Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 3674 | 26 Oct 2024
Klinis : Pasien dengan anemia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien dengan anemia, dengan tone akademis dan persona pakar/perawat:
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Penjelasan:
- SDKI: Kondisi di mana asupan nutrisi tidak dapat memenuhi kebutuhan metabolisme.
- SLKI: Perawat membantu pasien untuk mencapai dan mempertahankan status nutrisi yang optimal.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi pengkajian status nutrisi, pemberian diet sesuai kondisi, dan pemantauan intake nutrisi pasien.
2. Kelelahan
Penjelasan:
- SDKI: Kondisi di mana individu mengalami penurunan kapasitas fisik dan mental untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
- SLKI: Perawat membantu pasien untuk mencapai dan mempertahankan tingkat energi yang optimal.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi pengkajian penyebab kelelahan, pengaturan aktivitas dan istirahat, serta pemberian terapi untuk mengatasi kelelahan.
3. Penurunan Curah Jantung
Penjelasan:
- SDKI: Kondisi di mana terjadi penurunan volume darah yang dipompa oleh jantung per satuan waktu.
- SLKI: Perawat membantu pasien untuk mencapai dan mempertahankan fungsi kardiovaskular yang optimal.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi pemantauan tanda-tanda vital, pemberian oksigen, dan pengaturan aktivitas untuk mencegah penurunan curah jantung.
Dengan tone akademis dan persona pakar/perawat, diharapkan penjelasan ini dapat memberikan informasi yang komprehensif dan ilmiah mengenai diagnosa keperawatan dan standar SDKI, SLKI, serta SIKI untuk pasien dengan anemia. -
Article No. 3675 | 26 Oct 2024
Klinis : pasien mengatakan gigi tumbuh miring, demam naik turun sejak dua hari, nyeri ulu hati, mual, muntah lima kali, nyeri telan, badan lemas, mimisan, gusi berdarah, bab hitam
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan gejala yang dipaparkan, kondisi pasien tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: K08.1
- Deskripsi: Maloklusi, tidak diklasifikasikan di tempat lain
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 41.2
- Deskripsi: Ekstraksi gigi, tidak termasuk gigi impaksi
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 K08.1 (Maloklusi, tidak diklasifikasikan di tempat lain):
- Pasien mengeluhkan gigi tumbuh miring, yang menunjukkan adanya maloklusi atau keadaan dimana susunan gigi tidak normal.
- Kode ICD-10 K08.1 mencakup kondisi maloklusi yang tidak diklasifikasikan di tempat lain, seperti malposisi gigi.
2. Kode ICD-9-CM Procedure 41.2 (Ekstraksi gigi, tidak termasuk gigi impaksi):
- Berdasarkan gejala yang dipaparkan, seperti demam, nyeri ulu hati, mual, muntah, nyeri telan, dan gusi berdarah, dapat mengindikasikan adanya infeksi atau masalah pada gigi.
- Jika diperlukan, prosedur ekstraksi gigi dapat dilakukan untuk menangani kondisi tersebut.
- Kode ICD-9-CM 41.2 mencakup ekstraksi gigi, tidak termasuk gigi impaksi, yang mungkin diperlukan untuk mengatasi masalah gigi pada pasien.
Perlu diperhatikan bahwa diagnosa dan tindakan medis yang tepat harus ditentukan setelah melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang lebih lengkap oleh dokter yang menangani pasien. -
Article No. 3676 | 26 Oct 2024
Klinis : pasien mengatakan gigi tumbuh miring, demam naik turun sejak dua hari, nyeri ulu hati, mual, muntah lima kali, nyeri telan, badan lemas, mimisan, gusi berdarah, bab hitam
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat menurut standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda sampaikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses patologis gigi.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
3. Risiko perdarahan berhubungan dengan trombositopenia.
Penjelasan Singkat:
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses patologis gigi:
- SDKI: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial.
- SLKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen nyeri, pemberian analgetik, dan konsultasi dengan ahli gigi.
- SIKI: Tujuan keperawatan adalah pasien dapat melaporkan penurunan nyeri dan dapat beraktivitas dengan nyaman.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik:
- SDKI: Intoleransi aktivitas adalah ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan atau yang dibutuhkan.
- SLKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen aktivitas, monitoring tanda-tanda vital, dan pemberian terapi nutrisi.
- SIKI: Tujuan keperawatan adalah pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan mandiri.
3. Risiko perdarahan berhubungan dengan trombositopenia:
- SDKI: Risiko perdarahan adalah kerentanan terhadap kehilangan darah yang dapat mengancam jiwa.
- SLKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah pemantauan tanda-tanda perdarahan, perawatan luka, dan kolaborasi dengan tim medis.
- SIKI: Tujuan keperawatan adalah pasien tidak mengalami perdarahan yang dapat mengancam jiwa.
Semoga penjelasan ini dapat membantu Anda dalam memahami diagnosa keperawatan dan standar asuhan keperawatan berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI. Jika ada pertanyaan lain, jangan ragu untuk menanyakannya. -
Article No. 3677 | 26 Oct 2024
Klinis : etiologi pasien sirosis hepatis dengan masalah keperawatan hipervolemia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien sirosis hepatis dengan masalah keperawatan hipervolemia.
Diagnosa Keperawatan:
Hipervolemia berhubungan dengan gangguan fungsi hati pada pasien sirosis hepatis.
Penjelasan singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Hipervolemia didefinisikan sebagai kelebihan volume cairan yang ditandai dengan adanya edema, kenaikan berat badan, dan peningkatan tekanan darah. Pada pasien sirosis hepatis, hipervolemia dapat terjadi akibat gangguan fungsi hati yang menyebabkan retensi natrium dan air.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari pengelolaan hipervolemia pada pasien sirosis hepatis adalah pasien menunjukkan volume cairan yang adekuat, ditandai dengan pengurangan edema, stabilitas berat badan, dan tekanan darah dalam batas normal.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan meliputi:
1. Pantau tanda-tanda vital dan status cairan (intake-output, berat badan, edema).
2. Batasi asupan cairan dan natrium sesuai indikasi.
3. Berikan diuretik sesuai resep dokter.
4. Ajarkan pasien dan keluarga tentang pembatasan cairan dan natrium serta pemantauan tanda-tanda hipervolemia.
5. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain dalam pengelolaan hipervolemia.
Sebagai pakar keperawatan, saya berharap penjelasan ini dapat memberikan pemahaman yang jelas mengenai Diagnosa Keperawatan dan standar SDKI - SLKI - SIKI untuk pasien sirosis hepatis dengan hipervolemia. -
Article No. 3678 | 26 Oct 2024
Klinis : Pasien laki – laki dengan inisial Tn. J berusia 51 tahun, datang ke IGD RSUD Ir. Soekarno Sukoharjo pada tanggal 07 Juni 2022 diantar oleh keluarganya dengan keluhan buang air besar berwarna kehitaman sejak satu minggu SMRS. BAB kehitaman dengan konsistensi lembek ada ampas namun tidak berlendir dengan frekuensi dua kali per hari.dan volume kira-kira ½ gelas setiap buang air besar. Pasien mengeluh badan terasa lemas disertai muntah darah sebanyak satu kali SMRS, demam, nyeri ulu hati, mual, makan minum sulit, bengkak pada kedua kaki, perut membesar, dan terasa penuh. Pasien juga mengeluhkan kulit dan mata kuning sejak dua minggu SMRS. Pasien tidak mengalami keluhan pusing, nyeri kepala, gusi berdarah, rambut rontok, dan BAK seperti teh.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi pasien Tn. J:
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko perdarahan akut berhubungan dengan penyakit hati (SDKI)
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik (SDKI)
3. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia (SDKI)
Penjelasan Singkat:
1. Risiko perdarahan akut berhubungan dengan penyakit hati (SDKI)
- Definisi: Keadaan berisiko mengalami perdarahan hebat dalam waktu singkat yang disebabkan oleh gangguan pada fungsi hati.
- Faktor Risiko: Penyakit hati, trombositopenia, gangguan koagulasi.
- Gejala: Muntah darah, BAB berwarna kehitaman, perdarahan pada kulit/mukosa.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik (SDKI)
- Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan atau dibutuhkan akibat keterbatasan fisik.
- Faktor Risiko: Penyakit kronis, penurunan fungsi organ, malnutrisi.
- Gejala: Mudah lelah, sesak napas, nyeri saat beraktivitas.
3. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia (SDKI)
- Definisi: Asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- Faktor Risiko: Anoreksia, mual, muntah, gangguan pencernaan.
- Gejala: Penurunan berat badan, lemah, anoreksia, mual, muntah.
Berdasarkan data yang diberikan, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah risiko perdarahan akut, intoleransi aktivitas, dan gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Penjelasan singkat tersebut mencakup definisi, faktor risiko, dan gejala dari masing-masing diagnosa keperawatan. -
Article No. 3679 | 26 Oct 2024
Klinis : Pasien laki – laki dengan inisial Tn. J berusia 51 tahun, datang ke IGD RSUD Ir. Soekarno Sukoharjo pada tanggal 07 Juni 2022 diantar oleh keluarganya dengan keluhan buang air besar berwarna kehitaman sejak satu minggu SMRS. BAB kehitaman dengan konsistensi lembek ada ampas namun tidak berlendir dengan frekuensi dua kali per hari.dan volume kira-kira ½ gelas setiap buang air besar. Pasien mengeluh badan terasa lemas disertai muntah darah sebanyak satu kali SMRS, demam, nyeri ulu hati, mual, makan minum sulit, bengkak pada kedua kaki, perut membesar, dan terasa penuh. Pasien juga mengeluhkan kulit dan mata kuning sejak dua minggu SMRS. Pasien tidak mengalami keluhan pusing, nyeri kepala, gusi berdarah, rambut rontok, dan BAK seperti teh. Diagnosa resiko ketidakseimbangan elektrolit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien Tn. J:
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit
Penjelasan:
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit adalah keadaan di mana seseorang berisiko mengalami perubahan kadar elektrolit (natrium, kalium, klorida, kalsium, magnesium, fosfat) dalam cairan tubuh yang dapat mengancam kesehatan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Keseimbangan Elektrolit: Kadar elektrolit serum (natrium, kalium, klorida, kalsium, magnesium, fosfat) dalam rentang normal.
2. Tanda-tanda Vital: Tanda-tanda vital dalam rentang normal.
3. Status Cairan: Jumlah dan karakteristik cairan tubuh dalam rentang normal.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Pemantauan Elektrolit: Mengidentifikasi dan memantau kadar elektrolit serum (natrium, kalium, klorida, kalsium, magnesium, fosfat).
2. Manajemen Cairan: Mengatur pemberian cairan dan elektrolit sesuai kebutuhan.
3. Manajemen Obat: Memantau dan mengevaluasi efek pemberian obat-obatan terkait gangguan elektrolit.
Berdasarkan kondisi Tn. J, terdapat beberapa keluhan yang mengarah pada risiko ketidakseimbangan elektrolit, seperti muntah darah, nyeri ulu hati, mual, serta perubahan pada kulit dan mata. Oleh karena itu, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit. -
Article No. 3680 | 26 Oct 2024
Klinis : pasien mengatakan gigi tumbuh miring, demam naik turun sejak 2 hari, nyeri ulu hati, mual, muntah 5 kali, nyeri telan, badan merasa lemas, mimisan, gusi berdarah, amandel bengkak hasil TTV : TD: 106/78mmHg, nadi: 100x/menit, RR: 20X/menit, suhu: 36,6c, SPO2: 98
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan gejala yang dialami oleh pasien, berikut adalah Diagnosa Keperawatan, beserta penjelasan singkat terkait SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
1. Diagnosa Keperawatan: Nyeri Akut
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau yang dirasakan seperti kerusakan tersebut.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Menunjukkan penurunan tingkat nyeri, tingkat kepuasan terhadap penanganan nyeri, kemampuan menggunakan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Manajemen nyeri, pemberian analgetik, terapi relaksasi, edukasi terkait nyeri.
2. Diagnosa Keperawatan: Mual
- SDKI: Perasaan tidak nyaman dan keinginan untuk muntah.
- SLKI: Menunjukkan penurunan frekuensi dan tingkat keparahan mual, kemampuan menggunakan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi mual.
- SIKI: Manajemen mual, pemberian antiemetik, terapi relaksasi, edukasi terkait mual.
3. Diagnosa Keperawatan: Risiko Defisit Volume Cairan
- SDKI: Peningkatan risiko kehilangan cairan yang melebihi jumlah yang dapat diganti.
- SLKI: Menunjukkan keseimbangan cairan yang memadai, tanda-tanda vital dalam batas normal, dan tidak ada tanda dehidrasi.
- SIKI: Manajemen cairan, pemberian cairan parenteral, pemantauan intake dan output cairan.
4. Diagnosa Keperawatan: Kerusakan Integritas Jaringan
- SDKI: Kerusakan membran mukosa.
- SLKI: Menunjukkan perbaikan integritas jaringan dan tidak ada tanda-tanda infeksi.
- SIKI: Perawatan luka, pemberian obat topikal, edukasi terkait perawatan luka.
5. Diagnosa Keperawatan: Risiko Infeksi
- SDKI: Peningkatan risiko terserang organisme patogen.
- SLKI: Menunjukkan tidak ada tanda-tanda infeksi.
- SIKI: Pencegahan infeksi, pemantauan tanda-tanda infeksi, pemberian antibiotik jika diperlukan.
Penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Merupakan standar yang digunakan untuk menentukan diagnosis keperawatan berdasarkan respon pasien terhadap masalah kesehatan dan proses kehidupan.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Merupakan standar yang digunakan untuk menentukan hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan yang diberikan.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Merupakan standar yang digunakan untuk menentukan tindakan keperawatan yang dapat dilakukan untuk mencapai luaran yang diharapkan. -
Article No. 3681 | 26 Oct 2024
Klinis : keluhan demam hari ke 4 dan diare cair 5x, mual +
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda sampaikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Dehidrasi berhubungan dengan diare cair.
Penjelasan:
- Risiko Dehidrasi: Kondisi dimana terdapat potensi kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan dari tubuh, yang dapat mengakibatkan penurunan volume cairan dan kemungkinan gangguan keseimbangan elektrolit.
- Faktor yang berhubungan: Diare cair.
SLKI (Luaran Keperawatan):
- Keseimbangan Cairan: Tercapainya keseimbangan cairan dan elektrolit dalam rentang normal.
- Integritas Jaringan: Terpeliharanya integritas jaringan tubuh.
SIKI (Intervensi Keperawatan):
- Pemantauan Cairan: Melakukan pemantauan dan pencatatan input-output cairan, tanda-tanda vital, dan keadaan umum pasien.
- Terapi Cairan: Memberikan terapi cairan sesuai dengan kebutuhan pasien untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.
- Manajemen Diare: Memberikan intervensi untuk mengatasi diare, seperti menghindari makanan yang dapat memperparah diare, memberikan obat antidiare jika diperlukan, dan menjaga kebersihan.
Dengan pendekatan akademis dan persona pakar/perawat, diharapkan dapat memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi yang sesuai dengan kondisi pasien yang Anda gambarkan. -
Article No. 3682 | 26 Oct 2024
Klinis : keluhan demam panas tubuh hari ke 4 dan diare cair 5x, mual +
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berdasarkan keluhan yang Anda sampaikan, yaitu demam panas tubuh hari ke-4, diare cair 5 kali, dan mual, maka dapat disimpulkan diagnosis keperawatan yang sesuai adalah:
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Dehidrasi Berhubungan Dengan Diare Cair
Penjelasan Singkat Berdasarkan SDKI - SLKI - SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Risiko Dehidrasi adalah keadaan di mana individu rentan mengalami kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebih, yang dapat mengancam kesehatan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Cairan Tubuh Seimbang
2. Keseimbangan Elektrolit
3. Tidak Terjadi Dehidrasi
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Pemantauan Cairan dan Elektrolit
2. Manajemen Cairan
3. Pemberian Suplemen
4. Edukasi Manajemen Diare
Dengan pendekatan akademis dan persona sebagai pakar keperawatan, maka rekomendasi intervensi keperawatan yang dapat diberikan adalah:
1. Memantau tanda-tanda vital dan status cairan pasien secara berkala.
2. Memberikan terapi rehidrasi oral atau intravena sesuai kondisi pasien.
3. Memberikan suplemen elektrolit yang hilang akibat diare.
4. Melakukan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai manajemen diare, seperti menjaga hidrasi, mengonsumsi makanan dan minuman yang tepat, serta mengenali tanda-tanda dehidrasi.
Secara keseluruhan, diagnosis keperawatan dan rencana intervensi ini bertujuan untuk mencegah dan mengatasi risiko dehidrasi yang dapat terjadi akibat diare yang dialami oleh pasien. -
Article No. 3683 | 26 Oct 2024
Klinis : demam panas tubuh hari ke 4
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Hipertermia
Penjelasan singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh di atas nilai normal, umumnya di atas 37,5°C atau 99,5°F. Hipertermia dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti infeksi, peradangan, atau gangguan termoregulasi.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari penatalaksanaan hipertermia adalah klien akan mencapai suhu tubuh normal, tanda-tanda vital dalam batas normal, tidak mengalami komplikasi akibat hipertermia, dan dapat beraktivitas tanpa hambatan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi hipertermia meliputi:
1. Pemantauan suhu tubuh dan tanda-tanda vital secara berkala.
2. Pemberian kompres hangat/dingin untuk mengontrol suhu tubuh.
3. Pemberian cairan dan elektrolit yang adekuat.
4. Identifikasi dan penanganan penyebab hipertermia.
5. Edukasi kepada klien dan keluarga mengenai manajemen hipertermia.
Sebagai seorang perawat, saya akan melakukan penilaian dan pemantauan keadaan klien secara komprehensif, kemudian menyusun rencana asuhan keperawatan yang sesuai dengan kebutuhan klien untuk mengatasi hipertermia dan mencegah komplikasi yang mungkin terjadi.