Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 3459 | 24 Oct 2024
Klinis : Ananda B, seorang anak laki-laki berusia 4 tahun, TB: 110cm, BB: 24kg, dibawa ke klinik oleh ibunya, Ny. S, dengan keluhan kesulitan dalam bersosialisasi dan cenderung menarik diri saat berada di sekolah. Ibu Ananda B menjelaskan bahwa anaknya sering menangis saat ditinggal di sekolah dan menolak untuk berinteraksi dengan teman-temannya. Di rumah, Ananda B lebih suka bermain sendiri dan menunjukkan ketergantungan yang kuat pada ibunya, terutama sejak kelahiran adik barunya beberapa bulan yang lalu. Menurut ibunya, Ananda B menunjukkan tanda-tanda kecemburuan terhadap adiknya. Ia sering menolak untuk berbagi perhatian dengan adiknya dan tampak frustasi ketika ibunya memberikan perhatian lebih kepada sang adik. Hal ini menyebabkan Ananda B sering menangis tanpa alasan yang jelas, terutama saat keinginannya tidak terpenuhi. Dalam aspek fisik, Ananda B mampu melakukan aktivitas dasar seperti makan dan mandi sendiri, namun belum mampu mengayuh sepeda roda dua. Perkembangan motorik halusnya cukup baik, tetapi perkembangan motorik kasar masih perlu ditingkatkan. Dari sisi kognitif, Ananda B tampak tertarik pada aktivitas kreatif seperti menggambar dan mewarnai, namun ia masih mengalami kesulitan dalam merangkai kalimat yang panjang dan cenderung lebih banyak diam ketika diajak berbicara oleh orang dewasa atau orang lain di luar keluarganya. Secara psikososial, Ananda B memiliki keterbatasan dalam berinteraksi dengan teman sebaya. Ia lebih banyak bermain sendiri dan malu ketika berada di tempat umum atau sekolah. Ananda B juga menunjukkan tanda-tanda sibling rivalry yang kuat, di mana ia merasa terganggu dengan kehadiran adik barunya dan sering merasa cemburu. Hal ini tampak mempengaruhi emosinya yang mudah tersulut dan sering kali menunjukkan perilaku menarik diri ketika frustasi. Riwayat kehamilan ibu normal, tanpa komplikasi, dan Ananda B mendapatkan imunisasi lengkap. Ibu Ananda B mengakui bahwa pola asuh yang diterapkan cenderung protektif, sehingga Ananda B menjadi sangat bergantung padanya. Selain itu, kurangnya kesempatan untuk berinteraksi dengan anak-anak lain di luar rumah juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial Ananda B. Tindakan yang direncanakan mencakup terapi bermain untuk membantu Ananda B mengembangkan keterampilan sosial dan emosionalnya, serta edukasi bagi orang tua tentang cara mengatasi sibling rivalry dan mendukung kemandirian anak. Dengan pendekatan yang tepat, diharapkan Ananda B dapat meningkatkan kemampuannya dalam bersosialisasi dan mengelola emosi secara lebih baik.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda sampaikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat menggunakan standar Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan interaksi sosial anak berhubungan dengan keterbatasan keterampilan sosial, ditandai dengan kesulitan bersosialisasi dan cenderung menarik diri di lingkungan sekolah.
2. Kecemburuan anak berhubungan dengan kehadiran adik baru, ditandai dengan penolakan untuk berbagi perhatian, tangis tanpa alasan jelas, dan perilaku menarik diri.
Penjelasan Singkat:
1. Gangguan interaksi sosial anak:
- SDKI: Gangguan interaksi sosial
- SLKI: Kemampuan berinteraksi secara efektif dengan orang lain
- SIKI: Intervensi untuk meningkatkan kemampuan berinteraksi sosial
Anak mengalami kesulitan dalam bersosialisasi dan cenderung menarik diri di lingkungan sekolah, yang dapat disebabkan oleh keterbatasan keterampilan sosial. Intervensi keperawatan diperlukan untuk membantu anak mengembangkan kemampuan berinteraksi secara efektif dengan orang lain.
2. Kecemburuan anak:
- SDKI: Kecemburuan
- SLKI: Kemampuan mengelola emosi
- SIKI: Intervensi untuk mengatasi kecemburuan dan meningkatkan kemampuan mengelola emosi
Anak menunjukkan tanda-tanda kecemburuan yang kuat terhadap adik barunya, seperti penolakan untuk berbagi perhatian, tangis tanpa alasan jelas, dan perilaku menarik diri. Intervensi keperawatan diperlukan untuk membantu anak mengelola emosinya dan mengatasi kecemburuan yang dialami.
Dengan pendekatan yang tepat, seperti terapi bermain dan edukasi bagi orang tua, diharapkan anak dapat meningkatkan kemampuan bersosialisasi, mengelola emosi, dan mengembangkan kemandirian secara lebih baik. -
Article No. 3460 | 24 Oct 2024
Klinis : Pada tanggal 17 Maret 2021 pukul 20.30 pasien bernama An. D seorang anak perempuan berusia 5 tahun berasal dari suku jawa datang dengan kedua orang tuanya ke IGD RSUA. Pasien lahir pada tanggal 25 Januari 2016. Ayah klien bernama Tn. A usia 31 tahun pendidikan terakhir SMA, bekerja sebagai seorang pedagang di pasar. Sedangkan sang ibu Ny. T, berusia 29 tahun pendidikan terakhir SMA, bekerja sebagai ibu rumah tangga (IRT). An. D datang dengan keluhan kejang. Ny. T mengatakan An. D demam sejak pukul 07.00 wita, kemudian diberikan obat paracetamol. Demam An. D sempat turun, namun pada sore hari An. D kembali demam dan disertai nyeri kepala. Pada pukul 19.30 wita An. D kejang di rumah dengan durasi ± 2 menit pada saat kejang bibir An. D membiru, dan klien tampak pucat sehingga keluarga langsung membawa An. D ke rumah sakit. Dalam perjalanan ke rumah sakit, klien kejang di mobil sekitar pukul 20.20 wita dengan durasi ± 2 menit. Setelah tiba di IGD rumah sakit, dokter kemudian memeriksa keadaan klien, dan saat diperiksa klien tiba – tiba kejang lagi untuk yang ke tiga kalinya dengan durasi ± 1 menit, tampak bibir klien membiru, pucat, dan tidak memberikan respon apapun saat diberikan rangsangan, didapatkan juga keadaan tubuh dan kulit klien teraba hangat. Keadaan umum klien tampak lemah, dan lemas. Hasil pemeriksaan fisik diketahui Suhu klien 39,3°C, SPO2 94%, Nadi 112 kali/menit, TD: 90/60 mmHg, RR: 35x/menit, berat badan saat ini 20 Kg, Tinggi Badan saat ini 106cm. Dengan kesadaran Apatis. Ny. T mengatakan klien pernah mengalami demam tinggi dan kejang pada saat klien berusia 2 tahun dan pada saat itu klien hanya diberikan obat dari klinik karena saat itu klien dan keluarganya sedang mudik di rumah nenek & kakek klien yang jauh dari tempat pelayanan kesehatan. Ny. T juga mengatakan tidak ada anggota keluarga yang pernah mengalami kejang.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kasus yang Anda deskripsikan, berikut adalah diagnosis keperawatan, penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI sesuai standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosis Keperawatan:
1. Risiko Kerusakan Otak berhubungan dengan kejang demam
2. Hipertermi berhubungan dengan demam
3. Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan kejang dan demam
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Risiko Kerusakan Otak
- Definisi: Keadaan rentan mengalami cedera atau disfungsi pada sistem saraf pusat yang dapat mengganggu fungsi normal otak.
- Faktor yang berhubungan: Riwayat kejang demam.
- Karakteristik: Kejang, penurunan kesadaran, perubahan tanda-tanda vital.
2. Hipertermi
- Definisi: Keadaan suhu tubuh melebihi batas normal.
- Faktor yang berhubungan: Demam.
- Karakteristik: Suhu tubuh meningkat, kulit hangat, wajah kemerahan.
3. Gangguan Pola Tidur
- Definisi: Gangguan dalam jumlah dan kualitas tidur yang dapat mengganggu fungsi sehari-hari.
- Faktor yang berhubungan: Demam, nyeri kepala, kejang.
- Karakteristik: Tidur terganggu, sulit memulai tidur, sering terbangun.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Risiko Kerusakan Otak: Tidak terjadi kerusakan otak, mempertahankan fungsi saraf pusat.
2. Hipertermi: Suhu tubuh kembali normal.
3. Pola Tidur: Tidur sesuai kebutuhan, tidak terjadi gangguan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Risiko Kerusakan Otak:
- Pemantauan tanda-tanda vital
- Pemberian terapi antikonvulsi
- Pencegahan cedera
2. Hipertermi:
- Manajemen demam
- Pemberian obat antipiretik
- Perawatan suhu tubuh
3. Gangguan Pola Tidur:
- Pengaturan lingkungan tidur yang nyaman
- Manajemen nyeri
- Terapi relaksasi
Dengan penanganan yang tepat sesuai diagnosis keperawatan dan intervensi yang diberikan, diharapkan pasien dapat pulih dan tidak terjadi komplikasi lebih lanjut. -
Article No. 3461 | 24 Oct 2024
Klinis : Bersihan jalan napas tidak efektif b.d. sekret yang tertahan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Definisi:
Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
Faktor Penyebab:
Sekret yang tertahan di saluran napas dapat menyebabkan terjadinya bersihan jalan napas tidak efektif.
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Bersihan jalan napas tidak efektif adalah diagnosis keperawatan yang mengacu pada ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas, sehingga mempertahankan jalan napas yang terbuka menjadi tidak efektif.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari diagnosis bersihan jalan napas tidak efektif adalah pasien dapat mempertahankan jalan napas yang terbuka, bebas dari sekret, dan mampu batuk efektif.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat diberikan untuk mengatasi bersihan jalan napas tidak efektif antara lain:
1. Monitoring status pernapasan
2. Mengatur posisi pasien untuk memudahkan drainase sekret
3. Memberikan fisioterapi dada dan latihan batuk
4. Mengajarkan teknik batuk efektif
5. Pemberian oksigen dan suction jika diperlukan
Dengan pendekatan SDKI, SLKI, dan SIKI, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan terstandar untuk mengatasi masalah bersihan jalan napas tidak efektif akibat sekret yang tertahan. -
Article No. 3462 | 24 Oct 2024
Klinis : gagal ginjal kronik
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Untuk kondisi gagal ginjal kronik, kode-kode yang sesuai adalah:
1. Kode ICD-10:
- Kode: N18.9
- Deskripsi: Penyakit ginjal kronik, stadium tidak ditentukan
Penjelasan:
- Kode N18.9 dalam ICD-10 digunakan untuk mengkodekan kondisi gagal ginjal kronik pada stadium yang tidak ditentukan.
- Gagal ginjal kronik adalah kondisi dimana fungsi ginjal menurun secara bertahap dan persisten selama periode waktu yang lama (lebih dari 3 bulan).
- Pada stadium akhir, pasien akan memerlukan terapi pengganti ginjal seperti dialisis atau transplantasi ginjal.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 39.95
- Deskripsi: Hemodialisis
Penjelasan:
- Kode 39.95 dalam ICD-9-CM digunakan untuk mengkodekan prosedur hemodialisis.
- Hemodialisis adalah salah satu bentuk terapi pengganti ginjal yang digunakan untuk pasien dengan gagal ginjal kronik stadium akhir.
- Dalam prosedur ini, darah pasien disirkulasikan melalui sebuah alat dialisis yang berfungsi untuk membuang sisa-sisa metabolik dan kelebihan cairan dari tubuh.
Penggunaan kode-kode ini dalam dokumentasi medis sangat penting untuk menjamin ketepatan pencatatan diagnosis dan tindakan medis yang dilakukan, serta untuk keperluan penagihan asuransi dan pelaporan epidemiologi penyakit. -
Article No. 3463 | 24 Oct 2024
Klinis : pasien hiperglikemia dengan gds 340, diagnosa apa yang diambil
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, kondisi pasien dengan hiperglikemia dan kadar gula darah sewaktu (GDS) 340 mg/dL dapat didiagnosis dengan:
1. Kode ICD-10:
- Kode: E11.65
- Deskripsi: Diabetes mellitus tipe 2 dengan hiperglikemia
Penjelasan:
- Kode E11.65 dalam ICD-10 merujuk pada diabetes mellitus tipe 2 dengan hiperglikemia, yang ditandai dengan kadar gula darah yang sangat tinggi.
- Pasien dengan GDS 340 mg/dL menunjukkan kondisi hiperglikemia, yang merupakan komplikasi dari diabetes mellitus tipe 2.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 99.21
- Deskripsi: Pemantauan kadar gula darah
Penjelasan:
- Kode ICD-9-CM 99.21 merujuk pada prosedur pemantauan kadar gula darah, yang mungkin dilakukan untuk mengevaluasi dan memantau kondisi hiperglikemia pada pasien.
- Pemantauan kadar gula darah secara berkala merupakan tindakan penting dalam pengelolaan pasien dengan diabetes mellitus tipe 2.
Dalam penanganan kasus ini, dokter atau perekam medis dapat menggunakan kode ICD-10 E11.65 untuk mendokumentasikan diagnosis diabetes mellitus tipe 2 dengan hiperglikemia, serta kode ICD-9-CM 99.21 untuk mencatat prosedur pemantauan kadar gula darah yang dilakukan. -
Article No. 3464 | 24 Oct 2024
Klinis : pasien hiperglikemia dengan gds 340, diagnosa apa yang diambil
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, sebagai perawat profesional, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai standar SDKI, SLKI, dan SIKI berdasarkan kondisi pasien yang Anda berikan.
Diagnosa Keperawatan:
Berdasarkan kondisi pasien dengan kadar gula darah sewaktu (GDS) 340 mg/dL, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah:
1. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Intoleransi Aktivitas didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan akibat ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen di tingkat jaringan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari diagnosa ini adalah pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, mempertahankan stamina dan daya tahan selama aktivitas, serta tidak mengalami kelelahan yang berlebihan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi yang dapat dilakukan meliputi:
- Pemantauan tanda-tanda vital
- Manajemen aktivitas dan istirahat
- Edukasi tentang manajemen aktivitas
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk penatalaksanaan hiperglikemia
Sebagai perawat profesional, saya akan memberikan asuhan keperawatan yang berpusat pada pasien, kolaboratif, dan berlandaskan bukti terbaik untuk membantu pasien mencapai hasil yang optimal. -
Article No. 3465 | 24 Oct 2024
Klinis : diagnosa intoleransi aktivitas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat profesional, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat terkait SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) untuk kondisi intoleransi aktivitas.
Diagnosa Keperawatan: Intoleransi Aktivitas
Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan atau diperlukan dari suatu kondisi kesehatan.
SDKI:
- Faktor yang berhubungan: Keterbatasan fisik, gangguan psikologis, gangguan neuromuskular, gangguan kardiovaskular, gangguan pernapasan.
- Karakteristik Definisi: Kelelahan, dyspnea, dan/atau nyeri saat melakukan aktivitas, keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, perubahan pola tidur, ansietas, dan/atau depresi.
SLKI:
- Luaran yang diharapkan: Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan toleransi yang baik, tidak mengalami kelelahan, dyspnea, atau nyeri yang berlebihan, serta menunjukkan peningkatan kemampuan fungsional.
SIKI:
- Intervensi Keperawatan: Manajemen aktivitas, manajemen energi, manajemen lingkungan, pendidikan kesehatan, serta intervensi untuk mengatasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap intoleransi aktivitas.
Sebagai seorang perawat, saya akan menggunakan kerangka SDKI, SLKI, dan SIKI sebagai panduan dalam melakukan pengkajian, merumuskan diagnosa keperawatan, menetapkan luaran yang diharapkan, serta merencanakan dan melaksanakan intervensi keperawatan yang komprehensif untuk mengatasi intoleransi aktivitas pada pasien. -
Article No. 3466 | 24 Oct 2024
Klinis : Pasein dengan diagnosa medis adenocarcinoma paru kanan T4N0M1a stage IVa + nyeri kanker. Pasien batuk berdahak 1 minggu yang lalu dan dahak sulit dikeluarkan. Pasien juga mengatakan sesak napas hilang timbul sejak 1 bulan yang lalu dan bertambah sesak saat beraktivitas dan batuk.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
2. Pola Napas Tidak Efektif
3. Nyeri Kronik
Penjelasan:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif:
- SDKI: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan bersihan jalan napas.
- SLKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah meningkatkan bersihan jalan napas, manajemen jalan napas, dan terapi oksigen.
- SIKI: Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah pemantauan pernapasan, suction, dan pemberian oksigen.
2. Pola Napas Tidak Efektif:
- SDKI: Ketidakmampuan untuk bernapas yang memberikan ventilasi yang adekuat.
- SLKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen jalan napas, terapi oksigen, dan manajemen pernapasan.
- SIKI: Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah pemantauan pernapasan, pemberian oksigen, dan manajemen dispnea.
3. Nyeri Kronik:
- SDKI: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial yang berlangsung lebih dari 3 bulan.
- SLKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen nyeri, terapi komplementer, dan edukasi.
- SIKI: Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah pengkajian nyeri, pemberian analgetik, dan terapi non-farmakologis.
Dalam menangani kondisi pasien ini, perawat perlu melakukan pengkajian komprehensif, merumuskan diagnosa keperawatan yang sesuai, dan menyusun rencana asuhan keperawatan yang berpusat pada pasien. Kolaborasi dengan tim medis juga diperlukan untuk mengelola kondisi pasien secara menyeluruh. -
Article No. 3467 | 24 Oct 2024
Klinis : nyeri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan: Nyeri
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Kontrol Nyeri: Kemampuan individu untuk mengenali, menggunakan, dan mengevaluasi intervensi yang bertujuan untuk mencapai dan mempertahankan tingkat nyeri yang dapat ditoleransi.
2. Kenyamanan: Keadaan terintegrasi dan seimbang dari aspek fisik, lingkungan, psikologis, sosial, dan spiritual yang dirasakan individu.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Nyeri: Tindakan yang dilakukan untuk mencegah, mengurangi, atau menghilangkan rasa nyeri yang dirasakan individu.
2. Terapi Komplementer: Intervensi non-farmakologis yang dilakukan untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan individu.
Sebagai perawat, saya akan melakukan penilaian komprehensif untuk mengidentifikasi penyebab, karakteristik, dan dampak nyeri pada pasien. Selanjutnya, saya akan merencanakan dan mengimplementasikan intervensi keperawatan yang sesuai, seperti manajemen nyeri, terapi komplementer, dan edukasi kepada pasien dan keluarga. Tujuannya adalah untuk membantu pasien mencapai kontrol nyeri yang optimal dan meningkatkan kenyamanan secara holistik. -
Article No. 3468 | 24 Oct 2024
Klinis : pasien mengalami kecelakaan, pasien sempat muntah, pasien mengeluh nyeri skala 6, pasien memiliki hematoma dan luka di palbebra, leukosit tinggi, suhu 38,5, terdapat luka lecet di dahi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berdasarkan kondisi yang Anda sampaikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri akut berhubungan dengan cedera fisik
2. Risiko infeksi berhubungan dengan kerusakan kulit
Penjelasan Singkat:
1. Nyeri akut berhubungan dengan cedera fisik
SDKI: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut.
SLKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain: Manajemen nyeri, Teknik relaksasi, Terapi komplementer.
SIKI: Tujuan yang ingin dicapai adalah pasien dapat mengendalikan nyeri, pasien dapat melaporkan penurunan skala nyeri, dan tidak ada tanda-tanda komplikasi nyeri.
2. Risiko infeksi berhubungan dengan kerusakan kulit
SDKI: Risiko infeksi adalah rentan terhadap invasi dan proliferasi organisme patogen yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan.
SLKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain: Perawatan luka, Manajemen infeksi, Pengendalian lingkungan.
SIKI: Tujuan yang ingin dicapai adalah tidak terjadi infeksi, tanda-tanda infeksi tidak tampak, dan tidak ada komplikasi yang terjadi.
Sebagai seorang perawat, saya akan melakukan pengkajian lebih lanjut, menetapkan rencana asuhan keperawatan, dan melakukan intervensi yang tepat untuk mengatasi masalah kesehatan pasien ini.