Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 21541 | 06 Sep 2025
Klinis : berat anggota gerak kiri sejak 1 hari smrs, Bicara pelo (-), Bibir mencong (-) Nyeri kepala (-). Mual (-). Muntah (-) Kejang (-) demam (-), Reflek menelan (+). Pingsan (-). BAB dan BAK normal RPD: Riw. Hipertensi (+), Riw. DM T2 (-), Riw. stroke (-), riw. dislipidemia (-), riw. sakit jantung (-) RPO: tdk terkontrol
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, saya akan membantu Anda memberikan informasi yang Anda perlukan terkait kasus tersebut.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
1. Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan dengan kelemahan anggota gerak kiri yang baru terjadi.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Mobilitas Fisik: Pasien dapat mempertahankan atau meningkatkan kemampuan pergerakan anggota gerak kiri sesuai kondisinya.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Aktivitas: Mengatur dan memfasilitasi aktivitas pasien untuk mempertahankan atau meningkatkan pergerakan anggota gerak kiri.
2. Terapi Latihan: Memberikan latihan yang sesuai untuk memulihkan kekuatan dan rentang gerak anggota gerak kiri.
3. Perawatan Diri: Membantu pasien dalam melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan kemampuannya.
Penjelasan Rinci:
Diagnosa Keperawatan SDKI "Gangguan Mobilitas Fisik" dipilih karena pasien mengalami kelemahan anggota gerak kiri sejak 1 hari sebelumnya, yang merupakan salah satu tanda dan gejala dari diagnosa tersebut. Kondisi ini dapat mengganggu kemampuan pasien dalam melakukan pergerakan dan aktivitas sehari-hari.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI) adalah "Mobilitas Fisik", karena tujuan utama asuhan keperawatan adalah untuk mempertahankan atau meningkatkan kemampuan pasien dalam melakukan pergerakan anggota gerak kiri sesuai dengan kondisinya saat ini.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI) meliputi:
1. Manajemen Aktivitas: Bertujuan untuk mengatur dan memfasilitasi aktivitas pasien agar dapat mempertahankan atau meningkatkan pergerakan anggota gerak kiri. Contoh intervensi dapat berupa membantu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari, memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan pasien, dan memantau toleransi pasien terhadap aktivitas.
2. Terapi Latihan: Bertujuan untuk memulihkan kekuatan dan rentang gerak anggota gerak kiri. Contoh intervensi dapat berupa latihan pergerakan anggota gerak, latihan rentang gerak, dan latihan koordinasi.
3. Perawatan Diri: Bertujuan untuk membantu pasien dalam melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan kemampuannya saat ini. Contoh intervensi dapat berupa membantu pasien dalam mandi, berpakaian, makan, dan aktivitas perawatan diri lainnya.
Semoga penjelasan ini dapat membantu Anda. Jika ada pertanyaan lain, silakan tanyakan. -
Article No. 21542 | 06 Sep 2025
Klinis : berat anggota gerak kiri sejak 1 hari smrs, Bicara pelo (-), Bibir mencong (-) Nyeri kepala (-). Mual (-). Muntah (-) Kejang (-) demam (-), Reflek menelan (+). Pingsan (-). BAB dan BAK normal RPD: Riw. Hipertensi (+), Riw. DM T2 (-), Riw. stroke (-), riw. dislipidemia (-), riw. sakit jantung (-) RPO: tdk terkontrol
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis yang dapat digunakan:
1. Kode ICD-10:
- Kode: G81.9
- Deskripsi: Hemiplegia, tidak diklasifikasikan di tempat lain. Diagnosis ini sesuai dengan gejala berat anggota gerak kiri sejak 1 hari tanpa adanya gejala bicara pelo, bibir mencong, nyeri kepala, mual, muntah, kejang, demam, dan pingsan.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Tidak ada kode ICD-9-CM yang spesifik untuk tindakan medis, karena berdasarkan informasi yang diberikan, tidak terdapat tindakan medis yang dilakukan.
Penjelasan:
- Kode ICD-10 G81.9 untuk "Hemiplegia, tidak diklasifikasikan di tempat lain" adalah diagnosis yang paling sesuai dengan gejala berat anggota gerak kiri yang dilaporkan.
- Tidak ada kode ICD-9-CM prosedur yang perlu dicantumkan, karena tidak disebutkan adanya tindakan medis yang dilakukan.
- Riwayat penyakit terkait (hipertensi) dan status terkontrol (tidak terkontrol) juga telah Anda deskripsikan. -
Article No. 21543 | 06 Sep 2025
Klinis : pasien masuk dengan keluhan demam sejak 1 hari, sesak nafas sejak sejak 1 bulan, lemah ektremitas kiri lebih kurang sejak 1 bulan ini,menelan (+), mual muntah (-), bab bak (+),
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Intoleransi Aktivitas (00092)
- SDKI: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan
- SLKI: Peningkatan toleransi aktivitas
- SIKI: Manajemen Energi
2. Pola Nafas Tidak Efektif (00032)
- SDKI: Ketidakmampuan untuk mempertahankan pola napas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan oksigen
- SLKI: Perbaikan pola napas
- SIKI: Manajemen Jalan Nafas
3. Disfagia (00103)
- SDKI: Ketidakmampuan untuk menelan makanan atau cairan dengan aman
- SLKI: Peningkatan kemampuan menelan
- SIKI: Manajemen Disfagia
4. Risiko Perubahan Integritas Kulit (00046)
- SDKI: Berisiko mengalami perubahan pada kulit dan/atau membran mukosa
- SLKI: Pemeliharaan integritas kulit
- SIKI: Perawatan Kulit
Penjelasan singkat:
1. Intoleransi Aktivitas (00092): Pasien mengalami kelemahan pada ekstremitas kiri, yang dapat mempengaruhi kemampuannya dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
2. Pola Nafas Tidak Efektif (00032): Pasien mengalami sesak napas, yang dapat mengindikasikan adanya masalah pada sistem pernapasan.
3. Disfagia (00103): Pasien mengalami kesulitan menelan, yang dapat menghambat asupan nutrisi dan cairan.
4. Risiko Perubahan Integritas Kulit (00046): Demam yang dialami pasien dapat meningkatkan risiko terjadinya perubahan pada integritas kulit.
Kode dan definisi sesuai dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). -
Article No. 21544 | 06 Sep 2025
Klinis : pasien masuk dengan keluhan demam sejak 1 hari, sesak nafas sejak sejak 1 bulan, lemah ektremitas kiri lebih kurang sejak 1 bulan ini,menelan (+), mual muntah (-), bab bak (+),
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
1. Hipertermia
- Definisi: Peningkatan suhu tubuh di atas normal akibat gangguan mekanisme pengaturan suhu tubuh.
- Tanda dan Gejala: Pasien masuk dengan keluhan demam sejak 1 hari.
2. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
- Tanda dan Gejala: Sesak napas sejak 1 bulan.
3. Mobilitas Fisik Terganggu
- Definisi: Keterbatasan dalam independensi dan koordinasi dalam melakukan pergerakan yang disengaja.
- Tanda dan Gejala: Lemah ekstremitas kiri lebih kurang sejak 1 bulan ini.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Hipertermia
- Luaran: Suhu Tubuh Dalam Rentang Normal
- Kriteria Hasil:
- Pasien menunjukkan suhu tubuh dalam rentang normal (36,5-37,5°C).
- Pasien menunjukkan penurunan tanda-tanda infeksi.
- Pasien melaporkan tidak lagi mengalami demam.
2. Bersihan Jalan Napas Efektif
- Luaran: Jalan Napas Terbuka
- Kriteria Hasil:
- Pasien dapat bernapas dengan mudah tanpa distres.
- Pasien mampu mengeluarkan sekret dengan efektif.
- Suara napas pasien normal.
3. Mobilitas Fisik Meningkat
- Luaran: Pergerakan Ekstremitas Meningkat
- Kriteria Hasil:
- Pasien dapat menggerakkan ekstremitas kiri dengan lebih baik.
- Pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih mandiri.
- Pasien melaporkan peningkatan kekuatan dan koordinasi otot.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
1. Hipertermia
- Manajemen Hipertermia
- Monitoring suhu tubuh secara berkala.
- Mengatur lingkungan yang sejuk dan nyaman.
- Memberikan cairan, elektrolit, dan nutrisi yang adekuat.
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain dalam pemberian terapi.
- Manajemen Nyeri
- Mengkaji nyeri yang dirasakan pasien.
- Memberikan intervensi non-farmakologis untuk mengurangi nyeri.
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain dalam pemberian analgesik.
2. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- Manajemen Jalan Napas
- Memonitor status pernapasan pasien.
- Memberikan posisi yang nyaman untuk memfasilitasi pernapasan.
- Mengajarkan pasien teknik batuk efektif dan latihan pernapasan.
- Membantu pasien mengeluarkan sekret dengan suction atau terapi inhalasi.
- Edukasi Kesehatan
- Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya bersihan jalan napas.
- Mengajarkan teknik-teknik yang dapat dilakukan di rumah untuk mempertahankan bersihan jalan napas.
3. Mobilitas Fisik Terganggu
- Manajemen Aktivitas
- Mengkaji kemampuan mobilitas pasien.
- Membantu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
- Mengajarkan latihan fisik dan rentang gerak yang sesuai.
- Terapi Fisik
- Melakukan kolaborasi dengan fisioterapis untuk program rehabilitasi.
- Membantu pasien melakukan latihan penguatan otot dan koordinasi.
- Memfasilitasi pasien dalam meningkatkan kemandirian dan mobilitas.
Penjelasan rinci dan terperinci untuk setiap poin di atas:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan SDKI dipilih berdasarkan tanda dan gejala yang ditunjukkan oleh pasien. Hipertermia, Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif, dan Mobilitas Fisik Terganggu merupakan diagnosa yang sesuai dengan kondisi pasien yang mengalami demam, sesak napas, dan kelemahan ekstremitas kiri.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setiap diagnosa keperawatan memiliki luaran atau hasil yang diharapkan setelah diberikan asuhan keperawatan. Untuk setiap diagnosa, luaran yang diharapkan meliputi Suhu Tubuh Dalam Rentang Normal, Jalan Napas Terbuka, dan Pergerakan Ekstremitas Meningkat. Kriteria hasil yang spesifik dan terukur ditetapkan untuk masing-masing luaran.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
Intervensi keperawatan dirancang untuk membantu mencapai luaran yang diharapkan. Untuk setiap diagnosa, intervensi yang diberikan meliputi Manajemen Hipertermia, Manajemen Nyeri, Manajemen Jalan Napas, Edukasi Kesehatan, Manajemen Aktivitas, dan Terapi Fisik. Setiap intervensi dirinci dengan tindakan-tindakan spesifik yang harus dilakukan oleh perawat.
Secara keseluruhan, pendekatan ini menggambarkan bagaimana perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan terencana untuk mengatasi permasalahan kesehatan pasien, mulai dari menentukan diagnosa yang tepat, menetapkan luaran yang diharapkan, dan merancang intervensi keperawatan yang sesuai. -
Article No. 21545 | 06 Sep 2025
Klinis : sesak napas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi sesak napas.
Diagnosa Keperawatan:
Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (00031)
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (00031)
Definisi: Ketidakmampuan untuk memelihara kebersihan jalan napas untuk memfasilitasi pertukaran gas.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Bersihan Jalan Napas (0410)
Definisi: Status permeabilitas saluran napas untuk memfasilitasi pertukaran gas.
2. Fungsi Respirasi (0415)
Definisi: Kemampuan untuk melakukan pertukaran gas.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Jalan Napas (3140)
Definisi: Memelihara atau memfasilitasi jalan napas yang terbuka untuk memungkinkan pertukaran gas yang adekuat.
2. Manajemen Oksigenasi (3320)
Definisi: Memaksimalkan oksigenasi jaringan.
Penjelasan singkat:
Sesak napas merupakan kondisi di mana pasien mengalami kesulitan bernapas atau merasa ada gangguan dalam proses pernapasan. Diagnosa Keperawatan yang tepat untuk kondisi ini adalah Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (00031), di mana terdapat ketidakmampuan pasien untuk memelihara kebersihan jalan napas sehingga menghambat pertukaran gas.
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini antara lain Manajemen Jalan Napas (3140) dan Manajemen Oksigenasi (3320), dengan tujuan untuk memelihara atau memfasilitasi jalan napas yang terbuka dan memaksimalkan oksigenasi jaringan. -
Article No. 21546 | 06 Sep 2025
Klinis : hecting up
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan kondisi yang Anda sampaikan, "hecting up", berikut adalah informasi terkait kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis:
1. Kode ICD-10:
- Kode: R11.2
- Deskripsi: Mual dan muntah tidak terkait dengan kondisi lain
Penjelasan:
- Kode ICD-10 R11.2 digunakan untuk mengidentifikasi kondisi mual dan muntah yang tidak berhubungan dengan penyakit atau kondisi medis lainnya.
- Kondisi "hecting up" dapat diklasifikasikan sebagai mual dan muntah yang tidak terkait dengan penyebab spesifik.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: Tidak ada kode ICD-9-CM yang spesifik untuk "hecting up".
- Deskripsi: Tidak ada prosedur atau tindakan medis yang spesifik untuk kondisi "hecting up" dalam klasifikasi ICD-9-CM.
Penjelasan:
- Kondisi "hecting up" tidak memerlukan tindakan medis yang spesifik, kecuali jika disertai dengan gejala atau komplikasi lain yang memerlukan intervensi medis.
- Dalam kasus ini, tidak ada kode ICD-9-CM yang dapat diberikan untuk prosedur atau tindakan medis terkait dengan "hecting up".
Jadi, berdasarkan informasi yang diberikan, kode ICD-10 yang sesuai untuk kondisi "hecting up" adalah R11.2 (Mual dan muntah tidak terkait dengan kondisi lain), dan tidak ada kode ICD-9-CM prosedur/tindakan medis yang spesifik untuk kondisi tersebut. -
Article No. 21547 | 06 Sep 2025
Klinis : lepas jahitan
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis terkait kondisi lepas jahitan:
1. Kode ICD-10:
- Kode: T81.31XA
- Deskripsi: Dehiscensi luka operasi, komplikasi saat perawatan, kondisi awal
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 86.59
- Deskripsi: Perbaikan luka operasi, lain-lain
Penjelasan:
Kode ICD-10 T81.31XA menunjukkan adanya dehiscensi (lepasnya) jahitan luka operasi, yang merupakan komplikasi yang terjadi selama perawatan. Kode "XA" menunjukkan bahwa ini adalah kasus awal atau kondisi yang baru terjadi.
Kode ICD-9-CM 86.59 mengacu pada prosedur perbaikan luka operasi, termasuk tindakan memasang kembali jahitan yang lepas. Kode ini mencakup berbagai jenis tindakan perbaikan luka operasi selain yang secara spesifik tercantum dalam kode-kode lainnya.
Penegakan kode diagnosis dan prosedur ini penting untuk mendokumentasikan kondisi pasien dan tindakan yang dilakukan, serta untuk keperluan penagihan dan klaim asuransi. -
Article No. 21548 | 06 Sep 2025
Klinis : Gatal - gatal di badan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah Diagnosa Keperawatan, penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI beserta kodenya dan definisinya yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi Gatal-gatal di badan:
Diagnosa Keperawatan:
Pruritus (00027)
Definisi: Sensasi tidak nyaman kulit yang menyebabkan keinginan kuat untuk menggaruk.
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Kode: 00027
Definisi: Sensasi tidak nyaman kulit yang menyebabkan keinginan kuat untuk menggaruk.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Kode: LS-006
Definisi: Tingkat kenyamanan kulit yang optimal.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Kode: IP-030
Definisi: Serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengendalikan atau mengurangi sensasi tidak nyaman pada kulit sehingga klien merasa nyaman.
Penjelasan singkat:
Pruritus atau gatal-gatal di badan merupakan sensasi tidak nyaman pada kulit yang menyebabkan keinginan kuat untuk menggaruk. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti reaksi alergi, infeksi, atau kondisi kulit lainnya. Perawatan keperawatan yang dapat dilakukan meliputi pengkajian kondisi kulit, identifikasi penyebab, pemberian intervensi untuk mengurangi gejala gatal, serta edukasi kepada pasien mengenai perawatan kulit yang tepat. -
Article No. 21549 | 06 Sep 2025
Klinis : Muntah muntah demam
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, yaitu "Muntah-muntah, demam", berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
1. Mual (NANDA-I: 00134)
- SDKI: Gangguan sensasi tidak nyaman di daerah lambung yang dapat menyebabkan dorongan untuk muntah.
- SLKI: Peningkatan kemampuan mengatasi mual.
- SIKI: Manajemen mual (10025).
2. Hipertermi (NANDA-I: 00007)
- SDKI: Suhu tubuh di atas normal (> 37,5°C) yang disebabkan oleh peningkatan produksi panas atau penurunan hilangnya panas.
- SLKI: Pemulihan suhu tubuh normal.
- SIKI: Manajemen hipertermi (10023).
Penjelasan Singkat:
1. Mual (NANDA-I: 00134)
- Kode SDKI: 10025
- Definisi SDKI: Gangguan sensasi tidak nyaman di daerah lambung yang dapat menyebabkan dorongan untuk muntah.
- Kode SLKI: 10025
- Definisi SLKI: Peningkatan kemampuan mengatasi mual.
- Kode SIKI: 10025
- Definisi SIKI: Manajemen mual.
2. Hipertermi (NANDA-I: 00007)
- Kode SDKI: 10023
- Definisi SDKI: Suhu tubuh di atas normal (> 37,5°C) yang disebabkan oleh peningkatan produksi panas atau penurunan hilangnya panas.
- Kode SLKI: 10023
- Definisi SLKI: Pemulihan suhu tubuh normal.
- Kode SIKI: 10023
- Definisi SIKI: Manajemen hipertermi.
Dengan tone yang akademis dan persona sebagai pakar/perawat, penjelasan ini memberikan informasi mengenai diagnosa keperawatan, kode, dan definisi yang sesuai dengan SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh PPNI untuk kondisi "Muntah-muntah, demam". -
Article No. 21551 | 06 Sep 2025
Klinis : Pada penghujung tahun 2021, Gunung Semeru mengeluarkan Awan Panas Guguran (APG) hingga lahar dingin cukup besar yang meluluhlantakkan ratusan bangunan serta merenggut nyawa sejumlah warga hingga hewan ternak mati atau terjebak dalam abu vulkanik. Setelah erupsi, disusul banjir lahar dingin hingga menghanyutkan mobil relawan. Berdasarkan data Pos Komando (Posko) Penanganan Darurat Bencana Erupsi Semeru, per Sabtu (25/12/2021), tercatat ada 54 orang meninggal dunia, sedangkan 6 warga dinyatakan hilang. Sementara total rumah rusak mencapai 1.027 unit. Rumah rusak ini tersebar di beberapa Desa dengan kategori rusak berat hingga ratusan unit. Total warga mengungsi sejumlah 9.417 jiwa yang tersebar di 402 titik. Bencana alam ini mendapat respons dari sejumlah pihak. Banyak bantuan hingga relawan berdatangan. Di posko pengungsian, lansia merupakan salah satu kelompok rentan yang menghadapi tantangan yang lebih kompleks dibanding kelompok usia produktif. Hal ini dikarenakan kelompok lansia tidak jarang memiliki keterbatasan dalam mobilisasi, sehingga sulit melakukan evakuasi mandiri ketika bencana terjadi. Banyak dari lansia yang harus dibopong, digendong, atau menggunakan alat bantu jalan yang kurang memadai. Akibatnya, sebagian lansia mengalami cedera atau kelelahan selama proses evakuasi. Di tenda-tenda darurat yang padat, kondisi ini semakin diperparah oleh fasilitas yang minim, misalnya akses toilet yang jauh, tempat tidur seadanya, serta kurangnya pencahayaan dan ventilasi. Berdasarkan pendataan Kemkes (2021) di lapangan, tercatat sekitar 312 lansia mengalami hambatan mobilisasi, dengan 48 orang di antaranya mengalami cedera ringan seperti terkilir dan memar akibat proses evakuasi yang terburu-buru. Lebih lanjut, sebanyak 527 lansia dilaporkan kesulitan beradaptasi dengan kondisi pengungsian, terutama terkait akses sanitasi dan tempat tidur. Dari jumlah tersebut, 139 orang mengeluhkan nyeri sendi dan punggung akibat harus tidur di alas seadanya. Kondisi kesehatan juga menjadi perhatian, tercatat 276 kasus berasal dari kelompok lansia dengan riwayat penyakit kronis, di mana 91 orang di antaranya mengalami perburukan penyakit jantung dan diabetes sehingga membutuhkan pemantauan intensif. Selain itu, sejumlah 479 pengungsi mengalami ISPA atau Infeksi Saluran Pernapasan Atas, yang mana jumlah pengungsi terbanyak berasal dari kelompok lansia. Lansia sendiri merupakan kelompok rentan dengan komorbiditas tinggi, seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, serta gangguan pernapasan kronis. Paparan abu vulkanik dari erupsi memperburuk kondisi mereka. Banyak lansia mengeluhkan batuk kronis, sesak napas, pusing, dan kelelahan akibat kualitas udara yang buruk. Selain itu, keterbatasan obat-obatan rutin seperti antihipertensi, insulin, dan obat jantung menimbulkan risiko komplikasi serius Dari sisi psikososial, hasil assessment menunjukkan sekitar 183 lansia mengalami gejala stres berat, bahkan 57 orang di antaranya memperlihatkan tanda-tanda depresi sedang hingga berat akibat kehilangan rumah dan harta benda. Beberapa bahkan kehilangan pasangan hidup atau anggota keluarga, sehingga muncul perasaan sedih yang mendalam, cemas, hingga gejala depresi. Keterputusan dari rutinitas harian dan lingkungan sosial mereka menambah kerentanan psikologis, terlebih bagi lansia yang sebelumnya hidup mandiri.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang digambarkan, berikut adalah beberapa diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI (Standar Diagnostik Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang dapat diterapkan:
1. Diagnosa Keperawatan: Risiko ketidakstabilan termoregulasi
- SDKI Kode: 00005
- Definisi: Rentan mengalami perubahan suhu tubuh yang dapat mengancam kesehatan
- Penjelasan: Adanya paparan abu vulkanik dari erupsi Gunung Semeru dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan risiko gangguan termoregulasi pada para lansia di pengungsian.
2. Diagnosa Keperawatan: Defisit perawatan diri
- SDKI Kode: 00108
- Definisi: Keterbatasan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas perawatan diri
- Penjelasan: Lansia di pengungsian menghadapi keterbatasan akses ke fasilitas sanitasi yang memadai, sehingga mengalami kesulitan dalam melakukan perawatan diri.
3. Diagnosa Keperawatan: Gangguan mobilitas fisik
- SDKI Kode: 00085
- Definisi: Keterbatasan dalam gerakan fisik yang disengaja dan mandiri
- Penjelasan: Sebagian lansia mengalami hambatan mobilisasi dan cedera ringan akibat proses evakuasi yang terburu-buru, sehingga mengalami gangguan mobilitas fisik.
4. Diagnosa Keperawatan: Ansietas
- SDKI Kode: 00146
- Definisi: Perasaan tidak nyaman atau khawatir yang berlebihan terkait sumber yang tidak spesifik atau tidak diketahui
- Penjelasan: Lansia mengalami gejala stres berat dan depresi sedang hingga berat akibat kehilangan rumah, harta benda, dan anggota keluarga, sehingga menimbulkan ansietas.
5. Diagnosa Keperawatan: Nyeri
- SDKI Kode: 00132
- Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial
- Penjelasan: Beberapa lansia mengeluhkan nyeri sendi dan punggung akibat harus tidur di alas seadanya di tenda pengungsian.
6. Diagnosa Keperawatan: Intoleransi aktivitas
- SDKI Kode: 00092
- Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin
- Penjelasan: Lansia mengalami kelelahan dan pusing akibat paparan abu vulkanik, sehingga menimbulkan intoleransi aktivitas.
Kode dan definisi di atas merupakan standar yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk membantu perawat dalam menentukan diagnosa keperawatan yang tepat. Setiap diagnosa keperawatan juga dilengkapi dengan SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang dapat digunakan sebagai acuan dalam merencanakan dan melaksanakan intervensi keperawatan yang sesuai.