Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 4000 | 30 Oct 2024
Klinis : gatal gatal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, sebagai seorang perawat profesional, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi gatal-gatal.
Diagnosa Keperawatan:
Pruritus
Definisi:
Pruritus adalah sensasi tidak nyaman pada kulit yang menyebabkan keinginan kuat untuk menggaruk.
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Pruritus didefinisikan sebagai sensasi tidak nyaman pada kulit yang menyebabkan keinginan kuat untuk menggaruk. Penyebab pruritus dapat berasal dari berbagai macam kondisi, seperti alergi, infeksi, penyakit kulit, atau kondisi sistemik lainnya.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan pada pasien dengan pruritus adalah menurunnya sensasi gatal, tidak terdapat kerusakan kulit akibat garukan, dan tidak terjadi infeksi sekunder.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi pruritus antara lain pemberian obat anti-gatal, terapi dingin, terapi panas, perawatan kulit, dan edukasi bagi pasien dan keluarga mengenai manajemen gatal.
Sebagai perawat, saya akan melakukan evaluasi secara komprehensif terhadap pasien, mengidentifikasi penyebab gatal-gatal, dan menyusun rencana asuhan keperawatan yang sesuai dengan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari PPNI. Tujuannya adalah untuk membantu pasien mengatasi sensasi gatal, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kualitas hidup. -
Article No. 4001 | 30 Oct 2024
Klinis : Pemeliharaan Kesehatan Tidak Efektif [SDKI D.0117]
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI-SLKI-SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi "Pemeliharaan Kesehatan Tidak Efektif" [SDKI D.0117].
Diagnosa Keperawatan:
Pemeliharaan Kesehatan Tidak Efektif [SDKI D.0117]
Definisi:
Ketidakmampuan individu untuk mengidentifikasi, mengatur, dan memenuhi kebutuhan kesehatan secara mandiri.
Penyebab:
1. Kurangnya pengetahuan tentang pemeliharaan kesehatan.
2. Kurangnya motivasi untuk memelihara kesehatan.
3. Hambatan ekonomi dalam mengakses sumber daya kesehatan.
4. Keterbatasan fisik atau kognitif.
Gejala dan Tanda:
1. Ketidakpatuhan terhadap regimen pengobatan.
2. Keterlambatan dalam mencari perawatan kesehatan.
3. Ketidakmampuan untuk melakukan kegiatan perawatan diri.
4. Kurangnya partisipasi dalam program kesehatan.
Intervensi Keperawatan:
1. Asesmen: Kaji pengetahuan, motivasi, dan hambatan pasien dalam memelihara kesehatan.
2. Edukasi: Berikan edukasi tentang pemeliharaan kesehatan yang efektif.
3. Fasilitasi: Bantu pasien mengidentifikasi dan mengakses sumber daya kesehatan yang sesuai.
4. Monitoring: Pantau kemajuan pasien dalam memelihara kesehatan.
SDKI, SLKI, dan SIKI:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Merupakan standar yang digunakan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan pasien dan menentukan diagnosa keperawatan.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Merupakan standar yang digunakan untuk menentukan hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Merupakan standar yang digunakan untuk menentukan tindakan keperawatan yang akan dilakukan untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Dalam kasus ini, SDKI yang digunakan adalah "Pemeliharaan Kesehatan Tidak Efektif [SDKI D.0117]". Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan berdasarkan SIKI meliputi asesmen, edukasi, fasilitasi, dan monitoring. Luaran yang diharapkan berdasarkan SLKI adalah pasien dapat memelihara kesehatan secara efektif. -
Article No. 4002 | 30 Oct 2024
Klinis : Risiko Gangguan Alergi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi risiko gangguan alergi. Saya akan memberikan penjelasan dengan nada akademis dan persona pakar/perawat.
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Gangguan Alergi
Definisi:
Risiko Gangguan Alergi adalah kondisi di mana individu berisiko mengalami reaksi hipersensitivitas yang tidak sesuai terhadap suatu alergen.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Riwayat alergi sebelumnya
2. Paparan terhadap alergen
3. Faktor predisposisi alergi (genetik, usia, jenis kelamin)
4. Respons imun yang berlebihan terhadap alergen
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Tidak terjadi reaksi alergi
2. Tanda-tanda vital stabil
3. Tidak terjadi komplikasi alergi
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Identifikasi faktor risiko alergi
2. Edukasi pencegahan paparan alergen
3. Pemberian terapi antihistamin atau obat lain sesuai rekomendasi dokter
4. Pemantauan tanda-tanda vital dan reaksi alergi
Dalam mengelola risiko gangguan alergi, perawat berperan penting dalam mengidentifikasi faktor risiko, memberikan edukasi pencegahan, serta memantau kondisi pasien secara ketat untuk mencegah terjadinya reaksi alergi yang dapat mengancam jiwa. Penerapan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dapat membantu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan terstandar. -
Article No. 4003 | 30 Oct 2024
Klinis : pasien menanyakan apa sakitnya segerah sembuh
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi tersebut, dengan tone akademis dan persona sebagai pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan:
Kecemasan Berhubungan dengan Ketidakpastian Kondisi Kesehatan
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Kecemasan adalah perasaan tidak nyaman atau khawatir yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya. Pada kasus ini, pasien merasa cemas karena ketidakpastian kondisi kesehatannya dan berharap agar sakitnya segera sembuh.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari diagnosa ini adalah pasien dapat menunjukkan penurunan tingkat kecemasan, dapat mengidentifikasi sumber kecemasan, dan dapat menerapkan strategi koping yang efektif untuk mengatasi kecemasannya.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi yang dapat diberikan adalah:
1. Manajemen Kecemasan: Memberikan dukungan emosional, mengidentifikasi penyebab kecemasan, dan mengajarkan teknik relaksasi.
2. Peningkatan Koping: Membantu pasien mengidentifikasi strategi koping yang efektif, dan meningkatkan kemampuan pasien dalam mengelola kecemasannya.
3. Edukasi Kesehatan: Memberikan informasi yang akurat dan jelas mengenai kondisi kesehatan pasien, prognosis, dan rencana perawatan.
Dengan penerapan SDKI, SLKI, dan SIKI yang tepat, diharapkan pasien dapat mengalami penurunan kecemasan dan meningkatkan kemampuan dalam mengelola kecemasannya, sehingga kondisi kesehatannya dapat segera pulih. -
Article No. 4004 | 30 Oct 2024
Klinis : RESIKO INFEKSI
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, sebagai seorang perawat profesional, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat terkait standar SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang dikeluarkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi "Risiko Infeksi".
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Infeksi
Definisi: Kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen, yang dapat membahayakan kesehatan.
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Risiko Infeksi merupakan diagnosa keperawatan yang termasuk dalam domain Keamanan/Perlindungan, kelas Infeksi. Diagnosa ini mengidentifikasi adanya risiko atau kerentanan pasien terhadap infeksi yang dapat berdampak buruk pada kesehatan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Beberapa luaran keperawatan yang dapat dicapai dalam penanganan risiko infeksi, antara lain:
1. Kontrol Infeksi: Kemampuan individu untuk mencegah atau mengendalikan infeksi.
2. Integritas Kulit: Kemampuan individu untuk mempertahankan kondisi kulit yang sehat.
3. Penyembuhan Luka: Kemampuan individu untuk memulihkan luka dengan baik.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengelola risiko infeksi, meliputi:
1. Manajemen Risiko Infeksi: Upaya untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengendalikan faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko infeksi.
2. Pencegahan Infeksi: Tindakan untuk mencegah atau meminimalkan transmisi agen infeksi.
3. Perawatan Luka: Tindakan untuk memelihara integritas kulit dan mempromosikan penyembuhan luka.
Dengan mengacu pada standar SDKI, SLKI, dan SIKI, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan terstruktur untuk mengelola risiko infeksi pada pasien. -
Article No. 4005 | 30 Oct 2024
Klinis : RESIKO INFEKSI
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat standar SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi "Resiko Infeksi" dengan nada akademis dan persona sebagai pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan:
Resiko Infeksi
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Resiko Infeksi didefinisikan sebagai kerentanan terhadap invasi dan proliferasi organisme patogen yang dapat mengganggu kesehatan. Faktor-faktor risiko yang dapat menyebabkan kondisi ini antara lain penurunan sistem imun, prosedur invasif, malnutrisi, dan lingkungan yang tidak higienis.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan pada pasien dengan risiko infeksi adalah: Tidak terjadi infeksi, Tanda-tanda infeksi minimal, dan Pemulihan infeksi yang cepat. Indikator yang dapat digunakan untuk mengevaluasi luaran ini mencakup tanda-tanda vital, hasil pemeriksaan laboratorium, dan observasi klinis.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat diberikan untuk mencegah dan mengelola risiko infeksi meliputi: Menjaga higiene diri pasien, Mempertahankan lingkungan yang bersih dan steril, Memantau tanda-tanda vital dan gejala infeksi, Memberikan edukasi tentang pencegahan infeksi, Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk pemberian terapi antibiotik atau antiviral jika diperlukan.
Dengan menerapkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan terstruktur untuk mengelola risiko infeksi pada pasien, sehingga dapat mencegah terjadinya infeksi atau mempercepat pemulihan jika infeksi sudah terjadi. -
Article No. 4006 | 30 Oct 2024
Klinis : DO: Suhu: 39,2°C Akral teraba hangat DS: Ibu klien mengatakan An. N demam sejak seminggu lalu, demam naik-turun
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dalam kasus ini, berdasarkan data objektif (DO) dan data subjektif (DS) yang diberikan, diagnosis keperawatan yang sesuai adalah:
1. Hipertermia
Definisi: Peningkatan suhu tubuh di atas 37,2°C (99°F) yang disebabkan oleh berbagai faktor, seperti infeksi, gangguan termoregulasi, atau respon terhadap stres.
Penjelasan singkat:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Peningkatan suhu tubuh di atas ambang batas normal.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Suhu tubuh kembali normal, tidak ada tanda-tanda infeksi, dan klien menunjukkan perilaku yang sesuai dengan perkembangannya.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi hipertermia, seperti pemberian kompres hangat, pengaturan lingkungan, dan pemantauan tanda-tanda vital.
Berdasarkan informasi yang diberikan, klien mengalami demam sejak seminggu lalu dengan suhu tubuh mencapai 39,2°C dan akral teraba hangat. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan suhu tubuh atau hipertermia yang perlu ditangani. -
Article No. 4007 | 30 Oct 2024
Klinis : DO: Suhu: 39,2°C Akral teraba hangat DS: Ibu klien mengatakan An. N demam sejak seminggu lalu, demam naik-turun
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan data objektif (DO) dan data subjektif (DS) yang diberikan, dapat ditegakkan diagnosis keperawatan sebagai berikut:
1. Diagnosa Keperawatan: Hipertermia
Penjelasan:
- Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh di atas normal (>37,5°C) yang disebabkan oleh peningkatan produksi panas atau penurunan hilangnya panas tubuh.
- Tanda-tanda yang muncul pada kasus ini adalah suhu tubuh 39,2°C dan akral (ekstremitas) teraba hangat.
2. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI):
- Judul: Hipertermia
- Definisi: Peningkatan suhu tubuh di atas batas normal.
- Faktor yang berhubungan: Infeksi, proses peradangan, dehidrasi, lingkungan panas, gangguan mekanisme pengaturan suhu.
3. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):
- Judul: Suhu Tubuh
- Definisi: Kemampuan individu untuk mempertahankan suhu tubuh normal.
- Kriteria hasil: Suhu tubuh dalam rentang normal, kulit hangat dan kering, tidak ada tanda-tanda demam atau hipotermia.
4. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
- Judul: Manajemen Hipertermia
- Definisi: Serangkaian tindakan keperawatan untuk menurunkan suhu tubuh yang meningkat di atas normal.
- Tindakan keperawatan: Mengobservasi tanda-tanda vital, menurunkan suhu tubuh dengan kompres hangat, pemberian antipiretik, menjaga hidrasi, dan menghindari lingkungan panas.
Dalam kasus ini, diperlukan intervensi keperawatan untuk mengatasi hipertermia, yaitu dengan memantau tanda-tanda vital, menurunkan suhu tubuh secara bertahap, menjaga hidrasi, dan menghindari lingkungan panas. Hal ini bertujuan untuk mencapai kriteria hasil berupa suhu tubuh dalam rentang normal. -
Article No. 4008 | 30 Oct 2024
Klinis : DO: Volume urin menurun, urin berwarna pekat Pasien terlihat lemah dan pucat Mukosa bibir terlihat kering Mata terlihat cekung DS: Ibu klien mengatakan An. N selalu muntah setiap selesai makan Ibu klien mengatakan An. N sudah muntah 6 kali sejak Senin siang sampai Selasa pagi sebelum masuk rumah sakit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Gangguan Keseimbangan Cairan
- SDKI: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
- SLKI: Risiko Ketidakseimbangan Cairan
- SIKI: Pengelolaan Cairan
Penjelasan singkat:
Kondisi pasien dengan penurunan volume urin, urin berwarna pekat, serta gejala klinis seperti lemah, pucat, mukosa bibir kering, dan mata cekung menunjukkan adanya risiko gangguan keseimbangan cairan. Hal ini dapat disebabkan oleh episode muntah yang dialami pasien. Perawat perlu melakukan intervensi untuk memantau dan menjaga keseimbangan cairan pasien.
2. Mual
- SDKI: Mual
- SLKI: Mual
- SIKI: Penatalaksanaan Mual
Penjelasan singkat:
Pasien mengalami mual yang dibuktikan dengan keluhan muntah setiap selesai makan. Perawat perlu melakukan intervensi untuk mengatasi mual dan mencegah komplikasi, seperti dehidrasi, yang dapat terjadi akibat muntah.
Sebagai perawat, saya akan melakukan penilaian lebih lanjut, memantau tanda-tanda vital, cairan masuk-keluar, dan mengkaji faktor-faktor yang mungkin menyebabkan mual dan gangguan keseimbangan cairan. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain pemberian antiemetik, terapi cairan, dan edukasi untuk mencegah komplikasi. -
Article No. 4009 | 30 Oct 2024
Klinis : gigitan kucing
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Sebagai seorang [peran], saya akan memberikan kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis pada kondisi gigitan kucing.
1. Kode ICD-10:
- Kode: W55.01XA
- Deskripsi: Gigitan kucing, pertemuan awal
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 98.11
- Deskripsi: Debridemen dan irigasi luka, sederhana
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 W55.01XA mengacu pada gigitan kucing yang terjadi pada pertemuan awal (initial encounter). Kode ini termasuk dalam kategori W55 "Kontak dengan kucing" dari Bab XX Kode ICD-10 yang berjudul "Penyebab eksternal cedera dan keracunan".
2. Kode ICD-9-CM 98.11 menggambarkan tindakan debridemen dan irigasi luka sederhana yang dapat dilakukan untuk penanganan gigitan kucing. Tindakan ini termasuk dalam Bab 99 "Prosedur terapeutik dan rehabilitatif, tidak diklasifikasikan di tempat lain" dari Kode ICD-9-CM.
Penanganan gigitan kucing biasanya meliputi pembersihan, debridemen, dan irigasi luka untuk mencegah infeksi. Antibiotik topikal atau sistemik mungkin juga diberikan sesuai dengan penilaian klinis. Tindakan lainnya, seperti pemberian vaksin antitetanus, dapat dilakukan jika diperlukan.