Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 3958 | 29 Oct 2024
Klinis : Tn T, usia 78 tahun dirawat di ruang ICU hari kedua dengan gagal nafas. Pasien mempunyai riwayat kemoterapi 3 kali et causa Limfoma Malignant Non Hodgkin. Pasien masuk rumah sakit dengan demam disertai sesak nafas dan penurunan kesadaran sejak dua hari sebelumnya. Hasil pengkajian menunjukkan frekuensi nadi 121 x/menit, lemah, akral dingin, tekanan darah 92/54 mmHg, frekuensi napas 32 x/menit, terdengar suara rochi di paru kanan dan kiri, suhu 38,1oC, SpO2 90%, GCS E1M1V1, sopor, pitting oedema ekstremitas bawah +3/+2, GDS 92 mg/dL. Pasien terpasang HFNC T 34 Flow 60 FiO2 90%, NGT hari kedua dengan residu kehitaman 150 cc, dan folley catheter hari kedua urine pekat produksi urine/ 24 jam 100 cc, balans cairan +980 cc. Keluarga menyatakan pasien DNR. Hasil lab menunjukkan leukosit 1,2 x 103 nL, Hb 8,6 g/dL, procalsitonin 14 ng/L, CRP 4 mg/L, laktat 10 mmol/L, pH: 7,2, pCO2 28 mmHG, pO2 88, HCO3 15 U/L BE -6, SO2 90%, FiO2 100%.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan dan Penjelasan Singkat:
1. Diagnosa Keperawatan:
a. Gangguan Pertukaran Gas Berhubungan dengan Ketidakefektifan Pola Napas Sekunder Akibat Edema Paru dan Gagal Napas.
2. Penjelasan Singkat:
a. Gangguan Pertukaran Gas
- Kondisi di mana terjadi ketidakseimbangan antara ventilasi dan perfusi, mengakibatkan ketidakseimbangan oksigen dan karbon dioksida dalam darah.
- Ditandai dengan adanya hipoksemia (oksigen rendah) dan hiperkapnia (karbon dioksida tinggi).
b. Ketidakefektifan Pola Napas
- Kondisi di mana terjadi perubahan dalam kedalaman dan/atau irama pernapasan yang dapat mengganggu ventilasi.
- Dapat disebabkan oleh edema paru dan gagal napas.
c. Edema Paru
- Akumulasi cairan dalam jaringan paru-paru, dapat menimbulkan sesak napas.
- Dapat disebabkan oleh kondisi medis seperti gagal jantung kiri, sindrom gawat napas akut, atau infeksi.
d. Gagal Napas
- Kondisi di mana sistem pernapasan tidak dapat mempertahankan homeostasis pernapasan yang normal.
- Ditandai dengan hipoksemia, hiperkapnia, dan perubahan pH darah.
3. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI):
- Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) merupakan pedoman yang dikeluarkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk menstandarkan diagnosa keperawatan di Indonesia.
4. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):
- Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) merupakan pedoman yang dikeluarkan oleh PPNI untuk menstandarkan luaran/hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan di Indonesia.
5. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
- Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) merupakan pedoman yang dikeluarkan oleh PPNI untuk menstandarkan intervensi keperawatan yang dapat dilakukan di Indonesia.
Secara keseluruhan, SDKI, SLKI, dan SIKI merupakan standar yang disusun oleh PPNI untuk memastikan keseragaman dan kualitas asuhan keperawatan yang diberikan di Indonesia. -
Article No. 3959 | 29 Oct 2024
Klinis : infeksi daerah operasi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) untuk kondisi infeksi daerah operasi, dengan tone akademis dan persona sebagai perawat ahli.
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Infeksi Daerah Operasi
Definisi:
Risiko infeksi daerah operasi adalah kerentanan terhadap invasi dan proliferasi mikroorganisme patogen pada luka bedah yang dapat mengakibatkan komplikasi.
SDKI:
- Faktor Risiko: prosedur pembedahan, imunokompeten yang lemah, lokasi pembedahan, teknik asepsis yang tidak adekuat.
- Tanda dan Gejala: peningkatan suhu tubuh, nyeri, kemerahan, pembengkakan, drainase purulent, dan/atau hasil pemeriksaan mikrobiologi positif.
SLKI:
- Luaran yang diharapkan: Tidak terjadi infeksi daerah operasi yang ditandai dengan tanda dan gejala yang minimal.
SIKI:
- Intervensi Keperawatan: Menjaga aseptik selama prosedur pembedahan, Memantau tanda-tanda infeksi, Memberikan perawatan luka bedah dengan teknik aseptik, Mempertahankan mobilisasi dini, Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga.
Penerapan intervensi keperawatan yang tepat dan komprehensif berdasarkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dapat membantu mencegah dan mengelola infeksi daerah operasi secara efektif. -
Article No. 3960 | 29 Oct 2024
Klinis : Tn K usia 70 tahun dibawa ke UGD dengan penurunan kesadaran setelah kecelakaan sepeda motor tunggal karena menabrak batu lalu jatuh dari motor. Hasil pengkajian menujukkan adanya suara gurgling serta terdapat sekret dan air liur pada mulut, klien terlihat sesak dengan RR 38 x/menit, cepat dan dangkal, terdapat retraksi intercosta, SpO2 70%. TD 210/120 mmHg, nadi 118 x/menit, T 36,3 C, akral dingin, GCS E2M3V2, terdapat jejas pada dada kanan, kepala dan leher. Klien terlihat gelisah. Hasil X ray menunjukkan fraktur clavicula dekstra, gambaran kontusio pulmonum, hemithorax kanan dan emfisema subcutis pada lateral hemithoraks kanan. Hasil CT Scan menunjukkan subdural dan subarachnoid hemorrhage, multiple fraktur pada sinus maksilaris kiri, curiga fraktur vertebrae C4-C5. pH 7,398, PCO2 25,6 mmHg, PO2 177,9 mmHg, HCO3 16,1 mmol/L, BE -7,2, FiO2 52%, AaDO2 166,5.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang Anda berikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk Tn. K:
1. Diagnosa Keperawatan:
a. Penurunan Perfusi Jaringan Serebral ("Impaired Cerebral Tissue Perfusion")
b. Penurunan Perfusi Jaringan Kardiovaskular ("Impaired Cardiovascular Tissue Perfusion")
c. Penurunan Ventilasi ("Impaired Ventilation")
d. Nyeri Akut ("Acute Pain")
e. Gangguan Mobilitas Fisik ("Impaired Physical Mobility")
2. Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
a. Penurunan Perfusi Jaringan Serebral ("Impaired Cerebral Tissue Perfusion")
- SDKI: Berkurangnya aliran darah ke otak yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak.
- SLKI: Perawatan Kebutuhan Dasar, Perawatan Neurologis, Perawatan Trauma.
- SIKI: Pemantauan Neurologis, Manajemen Peningkatan Tekanan Intrakranial, Manajemen Edema Otak.
b. Penurunan Perfusi Jaringan Kardiovaskular ("Impaired Cardiovascular Tissue Perfusion")
- SDKI: Berkurangnya aliran darah ke jaringan kardiovaskular yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan.
- SLKI: Perawatan Kebutuhan Dasar, Perawatan Kardiovaskular, Perawatan Trauma.
- SIKI: Pemantauan Kardiovaskular, Manajemen Syok, Manajemen Hipertensi.
c. Penurunan Ventilasi ("Impaired Ventilation")
- SDKI: Ketidakmampuan untuk mempertahankan pertukaran gas yang adekuat.
- SLKI: Perawatan Kebutuhan Dasar, Perawatan Respirasi, Perawatan Trauma.
- SIKI: Manajemen Jalan Napas, Manajemen Oksigenasi, Manajemen Ventilasi Mekanis.
d. Nyeri Akut ("Acute Pain")
- SDKI: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial.
- SLKI: Perawatan Kebutuhan Dasar, Perawatan Nyeri, Perawatan Trauma.
- SIKI: Manajemen Nyeri, Terapi Farmakologi, Distraksi.
e. Gangguan Mobilitas Fisik ("Impaired Physical Mobility")
- SDKI: Keterbatasan dalam pergerakan fisik yang disebabkan oleh kerusakan muskuloskeletal, neurovaskular, atau integritas fungsi.
- SLKI: Perawatan Kebutuhan Dasar, Perawatan Muskuloskeletal, Perawatan Trauma.
- SIKI: Manajemen Aktivitas, Manajemen Imobilisasi, Manajemen Rehabilitasi.
Secara keseluruhan, diagnosa keperawatan dan penjelasan SDKI - SLKI - SIKI ini mencakup berbagai aspek masalah kesehatan yang dialami oleh Tn. K, mulai dari penurunan perfusi jaringan, penurunan ventilasi, nyeri akut, dan gangguan mobilitas fisik. Perawatan yang diberikan akan fokus pada stabilisasi kondisi, manajemen komplikasi, dan upaya pemulihan yang komprehensif. -
Article No. 3961 | 29 Oct 2024
Klinis : Tn K usia 70 tahun dibawa ke UGD dengan penurunan kesadaran setelah kecelakaan sepeda motor tunggal karena menabrak batu lalu jatuh dari motor. Hasil pengkajian menujukkan adanya suara gurgling serta terdapat sekret dan air liur pada mulut, klien terlihat sesak dengan RR 38 x/menit, cepat dan dangkal, terdapat retraksi intercosta, SpO2 70%. TD 210/120 mmHg, nadi 118 x/menit, T 36,3 C, akral dingin, GCS E2M3V2, terdapat jejas pada dada kanan, kepala dan leher. Klien terlihat gelisah. Hasil X ray menunjukkan fraktur clavicula dekstra, gambaran kontusio pulmonum, hemithorax kanan dan emfisema subcutis pada lateral hemithoraks kanan. Hasil CT Scan menunjukkan subdural dan subarachnoid hemorrhage, multiple fraktur pada sinus maksilaris kiri, curiga fraktur vertebrae C4-C5. pH 7,398, PCO2 25,6 mmHg, PO2 177,9 mmHg, HCO3 16,1 mmol/L, BE -7,2, FiO2 52%, AaDO2 166,5.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berdasarkan informasi yang diberikan, Tn. K usia 70 tahun mengalami kondisi yang serius setelah mengalami kecelakaan sepeda motor tunggal. Berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI berdasarkan standar Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Pertukaran Gas
2. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
3. Nyeri Akut
4. Risiko Cedera
5. Risiko Syok
Penjelasan Singkat:
1. Gangguan Pertukaran Gas
- SDKI: Ketidakmampuan tubuh untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan/atau mengeluarkan karbon dioksida.
- SLKI: Mempertahankan fungsi pernapasan yang adekuat.
- SIKI: Intervensi untuk memfasilitasi pertukaran gas yang adekuat.
2. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- SDKI: Ketidakmampuan untuk membesihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
- SLKI: Mempertahankan jalan napas yang terbuka.
- SIKI: Intervensi untuk membersihkan dan mempertahankan jalan napas.
3. Nyeri Akut
- SDKI: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial.
- SLKI: Mengelola nyeri.
- SIKI: Intervensi untuk mengelola nyeri.
4. Risiko Cedera
- SDKI: Rentan terhadap cedera fisik yang dapat membahayakan kesehatan.
- SLKI: Mempertahankan keselamatan.
- SIKI: Intervensi untuk mempertahankan keselamatan.
5. Risiko Syok
- SDKI: Rentan terhadap penurunan aliran darah yang dapat membahayakan kesehatan.
- SLKI: Mempertahankan status kardiovaskular.
- SIKI: Intervensi untuk mempertahankan status kardiovaskular.
Dalam merumuskan diagnosa keperawatan dan rencana asuhan keperawatan, perawat harus mempertimbangkan kondisi Tn. K secara komprehensif, termasuk gejala klinis, hasil pemeriksaan penunjang, serta potensi komplikasi yang dapat terjadi. Penanganan yang cepat dan tepat sangat diperlukan untuk menstabilkan kondisi Tn. K. -
Article No. 3962 | 29 Oct 2024
Klinis : Tn K usia 70 tahun dibawa ke UGD dengan penurunan kesadaran setelah kecelakaan sepeda motor tunggal karena menabrak batu lalu jatuh dari motor. Hasil pengkajian menujukkan adanya suara gurgling serta terdapat sekret dan air liur pada mulut, klien terlihat sesak dengan RR 38 x/menit, cepat dan dangkal, terdapat retraksi intercosta, SpO2 70%. TD 210/120 mmHg, nadi 118 x/menit, T 36,3 C, akral dingin, GCS E2M3V2, terdapat jejas pada dada kanan, kepala dan leher. Klien terlihat gelisah. Hasil X ray menunjukkan fraktur clavicula dekstra, gambaran kontusio pulmonum, hemithorax kanan dan emfisema subcutis pada lateral hemithoraks kanan. Hasil CT Scan menunjukkan subdural dan subarachnoid hemorrhage, multiple fraktur pada sinus maksilaris kiri, curiga fraktur vertebrae C4-C5. pH 7,398, PCO2 25,6 mmHg, PO2 177,9 mmHg, HCO3 16,1 mmol/L, BE -7,2, FiO2 52%, AaDO2 166,5.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berdasarkan kondisi yang Anda paparkan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI yang dapat diterapkan sesuai dengan standar Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Penurunan Perfusi Jaringan Serebral berhubungan dengan pendarahan subarachnoid dan subdural, fraktur vertebrae C4-C5.
2. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas berhubungan dengan sekresi dan air liur pada mulut, retraksi intercosta, dan emfisema subcutis.
3. Gangguan Pertukaran Gas berhubungan dengan kontusio pulmonum dan fraktur costae.
4. Nyeri Akut berhubungan dengan fraktur clavikula dekstra, fraktur sinus maksilaris kiri, dan jejas pada dada, kepala, dan leher.
5. Resiko Cedera berhubungan dengan penurunan kesadaran.
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
1. Penurunan Perfusi Jaringan Serebral
- SDKI: Ketidakmampuan sirkulasi darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi jaringan otak.
- SLKI: Memonitor tanda-tanda vital, mengkaji tingkat kesadaran, memonitor kadar gas darah, dan meminimalkan stimulasi yang berlebihan.
- SIKI: Mempertahankan perfusi jaringan serebral, mencegah kerusakan otak lebih lanjut, dan memantau tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial.
2. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
- SDKI: Ketidakmampuan untuk mengeluarkan sekresi atau benda asing dari saluran pernapasan.
- SLKI: Mengatur posisi klien, memberikan oksigen, melakukan suction, dan mengajarkan teknik batuk efektif.
- SIKI: Mempertahankan jalan napas, memfasilitasi pembersihan jalan napas, dan mencegah komplikasi pernapasan.
3. Gangguan Pertukaran Gas
- SDKI: Ketidakmampuan membawa oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida.
- SLKI: Memonitor status oksigenasi, memberikan oksigen, dan melakukan tindakan untuk memperbaiki pertukaran gas.
- SIKI: Memperbaiki pertukaran gas, mencegah komplikasi pernapasan, dan memantau status oksigenasi.
4. Nyeri Akut
- SDKI: Pengalaman sensorik dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang bersifat tiba-tiba dan menetap.
- SLKI: Melakukan pengkajian nyeri, pemberian analgesik, dan manajemen nyeri non-farmakologis.
- SIKI: Mengurangi nyeri, memantau efektivitas intervensi, dan mencegah komplikasi akibat nyeri.
5. Risiko Cedera
- SDKI: Rentan mengalami luka fisik atau psikologis akibat interaksi dengan lingkungan.
- SLKI: Mengkaji faktor risiko cedera, mempertahankan lingkungan yang aman, dan memberikan edukasi terkait pencegahan cedera.
- SIKI: Mencegah cedera, mengidentifikasi faktor risiko, dan meminimalkan potensi bahaya. -
Article No. 3963 | 29 Oct 2024
Klinis : Tn K usia 70 tahun dibawa ke UGD dengan penurunan kesadaran setelah kecelakaan sepeda motor tunggal karena menabrak batu lalu jatuh dari motor. Hasil pengkajian menujukkan adanya suara gurgling serta terdapat sekret dan air liur pada mulut, klien terlihat sesak dengan RR 38 x/menit, cepat dan dangkal, terdapat retraksi intercosta, SpO2 70%. TD 210/120 mmHg, nadi 118 x/menit, T 36,3 C, akral dingin, GCS E2M3V2, terdapat jejas pada dada kanan, kepala dan leher. Klien terlihat gelisah. Hasil X ray menunjukkan fraktur clavicula dekstra, gambaran kontusio pulmonum, hemithorax kanan dan emfisema subcutis pada lateral hemithoraks kanan. Hasil CT Scan menunjukkan subdural dan subarachnoid hemorrhage, multiple fraktur pada sinus maksilaris kiri, curiga fraktur vertebrae C4-C5. pH 7,398, PCO2 25,6 mmHg, PO2 177,9 mmHg, HCO3 16,1 mmol/L, BE -7,2, FiO2 52%, AaDO2 166,5.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, Tn K, seorang pasien berusia 70 tahun yang mengalami penurunan kesadaran setelah kecelakaan sepeda motor tunggal. Berdasarkan kondisi yang dideskripsikan, dapat disusun diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI sebagai berikut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Pertukaran Gas
2. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
3. Risiko Cedera
4. Gangguan Mobilitas Fisik
5. Ansietas
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
1. Gangguan Pertukaran Gas
- SDKI: Ketidakmampuan mempertahankan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida yang adekuat pada tingkat selular.
- SLKI: Terjadi penurunan saturasi oksigen, hiperkapnia, dan/atau hipoksemia.
- SIKI: Intervensi keperawatan untuk mempertahankan pertukaran gas yang adekuat, seperti pemberian oksigen, pengaturan ventilasi, dan pemantauan status oksigenasi.
2. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
- SDKI: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
- SLKI: Terjadi sumbatan jalan napas, suara napas tambahan, dan/atau sekresi yang tidak dapat dikeluarkan.
- SIKI: Intervensi keperawatan untuk membuka dan mempertahankan jalan napas yang terbuka, seperti suction, pengisapan lendir, dan pemosisian.
3. Risiko Cedera
- SDKI: Kerentanan terhadap luka fisik atau kerusakan yang disebabkan oleh paparan lingkungan internal atau eksternal yang tidak dapat diantisipasi atau dikontrol oleh individu.
- SLKI: Terdapat risiko cedera fisik, seperti fraktur, perdarahan, dan trauma.
- SIKI: Intervensi keperawatan untuk mencegah dan meminimalkan risiko cedera, seperti imobilisasi, pencegahan perdarahan, dan manajemen nyeri.
4. Gangguan Mobilitas Fisik
- SDKI: Keterbatasan dalam pergerakan fisik yang disebabkan oleh penurunan kekuatan, kontrol, atau fleksibilitas muskuloskeletal.
- SLKI: Terjadi penurunan kemampuan pergerakan dan/atau keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
- SIKI: Intervensi keperawatan untuk mempertahankan atau meningkatkan mobilitas fisik, seperti latihan gerak, posisioning, dan peningkatan aktivitas.
5. Ansietas
- SDKI: Perasaan tidak nyaman atau khawatir yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya.
- SLKI: Terjadi perasaan cemas, takut, dan/atau khawatir.
- SIKI: Intervensi keperawatan untuk mengatasi ansietas, seperti komunikasi terapeutik, teknik relaksasi, dan dukungan emosional.
Secara keseluruhan, diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI yang sesuai untuk kondisi Tn K adalah terkait dengan gangguan pertukaran gas, ketidakefektifan bersihan jalan napas, risiko cedera, gangguan mobilitas fisik, dan ansietas. Intervensi keperawatan yang diperlukan mencakup manajemen oksigenasi, pembersihan jalan napas, pencegahan dan penanganan cedera, peningkatan mobilitas, serta dukungan emosional. -
Article No. 3964 | 29 Oct 2024
Klinis : hipokalemi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat dari Standar SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi hipokalemia, dengan nada akademis dan persona sebagai pakar keperawatan.
Diagnosa Keperawatan:
Ketidakseimbangan Elektrolit: Hipokalemia
Penjelasan:
Berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), hipokalemia didefinisikan sebagai kondisi penurunan kadar kalium dalam darah di bawah nilai normal. Hipokalemia dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti asupan kalium yang tidak adekuat, diare, muntah, atau kehilangan kalium melalui urin.
Menurut Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), pasien dengan hipokalemia dapat mengalami beberapa luaran keperawatan, seperti:
1. Keseimbangan Elektrolit: Kalium dalam batas normal
2. Gejala Fisik: Tidak ada tanda-tanda hipokalemia
3. Pengetahuan: Pasien memahami pentingnya menjaga asupan kalium
Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) menyarankan beberapa intervensi keperawatan untuk mengatasi hipokalemia, antara lain:
1. Pemantauan kadar kalium secara berkala
2. Pemberian suplemen kalium sesuai indikasi
3. Edukasi pasien tentang pentingnya asupan kalium yang adekuat
4. Pemantauan tanda-tanda hipokalemia, seperti kelelahan, kelemahan, dan depresi.
Dengan penerapan standar SDKI, SLKI, dan SIKI, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan terstruktur untuk mengatasi masalah hipokalemia pada pasien. -
Article No. 3965 | 29 Oct 2024
Klinis : pasien datang ingin mengganti perban post operasi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi pasien yang datang ingin mengganti perban post operasi.
Diagnosa Keperawatan:
Kemampuan Perawatan Diri Terganggu
Penjelasan:
Diagnosa keperawatan "Kemampuan Perawatan Diri Terganggu" sesuai dengan kondisi pasien yang datang ingin mengganti perban post operasi. Hal ini menunjukkan bahwa pasien mengalami keterbatasan dalam melakukan perawatan diri, khususnya terkait dengan perubahan atau luka operasi yang membutuhkan penggantian perban.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
SDKI merupakan standar diagnosis keperawatan yang ditetapkan oleh PPNI. Dalam SDKI, diagnosa "Kemampuan Perawatan Diri Terganggu" didefinisikan sebagai keterbatasan individu dalam melakukan atau menyelesaikan aktivitas perawatan diri yang rutin.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
SLKI adalah standar luaran keperawatan yang ditetapkan oleh PPNI. Untuk diagnosa "Kemampuan Perawatan Diri Terganggu", beberapa luaran keperawatan yang dapat diharapkan adalah peningkatan kemampuan perawatan diri, peningkatan kemandirian, dan penurunan risiko komplikasi akibat keterbatasan perawatan diri.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
SIKI adalah standar intervensi keperawatan yang ditetapkan oleh PPNI. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi diagnosa "Kemampuan Perawatan Diri Terganggu" meliputi bantuan dalam perawatan diri, pelatihan keterampilan perawatan diri, dan edukasi terkait perawatan luka post operasi.
Dengan memahami diagnosa keperawatan, SDKI, SLKI, dan SIKI, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan berpedoman pada standar yang ditetapkan oleh PPNI untuk membantu pasien mencapai kemandirian dalam perawatan diri, khususnya terkait penggantian perban post operasi. -
Article No. 3966 | 29 Oct 2024
Klinis : Pada bulan Maret tahun 2022, Tn. S melakukan operasi remove implant tulang belakang yang dipasang pada tahun 2017 di RSD dr. Soebandi Jember. Operasi remove implant yang dilakukan sudah direncanakan yaitu H + 5 tahun setelah pemasangan. Tn. S juga mengatakan bahwa sekitar 20 hari sebelum diremove, implant sudah menonjol dan keluar pada bagian pundak sebelah kiri. Tn. S mampu beraktifitas kembali pada 2 bulan pasca operasi remove implant. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama, ± 3 bulan setelahnya Tn. S mengalami lemas pada kedua kakinya hingga akhirnya mengalami kelemahan otot selama 2 bulan dan bedrest. Tn. S juga mengatakan bahwa selama itu pula ia tidak 22 dapat melakukan BAK dan BAB secara spontan. Tn. S mengaku sebelum mengalami kelemahan otot, pinggangnya sudah mulai terasa nyeri, sekarang nyerinya akan bertambah apabila ia berusaha menggerakkan kakinya. Kemudian Tn. S melakukan rawat jalan di RSD dr. Soebandi, setelah beberapa kali konsultasi, Tn.S dijadwalkan operasi pada hari Selasa tanggal 18 Oktober 2022. Klien datang ke RSD dr. Soebandi pada tanggal 16 Oktober 2022 dan ditempatkan di Ruang Seruni untuk persiapan operasi. . Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan pada tanggal 17 Oktober 2022, didapatkan hasil TD : 130/90 mmHg, N : 74 x/ menit, S : 36,50 C, SpO2 : 96% dan RR : 20x/menit.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda jelaskan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri akut berhubungan dengan pemasangan kembali implant tulang belakang
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan otot
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan eliminasi berhubungan dengan kelemahan otot
Penjelasan singkat:
1. Nyeri akut berhubungan dengan pemasangan kembali implant tulang belakang
- SDKI: Nyeri Akut
- SLKI: Nyeri Terkontrol
- SIKI: Manajemen Nyeri
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan otot
- SDKI: Gangguan Mobilitas Fisik
- SLKI: Mobilitas Fisik Membaik
- SIKI: Peningkatan Mobilitas
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan eliminasi berhubungan dengan kelemahan otot
- SDKI: Gangguan Eliminasi Urine
- SLKI: Eliminasi Urine Membaik
- SIKI: Peningkatan Fungsi Eliminasi Urine
Penjelasan singkat:
1. Nyeri akut berhubungan dengan pemasangan kembali implant tulang belakang:
- Pasien mengalami nyeri pada bagian punggung dan pinggang setelah operasi remove implant tulang belakang.
- Nyeri dapat disebabkan oleh proses pembedahan dan pemasangan kembali implant.
- Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen nyeri, pemberian analgesik, terapi modalitas nyeri, dan edukasi tentang pengelolaan nyeri.
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan otot:
- Pasien mengalami kelemahan otot pada kedua kaki, sehingga mengalami keterbatasan dalam beraktivitas.
- Kelemahan otot dapat disebabkan oleh efek samping dari operasi remove implant tulang belakang.
- Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah latihan mobilitas, terapi fisik, dan edukasi tentang peningkatan aktivitas.
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan eliminasi berhubungan dengan kelemahan otot:
- Pasien mengalami kesulitan dalam melakukan BAK dan BAB secara spontan akibat kelemahan otot.
- Keterbatasan dalam mobilitas dapat memengaruhi kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan eliminasi.
- Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah asuhan inkontinensia, edukasi tentang manajemen eliminasi, dan kolaborasi dengan tenaga medis lainnya. -
Article No. 3967 | 29 Oct 2024
Klinis : - Bu Sarjiyem - 74 tahun - Klaten - Takut tensi - 180/100 - Glukopak (punya penyakit gula) - Tidak ada sesak - Mata normal - 50kg (sudah mengurangi makan) - Makan (tidak ada jadwal teratur) Jam 10 pagi, sore makan - Masi minum teh pagi, banyak minum air putih. - Tidak ada riwayat penyakit dari keluarga. - Diperkirakan penyakit jantung. Periksa di rumah sakit Majapahit. - Sudah tidak kontrol. - Sering ditensi anaknya. - Anak 3. Yang pertama di Adikarya Cilacap. Kedua di PLN. Ketiga tinggal bareng. - Bapaknya meninggal - Ibunya dewekan, tapi depannya rumah anaknya punya istri dan 2 anak anak SMA. Pertama punya 3 anak. - Permah disteril setelah melahirkan. - Sekali dua kali BAB BAK. Normal kata ibuknya. - Isya di rumah. Asar subuh magrib di mushola. Kalo lega ke masjid. - Masi ikut pengajian rutin. - Jam 10 malem bangun tahajud. - Tidak ada alergi. - Telat makan tidak nyeri. - Gak ada nyeri dan pusing yang sering. - Tidak selesai pembicaraaanya! - Ibunya jualan. Masi haafal harga. Ibunya lupa udah cerita anak pertama tadi. - Tidak punya nomer telefon rumah. Subjektif nya masi inget. - Ibunya punya rumah lain, bilang e masi inget jalan. - Masi ada TV - Makan dimasakin dan tumbas. - Jualan ditumbasin anaknya. - Katanya inget masi - nanya hal berulang -> lupa - kejadian lama masih ingat - makan teratur (2 piring) ga langsung habis - makan beli - yang lupa jalan itu almarhum bapaknya - 3 tahun terakhir (sering lupa hal baru diucapkan) - bapaknya -> sakit jantung (meninggal covid) - ibu : riwayat jantung (skrg udah ga), gula - konsumsi obat : obat jantung, glukopak (buat gula) dah garutin, konkor (ga rutin), pometa - riwayat operasi : miom (2001/2002)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, dapat dirumuskan beberapa diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat terkait SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kasus Bu Sarjiyem sebagai berikut:
1. Diagnosa Keperawatan: Risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah berhubungan dengan riwayat penyakit diabetes melitus.
- SDKI: Keseimbangan Glukosa Darah
- SLKI: Kontrol Glukosa Darah
- SIKI: Manajemen Diabetes Melitus
2. Diagnosa Keperawatan: Risiko hipertensi berhubungan dengan usia lanjut.
- SDKI: Tekanan Darah
- SLKI: Kontrol Tekanan Darah
- SIKI: Manajemen Hipertensi
3. Diagnosa Keperawatan: Risiko penurunan status kognitif berhubungan dengan usia lanjut.
- SDKI: Fungsi Kognitif
- SLKI: Pemulihan Fungsi Kognitif
- SIKI: Stimulasi Fungsi Kognitif
4. Diagnosa Keperawatan: Ketidakpatuhan berhubungan dengan kurangnya pemahaman tentang pentingnya pengobatan dan kontrol kesehatan.
- SDKI: Perilaku Kesehatan
- SLKI: Kepatuhan
- SIKI: Edukasi Kesehatan
Penjelasan singkat:
1. Risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah berhubungan dengan riwayat penyakit diabetes melitus:
- SDKI: Keseimbangan Glukosa Darah - Kemampuan untuk mempertahankan kadar glukosa darah dalam rentang normal.
- SLKI: Kontrol Glukosa Darah - Kemampuan untuk mengatur kadar glukosa darah dalam rentang normal.
- SIKI: Manajemen Diabetes Melitus - Upaya untuk mengontrol kadar glukosa darah pada pasien dengan diabetes melitus.
2. Risiko hipertensi berhubungan dengan usia lanjut:
- SDKI: Tekanan Darah - Kemampuan untuk mempertahankan tekanan darah dalam rentang normal.
- SLKI: Kontrol Tekanan Darah - Kemampuan untuk mengatur tekanan darah dalam rentang normal.
- SIKI: Manajemen Hipertensi - Upaya untuk mengontrol tekanan darah pada pasien dengan hipertensi.
3. Risiko penurunan status kognitif berhubungan dengan usia lanjut:
- SDKI: Fungsi Kognitif - Kemampuan untuk melakukan proses berpikir, memori, dan kemampuan pemecahan masalah.
- SLKI: Pemulihan Fungsi Kognitif - Kemampuan untuk meningkatkan kembali fungsi kognitif yang terganggu.
- SIKI: Stimulasi Fungsi Kognitif - Upaya untuk merangsang dan mempertahankan fungsi kognitif yang optimal.
4. Ketidakpatuhan berhubungan dengan kurangnya pemahaman tentang pentingnya pengobatan dan kontrol kesehatan:
- SDKI: Perilaku Kesehatan - Kemampuan untuk melakukan tindakan yang mendukung kesehatan.
- SLKI: Kepatuhan - Kemampuan untuk mengikuti rekomendasi perawatan kesehatan.
- SIKI: Edukasi Kesehatan - Upaya untuk memberikan informasi dan mengajarkan keterampilan terkait kesehatan.