Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 21522 | 04 Sep 2025
Klinis : Hb: 8.5, pasien riwayat gagal ginjal stadium 5 rutin cuci darah, lemas, ureum: 206 Creatinin: 11.5
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \b\fs28 DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI KEPERAWATAN\b0\fs24\par
\par
Berdasarkan data klinis yang disampaikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan intervensi yang relevan sesuai dengan standar \i Persatuan Perawat Nasional Indonesia\i0 (PPNI):\par
\par
\b Diagnosa Keperawatan Utama:\b0\par
\b Kode SDKI 00004: Intoleransi Aktivitas\b0\par
\b Definisi:\b0 Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau yang diinginkan.\par
\b Data Penunjang:\b0\par
- \i Hemoglobin 8,5 g/dL\i0 (anemia berat)\par
- Keluhan lemas\par
- \i Ureum 206 mg/dL\i0 dan \i Kreatinin 11,5 mg/dL\i0 yang menunjukkan toksisitas uremik\par
- Riwayat gagal ginjal stadium 5 dengan cuci darah rutin\par
\par
\b Intervensi Keperawatan (SIKI):\b0\par
\b Kode SIKI 4200: Manajemen Energi\b0\par
\b Tujuan (SLKI):\b0\par
\b Kode SLKI 0401: Toleransi terhadap Aktivitas\b0\par
\b Kriteria Hasil:\b0 Pasien mampu melakukan aktivitas dengan tingkat bantuan yang sesuai dan melaporkan penurunan keluhan lemas.\par
\b Aktivitas Keperawatan:\b0\par
1. \b Kode SIKI 4200A:\b0 Kaji faktor penyebab kelelahan (misalnya: anemia, penumpukan toksin uremik).\par
2. \b Kode SIKI 4200B:\b0 Monitor tanda vital dan respons pasien terhadap aktivitas (denyut nadi, pernapasan, tekanan darah, saturasi oksigen).\par
3. \b Kode SIKI 4200C:\b0 Ajarkan teknik penghematan energi (misalnya: duduk saat melakukan aktivitas, istirahat yang cukup, prioritaskan aktivitas).\par
4. \b Kode SIKI 4200D:\b0 Kolaborasi dengan tim medis untuk optimasi terapi anemia (pemberian \i Erythropoietin\i0 , suplementasi zat besi) dan evaluasi kecukupan dialisis.\par
5. \b Kode SIKI 4200F:\b0 Atur jadwal aktivitas dan istirahat yang seimbang.\par
6. \b Kode SIKI 4200G:\b0 Bantu pasien dalam aktivitas sesuai kebutuhan.\par
\par
\b Diagnosa Keperawatan Pendukung:\b0\par
\b Kode SDKI 00029: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan\b0\par
\b Definisi:\b0 Berisiko mengalami penurunan, peningkatan, atau redistribusi cairan intravaskular, interstisial, atau intraselular.\par
\b Data Penunjang:\b0 Gagal ginjal stadium 5 mengakibatkan gangguan regulasi cairan dan elektrolit.\par
\b Intervensi Utama:\b0 \b Kode SIKI 2080: Manajemen Cairan\b0\par
\b Aktivitas:\b0 Monitor status cairan (balance cairan, berat badan, tanda edema), kolaborasi dalam pembatasan asupan cairan, dan evaluasi ultrafiltrasi selama hemodialisis.\par
\par
\b Catatan Akademis:\b0\par
Anemia pada gagal ginjal (anemia of chronic disease/ACD) terutama disebabkan oleh defisiensi \i erythropoietin\i0 . Toksisitas uremik dari tingginya kadar ureum dan kreatinin secara langsung menekan sumsum tulang dan berkontribusi terhadap kelelahan serta intoleransi aktivitas. Intervensi keperawatan fokus pada manajemen gejala dan kolaborasi untuk menangani penyebab utamanya.\par
} -
Article No. 21523 | 04 Sep 2025
Klinis : Hb: 8.5, pasien riwayat gagal ginjal stadium 5 rutin cuci darah, lemas, ureum: 206 Creatinin: 11.5
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi pasien yang Anda berikan, yaitu Hb: 8.5, riwayat gagal ginjal stadium 5 rutin cuci darah, lemas, ureum: 206, dan creatinin: 11.5, maka berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI beserta kodenya dan definisinya yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
1. Diagnosa Keperawatan:
a. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
b. Intoleransi Aktivitas
2. SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
a. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh (00002)
Definisi: Asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
b. Intoleransi Aktivitas (00092)
Definisi: Ketidakmampuan untuk mentoleransi atau menyelesaikan aktivitas fisik atau fungsional yang dibutuhkan.
3. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
a. Status Nutrisi (1004)
Definisi: Keadaan nutrisi yang dibutuhkan untuk pemeliharaan kesehatan.
b. Toleransi Aktivitas (0005)
Definisi: Kemampuan untuk melakukan aktivitas fisik atau fungsional tanpa menimbulkan gejala yang merugikan.
4. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
a. Manajemen Nutrisi (1120)
Definisi: Mengatur nutrisi dan asupan cairan untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
b. Peningkatan Toleransi Aktivitas (0200)
Definisi: Memfasilitasi peningkatan kemampuan untuk mentoleransi aktivitas fisik atau fungsional.
Dalam tone akademis dan persona pakar, nurse, penjelasan singkat untuk masing-masing diagnosa keperawatan adalah sebagai berikut:
1. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh:
Pasien dengan gagal ginjal stadium 5 yang menjalani hemodialisis sering mengalami masalah nutrisi karena adanya penurunan fungsi ginjal, perubahan metabolisme, dan pembatasan asupan cairan dan elektrolit. Hal ini dapat menyebabkan penurunan berat badan, lemas, dan malnutrisi.
2. Intoleransi Aktivitas:
Pasien dengan gagal ginjal stadium 5 yang menjalani hemodialisis sering mengalami penurunan toleransi terhadap aktivitas fisik dan fungsional. Hal ini disebabkan oleh anemia, uremia, dan perubahan metabolisme yang dapat menyebabkan kelelahan, dyspnea, dan intoleransi terhadap aktivitas. -
Article No. 21524 | 04 Sep 2025
Klinis : Seorang perempuan berusia 62 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan merasa lemas dan sesak nafas. Sesak nafas dirasakan sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit, sesak nafas bertambah sejak 1 hari yang lalu. Sesak nafas hilang timbul dipengaruhi aktivitas. Hasil pengkajian: Frekuensi nafas 26 kali/menit, nafas cepat dan dangkal. Sesak nafas semakin berat pada posisi berbaring. Terdapat bunyi nafas ronkhi. Pasien batuk dengan sputum berwarna putih, berbusa Pasien merasa dada berdebar cepat, frekuensi nadi 118 kali/menit, tekanan darah 140/90 mmHg, SaO2 95 %, Distensi vena jugularis, Kulit pucat, dingin dan berkeringat Pasien mengeluh pusing dan terlihat gelisah. Terdapat edema pada ekstremitas bawah Hasil EKG: Rate 106, Gel P sulit diidentifikasi, PR interval didak dapat dihitung, Komplek QRS tidak teratur. Atrial Fibrilation Diagnosa medis: gagal jantung dekompensasi akut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI - SLKI - SIKI berdasarkan kondisi yang Anda berikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan pola napas (00032)
Definisi: Ketidakmampuan untuk memelihara pernapasan yang memberikan ventilasi yang adekuat.
2. Pola napas tidak efektif (00034)
Definisi: Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi yang adekuat.
3. Gangguan perfusi jaringan (00024)
Definisi: Penurunan sirkulasi darah ke jaringan perifer yang dapat mengganggu kesehatan.
4. Ansietas (00146)
Definisi: Perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Ketidakefektifan pola napas (00032)
Kode: K.01.02
Definisi: Ketidakmampuan mempertahankan pola napas yang memberikan ventilasi adekuat.
2. Pola napas tidak efektif (00034)
Kode: K.01.03
Definisi: Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi yang adekuat.
3. Gangguan perfusi jaringan (00024)
Kode: K.04.01
Definisi: Penurunan sirkulasi darah ke jaringan perifer yang dapat mengganggu kesehatan.
4. Ansietas (00146)
Kode: P.01.01
Definisi: Perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Pola napas
2. Perfusi jaringan
3. Status psikologis
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen jalan napas
2. Terapi oksigen
3. Terapi cairan
4. Manajemen ansietas
Berdasarkan kondisi yang diberikan, pasien mengalami gagal jantung dekompensasi akut yang menyebabkan ketidakefektifan pola napas, gangguan perfusi jaringan, dan ansietas. Perawatan yang dapat dilakukan mencakup manajemen jalan napas, terapi oksigen, terapi cairan, dan manajemen ansietas untuk memperbaiki kondisi pasien. -
Article No. 21482 | 04 Sep 2025
Klinis : pasien dengan dx medis susp PPOK dd Pneumoni. masuk dengan keluhan batuk dan sesak sejak kemarin. keadaan umum cukup, gcs 456, kesadaran compos mentis, TD : 159/74 mmHg. N : 106x/mnt, RR : 30x/mnt, SPO2 : 80%, suhu : 37,1
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta:
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Berdasarkan kondisi pasien dengan diagnosa medis suspek PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik) dd (dengan banding) Pneumonia, dengan keluhan batuk dan sesak napas sejak kemarin, serta hasil pemeriksaan yang menunjukkan keadaan umum cukup, kesadaran compos mentis, tekanan darah 159/74 mmHg, nadi 106 x/menit, frekuensi napas 30 x/menit, saturasi oksigen 80%, dan suhu 37,1°C, maka diagnosa keperawatan yang sesuai adalah:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan ventilasi yang adekuat.
Faktor yang Berhubungan: Adanya sekret berlebih, penurunan kekuatan batuk, penyakit paru obstruktif kronik.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Bersihan Jalan Napas Membaik
- Pasien dapat mengeluarkan sekret dengan efektif.
- Pasien mempertahankan ventilasi yang adekuat.
- Tidak terjadi komplikasi pernapasan.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen Jalan Napas
- Lakukan suction untuk mengeluarkan sekret.
- Anjurkan pasien melakukan teknik batuk efektif.
- Berikan bronkodilator dan mukolitik sesuai indikasi.
- Atur posisi semi-fowler untuk memfasilitasi ekspansi dada.
2. Peningkatan Ventilasi
- Pantau tanda-tanda vital dan saturasi oksigen secara berkala.
- Berikan oksigen sesuai indikasi untuk mempertahankan saturasi oksigen.
- Kolaborasi dengan tenaga medis untuk pemberian terapi pernapasan yang sesuai.
3. Manajemen Infeksi
- Lakukan tindakan pencegahan infeksi sesuai standar.
- Kolaborasi dengan tenaga medis untuk pemberian antibiotik sesuai indikasi.
Penjelasan:
Diagnosa keperawatan "Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif" dipilih karena pasien mengalami penurunan kemampuan dalam mengeluarkan sekret dari saluran pernapasan, yang ditandai dengan keluhan batuk dan sesak napas. Hal ini dapat disebabkan oleh penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) atau pneumonia. Intervensi keperawatan yang diberikan bertujuan untuk memfasilitasi bersihan jalan napas, meningkatkan ventilasi, dan mengelola infeksi yang mungkin terjadi.
Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat mengeluarkan sekret dengan efektif, mempertahankan ventilasi yang adekuat, dan tidak mengalami komplikasi pernapasan. Intervensi keperawatan yang diberikan meliputi manajemen jalan napas, peningkatan ventilasi, dan manajemen infeksi, serta kolaborasi dengan tenaga medis untuk pemberian terapi yang sesuai. -
Article No. 21483 | 04 Sep 2025
Klinis : pasien dengan dx medis susp PPOK dd Pneumoni. masuk dengan keluhan batuk dan sesak sejak kemarin. keadaan umum cukup, gcs 456, kesadaran compos mentis, TD : 159/74 mmHg. N : 106x/mnt, RR : 30x/mnt, SPO2 : 80%, suhu : 37,1
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, dokter/perekam medik, berikut kode ICD-10 dan ICD-9-CM untuk kondisi pasien yang Anda berikan:
1. Kode ICD-10:
- Kode: J44.0
- Deskripsi: Penyakit paru obstruktif kronik dengan infeksi akut saluran pernapasan bagian bawah
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 93.94
- Deskripsi: Pengukuran oksigen darah arteri
Penjelasan:
Berdasarkan informasi yang diberikan, pasien ini memiliki gejala batuk dan sesak napas yang mencurigakan untuk diagnosis PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik) dengan kemungkinan pneumonia. Hal ini didukung oleh temuan klinis seperti takipnea (RR 30x/menit), hipoksemia (SPO2 80%), dan tachykardia (N 106x/menit).
Kode ICD-10 J44.0 "Penyakit paru obstruktif kronik dengan infeksi akut saluran pernapasan bagian bawah" sesuai dengan kondisi pasien yang dicurigai PPOK dengan adanya infeksi akut pada saluran pernapasan bawah (kemungkinan pneumonia).
Kode ICD-9-CM 93.94 "Pengukuran oksigen darah arteri" merupakan tindakan yang sesuai untuk mengevaluasi status oksigenasi pasien melalui pemeriksaan saturasi oksigen (SPO2) yang ditemukan rendah.
Dengan demikian, kode diagnosis ICD-10 dan kode prosedur ICD-9-CM yang sesuai untuk kondisi pasien ini adalah seperti yang telah saya paparkan. Mohon maaf jika ada kekurangan atau penjelasan yang kurang jelas, silakan tanyakan lebih lanjut jika diperlukan. -
Article No. 21484 | 04 Sep 2025
Klinis : pasien dengan dx medis susp PPOK dd Pneumoni. masuk dengan keluhan batuk dan sesak sejak kemarin. keadaan umum cukup, gcs 456, kesadaran compos mentis, TD : 159/74 mmHg. N : 106x/mnt, RR : 30x/mnt, SPO2 : 80%, suhu : 37,1
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci terkait kondisi pasien yang Anda berikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan sekresi mukus berlebih ditandai dengan batuk, sesak napas, dan SPO2 80%.
Penjelasan: Pasien mengalami masalah pernapasan dengan keluhan batuk dan sesak napas. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya penurunan saturasi oksigen (SPO2 80%) yang mengindikasikan ketidakefektifan bersihan jalan napas. Hal ini disebabkan oleh sekresi mukus yang berlebih, yang merupakan salah satu gejala dari PPOK atau pneumonia.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Bersihan jalan napas efektif
Penjelasan: Setelah mendapatkan asuhan keperawatan yang tepat, diharapkan pasien dapat mempertahankan bersihan jalan napas yang efektif, ditandai dengan perbaikan klinis seperti berkurangnya batuk, sesak napas, dan peningkatan saturasi oksigen.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen jalan napas
- Lakukan pemantauan status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas)
- Berikan oksigen sesuai kebutuhan untuk mempertahankan saturasi oksigen dalam batas normal
- Berikan bronkodilator dan mukolitik sesuai resep untuk membantu membersihkan jalan napas
- Ajarkan teknik batuk efektif dan latihan pernapasan
2. Manajemen ventilasi
- Pantau ventilasi dan oksigenasi (RR, SPO2, ABG)
- Pertahankan posisi yang memfasilitasi ventilasi optimal (misal: semi-fowler)
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pengaturan ventilasi mekanis jika diperlukan
3. Manajemen nyeri
- Identifikasi penyebab nyeri dan faktor yang mempengaruhinya
- Berikan analgesik sesuai resep untuk mengurangi nyeri dada yang mungkin timbul
- Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri (misalnya relaksasi, distraksi)
Melalui intervensi keperawatan yang komprehensif dan kolaboratif, diharapkan pasien dapat mempertahankan bersihan jalan napas yang efektif, sehingga dapat mencapai outcome yang optimal dalam proses pemulihan. -
Article No. 21485 | 04 Sep 2025
Klinis : pasien dengan dx medis susp PPOK dd Pneumoni. masuk dengan keluhan batuk dan sesak sejak kemarin. keadaan umum cukup, gcs 456, kesadaran compos mentis, TD : 159/74 mmHg. N : 106x/mnt, RR : 30x/mnt, SPO2 : 80%, suhu : 37,1
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \rtf1\ansi\ansicpg1252\deff0\nouicompat{\fonttbl{\f0\fnil\fcharset0 Calibri;}}
{\colortbl;\red0\green0\blue0;\red0\green0\blue255;}
{\*\generator Riched20 10.0.22621}\viewkind4\uc1
\pard\sa200\sl276\slmult1\f0\fs22\lang1057 Berdasarkan data klinis yang disampaikan, berikut adalah diagnosa keperawatan utama yang relevan untuk pasien dengan kondisi susp PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik) dd (differential diagnosis) Pneumonia, disertai penjelasan singkat sesuai standar SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).\par
\b Diagnosa Keperawatan:\b0\par
\cf2\ul \cf2\ulnone \b Gangguan Pertukaran Gas\b0 (Kode: 00030) berhubungan dengan ketidakefektifan bersihan jalan napas sekunder terhadap proses inflamasi dan obstruksi saluran napas.\par
\b Penjelasan Singkat:\par
\b0 1. \b SDKI (Diagnosa):\b0 Gangguan pertukaran gas ditandai dengan penurunan saturasi oksigen (SpO2: 80%), peningkatan frekuensi pernapasan (RR: 30x/menit), dan sesak napas. Kondisi ini terjadi akibat gangguan difusi oksigen dan retensi karbon dioksida yang disebabkan oleh inflamasi dan obstruksi pada saluran napas (PPOK dan/atau pneumonia).\par
2. \b SLKI (Luaran):\b0 \cf2\ul \cf2\ulnone \b Status Respiratori: Pertukaran Gas\b0 (Kode: 0402). Kriteria luaran yang diharapkan meliputi:\par
- Saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal (95-100%).\par
- Frekuensi pernapasan dalam rentang normal (16-20x/menit).\par
- Tidak adanya sesak napas atau distress pernapasan.\par
- Analisis gas darah dalam batas normal.\par
3. \b SIKI (Intervensi):\b0 \cf2\ul \cf2\ulnone \b Manajemen Jalan Napas\b0 (Kode: 3140) dan \cf2\ul \cf2\ulnone \b Terapi Oksigen\b0 (Kode: 3320). Intervensi meliputi:\par
- Memonitor status pernapasan (frekuensi, irama, dan usaha napas).\par
- Memberikan terapi oksigen sesuai indikasi untuk mempertahankan SpO2 > 90%.\par
- Melakukan fisioterapi dada atau teknik batuk efektif untuk meningkatkan bersihan jalan napas.\par
- Memposisikan pasien untuk optimasi ventilasi (misalnya, posisi semi-Fowler).\par
- Kolaborasi pemberian bronkodilator atau antibiotik sesuai resep medis.\par
\b Catatan:\b0 Diagnosa ini diprioritaskan berdasarkan data kritis (SpO2 80% dan RR 30x/menit) yang mengindikasikan kegawatan respiratori. Evaluasi terus menerus dan penyesuaian intervensi diperlukan sesuai perkembangan kondisi pasien.\par
} -
Article No. 21486 | 04 Sep 2025
Klinis : Resiko jatuh
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang disampaikan, yaitu Risiko Jatuh, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI beserta kodenya, sesuai dengan yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Jatuh (00155)
Definisi: Kerentanan untuk jatuh, yang dapat menyebabkan cidera fisik, yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Kode: 00155
Definisi: Kerentanan untuk jatuh, yang dapat menyebabkan cidera fisik, yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Kode: 1812
Judul: Tingkat Risiko Jatuh
Definisi: Tingkat kemungkinan seseorang mengalami jatuh yang dapat menyebabkan cedera.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Kode: 6480
Judul: Manajemen Risiko Jatuh
Definisi: Tindakan yang dilakukan untuk mengenali, mencegah, dan mengelola faktor risiko jatuh pada pasien.
Dalam kondisi ini, dengan tone akademis dan persona sebagai pakar/perawat, pendekatan yang dapat digunakan adalah memberikan informasi yang lebih terperinci dan ilmiah terkait diagnosa keperawatan, definisi, dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI yang terkait dengan Risiko Jatuh. -
Article No. 21487 | 04 Sep 2025
Klinis : Pasien pria, usia 68 tahun, datang dengan keluhan sesak napas. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas murmur, kepatenan jalan nafas sekret berlebih, terpasang ett, ngt, opa, suction tube ventilator, nebulizer dan monitor. GCS e:4 V:1 m:5. Diagnosis diberikan gagal nafas tipe 2, ppok eksaserbasi berat badan dengan nafas tipe 2 mengancam jiwa da pneumonia kumunitas psi score 148
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, saya akan memberikan kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis sesuai dengan kondisi pasien yang Anda gambarkan, dengan format yang terstruktur dan penjelasan detail.
1. Kode ICD-10:
- Kode: J96.02
- Deskripsi: Gagal napas tipe 2, dengan hipoksemia
- Kode: J44.1
- Deskripsi: PPOK eksaserbasi berat
- Kode: J15.9
- Deskripsi: Pneumonia bakteri, tidak diklasifikasi di tempat lain
2. Kode ICD-9-CM Procedure:
- Kode: 96.04
- Deskripsi: Ventilasi mekanik, tidak spesifik
- Kode: 96.59
- Deskripsi: Penggunaan alat bantu pernapasan lainnya, termasuk nebulizer
Penjelasan:
- Kode ICD-10 J96.02 (Gagal napas tipe 2, dengan hipoksemia) digunakan karena pasien mengalami sesak napas dan memerlukan bantuan ventilasi mekanik.
- Kode ICD-10 J44.1 (PPOK eksaserbasi berat) digunakan karena pasien diketahui memiliki riwayat PPOK dan saat ini mengalami eksaserbasi (kondisi memburuk) yang berat.
- Kode ICD-10 J15.9 (Pneumonia bakteri, tidak diklasifikasi di tempat lain) digunakan karena pasien juga didiagnosis mengalami pneumonia komunitas.
- Kode ICD-9-CM 96.04 (Ventilasi mekanik, tidak spesifik) digunakan karena pasien sedang menerima bantuan ventilasi mekanik.
- Kode ICD-9-CM 96.59 (Penggunaan alat bantu pernapasan lainnya, termasuk nebulizer) digunakan karena pasien terpasang ETT, NGT, OPA, suction tube, ventilator, dan nebulizer. -
Article No. 21488 | 04 Sep 2025
Klinis : Pasien pria, usia 68 tahun, datang dengan keluhan sesak napas. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas murmur, kepatenan jalan nafas sekret berlebih, terpasang ett, ngt, opa, suction tube ventilator, nebulizer dan monitor. GCS e:4 V:1 m:5. Diagnosis diberikan gagal nafas tipe 2, ppok eksaserbasi berat badan dengan nafas tipe 2 mengancam jiwa da pneumonia kumunitas psi score 148
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi pasien yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Pola Napas Tidak Efektif
- Kode SDKI: 00032
- Definisi: Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat.
2. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- Kode SDKI: 00031
- Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
3. Perfusi Jaringan Tidak Efektif
- Kode SDKI: 00024
- Definisi: Ketidakmampuan untuk mempertahankan sirkulasi darah ke jaringan tubuh.
4. Risiko Aspirasi
- Kode SDKI: 00039
- Definisi: Berisiko mengalami masuknya bahan asing ke dalam saluran pernapasan.
5. Kelelahan
- Kode SDKI: 00093
- Definisi: Perasaan keletihan dan keterbatasan energi yang berkelanjutan dan menetap.
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia)
- Merupakan acuan yang digunakan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan pasien dan menentukan diagnosa keperawatan yang sesuai.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia)
- Merupakan acuan yang digunakan untuk menentukan luaran atau hasil yang diharapkan dari asuhan keperawatan yang diberikan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia)
- Merupakan acuan yang digunakan untuk menentukan intervensi atau tindakan keperawatan yang akan dilakukan untuk mencapai luaran yang diharapkan.
Kode dan definisi di atas adalah berdasarkan SDKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia.