Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 4465 | 04 Nov 2024
Klinis : intervensi perfusi meningkat
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis untuk kondisi "intervensi perfusi meningkat".
1. Kode ICD-10:
- Kode: I70.0
- Deskripsi: Aterosklerosis aorta
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 39.50
- Deskripsi: Tindakan revaskularisasi arteri perifer, tidak diklasifikasikan di tempat lain
Penjelasan detail:
1. Kode ICD-10 I70.0 (Aterosklerosis aorta):
- Aterosklerosis adalah kondisi di mana plak terakumulasi di dinding arteri, menyebabkan penyempitan dan pengurangan aliran darah.
- Kode I70.0 secara spesifik menggambarkan aterosklerosis yang terjadi di aorta, yang merupakan arteri utama yang membawa darah dari jantung ke seluruh tubuh.
- Peningkatan intervensi perfusi dapat terjadi sebagai respons tubuh untuk meningkatkan aliran darah ke jaringan yang terkena dampak dari penyempitan arteri akibat aterosklerosis.
2. Kode ICD-9-CM Procedure 39.50 (Tindakan revaskularisasi arteri perifer, tidak diklasifikasikan di tempat lain):
- Tindakan revaskularisasi adalah prosedur yang dilakukan untuk memperbaiki atau memulihkan aliran darah ke jaringan yang terkena dampak penyempitan arteri.
- Kode 39.50 mencakup berbagai teknik revaskularisasi arteri perifer, seperti angioplasti, stenting, atau bypass arteri, yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyempitan arteri akibat aterosklerosis.
- Peningkatan intervensi perfusi dapat menjadi indikasi untuk melakukan tindakan revaskularisasi arteri perifer untuk memperbaiki aliran darah dan mengurangi gejala yang terkait. -
Article No. 4466 | 04 Nov 2024
Klinis : hipervolemia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat sesuai dengan standar SDKI - SLKI - SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi hipervolemia:
Diagnosa Keperawatan:
Kelebihan Volume Cairan
Penjelasan:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Kelebihan Volume Cairan adalah keadaan di mana individu mengalami peningkatan volume cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intrasellular.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari penanganan Kelebihan Volume Cairan adalah pasien dapat menunjukkan keseimbangan cairan yang adekuat, tidak terjadi edema, dan tanda-tanda vital dalam batas normal.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi Kelebihan Volume Cairan meliputi:
a. Pantau intake dan output cairan
b. Batasi asupan cairan sesuai kebutuhan
c. Kolaborasi dengan tim kesehatan dalam pemberian terapi diuretik
d. Edukasi pasien dan keluarga tentang pembatasan cairan
e. Observasi tanda-tanda vital dan tanda klinis kelebihan volume cairan
Sebagai perawat, saya memahami kondisi hipervolemia ini dan akan bekerja secara profesional untuk membantu pasien mengatasi masalah ini sesuai dengan standar praktik keperawatan yang berlaku. -
Article No. 4467 | 04 Nov 2024
Klinis : Seorang anak perempuan umur 4 tahundi antar orang tuanya ke UGD karena panas sudah 3 hari dan muntah-muntah . Hasil pengkajian didapatkan data : pasien tampak lemas, mukosa bibir kering, turgor kulit kurang elastis. Akral dingin, nadi 100 kali permenit, suhu tubuh 38,6°C, pernafasan 28 kali permenit, petikie pada ektremitas .Trombosit 87.000 /mm3 , Hematokrit 40 %.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Kekurangan volume cairan
Penjelasan:
Berdasarkan data yang diberikan, pasien mengalami gejala-gejala kekurangan volume cairan, seperti lemas, mukosa bibir kering, turgor kulit kurang elastis, akral dingin, dan petikie pada ekstremitas. Hal ini menunjukkan adanya dehidrasi. Selain itu, data laboratorium juga mendukung kondisi ini, yaitu trombosit rendah dan hematokrit normal.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Kekurangan volume cairan adalah kondisi di mana individu mengalami penurunan volume cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intrasellular.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat mencapai keseimbangan cairan dengan kriteria hasil:
- Tanda-tanda vital dalam batas normal
- Mukosa dan membran tubuh lembab
- Turgor kulit baik
- Tidak ada edema
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi yang dapat dilakukan adalah:
- Monitoring tanda-tanda vital
- Observasi intake dan output cairan
- Pemberian cairan intravena
- Pemberian antiemetik (jika diperlukan)
- Edukasi tentang pentingnya hidrasi dan pencegahan dehidrasi -
Article No. 4468 | 04 Nov 2024
Klinis : Seorang anak perempuan umur 4 tahundi antar orang tuanya ke UGD karena panas sudah 3 hari dan muntah-muntah . Hasil pengkajian didapatkan data : pasien tampak lemas, mukosa bibir kering, turgor kulit kurang elastis. Akral dingin, nadi 100 kali permenit, suhu tubuh 38,6°C, pernafasan 28 kali permenit, petikie pada ektremitas .Trombosit 87.000 /mm3 , Hematokrit 40 %.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan kondisi yang Anda jelaskan, berikut adalah diagnosa keperawatan, penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI, serta standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Kekurangan Volume Cairan (Defisit Volume Cairan) berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebih akibat muntah-muntah.
Penjelasan Singkat SDKI-SLKI-SIKI:
a. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Kekurangan Volume Cairan adalah kondisi di mana individu mengalami penurunan volume cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intrasellular.
b. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Setelah mendapatkan intervensi keperawatan, pasien akan menunjukkan tanda-tanda status cairan yang adekuat, seperti mukosa bibir lembab, turgor kulit baik, nadi dan denyut jantung normal, serta suhu tubuh normal.
c. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi yang dapat dilakukan antara lain pemantauan tanda-tanda vital, pemberian cairan intravena, pemberian obat-obatan, dan edukasi tentang manajemen cairan.
Standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) telah menetapkan standar praktik keperawatan, termasuk dalam penanganan kasus defisit volume cairan pada anak. Standar ini mencakup pengkajian yang komprehensif, perumusan diagnosa keperawatan yang tepat, perencanaan intervensi yang sesuai, implementasi tindakan keperawatan, serta evaluasi hasil asuhan keperawatan. -
Article No. 4469 | 04 Nov 2024
Klinis : Seorang anak perempuan umur 4 tahundi antar orang tuanya ke UGD karena panas sudah 3 hari dan muntah-muntah . Hasil pengkajian didapatkan data : pasien tampak lemas, mukosa bibir kering, turgor kulit kurang elastis. Akral dingin, nadi 100 kali permenit, suhu tubuh 38,6°C, pernafasan 28 kali permenit, petikie pada ektremitas .Trombosit 87.000 /mm3 , Hematokrit 40 %.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, berikut adalah diagnosis keperawatan, beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI yang sesuai dengan standar Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosis Keperawatan:
Risiko Dehidrasi Akut
Penjelasan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Risiko Dehidrasi Akut adalah kondisi di mana individu berisiko mengalami kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dan berlebihan, yang dapat mengancam kelangsungan hidup.
Penjelasan SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Hidrasi Cairan Adekuat
2. Tekanan Darah dalam Batas Normal
3. Suhu Tubuh dalam Batas Normal
Penjelasan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Pemantauan Tanda-Tanda Vital
2. Pemberian Cairan Intravena
3. Terapi Antiemetik
4. Edukasi tentang Pencegahan Dehidrasi
Berdasarkan kondisi pasien yang ditampilkan, yaitu anak perempuan usia 4 tahun dengan gejala panas, muntah-muntah, tampak lemas, mukosa bibir kering, turgor kulit kurang elastis, akral dingin, nadi cepat, suhu tubuh tinggi, dan trombosit serta hematokrit yang rendah, diagnosis keperawatan yang paling sesuai adalah Risiko Dehidrasi Akut. Intervensi keperawatan yang perlu dilakukan antara lain pemantauan tanda-tanda vital, pemberian cairan intravena, terapi antiemetik, dan edukasi tentang pencegahan dehidrasi. -
Article No. 4470 | 04 Nov 2024
Klinis : Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, Selamat siang. Saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi "Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif" dengan nada akademis dan persona sebagai pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan:
Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif
Definisi:
Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang bersih.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Sputum berlebih
- Bunyi napas tambahan
- Perubahan frekuensi napas
- Perubahan irama napas
- Perubahan kedalaman napas
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Jalan napas terbuka
- Batuk efektif
- Irama napas normal
- Tidak ada suara napas tambahan
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Pemantauan jalan napas
- Pengaturan posisi
- Fisioterapi dada
- Manajemen jalan napas
- Edukasi perawatan jalan napas
Dengan menggunakan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia, perawat dapat melakukan pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi yang tepat untuk mengatasi masalah "Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif" pada pasien. Hal ini bertujuan untuk memastikan jalan napas pasien tetap bersih dan terbuka, sehingga fungsi pernapasan dapat berjalan optimal.
Semoga informasi ini bermanfaat. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, silakan disampaikan. Terima kasih. -
Article No. 4471 | 04 Nov 2024
Klinis : Tuan G masuk rumah sakit diantar oleh keluarganya dengan alasan pasien mengatakan ingin mati saja dan mencoba bunuh diri dengan menusukan pisau ke bagian perut kanannya dan mencoba meminum pemutih pakaian. Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien mengalami perubahan sejak seminggu yang lalu, pasien tidak mau makan selama seminggu karena merasa ingin mati saja dan pasien mengalami kesulitan tidur khususnya malam hari. Pasien mengatakan putus asa dalam menjalani hidup karena di tinggal istri dan anaknya dalam kecelakaan 3 bulan lalu dan setahun terkahir klien menganggur karena diPHK dari pekerjaannya klien merasa malu dan sudah tidak berguna lagi. Saat ini skor klien 4 saat dikaji dengan SIRS (Suicidal Intervention Rating Scale,) sehingga klien diobservasi ketat. Sebutkan diagnosa SDKI, dan tentukan SLKI dan SIKI, dan tentukan diagnosa medisnya
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis, dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis:
1. Kode ICD-10:
- Kode: X60
- Deskripsi: Intentional self-poisoning by and exposure to nonopioid analgesics, antipyretics, and antirheumatics
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 54.21
- Deskripsi: Exploratory laparotomy
Diagnosis Keperawatan (SDKI):
1. Risiko bunuh diri (00150) berhubungan dengan perasaan putus asa, kehilangan, dan frustrasi akibat perubahan hidup yang signifikan.
2. Gangguan pola tidur (00198) berhubungan dengan kecemasan dan stres emosional akibat peristiwa kehilangan.
3. Ketidakefektifan manajemen kesehatan (00078) berhubungan dengan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar akibat depresi.
Rencana Keperawatan (SLKI):
1. Manajemen risiko bunuh diri
2. Peningkatan pola tidur
3. Manajemen kesehatan
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Observasi perilaku bunuh diri
2. Terapi relaksasi
3. Edukasi manajemen kesehatan
Diagnosis Medis:
1. Percobaan bunuh diri dengan luka tusuk pada perut dan intoksikasi zat pemutih pakaian, terkait dengan depresi berat pasca kehilangan pasangan dan pekerjaan.
Penjelasan:
Pasien Tuan G menunjukkan gejala depresi berat dengan adanya percobaan bunuh diri menggunakan pisau dan zat pemutih pakaian, serta perubahan pola makan dan tidur. Hal ini dipicu oleh peristiwa kehilangan yang signifikan, yaitu meninggalnya pasangan dan anak serta kehilangan pekerjaan. Pasien merasa putus asa, malu, dan merasa tidak berguna lagi, sehingga berisiko tinggi untuk bunuh diri. Oleh karena itu, diperlukan intervensi medis dan keperawatan yang komprehensif untuk menangani kondisi ini. -
Article No. 4472 | 04 Nov 2024
Klinis : Gangguan Penyapihan Ventilator
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi Gangguan Penyapihan Ventilator dengan nada akademis dan persona sebagai pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Penyapihan Ventilator
Definisi:
Gangguan Penyapihan Ventilator adalah ketidakmampuan untuk memulai, mempertahankan, atau menyelesaikan proses penyapihan dari ventilator.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Diagnosis ini termasuk dalam domain Pertukaran, kelas Ventilasi. Kode diagnosis keperawatannya adalah 00034.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran keperawatan yang terkait dengan diagnosis ini antara lain:
1. Toleransi Aktivitas
2. Status Pernafasan
3. Pelepasan Ventilator
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat diberikan untuk mengatasi diagnosis ini antara lain:
1. Manajemen Jalan Napas
2. Manajemen Ventilasi Mekanik
3. Terapi Oksigen
4. Manajemen Kejang
Penjelasan:
Gangguan Penyapihan Ventilator dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kondisi klinis yang memburuk, komplikasi penyakit dasar, kelelahan otot-otot pernafasan, dan respon psikologis yang buruk terhadap ventilator. Peran perawat sangat penting dalam memantau status klinis, mengoptimalkan terapi, dan memberikan dukungan psikologis untuk memfasilitasi proses penyapihan yang lancar. Intervensi keperawatan yang tepat dapat membantu mencegah komplikasi dan meningkatkan peluang keberhasilan penyapihan dari ventilator. -
Article No. 4473 | 04 Nov 2024
Klinis : Gangguan Penyapihan Ventilator
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Dengan mempertimbangkan kondisi "Gangguan Penyapihan Ventilator", berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis serta kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis yang mungkin terkait:
1. Kode ICD-10:
- Kode: R94.8
- Deskripsi: Abnormalitas hasil pemeriksaan faal organ lainnya
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 96.70
- Deskripsi: Pelepasan ventilasi mekanis, tidak diklasifikasi di tempat lain
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 R94.8 (Abnormalitas hasil pemeriksaan faal organ lainnya) digunakan untuk menyatakan adanya gangguan dalam penyapihan pasien dari ventilator. Hal ini dapat mencerminkan ketidakstabilan klinis, ketidakmampuan untuk melepaskan bantuan ventilasi mekanis, atau keterlambatan proses penyapihan yang normal.
2. Kode ICD-9-CM 96.70 (Pelepasan ventilasi mekanis, tidak diklasifikasi di tempat lain) dapat digunakan untuk mencatat tindakan medis yang dilakukan untuk melepaskan pasien dari ventilasi mekanis, baik secara bertahap maupun secara langsung. Prosedur ini dapat melibatkan pengurangan secara bertahap dukungan ventilasi, pemantauan status pernapasan, dan upaya untuk mencapai penyapihan yang sukses dari ventilator.
Dalam praktik klinis, diagnosis dan tindakan yang tepat harus ditentukan berdasarkan evaluasi komprehensif pasien, hasil pemeriksaan, dan prosedur yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang berwenang. -
Article No. 4474 | 04 Nov 2024
Klinis : Manajemen Jalan Napas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi "Manajemen Jalan Napas" dengan nada akademis dan persona sebagai seorang pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Gangguan Jalan Napas Berhubungan dengan Obstruksi Jalan Napas
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Risiko Gangguan Jalan Napas adalah keadaan di mana individu berisiko mengalami ketidakmampuan untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka secara bebas dan lancar, yang dapat menyebabkan hipoksemia, hiperkarbia, dan/atau asidosis.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat mempertahankan jalan napas yang terbuka dan lancar, dapat bernapas dengan efektif, dan dapat mempertahankan konsentrasi oksigen dan karbondioksida dalam darah dalam batas normal.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain:
1. Pemantauan status respirasi
2. Pengisapan jalan napas
3. Pemberian oksigen
4. Pemberian bronkodilator
5. Manajemen posisi
6. Edukasi dan konseling pasien/keluarga
Dengan penerapan standar SDKI, SLKI, dan SIKI, diharapkan perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan terukur untuk membantu pasien dengan risiko gangguan jalan napas, sehingga dapat mempertahankan fungsi pernapasan yang optimal.