Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 4228 | 01 Nov 2024
Klinis : Seorang pasien, laki-laki Tn L, 54 tahun, pekerjaan buruh, dirawat di bangsal Paru dengan keluhan utama sesak napas, batuk berdarah, seluruh tubuh lemas dan berkeringat dingin pada malam hari. Riwayat keluhan pasien mengatakan 4 hari yang lalu merasakan seluruh badan lemas, sesak napas dan batuk berlendir susah dikeluarkan, keringat di malam hari. Selama di rumah pasien minum obat yang dibeli di kios. Nama obat pasien lupa. Satu hari yang lalu pasien merasa sangat sesak nafas, batuk dan badan lemas. Oleh keluarga diantar ke rumah sakit. Riwayat kesehatan dahulu, pasien mengatakan baru pertama kali masuk rumah sakit, pasien pernah mendapatkan obat Tb dari puskesmas. Riwayat kesehatan keluarga pasien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama seperti pasien. Pasien tinggal serumah bersama istri dan 3 orang anak, 1 anak sudah kuliah, 1 anak SMA dan 1 anak SD. Sebelum sakit pasien mengatakan makan 3x sehari dengan nasi, sayur, lauk. Biasanya 1 porsi habis, minum menghabiskan kurang lebih 8 gelas per hari diselingi teh hangat di pagi hari dan kopi di sore hari. Selama di rawat di RS makan 3x sehari dengan porsi habis sedikit. Pasien mengatakan malas makan, hanya menghabiskan ¼ porsi porsi makanan yang disediakan oleh rumah sakit diet TKTP. TB: 168 cm, Berat badan (BB) sebelum sakit 68 kg, saat sakit berat badan (BB) 52,2 kg, LILA: 27 cm, IMT: 18,7. Sebelum sakit klien mengatakan kurang mementingkan kesehatan. Pasien mengira sakit ini hanya batuk biasa, tidak parah. Bila pasien sakit hanya minum minuman herbal dan jarang minum obat. Sekarang sejak sakit pasien menyadari pentingnya kesehatan. Terkait pengetahuan tentang penyakit saat ini pasien menyadari sakit TB paru ini harus melakukan pengobatan secara intensif. Pasien menjaga kesehatan dengan rutin minum obat dan tidak pernah putus obat. Pasien mengatakan bahwa telah mendapatkan penjelasan tentang TBC dari dokter ataupun perawat. Ketika ditanya Apakah yang bapak ketahui tentang TBC? Pasien menjawab “yang saya ketahui tentang TBC adalah penyakit menular lewat percikan ludah waktu berbicara, batuk, bersin. Saya memakai masker saat dekat dengan anak, istri atau saudara. Pasien mengatakan dirinya sedang menderita penyakit yang sangat berat, pasien tidak pernah terpikirkan akan menderita penyakit TBC, pasien merasa cemas dengan penyakitnya saat ini. Pola tidur dan istirahat sebelum sakit normal 7-9 jam, saat sakit tidur malam hanya 3-4 jam saja karena batuk dan sesak nafas. Sebelum sakit pasien mengatakan bekerja sebagai teknisi di pabrik, pasien tidak pernah berolahraga. Pasien dapat memenuhi kebutuhan ADL, seperti mandi, berpakaian, pergi ke toilet, berjalan, makan, minum dilakukan secara mandiri. Selama dirawat pasien mengatakan sulit bergerak bebas karena tangan kanan terpasang infus. Makan dan minum dilakukan secara mandiri, sedangkan mandi dan berpakaian di bantu istri. Pasien mengatakan sebelum dirawat biasanya BAB 1x dalam sehari dengan konsistensi lunak berwarna kuning. Selama di rawat pasien mengatakan sudah 5 hari tidak BAB, pengeluaran feses lama dan sulit. Teraba masa pada colon. Pasien mengatakan sebelum dirawat frekuensi BAK kurang lebih 6 – 8 kali dalam sehari dengan warna urine kekuningan. Selama di rawat frekuensi dan warna BAK tidak berubah dari sebelum di rawat. Hasil yang diperoleh dari pemeriksaan fisik adalah keadaan umum pasien tampak lemah, pasien tampak sesak napas, napas cepat dan dangkal, batuk tetapi hanya sedikit lendir yang keluar, kesadaran composmentis dengan GCS: E4V5M6. TTV: TD 90/60 mmHg, S 36C, N 97x/menit, RR: 26 x/menit. Hasil pemeriksaan laboratorium: Hb: 11,2 g/dL Jumlah Eritrosit: 4,77 10^6/uL Ht: 34,0% MCV: 71,3 fL MCH: 23,5 pg Jumlah Lekosit: 9,53 10^3/ul Eosinofil: 6,4% Basofil: 0,6% Neutrofil: 92 % Limfosit: 20,0% Monosit: 7,7% Jumlah Eosinofil 1,0 10^3/ul GDS: 147 g/dl BUN: 13,0 md/dl Creatinin: 0,82 mg/dl (normal : 0,7 – 1,3 mg/dl) Natrium darah: 131 mEq/l Kalium 3,4 mEq/L Hasil pemeriksaan BTA Bakteriologi TB yaitu: +3 ( S,P) (normal : -/-/-) Hasil tes cepat Xpert MTB : hasil probe A,B,C,D,E positif ( normal : negative). Therapi Cairan infus: IVFD Aminoflud 1000 cc/24 jam Ceftriaxon 2x2 gr drip Nacl 100cc 30 tetes permenit Aspar K 3 x 1 moxifloxacin 1 x 40 mg Nebulizer combiven + pulmicor/ 8 jam
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kasus yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
2. Intoleransi Aktivitas
3. Perubahan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
4. Konstipasi
Penjelasan Singkat:
1. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
- SDKI: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas terbuka.
- SLKI: Peningkatan kemampuan bersihan jalan napas.
- SIKI: Tindakan keperawatan yang diberikan untuk membantu pasien dalam membersihkan jalan napas.
2. Intoleransi Aktivitas
- SDKI: Ketidakmampuan untuk mentolerir aktivitas fisik.
- SLKI: Peningkatan toleransi aktivitas.
- SIKI: Tindakan keperawatan untuk membantu pasien meningkatkan toleransi aktivitas.
3. Perubahan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
- SDKI: Asupan makanan dan cairan yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- SLKI: Peningkatan status nutrisi.
- SIKI: Tindakan keperawatan untuk membantu pasien meningkatkan status nutrisinya.
4. Konstipasi
- SDKI: Penurunan frekuensi pengeluaran feses, yang dapat disertai dengan pengeluaran feses yang sulit atau tidak nyaman.
- SLKI: Peningkatan eliminasi gastrointestinal.
- SIKI: Tindakan keperawatan untuk membantu pasien meningkatkan eliminasi gastrointestinal.
Penjelasan singkat:
Pasien mengalami sesak napas, batuk berdarah, seluruh tubuh lemas, dan berkeringat dingin pada malam hari, yang mengarah pada diagnosa keperawatan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas. Pasien juga mengalami intoleransi aktivitas, yang dapat dilihat dari penurunan berat badan dan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan ADL. Selain itu, pasien mengalami perubahan nutrisi karena penurunan berat badan yang signifikan dan penurunan nafsu makan, sehingga muncul diagnosa Perubahan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh. Pasien juga mengalami konstipasi, yang diindikasikan oleh tidak adanya BAB selama 5 hari. -
Article No. 4229 | 01 Nov 2024
Klinis : Seorang pasien, laki-laki Tn L, 54 tahun, pekerjaan buruh, dirawat di bangsal Paru dengan keluhan utama sesak napas, batuk berdarah, seluruh tubuh lemas dan berkeringat dingin pada malam hari. Riwayat keluhan pasien mengatakan 4 hari yang lalu merasakan seluruh badan lemas, sesak napas dan batuk berlendir susah dikeluarkan, keringat di malam hari. Selama di rumah pasien minum obat yang dibeli di kios. Nama obat pasien lupa. Satu hari yang lalu pasien merasa sangat sesak nafas, batuk dan badan lemas. Oleh keluarga diantar ke rumah sakit. Riwayat kesehatan dahulu, pasien mengatakan baru pertama kali masuk rumah sakit, pasien pernah mendapatkan obat Tb dari puskesmas. Riwayat kesehatan keluarga pasien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama seperti pasien. Pasien tinggal serumah bersama istri dan 3 orang anak, 1 anak sudah kuliah, 1 anak SMA dan 1 anak SD. Sebelum sakit pasien mengatakan makan 3x sehari dengan nasi, sayur, lauk. Biasanya 1 porsi habis, minum menghabiskan kurang lebih 8 gelas per hari diselingi teh hangat di pagi hari dan kopi di sore hari. Selama di rawat di RS makan 3x sehari dengan porsi habis sedikit. Pasien mengatakan malas makan, hanya menghabiskan ¼ porsi porsi makanan yang disediakan oleh rumah sakit diet TKTP. TB: 168 cm, Berat badan (BB) sebelum sakit 68 kg, saat sakit berat badan (BB) 52,2 kg, LILA: 27 cm, IMT: 18,7. Sebelum sakit klien mengatakan kurang mementingkan kesehatan. Pasien mengira sakit ini hanya batuk biasa, tidak parah. Bila pasien sakit hanya minum minuman herbal dan jarang minum obat. Sekarang sejak sakit pasien menyadari pentingnya kesehatan. Terkait pengetahuan tentang penyakit saat ini pasien menyadari sakit TB paru ini harus melakukan pengobatan secara intensif. Pasien menjaga kesehatan dengan rutin minum obat dan tidak pernah putus obat. Pasien mengatakan bahwa telah mendapatkan penjelasan tentang TBC dari dokter ataupun perawat. Ketika ditanya Apakah yang bapak ketahui tentang TBC? Pasien menjawab “yang saya ketahui tentang TBC adalah penyakit menular lewat percikan ludah waktu berbicara, batuk, bersin. Saya memakai masker saat dekat dengan anak, istri atau saudara. Pasien mengatakan dirinya sedang menderita penyakit yang sangat berat, pasien tidak pernah terpikirkan akan menderita penyakit TBC, pasien merasa cemas dengan penyakitnya saat ini. Pola tidur dan istirahat sebelum sakit normal 7-9 jam, saat sakit tidur malam hanya 3-4 jam saja karena batuk dan sesak nafas. Sebelum sakit pasien mengatakan bekerja sebagai teknisi di pabrik, pasien tidak pernah berolahraga. Pasien dapat memenuhi kebutuhan ADL, seperti mandi, berpakaian, pergi ke toilet, berjalan, makan, minum dilakukan secara mandiri. Selama dirawat pasien mengatakan sulit bergerak bebas karena tangan kanan terpasang infus. Makan dan minum dilakukan secara mandiri, sedangkan mandi dan berpakaian di bantu istri. Pasien mengatakan sebelum dirawat biasanya BAB 1x dalam sehari dengan konsistensi lunak berwarna kuning. Selama di rawat pasien mengatakan sudah 5 hari tidak BAB, pengeluaran feses lama dan sulit. Teraba masa pada colon. Pasien mengatakan sebelum dirawat frekuensi BAK kurang lebih 6 – 8 kali dalam sehari dengan warna urine kekuningan. Selama di rawat frekuensi dan warna BAK tidak berubah dari sebelum di rawat. Hasil yang diperoleh dari pemeriksaan fisik adalah keadaan umum pasien tampak lemah, pasien tampak sesak napas, napas cepat dan dangkal, batuk tetapi hanya sedikit lendir yang keluar, kesadaran composmentis dengan GCS: E4V5M6. TTV: TD 90/60 mmHg, S 36C, N 97x/menit, RR: 26 x/menit. Hasil pemeriksaan laboratorium: Hb: 11,2 g/dL Jumlah Eritrosit: 4,77 10^6/uL Ht: 34,0% MCV: 71,3 fL MCH: 23,5 pg Jumlah Lekosit: 9,53 10^3/ul Eosinofil: 6,4% Basofil: 0,6% Neutrofil: 92 % Limfosit: 20,0% Monosit: 7,7% Jumlah Eosinofil 1,0 10^3/ul GDS: 147 g/dl BUN: 13,0 md/dl Creatinin: 0,82 mg/dl (normal : 0,7 – 1,3 mg/dl) Natrium darah: 131 mEq/l Kalium 3,4 mEq/L Hasil pemeriksaan BTA Bakteriologi TB yaitu: +3 ( S,P) (normal : -/-/-) Hasil tes cepat Xpert MTB : hasil probe A,B,C,D,E positif ( normal : negative). Therapi Cairan infus: IVFD Aminoflud 1000 cc/24 jam Ceftriaxon 2x2 gr drip Nacl 100cc 30 tetes permenit Aspar K 3 x 1 moxifloxacin 1 x 40 mg Nebulizer combiven + pulmicor/ 8 jam
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, saya dapat memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi pasien Tn L sebagai berikut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas berhubungan dengan peningkatan produksi sekret dan batuk tidak efektif, ditandai dengan sesak napas, napas cepat dan dangkal, dan sputum yang sulit dikeluarkan.
2. Risiko Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum dan penurunan berat badan, ditandai dengan pasien tampak lemah dan mudah lelah.
3. Defisit Nutrisi berhubungan dengan asupan makanan yang tidak adekuat, ditandai dengan penurunan berat badan yang signifikan.
4. Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas usus, ditandai dengan pasien mengeluh tidak BAB selama 5 hari dan teraba masa pada colon.
5. Kecemasan berhubungan dengan dampak penyakit yang dialami, ditandai dengan pasien merasa cemas dengan penyakitnya saat ini.
Penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
2. Risiko Intoleransi Aktivitas: Rentan mengalami kelelahan atau keterbatasan dalam mempertahankan aktivitas yang diinginkan atau dibutuhkan karena kurangnya energi.
3. Defisit Nutrisi: Asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
4. Konstipasi: Pengalaman sulit, tidak teratur, atau tidak lengkap dalam buang air besar.
5. Kecemasan: Respon emosional terhadap sumber ancaman yang tidak jelas atau tidak dikenal, yang ditandai oleh perasaan khawatir, was-was, dan takut.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Bersihan Jalan Napas Efektif, Toleransi Aktivitas Membaik, Keseimbangan Nutrisi Membaik, Pola Eliminasi Membaik, Tingkat Kecemasan Menurun.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Jalan Napas, Manajemen Energi, Manajemen Nutrisi, Manajemen Eliminasi, Manajemen Kecemasan.
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat akan menggunakan intervensi keperawatan sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah ditetapkan untuk mencapai luaran keperawatan yang diharapkan. -
Article No. 4230 | 01 Nov 2024
Klinis : Sakit gigi
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis terkait kondisi "Sakit Gigi":
1. Kode ICD-10:
- Kode: K08.8
- Deskripsi: Lain-lain gangguan gigi dan struktur pendukung yang tidak diklasifikasikan di tempat lain.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 23.1
- Deskripsi: Ekstraksi gigi, gigi tunggal.
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 K08.8 digunakan untuk menggambarkan kondisi sakit gigi yang tidak dapat diklasifikasikan pada kategori lain dalam Klasifikasi Internasional Penyakit-10. Ini mencakup berbagai gangguan gigi dan struktur pendukung, seperti nyeri gigi, iritasi gusi, dan kondisi lainnya yang menyebabkan ketidaknyamanan atau rasa sakit.
2. Kode ICD-9-CM 23.1 adalah kode prosedur untuk ekstraksi gigi tunggal. Prosedur ini mungkin diperlukan dalam penanganan sakit gigi yang parah atau kondisi lain yang membutuhkan penghapusan gigi.
Penggunaan kode-kode ini penting untuk dokumentasi medis yang akurat, penagihan yang tepat, dan analisis epidemiologis terkait kondisi gigi dan mulut. Kode-kode ini membantu memastikan perawatan yang tepat dan pembayaran yang adil bagi pasien. -
Article No. 4231 | 01 Nov 2024
Klinis : Luka robek
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis untuk kondisi "Luka robek" sesuai format yang Anda minta.
1. Kode ICD-10:
- Kode: S01.0
- Deskripsi: Luka robek pada kepala
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 86.59
- Deskripsi: Prosedur penjahitan luka lainnya, tidak diklasifikasikan di tempat lain
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 S01.0 merupakan kode untuk "Luka robek pada kepala". Kode ini digunakan untuk menggambarkan luka terbuka pada area kepala, yang dapat melibatkan kulit, jaringan di bawahnya, atau struktur lainnya.
2. Kode ICD-9-CM 86.59 merupakan kode untuk "Prosedur penjahitan luka lainnya, tidak diklasifikasikan di tempat lain". Kode ini digunakan untuk prosedur penjahitan luka yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam kode prosedur penjahitan luka yang lebih spesifik.
Dalam praktik medis, pemilihan kode yang tepat sangat penting untuk dokumentasi yang akurat, penagihan yang sesuai, dan analisis epidemiologi yang efektif. Kode ICD-10 dan ICD-9-CM merupakan sistem klasifikasi internasional yang digunakan secara luas dalam pencatatan dan pelaporan informasi kesehatan. -
Article No. 4232 | 01 Nov 2024
Klinis : pasien datang dengan kelemahan anggota gerak kanan sejak rabu namun hilang timbul. Sehari lemas anggota gerak kanan lalu membaik kemudian berulang beberapa hari kemudian. Pasien pagi ini mengeluh lemah anggota gerak kanan, kaki kanan berat. Pasien merasa bicara terseret dan sulit. Pusing (-) mual muntah (-) Tidak ada riwayat sakit sebelumnya karena tidak pernah periksa KU cukup, E4V5M6 Td: 183/100mmhg HR: 71x/menit RR: 18 x/menit Suhu : 36.6°C SpO2: 98% RA, Kepala: CA (- / - ) SI (-/ - ) Pupil isokor ( 3mm /3mm ) Ref. Cahaya (+ / + ) Leher: JVP dbn. PKGB (- ) Thorax: Simetris. Retraksi (-). SDV (+ / +), ST (- / - ), Ronkhi (-/- ), Wheezing (- / -) Cor : BJ I-II N reg. bising (- ) Abdomen: Soefl, BU (+ ) N, NT (- ), Hepatomegali (- ), Ascites (- ) Ekstermitas: ad - | - - | - ; edem - | - + | + minimal, CRT < 2 detik status neurologis : NC III, IV, VI pupil isokor +/+, Refleks cahaya langsung +/+, Refleks cahaya tidak langsung +/+, GBM seluruh lapang pandang +/+ NC VII angkat alis +/+ menggembungkan +/+, meringis +/+ garis bibir kanan lebih pudar NC XII deviasi lidah ke kanan Kekuatan Otot : ekstremitas atas 4/5 ekstremitas bawah 4+/5 Refleks Fisiogis : +2/+2/+2/+2 Meningeal sign : kaku kuduk (-) Brudzinski 1 (-) Brudzinski 2 (-) Refleks
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat menggunakan standar SDKI - SLKI - SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Mobilitas Fisik Berhubungan Dengan Kelemahan Anggota Gerak Kanan
Penjelasan Singkat:
- SDKI: Gangguan Mobilitas Fisik adalah kemampuan untuk bergerak yang terbatas atau tidak memadai, yang mengakibatkan keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
- SLKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan meliputi Manajemen Aktivitas, Manajemen Mobilitas, dan Terapi Latihan.
- SIKI: Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan antara lain Memfasilitasi Pergerakan, Melatih Aktivitas Motorik, dan Mengoptimalkan Fungsi Ekstremitas.
2. Gangguan Komunikasi Verbal Berhubungan Dengan Adanya Disfungsi Saraf Kranial
Penjelasan Singkat:
- SDKI: Gangguan Komunikasi Verbal adalah keterbatasan dalam mengekspresikan atau menerima informasi secara lisan.
- SLKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan meliputi Manajemen Komunikasi, Terapi Wicara, dan Edukasi Komunikasi.
- SIKI: Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan antara lain Memfasilitasi Komunikasi Verbal, Menyediakan Alat Bantu Komunikasi, dan Memberikan Edukasi Komunikasi.
Berdasarkan kondisi pasien yang Anda deskripsikan, pemeriksaan fisik, dan temuan klinis, diagnosa keperawatan yang paling sesuai adalah Gangguan Mobilitas Fisik Berhubungan Dengan Kelemahan Anggota Gerak Kanan, serta Gangguan Komunikasi Verbal Berhubungan Dengan Adanya Disfungsi Saraf Kranial. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan mengacu pada SLKI dan SIKI yang telah disebutkan. -
Article No. 4233 | 01 Nov 2024
Klinis : Muntah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Ketidakseimbangan Cairan berhubungan dengan Muntah
Penjelasan singkat:
Berdasarkan Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI), Risiko Ketidakseimbangan Cairan adalah kondisi di mana individu berisiko mengalami kekurangan atau kelebihan cairan, elektrolit, dan asam-basa yang dapat mempengaruhi fungsi tubuh. Kondisi muntah dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit yang signifikan, sehingga pasien berisiko mengalami ketidakseimbangan cairan.
Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):
- Keseimbangan Cairan
- Status Hidrasi
- Tekanan Darah
Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
- Manajemen Cairan
- Pemantauan Cairan
- Terapi Cairan
Sebagai perawat, kita perlu melakukan penilaian yang komprehensif terhadap pasien, memantau tanda-tanda vital, intake-output cairan, dan mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan cairan. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain pemberian cairan intravena, monitoring elektrolit, dan edukasi kepada pasien dan keluarga. -
Article No. 4234 | 01 Nov 2024
Klinis : hipertermi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi hipertermia.
Diagnosa Keperawatan:
Hipertermia
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnostik Keperawatan Indonesia):
Hipertermia didefinisikan sebagai peningkatan suhu tubuh di atas 37,5°C yang disebabkan oleh peningkatan produksi atau penurunan kehilangan panas. Tanda dan gejala yang mungkin muncul antara lain: suhu tubuh meningkat, kulit terasa hangat, wajah tampak kemerahan, dan lain-lain.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari penanganan hipertermia adalah: suhu tubuh kembali normal, tidak terjadi komplikasi, klien merasa nyaman, dan klien memahami faktor penyebab serta tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi hipertermia.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi hipertermia antara lain: memantau suhu tubuh, menurunkan suhu tubuh (seperti kompres hangat, pemberian obat antipiretik), menjaga intake cairan yang adekuat, mengidentifikasi penyebab hipertermia, dan memberikan edukasi kepada klien dan keluarga.
Dengan pendekatan akademis dan persona pakar/perawat, diharapkan penjelasan di atas dapat memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai diagnosa keperawatan hipertermia beserta standar asuhan keperawatan yang berlaku di Indonesia. -
Article No. 4235 | 01 Nov 2024
Klinis : BATUK KERING DAN PUSING
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, perkenalkan saya Perawat Profesional. Berdasarkan kondisi yang Anda sampaikan, yaitu BATUK KERING DAN PUSING, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan fungsi pernafasan yang optimal.
- Faktor yang Berhubungan: Peningkatan produksi sekret, penurunan refleks batuk, obstruksi jalan napas.
2. Nyeri Kepala
- Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial di daerah kepala.
- Faktor yang Berhubungan: Stres, kelelahan, dehidrasi.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif: Menilai status pernafasan, mengontrol faktor-faktor yang mempengaruhi pembersihan jalan napas, meningkatkan batuk efektif, memberikan posisi yang nyaman.
- Nyeri Kepala: Mengkaji karakteristik nyeri, mengelola faktor-faktor yang memperburuk nyeri, memberikan intervensi farmakologis dan non-farmakologis untuk mengurangi nyeri.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif: Pasien menunjukkan jalan napas yang bebas dari obstruksi, pasien dapat batuk efektif, pasien menunjukkan pola nafas yang normal.
- Nyeri Kepala: Pasien melaporkan nyeri berkurang, pasien menunjukkan tanda-tanda vital dalam batas normal, pasien dapat beraktivitas tanpa hambatan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif: Nebulisasi, fisioterapi dada, pengisapan lendir, manajemen posisi.
- Nyeri Kepala: Terapi relaksasi, terapi kompresi dingin/hangat, manajemen stres, pemberian analgesik.
Semoga penjelasan ini dapat membantu Anda memahami kondisi yang Anda alami. Jangan ragu untuk berkonsultasi lebih lanjut dengan tenaga kesehatan profesional. Semoga lekas sembuh. -
Article No. 4236 | 01 Nov 2024
Klinis : batuk, sesak, mengi
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan gejala yang Anda deskripsikan, yaitu batuk, sesak, dan mengi, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis yang sesuai:
1. Kode ICD-10:
- Kode: J45.9
- Deskripsi: Asma, tidak diklasifikasikan di tempat lain
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 93.08
- Deskripsi: Nebulisasi terapeutik
Penjelasan:
Kode ICD-10 J45.9 (Asma, tidak diklasifikasikan di tempat lain) sesuai dengan gejala batuk, sesak, dan mengi yang Anda deskripsikan. Asma adalah kondisi kronis yang ditandai dengan peradangan dan penyempitan saluran pernapasan, menyebabkan gejala seperti batuk, sesak napas, dan mengi.
Kode ICD-9-CM 93.08 (Nebulisasi terapeutik) merupakan prosedur atau tindakan medis yang mungkin dilakukan untuk mengatasi gejala asma. Nebulisasi terapeutik adalah pemberian obat pernapasan (bronkodilator atau kortikosteroid) melalui alat nebulizer, yang dapat membantu melebarkan saluran pernapasan dan mengurangi gejala.
Dalam praktik klinis, dokter atau perekam medik akan mencatat kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis yang dilakukan, untuk tujuan dokumentasi, klaim asuransi, dan analisis data epidemiologi. -
Article No. 4237 | 01 Nov 2024
Klinis : batuk, sesak, mengi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan membagikan diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi batuk, sesak, dan mengi sesuai dengan standar Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dengan nada akademis dan persona sebagai pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan fungsi pernapasan yang adekuat.
2. Pola Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk bernapas dengan lancar yang dapat mengancam kesehatan.
Penjelasan Singkat SDKI, SLKI, dan SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
SDKI adalah panduan yang berisi daftar diagnosis keperawatan yang telah terstandarisasi dan disetujui oleh PPNI. Setiap diagnosis keperawatan memiliki definisi, batasan karakteristik, faktor yang berhubungan, dan intervensi keperawatan yang sesuai.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
SLKI adalah panduan yang berisi daftar luaran (outcome) keperawatan yang telah terstandarisasi dan disetujui oleh PPNI. Setiap luaran keperawatan memiliki definisi, kriteria hasil, dan indikator yang dapat digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan intervensi keperawatan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
SIKI adalah panduan yang berisi daftar intervensi keperawatan yang telah terstandarisasi dan disetujui oleh PPNI. Setiap intervensi keperawatan memiliki definisi, aktivitas, dan rasional yang dapat digunakan untuk membantu pasien mencapai luaran keperawatan yang diinginkan.
Penggunaan SDKI, SLKI, dan SIKI dalam praktik keperawatan bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan keseragaman asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien, serta mendukung dokumentasi dan komunikasi yang efektif antara tim kesehatan.