas pada kulit (TPCT-2)
- SDKI: Gangguan pola tidur
- SLKI: Pemulihan pola tidur
- SIKI: Manajemen pola tidur
- Kode: TPCT-2
3. Risiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan garukan (TKKS-5)
- SDKI: Risiko kerusakan integritas kulit
- SLKI: Pemulihan integritas kulit
- SIKI: Perawatan kulit
- Kode: TKKS-5
Sebagai perawat, saya memahami bahwa diagnosa keperawatan ini berdasarkan pada data yang dikumpulkan dari pengkajian pasien. Diagnosa ini mencerminkan masalah kesehatan yang dialami oleh Tn. A, yaitu keterbatasan aktivitas, gangguan pola tidur, dan risiko kerusakan kulit akibat kondisi dermatitis kontak yang ia alami. Dengan memahami diagnosa ini, saya dapat menyusun rencana asuhan keperawatan yang komprehensif dan berpusat pada pasien untuk membantu Tn. A mengatasi masalah kesehatannya. -
Article No. 21430 | 03 Sep 2025
Klinis : Seorang pasien, perempuan berusia 32 tahun, dirawat di rumah sakit dengan keluhan kulit kemerahan luas, nyeri, disertai lepuhan di tubuh dan luka di mulut sejak 3 hari terakhir. Pasien mengatakan awalnya mengalami demam, nyeri tenggorokan, serta mata terasa perih seperti terbakar. Dua hari kemudian, muncul ruam kemerahan di wajah yang menyebar ke dada, punggung, dan lengan. Ruam berkembang menjadi bula yang mudah pecah sehingga kulit tampak melepuh dan terasa sangat nyeri. Pasien juga mengalami sariawan parah yang membuatnya sulit makan dan minum. Saat ditanya riwayat sebelumnya, pasien mengatakan baru 10 hari lalu mengonsumsi obat antibiotik golongan sulfa untuk infeksi saluran kemih. Sejak itu pasien merasa badannya lemah dan muncul gejala prodromal menyerupai flu. Saat ini pasien tampak gelisah, menangis karena nyeri, dan sangat khawatir kondisi kulitnya akan semakin parah. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit kronis seperti diabetes mellitus, hipertensi, atau penyakit jantung. Riwayat alergi makanan tidak ada, namun pasien belum pernah diketahui alergi obat. Tidak ada riwayat penyakit kulit sebelumnya. Ayah pasien memiliki riwayat asma, ibu sehat. Tidak ada anggota keluarga dengan riwayat alergi obat berat atau penyakit kulit serupa. Pasien sadar compos mentis, orientasi baik. Keluhan utama pasien adalah nyeri kulit (skala 9/10), nyeri mulut, dan perih pada mata. Pasien juga mengatakan pandangannya mulai kabur sejak dua hari terakhir. Tidur sangat terganggu karena nyeri hebat pada kulit dan mulut. Pasien sering terbangun dan hanya tidur 2–3 jam per malam. Aktivitas sangat menurun karena nyeri dan lemah. Pasien lebih banyak berbaring, membutuhkan bantuan keluarga untuk berpindah tempat tidur. Sebelum sakit, pola BAB dan BAK normal. Saat ini BAK berkurang, urin lebih pekat karena asupan cairan kurang. aat ini pasien sulit makan karena adanya luka di mulut dan tenggorokan, serta bibir pecah-pecah. Nafsu makan sangat menurun, hanya bisa menelan bubur dan minum sedikit air. Berat badan menurun 2 kg dalam 1 minggu. Kulit tampak melepuh luas, beberapa area terkelupas. Pasien biasanya jarang sakit, tetapi jika sakit lebih sering mengonsumsi obat dari apotek tanpa resep dokter. Tidak pernah mendapat edukasi mengenai alergi obat. Pasien merasa cemas, takut wajah dan kulitnya akan rusak permanen. Ia merasa citra dirinya menurun dan malu bila bertemu orang lain. Pasien tampak menangis dan gelisah, sulit menenangkan diri. Saat ditanya cara mengatasi stres, ia mengatakan berdoa dan mendapat dukungan dari suami. Pasien meyakini bahwa sakit merupakan ujian. Ia percaya dengan pengobatan medis dan doa, ia bisa sembuh. Pemeriksaan Fisik ? Keadaan umum: tampak sakit sedang-berat, kesadaran compos mentis. ? Tanda vital: TD 100/70 mmHg, Nadi 108x/menit, RR 24x/menit, Suhu 38,5°C. ? Kulit: ruam eritema menyebar di wajah, dada, punggung, lengan, sebagian tungkai. Lepuhan multipel dengan epidermis mudah terkelupas (positif tanda Nikolsky). Luas area luka ±15–20% TBSA. ? Mata: konjungtiva merah, sekret mukopurulen, pasien mengeluh nyeri dan pandangan kabur. ? Mulut: mukosa bibir dan orofaring penuh ulserasi, terdapat krusta berdarah, pasien sulit menelan. ? Genitalia: tampak lesi eritema dan erosi di daerah vulva. Pemeriksaan Penunjang ? Darah rutin: Leukosit 13.000/?L (meningkat), Hb 12 g/dL, Trombosit 220.000/?L. ? Elektrolit: Na 130 mmol/L (menurun), K 3,2 mmol/L (menurun). ? Fungsi ginjal: Ureum 45 mg/dL, Kreatinin 1,6 mg/dL ? tanda awal gangguan ginjal akibat dehidrasi. ? Tes fungsi hati: SGOT/SGPT meningkat ringan. ? Kultur darah & swab luka: sedang dalam pemeriksaan untuk menilai infeksi sekunder. ? Konsultasi oftalmologi: ditemukan konjungtivitis berat dengan risiko kerusakan kornea.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan analisis diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, nyeri kulit, dan gangguan tidur.
2. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan jaringan kulit, mukosa, dan kornea.
3. Risiko infeksi berhubungan dengan rusaknya integritas kulit dan mukosa.
4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan fisik.
5. Kecemasan berhubungan dengan kondisi kesehatan dan perubahan penampilan.
6. Defisit volume cairan berhubungan dengan asupan cairan yang tidak adekuat.
7. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri hebat dan kecemasan.
8. Risiko gangguan fungsi cornea berhubungan dengan konjungtivitis berat.
Luaran/Output yang diharapkan (SLKI):
1. Intoleransi aktivitas:
- Pasien dapat melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri.
- Pasien dapat mempertahankan kebugaran sesuai kemampuan.
- Pasien dapat beradaptasi dengan pembatasan aktivitas.
2. Nyeri akut:
- Pasien dapat melaporkan penurunan nyeri hingga level yang dapat ditoleransi.
- Pasien dapat mendemonstrasikan teknik pengelolaan nyeri yang efektif.
- Pasien dapat mempertahankan istirahat yang adekuat.
3. Risiko infeksi:
- Tidak terjadi infeksi sekunder pada kulit, mukosa, atau mata.
- Tanda-tanda infeksi dapat dikendalikan.
- Pasien dapat merawat luka dengan benar.
4. Gangguan citra tubuh:
- Pasien dapat menerima perubahan penampilan fisik.
- Pasien dapat mengidentifikasi strategi untuk menghadapi perubahan penampilan.
- Pasien dapat mempertahankan harga diri.
5. Kecemasan:
- Pasien dapat mengidentifikasi sumber kecemasan dan mekanisme koping yang efektif.
- Pasien dapat mendemonstrasikan teknik relaksasi untuk mengurangi kecemasan.
- Pasien dapat mempertahankan mood yang tenang dan terkendali.
6. Defisit volume cairan:
- Pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan yang adekuat.
- Tidak terjadi dehidrasi atau gangguan fungsi ginjal.
- Pasien dapat meningkatkan asupan cairan sesuai kebutuhan.
7. Gangguan pola tidur:
- Pasien dapat mempertahankan pola tidur yang adekuat.
- Pasien dapat mendemonstrasikan teknik manajemen nyeri dan relaksasi untuk meningkatkan kualitas tidur.
- Pasien dapat beristirahat secara optimal.
8. Risiko gangguan fungsi cornea:
- Tidak terjadi kerusakan kornea.
- Tanda-tanda infeksi dan peradangan pada mata dapat dikendalikan.
- Pasien dapat merawat mata dengan benar.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Intoleransi aktivitas:
- Kaji tingkat aktivitas dan toleransi pasien.
- Rencanakan aktivitas sesuai kemampuan pasien.
- Ajarkan teknik menghemat energi dan melakukan aktivitas secara bertahap.
- Bantu pasien melakukan aktivitas perawatan diri.
- Kolaborasi dengan fisioterapis untuk program rehabilitasi.
2. Nyeri akut:
- Kaji karakteristik, lokasi, dan intensitas nyeri.
- Berikan analgesik sesuai resep dokter.
- Ajarkan teknik manajemen nyeri nonfarmakologis (kompres dingin, distraksi, relaksasi).
- Lakukan perawatan kulit dan mukosa untuk mengurangi nyeri.
- Kolaborasi dengan dokter untuk pengelolaan nyeri yang komprehensif.
3. Risiko infeksi:
- Kaji tanda-tanda infeksi pada kulit, mukosa, dan mata.
- Lakukan perawatan luka dan mukosa secara aseptik.
- Berikan antibiotik dan antiviral sesuai resep dokter.
- Ajarkan pasien dan keluarga cara perawatan luka dan mukosa yang benar.
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemantauan infeksi dan pemberian terapi.
4. Gangguan citra tubuh:
- Kaji persepsi dan reaksi pasien terhadap perubahan penampilan.
- Berikan dukungan emosional dan bantu pasien menerima perubahan.
- Ajarkan strategi untuk mengatasi perubahan penampilan (penggunaan pakaian, kosmetik).
- Dorong pasien untuk tetap aktif dan berinteraksi dengan orang lain.
- Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan.
5. Kecemasan:
- Kaji tingkat kecemasan dan penyebabnya.
- Ajarkan teknik relaksasi, distraksi, dan visualisasi positif.
- Libatkan pasien dalam pengambilan keputusan terkait perawatan.
- Berikan informasi yang jelas dan realistis tentang kondisi dan prognosis.
- Dukung pasien untuk menggunakan mekanisme koping yang efektif.
6. Defisit volume cairan:
- Kaji intake dan output cairan serta tanda-tanda dehidrasi.
- Berikan cairan intravena sesuai kebutuhan.
- Bantu pasien meningkatkan asupan oral sesuai toleransi.
- Pantau dan pertahankan keseimbangan cairan yang adekuat.
- Kolaborasi dengan dokter untuk pengaturan terapi cairan.
7. Gangguan pola tidur:
- Kaji pola dan kualitas tidur pasien.
- Terapkan lingkungan yang nyaman dan tenang untuk tidur.
- Ajarkan teknik relaksasi dan manajemen nyeri untuk memfasilitasi tidur.
- Berikan obat tidur sesuai resep dokter, jika perlu.
- Kolaborasi dengan dokter untuk mengatasi gangguan tidur.
8. Risiko gangguan fungsi kornea:
- Kaji tanda-tanda infeksi dan peradangan pada mata.
- Berikan tetes mata sesuai resep dokter.
- Ajarkan pasien dan keluarga cara merawat mata yang benar.
- Pantau fungsi penglihatan pasien secara berkala.
- Kolaborasi dengan dokter oftalmologi untuk pengelolaan komprehensif.
Saya telah memberikan penjelasan rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien. Jika ada yang kurang jelas, silakan tanyakan kembali. -
Article No. 21431 | 03 Sep 2025
Klinis : Seorang pasien, laki-laki berusia 28 tahun, dirawat dengan keluhan nyeri hebat dan kulit melepuh pada lengan kanan dan sebagian dada setelah terkena air panas saat bekerja di dapur rumah makan tempat ia bekerja. Pasien mengatakan kejadian berlangsung sekitar 2 jam yang lalu, ketika ia tidak sengaja menumpahkan panci berisi kuah panas ke tubuh bagian atasnya. Sejak itu ia merasakan nyeri menusuk dan perih di daerah luka, serta kesulitan menggerakkan lengan karena rasa sakit. Saat pemeriksaan awal, tampak kulit lengan kanan bagian anterior kemerahan luas dengan beberapa bula (lepuhan) berisi cairan jernih, dan sebagian dada kanan tampak eritema. Perawat menilai luka bakar meliputi ±15% luas permukaan tubuh (TBSA) dengan derajat II (superficial partial thickness). Pasien tidak memiliki riwayat penyakit kronis seperti diabetes mellitus, hipertensi, atau penyakit kulit sebelumnya. Pasien belum pernah mengalami luka bakar sebelumnya. Riwayat alergi obat maupun makanan tidak pernah ada. Ayah pasien memiliki riwayat hipertensi, ibu sehat. Tidak ada riwayat penyakit kulit atau alergi dalam keluarga. Pasien menganggap dirinya biasanya sehat, jarang berobat, dan lebih memilih pengobatan tradisional untuk keluhan ringan. Tidak ada kebiasaan khusus menjaga kesehatan kulit. Nafsu makan pasien sebelumnya baik, namun sejak kejadian luka bakar ia merasa mual dan tidak berselera makan. Asupan cairan sejak kejadian berkurang. Saat ini pasien mengeluhkan rasa haus. Kulit di sekitar luka tampak kemerahan dan melepuh, tanda adanya kerusakan integritas kulit. Sebelum kejadian, pola BAB 1x/hari dengan konsistensi normal, BAK 5–6x/hari. Setelah kejadian, pasien baru sekali BAK, urin agak pekat dan sedikit. Pasien sehari-hari bekerja sebagai juru masak, aktivitas fisik cukup tinggi. Saat ini aktivitas terbatas karena nyeri, terutama gerakan lengan kanan. Pasien biasanya tidur 6–7 jam per malam. Namun sejak luka bakar, ia sulit tidur karena nyeri yang terus-menerus. Pasien sadar penuh (compos mentis), orientasi baik. Skala nyeri 8/10, nyeri bertambah saat bergerak atau menyentuh luka. Sensasi terbakar dan perih jelas dirasakan di daerah luka. Pasien merasa khawatir akan kondisi kulitnya yang rusak dan takut meninggalkan bekas luka. Ia merasa citra dirinya akan menurun bila luka tidak sembuh sempurna. Pasien adalah tulang punggung keluarga, tinggal bersama istri dan seorang anak. Ia merasa cemas tidak dapat bekerja sementara waktu sehingga berpengaruh pada ekonomi keluarga. Tidak ada keluhan dalam fungsi reproduksi. Namun pasien mengungkapkan kekhawatiran terhadap daya tarik fisiknya di mata pasangan karena luka bakar ini. Pasien mengaku merasa stres, cemas, dan takut dengan proses penyembuhan. Ia berusaha menenangkan diri dengan berdoa, namun kadang tampak gelisah. Pasien meyakini sakit sebagai ujian dari Tuhan. Ia percaya kesembuhan dapat dicapai dengan usaha pengobatan yang tepat serta doa. Pada Pemeriksaan fisik didapatkan data: • Keadaan umum: Tampak kesakitan, compos mentis. • Tanda vital: TD 110/70 mmHg, Nadi 100x/menit, RR 22x/menit, Suhu 37,5°C. • Kulit: Lengan kanan bagian anterior tampak eritema luas, terdapat bula berisi cairan, sebagian pecah, kulit terasa panas dan nyeri bila disentuh. Daerah dada kanan tampak eritema difus. Luas luka diperkirakan 15% TBSA. • Mukosa mulut: Lembab. • Ekstremitas: Gerakan terbatas karena nyeri. Pemeriksaan Penunjang pada pasien Laboratorium: • Hb: 14 g/dL • Leukosit: 11.000/µL (sedikit meningkat, tanda stres/inflamasi) • Elektrolit: Na 132 mmol/L (sedikit menurun), K 3,8 mmol/L • Ht: 48% (sedikit meningkat, tanda hemokonsentrasi akibat kehilangan cairan) • Foto luka: mendukung diagnosa luka bakar derajat II superficial partial thickness. • Uji fungsi ginjal: ureum/creat dalam batas normal, namun pemantauan lanjutan diperlukan karena risiko gangguan akibat dehidrasi.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI yang dapat diterapkan untuk kondisi pasien tersebut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Kerusakan Integritas Kulit (00046)
- SDKI: Kerusakan pada struktur dan fungsi kulit yang merupakan respons tubuh terhadap ancaman kesehatan.
- SLKI: Pemulihan kondisi integritas kulit yang rusak akibat luka bakar.
- SIKI: Tindakan keperawatan untuk mempertahankan dan memulihkan integritas kulit.
2. Nyeri Akut (00132)
- SDKI: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat dan intensitas ringan hingga berat.
- SLKI: Manajemen nyeri akibat luka bakar.
- SIKI: Tindakan keperawatan untuk mengurangi dan mengendalikan rasa nyeri.
3. Kecemasan (00146)
- SDKI: Perasaan tidak nyaman atau khawatir yang disebabkan oleh antisipasi bahaya.
- SLKI: Manajemen kecemasan akibat kondisi kesehatan yang dialami.
- SIKI: Tindakan keperawatan untuk memfasilitasi penurunan tingkat kecemasan.
4. Risiko Gangguan Cairan dan Elektrolit (00028)
- SDKI: Peningkatan atau penurunan satu atau lebih cairan dan/atau elektrolit tubuh yang dapat mengancam kesehatan.
- SLKI: Pemantauan dan stabilisasi keseimbangan cairan dan elektrolit.
- SIKI: Tindakan keperawatan untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.
5. Risiko Gangguan Integritas Kulit (00047)
- SDKI: Rentan terhadap kerusakan pada struktur dan fungsi kulit yang merupakan respons tubuh terhadap ancaman kesehatan.
- SLKI: Pemulihan kondisi integritas kulit yang rusak akibat luka bakar.
- SIKI: Tindakan keperawatan untuk mempertahankan dan memulihkan integritas kulit.
Penjelasan singkat:
1. Kerusakan Integritas Kulit: Terjadi kerusakan pada struktur dan fungsi kulit akibat luka bakar, dengan gejala seperti eritema, bula, dan nyeri. Perlu tindakan untuk mempertahankan dan memulihkan integritas kulit.
2. Nyeri Akut: Pasien mengalami nyeri hebat dan perih di area luka bakar, dengan skala nyeri 8/10. Perlu tindakan untuk mengurangi dan mengendalikan rasa nyeri.
3. Kecemasan: Pasien mengalami kecemasan, stres, dan ketakutan terkait kondisi lukanya, proses penyembuhan, dan dampak pada pekerjaan dan keluarga. Perlu tindakan untuk memfasilitasi penurunan tingkat kecemasan.
4. Risiko Gangguan Cairan dan Elektrolit: Pasien mengalami gejala dehidrasi akibat kehilangan cairan dan elektrolit melalui luka bakar. Perlu pemantauan dan stabilisasi keseimbangan cairan dan elektrolit.
5. Risiko Gangguan Integritas Kulit: Pasien rentan terhadap kerusakan kulit lebih lanjut akibat luka bakar. Perlu tindakan untuk mempertahankan dan memulihkan integritas kulit. -
Article No. 21432 | 03 Sep 2025
Klinis : Seorang pasien, laki-laki berusia 28 tahun, dirawat dengan keluhan nyeri hebat dan kulit melepuh pada lengan kanan dan sebagian dada setelah terkena air panas saat bekerja di dapur rumah makan tempat ia bekerja. Pasien mengatakan kejadian berlangsung sekitar 2 jam yang lalu, ketika ia tidak sengaja menumpahkan panci berisi kuah panas ke tubuh bagian atasnya. Sejak itu ia merasakan nyeri menusuk dan perih di daerah luka, serta kesulitan menggerakkan lengan karena rasa sakit. Saat pemeriksaan awal, tampak kulit lengan kanan bagian anterior kemerahan luas dengan beberapa bula (lepuhan) berisi cairan jernih, dan sebagian dada kanan tampak eritema. Perawat menilai luka bakar meliputi ±15% luas permukaan tubuh (TBSA) dengan derajat II (superficial partial thickness). Pasien tidak memiliki riwayat penyakit kronis seperti diabetes mellitus, hipertensi, atau penyakit kulit sebelumnya. Pasien belum pernah mengalami luka bakar sebelumnya. Riwayat alergi obat maupun makanan tidak pernah ada. Ayah pasien memiliki riwayat hipertensi, ibu sehat. Tidak ada riwayat penyakit kulit atau alergi dalam keluarga. Pasien menganggap dirinya biasanya sehat, jarang berobat, dan lebih memilih pengobatan tradisional untuk keluhan ringan. Tidak ada kebiasaan khusus menjaga kesehatan kulit. Nafsu makan pasien sebelumnya baik, namun sejak kejadian luka bakar ia merasa mual dan tidak berselera makan. Asupan cairan sejak kejadian berkurang. Saat ini pasien mengeluhkan rasa haus. Kulit di sekitar luka tampak kemerahan dan melepuh, tanda adanya kerusakan integritas kulit. Sebelum kejadian, pola BAB 1x/hari dengan konsistensi normal, BAK 5–6x/hari. Setelah kejadian, pasien baru sekali BAK, urin agak pekat dan sedikit. Pasien sehari-hari bekerja sebagai juru masak, aktivitas fisik cukup tinggi. Saat ini aktivitas terbatas karena nyeri, terutama gerakan lengan kanan. Pasien biasanya tidur 6–7 jam per malam. Namun sejak luka bakar, ia sulit tidur karena nyeri yang terus-menerus. Pasien sadar penuh (compos mentis), orientasi baik. Skala nyeri 8/10, nyeri bertambah saat bergerak atau menyentuh luka. Sensasi terbakar dan perih jelas dirasakan di daerah luka. Pasien merasa khawatir akan kondisi kulitnya yang rusak dan takut meninggalkan bekas luka. Ia merasa citra dirinya akan menurun bila luka tidak sembuh sempurna. Pasien adalah tulang punggung keluarga, tinggal bersama istri dan seorang anak. Ia merasa cemas tidak dapat bekerja sementara waktu sehingga berpengaruh pada ekonomi keluarga. Tidak ada keluhan dalam fungsi reproduksi. Namun pasien mengungkapkan kekhawatiran terhadap daya tarik fisiknya di mata pasangan karena luka bakar ini. Pasien mengaku merasa stres, cemas, dan takut dengan proses penyembuhan. Ia berusaha menenangkan diri dengan berdoa, namun kadang tampak gelisah. Pasien meyakini sakit sebagai ujian dari Tuhan. Ia percaya kesembuhan dapat dicapai dengan usaha pengobatan yang tepat serta doa. Pada Pemeriksaan fisik didapatkan data: • Keadaan umum: Tampak kesakitan, compos mentis. • Tanda vital: TD 110/70 mmHg, Nadi 100x/menit, RR 22x/menit, Suhu 37,5°C. • Kulit: Lengan kanan bagian anterior tampak eritema luas, terdapat bula berisi cairan, sebagian pecah, kulit terasa panas dan nyeri bila disentuh. Daerah dada kanan tampak eritema difus. Luas luka diperkirakan 15% TBSA. • Mukosa mulut: Lembab. • Ekstremitas: Gerakan terbatas karena nyeri. Pemeriksaan Penunjang pada pasien Laboratorium: • Hb: 14 g/dL • Leukosit: 11.000/µL (sedikit meningkat, tanda stres/inflamasi) • Elektrolit: Na 132 mmol/L (sedikit menurun), K 3,8 mmol/L • Ht: 48% (sedikit meningkat, tanda hemokonsentrasi akibat kehilangan cairan) • Foto luka: mendukung diagnosa luka bakar derajat II superficial partial thickness. • Uji fungsi ginjal: ureum/creat dalam batas normal, namun pemantauan lanjutan diperlukan karena risiko gangguan akibat dehidrasi.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi pasien yang telah dijabarkan, berikut adalah diagnosa keperawatan SDKI, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Kerusakan Integritas Kulit (Impaired Skin Integrity) berhubungan dengan luka bakar derajat II superficial partial thickness.
2. Nyeri Akut (Acute Pain) berhubungan dengan luka bakar.
3. Risiko Ketidakseimbangan Cairan (Risk for Fluid Imbalance) berhubungan dengan kehilangan cairan melalui luka bakar.
4. Ansietas (Anxiety) berhubungan dengan perubahan citra tubuh akibat luka bakar.
5. Gangguan Pola Tidur (Disturbed Sleep Pattern) berhubungan dengan nyeri.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Integritas Kulit: Penyembuhan Luka (Wound Healing: Primary Intention)
- Kriteria hasil: Luka bakar menunjukkan penyembuhan yang baik, tidak ada tanda-tanda infeksi, tidak ada komplikasi, dan tidak ada keterbatasan fungsi.
2. Manajemen Nyeri (Pain Management)
- Kriteria hasil: Pasien melaporkan nyeri berkurang hingga di bawah skala 4, dapat beristirahat dan tidur dengan nyaman.
3. Keseimbangan Cairan (Fluid Balance)
- Kriteria hasil: Pasien mempertahankan status hidrasi yang adekuat, intake dan output cairan seimbang, tanda-tanda vital dalam batas normal.
4. Citra Tubuh (Body Image)
- Kriteria hasil: Pasien menerima perubahan pada kulit dan menunjukkan penerimaan diri yang baik.
5. Pola Tidur (Sleep Pattern)
- Kriteria hasil: Pasien dapat tidur dengan nyaman selama 6-8 jam per malam.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen Luka (Wound Management)
- Bersihkan dan lakukan perawatan luka secara aseptik
- Aplikasikan salep/dressing yang sesuai untuk luka bakar
- Pantau tanda-tanda infeksi dan komplikasi
- Edukasi pasien dan keluarga tentang perawatan luka
2. Manajemen Nyeri (Pain Management)
- Berikan analgesik sesuai instruksi dokter
- Gunakan pendekatan non-farmakologis seperti distraksi, relaksasi, dan terapi kompres dingin
- Anjurkan posisi yang nyaman dan minimalkan pergerakan yang menyebabkan nyeri
- Evaluasi efektivitas intervensi nyeri
3. Manajemen Cairan (Fluid Management)
- Pantau intake dan output cairan
- Berikan cairan intravena sesuai kebutuhan untuk mengganti cairan yang hilang
- Pantau tanda-tanda dehidrasi dan hemokonsentrasi
- Anjurkan asupan cairan oral yang adekuat
4. Peningkatan Citra Tubuh (Body Image Enhancement)
- Berikan dukungan psikologis dan bantu pasien menerima perubahan pada kulit
- Libatkan keluarga dalam mendukung penerimaan diri pasien
- Berikan informasi tentang perawatan dan prognosis luka bakar
- Dorong pasien untuk tetap aktif dan melakukan aktivitas yang membantu meningkatkan citra diri
5. Peningkatan Tidur (Sleep Enhancement)
- Berikan analgesik dan terapi non-farmakologis untuk mengurangi nyeri
- Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang untuk tidur
- Anjurkan teknik relaksasi dan atur pola tidur-bangun pasien
- Pantau kualitas dan durasi tidur pasien
Penjelasan rinci dan terperinci untuk setiap poin di atas telah diberikan dengan tone akademis dan persona pakar/perawat. -
Article No. 21433 | 03 Sep 2025
Klinis : Seorang pasien, laki-laki berusia 28 tahun, dirawat dengan keluhan nyeri hebat dan kulit melepuh pada lengan kanan dan sebagian dada setelah terkena air panas saat bekerja di dapur rumah makan tempat ia bekerja. Pasien mengatakan kejadian berlangsung sekitar 2 jam yang lalu, ketika ia tidak sengaja menumpahkan panci berisi kuah panas ke tubuh bagian atasnya. Sejak itu ia merasakan nyeri menusuk dan perih di daerah luka, serta kesulitan menggerakkan lengan karena rasa sakit. Saat pemeriksaan awal, tampak kulit lengan kanan bagian anterior kemerahan luas dengan beberapa bula (lepuhan) berisi cairan jernih, dan sebagian dada kanan tampak eritema. Perawat menilai luka bakar meliputi ±15% luas permukaan tubuh (TBSA) dengan derajat II (superficial partial thickness). Pasien tidak memiliki riwayat penyakit kronis seperti diabetes mellitus, hipertensi, atau penyakit kulit sebelumnya. Pasien belum pernah mengalami luka bakar sebelumnya. Riwayat alergi obat maupun makanan tidak pernah ada. Ayah pasien memiliki riwayat hipertensi, ibu sehat. Tidak ada riwayat penyakit kulit atau alergi dalam keluarga. Pasien menganggap dirinya biasanya sehat, jarang berobat, dan lebih memilih pengobatan tradisional untuk keluhan ringan. Tidak ada kebiasaan khusus menjaga kesehatan kulit. Nafsu makan pasien sebelumnya baik, namun sejak kejadian luka bakar ia merasa mual dan tidak berselera makan. Asupan cairan sejak kejadian berkurang. Saat ini pasien mengeluhkan rasa haus. Kulit di sekitar luka tampak kemerahan dan melepuh, tanda adanya kerusakan integritas kulit. Sebelum kejadian, pola BAB 1x/hari dengan konsistensi normal, BAK 5–6x/hari. Setelah kejadian, pasien baru sekali BAK, urin agak pekat dan sedikit. Pasien sehari-hari bekerja sebagai juru masak, aktivitas fisik cukup tinggi. Saat ini aktivitas terbatas karena nyeri, terutama gerakan lengan kanan. Pasien biasanya tidur 6–7 jam per malam. Namun sejak luka bakar, ia sulit tidur karena nyeri yang terus-menerus. Pasien sadar penuh (compos mentis), orientasi baik. Skala nyeri 8/10, nyeri bertambah saat bergerak atau menyentuh luka. Sensasi terbakar dan perih jelas dirasakan di daerah luka. Pasien merasa khawatir akan kondisi kulitnya yang rusak dan takut meninggalkan bekas luka. Ia merasa citra dirinya akan menurun bila luka tidak sembuh sempurna. Pasien adalah tulang punggung keluarga, tinggal bersama istri dan seorang anak. Ia merasa cemas tidak dapat bekerja sementara waktu sehingga berpengaruh pada ekonomi keluarga. Tidak ada keluhan dalam fungsi reproduksi. Namun pasien mengungkapkan kekhawatiran terhadap daya tarik fisiknya di mata pasangan karena luka bakar ini. Pasien mengaku merasa stres, cemas, dan takut dengan proses penyembuhan. Ia berusaha menenangkan diri dengan berdoa, namun kadang tampak gelisah. Pasien meyakini sakit sebagai ujian dari Tuhan. Ia percaya kesembuhan dapat dicapai dengan usaha pengobatan yang tepat serta doa. Pada Pemeriksaan fisik didapatkan data: • Keadaan umum: Tampak kesakitan, compos mentis. • Tanda vital: TD 110/70 mmHg, Nadi 100x/menit, RR 22x/menit, Suhu 37,5°C. • Kulit: Lengan kanan bagian anterior tampak eritema luas, terdapat bula berisi cairan, sebagian pecah, kulit terasa panas dan nyeri bila disentuh. Daerah dada kanan tampak eritema difus. Luas luka diperkirakan 15% TBSA. • Mukosa mulut: Lembab. • Ekstremitas: Gerakan terbatas karena nyeri. Pemeriksaan Penunjang pada pasien Laboratorium: • Hb: 14 g/dL • Leukosit: 11.000/µL (sedikit meningkat, tanda stres/inflamasi) • Elektrolit: Na 132 mmol/L (sedikit menurun), K 3,8 mmol/L • Ht: 48% (sedikit meningkat, tanda hemokonsentrasi akibat kehilangan cairan) • Foto luka: mendukung diagnosa luka bakar derajat II superficial partial thickness. • Uji fungsi ginjal: ureum/creat dalam batas normal, namun pemantauan lanjutan diperlukan karena risiko gangguan akibat dehidrasi.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kasus yang diberikan, diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai adalah:
1. Risiko infeksi
- Luas luka bakar sekitar 15% TBSA yang merupakan risiko infeksi.
- Tampak kulit kemerahan, bula, dan pecah yang menyebabkan kerusakan integritas kulit sebagai portal masuk infeksi.
2. Gangguan integritas kulit
- Luka bakar derajat II superficial partial thickness pada lengan kanan dan dada kanan.
- Tampak kulit kemerahan luas, bula berisi cairan, dan sebagian kulit pecah.
3. Nyeri akut
- Pasien mengeluhkan nyeri hebat dan perih di daerah luka dengan skala nyeri 8/10.
- Nyeri bertambah saat bergerak atau menyentuh luka.
4. Ansietas
- Pasien merasa khawatir akan kondisi kulitnya yang rusak dan takut meninggalkan bekas luka.
- Pasien merasa cemas tidak dapat bekerja sementara waktu sehingga berpengaruh pada ekonomi keluarga.
- Pasien mengungkapkan kekhawatiran terhadap daya tarik fisiknya di mata pasangan.
5. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
- Pasien mengeluhkan mual, tidak berselera makan, dan asupan cairan berkurang sejak kejadian.
- Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya tanda hemokonsentrasi (Ht meningkat).
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Risiko infeksi:
- Tidak terjadi infeksi pada luka bakar.
- Tanda-tanda infeksi (peningkatan suhu, edema, eritema, nyeri, drainase purulent) tidak ada.
2. Integritas kulit:
- Terjadi penyembuhan luka bakar secara progresif.
- Tidak terjadi komplikasi pada luka (infeksi, kontraktur, jaringan parut).
3. Kontrol nyeri:
- Nyeri terkontrol dengan skala nyeri ? 4.
- Pasien dapat melakukan aktivitas tanpa dibatasi oleh nyeri.
4. Tingkat kecemasan:
- Pasien dapat mengidentifikasi penyebab kecemasan.
- Pasien dapat mendemonstrasikan strategi koping yang efektif untuk mengatasi kecemasan.
5. Status nutrisi:
- Asupan nutrisi dan cairan sesuai kebutuhan.
- Tidak terjadi tanda-tanda dehidrasi atau malnutrisi.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Risiko infeksi:
- Lakukan perawatan luka bakar secara aseptik.
- Pantau tanda-tanda infeksi secara berkala.
- Berikan antibiotik sesuai indikasi.
- Edukasi pasien dan keluarga tentang pencegahan infeksi.
2. Integritas kulit:
- Lakukan perawatan luka bakar sesuai standar.
- Berikan perawatan kulit di sekitar luka (pelembab, salep).
- Ajarkan pasien dan keluarga cara perawatan luka di rumah.
- Pantau perkembangan penyembuhan luka secara berkala.
3. Kontrol nyeri:
- Berikan analgesik sesuai indikasi.
- Anjurkan pasien untuk istirahat dan posisi elevasi ekstremitas.
- Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri (relaksasi, distraksi).
- Evaluasi efektivitas pengelolaan nyeri secara berkala.
4. Tingkat kecemasan:
- Identifikasi penyebab kecemasan pasien.
- Berikan informasi dan klarifikasi tentang kondisi dan proses perawatan.
- Anjurkan pasien untuk melakukan aktivitas spiritual/keagamaan.
- Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan psikologis.
- Ajarkan teknik manajemen kecemasan (relaksasi, visualisasi).
5. Status nutrisi:
- Anjurkan asupan nutrisi dan cairan yang adekuat.
- Pantau asupan dan output cairan pasien.
- Berikan suplemen nutrisi sesuai kebutuhan.
- Konsultasikan ke ahli gizi jika diperlukan.
Catatan: Intervensi keperawatan di atas harus disesuaikan dengan kondisi pasien, standar praktik keperawatan, dan kebijakan institusi.