Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 21709 | 17 Sep 2025
Klinis : pasien mual mutah 2 hari lalu lemas dan dehidrasi, riwayat dm tidak suntik insulin 2 minggu
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \b\fs28 \b0 Berdasarkan data klinis yang Anda berikan, berikut adalah analisis keperawatan yang disusun sesuai dengan standar asuhan keperawatan Indonesia (SDKI, SLKI, SIKI) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
\b\fs24 \b0 \line \line
\b DIAGNOSIS KEPERAWATAN UTAMA\b0 \line
\b Kode SDKI: B.3.1.1\b0 - \i Intoleransi Aktivitas\i0 \line
\b Definisi:\b0 Kekurangan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau yang diinginkan.
\b\fs20 \b0 \line
\b Data Penunjang Diagnosis:\b0
\tab - \i Subjektif:\i0 Keluhan lemas.
\tab - \i Objektif:\i0 Pasien mengalami mual muntah selama 2 hari dan dehidrasi, yang menyebabkan penurunan cadangan energi dan ketidakseimbangan elektrolit. Riwayat Diabetes Mellitus (DM) dengan manajemen yang tidak optimal (tidak suntik insulin selama 2 minggu) dapat menyebabkan kelelahan akibat hiperglikemia.
\b\fs24 \b0 \line \line
\b KRITERIA HASIL (SLKI)\b0 \line
\b Kode SLKI: L.04016\b0 - \i Kemandirian dalam Aktivitas\i0 \line
\b Definisi:\b0 Kemampuan untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari secara mandiri.
\b Indikator yang Diharapkan:\b0
\tab - L.04016.010: Pasien dapat melakukan aktivitas sesuai dengan tingkat kemampuannya.
\tab - L.04016.040: Pasien melaporkan peningkatan energi untuk beraktivitas.
\b\fs24 \b0 \line \line
\b INTERVENSI KEPERAWATAN (SIKI)\b0 \line
\b Kode SIKI: J.4.2.2\b0 - \i Manajemen Energi\i0 \line
\b Definisi:\b0 Pengaturan penggunaan energi untuk memperlakukan atau mencegah kelelahan dan meningkatkan fungsi.
\b Tindakan Keperawatan yang Direkomendasikan:\b0
\tab - \b J.4.2.2.010:\b0 Kaji tingkat energi dan toleransi aktivitas pasien (skala 0-10).
\tab - \b J.4.2.2.030:\b0 Bantu pasien dalam mengidentifikasi aktivitas yang dapat memicu kelelahan.
\tab - \b J.4.2.2.050:\b0 Anjurkan teknik penghematan energi (contoh: duduk saat melakukan aktivitas, istirahat yang cukup).
\tab - \b J.4.2.2.090:\b0 Kolaborasi dengan tim gizi untuk memastikan asupan nutrisi yang adekuat sesuai toleransi.
\tab - \b J.4.2.2.170:\b0 Monitor tanda-tanda vital dan status hidrasi.
\b\fs24 \b0 \line \line
\b DIAGNOSIS DAN INTERVENSI PENUNJANG\b0 \line
Mengingat kompleksitas kondisi pasien, diagnosis keperawatan lain yang sangat mungkin muncul dan memerlukan intervensi paralel adalah:
\b 1. Kode SDKI: B.1.3\b0 - \i Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan\i0 \line
\b Kode SIKI: J.2.1.1\b0 - \i Manajemen Cairan\i0 \line
\b Rasional:\b0 Ditujukan untuk mengatasi dehidrasi akibat muntah yang berkepanjangan.
\b 2. Kode SDKI: B.5.1.1\b0 - \i Hiperglikemia\i0 \line
\b Kode SIKI: J.5.3.1\b0 - \i Manajemen Hiperglikemia\i0 \line
\b Rasional:\b0 Ditujukan untuk mengontrol kadar gula darah akibat ketidakpatuhan terapi insulin, yang dapat memperburuk lemas dan dehidrasi.
\b 3. Kode SDKI: B.4.1.1\b0 - \i Mual\i0 \line
\b Kode SIKI: J.4.1.1\b0 - \i Manajemen Mual\i0 \line
\b Rasional:\b0 Ditujukan untuk mengatasi penyebab utama dari lemas dan risiko dehidrasi.
\b\fs24 \b0 \line \line
\b CATATAN AKADEMIS:\b0 \line
Pendekatan asuhan keperawatan harus bersifat \i holistik\i0 dan \i komprehensif\i0 . Kondisi dehidrasi dan lemas merupakan masalah utama yang teramati, namun akar penyebabnya sangat mungkin berkaitan dengan hiperglikemia yang tidak terkontrol. Oleh karena itu, intervensi keperawatan untuk manajemen energi (\b J.4.2.2\b0 ) harus dilaksanakan bersamaan dengan intervensi untuk manajemen cairan (\b J.2.1.1\b0 ) dan manajemen hiperglikemia (\b J.5.3.1\b0 ). Pemantauan ketat terhadap tanda-tanda vital, kadar glukosa darah, dan balance cairan merupakan elemen kritis dalam keseluruhan rencana asuhan. Kolaborasi dengan dokter dan ahli gizi sangat diperlukan untuk mencapai hasil yang optimal. -
Article No. 21710 | 17 Sep 2025
Klinis : Seorang pasien laki-laki berusia 33 tahun mengalami kelainan gaya berjalan dan gangguan keseimbangan postur pada usia 30 tahun. Keluhan utama: gerakan abnormal pada kedua tungkai atas dan bawah sejak 1 tahun yang lalu. Kesulitan berjalan selama 6 bulan. Kondisi umum: GCS 15/15, Fungsi Mental; Normal, Ekspresi wajah; wajah bertopeng, tanda vital; suhu; 98,2 F, denyut nadi; 78 denyut/menit, volume dan karakteristik pernapasan normal; 20 denyut/menit, teratur, tekanan darah; 120/70 mmHg, di kedua lengan, tinggi badan 154 cm, berat badan; 65 kg. Riwayat Penyakit Saat Ini: Pasien datang dengan gerakan ritmis abnormal pada tungkai atas dan tungkai bawah sejak 1 tahun. Gerakan ini dimulai pada bagian distal kedua tungkai atas secara bersamaan. Gerakan ini lebih terasa saat istirahat dan semakin parah saat bergerak. Baru-baru ini, tungkai bawah juga terpengaruh dan lebih terasa pada kedua ibu jari kaki. Pasien juga memiliki riwayat kesulitan berjalan berupa kesulitan memulai dan setelah mulai berjalan, ia membungkuk ke depan dengan langkah kecil dan cepat. Namun, ia menjadi kaku saat berputar dan cenderung jatuh ke depan (propulsi) dan ke belakang (retropulsi). Hal ini juga menyebabkan berkurangnya ayunan tangan. Tidak ada cedera akibat jatuh, gangguan memori, perubahan sensorik, perubahan perilaku, keluhan visual, kesulitan menelan, dan kelemahan pada salah satu bagian tubuh. Dalam 3 tahun berikutnya, gejalanya makin parah dan menimbulkan kekakuan, bradikinesia, gaya berjalan propulsif, tanda-tanda serebelum yang jelas seperti ataksia, ketidakseimbangan, kelelahan pada tungkai bawah, dan sering terjatuh. Penurunan kognitif juga diamati. Pasien mempertahankan kualitas hidup dengan memanfaatkan waktu luangnya untuk pekerjaan sosial dan kegiatan spiritual. Pasien tidak memiliki riwayat hipertensi, diabetes, kanker, asma, PPOK, TB, cedera dan kecelakaan, penyakit bedah, dan masalah kejiwaan. Riwayat keluarga: tidak ada riwayat penyakit serupa, hipertensi, diabetes, TB, atau asma dalam keluarga.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \b \b0 Berdasarkan data klinis yang disampaikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat sesuai standar PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) untuk kondisi pasien tersebut:
\par
\b Diagnosa Keperawatan:\b0
\par \b Kode: 00085\b0
\par \b Nama: Risiko Cedera\b0
\par \b Definisi:\b0 Rentan terhadap cedera fisik akibat kondisi internal atau eksternal yang dapat membahayakan kesehatan.
\par
\b Faktor Risiko (SDKI):\b0
\par - Gangguan keseimbangan postural (ataksia serebelum)
\par - Gaya berjalan abnormal (propulsi/retropulsi)
\par - Bradikinesia dan kekakuan otot
\par - Riwayat sering terjatuh
\par
\b Kriteria Hasil (SLKI):\b0
\par \b Kode: 1902\b0 - \i Perlindungan dari Cedera\i0
\par - Pasien bebas dari cedera fisik
\par - Mendemonstrasikan perilaku pencegahan jatuh
\par - Lingkungan fisik dimodifikasi untuk mengurangi bahaya
\par
\b Intervensi Keperawatan (SIKI):\b0
\par \b Kode: 6460\b0 - \i Pencegahan Jatuh\i0
\par - Mempertahankan lingkungan yang aman (pencahayaan adekuat, lantai tidak licin)
\par - Menggunakan alat bantu mobilitas sesuai indikasi
\par - Melakukan pendampingan selama ambulasi
\par - Edukasi keluarga tentang teknik pengawasan dan pencegahan jatuh
\par - Memantau tanda-tanda ketidakstabilan postural
\par
\b Rasional:\b0 Gejala ataksia serebelum, gangguan keseimbangan, dan riwayat jatuh menempatkan pasien pada risiko cedera tinggi. Intervensi difokuskan pada modifikasi lingkungan dan pengawasan untuk mencegah komplikasi fisik.
\par
\pard\sa200\sl276\slmult1\qj \b Catatan:\b0 Diagnosa ini bersifat \i risiko\i0 sehingga tidak memerlukan data \i actual injury\i0, namun membutuhkan intervensi preventif yang komprehensif mengingat progresivitas kondisi neurologis pasien.
\par } -
Article No. 21711 | 17 Sep 2025
Klinis : ny. an mengalami konstipasi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \rtf1\ansi\ansicpg1252\deff0\nouicompat\deflang1057{\fonttbl{\f0\fnil\fcharset0 Calibri;}}
{\colortbl ;\red0\green0\blue0;}
{\*\generator Riched20 10.0.22621}\viewkind4\uc1
\pard\sa200\sl276\slmult1\cf1\f0\fs24\lang1057 Berdasarkan kondisi Ny. An yang mengalami konstipasi, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI sesuai standar Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):\par
\par
\textb Diagnosa Keperawatan:\par
\textb Kode: D.0016\par
\textb Label: Konstipasi\par
\par
\textb Penjelasan Singkat:\par
\par
\textb 1. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI):\par
Kode: D.0016 - Konstipasi\par
Definisi: Penurunan frekuensi defekasi disertai dengan pengeluaran feses yang keras dan kering, serta upaya mengejan yang berlebihan selama defekasi.\par
\par
\textb 2. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):\par
Kode: L.04021 - Status Eliminasi Feses\par
Definisi: Luaran yang diharapkan adalah klien dapat mencapai eliminasi feses yang adekuat dengan kriteria: frekuensi defekasi dalam rentang normal, konsistensi feses lunak, tidak ada upaya mengejan berlebihan, dan tidak adanya nyeri atau ketidaknyamanan saat defekasi.\par
\par
\textb 3. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):\par
Kode: I.11270 - Manajemen Konstipasi\par
Definisi: Intervensi untuk mencegah dan meringankan konstipasi melalui pemberian cairan yang adekuat, modifikasi diet (peningkatan serat), aktivitas fisik, dan pemberian laksatif sesuai indikasi.\par
\par
Demikian respons akademis yang disampaikan sesuai dengan standar PPNI.\par
} -
Article No. 21704 | 16 Sep 2025
Klinis : Pasien perempuan, 22 tahun dengan gangguan jiwa. Saat ini pasien mengamuk dan membenturkan dirinya di teralis kamar. Asupan nutrisi atau makanan selama shift pagi belum berhasil, pasien tidak mau makan. Mulut pasien terlihat kering.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \b\fs28 \cf0 \uc1\f0 \b0 \fs24 \cf0 \pard\nowidctlpar\sl276\slmult1\qj Berdasarkan data klinis yang disampaikan, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI sesuai standar PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia):\par
\par
\b DIAGNOSA KEPERAWATAN:\b0 \par
\b Risiko Cedera\b0 (Kode: 0016) berhubungan dengan perilaku kekerasan terhadap diri sendiri (membenturkan diri di teralis)\par
\par
\b SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):\b0 \par
\b Definisi:\b0 Status di mana individu berisiko mengalami cedera sebagai akibat dari kondisi lingkungan atau interaksi dengan lingkungan (PPNI, 2017).\par
\b Karakteristik Utama:\b0 Perilaku membahayakan diri, agitasi psikomotor, ketidakmampuan mengendalikan impuls.\par
\par
\b SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):\b0 \par
\b Kode: 1902 - Pengendalian Perilaku Kekerasan\b0 \par
\b Indikator:\b0 \par
- 190201 - Mengidentifikasi pemicu perilaku kekerasan (Skala: 1-5)\par
- 190203 - Menggunakan strategi koping untuk mengontrol amarah (Skala: 1-5)\par
- 190204 - Tidak menyakiti diri sendiri/orang lain (Skala: 1-5)\par
\b Target Luaran:\b0 Peningkatan skala pada indikator terkait pengendalian perilaku.\par
\par
\b SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):\b0 \par
\b Kode: 6490 - Manajemen Perilaku Kekerasan\b0 \par
\b Aktivitas:\b0 \par
- 6490A1 - Lakukan pendekatan dengan tenang dan tidak mengancam\par
- 6490A2 - Jauhkan objek yang berpotensi membahayakan\par
- 6490A4 - Berikan obat sesuai program terapi\par
- 6490A7 - Kolaborasi dengan tim kesehatan mental\par
\par
\b DIAGNOSA TAMBAHAN:\b0 \par
\b Defisit Perawatan Diri: Makan\b0 (Kode: 00108) berhubungan dengan penolakan intake nutrisi dan mukosa oral kering\par
\par
\b SDKI:\b0 \par
\b Definisi:\b0 Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan nutrisi untuk pemeliharaan kesehatan.\par
\par
\b SLKI:\b0 \par
\b Kode: 0405 - Status Nutrisi\b0 \par
\b Indikator:\b0 \par
- 040502 - Asupan makanan oral (Skala: 1-5)\par
- 040507 - Hidrasi (Skala: 1-5)\par
\par
\b SIKI:\b0 \par
\b Kode: 1120 - Manajemen Nutrisi\b0 \par
\b Aktivitas:\b0 \par
- 1120A1 - Monitor intake dan output nutrisi\par
- 1120A4 - Kolaborasi pemberian nutrisi parenteral jika diperlukan\par
- 1120A9 - Berikan oral hygiene\par
\par
\b Catatan:\b0 Intervensi keperawatan harus dilakukan dengan pendekatan terapeutik, memprioritaskan keselamatan pasien, dan kolaborasi multidisiplin.\par
\par
\i \fs20 \cf2 Sumber: Buku Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) Edisi 2018-2020 PPNI\i0 \fs24 \cf0 \par
} -
Article No. 21705 | 16 Sep 2025
Klinis : terdapat luka sayatan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \rtf1\ansi\ansicpg1252\deff0\nouicompat\deflang1033{\fonttbl{\f0\fnil\fcharset0 Calibri;}}
{\colortbl ;\red0\green0\blue0;}
{\*\generator Riched20 10.0.22621}\viewkind4\uc1
\pard\nowidctlpar\sa200\sl276\slmult1\cf1\f0\fs22\lang1057 Berdasarkan kondisi klien dengan luka sayatan, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat sesuai standar SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).\par
\b DIAGNOSA KEPERAWATAN:\b0\par
\b Kode:\b0 D.0016 \endash Kerusakan Integritas Jaringan\par
\b Definisi:\b0 Kerusakan pada membran mukosa, kornea, integumen, atau jaringan subkutan yang mengakibatkan terganggunya struktur dan fungsi jaringan.\par
\b STANDAR LUARAN KEPERAWATAN INDONESIA (SLKI):\b0\par
\b Kode:\b0 L.14016 \endash Penyembuhan Luka: Tahap Penyembuhan\par
\b Definisi:\b0 Tingkat penyembuhan luka akibat trauma atau pembedahan.\par
\b Indikator:\par
1. L.14016.1: Kulit sekitar luka utuh\par
2. L.14016.2: Tidak ada drainage dari luka\par
3. L.14016.3: Tidak ada eritema pada luka\par
4. L.14016.4: Tidak ada edema pada luka\par
5. L.14016.5: Tidak ada nyeri pada luka\par
\b STANDAR INTERVENSI KEPERAWATAN INDONESIA (SIKI):\b0\par
\b Kode:\b0 I.11250 \endash Perawatan Luka\par
\b Definisi:\b0 Membersihkan, mengeringkan, dan mempertahankan kondisi luka agar tetap lembab untuk mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan.\par
\b Aktivitas:\par
1. I.11250.1: Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan perawatan luka\par
2. I.11250.2: Lakukan teknik aseptik dan antiseptik\par
3. I.11250.3: Observasi karakteristik luka (lokasi, warna, ukuran, kedalaman, drainage, bau)\par
4. I.11250.4: Bersihkan luka dengan cairan antiseptik sesuai ketentuan\par
5. I.11250.5: Ganti balutan sesuai kebutuhan\par
6. I.11250.6: Kolaborasi pemberian analgesik jika diperlukan\par
7. I.11250.7: Ajarkan klien dan keluarga tentang perawatan luka\par
\b Penjelasan Singkat:\b0\par
Diagnosa \b Kerusakan Integritas Jaringan (D.0016)\b0 ditetapkan karena luka sayatan menyebabkan terputusnya kontinuitas kulit dan jaringan di bawahnya. Tujuan utamanya adalah mencapai \b Penyembuhan Luka (L.14016)\b0 yang optimal, ditandai dengan tidak adanya tanda-tanda infeksi seperti drainage, eritema, edema, dan nyeri. Untuk mencapai luaran tersebut, intervensi keperawatan utama yang dilakukan adalah \b Perawatan Luka (I.11250)\b0, yang berfokus pada pembersihan luka, penerapan balutan, pencegahan infeksi, dan edukasi kepada klien. Pendekatan ini bersifat holistik dan berstandar untuk memastikan keselamatan serta mempercepat proses penyembuhan klien.\par
} -
Article No. 21689 | 15 Sep 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan sakit perut sebelah kiri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \b DIAGNOSA KEPERAWATAN\b0\line\line
\b Kode: B.3.1.1\b0\line
\b Nama Diagnosa: Nyeri Akut\b0\line
\b Definisi: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut (International Association for the Study of Pain); onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan durasi kurang dari 3 bulan.\line\line
\b STANDAR DIAGNOSIS KEPERAWATAN INDONESIA (SDKI)\b0\line
\b B.3.1.1 Nyeri Akut\b0\line
\b Data Utama:\b0\line
- Melaporkan nyeri\line
- Perilaku berhati-hati (menjaga area yang nyeri)\line
- Perubahan tekanan darah, nadi, dan pernapasan dari nilai normal pasien\line
- Perilaku ekspresi nyeri (contoh: wajah meringis, menangis, mengerang)\line
- Perilaku gelisah\line
\b Data Pendukung:\b0\line
- Dilatasi pupil\line
- Perilaku distraksi (contoh: mengalihkan pembicaraan, menggosok area yang nyeri)\line
- Perilaku fokus pada diri sendiri\line
- Perubahan tonus otot (dari lemas sampai kaku)\line\line
\b STANDAR LUARAN KEPERAWATAN INDONESIA (SLKI)\b0\line
\b Kode: B.3.1.1\b0\line
\b Nama Luaran: Kontrol Nyeri\b0\line
\b Definisi: Tindakan personal untuk mengendalikan nyeri.\line
\b Indikator dengan Skala (1-5):\b0\line
1. \i Mengenali onset nyeri\i0\line
2. \i Melaporkan nyeri\i0\line
3. \i Menggunakan strategi non-farmakologis untuk mengatasi nyeri\i0\line
4. \i Menggunakan analgesik dengan tepat\i0\line
5. \i Melaporkan nyeri terkontrol\i0\line
\b Tujuan:\b0 Mencapai skala 4 atau 5 pada seluruh indikator.\line\line
\b STANDAR INTERVENSI KEPERAWATAN INDONESIA (SIKI)\b0\line
\b Kode: B.3.1.1\b0\line
\b Nama Intervensi: Manajemen Nyeri\b0\line
\b Definisi: Memberikan bantuan untuk meringankan nyeri atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi.\line
\b Aktivitas Keperawatan (Seleksi):\b0\line
- Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, onset, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas/beratnya nyeri.\line
- Observasi adanya perubahan pada tanda-tanda vital.\line
- Ajarkan penggunaan teknik non-farmakologis (contoh: relaksasi, distraksi, imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin) sesuai indikasi.\line
- Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi dan protokol.\line
- Evaluasi efektivitas intervensi pengendalian nyeri dalam waktu yang sesuai.\line
- Monitor efek samping terapi obat dan keluhan lain yang muncul.\line\line
\b Catatan:\b0 Diagnosa keperawatan "Nyeri Akut" dipilih berdasarkan keluhan utama "sakit perut sebelah kiri" yang dialami pasien. Nyeri merupakan pengalaman subjektif yang memerlukan penilaian komprehensif. Intervensi dan luaran difokuskan pada pengakuan, pelaporan, dan pengendalian nyeri oleh pasien melalui pendekatan farmakologis dan non-farmakologis. Penetapan diagnosa ini bersifat sementara dan dapat berubah setelah dilakukan pengkajian keperawatan yang lebih mendalam untuk mengidentifikasi etiologi nyeri abdomen kiri. -
Article No. 21690 | 15 Sep 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan sakit perut sebelah kiri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \b\fs28 DIAGNOSA KEPERAWATAN\b0\fs24
\b Kode: 00132\b0
\b Nyeri Akut\b0
\b\fs28 PENJELASAN SDKI - SLKI - SIKI\b0\fs24
\b SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):\b0
\b Kode: 00132 - Nyeri Akut\b0
Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan perkiraan waktu kurang dari 3 bulan.
\b SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):\b0
\b Kode: 0801 - Tingkat Nyeri\b0
\b Kode: 0802 - Pengendalian Nyeri\b0
Luaran yang diharapkan:
- Skala nyeri menurun (dari skala 7-10 menjadi 0-3)
- Ekspresi nyeri verbal dan non-verbal berkurang
- Pasien mampu menggunakan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri
- Tanda-tanda vital dalam rentang normal
\b SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):\b0
\b Kode: 0810 - Manajemen Nyeri\b0
\b Kode: 1400 - Manajemen Medikasi\b0
Intervensi yang direkomendasikan:
- Lakukan pengkajian nyeri komprehensif (P, Q, R, S, T)
- Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi
- Kolaborasi pemberian analgesik sesuai resep
- Monitor efektivitas dan efek samping terapi nyeri
- Lakukan reposisi dan teknik kenyamanan
- Berikan pendidikan kesehatan tentang manajemen nyeri mandiri
\b Catatan:\b0 Diagnosa ini bersifat umum untuk keluhan nyeri abdomen kiri. Penetapan diagnosa keperawatan yang lebih spesifik memerlukan pengkajian lebih mendalam mengenai karakteristik nyeri, penyebab, dan data pendukung lainnya melalui assessment keperawatan yang komprehensif. -
Article No. 21691 | 15 Sep 2025
Klinis : pasien datng dengan keluhan sakit perut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \b\fs28 \cf0 Berdasarkan keluhan sakit perut yang disampaikan, berikut adalah beberapa kemungkinan Diagnosa Keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI sesuai standar PPNI:
\b\fs24 \cf0 \ul Diagnosa Keperawatan 1:
\b0\fs24 \cf0 \ul Nyeri Akut (Kode: 00132)
\b0\fs24 \cf0
\b SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):\b0 Nyeri dilaporkan atau diekspresikan, perubahan tekanan darah dan nadi, perilaku berhati-hati, ekspresi wajah kesakitan, gelisah.
\line \b SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):\b0 Tingkat nyeri menurun (Kode: 080120), kenyamanan meningkat (Kode: 080205).
\line \b SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):\b0 Manajemen Nyeri (Kode: 1400) - termasuk observasi karakteristik nyeri, manajemen lingkungan, teknik distraksi, pemberian analgesik sesuai instruksi.
\b\fs24 \cf0 \ul Diagnosa Keperawatan 2:
\b0\fs24 \cf0 \ul Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan (Kode: 00025)
\b0\fs24 \cf0
\b SDKI:\b0 Faktor risiko: muntah, diare, atau asupan cairan tidak adekuat yang sering menyertai sakit perut.
\line \b SLKI:\b0 Status hidrasi memadai (Kode: 060215), keseimbangan cairan (Kode: 060101).
\line \b SIKI:\b0 Manajemen Cairan (Kode: 4120) - pemantauan tanda-tanda dehidrasi, pemberian cairan oral/IV, pencatatan balance cairan.
\b\fs24 \cf0 \ul Diagnosa Keperawatan 3:
\b0\fs24 \cf0 \ul Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh (Kode: 00002)
\b0\fs24 \cf0
\b SDKI:\b0 Penurunan nafsu makan, mual, muntah, atau pembatasan asupan terkait nyeri perut.
\line \b SLKI:\b0 Status nutrisi memadai (Kode: 100101), asupan nutrisi oral (Kode: 100301).
\line \b SIKI:\b0 Manajemen Nutrisi (Kode: 1100) - pemantauan asupan, kolaborasi pemberian diet sesuai toleransi, edukasi nutrisi.
\b\fs24 \cf0 \ul Diagnosa Keperawatan 4:
\b0\fs24 \cf0 \ul Ansietas (Kode: 00146)
\b0\fs24 \cf0
\b SDKI:\b0 Perasaan cemas atau khawatir terkait kondisi sakit yang dialami.
\line \b SLKI:\b0 Tingkat ansietas menurun (Kode: 121105), koping efektif (Kode: 130201).
\line \b SIKI:\b0 Manajemen Ansietas (Kode: 5820) - pendekatan terapeutik, teknik relaksasi, dukungan emosional.
\b\fs24 \cf0 Catatan:\b0\fs24 \cf0 Diagnosa keperawatan harus ditetapkan berdasarkan pengkajian menyeluruh dan validasi data yang akurat. Kode dan standar mengacu pada dokumen resmi PPNI terbaru.
} -
Article No. 21692 | 15 Sep 2025
Klinis : Seorang perempuan, usia 19 tahun mengalami ruam di batang hidung hingga di kedua pipinya berbentuk seperti kupu-kupu serta di pergelangan tangan. Dari hari ke hari, ruam semakin parah, pasien semakin merasa keletihan dan merasakan nyeri sendi jika terkena sinar matahari langsung. Hasil pengkajian didapatkan bengkak pada pergelangan kaki, sariawan di mulut, rambut rontok, TD 120/80 mmHg, frekuensi nadi 130 x/ menit, frekuensi nafas 30 x/menit, suhu 390C. Hasil foto thoraks didapatkan gambaran akumulasi cairan dan peradangan. Hasil test antinuclear antibody > 60 unit. Pasien mendapatkan terapi farmakologi hydroxychloroquine.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: \b \b0\fs24 Berdasarkan data klinis yang disampaikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat sesuai standar SDKI, SLKI, dan SIKI PPNI yang relevan dengan kondisi pasien:\line\line
\b Diagnosa Keperawatan Utama:\b0\line
\b Kode SDKI: 1.1.1\b0 - \i Nyeri Akut\i0\line
\b Definisi:\b0 Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau ringan hingga berat dengan durasi terbatas.\line
\b Data Pendukung:\b0 Pasien melaporkan nyeri sendi saat terpapar sinar matahari, yang merupakan gejala khas Systemic Lupus Erythematosus (SLE). Demam (39°C) dan proses inflamasi yang terlihat pada foto thoraks juga berkontribusi terhadap persepsi nyeri.\line\line
\b Kriteria Hasil (SLKI):\b0\line
\b Kode SLKI: 1.1.1.1\b0 - \i Tingkat nyeri terkontrol\i0\line
\b Indikator:\b0
1. Melaporkan penurunan skala nyeri.
2. Menunjukkan perilaku nyaman (tidak gelisah).
3. Tanda-tanda vital dalam rentang normal.\line\line
\b Intervensi Keperawatan (SIKI):\b0\line
\b Kode SIKI: 1.1.1.1\b0 - \i Manajemen Nyeri\i0\line
\b Aktivitas:\b0
1. Kaji karakteristik nyeri (skala, lokasi, durasi, pemicu).
2. Ajarkan teknik non-farmakologis (kompres, relaksasi, hindari paparan sinar matahari langsung).
3. Kolaborasi pemberian analgesik sesuai program terapi (Hydroxychloroquine memiliki efek modulasi nyeri pada SLE).
4. Monitor dan catat respons pasien terhadap intervensi.\line\line
\b Diagnosa Keperawatan Pendukung:\b0\line
\b Kode SDKI: 1.5.1\b0 - \i Intoleransi Aktivitas\i0\line
\b Definisi:\b0 Kondisi dimana seseorang mengalami keletihan fisik atau mental yang menyebabkan ketidakmampuan untuk mempertahankan aktivitas rutin.\line
\b Data Pendukung:\b0 Pasien mengeluhkan keletihan yang memberat, takikardia (nadi 130x/menit), tachypnea (30x/menit), dan demam, yang secara bersama-sama mengindikasikan peningkatan kebutuhan energi dan penurunan kapasitas fungsional.\line\line
\b Catatan Penting:\b0\line
Konstelasi gejala (ruam malar, fotosensitivitas, artralgia, ulkus oral, alopesia, pleuritis, hasil ANA positif) sangat konsisten dengan diagnosis \i Systemic Lupus Erythematosus (SLE)\i0. Semua diagnosa dan intervensi keperawatan harus dilakukan dalam kerangka kolaboratif dengan tim medis, mengingat kompleksitas dan potensi komplikasi dari penyakit autoimun ini. Pemberian Hydroxychloroquine merupakan terapi standar untuk mengendalikan manifestasi klinis SLE.
\b \b0\fs24\par
} -
Article No. 21693 | 15 Sep 2025
Klinis : Seorang perempuan, usia 19 tahun mengalami ruam di batang hidung hingga di kedua pipinya berbentuk seperti kupu-kupu serta di pergelangan tangan. Dari hari ke hari, ruam semakin parah, pasien semakin merasa keletihan dan merasakan nyeri sendi jika terkena sinar matahari langsung. Hasil pengkajian didapatkan bengkak pada pergelangan kaki, sariawan di mulut, rambut rontok, TD 120/80 mmHg, frekuensi nadi 130 x/ menit, frekuensi nafas 30 x/menit, suhu 390C. Hasil foto thoraks didapatkan gambaran akumulasi cairan dan peradangan. Hasil test antinuclear antibody > 60 unit. Pasien mendapatkan terapi farmakologi hydroxychloroquine.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
**DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI KEPERAWATAN**
Berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)
**I. DATA PENGKAJIAN UTAMA**
- Ruam malar (berbentuk kupu-kupu) pada wajah dan ruam di pergelangan tangan
- Fotosensitivitas (nyeri sendi akibat paparan sinar matahari)
- Keletihan progresif
- Ulkus oral (sariawan)
- Alopesia (rambut rontok)
- Artralgia (nyeri sendi) dan edema pergelangan kaki
- Demam (39°C), takikardia (130 x/menit), takipnea (30 x/menit)
- Bukti radiologis efusi pleura dan inflamasi
- Titer ANA positif tinggi (>60 unit)
- Terapi farmakologis: Hydroxychloroquine
**II. DIAGNOSIS KEPERAWATAN UTAMA**
**SDKI.B.4: Nyeri Akut** (Kode: 00132)
**Penjelasan:** Diagnosa ini ditetapkan berdasarkan keluhan nyeri sendi yang dipicu oleh paparan sinar matahari (fotosensitivitas) dan adanya proses inflamasi sistemik yang ditunjukkan oleh demam, takikardia, serta hasil laboratorium dan radiologis. Nyeri merupakan manifestasi langsung dari aktivitas penyakit autoimun.
**III. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)**
**SLKI.B.4: Pengendalian Nyeri** (Kode: 2106)
**Kriteria Luaran yang Diharapkan:**
- Skor nyeri dilaporkan menurun (dengan menggunakan skala nyeri yang valid)
- Klien mampu mendemonstrasikan teknik non-farmakologis untuk mengatasi nyeri
- Klien menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang normal (suhu, nadi, frekuensi napas)
- Klien melaporkan peningkatan kemampuan untuk beristirahat dan melakukan aktivitas
**IV. INTERVENSI KEPERAWATAN (SIKI)**
**SIKI.B.4: Manajemen Nyeri** (Kode: 1410)
**Aktivitas Keperawatan:**
1. **Manajemen Farmakologis:**
* Kolaborasi pemberian analgesik dan obat anti-inflamasi sesuai resep (Hydroxychloroquine telah diberikan).
* Monitor efektivitas terapi dan timbulnya efek samping.
2. **Intervensi Non-Farmakologis:**
* Ajarkan dan bantu teknik non-farmakologis (misalnya, relaksasi, distraksi, kompres).
* Anjurkan tirah baring selama fase akut untuk mengurangi stres pada sendi.
3. **Edukasi dan Lingkungan:**
* Lakukan edukasi mengenai fotosensitivitas dan pentingnya **perlindungan dari paparan sinar matahari langsung** (menggunakan tabir surya, pakaian tertutup, topi).
* Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang.
4. **Monitoring:**
* Kaji karakteristik nyeri (skala, lokasi, durasi, faktor pencetus) secara berkala.
* Pantau tanda-tanda vital dan respons klien terhadap intervensi.
**--- CATATAN PENTING ---**
Berdasarkan kumpulan gejala dan tanda klinis (ruam malar, fotosensitivitas, artritis, ulkus oral, efusi pleura, hasil ANA positif) serta usia dan jenis kelamin pasien, **diagnosis medis yang paling mungkin adalah Systemic Lupus Erythematosus (SLE)**. Perawat perlu waspada terhadap potensi komplikasi serius dan berkolaborasi erat dengan tim medis. Diagnosa keperawatan lain seperti **Intoleransi Aktivitas** (SDKI.B.1) dan **Hipertermia** (SDKI.B.3) juga sangat relevan untuk ditambahkan dalam perencanaan keperawatan menyeluruh.