Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 4324 | 02 Nov 2024
Klinis : Diagnosa yang paling mungkin 1. Gangguan Integritas Kulit/Jaringan b.d vesikel yang mudah pecah [SDKI D.0129] 2. Gangguan Citra Tubuh b.d [SDKI D.0083] 3. Nyeri akut b/d inflamasi jaringan d/d adanya vesikel berkelompok dengan yang basis eritema di wajah khususnya daerah dekat bibir, klien terlihat meringis menahan nyeri,
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis yang sesuai dengan kondisi yang Anda berikan:
1. Gangguan Integritas Kulit/Jaringan b.d vesikel yang mudah pecah [SDKI D.0129]:
- Kode ICD-10: L30.9 - Dermatitis, tidak spesifik
- Deskripsi: Diagnosa ini menggambarkan adanya gangguan pada integritas kulit/jaringan yang ditandai dengan pembentukan vesikel yang mudah pecah. Tidak ada kode ICD-9-CM prosedur yang secara spesifik terkait dengan kondisi ini.
2. Gangguan Citra Tubuh b.d [SDKI D.0083]:
- Kode ICD-10: F45.8 - Gangguan somatoform lainnya
- Deskripsi: Diagnosa ini menggambarkan adanya gangguan pada persepsi dan sikap individu terhadap citra tubuhnya. Tidak ada kode ICD-9-CM prosedur yang secara spesifik terkait dengan kondisi ini.
3. Nyeri akut b/d inflamasi jaringan d/d adanya vesikel berkelompok dengan yang basis eritema di wajah khususnya daerah dekat bibir, klien terlihat meringis menahan nyeri:
- Kode ICD-10: B00.1 - Herpes simplex genital dan oral
- Deskripsi: Diagnosa ini menggambarkan adanya infeksi virus herpes simplex yang menyebabkan timbulnya vesikel berkelompok dengan eritema di wajah, khususnya daerah dekat bibir, serta menimbulkan rasa nyeri yang akut.
- Kode ICD-9-CM Procedure: 99.59 - Aplikasi atau pemberian obat lainnya, tidak diklasifikasi di tempat lain
- Deskripsi: Prosedur ini meliputi aplikasi atau pemberian obat topikal atau sistemik untuk mengatasi infeksi herpes simplex dan mengurangi rasa nyeri akut. -
Article No. 4325 | 02 Nov 2024
Klinis : os berusia 50 tahun datang dengan keluhan kesemutan dan kebas pada kaki
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, pasien OS berusia 50 tahun dengan keluhan kesemutan dan kebas pada kaki, maka diagnosis keperawatan yang mungkin sesuai adalah:
1. Gangguan Sensasi Persepsi
- Definisi: Persepsi sensorik yang terganggu, yang ditandai dengan perubahan kemampuan untuk merasakan atau menginterpretasi lingkungan.
- Penyebab: Cedera saraf, penyakit sistemik, atau perubahan fisiologis.
- Tanda dan Gejala: Kesemutan, kebas, nyeri neuropati, atau perubahan sensasi.
2. Intoleransi Aktivitas
- Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diinginkan atau diperlukan akibat keterbatasan fisiologis.
- Penyebab: Penurunan kapasitas fisik, neuromuskular, atau kardiovaskular.
- Tanda dan Gejala: Kelelahan, napas pendek, atau kelemahan.
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia)
- SDKI merupakan standar diagnosis keperawatan yang diterbitkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
- SDKI memberikan panduan baku mengenai diagnosis keperawatan yang dapat diterapkan dalam praktik keperawatan.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia)
- SLKI adalah standar yang menetapkan luaran atau hasil yang diharapkan dari asuhan keperawatan.
- SLKI membantu perawat dalam merumuskan tujuan atau luaran yang ingin dicapai dalam rencana asuhan keperawatan.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia)
- SIKI adalah standar yang menetapkan intervensi atau tindakan keperawatan yang dapat dilakukan untuk mencapai luaran yang diharapkan.
- SIKI memberikan panduan intervensi keperawatan yang baku dan terstandar.
Dengan menggunakan kerangka SDKI, SLKI, dan SIKI, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang terstruktur, komprehensif, dan berpedoman pada standar nasional. -
Article No. 4326 | 02 Nov 2024
Klinis : os berusia 60 tahun datang dengan keluhan perut mulas dan tidak nafsu makan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi yang Anda sampaikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Gangguan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh didefinisikan sebagai keadaan di mana individu mengalami asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari diagnosa ini adalah pasien dapat mempertahankan berat badan ideal, tidak mengalami penurunan berat badan, dan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi sesuai kebutuhan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi yang dapat dilakukan antara lain:
- Mengkaji status nutrisi pasien
- Memberikan edukasi terkait pentingnya nutrisi yang adekuat
- Menyusun rencana diet sesuai kebutuhan pasien
- Memantau asupan makanan dan cairan pasien
- Memberikan makanan dan suplemen nutrisi sesuai kebutuhan
Dengan pendekatan ini, diharapkan dapat membantu meningkatkan asupan nutrisi pasien sehingga dapat memenuhi kebutuhan tubuhnya. -
Article No. 4327 | 02 Nov 2024
Klinis : os berusia 60 tahun datang dengan keluhan perut mulas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri Akut
Definisi: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang berkaitan dengan kerusakan jaringan, baik aktual maupun potensial, atau digambarkan dalam istilah-istilah kerusakan tersebut.
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Nyeri akut ditandai dengan adanya keluhan nyeri pada perut yang dirasakan oleh pasien.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Tujuan utama adalah mengurangi nyeri yang dirasakan oleh pasien.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi yang dapat dilakukan adalah pemberian analgesik, terapi kompres hangat, dan edukasi manajemen nyeri.
2. Risiko Defisit Cairan
Definisi: Berisiko mengalami pengurangan cairan intravaskular, intraseluler, dan/atau ekstravaskular.
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
- SDKI: Risiko defisit cairan dapat teridentifikasi dari gejala mual dan muntah yang dialami oleh pasien.
- SLKI: Tujuan utama adalah mencegah terjadinya defisit cairan pada pasien.
- SIKI: Intervensi yang dapat dilakukan adalah pemantauan intake dan output cairan, pemberian cairan intravena, dan edukasi terkait asupan cairan yang adekuat.
Catatan:
Diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI ini didasarkan pada kondisi yang diberikan, yaitu pasien os berusia 60 tahun dengan keluhan perut mulas. Tone yang digunakan adalah akademis, dan persona adalah pakar perawat. -
Article No. 4328 | 02 Nov 2024
Klinis : latihan berkemih
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, kondisi "latihan berkemih" dapat dikaitkan dengan diagnosis dan tindakan medis berikut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: R32
- Deskripsi: Inkontinensia urin, tidak diklasifikasikan di tempat lain. Kode ini digunakan untuk menggambarkan kondisi di mana individu mengalami kesulitan dalam mengendalikan berkemih, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti kelemahan otot panggul, gangguan neurologis, atau faktor usia.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 89.71
- Deskripsi: Latihan otot pelvis dan perineum. Kode ini mengacu pada intervensi rehabilitatif yang bertujuan untuk memperkuat otot-otot panggul dan meningkatkan kontrol berkemih, yang dapat menjadi bagian dari penanganan inkontinensia urin.
Penjelasan detail:
- Kode ICD-10 R32 mencakup berbagai bentuk inkontinensia urin yang tidak diklasifikasikan di tempat lain, termasuk inkontinensia stres, urgensi, dan fungsional.
- Latihan berkemih atau latihan otot panggul (kode ICD-9-CM 89.71) adalah salah satu modalitas terapi yang dapat direkomendasikan untuk mengatasi inkontinensia urin. Tujuannya adalah untuk memperkuat otot-otot panggul dan meningkatkan kontrol volunter atas proses berkemih.
- Latihan berkemih dapat dilakukan secara mandiri oleh pasien di bawah bimbingan tenaga kesehatan, atau dalam bentuk terapi latihan yang dilakukan di bawah pengawasan profesional.
- Selain latihan otot panggul, tindakan medis lain yang mungkin dipertimbangkan untuk penanganan inkontinensia urin dapat mencakup intervensi farmakologis, alat bantu inkontinensia, atau tindakan bedah dalam kasus-kasus tertentu. -
Article No. 4329 | 02 Nov 2024
Klinis : Seorang wanita berusia 27 tahun, bernama Rina, datang ke klinik dengan keluhan gatal, rasa terbakar, dan keputihan yang kental serta berbau ringan di area genital. Rina menyebutkan bahwa keluhan ini sudah berlangsung selama beberapa hari dan membuatnya merasa tidak nyaman, terutama saat buang air kecil. Dia juga merasa gatal dan sedikit kemerahan di sekitar area yang terinfeksi. Rina memiliki riwayat diabetes melitus tipe 2 dan sedang menjalani terapi antibiotik untuk infeksi saluran pernapasan selama dua minggu terakhir. Dia merasa khawatir karena gejala ini belum pernah dialaminya sebelumnya.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan gejala yang dikeluhkan oleh Rina, yaitu gatal, rasa terbakar, keputihan kental, serta berbau ringan di area genital, disertai dengan riwayat diabetes melitus tipe 2 dan penggunaan antibiotik dalam 2 minggu terakhir, dapat ditetapkan diagnosa keperawatan sebagai berikut:
1. Diagnosa Keperawatan: Risiko Infeksi Genital
Penjelasan: Rina memiliki risiko mengalami infeksi genital yang ditandai dengan gejala gatal, rasa terbakar, keputihan kental, dan bau ringan di area genital. Kondisi ini dapat disebabkan oleh faktor predisposisi seperti diabetes melitus tipe 2 dan penggunaan antibiotik yang dapat mempengaruhi keseimbangan flora normal pada area genital.
Berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang diterbitkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), penjelasan singkat adalah sebagai berikut:
SDKI: Risiko Infeksi Genital
- Definisi: Kerentanan terhadap invasi dan perbanyakan organisme patogen di area genital yang dapat mengganggu kesehatan.
- Faktor Risiko: Diabetes melitus, penggunaan antibiotik, higiene buruk, dan faktor lain yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan flora normal.
SLKI: Kesehatan Genital
- Luaran: Tidak terjadi infeksi genital, tidak terjadi komplikasi, dan tidak terjadi penularan infeksi.
SIKI: Manajemen Infeksi Genital
- Intervensi: Identifikasi penyebab infeksi, edukasi tentang pencegahan infeksi, perawatan area genital, dan pemantauan gejala infeksi.
Dengan demikian, pengelolaan yang tepat untuk kondisi Rina adalah melakukan identifikasi penyebab infeksi, memberikan edukasi tentang pencegahan infeksi, melakukan perawatan area genital, serta memantau perkembangan gejala infeksi. -
Article No. 4330 | 02 Nov 2024
Klinis : Resiko Bunuh Diri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat terkait dengan SDKI, SLKI, dan SIKI berdasarkan standar Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi Risiko Bunuh Diri.
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Bunuh Diri
Definisi:
Risiko Bunuh Diri adalah keadaan di mana individu memiliki niat atau tindakan melukai diri sendiri secara disengaja untuk mengakhiri hidup.
Penjelasan:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Risiko Bunuh Diri adalah keadaan di mana individu memiliki niat atau tindakan melukai diri sendiri secara disengaja untuk mengakhiri hidup.
- Karakteristik Definisi: Perilaku bunuh diri, Ide bunuh diri, Persiapan bunuh diri, Riwayat percobaan bunuh diri.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan: Individu dapat mengendalikan ide dan perilaku bunuh diri, Individu dapat mengatasi stres dan koping yang maladaptif, Individu dapat meningkatkan dukungan sosial.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi Keperawatan: Manajemen Risiko Bunuh Diri, Terapi Kognitif, Dukungan Emosional, Terapi Keluarga, Edukasi Kesehatan Mental.
Sebagai perawat, saya akan membantu mengidentifikasi faktor-faktor risiko, memantau tanda-tanda perilaku bunuh diri, dan mengembangkan rencana perawatan yang komprehensif untuk membantu pasien mengatasi ide dan perilaku bunuh diri, meningkatkan koping yang adaptif, serta memperoleh dukungan sosial yang memadai. -
Article No. 4331 | 02 Nov 2024
Klinis : Resiko Bunuh Diri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi "Risiko Bunuh Diri" dengan tone akademis dan persona pakar/perawat.
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Bunuh Diri
Definisi:
Risiko Bunuh Diri adalah keadaan di mana individu memiliki potensi untuk melukai diri sendiri secara sengaja dengan tujuan mengakhiri hidup.
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Risiko Bunuh Diri ditandai dengan gejala-gejala seperti mengekspresikan ide atau niat untuk bunuh diri, memiliki rencana untuk bunuh diri, dan/atau memiliki akses terhadap sarana untuk bunuh diri.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari penanganan Risiko Bunuh Diri adalah individu dapat mengenali dan mengelola pikiran, perasaan, dan perilaku yang mengarah pada bunuh diri, serta dapat mengembangkan strategi koping yang efektif.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk menangani Risiko Bunuh Diri meliputi:
1. Asesmen komprehensif terhadap faktor-faktor risiko dan protektif.
2. Pemberian edukasi tentang bunuh diri dan strategi pencegahannya.
3. Pengembangan rencana keselamatan individu.
4. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk intervensi yang diperlukan.
5. Pemantauan dan evaluasi secara berkala terhadap kondisi individu.
Penerapan intervensi keperawatan yang tepat dan komprehensif diharapkan dapat menurunkan risiko bunuh diri dan meningkatkan kesejahteraan individu. -
Article No. 4332 | 02 Nov 2024
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan fungsi pernapasan yang optimal.
- Penyebab: Peningkatan produksi sekret, kelemahan otot pernapasan, dan obstruksi jalan napas.
2. Ketidakefektifan Pola Napas
- Definisi: Perubahan dalam frekuensi, kedalaman, atau irama pernapasan yang mengganggu pertukaran gas.
- Penyebab: Penyakit paru, kelelahan otot pernapasan, dan ansietas.
3. Kurang Pengetahuan
- Definisi: Kurangnya informasi kognitif yang berkaitan dengan suatu topik.
- Penyebab: Keterbatasan pengalaman, kurangnya paparan, dan kurangnya motivasi untuk belajar.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif: Identifikasi adanya sekresi, suara napas abnormal, dan perubahan pola napas.
- Ketidakefektifan Pola Napas: Identifikasi perubahan frekuensi, kedalaman, dan irama pernapasan.
- Kurang Pengetahuan: Identifikasi pemahaman pasien tentang penyakit, pengobatan, dan perawatan diri yang tidak memadai.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif: Tujuannya adalah membersihkan jalan napas, mempertahankan fungsi pernapasan yang optimal, dan mencegah komplikasi.
- Ketidakefektifan Pola Napas: Tujuannya adalah mempertahankan pola napas yang efektif, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kenyamanan pasien.
- Kurang Pengetahuan: Tujuannya adalah meningkatkan pemahaman pasien tentang penyakit, pengobatan, dan perawatan diri.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif: Intervensi yang dapat dilakukan adalah suction, pemberian bronkodilator, dan latihan batuk efektif.
- Ketidakefektifan Pola Napas: Intervensi yang dapat dilakukan adalah oksigenasi, posisi semi-fowler, dan latihan pernapasan.
- Kurang Pengetahuan: Intervensi yang dapat dilakukan adalah edukasi kesehatan, konseling, dan pemberian leaflet/brosur.
Dalam kondisi pasien dengan dugaan tuberkulosis paru, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif, Ketidakefektifan Pola Napas, dan Kurang Pengetahuan. Perawat dapat memberikan intervensi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan untuk mengatasi masalah kesehatan pasien. -
Article No. 4333 | 02 Nov 2024
Klinis : Post partum blues
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat sesuai dengan standar SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi post partum blues.
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Proses Keluarga (PPBLUES)
Definisi: Perubahan dalam fungsi dan struktur keluarga yang tidak efektif dalam merespon situasi stres pascakelahiran.
2. Gangguan Tidur (INSOMN)
Definisi: Ketidakmampuan untuk memulai atau mempertahankan tidur yang dapat mengganggu fungsi sehari-hari.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Keluarga Mampu Beradaptasi (KEMPER)
Kriteria Hasil: Keluarga menunjukkan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan pascakelahiran.
2. Pola Tidur Terpelihara (POLATR)
Kriteria Hasil: Klien menunjukkan pola tidur yang adekuat.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Dukungan Keluarga (DUKKER)
Definisi Intervensi: Pemberian bantuan emosional, informasi, dan instrumental kepada keluarga untuk meningkatkan kemampuan beradaptasi dengan perubahan pascakelahiran.
2. Manajemen Tidur (MANTID)
Definisi Intervensi: Memfasilitasi klien untuk memperoleh tidur yang adekuat dan meningkatkan kualitas tidur.
Penjelasan Singkat:
Pasien dengan kondisi post partum blues mengalami perubahan dalam fungsi dan struktur keluarga yang tidak efektif dalam merespon situasi stres pascakelahiran. Selain itu, pasien juga dapat mengalami gangguan tidur yang dapat mengganggu fungsi sehari-hari. Sebagai perawat, tujuan utama adalah membantu keluarga untuk beradaptasi dengan perubahan pascakelahiran dan memastikan pasien memperoleh pola tidur yang terpelihara. Intervensi keperawatan yang dapat diberikan adalah dukungan keluarga dan manajemen tidur.