Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 21562 | 06 Sep 2025
Klinis : edukasi kesehatan pasien nyeri akut
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi edukasi kesehatan pasien dengan nyeri akut adalah:
1. Ketidakefektifan Manajemen Kesehatan:
Definisi: Ketidakmampuan atau ketidakmauannya individu untuk mengatur atau melaksanakan kegiatan pemeliharaan kesehatan yang telah disepakati untuk mencapai tujuan kesehatan.
Karakteristik Definisi: Kurangnya pemahaman tentang kondisi kesehatan, kurangnya pengetahuan tentang penatalaksanaan penyakit, kurangnya kepatuhan terhadap rejimen pengobatan, kurangnya partisipasi dalam evaluasi program kesehatan.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Peningkatan Pengetahuan Kesehatan:
Definisi: Tingkat pemahaman individu tentang informasi yang terkait dengan kesehatan.
Kriteria Hasil:
- Individu mampu menjelaskan kembali informasi kesehatan yang diberikan.
- Individu mampu mengidentifikasi sumber informasi kesehatan yang dapat diakses.
- Individu mampu menjelaskan manfaat perilaku sehat.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Edukasi Kesehatan:
Definisi: Proses yang sistematis untuk memfasilitasi pembelajaran dan peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan untuk mempromosikan, mempertahankan, dan meningkatkan kesehatan.
Aktivitas Keperawatan:
- Mengidentifikasi kebutuhan belajar individu terkait manajemen nyeri akut.
- Menyusun rencana edukasi yang sesuai dengan gaya belajar dan tingkat pemahaman individu.
- Menyediakan informasi kesehatan yang akurat dan dapat dipahami oleh individu.
- Memfasilitasi diskusi dan memberikan kesempatan bagi individu untuk mengajukan pertanyaan.
- Mengevaluasi pemahaman individu terhadap informasi yang diberikan.
- Memberikan umpan balik dan reinforcement positif terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan individu.
Penjelasan Rinci:
Diagnosa Keperawatan SDKI "Ketidakefektifan Manajemen Kesehatan" dipilih karena pasien dengan nyeri akut membutuhkan pemahaman yang baik tentang penatalaksanaan nyeri, termasuk penggunaan obat-obatan, teknik manajemen nyeri non-farmakologis, dan upaya-upaya pencegahan. Kurangnya pemahaman dapat menyebabkan ketidakpatuhan terhadap rejimen pengobatan dan upaya perawatan diri yang tidak optimal.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI) "Peningkatan Pengetahuan Kesehatan" bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pasien terhadap informasi kesehatan yang diberikan, sehingga dapat mengaplikasikannya dalam pengelolaan nyeri akut. Kriteria hasil yang ditetapkan mencakup kemampuan pasien untuk menjelaskan kembali informasi, mengidentifikasi sumber informasi, dan memahami manfaat perilaku sehat.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI) "Edukasi Kesehatan" bertujuan untuk memfasilitasi pembelajaran dan peningkatan pengetahuan pasien terkait manajemen nyeri akut. Aktivitas keperawatan mencakup identifikasi kebutuhan belajar, penyusunan rencana edukasi, penyediaan informasi yang akurat, fasilitasi diskusi, evaluasi pemahaman, dan pemberian umpan balik. Intervensi ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan pasien dalam mengelola nyeri akut secara efektif. -
Article No. 21563 | 06 Sep 2025
Klinis : Di antara kelompok lansia terdampak, terdapat seorang individu bernama Bapak S (68 tahun), seorang penyintas dengan riwayat Diabetes Mellitus tipe 2 yang sebelumnya rutin menggunakan insulin harian. Setelah bencana, pasokan obatnya terputus, penyimpanan insulin terkendala karena keterbatasan fasilitas pendingin, dan pemantauan gula darah tidak dapat dilakukan secara teratur. Hal ini menempatkan Bapak S pada risiko tinggi hiperglikemia, dehidrasi, hingga komplikasi serius. Asuhan keperawatan individu diarahkan pada pemantauan gula darah, pemberian insulin sesuai ketersediaan, edukasi diet darurat dengan bahan yang ada, serta dukungan psikososial agar ia mampu beradaptasi dengan situasi pengungsian. Sementara itu, untuk kelompok lansia, fokus asuhan keperawatan adalah memastikan manajemen kesehatan kolektif tetap berjalan. Hal ini meliputi koordinasi dengan tim medis posko untuk menjaga ketersediaan obat rutin (insulin, antihipertensi, obat jantung, inhaler), penjadwalan pemeriksaan kesehatan, penyediaan jalur evakuasi khusus bagi lansia dengan keterbatasan mobilisasi, serta pembentukan kelompok dukungan sebaya guna mengurangi stres psikososial. Upaya ini diharapkan mampu menjamin kesehatan kelompok secara umum sekaligus mendukung keberlangsungan terapi individu rentan seperti Bapak S yang pengobatannya tidak boleh terputus.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat yang berpengalaman, saya akan memberikan analisis terkait diagnosis keperawatan, luaran/output yang diharapkan, serta intervensi keperawatan yang diperlukan untuk menangani kondisi Bapak S dan kelompok lansia lainnya yang terdampak bencana.
Diagnosis Keperawatan SDKI:
1. Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah berhubungan dengan gangguan pasokan insulin, keterbatasan pemantauan gula darah, dan stres akibat bencana.
Rasional: Kondisi Bapak S dengan riwayat Diabetes Mellitus tipe 2 yang tidak dapat memperoleh insulin secara teratur dan tidak dapat melakukan pemantauan gula darah dengan baik menempatkannya pada risiko tinggi mengalami hiperglikemia atau bahkan komplikasi serius.
2. Defisit Perawatan Diri berhubungan dengan keterbatasan fasilitas dan sumber daya akibat bencana.
Rasional: Situasi pengungsian yang serba terbatas dapat menghambat kemampuan Bapak S untuk melakukan perawatan diri secara optimal, termasuk dalam hal menjaga kebersihan, makan dan minum, serta aktivitas sehari-hari.
3. Risiko Stres Trauma berhubungan dengan perubahan lingkungan dan aktivitas akibat bencana.
Rasional: Perpindahan tempat tinggal, gangguan rutinitas, serta ketidakpastian akan masa depan dapat menimbulkan stres psikologis pada Bapak S dan lansia lainnya yang terdampak.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Stabilitas Kadar Glukosa Darah
- Indikator: Kadar glukosa darah dalam rentang normal, bebas dari episode hiperglikemia atau hipoglikemia.
- Kriteria: Kadar glukosa darah terpantau dalam batas normal sesuai target terapi.
2. Perawatan Diri: Makan dan Minum
- Indikator: Kemampuan Bapak S dalam memenuhi kebutuhan makan dan minum secara mandiri.
- Kriteria: Bapak S dapat mengonsumsi makanan dan minuman sesuai kebutuhan dan direkomendasikan.
3. Kontrol Stres
- Indikator: Kemampuan Bapak S dalam mengelola stres yang dialami.
- Kriteria: Bapak S menunjukkan tanda-tanda penurunan stres, seperti penurunan kecemasan, depresi, atau gejala fisik stres.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen Diabetes
- Pemantauan kadar glukosa darah secara berkala
- Pemberian insulin sesuai ketersediaan dan kondisi klinis
- Edukasi diet darurat berbasis bahan makanan yang tersedia di pengungsian
- Kolaborasi dengan tim medis untuk memastikan ketersediaan obat insulin
2. Perawatan Diri: Makan dan Minum
- Asistensi dalam pemenuhan kebutuhan makan dan minum sehari-hari
- Edukasi manajemen diet sesuai kondisi Diabetes
- Fasilitasi penyediaan makanan dan minuman yang sesuai
3. Manajemen Stres
- Asesmen tingkat stres yang dialami Bapak S
- Intervensi relaksasi (misalnya pernapasan dalam, meditasi)
- Konseling individual untuk mendukung adaptasi terhadap situasi bencana
- Pembentukan kelompok dukungan sebaya bagi lansia
Upaya ini diharapkan dapat membantu Bapak S dan kelompok lansia lainnya dalam menjaga stabilitas kondisi kesehatan, mempertahankan kemandirian, serta beradaptasi secara psikologis selama masa tanggap darurat bencana. Kolaborasi interdisipliner dan koordinasi yang baik antara tim keperawatan, tim medis, dan sumber daya di posko pengungsian akan menjadi kunci keberhasilan asuhan keperawatan ini. -
Article No. 21564 | 06 Sep 2025
Klinis : Di antara kelompok lansia terdampak, terdapat seorang individu bernama Bapak S (68 tahun), seorang penyintas dengan riwayat Diabetes Mellitus tipe 2 yang sebelumnya rutin menggunakan insulin harian. Setelah bencana, pasokan obatnya terputus, penyimpanan insulin terkendala karena keterbatasan fasilitas pendingin, dan pemantauan gula darah tidak dapat dilakukan secara teratur. Hal ini menempatkan Bapak S pada risiko tinggi hiperglikemia, dehidrasi, hingga komplikasi serius. Asuhan keperawatan individu diarahkan pada pemantauan gula darah, pemberian insulin sesuai ketersediaan, edukasi diet darurat dengan bahan yang ada, serta dukungan psikososial agar ia mampu beradaptasi dengan situasi pengungsian. Sementara itu, untuk kelompok lansia, fokus asuhan keperawatan adalah memastikan manajemen kesehatan kolektif tetap berjalan. Hal ini meliputi koordinasi dengan tim medis posko untuk menjaga ketersediaan obat rutin (insulin, antihipertensi, obat jantung, inhaler), penjadwalan pemeriksaan kesehatan, penyediaan jalur evakuasi khusus bagi lansia dengan keterbatasan mobilisasi, serta pembentukan kelompok dukungan sebaya guna mengurangi stres psikososial. Upaya ini diharapkan mampu menjamin kesehatan kelompok secara umum sekaligus mendukung keberlangsungan terapi individu rentan seperti Bapak S yang pengobatannya tidak boleh terputus.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan dan Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
1. Diagnosa Keperawatan:
a. Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
b. Risiko Dehidrasi
c. Risiko Komplikasi Diabetes
2. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
a. Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah (kode: 00179)
Definisi: Kerentanan terhadap perubahan kadar glukosa darah yang dapat membahayakan kesehatan.
b. Risiko Dehidrasi (kode: 00028)
Definisi: Kerentanan terhadap kehilangan cairan tubuh yang melebihi asupan, yang dapat membahayakan kesehatan.
c. Risiko Komplikasi Diabetes (kode: 00179)
Definisi: Kerentanan terhadap perkembangan kondisi patologis sekunder yang dapat terjadi akibat diabetes yang tidak terkontrol.
3. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
a. Stabilitas Kadar Glukosa Darah (kode: 0802)
Definisi: Kemampuan untuk mempertahankan kadar glukosa darah dalam rentang normal.
b. Hidrasi (kode: 0601)
Definisi: Keseimbangan cairan tubuh.
c. Pencegahan Komplikasi Diabetes (kode: 1612)
Definisi: Kemampuan untuk mencegah atau meminimalkan komplikasi akibat diabetes.
4. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
a. Pemantauan Kadar Glukosa Darah (kode: 6650)
Definisi: Pemantauan dan pencatatan kadar glukosa darah secara berkala.
b. Manajemen Cairan (kode: 4120)
Definisi: Pemberian dan pengaturan cairan untuk mempertahankan keseimbangan cairan tubuh.
c. Edukasi Manajemen Diabetes (kode: 5614)
Definisi: Pemberian informasi dan bimbingan untuk membantu individu atau keluarga mengelola diabetes.
Dalam kasus ini, fokus asuhan keperawatan pada Bapak S adalah pemantauan kadar glukosa darah, pemberian insulin sesuai ketersediaan, edukasi diet darurat, dan dukungan psikososial. Sementara itu, untuk kelompok lansia, fokus asuhan keperawatan adalah koordinasi dengan tim medis, penjadwalan pemeriksaan kesehatan, penyediaan jalur evakuasi khusus, dan pembentukan kelompok dukungan sebaya. -
Article No. 21565 | 06 Sep 2025
Klinis : edukasi kesehatan pasien gangguan rasa nyaman
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan senang hati, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran/output, dan intervensi keperawatan yang sesuai untuk kondisi pasien dengan gangguan rasa nyaman yang memerlukan edukasi kesehatan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi ini adalah "Ketidakefektifan Manajemen Kesehatan" (SDKI 2018). Hal ini didasarkan pada karakteristik utama dari diagnosa ini, yaitu ketidakmampuan pasien untuk mengidentifikasi, mengelola, dan/atau mencari bantuan untuk mempertahankan kesehatan. Dalam kasus ini, pasien memerlukan edukasi kesehatan terkait gangguan rasa nyaman yang dialaminya, sehingga diagnosa ini sesuai.
Luaran/Output SLKI:
Luaran/output yang diharapkan setelah pemberian asuhan keperawatan adalah "Perilaku Kesehatan: Promosi Kesehatan" (SLKI 2019). Luaran ini mencakup kemampuan pasien untuk menunjukkan perilaku yang mendukung dan mempertahankan kesehatan. Dalam konteks ini, pasien diharapkan dapat mendemonstrasikan pemahaman dan komitmen untuk mengelola gangguan rasa nyaman yang dialaminya melalui edukasi kesehatan yang diberikan.
Intervensi Keperawatan SIKI:
Berikut adalah intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai luaran/output yang diharapkan:
1. Edukasi Kesehatan (SIKI 2018)
- Mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan pasien terkait gangguan rasa nyaman yang dialami.
- Memberikan informasi dan penjelasan yang sesuai dengan tingkat pemahaman pasien mengenai gangguan rasa nyaman, penyebab, dan penatalaksanaannya.
- Mendorong pasien untuk aktif bertanya dan menyampaikan kekhawatiran atau kebingungan yang dialami.
- Membantu pasien mengembangkan strategi untuk mengelola gangguan rasa nyaman yang dialami.
- Mengevaluasi pemahaman pasien dan meningkatkan edukasi jika diperlukan.
2. Manajemen Kesehatan (SIKI 2018)
- Mengidentifikasi sumber daya dan dukungan yang tersedia untuk membantu pasien mengelola gangguan rasa nyaman.
- Membantu pasien mengembangkan rencana perawatan diri yang realistis dan sesuai dengan kondisinya.
- Memonitor kemajuan pasien dalam menerapkan rencana perawatan diri dan memberikan umpan balik yang konstruktif.
- Melibatkan anggota keluarga atau orang terdekat untuk mendukung pasien dalam mengelola gangguan rasa nyaman.
Melalui intervensi keperawatan yang komprehensif ini, diharapkan pasien dapat memperoleh pemahaman yang baik tentang gangguan rasa nyaman yang dialaminya, serta mampu mengembangkan dan menerapkan strategi yang efektif untuk mengelola kondisinya, sehingga dapat mencapai luaran/output yang diharapkan. -
Article No. 21566 | 06 Sep 2025
Klinis : Di antara kelompok lansia terdampak, terdapat seorang individu bernama Bapak S (68 tahun), seorang penyintas dengan riwayat Diabetes Mellitus tipe 2 yang sebelumnya rutin menggunakan insulin harian. Setelah bencana, pasokan obatnya terputus, penyimpanan insulin terkendala karena keterbatasan fasilitas pendingin, dan pemantauan gula darah tidak dapat dilakukan secara teratur. Hal ini menempatkan Bapak S pada risiko tinggi hiperglikemia, dehidrasi, hingga komplikasi serius. Asuhan keperawatan individu diarahkan pada pemantauan gula darah, pemberian insulin sesuai ketersediaan, edukasi diet darurat dengan bahan yang ada, serta dukungan psikososial agar ia mampu beradaptasi dengan situasi pengungsian. Sementara itu, untuk kelompok lansia, fokus asuhan keperawatan adalah memastikan manajemen kesehatan kolektif tetap berjalan. Hal ini meliputi koordinasi dengan tim medis posko untuk menjaga ketersediaan obat rutin (insulin, antihipertensi, obat jantung, inhaler), penjadwalan pemeriksaan kesehatan, penyediaan jalur evakuasi khusus bagi lansia dengan keterbatasan mobilisasi, serta pembentukan kelompok dukungan sebaya guna mengurangi stres psikososial. Upaya ini diharapkan mampu menjamin kesehatan kelompok secara umum sekaligus mendukung keberlangsungan terapi individu rentan seperti Bapak S yang pengobatannya tidak boleh terputus.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan mempertimbangkan kondisi yang disampaikan, berikut adalah diagnosa keperawatan SDKI, luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan (SLKI), serta intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran (SIKI):
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Risiko Hiperglikemia berhubungan dengan keterbatasan akses insulin dan pemantauan gula darah yang tidak teratur.
2. Risiko Dehidrasi berhubungan dengan keterbatasan akses air bersih dan cairan.
3. Risiko Komplikasi Serius berhubungan dengan ketidakstabilan kondisi kesehatan akibat gangguan pengelolaan diabetes.
4. Gangguan Manajemen Kesehatan berhubungan dengan keterbatasan akses ke layanan kesehatan rutin.
5. Koping Individu Tidak Efektif berhubungan dengan stres psikososial akibat situasi bencana.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Kadar Glukosa Darah: Terkendali
2. Status Hidrasi: Cairan Tubuh Seimbang
3. Komplikasi Diabetes: Tidak Ada
4. Manajemen Pengobatan: Adekuat
5. Adaptasi Psikososial: Efektif
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
1. Pemantauan Glukosa Darah: Pemantauan kadar glukosa darah secara berkala, pengaturan insulin sesuai ketersediaan, edukasi diet darurat dengan bahan yang ada.
2. Manajemen Cairan: Fasilitasi asupan cairan yang cukup, pemantauan tanda-tanda dehidrasi, pemberian cairan intravena jika diperlukan.
3. Pencegahan Komplikasi: Pemantauan tanda-tanda komplikasi diabetes, kolaborasi dengan tim medis untuk penanganan segera jika terjadi, edukasi pencegahan komplikasi.
4. Manajemen Pengobatan: Koordinasi dengan tim medis posko untuk menjaga ketersediaan obat-obatan rutin, penjadwalan pemeriksaan kesehatan, dan pemantauan kepatuhan pengobatan.
5. Dukungan Psikososial: Pembentukan kelompok dukungan sebaya, teknik manajemen stres, dan konseling untuk meningkatkan koping individu.
Penjelasan rinci:
1. Diagnosa Keperawatan SDKI:
a. Risiko Hiperglikemia: Kondisi Bapak S dengan riwayat Diabetes Mellitus tipe 2 yang tidak dapat mengakses insulin secara rutin menempatkannya pada risiko tinggi hiperglikemia, yang dapat menyebabkan komplikasi serius.
b. Risiko Dehidrasi: Keterbatasan akses air bersih dan cairan selama situasi bencana dapat menyebabkan dehidrasi, terutama pada lansia dengan kondisi kesehatan yang rentan.
c. Risiko Komplikasi Serius: Ketidakstabilan kondisi kesehatan Bapak S akibat gangguan pengelolaan diabetes dapat memicu komplikasi yang membahayakan, seperti ketoasidosis, stroke, atau gagal ginjal.
d. Gangguan Manajemen Kesehatan: Keterbatasan akses ke layanan kesehatan rutin, termasuk pemeriksaan kesehatan dan pengadaan obat-obatan, dapat mengganggu manajemen kesehatan kolektif pada kelompok lansia.
e. Koping Individu Tidak Efektif: Situasi bencana dapat menimbulkan stres psikososial yang mempengaruhi kemampuan Bapak S dan kelompok lansia lainnya dalam beradaptasi dengan baik.
2. Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
a. Kadar Glukosa Darah: Terkendali, dengan pemantauan dan pemberian insulin yang teratur.
b. Status Hidrasi: Cairan Tubuh Seimbang, melalui asupan cairan yang adekuat.
c. Komplikasi Diabetes: Tidak Ada, dengan pencegahan dan penanganan komplikasi secara dini.
d. Manajemen Pengobatan: Adekuat, dengan koordinasi penyediaan obat-obatan rutin dan pemantauan kepatuhan.
e. Adaptasi Psikososial: Efektif, dengan dukungan psikososial yang membantu lansia beradaptasi dengan situasi bencana.
3. Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
a. Pemantauan Glukosa Darah: Mengukur kadar glukosa darah secara berkala, menyesuaikan dosis insulin berdasarkan ketersediaan, dan memberikan edukasi diet darurat dengan bahan yang ada.
b. Manajemen Cairan: Memfasilitasi asupan cairan yang cukup, memantau tanda-tanda dehidrasi, dan memberikan cairan intravena jika diperlukan.
c. Pencegahan Komplikasi: Memantau tanda-tanda komplikasi diabetes, berkolaborasi dengan tim medis untuk penanganan segera, dan memberikan edukasi pencegahan komplikasi.
d. Manajemen Pengobatan: Berkoordinasi dengan tim medis posko untuk menjaga ketersediaan obat-obatan rutin, menjadwalkan pemeriksaan kesehatan, dan memantau kepatuhan pengobatan.
e. Dukungan Psikososial: Membentuk kelompok dukungan sebaya, mengajarkan teknik manajemen stres, dan memberikan konseling untuk meningkatkan koping individu. -
Article No. 21567 | 06 Sep 2025
Klinis : Kanker nasofaring
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosis keperawatan dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi kanker nasofaring, dengan nada akademis dan persona sebagai pakar perawat.
Diagnosis Keperawatan:
1. Risiko Infeksi (00004)
Definisi: Rentan terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen, yang dapat mengganggu kesehatan.
2. Kerusakan Integritas Kulit (00046)
Definisi: Kerusakan pada epidermis dan/atau dermis.
3. Kelelahan (00093)
Definisi: Pengalaman subjektif yang terus-menerus dan berkelanjutan terkait dengan penurunan kapasitas untuk melakukan aktivitas.
4. Nyeri Kronis (00133)
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang terkait dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Risiko Infeksi (00004)
Kode: D.0004
Definisi: Rentan terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen, yang dapat mengganggu kesehatan.
2. Kerusakan Integritas Kulit (00046)
Kode: D.0046
Definisi: Kerusakan pada epidermis dan/atau dermis.
3. Kelelahan (00093)
Kode: D.0093
Definisi: Pengalaman subjektif yang terus-menerus dan berkelanjutan terkait dengan penurunan kapasitas untuk melakukan aktivitas.
4. Nyeri Kronis (00133)
Kode: D.0133
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang terkait dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Kontrol Infeksi (L.0082)
Definisi: Tindakan untuk mencegah atau mengendalikan infeksi.
2. Integritas Kulit (L.0085)
Definisi: Kondisi kulit yang utuh dan berfungsi normal.
3. Manajemen Kelelahan (L.0113)
Definisi: Kemampuan untuk mengatur dan mengelola pengalaman kelelahan.
4. Kontrol Nyeri (L.0153)
Definisi: Kemampuan untuk mengendalikan pengalaman nyeri.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Pencegahan Infeksi (I.0087)
Definisi: Upaya untuk mencegah atau meminimalkan terjadinya infeksi.
2. Perawatan Luka (I.0089)
Definisi: Tindakan untuk mempertahankan atau memperbaiki integritas kulit.
3. Manajemen Kelelahan (I.0119)
Definisi: Upaya untuk mengatasi dan mengelola kelelahan.
4. Manajemen Nyeri (I.0158)
Definisi: Upaya untuk mencegah, mengurangi, atau menghilangkan nyeri.
Harap dicatat bahwa kode dan definisi di atas sesuai dengan yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). -
Article No. 21568 | 06 Sep 2025
Klinis : Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI sesuai dengan kondisi "Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)" yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia. Saya akan menjawab dengan nada akademis dan persona sebagai pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan:
Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
Penjelasan Singkat SDKI-SLKI-SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
D.0001 Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
L.0001 Bersihan Jalan Napas
Definisi: Kemampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan dan mempertahankan jalan napas yang terbuka.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
I.0001 Manajemen Jalan Napas
Definisi: Serangkaian tindakan untuk mempertahankan atau memperbaiki permeabilitas jalan napas.
Kode dan Definisi:
D.0001 Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
L.0001 Bersihan Jalan Napas: Kemampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan dan mempertahankan jalan napas yang terbuka.
I.0001 Manajemen Jalan Napas: Serangkaian tindakan untuk mempertahankan atau memperbaiki permeabilitas jalan napas. -
Article No. 21569 | 06 Sep 2025
Klinis : bersihan jalan napas tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Tentu, saya akan memberikan informasi yang komprehensif terkait kondisi "bersihan jalan napas tidak efektif" dari sudut pandang keperawatan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi "bersihan jalan napas tidak efektif" berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) adalah "Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif". Definisi dari diagnosa ini adalah "Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka".
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan pasien dapat mencapai luaran/output sebagai berikut:
1. Jalan napas paten: Pasien menunjukkan jalan napas yang terbuka dan bebas dari obstruksi.
2. Pengeluaran sekret efektif: Pasien mampu mengeluarkan sekret dari saluran napas secara efektif.
3. Tingkat saturasi oksigen dalam batas normal: Pasien menunjukkan tingkat saturasi oksigen dalam batas normal.
4. Frekuensi napas dalam batas normal: Pasien menunjukkan frekuensi napas yang berada dalam batas normal.
5. Tidak terjadi komplikasi: Pasien tidak mengalami komplikasi terkait bersihan jalan napas yang tidak efektif, seperti atelektasis, pneumonia, atau gagal napas.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran/output yang diharapkan, berikut intervensi keperawatan yang dapat diberikan berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
1. Manajemen jalan napas:
- Posisikan pasien untuk memfasilitasi drainase sekret
- Berikan humidifikasi oksigen jika diperlukan
- Lakukan suction untuk membersihkan jalan napas
- Ajarkan teknik batuk efektif dan latihan pernapasan
2. Pemantauan tanda-tanda vital:
- Pantau frekuensi, kedalaman, dan irama napas
- Pantau saturasi oksigen
- Pantau tanda-tanda distress pernapasan
3. Manajemen oksigenasi:
- Berikan oksigen sesuai kebutuhan pasien
- Pantau efektivitas pemberian oksigen
4. Edukasi kesehatan:
- Ajarkan pasien dan keluarga tentang pentingnya bersihan jalan napas
- Ajarkan teknik-teknik untuk mempertahankan bersihan jalan napas
5. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain:
- Kolaborasi dengan fisioterapis untuk terapi pernapasan
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi farmakologis jika diperlukan
Penerapan intervensi keperawatan ini secara komprehensif dan kolaboratif diharapkan dapat membantu pasien mencapai luaran/output yang diharapkan dan mengatasi masalah bersihan jalan napas yang tidak efektif. -
Article No. 21570 | 06 Sep 2025
Klinis : Seorang pasien, perempuan berusia 32 tahun, dirawat di rumah sakit dengan keluhan kulit kemerahan luas, nyeri, disertai lepuhan di tubuh dan luka di mulut sejak 3 hari terakhir. Pasien mengatakan awalnya mengalami demam, nyeri tenggorokan, serta mata terasa perih seperti terbakar. Dua hari kemudian, muncul ruam kemerahan di wajah yang menyebar ke dada, punggung, dan lengan. Ruam berkembang menjadi bula yang mudah pecah sehingga kulit tampak melepuh dan terasa sangat nyeri. Pasien juga mengalami sariawan parah yang membuatnya sulit makan dan minum. Saat ditanya riwayat sebelumnya, pasien mengatakan baru 10 hari lalu mengonsumsi obat antibiotik golongan sulfa untuk infeksi saluran kemih. Sejak itu pasien merasa badannya lemah dan muncul gejala prodromal menyerupai flu. Saat ini pasien tampak gelisah, menangis karena nyeri, dan sangat khawatir kondisi kulitnya akan semakin parah. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit kronis seperti diabetes mellitus, hipertensi, atau penyakit jantung. Riwayat alergi makanan tidak ada, namun pasien belum pernah diketahui alergi obat. Tidak ada riwayat penyakit kulit sebelumnya. Ayah pasien memiliki riwayat asma, ibu sehat. Tidak ada anggota keluarga dengan riwayat alergi obat berat atau penyakit kulit serupa. Pasien sadar compos mentis, orientasi baik. Keluhan utama pasien adalah nyeri kulit (skala 9/10), nyeri mulut, dan perih pada mata. Pasien juga mengatakan pandangannya mulai kabur sejak dua hari terakhir. Tidur sangat terganggu karena nyeri hebat pada kulit dan mulut. Pasien sering terbangun dan hanya tidur 2–3 jam per malam. Aktivitas sangat menurun karena nyeri dan lemah. Pasien lebih banyak berbaring, membutuhkan bantuan keluarga untuk berpindah tempat tidur. Sebelum sakit, pola BAB dan BAK normal. Saat ini BAK berkurang, urin lebih pekat karena asupan cairan kurang. aat ini pasien sulit makan karena adanya luka di mulut dan tenggorokan, serta bibir pecah-pecah. Nafsu makan sangat menurun, hanya bisa menelan bubur dan minum sedikit air. Berat badan menurun 2 kg dalam 1 minggu. Kulit tampak melepuh luas, beberapa area terkelupas. Pasien biasanya jarang sakit, tetapi jika sakit lebih sering mengonsumsi obat dari apotek tanpa resep dokter. Tidak pernah mendapat edukasi mengenai alergi obat. Pasien merasa cemas, takut wajah dan kulitnya akan rusak permanen. Ia merasa citra dirinya menurun dan malu bila bertemu orang lain. Pasien tampak menangis dan gelisah, sulit menenangkan diri. Saat ditanya cara mengatasi stres, ia mengatakan berdoa dan mendapat dukungan dari suami. Pasien meyakini bahwa sakit merupakan ujian. Ia percaya dengan pengobatan medis dan doa, ia bisa sembuh. Pemeriksaan Fisik ? Keadaan umum: tampak sakit sedang-berat, kesadaran compos mentis. ? Tanda vital: TD 100/70 mmHg, Nadi 108x/menit, RR 24x/menit, Suhu 38,5°C. ? Kulit: ruam eritema menyebar di wajah, dada, punggung, lengan, sebagian tungkai. Lepuhan multipel dengan epidermis mudah terkelupas (positif tanda Nikolsky). Luas area luka ±15–20% TBSA. ? Mata: konjungtiva merah, sekret mukopurulen, pasien mengeluh nyeri dan pandangan kabur. ? Mulut: mukosa bibir dan orofaring penuh ulserasi, terdapat krusta berdarah, pasien sulit menelan. ? Genitalia: tampak lesi eritema dan erosi di daerah vulva. Pemeriksaan Penunjang ? Darah rutin: Leukosit 13.000/?L (meningkat), Hb 12 g/dL, Trombosit 220.000/?L. ? Elektrolit: Na 130 mmol/L (menurun), K 3,2 mmol/L (menurun). ? Fungsi ginjal: Ureum 45 mg/dL, Kreatinin 1,6 mg/dL ? tanda awal gangguan ginjal akibat dehidrasi. ? Tes fungsi hati: SGOT/SGPT meningkat ringan. ? Kultur darah & swab luka: sedang dalam pemeriksaan untuk menilai infeksi sekunder. ? Konsultasi oftalmologi: ditemukan konjungtivitis berat dengan risiko kerusakan kornea.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, sebagai perawat profesional, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan rekomendasi asuhan keperawatan yang sesuai untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Gangguan Integritas Kulit berhubungan dengan reaksi alergi akibat obat golongan sulfa, yang ditandai dengan ruam eritema, lepuhan, dan epidermis terkelupas.
2. Nyeri Kronis berhubungan dengan kerusakan jaringan kulit dan mukosa, yang ditandai dengan skala nyeri 9/10.
3. Perubahan Persepsi Sensori berhubungan dengan kerusakan kornea, yang ditandai dengan pandangan kabur.
4. Gangguan Makan berhubungan dengan ulserasi pada mulut dan tenggorokan, yang ditandai dengan asupan makan dan minum yang menurun.
5. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan berhubungan dengan dehidrasi, yang ditandai dengan penurunan elektrolit dan tanda awal gangguan ginjal.
6. Kecemasan berhubungan dengan perubahan citra diri, yang ditandai dengan pasien merasa cemas, takut, dan gelisah.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Integritas Kulit Membaik: Luas area luka berkurang, tidak ada tanda infeksi, epidermis mulai menutup.
2. Kontrol Nyeri Membaik: Skala nyeri berkurang menjadi 3-4/10, pasien dapat mengatasi nyeri dengan bantuan analgesik dan teknik nonfarmakologis.
3. Fungsi Sensorik Membaik: Pasien dapat melihat dengan jelas, tidak ada keluhan pandangan kabur.
4. Status Nutrisi Membaik: Asupan nutrisi dan cairan adekuat, tidak ada penurunan berat badan.
5. Perfusi Jaringan Membaik: Elektrolit dan fungsi ginjal kembali normal.
6. Kecemasan Terkontrol: Pasien dapat mengatasi kecemasan dengan dukungan psikologis dan spiritual.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan (SIKI):
1. Perawatan Luka: Debridement luka, aplikasi salep antibiotik, balut luka sesuai indikasi, pantau tanda infeksi.
2. Manajemen Nyeri: Berikan analgesik sesuai indikasi, ajarkan teknik nonfarmakologis seperti relaksasi, distraksi, dan terapi panas-dingin.
3. Perawatan Mata: Kompres mata hangat, instilasi obat tetes mata, pantau fungsi sensorik.
4. Dukungan Nutrisi: Berikan nutrisi enteral melalui sonde bila perlu, pantau asupan cairan dan elektrolit.
5. Manajemen Cairan: Berikan cairan intravena, monitor status hidrasi dan fungsi ginjal.
6. Terapi Suportif: Berikan dukungan psikologis dan spiritual, libatkan keluarga, ajarkan manajemen stres.
Penjelasan rinci:
1. Diagnosa Keperawatan SDKI:
a. Gangguan Integritas Kulit: Pasien mengalami reaksi alergi obat sulfa yang menyebabkan ruam eritema, lepuhan, dan epidermis terkelupas luas di tubuh.
b. Nyeri Kronis: Pasien mengeluh nyeri kulit yang sangat hebat dengan skala 9/10, serta nyeri pada mulut dan mata.
c. Perubahan Persepsi Sensori: Pasien mengeluh pandangan kabur, kemungkinan akibat kerusakan kornea.
d. Gangguan Makan: Pasien sulit makan dan minum karena adanya luka di mulut dan tenggorokan.
e. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan: Pasien mengalami dehidrasi, penurunan elektrolit, dan tanda awal gangguan ginjal.
f. Kecemasan: Pasien merasa cemas, takut, dan gelisah terkait perubahan citra dirinya.
2. Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
a. Integritas Kulit Membaik: Diharapkan luas area luka berkurang, tidak ada tanda infeksi, dan epidermis mulai menutup.
b. Kontrol Nyeri Membaik: Diharapkan skala nyeri pasien berkurang menjadi 3-4/10 dan dapat dikelola dengan bantuan analgesik dan teknik nonfarmakologis.
c. Fungsi Sensorik Membaik: Diharapkan pasien dapat melihat dengan jelas tanpa keluhan pandangan kabur.
d. Status Nutrisi Membaik: Diharapkan asupan nutrisi dan cairan pasien adekuat, tidak ada penurunan berat badan.
e. Perfusi Jaringan Membaik: Diharapkan elektrolit dan fungsi ginjal pasien kembali normal.
f. Kecemasan Terkontrol: Diharapkan pasien dapat mengatasi kecemasan dengan dukungan psikologis dan spiritual.
3. Intervensi Keperawatan yang Diperlukan (SIKI):
a. Perawatan Luka: Debridement luka, aplikasi salep antibiotik, balut luka sesuai indikasi, pantau tanda infeksi.
b. Manajemen Nyeri: Berikan analgesik sesuai indikasi, ajarkan teknik nonfarmakologis seperti relaksasi, distraksi, dan terapi panas-dingin.
c. Perawatan Mata: Kompres mata hangat, instilasi obat tetes mata, pantau fungsi sensorik.
d. Dukungan Nutrisi: Berikan nutrisi enteral melalui sonde bila perlu, pantau asupan cairan dan elektrolit.
e. Manajemen Cairan: Berikan cairan intravena, monitor status hidrasi dan fungsi ginjal.
f. Terapi Suportif: Berikan dukungan psikologis dan spiritual, libatkan keluarga, ajarkan manajemen stres.
Semoga informasi ini bermanfaat. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu untuk menanyakannya. Saya akan berusaha membantu Anda dengan sebaik-baiknya. -
Article No. 21525 | 05 Sep 2025
Klinis : px mengatakan sesak terpasang nasal kanul 3lpm, batuk kering hilang timbul dan telah di nebul dengan farbivent
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk kondisi pasien yang Anda sampaikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Berdasarkan kondisi pasien yang Anda deskripsikan, yaitu px mengatakan sesak terpasang nasal kanul 3lpm, batuk kering hilang timbul dan telah di nebul dengan farbivent, maka diagnosa keperawatan yang sesuai adalah:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
Penyebab: Peningkatan produksi sekret, kelemahan batuk, dan obstruksi jalan napas.
Tanda dan gejala: Sesak napas, batuk produktif, dan bunyi napas tambahan.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Bersihan Jalan Napas
- Pasien dapat batuk efektif untuk mengeluarkan sekret.
- Pasien dapat bernafas dengan irama dan kedalaman yang normal.
- Pasien tidak mengalami distres pernapasan.
- Pasien dapat mempertahankan saturasi oksigen dalam batas normal.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Jalan Napas
- Pantau status pernapasan pasien (frekuensi, irama, kedalaman, dan penggunaan otot bantu pernapasan).
- Berikan oksigen sesuai kebutuhan melalui nasal kanul.
- Lakukan nebulisasi dengan bronkodilator (farbivent) untuk membantu melonggarkan jalan napas.
- Ajarkan teknik batuk efektif dan latihan pernapasan untuk membantu pengeluaran sekret.
- Pertahankan posisi semi-fowler untuk memfasilitasi ekspansi paru.
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (dokter, fisioterapis) untuk penatalaksanaan lebih lanjut jika diperlukan.
Penjelasan Rinci:
1. Diagnosa Keperawatan SDKI "Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif"
- Kondisi pasien yang mengalami sesak napas dan batuk kering hilang timbul menunjukkan adanya masalah dengan bersihan jalan napas yang tidak efektif.
- Penyebabnya adalah peningkatan produksi sekret dan obstruksi jalan napas, yang ditandai dengan sesak napas dan bunyi napas tambahan.
2. Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI)
- Tujuan asuhan keperawatan adalah untuk memulihkan bersihan jalan napas yang efektif, sehingga pasien dapat bernapas dengan nyaman, mengeluarkan sekret dengan batuk yang efektif, dan mempertahankan saturasi oksigen dalam batas normal.
3. Intervensi Keperawatan yang Diperlukan (SIKI)
- Intervensi berfokus pada manajemen jalan napas, termasuk pemantauan status pernapasan, pemberian oksigen, nebulisasi bronkodilator, latihan batuk efektif, dan mempertahankan posisi semi-fowler untuk memfasilitasi ekspansi paru.
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (dokter, fisioterapis) diperlukan untuk penatalaksanaan lebih lanjut jika diperlukan.
Semoga penjelasan ini dapat membantu Anda dalam memahami diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi yang sesuai untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan. Jangan ragu untuk bertanya jika ada hal yang belum jelas.