Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 21615 | 08 Sep 2025
Klinis : demam sudah sejak selasa, demam tinggi batuk sejak selasa, batuk grok-grok memberat 3 hari ini diare (-) muntah (-)
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi tersebut adalah:
1. Hipertermia Berhubungan dengan Proses Infeksi Teridentifikasi
Penjelasan:
Pasien mengalami demam tinggi sejak Selasa, yang merupakan salah satu tanda adanya proses infeksi dalam tubuh. Hipertermia adalah suatu keadaan di mana suhu tubuh berada di atas rentang normal, yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh untuk mengatur suhu tubuh.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Suhu Tubuh Dalam Batas Normal
2. Tanda-Tanda Vital Dalam Batas Normal
3. Tidak Ada Komplikasi Akibat Hipertermia
Penjelasan:
Setelah diberikan asuhan keperawatan yang tepat, diharapkan suhu tubuh pasien dapat kembali dalam batas normal, tanda-tanda vital lainnya juga dalam batas normal, serta tidak ada komplikasi yang timbul akibat hipertermia, seperti dehidrasi, kejang, atau gangguan organ lainnya.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
1. Monitor Tanda-Tanda Vital secara Rutin
2. Lakukan Tindakan Penurunan Demam (Kompres Hangat, Pemberian Antipiretik)
3. Berikan Cairan dan Nutrisi yang Adekuat
4. Identifikasi dan Atasi Penyebab Infeksi
5. Edukasi Pasien dan Keluarga tentang Pengelolaan Demam
Penjelasan:
Intervensi keperawatan yang diperlukan meliputi pemantauan tanda-tanda vital secara rutin, tindakan penurunan demam, pemberian cairan dan nutrisi yang adekuat, identifikasi dan penanganan penyebab infeksi, serta edukasi pasien dan keluarga terkait pengelolaan demam. Hal ini bertujuan untuk mengembalikan suhu tubuh dalam batas normal, mencegah komplikasi, dan membantu proses pemulihan. -
Article No. 21616 | 08 Sep 2025
Klinis : hipertermia
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah penjelasan rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan untuk kondisi hipertermia:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi hipertermia adalah "Hipertermia". Hipertermia didefinisikan sebagai suhu tubuh di atas 37,5°C (99,5°F) yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh untuk mengatur suhu tubuh. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti infeksi, dehidrasi, obat-obatan, atau paparan lingkungan yang panas.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Suhu tubuh dalam batas normal (36,5-37,5°C atau 97,7-99,5°F).
2. Tanda-tanda vital stabil (nadi, pernapasan, tekanan darah).
3. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit baik, mukosa lembab).
4. Klien menunjukkan peningkatan rasa nyaman.
5. Klien dapat berpartisipasi dalam upaya penurunan suhu tubuh.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Pemantauan suhu tubuh secara berkala (setiap 2-4 jam).
2. Pemberian cairan dan elektrolit yang adekuat untuk mencegah dehidrasi.
3. Pengaturan suhu lingkungan yang sejuk (sekitar 22-25°C) dan penggunaan kipas angin atau kompres dingin.
4. Pemberian obat penurun panas (antipiretik) sesuai dengan resep dokter.
5. Edukasi klien dan keluarga tentang tanda-tanda dan bahaya hipertermia, serta pentingnya partisipasi dalam upaya penurunan suhu tubuh.
6. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (dokter, ahli gizi, fisioterapis) untuk menentukan penyebab hipertermia dan penatalaksanaan yang komprehensif.
7. Evaluasi efektivitas intervensi dan modifikasi rencana asuhan keperawatan sesuai dengan respons klien.
Dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan hipertermia, perawat harus memperhatikan prinsip-prinsip keselamatan klien, komunikasi yang efektif, dan kolaborasi dengan tim kesehatan lain. Perawat juga harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam mengelola kondisi hipertermia, serta memberikan edukasi yang komprehensif kepada klien dan keluarga. -
Article No. 21617 | 08 Sep 2025
Klinis : hipertermia
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan senang hati saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci terkait kondisi hipertermia, sesuai dengan format yang Anda berikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi hipertermia berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) adalah "Hipertermia". Hipertermia didefinisikan sebagai peningkatan suhu tubuh di atas batas normal (>37,5°C) yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh untuk mengendalikan suhu tubuh. Kondisi ini dapat terjadi akibat berbagai faktor, seperti infeksi, dehidrasi, lingkungan yang panas, atau efek samping obat-obatan.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah dilakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan hipertermia, diharapkan tercapai luaran/output sebagai berikut:
1. Suhu tubuh kembali normal (36,5-37,5°C)
2. Tanda-tanda vital stabil (nadi, respirasi, dan tekanan darah dalam batas normal)
3. Tidak ada tanda-tanda infeksi atau komplikasi lainnya
4. Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan dalam mengelola hipertermia
5. Pasien menunjukkan peningkatan pengetahuan tentang penyebab, tanda, dan penanganan hipertermia
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan (SIKI):
Untuk mencapai luaran/output yang diharapkan pada pasien dengan hipertermia, diperlukan intervensi keperawatan sebagai berikut:
1. Pemantauan suhu tubuh secara berkala
2. Pemberian cairan intravena atau oral untuk mencegah dehidrasi
3. Pengaturan lingkungan yang sejuk dan nyaman (suhu ruangan, kipas angin, atau kompres dingin)
4. Pemberian obat penurun demam (antipiretik) jika diperlukan
5. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang manajemen hipertermia, termasuk cara mencegah, mengenali tanda-tanda, dan tindakan yang perlu dilakukan
6. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (dokter, ahli gizi, dan lain-lain) untuk mengatasi penyebab hipertermia
7. Pemantauan tanda-tanda vital dan gejala komplikasi secara teratur
8. Dokumentasi asuhan keperawatan secara lengkap dan akurat
Penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin di atas telah saya berikan. Sebagai seorang perawat, saya berharap informasi ini dapat membantu Anda dalam memberikan asuhan keperawatan yang optimal bagi pasien dengan hipertermia. Jika Anda membutuhkan informasi lebih lanjut, jangan ragu untuk menanyakannya. -
Article No. 21618 | 08 Sep 2025
Klinis : muntah
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis untuk kondisi muntah, dengan format yang terstruktur dan penjelasan detail.
1. Kode ICD-10:
- Kode: R11.0
- Deskripsi: Muntah
Muntah (R11.0) adalah suatu gejala yang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi medis, seperti:
- Infeksi gastrointestinal (misalnya gastroenteritis)
- Obat-obatan tertentu
- Gangguan saluran pencernaan (misalnya ulkus, penyakit Crohn)
- Kondisi neurologi (misalnya migren, tumor otak)
- Kehamilan (misalnya morning sickness)
- Keracunan makanan atau zat kimia
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 94.1
- Deskripsi: Pemberian anti-muntah/antiemetik, sistemik
Jika diperlukan, tindakan medis yang dapat dilakukan untuk mengatasi muntah adalah pemberian anti-muntah atau antiemetik secara sistemik (94.1). Ini dapat berupa obat oral, intravena, atau intramuskular, tergantung pada kondisi pasien dan keparahan gejala.
Kode ICD-9-CM ini menggambarkan prosedur pemberian obat antiemetik untuk mengurangi atau menghentikan gejala muntah. Hal ini dapat dilakukan sebagai bagian dari penatalaksanaan kondisi medis yang mendasari atau sebagai tindakan simptomatik untuk memberikan kenyamanan bagi pasien. -
Article No. 21619 | 08 Sep 2025
Klinis : korengan
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, saya akan memberikan informasi kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis untuk kondisi "korengan" dengan format yang terstruktur dan detail.
1. Kode ICD-10:
- Kode: L20.9
- Deskripsi: Dermatitis atopik, tidak spesifik
Penjelasan:
- Kode L20.9 dalam klasifikasi ICD-10 (International Classification of Diseases, 10th Revision) digunakan untuk mempresentasikan kondisi dermatitis atopik yang tidak dispesifikan lebih lanjut.
- Dermatitis atopik, atau korengan, adalah suatu kondisi peradangan kulit yang kronis dan kambuhan, ditandai dengan gejala seperti ruam, gatal, dan kulit kering.
- Kode L20.9 digunakan ketika tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai subtipe atau karakteristik spesifik dari dermatitis atopik yang diderita oleh pasien.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: Tidak ada kode ICD-9-CM prosedur yang spesifik untuk korengan.
Penjelasan:
- Kondisi korengan atau dermatitis atopik umumnya tidak memerlukan tindakan atau prosedur medis spesifik yang tercatat dalam klasifikasi ICD-9-CM (International Classification of Diseases, 9th Revision, Clinical Modification).
- Penanganan korengan biasanya meliputi terapi topikal, seperti penggunaan emolien, kortikosteroid topikal, atau obat anti-inflamasi non-steroid, serta identifikasi dan penghindaran faktor pencetus.
- Jika terdapat komplikasi atau indikasi khusus yang memerlukan prosedur medis, maka kode ICD-9-CM yang sesuai dapat digunakan, namun tidak ada kode spesifik untuk korengan atau dermatitis atopik itu sendiri. -
Article No. 21620 | 08 Sep 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan mual,bab lembek dan perut kembung
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan keluhan yang Anda sampaikan, yaitu mual, BAB lembek, dan perut kembung, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
1. Diagnosa Keperawatan: Diare (NANDA-I: 00013)
- Definisi: Pengeluaran feses yang tidak normal, tidak terkontrol, dan lebih sering dari biasanya, dengan konsistensi yang lebih cair atau lembek.
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
- Kode: 00013
- Definisi: Pengeluaran feses cair atau lembek yang terjadi lebih dari tiga kali dalam 24 jam.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Kode: 00013
- Definisi: Hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan yang ditujukan untuk mengatasi masalah diare.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Kode: 00013
- Definisi: Tindakan yang dilakukan oleh perawat untuk mengatasi masalah diare.
2. Diagnosa Keperawatan: Mual (NANDA-I: 00134)
- Definisi: Sensasi tidak nyaman di daerah lambung yang dapat menimbulkan keinginan untuk muntah.
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
- Kode: 00134
- Definisi: Sensasi tidak nyaman di daerah lambung yang dapat menimbulkan keinginan untuk muntah.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Kode: 00134
- Definisi: Hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan yang ditujukan untuk mengatasi masalah mual.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Kode: 00134
- Definisi: Tindakan yang dilakukan oleh perawat untuk mengatasi masalah mual.
3. Diagnosa Keperawatan: Perubahan Fungsi Gastrointestinal (NANDA-I: 00011)
- Definisi: Perubahan dalam fungsi normal saluran pencernaan.
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
- Kode: 00011
- Definisi: Perubahan dalam fungsi normal saluran pencernaan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Kode: 00011
- Definisi: Hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan yang ditujukan untuk mengatasi perubahan fungsi gastrointestinal.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Kode: 00011
- Definisi: Tindakan yang dilakukan oleh perawat untuk mengatasi perubahan fungsi gastrointestinal.
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus mempertimbangkan ketiga komponen tersebut (SDKI, SLKI, SIKI) untuk memastikan perencanaan, implementasi, dan evaluasi yang komprehensif dan sesuai dengan standar praktik keperawatan di Indonesia. -
Article No. 21621 | 08 Sep 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan luka lecet
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dalam menjawab permintaan Anda, saya akan menyajikan diagnosa keperawatan, beserta penjelasan singkat dan kode SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi pasien dengan keluhan luka lecet.
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Infeksi
Definisi SDKI:
Risiko Infeksi: Rentan terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen yang dapat menimbulkan kerusakan selular.
Kode SDKI: 00004
Definisi SLKI:
Perawatan Luka: Tindakan untuk memelihara integritas kulit dan mencegah komplikasi.
Kode SLKI: 02013
Definisi SIKI:
Perawatan Luka: Tindakan untuk memelihara integritas kulit dan mencegah komplikasi.
Kode SIKI: 10028
Penjelasan Singkat:
Pasien dengan luka lecet memiliki risiko infeksi yang tinggi. Tindakan keperawatan yang diperlukan adalah perawatan luka untuk memelihara integritas kulit dan mencegah komplikasi, seperti infeksi. Perawatan luka meliputi pembersihan, debridemen, dan aplikasi obat-obatan sesuai dengan kondisi luka.
Dengan tone akademis, persona pakar, dan sebagai perawat, saya akan memberikan penjelasan yang komprehensif dan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh PPNI. -
Article No. 21622 | 08 Sep 2025
Klinis : Kasus Seorang laki-laki berusia 54 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan nyeri dada sebelah kiri sejak 1 jam yang lalu. Pasien merasa nyeri dada seperti terbakar, dan nyeri tersebut menjalar rahang sebelah kiri dan lengan sebelah kiri. Nyeri dirasakan saat pasien berolahraga. Hasil anamnesa pasien menyatakan jantungnya berdebar tidak normal. Tanda vital menunjukkan TD 145/95 mmHg, frekuensi nadi 108 kali/menit, frekuensi nafas 22 kali/menit, nadi teraba lemah, kulit pucat, dingin, berkeringat banyak dan mual. Pasien terlihat meringis dan gelisah. Pasien merasa khawatir dengan kondisi yang dihadapinya. Hasil EKG menunjukkan: gelombang P 0,12 detik, interval PR 0,16 detik, kompleks QRS 0,06 detik, ST elevasi pada lead aVL, lead V1 dan lead V5 Hasil pemeriksaan laboratorium: Hb 12,6 g/dL, Leukosit 9.370/mm3, Hematokrit 39 %, Trombosit 442.000/mm3, Troponin I = 9202 ng/L Diagnosis medis: Infark miokard akut
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: 1. Kode ICD-10:
- Kode: I21.0
- Deskripsi: Infark miokard akut dengan elevasi segmen ST
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 93.90
- Deskripsi: Pemantauan elektrokardiografi, tidak spesifik
Berdasarkan informasi yang diberikan, pasien laki-laki berusia 54 tahun datang ke IGD dengan keluhan nyeri dada yang dirasakan seperti terbakar, menjalar ke rahang dan lengan kiri. Keluhan ini dirasakan saat pasien berolahraga dan disertai dengan tanda-tanda kegawatdaruratan seperti denyut jantung yang tidak normal, tekanan darah tinggi, kulit pucat dan dingin, serta berkeringat banyak. Hasil pemeriksaan EKG menunjukkan adanya elevasi segmen ST pada beberapa lead, mengindikasikan diagnosis infark miokard akut. Hasil laboratorium juga mendukung diagnosis ini dengan peningkatan nilai troponin I.
Kode ICD-10 yang sesuai untuk diagnosis ini adalah I21.0 (Infark miokard akut dengan elevasi segmen ST). Sementara itu, kode ICD-9-CM untuk prosedur yang dilakukan adalah 93.90 (Pemantauan elektrokardiografi, tidak spesifik), karena pasien menjalani pemeriksaan EKG sebagai bagian dari evaluasi kondisi medisnya. -
Article No. 21623 | 08 Sep 2025
Klinis : Kasus Seorang laki-laki berusia 54 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan nyeri dada sebelah kiri sejak 1 jam yang lalu. Pasien merasa nyeri dada seperti terbakar, dan nyeri tersebut menjalar rahang sebelah kiri dan lengan sebelah kiri. Nyeri dirasakan saat pasien berolahraga. Hasil anamnesa pasien menyatakan jantungnya berdebar tidak normal. Tanda vital menunjukkan TD 145/95 mmHg, frekuensi nadi 108 kali/menit, frekuensi nafas 22 kali/menit, nadi teraba lemah, kulit pucat, dingin, berkeringat banyak dan mual. Pasien terlihat meringis dan gelisah. Pasien merasa khawatir dengan kondisi yang dihadapinya. Hasil EKG menunjukkan: gelombang P 0,12 detik, interval PR 0,16 detik, kompleks QRS 0,06 detik, ST elevasi pada lead aVL, lead V1 dan lead V5 Hasil pemeriksaan laboratorium: Hb 12,6 g/dL, Leukosit 9.370/mm3, Hematokrit 39 %, Trombosit 442.000/mm3, Troponin I = 9202 ng/L Diagnosis medis: Infark miokard akut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kasus yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan, penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI beserta kodenya dan definisinya yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri Akut (00132)
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial.
2. Perfusi Jaringan Kardiak Tidak Efektif (00079)
Definisi: Ketidakadekuatan suplai oksigen dan nutrisi ke jantung.
3. Kecemasan (00146)
Definisi: Perasaan tidak nyaman atau khawatir yang tidak jelas dan menyebar, yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Nyeri Akut (10001)
Kode: 10001
Definisi: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan.
2. Perfusi Jaringan Kardiak Tidak Efektif (10025)
Kode: 10025
Definisi: Keadaan dimana aliran darah ke jantung tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan jantung.
3. Kecemasan (10024)
Kode: 10024
Definisi: Respon emosional dan psikologis terhadap sumber internal atau eksternal yang tidak diketahui atau tidak jelas dan menyebabkan ketidaknyamanan dan kekhawatiran.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Nyeri (20102)
Kode: 20102
Definisi: Kemampuan individu untuk mengenali, mengatasi, dan mengurangi nyeri yang dirasakan.
2. Status Perfusi Jantung (20045)
Kode: 20045
Definisi: Keadaan aliran darah yang adekuat ke jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jantung.
3. Tingkat Kecemasan (20031)
Kode: 20031
Definisi: Tingkat kekhawatiran, rasa takut, atau ketegangan yang dirasakan individu.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Nyeri (30001)
Kode: 30001
Definisi: Mencegah, mengurangi, atau menghilangkan rasa nyeri yang dirasakan pasien.
2. Peningkatan Perfusi Jantung (30080)
Kode: 30080
Definisi: Meningkatkan suplai oksigen dan nutrisi ke jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jantung.
3. Manajemen Kecemasan (30028)
Kode: 30028
Definisi: Mengurangi rasa takut, cemas, atau ketegangan yang dialami individu. -
Article No. 21624 | 08 Sep 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan pilek dan flu
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi pasien dengan keluhan pilek dan flu.
Diagnosa Keperawatan:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (00031)
- Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang bebas.
2. Intoleransi Aktivitas (00092)
- Definisi: Ketidakmampuan untuk bertoleransi terhadap aktivitas fisik.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (00031)
- Kode: 00031
- Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang bebas.
2. Intoleransi Aktivitas (00092)
- Kode: 00092
- Definisi: Ketidakmampuan untuk bertoleransi terhadap aktivitas fisik.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Jalan Napas Efektif (1616)
- Kode: 1616
- Definisi: Kemampuan untuk menjaga jalan napas tetap terbuka dan bebas dari obstruksi.
2. Toleransi Aktivitas (0005)
- Kode: 0005
- Definisi: Kemampuan untuk melakukan aktivitas fisik tanpa menimbulkan gejala yang tidak diinginkan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Jalan Napas (3140)
- Kode: 3140
- Definisi: Tindakan yang dilakukan untuk mempertahankan atau memperbaiki jalan napas yang bebas.
2. Manajemen Aktivitas (0200)
- Kode: 0200
- Definisi: Pengaturan, pemberian, dan evaluasi aktivitas yang terencana untuk mempertahankan atau meningkatkan status fungsional.
Dalam kondisi pasien dengan keluhan pilek dan flu, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (00031) dan Intoleransi Aktivitas (00092). Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah Manajemen Jalan Napas (3140) dan Manajemen Aktivitas (0200) untuk mempertahankan jalan napas yang efektif dan meningkatkan toleransi aktivitas pasien.