Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 21678 | 13 Sep 2025
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \rtf1\ansi\ansicpg1252\deff0\nouicompat\deflang1057{\fonttbl{\f0\fnil\fcharset0 Calibri;}}
{\colortbl ;\red0\green0\blue0;}
{\*\generator Riched20 10.0.22621}\viewkind4\uc1
\pard\nowidctlpar\sa200\sl276\slmult1\cf1\f0\fs22\lang1057 Berdasarkan data klinis yang disampaikan, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat sesuai Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk pasien dengan dugaan tuberkulosis paru:\par
\par
\textb DIAGNOSIS KEPERAWATAN:\par
\textb Kode SDKI: B.3.1.1\par
\textb Nama Diagnosis: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif\par
\par
\textb Definisi (SDKI):\par Keadaan di mana seorang individu mengalami ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan patensi jalan napas.\par
\par
\textb Faktor yang Berhubungan (Etiologi):\par
\bullet Peningkatan produksi sputum (dahak) yang kental dan purulen akibat infeksi \i Mycobacterium tuberculosis\i0 .\par
\bullet Ketidakefektifan mekanisme batuk akibat kelemahan umum, demam, dan malnutrisi.\par
\bullet Adanya lesi/infiltrat di parenkim paru (lapangan paru kanan atas) yang mengganggu fungsi silia dan clearance mukosiliar.\par
\par
\textb LUARAN YANG DIHARAPKAN (SLKI):\par
\textb Kode SLKI: B.0301\par
\textb Nama Luaran: Bersihan Jalan Napas\par
\par
\textb Indikator yang Dapat Dimonitor:\par
\bullet Bunyi napas bersih (mengi/ronkhi menurun/hilang).\par
\bullet Batuk efektif.\par
\bullet Produksi sputum (jumlah, konsistensi, warna).\par
\bullet Frekuensi pernapasan dalam rentang normal.\par
\bullet Tidak mengalami dispnea (sesak napas).\par
\par
\textb INTERVENSI KEPERAWATAN (SIKI):\par
\textb Kode SIKI: B.10240\par
\textb Nama Intervensi: Manajemen Jalan Napas\par
\par
\textb Aktivitas Keperawatan (Tindakan):\par
\bullet Auskultasi suara napas, perhatikan adanya bunyi adventisius (ronkhi, wheezing).\par
\bullet Ajarkan dan bantu pasien dalam teknik batuk efektif dan latihan napas dalam.\par
\bullet Berikan posisi yang nyaman untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya, posisi semi-Fowler).\par
\bullet Kolaborasi pemberian terapi oksigen sesuai kebutuhan dan indikasi.\par
\bullet Kolaborasi pemberian obat mukolitik/ekspektoran dan antibiotik (OAT) sesuai program terapi.\par
\bullet Monitor karakteristik sputum (warna, konsistensi, volume).\par
\bullet Anjurkan intake cairan yang adekuat (jika tidak ada kontraindikasi) untuk mengencerkan sekret.\par
\bullet Lakukan fisioterapi dada (postural drainage, perkusi, vibrasi) jika diperlukan.\par
\par
\par
\textb Catatan Akademis:\par
Diagnosis ini diprioritaskan karena gejala utama pasien (batuk berdahak, sesak napas, dan temuan suara napas bronkial) secara langsung mengancam patensi jalan napas dan merupakan masalah fisiologis yang mendesak. Intervensi difokuskan pada upaya untuk mengurangi obstruksi, meningkatkan pertukaran gas, dan mencegah komplikasi seperti atelektasis atau penyebaran infeksi. Pendekatan manajemen harus komprehensif, menggabungkan tindakan independen perawat (seperti posisi dan latihan napas) dengan tindakan kolaboratif (pemberian obat dan terapi oksigen) sesuai dengan rencana terapi medis tuberkulosis.\par
} -
Article No. 21679 | 13 Sep 2025
Klinis : manajemen perilaku
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \b\fs28 DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN PENJELASAN SDKI - SLKI - SIKI\b0\fs24
\par
\par Berdasarkan standar praktik keperawatan yang ditetapkan oleh \b Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)\b0 , berikut adalah diagnosa keperawatan yang relevan untuk kondisi \b manajemen perilaku\b0 :
\par
\par \b Diagnosa Keperawatan:\b0
\par \b Kode SDKI: 0016\b0 - \b Risiko Perilaku Kekerasan\b0
\par
\par \b Penjelasan Singkat:\b0
\par
\par \b SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia) - 0016: Risiko Perilaku Kekerasan\b0
\par \tab Merupakan kondisi dimana individu berisiko menunjukkan perilaku yang dapat menyebabkan cedera fisik pada diri sendiri, orang lain, atau lingkungan. Faktor risiko meliputi riwayat kekerasan, impulsivitas, gangguan psikologis, atau penggunaan zat psikoaktif.
\par
\par \b SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) - 1610: Pengendalian Perilaku Kekerasan\b0
\par \tab Luaran yang diharapkan adalah klien dapat mengidentifikasi pemicu perilaku kekerasan, menggunakan teknik koping yang adaptif, menunjukkan pengendalian diri, dan tidak menunjukkan perilaku yang membahayakan diri sendiri atau orang lain.
\par
\par \b SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) - 2610: Manajemen Perilaku Kekerasan\b0
\par \tab Intervensi yang dilakukan meliputi pengkajian faktor risiko, menciptakan lingkungan yang aman, menerapkan teknik de-eskalasi, melatih keterampilan koping, kolaborasi dengan tim kesehatan jiwa, dan edukasi keluarga tentang penanganan perilaku kekerasan.
\par
\par \b Catatan Klinis:\b0
\par Implementasi manajemen perilaku memerlukan pendekatan komprehensif yang mempertimbangkan aspek biopsikososio-spiritual klien. Perawat perlu melakukan pengkajian menyeluruh untuk menentukan faktor predisposisi, presipitasi, dan penilaian risiko perilaku kekerasan sebelum menentukan intervensi yang tepat.
\par
\par \i Dokumen ini disusun berdasarkan Standar Praktik Keperawatan PPNI edisi terbaru dan bersifat akademis sebagai referensi praktik keperawatan profesional.\i0
\par
\par \b Perawat Klinis\b0
\par \b Ners. Sp.Kep.J\b0
\par \i (Perawat Spesialis Keperawatan Jiwa)\i0
\par
} -
Article No. 21680 | 13 Sep 2025
Klinis : Seorang perempuan berusia 57 tahun di rawat di RS dengan keluhan sesak nafas. Hasil pengkajian fisik diperoleh data : terdapat batuk ,frekuensi napas 28 x/menit, gerakan dada asimetris, perkusi dada pekak di area inter costa 10 kiri,auskultasi dada vesikuler menurun. Apa masalah keperawatan utama kasus tersebut? Pilih salah satu: sebuah. Ketidak seimbangan nutrisi : kurang b. Bersihan jalan nafas tidak efektif c. Aktivitas intoleransi d. Pola nafas tidak efektif e. Kerusakan pertukaran gas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \b\fs28 Diagnosa Keperawatan Utama\b0\fs24 : \b Kerusakan Pertukaran Gas (E)\b0
\b\fs28 Penjelasan SDKI, SLKI, dan SIKI\b0\fs24 :
\b 1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) - Kode: 00030\b0
\b Definisi\b0 : Penurunan kemampuan tubuh untuk melakukan pertukaran oksigen dan karbon dioksida antara alveoli dan sistem vaskular pulmonal.
\b Karakteristik Mayor\b0 : Takipnea (frekuensi napas 28x/menit, normal 12-20x/menit), gerakan dada asimetris, suara napas vesikuler menurun.
\b Karakteristik Minor\b0 : Batuk, perkusi pekak (mengindikasikan konsolidasi atau efusi).
\b 2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) - Kode: 0401 (Status Pernapasan)\b0
\b Indikator Luaran\b0 :
\- Frekuensi napas dalam rentang normal (12-20x/menit)
\- Tidak adanya batuk
\- Suara napas vesikuler normal dan simetris
\- Tidak adanya keluhan sesak napas
\b 3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) - Kode: 3350 (Manajemen Jalan Napas)\b0
\b Aktivitas Intervensi\b0 :
\- Memonitor frekuensi, irama, dan kedalaman pernapasan
\- Auskultasi suara napas setiap 4 jam
\- Posisikan pasien semi-Fowler atau Fowler untuk optimalisasi ekspansi dada
\- Ajarkan teknik batuk efektif dan napas dalam
\- Kolaborasi pemberian oksigen dan terapi nebulizer sesuai indikasi
\b Rasional Pemilihan Diagnosa\b0 :
Data objektif (takipnea, asimetris dada, perkusi pekak, penurunan suara vesikuler) mengindikasikan gangguan pada proses pertukaran gas di tingkat alveoli-kapiler, konsisten dengan kemungkinan efusi pleura atau konsolidasi paru. Gangguan pertukaran gas merupakan masalah fisiologis primer yang mendasari keluhan sesak napas.
\b Rekomendasi\b0 : Diagnosa "Kerusakan Pertukaran Gas" (E) paling tepat sebagai masalah keperawatan utama karena secara langsung merefleksikan abnormalitas fisiologis yang teridentifikasi melalui pengkajian fisik. -
Article No. 21681 | 13 Sep 2025
Klinis : pasien batuk, sesek nafas, panas, nyeri dada 3 hari, respirasi 30 x/menit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \b
\fs24 \b DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN PENJELASAN SDKI - SLKI - SIKI\b0
\par
\par \b Kondisi: \b0 Pasien dengan keluhan batuk, sesak napas, panas, nyeri dada selama 3 hari, frekuensi respirasi 30 x/menit.
\par
\par \b Diagnosa Keperawatan Utama:\b0
\par \b Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif\b0 (SDKI Code: 00031)
\par
\par \b Penjelasan Singkat:\b0
\par
\par \b SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) - 00031: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif\b0
\par \tab Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan patensi jalan napas.
\par \tab Faktor terkait: \i Peningkatan produksi sekret, nyeri dada, infeksi saluran pernapasan, kelemahan\i0 .
\par
\par \b SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) - 0401: Status Pernapasan: Ventilasi\b0
\par \tab Definisi: Kemampuan untuk menyediakan dan mengeluarkan udara secara adekuat melalui paru-paru.
\par \tab Indikator luaran yang diharapkan:
\par \tab \tab 040104 - Frekuensi pernapasan dalam rentang normal (16-20x/menit)
\par \tab \tab 040108 - Tidak terdapat suara napas adventisius (mengi/ronkhi)
\par \tab \tab 040109 - Tidak terdapat batuk
\par \tab \tab 040110 - Ekspansi dada simetris
\par
\par \b SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) - 3240: Manajemen Jalan Napas\b0
\par \tab Definisi: Memfasilitasi patensi jalan napas dan pembersihan sekresi.
\par \tab Aktivitas intervensi:
\par \tab \tab 3240A1 - Auskultasi suara napas, catat adanya suara adventisius
\par \tab \tab 3240A2 - Ajarkan teknik batuk efektif dan napas dalam
\par \tab \tab 3240A4 - Kolaborasi pemberian bronkodilator dan mukolitik sesuai resep
\par \tab \tab 3240A7 - Monitor frekuensi, irama, dan kedalaman pernapasan
\par \tab \tab 3240A9 - Anjurkan posisi semi fowler/fowler untuk memudahkan pernapasan
\par \tab \tab 3240A13 - Lakukan fisioterapi dada jika diperlukan
\par
\par \b Catatan Klinis:\b0 Frekuensi respirasi 30x/menit menunjukkan \i tachypnea\i0 yang merupakan tanda distress pernapasan. Kombinasi gejala batuk, sesak napas, demam, dan nyeri dada mengindikasikan kemungkinan infeksi saluran pernapasan akut (seperti pneumonia atau bronkitis akut) yang memerlukan penanganan segera dan pemantauan ketat.
\par
\par \b Referensi:\b0 PPNI. (2017). \i Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik Edisi 1\i0 .
\par
} -
Article No. 21682 | 13 Sep 2025
Klinis : pasien umur 5 tahun, diare 10 x, mutah 4x, demam, perut sakit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \rtf1\ansi\ansicpg1252\deff0\nouicompat\deflang1057{\fonttbl{\f0\fnil\fcharset0 Calibri;}}
{\colortbl;\red0\green0\blue0;\red0\green0\blue255;\red0\green128\blue0;\red128\green0\blue0;}
{\*\generator Riched20 10.0.22621}\viewkind4\uc1
\pard\nowidctlpar\sa200\sl276\slmult1\f0\fs22\lang1057 Berdasarkan kondisi pasien umur 5 tahun dengan gejala diare 10 kali, muntah 4 kali, demam, dan nyeri perut, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat sesuai Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):\par
\b DIAGNOSIS KEPERAWATAN:\b0\par
\cf2\b\i Defisit Volume Cairan\i0\b0\cf1 (Kode SDKI: B.1.1)\par
\cf1\strike\ul\ulc3 \cf1\strike0\ulnone\b PENJELASAN:\b0 Kondisi ketidakseimbangan antara asupan dan pengeluaran cairan yang mengakibatkan dehidrasi, ditandai dengan diare dan muntah berulang, demam, serta nyeri perut. Pada anak, defisit volume cairan dapat berkembang cepat dan berisiko menyebabkan komplikasi serius.\par
\b STANDAR LUARAN KEPERAWATAN (SLKI):\b0\par
\cf2\b\i Status Hidrasi\i0\b0\cf1 (Kode SLKI: L.14016)\par
\cf1\b PENJELASAN:\b0 Luaran yang diharapkan adalah perbaikan status hidrasi, dengan kriteria: frekuensi diare dan muntah menurun, tanda-tanda dehidrasi (seperti turgor kulit, mukosa mulut, dan produksi urin) membaik, serta keseimbangan elektrolit tercapai.\par
\b STANDAR INTERVENSI KEPERAWATAN (SIKI):\b0\par
\cf2\b\i Manajemen Cairan\i0\b0\cf1 (Kode SIKI: I.11230)\par
\cf1\b PENJELASAN:\b0 Intervensi yang meliputi pemantauan asupan dan output cairan, pemberian cairan oral atau intravena sesuai indikasi, edukasi keluarga tentang pemberian cairan yang aman (seperti oralit), serta observasi tanda-tanda dehidrasi dan respons terapi.\par
\b CATATAN:\b0 Pendekatan holistik dan kolaboratif dengan tenaga kesehatan lain serta keluarga pasien sangat penting untuk memastikan keefektifan intervensi dan pencegahan komplikasi.\par
} -
Article No. 21683 | 13 Sep 2025
Klinis : Batuk tidak efektif Tidak mampu batuk Sputum berlebih Mengi, wheezing, dan/atau ronchi kering
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \rtf1\ansi\ansicpg1252\deff0\nouicompat{\fonttbl{\f0\fnil\fcharset0 Calibri;}}
{\colortbl;\red0\green0\blue0;\red0\green0\blue255;\red255\green0\blue0;}
{\*\generator Riched20 10.0.22621}\viewkind4\uc1
\pard\sa200\sl276\slmult1\f0\fs22\lang1057\b DIAGNOSIS KEPERAWATAN\b0\par
\par
Berdasarkan data klinis yang disampaikan (batuk tidak efektif, tidak mampu batuk, sputum berlebih, mengi/wheezing/ronkhi kering), diagnosis keperawatan utama yang dapat ditetapkan adalah:\par
\par
\b Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif\b0\par
\b Kode SDKI:\b0 0201\par
\par
\b Penjelasan Singkat SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):\b0\par
Status di mana seorang individu mengalami ancaman, ketidakmampuan, atau ketidakefektifan dalam membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang paten. Data klinis yang mendukung adalah ketidakmampuan untuk batuk secara efektif dan adanya suara napas tambahan (mengi, wheezing, ronkhi) yang mengindikasikan adanya obstruksi atau penumpukan sekret.\par
\par
\b SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) yang Diharapkan:\b0\par
\b Kode:\b0 0201\par
\b Judul Luaran:\b0 Bersihan Jalan Napas\par
\b Penjelasan:\b0 Tercapainya patensi jalan napas yang ditandai dengan kriteria luaran sebagai berikut:\par
\hich\af0\dbch\af0\loch\f0 - Suara napas bersih (bebas dari mengi/ronkhi)\par
- Batuk efektif\par
- Sekret jalan napas (sputum) dapat dikeluarkan\par
- Tidak terdapat sianosis\par
- Frekuensi napas dalam rentang normal\par
\par
\b SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang Direkomendasikan:\b0\par
\b Kode:\b0 J0201\par
\b Judul Intervensi:\b0 Manajemen Jalan Napas\par
\b Penjelasan:\b0 Intervensi keperawatan untuk memfasilitasi patensi jalan napas dan meningkatkan pertukaran gas. Aktivitas keperawatan yang dapat dilakukan meliputi:\par
\hich\af0\dbch\af0\loch\f0 - \hich\af0\dbch\af0\loch\f0 Posisi semi-Fowler atau high-Fowler untuk memaksimalkan ekspansi paru\par
- Ajarkan dan bantu latihan batuk efektif dan napas dalam\par
- Lakukan fisioterapi dada (postural drainage dan perkusi) jika indikasi\par
- Lakukan penghisapan lendir (suction) jika diperlukan\par
- Kolaborasi pemberian terapi nebulisasi/bronkodilator sesuai instruksi tenaga kesehatan yang berwenang\par
- Monitor status pernapasan (suara napas, frekuensi, usaha napas) dan warna kulit (sianosis)\par
- Anjurkan intake cairan yang adekuat untuk mengencerkan sekret\par
\par
\i\fs18 Sumber: Buku Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) Edisi Terbaru yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).\i0\fs22\par
}
-
Article No. 21684 | 13 Sep 2025
Klinis : pasien umur 5 tahun, diare 10 x, mutah 4x, demam, perut sakit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \b\fs28 DIAGNOSA KEPERAWATAN\b0\fs24
\b Kode: 00011\b0
\b Nama Diagnosa: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan\b0
\b Definisi: Berisiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular.\b0
\b\fs28 SDKI (STANDAR DIAGNOSA KEPERAWATAN INDONESIA)\b0\fs24
\b Kode: 1401\b0
\b Fokus: Keseimbangan Cairan\b0
\b Subyek: Anak mampu mempertahankan keseimbangan cairan\b0
\b Obyek: Status hidrasi\b0
\b Kondisi: Dalam 2x24 jam\b0
\b\fs28 SLKI (STANDAR LUARAN KEPERAWATAN INDONESIA)\b0\fs24
\b Kode: 140101\b0
\b Luaran: Status hidrasi membaik\b0
\b Kriteria Luaran:
- Turgor kulit membaik
- Membran mukosa lembab
- Produksi urin adekuat
- Haus berkurang
- Berat badan stabil\b0
\b\fs28 SIKI (STANDAR INTERVENSI KEPERAWATAN INDONESIA)\b0\fs24
\b Kode: 4160\b0
\b Intervensi: Manajemen Cairan\b0
\b Aktivitas:
- Monitor tanda-tanda dehidrasi
- Berikan cairan oral/IV sesuai protokol
- Monitor intake dan output cairan
- Kolaborasi pemberian elektrolit
- Edukasi orang tua tentang tanda dehidrasi\b0
\b\fs28 PENJELASAN SINGKAT\b0\fs24
Pasien anak usia 5 tahun dengan diare 10x dan muntah 4x berisiko tinggi mengalami \i dehydration\i0 akibat kehilangan cairan dan elektrolit secara masif. Demam dan nyeri abdomen memperberat kondisi melalui peningkatan \i insensible water loss\i0 dan penurunan intake oral. Intervensi keperawatan difokuskan pada \i fluid resuscitation\i0 , pemantauan ketat status hidrasi, dan edukasi keluarga untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. -
Article No. 21665 | 12 Sep 2025
Klinis : diagnosa keperawatan pada kontusio serebri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \b\fs28 DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI KEPERAWATAN UNTUK KONTUSIO SEREBRI\b0\fs24
\par
\b Kondisi Medis: Kontusio Serebri
\par
\b0 Kontusio serebri merupakan cedera otak traumatik yang ditandai dengan memar jaringan otak akibat benturan langsung pada kepala, menyebabkan perdarahan intraparenkim dan edema serebral yang dapat mengakibatkan gangguan neurologis.
\par
\b DIAGNOSA KEPERAWATAN UTAMA:\b0
\par
\b DX.0012 Risiko Penurunan Perfusi Jaringan Otak\b0
\par
\b Penjelasan SDKI:\b0 Berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial sekunder akibat edema serebral dan perdarahan intraparenkim. Ditandai dengan penurunan kesadaran, perubahan tanda neurologis, dan peningkatan tekanan intrakranial.
\par
\b INTERVENSI KEPERAWATAN (SLKI & SIKI):\b0
\par
\b SLKI Code: 4410 - Pemantauan Neurologis\b0
\par
- Memantau tingkat kesadaran (GCS) setiap 1-2 jam
\par
- Mengobservasi tanda vital dan fungsi neurologis
\par
- Mendeteksi perubahan status neurologis secara dini
\par
\par
\b SIKI Code: 4410A - Pemantauan status neurologis\b0
\par
- Memeriksa pupil: ukuran, bentuk, reaksi terhadap cahaya
\par
- Menilai kekuatan motorik dan respon sensorik
\par
- Mendokumentasikan skor GCS secara akurat
\par
\par
\b SLKI Code: 2410 - Manajemen Jalan Napas\b0
\par
- Mempertahankan patensi jalan napas
\par
- Memantau status pernapasan dan saturasi oksigen
\par
- Melakukan suction sesuai indikasi
\par
\par
\b DIAGNOSA KEPERAWATAN TAMBAHAN:\b0
\par
\b DX.0006 Nyeri Akut\b0 (berhubungan dengan trauma jaringan otak dan peningkatan TIK)
\par
\b DX.0016 Risiko Infeksi\b0 (berhubungan dengan kerusakan sawar darah otak)
\par
\par
\b0\i Catatan: Intervensi keperawatan harus disesuaikan dengan kondisi spesifik pasien dan mengikuti protokol klinis terkini. Pemantauan ketat dan dokumentasi yang akurat merupakan aspek kritis dalam manajemen kontusio serebri.\i0
\par
} -
Article No. 21666 | 12 Sep 2025
Klinis : diagnosa keperawatan pada kontusio serebri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \fs24\b DIAGNOSIS KEPERAWATAN DAN PENJELASAN SDKI - SLKI - SIKI UNTUK KONTUSIO SEREBRI\b0\par
\par
Berdasarkan standar asuhan keperawatan yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), berikut adalah diagnosis keperawatan utama yang relevan untuk kondisi kontusio serebri:\par
\par
\b 1. DIAGNOSIS KEPERAWATAN:\b0\par
\b Kode SDKI:\b0 B.0801 - Risiko Penurunan Perfusi Jaringan Serebral\par
\b Definisi:\b0 Berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat mengakibatkan kerusakan jaringan.\par
\par
\b 2. SLKI (STANDAR LUARAN KEPERAWATAN INDONESIA):\b0\par
\b Kode SLKI:\b0 L.08031 - Status Sirkulasi Serebral\par
\b Kriteria Luaran:\b0\par
- Tekanan intrakranial dalam rentang normal\par
- Status neurologis stabil\par
- Tidak terdapat tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial\par
- Aliran darah serebral adekuat\par
\par
\b 3. SIKI (STANDAR INTERVENSI KEPERAWATAN INDONESIA):\b0\par
\b Kode SIKI:\b0 I.08031 - Pemantauan Neurologis\par
\b Intervensi Utama:\b0\par
- Monitor status neurologis setiap 1-2 jam (GCS, pupil, motorik)\par
- Observasi tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial\par
- Pertahankan kepala pada posisi netral (30 derajat)\par
- Kolaborasi pemberian terapi osmotik sesuai indikasi\par
- Monitor tanda-tanda vital dan oksigenasi\par
\par
\b Penjelasan Singkat:\b0\par
Kontusio serebri merupakan cedera otak fokal yang menyebabkan memar dan perdarahan pada jaringan otak, berpotensi menyebabkan edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial. Diagnosis keperawatan B.0801 dipilih karena kontusio dapat mengganggu perfusi serebral melalui mekanisme edema, perdarahan, dan peningkatan TIK. Pemantauan neurologis ketut (SIKI I.08031) diperlukan untuk mendeteksi dini deteriorasi neurologis, sementara luaran L.08031 menjadi indikator keberhasilan dalam mempertahankan perfusi serebral yang adekuat.\par
\par
\b Catatan Klinis:\b0\par
Asuhan keperawatan harus fokus pada pencegangan hipoksia, hipotensi, dan hiperkapnia yang dapat memperburuk kerusakan neurologis. Intervensi kolaboratif dengan tim medis diperlukan untuk manajemen tekanan intrakranial yang optimal.\par
} -
Article No. 21667 | 12 Sep 2025
Klinis : Susah diajak bicara, lemas, penurunan kesadaran, tensi tinggu
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \rtf1\ansi\ansicpg1252\deff0\nouicompat{\fonttbl{\f0\fnil\fcharset0 Calibri;}}
{\colortbl;\red0\green0\blue0;\red0\green0\blue255;}
{\*\generator Riched20 10.0.22621}\viewkind4\uc1
\pard\sa200\sl276\slmult1\f0\fs22\lang1057 Berdasarkan data klinis yang disampaikan (susah diajak bicara, lemas, penurunan kesadaran, dan tekanan darah tinggi), berikut adalah analisis diagnostik keperawatan sesuai standar PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) dengan pendekatan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):\par
\pard\sa200\sl276\slmult1\b Diagnosis Keperawatan (SDKI):\b0 Penurunan Kesadaran (Kode: B.4)\par
\i Definisi:\i0 Keadaan di mana individu mengalami penurunan dalam kemampuan untuk menerima dan merespons rangsangan dari lingkungan, yang dapat bervariasi dari ringan (letargi) hingga berat (koma). Data "susah diajak bicara", "lemas", dan "penurunan kesadaran" secara langsung mendukung diagnosis ini. Tekanan darah tinggi dapat menjadi faktor penyebab atau komplikasi yang memperburuk kondisi.\par
\pard\sa200\sl276\slmult1\b Luaran Keperawatan (SLKI):\b0 Tingkat Kesadaran (Kode: L.13022)\par
\i Kriteria Luaran:\i0 \par
\- \i Tujuan:\i0 Peningkatan tingkat kesadaran menuju kondisi optimal.\par
\- \i Indikator:\i0 Respon verbal, orientasi, dan respons motorik membaik.\par
\- \i Skala Pengukuran:\i0 Dari 1 (selalu terganggu) hingga 5 (tidak pernah terganggu). Target: Mencapai skala 4-5 sesuai kemampuan pasien.\par
\pard\sa200\sl276\slmult1\b Intervensi Keperawatan (SIKI):\b0 \par
1. \i Pemantauan Neurologis (Kode: I.10270):\i0 Mengobservasi dan mendokumentasi status kesadaran, tanda vital (termasuk tekanan darah), dan respons sensorimotor setiap 1-2 jam atau sesuai protokol.\par
2. \i Manajemen Hipertensi (Kode: I.08150):\i0 Memantau tekanan darah, kolaborasi pemberian obat antihipertensi, dan edukasi terkait kontrol tekanan darah.\par
3. \i Manajemen Jalan Napas (Kode: I.08010):\i0 Memastikan patensi jalan napas akibat risiko depresi kesadaran, termasuk posisi semi-Fowler untuk mengurangi tekanan intrakranial jika terkait hipertensi.\par
4. \i Edukasi Kesehatan (Kode: I.10070):\i0 Memberikan informasi kepada keluarga tentang kondisi pasien, tanda bahaya, dan pentingnya kepatuhan terapi.\par
\pard\sa200\sl276\slmult1\b Catatan Akademis:\b0 Kondisi ini memerlukan pendekatan kolaboratif dengan tim medis, mengingat tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan komplikasi neurologis seperti ensefalopati hipertensif atau stroke. Pemantauan ketat dan dokumentasi yang akurat sangat penting untuk evaluasi luaran.\par
}