Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 4527 | 04 Nov 2024
Klinis : Perawat Budi Akan melakukan tindakan postural drainase pada pasien. Hasil temuan auskultasi ditemukan adanya akumulasi sekret pada daerah apeks paru posterior. Posisi pasien yang tepat selama tindakan postural drainase berdasarkan hasil temuan tersebut adalah . . . * 4 poin Duduk dengan posisi agak membungkuk Berbaring terlentang dengan menggunakan 1 bantal Berbaring miring secara bergantian Berbaring telungkup dengan posisi kepala lebih rendah dari kaki
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis pasien adalah sebagai berikut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: J98.8
- Deskripsi: Kondisi respirasi lainnya
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 93.94
- Deskripsi: Postural drainage
Posisi pasien yang tepat selama tindakan postural drainase adalah:
Berbaring telungkup dengan posisi kepala lebih rendah dari kaki.
Penjelasan:
Pada temuan auskultasi ditemukan adanya akumulasi sekret pada daerah apeks paru posterior. Untuk membantu drainase sekret tersebut, posisi pasien yang paling efektif adalah berbaring telungkup dengan posisi kepala lebih rendah dari kaki. Hal ini membantu gravitasi untuk mengalirkan sekret dari area apeks paru posterior menuju jalan napas yang lebih besar sehingga dapat dikeluarkan lebih mudah.
Posisi duduk dengan agak membungkuk atau berbaring terlentang dengan satu bantal tidak optimal untuk drainase sekret pada area apeks paru posterior. Berbaring miring secara bergantian dapat membantu drainase, namun tidak seefektif posisi berbaring telungkup dengan kepala lebih rendah. -
Article No. 4528 | 04 Nov 2024
Klinis : Seorang laki-laki berusia 40 tahun dirawat dengan masalah TBC saat dikaji pasien mengeluhkan sesak dan sulit membuang dahak. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan adanya akumulasi sekret pada saluran pernafasan pasien. TD 135/90 mmHg, RR 28x/menit. Permasalahan utama oksigenasi yang terjadi berdasarkan kasus tersebut adalah . . .
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berdasarkan informasi yang diberikan, permasalahan utama oksigenasi pada pasien tersebut adalah:
Diagnosa Keperawatan:
Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Penjelasan:
Berdasarkan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif didefinisikan sebagai "Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan bersihan jalan napas".
Pada kasus ini, pasien mengeluhkan sesak dan sulit membuang dahak, serta ditemukan adanya akumulasi sekret pada saluran pernapasannya. Hal ini menunjukkan bahwa pasien mengalami masalah dalam membersihkan jalan napas secara efektif, sehingga Diagnosa Keperawatan yang sesuai adalah Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif.
Berdasarkan SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), pasien dengan diagnosa ini dapat mengalami luaran seperti Permeabilitas Jalan Napas, Oksigenasi, dan Ventilasi yang tidak efektif. Sementara itu, berdasarkan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia), intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini antara lain Manajemen Jalan Napas, Manajemen Oksigen, dan Terapi Inhalasi. -
Article No. 4529 | 04 Nov 2024
Klinis : Seorang laki-laki berusia 40 tahun dirawat dengan masalah TBC saat dikaji pasien mengeluhkan sesak dan sulit membuang dahak. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan adanya akumulasi sekret pada saluran pernafasan pasien. TD 135/90 mmHg, RR 28x/menit. Permasalahan utama oksigenasi yang terjadi berdasarkan kasus tersebut adalah . . .
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: 1. Kode ICD-10:
- Kode: A15.0
- Deskripsi: Tuberkulosis paru dengan pemeriksaan mikrobiologi positif.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 96.04
- Deskripsi: Pemberian oksigen.
Berdasarkan kasus tersebut, permasalahan utama oksigenasi yang terjadi adalah hipoksemia, yaitu penurunan kadar oksigen dalam darah. Hal ini ditunjukkan dengan adanya gejala sesak napas dan sulit membuang dahak, yang merupakan manifestasi dari gangguan pertukaran gas di paru-paru. Pemeriksaan fisik juga menunjukkan adanya akumulasi sekret pada saluran pernapasan, yang dapat menghambat aliran oksigen ke dalam darah.
Dalam kasus ini, pasien kemungkinan mengalami penurunan ventilasi alveolar akibat proses tuberkulosis di paru-paru, yang menyebabkan terjadinya peningkatan kerja napas dan upaya kompensasi pasien untuk mempertahankan nilai oksigenasi yang adekuat. Selain itu, peningkatan frekuensi napas (takhipnea) juga dapat terjadi sebagai mekanisme kompensasi untuk meningkatkan ventilasi alveolar.
Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah hipoksemia pada pasien ini adalah pemberian oksigen tambahan, yang sesuai dengan kode ICD-9-CM 96.04. Pemberian oksigen bertujuan untuk memperbaiki kadar oksigen dalam darah, sehingga dapat mengurangi gejala sesak napas dan membantu proses penyembuhan tuberkulosis paru. -
Article No. 4530 | 04 Nov 2024
Klinis : Seorang laki-laki berusia 40 tahun dirawat dengan masalah TBC saat dikaji pasien mengeluhkan sesak dan sulit membuang dahak. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan adanya akumulasi sekret pada saluran pernafasan pasien. TD 135/90 mmHg, RR 28x/menit. Permasalahan utama oksigenasi yang terjadi berdasarkan kasus tersebut adalah . . . * 4 poin Masalah ventilasi Masalah difusi Masalah transportasi Masalah perfusi
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan kasus yang diberikan, permasalahan utama oksigenasi yang terjadi adalah *Masalah ventilasi*.
Berikut adalah rincian kode ICD-10 dan ICD-9-CM:
1. Kode ICD-10:
- Kode: A15.9
- Deskripsi: Tuberkulosis saluran pernapasan, tidak dispesifikasi
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 96.04
- Deskripsi: Pemberian oksigen, teknik lain
Penjelasan:
1. Masalah ventilasi:
- Pasien mengeluhkan sesak dan sulit membuang dahak, menunjukkan adanya gangguan dalam proses ventilasi.
- Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan adanya akumulasi sekret pada saluran pernapasan, yang dapat menghambat aliran udara dan proses ventilasi.
- Tachypnea (RR 28x/menit) juga mengindikasikan adanya upaya kompensasi untuk meningkatkan ventilasi.
Dalam kasus ini, masalah ventilasi menjadi permasalahan utama oksigenasi, karena adanya akumulasi sekret pada saluran pernapasan yang menghambat proses ventilasi dan pertukaran gas. Kondisi ini dapat menyebabkan hipoksemia (penurunan oksigen dalam darah) dan memerlukan intervensi untuk membantu proses ventilasi, seperti pemberian oksigen (kode ICD-9-CM 96.04). -
Article No. 4531 | 04 Nov 2024
Klinis : Tn. A berumur 30 tahun dirawat di ruang penyakit dalam dengan keluhan demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas dan berlangsung terus menerus 2-7 hari, Saat dilakukan pemeriksaan fisik ditemukan adanya petekhie dan hasil pemeriksaan lab menunjukkan trombosit <100.000. Berdasarkan temuan pengkajian tersebut pasien dapat dicurigai menderita penyakit . . . * 4 poin Thypus Malaria Filariasis DHF
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan keluhan dan temuan pemeriksaan pasien, pasien ini dapat dicurigai menderita Demam Berdarah Dengue (DHF).
1. Kode ICD-10:
- Kode: A90
- Deskripsi: Demam Berdarah Dengue [Dengue fever (classic)]
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 99.15
- Deskripsi: Pemberian cairan intravena
Penjelasan:
Pasien dengan keluhan demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas, disertai gejala petekhie (pendarahan di bawah kulit) dan trombositopenia (jumlah trombosit <100.000) mengarah pada diagnosis Demam Berdarah Dengue (DHF). DHF merupakan salah satu komplikasi dari infeksi virus dengue yang ditandai dengan kebocoran plasma, pembekuan darah abnormal, dan adanya gangguan fungsi organ.
Pemberian cairan intravena (kode ICD-9-CM 99.15) merupakan salah satu intervensi utama dalam penanganan pasien dengan DHF, terutama untuk mencegah terjadinya syok hipovolemik akibat kebocoran plasma. Intervensi ini penting untuk mempertahankan volume dan tekanan darah dalam batas normal, sehingga dapat mencegah komplikasi yang lebih berat. -
Article No. 4532 | 04 Nov 2024
Klinis : Pernyaatan di bawah ini yang benar mengenai penyakit tropis dan endemis adalah . . . * 4 poin DHF , malaria dan filariasis disebabkan oleh parasit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. DHF , malaria, thypoid dan filariasis ditularkan melalui gigitan nyamuk. DHF, malaria, typhoid dan filariasis memiliki manifestasi klinis yang sama yaitu demam DHF dan malaria memiliki masa inkubasi yang sama
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan pernyataan yang diberikan, jawaban yang benar adalah:
1. Kode ICD-10:
- Kode: A90
- Deskripsi: Demam berdarah dengue (DBD)
- Kode: B50-B54
- Deskripsi: Malaria
- Kode: B74
- Deskripsi: Filariasis
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Tidak ada kode ICD-9-CM procedure yang spesifik untuk pernyataan di atas, karena pernyataan tersebut tidak menyebutkan adanya tindakan medis yang dilakukan.
Penjelasan:
1. Pernyataan yang benar adalah "DHF (Demam Berdarah Dengue), malaria, dan filariasis disebabkan oleh parasit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk." Hal ini sesuai dengan kode ICD-10 yang diberikan.
2. DHF, malaria, dan filariasis memang ditularkan melalui gigitan nyamuk, tetapi typhoid (demam tifoid) tidak termasuk dalam kelompok penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. Typhoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi dan ditularkan melalui konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi.
3. DHF, malaria, dan filariasis memang memiliki manifestasi klinis yang dapat meliputi demam, namun tidak semua kasus memiliki manifestasi klinis yang sama. Setiap penyakit memiliki karakteristik klinis yang spesifik.
4. DHF dan malaria memiliki masa inkubasi yang berbeda. Masa inkubasi DHF umumnya 4-10 hari, sedangkan masa inkubasi malaria bervariasi tergantung jenis parasit penyebabnya, yaitu 7-30 hari. -
Article No. 4533 | 04 Nov 2024
Klinis : Tn.X mengeluh lemas, tidak nafsu makan, mual dan sulit tidur. tingkat kesadaran pasien composmentis Tekanan darah; 90/70 mmHg Nadi; 106xmnt Pernafasan ; 17xmnt Suhu ; 36,6 C Bb; 65 kg Tb ; 168 cm
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, Tn.X dengan keluhan lemas, tidak nafsu makan, mual dan sulit tidur, dapat diberikan diagnosa keperawatan berdasarkan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia sebagai berikut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Defisit Volume Cairan berhubungan dengan ketidakseimbangan antara asupan dan kehilangan cairan, ditandai dengan lemas, penurunan berat badan, dan tekanan darah rendah.
Penjelasan Singkat:
SDKI: Defisit Volume Cairan adalah kondisi dimana individu mengalami kekurangan cairan tubuh yang ditandai dengan penurunan volume cairan ekstra sel dan/atau intra sel.
SLKI: Keseimbangan Cairan Terpelihara, yaitu keadaan dimana terdapat keseimbangan antara asupan dan pengeluaran cairan tubuh.
SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah Manajemen Cairan, yaitu tindakan untuk mempertahankan keseimbangan cairan tubuh, termasuk pemberian cairan intravena, monitor intake dan output cairan, dan edukasi tentang asupan cairan yang adekuat.
2. Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan kecemasan, mual, dan rasa tidak nyaman, ditandai dengan sulit memulai dan mempertahankan tidur.
Penjelasan Singkat:
SDKI: Gangguan Pola Tidur adalah ketidakcukupan kualitas atau kuantitas tidur yang mengganggu fungsi sehari-hari.
SLKI: Pola Tidur Membaik, yaitu kemampuan individu untuk mempertahankan pola tidur yang adekuat.
SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah Manajemen Tidur, yaitu tindakan untuk memfasilitasi tidur yang adekuat, termasuk pemberian terapi relaksasi, pengaturan lingkungan tidur, dan edukasi tentang higienis tidur.
Demikian diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI untuk Tn.X dengan kondisi yang dipaparkan. Semoga informasi ini bermanfaat. -
Article No. 4534 | 04 Nov 2024
Klinis : Perawat Budi selesai melakukan pengkajian kepada pasien. Berdasarkan hasil pengkajian ditetapkan adanya masalah bersihan jalan nafas tidak efektif. Langkah selanjutnya yang harus dilakukan perawat Budi adalah . . . * 4 poin Melakukan pengkajian ulang beberapa jam kemudian untuk mengevaluasi masalah Melakukan tindakan yang dapat membantu pasien mengurangi masalah yang dirasakan Menetapkan tujuan dan kriteria hasil serta merencanakan tindakan yang sesuai Mengumpulkan pihak keluarga untuk turut serta dalam merawat pasien
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, kondisi pasien adalah masalah bersihan jalan nafas tidak efektif. Berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis yang dapat direkomendasikan:
1. Kode ICD-10:
- Kode: J98.09
- Deskripsi: Gangguan saluran napas lainnya, tidak diklasifikasikan di tempat lain
2. Kode ICD-9-CM Procedure:
- Kode: 93.94
- Deskripsi: Suction of respiratory tract
Langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh perawat Budi adalah:
3. Menetapkan tujuan dan kriteria hasil serta merencanakan tindakan yang sesuai
- Perawat Budi harus menetapkan tujuan yang ingin dicapai untuk mengatasi masalah bersihan jalan napas tidak efektif, misalnya meningkatkan bersihan jalan napas dan mencegah komplikasi.
- Selanjutnya, perawat Budi harus menyusun kriteria hasil yang dapat diukur untuk mengevaluasi keberhasilan tindakan, seperti frekuensi napas, bunyi napas, warna kulit, dan tingkat saturasi oksigen.
- Berdasarkan tujuan dan kriteria hasil yang telah ditetapkan, perawat Budi harus merencanakan tindakan yang sesuai, seperti:
- Suction saluran napas
- Pemberian posisi yang tepat untuk memfasilitasi ekspektorasi
- Pemberian oksigen jika diperlukan
- Edukasi dan kolaborasi dengan pasien/keluarga mengenai tindakan yang dilakukan
Tindakan-tindakan tersebut bertujuan untuk membantu pasien mengurangi masalah bersihan jalan napas yang tidak efektif dan mencapai hasil yang diharapkan. -
Article No. 4535 | 04 Nov 2024
Klinis : Seorang wanita berusia 48 tahun mengalami masalah Hipertensi sejak 1 tahun yang lalu. Pasien mengeluhkan pusing jika tekanan darahnya di atas 160/95 mmHg. Keluhan yang dirasakan pasien terjadi akibat . . . * 4 poin Gangguan pertukaran gas antara oksigen dan karbondioksida Gangguan transportasi dan perfusi oksigen ke jaringan otak Ketidakmampuan jantung dalam memompa darah Stress akibat masalah hipertensi yang sudah menahun
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: 1. Kode ICD-10:
- Kode: I10
- Deskripsi: Hipertensi esensial (primer)
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Tidak ada kode ICD-9-CM prosedur yang spesifik untuk kondisi ini.
Penjelasan:
Keluhan pusing yang dialami pasien wanita berusia 48 tahun dengan hipertensi sejak 1 tahun yang lalu disebabkan oleh gangguan transportasi dan perfusi oksigen ke jaringan otak. Hipertensi, atau tekanan darah tinggi, dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah otak, sehingga aliran darah dan oksigen ke otak terganggu. Hal ini dapat menimbulkan gejala seperti pusing, sakit kepala, dan gangguan fungsi kognitif.
Tekanan darah yang tinggi (>160/95 mmHg) dapat menyebabkan peningkatan resistensi pembuluh darah otak, yang selanjutnya menghambat aliran darah dan suplai oksigen ke jaringan otak. Kondisi ini dapat mengganggu fungsi normal otak dan menyebabkan gejala pusing yang dialami oleh pasien. Selain itu, stres akibat masalah hipertensi yang sudah menahun juga dapat berkontribusi terhadap munculnya gejala pusing pada pasien.
Penanganan yang tepat, seperti pengontrolan tekanan darah melalui penggunaan obat antihipertensi dan perubahan gaya hidup, dapat membantu mengurangi risiko komplikasi dan memperbaiki perfusi oksigen ke jaringan otak, sehingga mengurangi keluhan pusing yang dialami oleh pasien. -
Article No. 4536 | 04 Nov 2024
Klinis : Tn.X mengeluh lemas, tidak nafsu makan, mual dan sulit tidur. DO; tingkat kesadaran pasien composmentis Tekanan darah; 90/70 mmHg Nadi; 106xmnt Pernafasan ; 17xmnt Suhu ; 36,6 C Bb; 65 kg Tb ; 168 cm
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis yang sesuai adalah:
1. Kode ICD-10:
- Kode: R53.81
- Deskripsi: Malaise and fatigue
Penjelasan:
Pasien Tn. X mengalami keluhan utama berupa lemas, tidak nafsu makan, mual, dan sulit tidur. Kondisi ini sesuai dengan kode ICD-10 R53.81 yang menggambarkan malaise (kelemahan umum) dan fatigue (kelelahan).
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Tidak ada kode ICD-9-CM yang spesifik untuk tindakan medis pada kondisi ini. Penanganan yang mungkin dilakukan adalah:
- Pemeriksaan laboratorium (misalnya hemogram, elektrolit, fungsi hati, dan fungsi ginjal) untuk mengetahui penyebab gejala.
- Pemberian terapi simtomatik, seperti antiemetik untuk mual, vitamin, dan obat-obatan untuk mengatasi gangguan tidur.
- Evaluasi lebih lanjut untuk menentukan penyebab mendasar, seperti infeksi, gangguan metabolik, atau kondisi psikiatri.
Dengan informasi yang terbatas, tidak ada kode ICD-9-CM prosedur yang spesifik yang dapat diberikan. Penanganan akan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan penunjang dan temuan klinis yang lebih lengkap.