Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 5557 | 13 Nov 2024
Klinis : 6. Kelompok 6 Ny. I berusia 28 tahun, baru hamil pertama kali usia kehamilan 8 bulan 22 hari. Pasien mengatakan keluar cairan dari jalan lahir jernih dan tidak berbau sejak pada tanggal 10 Mei 2024 sejak jam 14.00 WIB dan pasien meras cemas. Ny. I mengatakan haid pertama umur 15 tahun dengan siklus haid: 27-28 hari, dan lamanya: 5-7 hari, teratur, dan tidak ada nyeri saat haid. Ny.I mengatakan HPHT tanggal 3 September 2023 ; keluhan-keluhan pada trimester I tidak ada keluhan, trimester II tidak ada keluhan, trimester III yaitu mengeluh keluar cairan melalui jalan lahir sejak tanggal 10 mei 2024, ANC: sebanyak 4 kali di bidan secara teratur dan sesuai jadwal. Penyuluhan yang pernah didapat: pasien mengatakan pernah mendapat penyuluhan tentang gizi ibu hamil, pasien mengatakan pernah mendapat imunisasi TT. pasien mengatakan belum pernah menggunakan alat kontrasepsi apapun. PF didapatkan hasil keadaan umum: baik, kesadaran: compos mentis, TTV: TD: 100/ 70 mmHg, S: 36,7o C, N: 88 kali/ menit RR: 20 kali/ menit TB: 158 cm, BB sebelum hamil: 48 kg, BB sekarang: 52 kg. PF Head to toe : abdomen kiri: teraba memanjang dan keras, kanan: teraba bagian-bagian kecil janin, di bagian fundus teraba bulat, keras. bagian terendah janin belum masuk panggul. DJJ: frekuensi: 150kali/ menit, teratur. Pengeluaran pervaginam: cairan ketuban merembes, warna jernih, bau khas air ketuban. Pemeriksaan penunjang: Pemeriksaan laboratorium dilakukan pada tanggal 10 Mei 2024 yaitu Hemoglobin (HB): 11 g/dL, eritrosit: 3,59 10˄ 6/Ul, leukosit: 12.32 10˄ 3/Ul, neutrofil: 10.04 10˄ 3/Ul, golongan darah: AB. Pemeriksaan USG dilakukan pada tanggal 11 Mei 2024 hasilnya : Janin tunggal hidup, presentasi kepala, ketuban kurang. Dengan diagnosa resiko cedera janin dan resiko aspirasi Carilah luaran dan intervensinya Carilah intervensi keperawatan dengn diagnosa 1. Resiko cedera janin 2. resiko aspirasi Observasi,tarapeutik , edukasi , kolaborasi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kasus yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi tersebut:
Diagnosa Keperawatan 1: Risiko Cedera Janin
Definisi: Risiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim akibat faktor yang dapat membahayakan janin.
Luaran (SLKI):
1. Pertumbuhan dan Perkembangan Janin
2. Kesejahteraan Janin
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Observasi:
- Pantau tanda-tanda vital ibu
- Monitor pergerakan janin
- Lakukan pemeriksaan fetal heart rate (DJJ)
- Pantau tanda-tanda awal persalinan
2. Terapeutik:
- Pertahankan posisi ibu yang nyaman
- Berikan informasi terkait risiko cedera janin dan pencegahannya
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan untuk penanganan dini
3. Edukasi:
- Ajarkan kepada ibu terkait tanda-tanda bahaya kehamilan
- Edukasi tentang pentingnya istirahat yang cukup dan nutrisi yang seimbang
4. Kolaborasi:
- Kolaborasi dengan dokter obgin untuk pemantauan lebih lanjut
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memastikan kebutuhan nutrisi ibu terpenuhi
Diagnosa Keperawatan 2: Risiko Aspirasi
Definisi: Risiko masuknya cairan, makanan, atau benda asing ke dalam saluran pernapasan yang dapat menyebabkan komplikasi.
Luaran (SLKI):
1. Pernapasan
2. Status Cairan
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Observasi:
- Pantau tanda-tanda vital ibu
- Awasi pengeluaran cairan pervaginam
- Awasi adanya tanda-tanda aspirasi
2. Terapeutik:
- Pertahankan posisi ibu miring ke kiri
- Anjurkan ibu untuk tidak makan atau minum jika ada kemungkinan segera melahirkan
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan untuk penanganan risiko aspirasi
3. Edukasi:
- Edukasi kepada ibu tentang risiko aspirasi dan pencegahannya
- Anjurkan ibu untuk segera menghubungi tenaga kesehatan jika ada pengeluaran cairan pervaginam
4. Kolaborasi:
- Kolaborasi dengan dokter obgin untuk penanganan lebih lanjut
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memastikan asupan nutrisi ibu yang aman
Dengan tone akademis dan persona pakar, intervensi keperawatan yang diberikan diharapkan dapat membantu meminimalkan risiko cedera janin dan risiko aspirasi yang dialami oleh Ny. I. -
Article No. 5376 | 12 Nov 2024
Klinis : HIPERTENSI
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi Hipertensi:
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Kardiovaskular
2. Ketidakseimbangan Volume Cairan
3. Ketidakefektifan Manajemen Kesehatan
Penjelasan Singkat:
1. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Kardiovaskular
SDKI: Gangguan aliran darah ke jaringan yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi.
SLKI: Peningkatan tekanan darah yang melebihi normal dan dapat menyebabkan kerusakan organ-organ vital.
SIKI: Intervensi keperawatan untuk memantau tanda-tanda vital, menjaga intake cairan, dan memberikan edukasi terkait manajemen hipertensi.
2. Ketidakseimbangan Volume Cairan
SDKI: Ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan volume cairan yang sesuai dengan kebutuhan.
SLKI: Hipertensi dapat menyebabkan retensi cairan dan peningkatan volume cairan dalam tubuh.
SIKI: Intervensi keperawatan untuk memantau asupan dan pengeluaran cairan, serta mengatur diet dan pemberian diuretik.
3. Ketidakefektifan Manajemen Kesehatan
SDKI: Ketidakmampuan untuk mengidentifikasi, mengelola, dan melakukan tindakan yang diperlukan untuk mempertahankan kesehatan.
SLKI: Pasien dengan hipertensi memerlukan pemahaman dan kemampuan untuk mengelola kondisi kesehatannya secara efektif.
SIKI: Intervensi keperawatan untuk memberikan edukasi, konseling, dan dukungan bagi pasien agar dapat mengelola hipertensi dengan baik.
Sebagai pakar keperawatan, saya menekankan pentingnya pemantauan, perawatan, dan edukasi yang komprehensif bagi pasien dengan hipertensi untuk mencapai hasil perawatan yang optimal. -
Article No. 5377 | 12 Nov 2024
Klinis : Pasien datang dengan keluhan penurunan kesadaran sejak 1 jam SMRS. Pasien dikatakan gelisah dan tidak bisa diajak berkomunikasi. Pasien mengeluhkan nyeri perut disertai mual muntah sejak 1 hari SMRS. Keluhan nyeri kepala disangkal oleh pasien. Pasien dikatakan sempat mengigil. Riwayat hipokalemia sebelumnya (+) Riwayat penyakit kronik disangkal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, dapat dirumuskan beberapa diagnosa keperawatan dengan menggunakan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) sebagai berikut:
1. Diagnosa Keperawatan (SDKI):
a. Penurunan Kesadaran
- Definisi: Penurunan tingkat respon terhadap lingkungan.
- Karakteristik Utama: Pasien tampak gelisah dan tidak dapat diajak berkomunikasi.
b. Mual dan Muntah
- Definisi: Sensasi tidak nyaman yang mendorong keinginan untuk mengeluarkan isi lambung.
- Karakteristik Utama: Pasien mengeluhkan nyeri perut disertai mual dan muntah.
c. Hipotermi
- Definisi: Penurunan suhu tubuh di bawah 35°C.
- Karakteristik Utama: Pasien sempat mengigil.
2. Rencana Asuhan Keperawatan (SLKI):
a. Penurunan Kesadaran:
- Tujuan: Meningkatkan kesadaran pasien.
- Intervensi: Mempertahankan jalan napas, memantau tanda-tanda vital, dan memberikan stimulasi verbal/fisik.
b. Mual dan Muntah:
- Tujuan: Mengurangi frekuensi dan durasi mual dan muntah.
- Intervensi: Mengatur posisi pasien, memberikan antiemetik, dan mengontrol faktor pencetus.
c. Hipotermi:
- Tujuan: Meningkatkan suhu tubuh pasien.
- Intervensi: Mempertahankan suhu lingkungan, memberikan pakaian/selimut hangat, dan memantau suhu tubuh.
3. Kriteria Hasil (SIKI):
a. Penurunan Kesadaran:
- Kesadaran meningkat, ditandai dengan pasien dapat merespon stimulus verbal/fisik.
b. Mual dan Muntah:
- Frekuensi dan durasi mual dan muntah berkurang.
c. Hipotermi:
- Suhu tubuh pasien kembali normal (36-37,5°C).
Dalam konteks akademis dan sebagai seorang perawat, saya telah menyajikan diagnosa keperawatan, rencana asuhan keperawatan, dan kriteria hasil berdasarkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari PPNI untuk kondisi pasien yang mengalami penurunan kesadaran, mual dan muntah, serta hipotermi. Penjelasan ini disampaikan dengan persona yang akademis dan sebagai seorang pakar di bidang keperawatan. -
Article No. 5378 | 12 Nov 2024
Klinis : Pasien datang dengan keluhan penurunan kesadaran sejak 1 jam SMRS. Pasien dikatakan gelisah dan tidak bisa diajak berkomunikasi. Pasien mengeluhkan nyeri perut disertai mual muntah sejak 1 hari SMRS. Keluhan nyeri kepala disangkal oleh pasien. Pasien dikatakan sempat mengigil. Riwayat hipokalemia sebelumnya (+) Riwayat penyakit kronik disangkal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, Mari saya berikan diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi pasien yang Anda gambarkan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Penurunan Kesadaran berhubungan dengan gangguan metabolik (hipokalemia)
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Penurunan Kesadaran: Penurunan tingkat respons sadar terhadap lingkungan.
- Penyebab: Hipokalemia, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Tingkat Kesadaran Membaik: Menunjukkan peningkatan respons sadar terhadap lingkungan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Pemantauan Tanda Vital: Mengobservasi dan mencatat tanda-tanda vital pasien secara berkala.
- Manajemen Hipokalemia: Pemberian suplemen kalium dan koreksi keseimbangan cairan dan elektrolit.
- Manajemen Penurunan Kesadaran: Intervensi untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat kesadaran pasien.
2. Nyeri Akut berhubungan dengan gangguan gastrointestinal (mual, muntah)
SDKI:
- Nyeri Akut: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang actual atau potensial.
- Penyebab: Mual, muntah.
SLKI:
- Nyeri Terkontrol: Menunjukkan penurunan sensasi nyeri.
SIKI:
- Manajemen Nyeri: Intervensi untuk mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri.
- Manajemen Mual dan Muntah: Intervensi untuk mengurangi atau mencegah mual dan muntah.
Dalam kasus ini, penurunan kesadaran dan nyeri perut disertai mual muntah diduga terkait dengan gangguan metabolik, yaitu hipokalemia, yang merupakan riwayat penyakit sebelumnya pada pasien. Pemantauan tanda vital, koreksi keseimbangan cairan dan elektrolit, serta manajemen nyeri dan mual muntah menjadi fokus intervensi keperawatan. -
Article No. 5379 | 12 Nov 2024
Klinis : Tn S. umur 50 tahun dirawat di bangsal bedah dengan keluhan pinggang kanan terasa sakit, pasien juga muntah 3 kali. Hasil pemeriksaan pasien nampak meringis kesakitan, TD 140/80 mmHg, Nadi 98 x/mnt, RR 20 x/mnt, S 36oC. Riwayat kebiasaan minum minuman untuk menambah energi, minum air putih sehari 3 gelas, minum kopi setiap hari.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berdasarkan informasi yang diberikan, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI sesuai dengan standar Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi Tn. S.
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri akut berhubungan dengan cedera fisik (nyeri pinggang kanan)
2. Risiko dehidrasi berhubungan dengan muntah
Penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia)
- Nyeri akut: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau yang dijelaskan dalam istilah seperti itu (International Association for the Study of Pain)
- Risiko dehidrasi: Keadaan yang disebabkan oleh kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan sehingga menyebabkan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia)
- Nyeri akut: Tingkat nyeri terkontrol, kemampuan menggunakan teknik manajemen nyeri, dan kepuasan pasien terhadap pengelolaan nyeri.
- Risiko dehidrasi: Keseimbangan cairan dan elektrolit terpelihara, tidak terjadi tanda-tanda dehidrasi, dan tidak terjadi komplikasi akibat dehidrasi.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia)
- Nyeri akut: Pengkajian nyeri, manajemen nyeri farmakologis dan nonfarmakologis, serta evaluasi manajemen nyeri.
- Risiko dehidrasi: Pemantauan intake dan output cairan, pemberian cairan intravena, dan edukasi mengenai peningkatan asupan cairan.
Dalam kondisi Tn. S., perawat perlu melakukan pengkajian yang komprehensif, menentukan prioritas masalah, dan memberikan intervensi keperawatan yang sesuai berdasarkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI untuk mengatasi nyeri akut dan risiko dehidrasi yang dialami pasien. -
Article No. 5380 | 12 Nov 2024
Klinis : Pasien tampak sesak dan terpasang oksigen nasal canule 1 lpm RR : 58 x/menit Retraksi ringan Distensi abdomen (+)
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: 1. Kode ICD-10:
- Kode: J96.0
- Deskripsi: Insufisiensi pernafasan, tidak terspesifikasi
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 93.90
- Deskripsi: Pemberian oksigen, tidak terspesifikasi
Berdasarkan informasi yang diberikan, pasien tampak sesak napas dan dipasang oksigen nasal canule dengan laju aliran 1 liter per menit. Pasien juga memiliki frekuensi napas yang cepat (58 kali per menit) dan retraksi ringan, serta distensi abdomen. Kondisi ini mengarah pada diagnosis Insufisiensi Pernafasan (J96.0), yang merupakan gangguan fungsi pernafasan yang menyebabkan ketidakmampuan untuk mempertahankan oksigenasi darah yang memadai.
Terkait prosedur medis, pasien mendapatkan pemberian oksigen melalui nasal canule, yang dikodekan dengan ICD-9-CM 93.90 (Pemberian oksigen, tidak terspesifikasi). Pemberian oksigen bertujuan untuk memperbaiki oksigenasi dan mengatasi gejala sesak napas yang dialami pasien. -
Article No. 5381 | 12 Nov 2024
Klinis : Pasien tampak sesak dan terpasang oksigen nasal canule 1 lpm RR : 58 x/menit Retraksi ringan Distensi abdomen (+)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang diberikan, yaitu pasien tampak sesak dan terpasang oksigen nasal canule 1 lpm, dengan RR 58 x/menit, retraksi ringan, serta distensi abdomen (+) dengan tone akademis, maka dapat dirumuskan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat menggunakan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) sebagai berikut:
1. Diagnosa Keperawatan: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- SDKI: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif adalah ketidakmampuan untuk mempertahankan permeabilitas jalan napas untuk memfasilitasi pertukaran gas.
- SLKI: Intervensi yang dapat dilakukan adalah Manajemen Jalan Napas, Oksigenasi, dan Manajemen Ventilasi.
- SIKI: Aktivitas keperawatan yang dapat dilakukan adalah Memantau frekuensi, kedalaman, dan irama pernapasan, Mengauskultasi suara napas, Memposisikan pasien untuk memudahkan ventilasi, Memberikan oksigen sesuai kebutuhan, Memantau saturasi oksigen, dan Mengajarkan teknik batuk efektif.
2. Diagnosa Keperawatan: Gangguan Pertukaran Gas
- SDKI: Gangguan Pertukaran Gas adalah ketidakseimbangan antara ventilasi dan perfusi di alveoli, yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan/atau mengeliminasi karbon dioksida.
- SLKI: Intervensi yang dapat dilakukan adalah Manajemen Oksigenasi, Manajemen Ventilasi, dan Manajemen Perfusi.
- SIKI: Aktivitas keperawatan yang dapat dilakukan adalah Memantau frekuensi, kedalaman, dan irama pernapasan, Mengauskultasi suara napas, Memantau saturasi oksigen, Memberikan oksigen sesuai kebutuhan, Mengatur posisi pasien untuk memudahkan ventilasi, dan Memantau status hemodinamik.
Dalam penerapannya, perawat harus mempertimbangkan kondisi klinis pasien, faktor risiko, dan kebutuhan individu pasien untuk menentukan intervensi yang tepat dan memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif. -
Article No. 5382 | 12 Nov 2024
Klinis : analisa data resiko perfusi jaringan cerebral tidak efektif (data Subjek, data objektif)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi analisa data risiko perfusi jaringan serebral tidak efektif.
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Perfusi Jaringan Serebral Tidak Efektif
Definisi:
Risiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat menyebabkan gangguan oksigenasi, nutrisi, dan fungsi serebral.
Data Subjektif:
- Pasien mengeluhkan sakit kepala
- Pasien merasa pusing atau vertigo
Data Objektif:
- Tekanan darah tidak stabil
- Nadi ireguler
- Terdapat perubahan status mental
- Perubahan pada pupil (miosis/midriasis)
Faktor Risiko:
- Penyakit kardiovaskular
- Penyakit serebrovaskular
- Trauma kepala
- Hipotensi
Rencana Intervensi Keperawatan (SDKI):
1. Pemantauan tanda-tanda vital secara berkala
2. Observasi perubahan status mental dan pupil
3. Kolaborasi dengan tenaga medis untuk penanganan farmakologis
4. Edukasi pasien dan keluarga terkait faktor risiko dan gejala perfusi jaringan serebral tidak efektif
Kriteria Hasil (SLKI):
1. Stabilitas hemodinamik terpelihara
2. Tidak ada perubahan status mental
3. Tidak ada perubahan pupil
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Pemantauan tanda-tanda vital
2. Pemantauan neurologi
3. Manajemen hipotensi
4. Edukasi kesehatan
Semoga informasi ini bermanfaat. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, silakan ditanyakan. -
Article No. 5383 | 12 Nov 2024
Klinis : analisa data resiko perfusi jaringan cerebral tidak efektif (data Subjek, data objektif) pada pasien bayi meningoenchapilitis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat profesional, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat dari standar SDKI - SLKI - SIKI yang dikeluarkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi risiko perfusi jaringan serebral tidak efektif pada pasien bayi dengan meningoensephalitis.
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Perfusi Jaringan Serebral Tidak Efektif
Definisi:
Risiko mengalami penurunan suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan otak, yang dapat menyebabkan cedera atau disfungsi otak.
Data Subjektif:
- Pasien bayi dengan meningoensephalitis
- Pasien menunjukkan perubahan tingkat kesadaran
- Pasien mengeluh sakit kepala atau nyeri kepala
Data Objektif:
- Pasien menunjukkan tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial, seperti pupil melebar, suhu meningkat, dan perubahan irama pernapasan
- Hasil pemeriksaan rontgen atau CT scan menunjukkan adanya pembengkakan atau edema di otak
- Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan perubahan nilai hematologi atau biokimia yang terkait dengan kondisi meningoensephalitis
Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI):
Risiko Perfusi Jaringan Serebral Tidak Efektif
Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):
- Perfusi Jaringan Serebral
- Fungsi Neurologis
Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
- Manajemen Peningkatan Tekanan Intrakranial
- Manajemen Nyeri
- Pemantauan Neurologi
Penjelasan Singkat:
Diagnosa keperawatan ini mengidentifikasi adanya risiko penurunan suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan otak pada pasien bayi dengan meningoensephalitis. Standar diagnosis, luaran, dan intervensi keperawatan memberikan panduan bagi perawat dalam mengelola kondisi ini, termasuk pemantauan tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial, pengelolaan nyeri, dan pemantauan fungsi neurologis pasien. Tujuannya adalah untuk mencegah atau meminimalkan cedera atau disfungsi otak akibat gangguan perfusi jaringan serebral. -
Article No. 5384 | 12 Nov 2024
Klinis : analisa data hipertermia etiologi, (data Subjek, data objektif) pada pasien bayi meningoenchapilitis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasannya berdasarkan standar SDKI - SLKI - SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien bayi dengan meningoensefalitis:
Diagnosa Keperawatan:
Hipertermia r/t proses inflamasi/infeksi ditandai dengan suhu tubuh meningkat >37,8°C.
Penjelasan:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Hipertermia didefinisikan sebagai peningkatan suhu tubuh di atas batas normal.
- Etiologi yang mungkin pada kondisi ini adalah proses inflamasi atau infeksi yang terjadi pada sistem saraf pusat, yaitu meningoensefalitis.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan adalah penurunan suhu tubuh pasien ke dalam batas normal (36,5-37,5°C).
- Kriteria hasil yang dapat diukur antara lain: suhu tubuh, tanda-tanda vital, penampilan umum, dan tingkat kenyamanan pasien.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan meliputi: manajemen demam, pemberian cairan, termoregulasi, dan pemantauan tanda-tanda vital.
- Tujuan intervensi adalah untuk mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kenyamanan pasien.
Sebagai perawat, kita perlu melakukan pengkajian komprehensif terhadap pasien, memantau tanda-tanda vital, dan melaksanakan intervensi keperawatan yang sesuai untuk mengatasi hipertermia pada pasien bayi dengan meningoensefalitis.