Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 21520 | 04 Sep 2025
Klinis : Hb 6.1, bab hitam, muntah darah, lemas
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, sebagai seorang perawat profesional, saya akan memberikan rekomendasi diagnosa, luaran, dan intervensi keperawatan yang sesuai untuk kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Resiko Penurunan Volume Cairan berhubungan dengan perdarahan aktif, ditandai dengan Hb 6.1, bab hitam, dan muntah darah.
Penjelasan: Kondisi ini menunjukkan adanya perdarahan aktif yang dapat menyebabkan penurunan volume cairan dalam tubuh. Diagnosa ini berfokus pada risiko terjadinya hipovolemia atau penurunan volume cairan.
2. Kelelahan berhubungan dengan penurunan kadar Hb, ditandai dengan keluhan lemas.
Penjelasan: Anemia yang ditunjukkan dengan penurunan kadar Hb dapat menyebabkan kelelahan pada pasien. Diagnosa ini berfokus pada gejala kelelahan yang dialami.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Hidrasi yang Memadai
- Pasien menunjukkan tanda-tanda hidrasi yang baik, seperti mukosa lembab, turgor kulit baik, dan tidak ada penurunan berat badan yang signifikan.
- Pasien mampu mempertahankan volume cairan yang adekuat, ditandai dengan perbaikan nilai laboratorium (Hb, hematokrit, elektrolit).
2. Peningkatan Energi
- Pasien melaporkan peningkatan energi dan penurunan kelelahan.
- Pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa kelelahan yang berlebihan.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Hipovolemia
- Monitor tanda-tanda vital, input/output cairan, dan laboratorium secara berkala.
- Berikan cairan intravena sesuai kebutuhan untuk menggantikan kehilangan cairan akibat perdarahan.
- Pantau dan kendalikan perdarahan aktif.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat-obatan, transfusi darah, atau tindakan lain yang diperlukan.
2. Manajemen Kelelahan
- Lakukan pengkajian faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kelelahan, seperti anemia, status nutrisi, dan pola istirahat.
- Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya istirahat yang cukup dan manajemen energi.
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memberikan intervensi nutrisi yang tepat, seperti suplemen besi, vitamin, dan nutrisi tinggi kalori.
- Dorong pasien untuk melakukan aktivitas fisik ringan secara bertahap untuk meningkatkan kebugaran.
Semoga penjelasan ini dapat membantu Anda dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif untuk pasien dengan kondisi yang Anda deskripsikan. Jangan ragu untuk menanyakan lebih lanjut jika memerlukan informasi tambahan. -
Article No. 21521 | 04 Sep 2025
Klinis : Hb: 8.5, pasien riwayat gagal ginjal stadium 5 rutin cuci darah, lemas, ureum: 206 Creatinin: 11.5
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
1. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Definisi: Asupan nutrisi tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Faktor yang berhubungan: Penyakit ginjal stadium akhir, prosedur dialisis.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Keseimbangan Cairan
- Indikator: Tanda-tanda vital dalam batas normal, berat badan stabil, tidak ada edema.
- Kriteria Hasil: Pasien menunjukkan tanda-tanda vital dalam batas normal, berat badan stabil, dan tidak ada edema.
2. Status Nutrisi: Optimal
- Indikator: Kadar hemoglobin, albumin, dan ureum dalam batas normal.
- Kriteria Hasil: Pasien menunjukkan kadar hemoglobin, albumin, dan ureum dalam batas normal.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Nutrisi
- Monitor asupan dan output nutrisi.
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana diet yang sesuai dengan kondisi pasien.
- Berikan suplemen nutrisi sesuai kebutuhan (misalnya, suplemen protein, vitamin, dan mineral).
- Pantau kadar hemoglobin, albumin, dan ureum secara berkala.
2. Manajemen Cairan
- Monitor intake dan output cairan.
- Atur pemberian cairan sesuai kebutuhan pasien, mempertimbangkan kondisi ginjal.
- Pantau tanda-tanda vital dan berat badan secara berkala.
- Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya manajemen cairan.
3. Perawatan Dialisis
- Kolaborasi dengan tim medis untuk memastikan pelaksanaan dialisis yang adekuat.
- Pantau komplikasi yang mungkin timbul selama dan setelah prosedur dialisis.
- Berikan dukungan emosional dan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai proses dialisis.
Penjelasan rinci:
Pasien dengan riwayat gagal ginjal stadium 5 dan rutin menjalani cuci darah (dialisis) memiliki risiko tinggi terhadap ketidakseimbangan nutrisi. Hal ini disebabkan oleh penurunan fungsi ginjal yang mengganggu metabolisme dan homeostasis tubuh. Kadar hemoglobin yang rendah (8,5 g/dL) dan kadar ureum yang tinggi (206 mg/dL) mengindikasikan adanya gangguan dalam keseimbangan nutrisi dan cairan.
Tujuan asuhan keperawatan adalah untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan status nutrisi optimal. Hal ini dapat dicapai melalui manajemen nutrisi yang tepat, termasuk penyusunan rencana diet dan pemberian suplemen sesuai kebutuhan. Selain itu, manajemen cairan yang ketat, termasuk pemantauan intake dan output, serta pengaturan pemberian cairan, sangat penting untuk mencegah komplikasi terkait gangguan cairan.
Perawatan dialisis yang adekuat juga merupakan intervensi kunci untuk membantu menjaga keseimbangan nutrisi dan cairan pada pasien dengan gagal ginjal stadium akhir. Kolaborasi dengan tim medis, pemantauan komplikasi, dan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai proses dialisis menjadi bagian integral dari intervensi keperawatan.
Dengan pendekatan komprehensif ini, diharapkan pasien dapat mencapai keseimbangan cairan, status nutrisi yang optimal, dan mencegah komplikasi terkait gangguan ginjal. -
Article No. 21522 | 04 Sep 2025
Klinis : Hb: 8.5, pasien riwayat gagal ginjal stadium 5 rutin cuci darah, lemas, ureum: 206 Creatinin: 11.5
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \b\fs28 DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI KEPERAWATAN\b0\fs24\par
\par
Berdasarkan data klinis yang disampaikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan intervensi yang relevan sesuai dengan standar \i Persatuan Perawat Nasional Indonesia\i0 (PPNI):\par
\par
\b Diagnosa Keperawatan Utama:\b0\par
\b Kode SDKI 00004: Intoleransi Aktivitas\b0\par
\b Definisi:\b0 Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau yang diinginkan.\par
\b Data Penunjang:\b0\par
- \i Hemoglobin 8,5 g/dL\i0 (anemia berat)\par
- Keluhan lemas\par
- \i Ureum 206 mg/dL\i0 dan \i Kreatinin 11,5 mg/dL\i0 yang menunjukkan toksisitas uremik\par
- Riwayat gagal ginjal stadium 5 dengan cuci darah rutin\par
\par
\b Intervensi Keperawatan (SIKI):\b0\par
\b Kode SIKI 4200: Manajemen Energi\b0\par
\b Tujuan (SLKI):\b0\par
\b Kode SLKI 0401: Toleransi terhadap Aktivitas\b0\par
\b Kriteria Hasil:\b0 Pasien mampu melakukan aktivitas dengan tingkat bantuan yang sesuai dan melaporkan penurunan keluhan lemas.\par
\b Aktivitas Keperawatan:\b0\par
1. \b Kode SIKI 4200A:\b0 Kaji faktor penyebab kelelahan (misalnya: anemia, penumpukan toksin uremik).\par
2. \b Kode SIKI 4200B:\b0 Monitor tanda vital dan respons pasien terhadap aktivitas (denyut nadi, pernapasan, tekanan darah, saturasi oksigen).\par
3. \b Kode SIKI 4200C:\b0 Ajarkan teknik penghematan energi (misalnya: duduk saat melakukan aktivitas, istirahat yang cukup, prioritaskan aktivitas).\par
4. \b Kode SIKI 4200D:\b0 Kolaborasi dengan tim medis untuk optimasi terapi anemia (pemberian \i Erythropoietin\i0 , suplementasi zat besi) dan evaluasi kecukupan dialisis.\par
5. \b Kode SIKI 4200F:\b0 Atur jadwal aktivitas dan istirahat yang seimbang.\par
6. \b Kode SIKI 4200G:\b0 Bantu pasien dalam aktivitas sesuai kebutuhan.\par
\par
\b Diagnosa Keperawatan Pendukung:\b0\par
\b Kode SDKI 00029: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan\b0\par
\b Definisi:\b0 Berisiko mengalami penurunan, peningkatan, atau redistribusi cairan intravaskular, interstisial, atau intraselular.\par
\b Data Penunjang:\b0 Gagal ginjal stadium 5 mengakibatkan gangguan regulasi cairan dan elektrolit.\par
\b Intervensi Utama:\b0 \b Kode SIKI 2080: Manajemen Cairan\b0\par
\b Aktivitas:\b0 Monitor status cairan (balance cairan, berat badan, tanda edema), kolaborasi dalam pembatasan asupan cairan, dan evaluasi ultrafiltrasi selama hemodialisis.\par
\par
\b Catatan Akademis:\b0\par
Anemia pada gagal ginjal (anemia of chronic disease/ACD) terutama disebabkan oleh defisiensi \i erythropoietin\i0 . Toksisitas uremik dari tingginya kadar ureum dan kreatinin secara langsung menekan sumsum tulang dan berkontribusi terhadap kelelahan serta intoleransi aktivitas. Intervensi keperawatan fokus pada manajemen gejala dan kolaborasi untuk menangani penyebab utamanya.\par
} -
Article No. 21523 | 04 Sep 2025
Klinis : Hb: 8.5, pasien riwayat gagal ginjal stadium 5 rutin cuci darah, lemas, ureum: 206 Creatinin: 11.5
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi pasien yang Anda berikan, yaitu Hb: 8.5, riwayat gagal ginjal stadium 5 rutin cuci darah, lemas, ureum: 206, dan creatinin: 11.5, maka berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI beserta kodenya dan definisinya yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
1. Diagnosa Keperawatan:
a. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
b. Intoleransi Aktivitas
2. SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
a. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh (00002)
Definisi: Asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
b. Intoleransi Aktivitas (00092)
Definisi: Ketidakmampuan untuk mentoleransi atau menyelesaikan aktivitas fisik atau fungsional yang dibutuhkan.
3. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
a. Status Nutrisi (1004)
Definisi: Keadaan nutrisi yang dibutuhkan untuk pemeliharaan kesehatan.
b. Toleransi Aktivitas (0005)
Definisi: Kemampuan untuk melakukan aktivitas fisik atau fungsional tanpa menimbulkan gejala yang merugikan.
4. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
a. Manajemen Nutrisi (1120)
Definisi: Mengatur nutrisi dan asupan cairan untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
b. Peningkatan Toleransi Aktivitas (0200)
Definisi: Memfasilitasi peningkatan kemampuan untuk mentoleransi aktivitas fisik atau fungsional.
Dalam tone akademis dan persona pakar, nurse, penjelasan singkat untuk masing-masing diagnosa keperawatan adalah sebagai berikut:
1. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh:
Pasien dengan gagal ginjal stadium 5 yang menjalani hemodialisis sering mengalami masalah nutrisi karena adanya penurunan fungsi ginjal, perubahan metabolisme, dan pembatasan asupan cairan dan elektrolit. Hal ini dapat menyebabkan penurunan berat badan, lemas, dan malnutrisi.
2. Intoleransi Aktivitas:
Pasien dengan gagal ginjal stadium 5 yang menjalani hemodialisis sering mengalami penurunan toleransi terhadap aktivitas fisik dan fungsional. Hal ini disebabkan oleh anemia, uremia, dan perubahan metabolisme yang dapat menyebabkan kelelahan, dyspnea, dan intoleransi terhadap aktivitas. -
Article No. 21524 | 04 Sep 2025
Klinis : Seorang perempuan berusia 62 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan merasa lemas dan sesak nafas. Sesak nafas dirasakan sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit, sesak nafas bertambah sejak 1 hari yang lalu. Sesak nafas hilang timbul dipengaruhi aktivitas. Hasil pengkajian: Frekuensi nafas 26 kali/menit, nafas cepat dan dangkal. Sesak nafas semakin berat pada posisi berbaring. Terdapat bunyi nafas ronkhi. Pasien batuk dengan sputum berwarna putih, berbusa Pasien merasa dada berdebar cepat, frekuensi nadi 118 kali/menit, tekanan darah 140/90 mmHg, SaO2 95 %, Distensi vena jugularis, Kulit pucat, dingin dan berkeringat Pasien mengeluh pusing dan terlihat gelisah. Terdapat edema pada ekstremitas bawah Hasil EKG: Rate 106, Gel P sulit diidentifikasi, PR interval didak dapat dihitung, Komplek QRS tidak teratur. Atrial Fibrilation Diagnosa medis: gagal jantung dekompensasi akut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI - SLKI - SIKI berdasarkan kondisi yang Anda berikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan pola napas (00032)
Definisi: Ketidakmampuan untuk memelihara pernapasan yang memberikan ventilasi yang adekuat.
2. Pola napas tidak efektif (00034)
Definisi: Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi yang adekuat.
3. Gangguan perfusi jaringan (00024)
Definisi: Penurunan sirkulasi darah ke jaringan perifer yang dapat mengganggu kesehatan.
4. Ansietas (00146)
Definisi: Perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Ketidakefektifan pola napas (00032)
Kode: K.01.02
Definisi: Ketidakmampuan mempertahankan pola napas yang memberikan ventilasi adekuat.
2. Pola napas tidak efektif (00034)
Kode: K.01.03
Definisi: Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi yang adekuat.
3. Gangguan perfusi jaringan (00024)
Kode: K.04.01
Definisi: Penurunan sirkulasi darah ke jaringan perifer yang dapat mengganggu kesehatan.
4. Ansietas (00146)
Kode: P.01.01
Definisi: Perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Pola napas
2. Perfusi jaringan
3. Status psikologis
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen jalan napas
2. Terapi oksigen
3. Terapi cairan
4. Manajemen ansietas
Berdasarkan kondisi yang diberikan, pasien mengalami gagal jantung dekompensasi akut yang menyebabkan ketidakefektifan pola napas, gangguan perfusi jaringan, dan ansietas. Perawatan yang dapat dilakukan mencakup manajemen jalan napas, terapi oksigen, terapi cairan, dan manajemen ansietas untuk memperbaiki kondisi pasien. -
Article No. 21482 | 04 Sep 2025
Klinis : pasien dengan dx medis susp PPOK dd Pneumoni. masuk dengan keluhan batuk dan sesak sejak kemarin. keadaan umum cukup, gcs 456, kesadaran compos mentis, TD : 159/74 mmHg. N : 106x/mnt, RR : 30x/mnt, SPO2 : 80%, suhu : 37,1
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta:
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Berdasarkan kondisi pasien dengan diagnosa medis suspek PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik) dd (dengan banding) Pneumonia, dengan keluhan batuk dan sesak napas sejak kemarin, serta hasil pemeriksaan yang menunjukkan keadaan umum cukup, kesadaran compos mentis, tekanan darah 159/74 mmHg, nadi 106 x/menit, frekuensi napas 30 x/menit, saturasi oksigen 80%, dan suhu 37,1°C, maka diagnosa keperawatan yang sesuai adalah:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan ventilasi yang adekuat.
Faktor yang Berhubungan: Adanya sekret berlebih, penurunan kekuatan batuk, penyakit paru obstruktif kronik.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Bersihan Jalan Napas Membaik
- Pasien dapat mengeluarkan sekret dengan efektif.
- Pasien mempertahankan ventilasi yang adekuat.
- Tidak terjadi komplikasi pernapasan.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen Jalan Napas
- Lakukan suction untuk mengeluarkan sekret.
- Anjurkan pasien melakukan teknik batuk efektif.
- Berikan bronkodilator dan mukolitik sesuai indikasi.
- Atur posisi semi-fowler untuk memfasilitasi ekspansi dada.
2. Peningkatan Ventilasi
- Pantau tanda-tanda vital dan saturasi oksigen secara berkala.
- Berikan oksigen sesuai indikasi untuk mempertahankan saturasi oksigen.
- Kolaborasi dengan tenaga medis untuk pemberian terapi pernapasan yang sesuai.
3. Manajemen Infeksi
- Lakukan tindakan pencegahan infeksi sesuai standar.
- Kolaborasi dengan tenaga medis untuk pemberian antibiotik sesuai indikasi.
Penjelasan:
Diagnosa keperawatan "Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif" dipilih karena pasien mengalami penurunan kemampuan dalam mengeluarkan sekret dari saluran pernapasan, yang ditandai dengan keluhan batuk dan sesak napas. Hal ini dapat disebabkan oleh penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) atau pneumonia. Intervensi keperawatan yang diberikan bertujuan untuk memfasilitasi bersihan jalan napas, meningkatkan ventilasi, dan mengelola infeksi yang mungkin terjadi.
Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat mengeluarkan sekret dengan efektif, mempertahankan ventilasi yang adekuat, dan tidak mengalami komplikasi pernapasan. Intervensi keperawatan yang diberikan meliputi manajemen jalan napas, peningkatan ventilasi, dan manajemen infeksi, serta kolaborasi dengan tenaga medis untuk pemberian terapi yang sesuai. -
Article No. 21483 | 04 Sep 2025
Klinis : pasien dengan dx medis susp PPOK dd Pneumoni. masuk dengan keluhan batuk dan sesak sejak kemarin. keadaan umum cukup, gcs 456, kesadaran compos mentis, TD : 159/74 mmHg. N : 106x/mnt, RR : 30x/mnt, SPO2 : 80%, suhu : 37,1
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, dokter/perekam medik, berikut kode ICD-10 dan ICD-9-CM untuk kondisi pasien yang Anda berikan:
1. Kode ICD-10:
- Kode: J44.0
- Deskripsi: Penyakit paru obstruktif kronik dengan infeksi akut saluran pernapasan bagian bawah
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 93.94
- Deskripsi: Pengukuran oksigen darah arteri
Penjelasan:
Berdasarkan informasi yang diberikan, pasien ini memiliki gejala batuk dan sesak napas yang mencurigakan untuk diagnosis PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik) dengan kemungkinan pneumonia. Hal ini didukung oleh temuan klinis seperti takipnea (RR 30x/menit), hipoksemia (SPO2 80%), dan tachykardia (N 106x/menit).
Kode ICD-10 J44.0 "Penyakit paru obstruktif kronik dengan infeksi akut saluran pernapasan bagian bawah" sesuai dengan kondisi pasien yang dicurigai PPOK dengan adanya infeksi akut pada saluran pernapasan bawah (kemungkinan pneumonia).
Kode ICD-9-CM 93.94 "Pengukuran oksigen darah arteri" merupakan tindakan yang sesuai untuk mengevaluasi status oksigenasi pasien melalui pemeriksaan saturasi oksigen (SPO2) yang ditemukan rendah.
Dengan demikian, kode diagnosis ICD-10 dan kode prosedur ICD-9-CM yang sesuai untuk kondisi pasien ini adalah seperti yang telah saya paparkan. Mohon maaf jika ada kekurangan atau penjelasan yang kurang jelas, silakan tanyakan lebih lanjut jika diperlukan. -
Article No. 21484 | 04 Sep 2025
Klinis : pasien dengan dx medis susp PPOK dd Pneumoni. masuk dengan keluhan batuk dan sesak sejak kemarin. keadaan umum cukup, gcs 456, kesadaran compos mentis, TD : 159/74 mmHg. N : 106x/mnt, RR : 30x/mnt, SPO2 : 80%, suhu : 37,1
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci terkait kondisi pasien yang Anda berikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan sekresi mukus berlebih ditandai dengan batuk, sesak napas, dan SPO2 80%.
Penjelasan: Pasien mengalami masalah pernapasan dengan keluhan batuk dan sesak napas. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya penurunan saturasi oksigen (SPO2 80%) yang mengindikasikan ketidakefektifan bersihan jalan napas. Hal ini disebabkan oleh sekresi mukus yang berlebih, yang merupakan salah satu gejala dari PPOK atau pneumonia.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Bersihan jalan napas efektif
Penjelasan: Setelah mendapatkan asuhan keperawatan yang tepat, diharapkan pasien dapat mempertahankan bersihan jalan napas yang efektif, ditandai dengan perbaikan klinis seperti berkurangnya batuk, sesak napas, dan peningkatan saturasi oksigen.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen jalan napas
- Lakukan pemantauan status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas)
- Berikan oksigen sesuai kebutuhan untuk mempertahankan saturasi oksigen dalam batas normal
- Berikan bronkodilator dan mukolitik sesuai resep untuk membantu membersihkan jalan napas
- Ajarkan teknik batuk efektif dan latihan pernapasan
2. Manajemen ventilasi
- Pantau ventilasi dan oksigenasi (RR, SPO2, ABG)
- Pertahankan posisi yang memfasilitasi ventilasi optimal (misal: semi-fowler)
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pengaturan ventilasi mekanis jika diperlukan
3. Manajemen nyeri
- Identifikasi penyebab nyeri dan faktor yang mempengaruhinya
- Berikan analgesik sesuai resep untuk mengurangi nyeri dada yang mungkin timbul
- Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri (misalnya relaksasi, distraksi)
Melalui intervensi keperawatan yang komprehensif dan kolaboratif, diharapkan pasien dapat mempertahankan bersihan jalan napas yang efektif, sehingga dapat mencapai outcome yang optimal dalam proses pemulihan. -
Article No. 21485 | 04 Sep 2025
Klinis : pasien dengan dx medis susp PPOK dd Pneumoni. masuk dengan keluhan batuk dan sesak sejak kemarin. keadaan umum cukup, gcs 456, kesadaran compos mentis, TD : 159/74 mmHg. N : 106x/mnt, RR : 30x/mnt, SPO2 : 80%, suhu : 37,1
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \rtf1\ansi\ansicpg1252\deff0\nouicompat{\fonttbl{\f0\fnil\fcharset0 Calibri;}}
{\colortbl;\red0\green0\blue0;\red0\green0\blue255;}
{\*\generator Riched20 10.0.22621}\viewkind4\uc1
\pard\sa200\sl276\slmult1\f0\fs22\lang1057 Berdasarkan data klinis yang disampaikan, berikut adalah diagnosa keperawatan utama yang relevan untuk pasien dengan kondisi susp PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik) dd (differential diagnosis) Pneumonia, disertai penjelasan singkat sesuai standar SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).\par
\b Diagnosa Keperawatan:\b0\par
\cf2\ul \cf2\ulnone \b Gangguan Pertukaran Gas\b0 (Kode: 00030) berhubungan dengan ketidakefektifan bersihan jalan napas sekunder terhadap proses inflamasi dan obstruksi saluran napas.\par
\b Penjelasan Singkat:\par
\b0 1. \b SDKI (Diagnosa):\b0 Gangguan pertukaran gas ditandai dengan penurunan saturasi oksigen (SpO2: 80%), peningkatan frekuensi pernapasan (RR: 30x/menit), dan sesak napas. Kondisi ini terjadi akibat gangguan difusi oksigen dan retensi karbon dioksida yang disebabkan oleh inflamasi dan obstruksi pada saluran napas (PPOK dan/atau pneumonia).\par
2. \b SLKI (Luaran):\b0 \cf2\ul \cf2\ulnone \b Status Respiratori: Pertukaran Gas\b0 (Kode: 0402). Kriteria luaran yang diharapkan meliputi:\par
- Saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal (95-100%).\par
- Frekuensi pernapasan dalam rentang normal (16-20x/menit).\par
- Tidak adanya sesak napas atau distress pernapasan.\par
- Analisis gas darah dalam batas normal.\par
3. \b SIKI (Intervensi):\b0 \cf2\ul \cf2\ulnone \b Manajemen Jalan Napas\b0 (Kode: 3140) dan \cf2\ul \cf2\ulnone \b Terapi Oksigen\b0 (Kode: 3320). Intervensi meliputi:\par
- Memonitor status pernapasan (frekuensi, irama, dan usaha napas).\par
- Memberikan terapi oksigen sesuai indikasi untuk mempertahankan SpO2 > 90%.\par
- Melakukan fisioterapi dada atau teknik batuk efektif untuk meningkatkan bersihan jalan napas.\par
- Memposisikan pasien untuk optimasi ventilasi (misalnya, posisi semi-Fowler).\par
- Kolaborasi pemberian bronkodilator atau antibiotik sesuai resep medis.\par
\b Catatan:\b0 Diagnosa ini diprioritaskan berdasarkan data kritis (SpO2 80% dan RR 30x/menit) yang mengindikasikan kegawatan respiratori. Evaluasi terus menerus dan penyesuaian intervensi diperlukan sesuai perkembangan kondisi pasien.\par
} -
Article No. 21486 | 04 Sep 2025
Klinis : Resiko jatuh
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang disampaikan, yaitu Risiko Jatuh, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI beserta kodenya, sesuai dengan yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Jatuh (00155)
Definisi: Kerentanan untuk jatuh, yang dapat menyebabkan cidera fisik, yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Kode: 00155
Definisi: Kerentanan untuk jatuh, yang dapat menyebabkan cidera fisik, yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Kode: 1812
Judul: Tingkat Risiko Jatuh
Definisi: Tingkat kemungkinan seseorang mengalami jatuh yang dapat menyebabkan cedera.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Kode: 6480
Judul: Manajemen Risiko Jatuh
Definisi: Tindakan yang dilakukan untuk mengenali, mencegah, dan mengelola faktor risiko jatuh pada pasien.
Dalam kondisi ini, dengan tone akademis dan persona sebagai pakar/perawat, pendekatan yang dapat digunakan adalah memberikan informasi yang lebih terperinci dan ilmiah terkait diagnosa keperawatan, definisi, dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI yang terkait dengan Risiko Jatuh.