Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 5489 | 13 Nov 2024
Klinis : Seorang Wanita berusia 58 tahun dirawat dengan keluhan tungkai bawah tidak bisa digerakkan dan penurunan sensasi berkemih. Pasien tidak menyadari saat buang air kecilnya keluar tanpa disadari. Hasil pengkajian diketahui 1 minggu sebelumnya pasien sempat jatuh di kamar mandi dan sempat ke tukang urut beberapa kali karena pinggang terasa nyeri dan kaki terasa berat. Penurunan kemampuan berkemih dirasakan beberapa hari sebelum dirawat. Saat dilakukan pengkajian didapatkan TTV: HR=80x/menit, T=37C, RR=28x/i,TD=150/90mmHg. Pemeriksaan syaraf cranial tidak ditemukan ada kelainan. Kondisi saat ini pasien hanya tidur ditempat tidur dan duduk sesekali dengan dibantu sandarkan ke dinding tempat tidur. Seluruh kebutuhan klien dibantu oleh keluarga dan perawat. Pasien tampak murung karena memikirkan pekerjaan dan anak-anaknya. Pasien juga tidak selera makan karena merasa dia sudah tidak akan bisa berjalan lagi, dia akan lumpuh selamanya. Penurunan berat badan selama dirawat sekitar 5kg, pasien tampak pucat, lemas, dan konjugtiva anemis. Hasil pemeriksaan diketahui kadar Hb=9,8 g/dL, Ht=31%, Trombosit 438.000/uL, leukosit=10.600/mm3.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi tersebut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot dan sensasi.
2. Inkontinensia Urin berhubungan dengan gangguan neurologis.
3. Defisit Perawatan Diri berhubungan dengan gangguan mobilitas fisik.
4. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
5. Risiko Malnutrisi berhubungan dengan penurunan nafsu makan.
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
1. Gangguan Mobilitas Fisik
- SDKI: Keterbatasan dalam melakukan pergerakan yang disengaja dan terkontrol dari satu tempat ke tempat lain.
- SLKI: Intervensi keperawatan untuk membantu klien mencapai pergerakan dan koordinasi yang optimal.
- SIKI: Tindakan keperawatan untuk memulihkan, mempertahankan, dan meningkatkan kemampuan klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
2. Inkontinensia Urin
- SDKI: Ketidakmampuan mengendalikan pengeluaran urin.
- SLKI: Intervensi keperawatan untuk membantu klien mencapai kontrol berkemih yang optimal.
- SIKI: Tindakan keperawatan untuk membantu klien mencapai pengendalian berkemih yang optimal.
3. Defisit Perawatan Diri
- SDKI: Keterbatasan dalam melakukan atau menyelesaikan aktivitas perawatan diri.
- SLKI: Intervensi keperawatan untuk membantu klien dalam melakukan aktivitas perawatan diri.
- SIKI: Tindakan keperawatan untuk membantu klien dalam melakukan aktivitas perawatan diri.
4. Kecemasan
- SDKI: Respon emosional dan psikologis terhadap sumber ancaman, bahaya, atau tantangan yang tidak jelas dan dirasakan.
- SLKI: Intervensi keperawatan untuk membantu klien mengatasi kecemasan.
- SIKI: Tindakan keperawatan untuk membantu klien mengatasi kecemasan.
5. Risiko Malnutrisi
- SDKI: Keadaan di mana individu berisiko mengalami penurunan berat badan, asupan energi, dan/atau asupan nutrisi.
- SLKI: Intervensi keperawatan untuk membantu klien mencapai status nutrisi yang optimal.
- SIKI: Tindakan keperawatan untuk membantu klien mencapai status nutrisi yang optimal. -
Article No. 5490 | 13 Nov 2024
Klinis : pasien datang dengan keluhan sakit ulu hati
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien yang datang dengan keluhan sakit ulu hati. Sebagai seorang pakar dalam bidang keperawatan, saya akan menyajikan informasi ini dengan tone akademis.
Diagnosa Keperawatan:
Nyeri Kronis Sedang Akibat Gangguan Gastrointestinal
Penjelasan:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Nyeri Kronis Sedang Akibat Gangguan Gastrointestinal adalah kondisi di mana pasien mengalami nyeri yang terus-menerus atau berulang di area ulu hati dengan intensitas sedang, yang disebabkan oleh adanya gangguan pada sistem pencernaan.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Tujuan utama dari penanganan nyeri kronis sedang akibat gangguan gastrointestinal adalah mengurangi atau menghilangkan nyeri, serta meningkatkan kemampuan pasien dalam mengelola nyeri. Indikator keberhasilan dapat dilihat dari penurunan skor nyeri, peningkatan kemampuan pasien dalam mengenali faktor pemicu nyeri, dan kemampuan pasien dalam menggunakan teknik manajemen nyeri yang efektif.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi yang dapat dilakukan untuk mengatasi nyeri kronis sedang akibat gangguan gastrointestinal meliputi:
a. Pengkajian nyeri secara komprehensif.
b. Pemberian analgesik yang sesuai.
c. Pengaturan pola makan dan asupan nutrisi yang tepat.
d. Pemberian terapi non-farmakologis, seperti relaksasi, kompres hangat/dingin, dan distraksi.
e. Edukasi dan konseling terkait pengelolaan nyeri.
f. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain, seperti dokter, ahli gizi, dan terapis, untuk penanganan yang lebih komprehensif.
Penerapan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dalam penanganan kondisi ini diharapkan dapat membantu pasien dalam mengatasi nyeri kronis sedang akibat gangguan gastrointestinal secara efektif dan holistik. -
Article No. 5491 | 13 Nov 2024
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, dapat disimpulkan bahwa pasien memiliki diagnosis awal tuberkulosis paru. Berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis:
1. Kode ICD-10:
- Kode: A15.0
- Deskripsi: Tuberkulosis paru dengan lesi pada paru.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 87.44
- Deskripsi: Radiografi dada, dua proyeksi, anterior dan posterior.
Penjelasan detail:
1. Kode ICD-10 A15.0 (Tuberkulosis paru dengan lesi pada paru) sesuai dengan gejala utama pasien, yaitu batuk berdahak, demam, sesak napas, kehilangan nafsu makan, dan adanya lesi pada paru yang terlihat dari hasil pemeriksaan radiografi.
2. Kode ICD-9-CM 87.44 (Radiografi dada, dua proyeksi, anterior dan posterior) adalah kode prosedur untuk pemeriksaan rontgen dada yang dilakukan untuk mendeteksi adanya lesi pada paru, yang mendukung diagnosis awal tuberkulosis paru.
Dalam praktik klinis, diperlukan evaluasi lebih lanjut, seperti pemeriksaan sputum, tes tuberkulin, atau pemeriksaan penunjang lainnya, untuk menegakkan diagnosis tuberkulosis paru secara definitif dan menentukan tatalaksana yang sesuai. -
Article No. 5492 | 13 Nov 2024
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan nada akademis dan persona pakar perawat, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan:
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas berhubungan dengan peningkatan produksi sekret akibat tuberkulosis paru.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Ketidakmampuan untuk mempertahankan pembersihan jalan napas yang efektif untuk memfasilitasi pertukaran gas.
- Karakteristik Mayor: Peningkatan produksi sekret, sesak napas, perubahan suara napas.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan: Jalan napas yang efektif, pola napas normal, tidak ada tanda-tanda distres pernapasan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi: Manajemen jalan napas, manajemen oksigenasi, terapi inhalasi, manajemen batuk.
2. Risiko Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan penurunan kapasitas fungsional akibat tuberkulosis paru.
SDKI:
- Definisi: Risiko mengalami keterbatasan dalam toleransi aktivitas fisik.
- Faktor Risiko: Penyakit paru kronik, sesak napas, fatigue.
SLKI:
- Luaran yang diharapkan: Toleransi aktivitas meningkat, tidak ada tanda-tanda intoleransi aktivitas.
SIKI:
- Intervensi: Manajemen aktivitas, manajemen oksigenasi, manajemen energi.
Dengan diagnosa dan penjelasan singkat tersebut, diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif mengenai kondisi pasien dan rencana asuhan keperawatan yang dapat diberikan sesuai dengan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia. -
Article No. 5493 | 13 Nov 2024
Klinis : TERTUSUK PAKU DI KAKI
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berikut adalah kode dan deskripsi yang sesuai untuk kondisi "TERTUSUK PAKU DI KAKI":
1. Kode ICD-10:
- Kode: W45.0
- Deskripsi: Tertusuk benda asing (paku) di kaki
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 86.21
- Deskripsi: Debridement luka, kompleks atau ekstensif
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 W45.0 merujuk pada cedera akibat tertusuk benda asing (dalam kasus ini adalah paku) di kaki. Kode ini termasuk dalam kategori "Tertusuk, ditembak, atau ditusuk oleh benda tajam atau runcing" dari Bab XX ICD-10 (Penyebab eksternal morbiditas dan mortalitas).
2. Untuk tindakan medis yang mungkin dilakukan, kode ICD-9-CM 86.21 (Debridement luka, kompleks atau ekstensif) dapat digunakan. Debridement adalah proses pembersihan dan penyingkiran jaringan mati atau nekrotik dari luka untuk memfasilitasi penyembuhan. Kode ini termasuk dalam kategori "Operasi pada kulit dan jaringan subkutan" dari Bab 86 ICD-9-CM (Prosedur operasi).
Sebagai catatan, penilaian dan penanganan lebih lanjut oleh tenaga medis yang kompeten akan diperlukan untuk memastikan pemulihan yang optimal dan mencegah komplikasi lebih lanjut. -
Article No. 5494 | 13 Nov 2024
Klinis : An. H usia 1 tahun beragama Islam belum bersekolah. Ny. I merupakan penanggung jawabnya yang merupakan ibu dari An. H dengan Pendidikan SMP dan pekerjaan sebagai IRT. Ibu pasien mengeluh An.H mengalami diare. Pada saat malam hari An.H mulai muntah-muntah hingga akhirnya keluarga membawa An.H ke IGD Rumah Sakit. An.H muncul BAB cair sebanyak ±10x. Ibu pasien mengatakan tidak ada penyakit serius hanya batuk, pilek, dan demam seperti biasa. Ibu pasien mengatakan sebelumnya An.H tidak pernah dirawat. Ibu pasien mengatakan sebelum sakit tidak ada keluhan, tidak ada darah dalam BABnya, semenjak sakit ibu pasien mengatakan BABnya cair namun tidak tampak ada darah. BAK tidak ada keluhan. Ibu pasien mengatakan sebelum sakit, ibunya selalu menggantikan popok ±5 kali/hari, namun saat sakit mengganti popok menyesuaikan dengan BAB yang keluar dari An.H, Bau khas saat sebelum sakit dan sedikit bau campuran obat saat sakit, warna BAB saat sebelum sakit khas terkadang menyesuaikan dengan apa yang An.H makan, saat sakit warna BAB kuning-hijau. Pasien tampak lemas, pasien tampak minum dengan lahap/dehidrsai ringan-sedang. Hasil pemeriksaan TTV N : 143x/menit, RR : 25x/menit S : 36,0℃, BB sebelum sakit : 10,5kg BB saat sakit : 9,8kg. Perut tampak cembung, warna kulit abdomen sama dengan warna kulit sekitarnya, tidak terdapat nyeri tekan pada abdomen anak, bising usus hiperaktif 32x/menit, dan tidak kembung Terapi obat yang di dapatkan pasien Invomit 3x1 mg, Ranitidine 2x10 mg, sanmol syrup 3x1 sdt, orezinc 1x1 sdt, Lacto-B 2x1 sachet, Cefixim syrup 1x1⁄2 sdt, Thyamicin 4x1⁄2 sdt, Nystatin 4x1cc, Dehidralyte 200 ml
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berdasarkan informasi yang diberikan, berikut diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi An. H:
Diagnosa Keperawatan:
1. Resiko Dehidrasi berhubungan dengan diare dan muntah
2. Risiko Malnutrisi berhubungan dengan Penurunan Berat Badan
3. Risiko Infeksi berhubungan dengan diare
Penjelasan Singkat:
1. Resiko Dehidrasi berhubungan dengan diare dan muntah
- SDKI: Risiko Dehidrasi
- SLKI: Hidrasi
- SIKI: Manajemen Cairan
Penjelasan: Pasien mengalami diare dan muntah yang dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan. Risiko dehidrasi harus segera diatasi untuk mencegah komplikasi yang lebih berat.
2. Risiko Malnutrisi berhubungan dengan Penurunan Berat Badan
- SDKI: Risiko Malnutrisi
- SLKI: Status Nutrisi
- SIKI: Manajemen Nutrisi
Penjelasan: Pasien mengalami penurunan berat badan yang signifikan, yang dapat berdampak pada status nutrisi dan pertumbuhan. Risiko malnutrisi perlu dikenali dan diatasi segera untuk menjaga status gizi pasien.
3. Risiko Infeksi berhubungan dengan diare
- SDKI: Risiko Infeksi
- SLKI: Kontrol Infeksi
- SIKI: Manajemen Infeksi
Penjelasan: Diare yang terjadi pada pasien dapat menjadi pintu masuk bagi infeksi, baik infeksi saluran cerna maupun infeksi lainnya. Risiko infeksi perlu dikenali dan diatasi dengan pemberian terapi antibiotik yang sesuai.
Secara umum, pendekatan keperawatan yang dapat dilakukan berdasarkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI adalah:
- Manajemen cairan dan elektrolit untuk mencegah dehidrasi
- Manajemen nutrisi untuk mencegah malnutrisi
- Manajemen infeksi untuk mencegah komplikasi infeksi
- Edukasi dan dukungan pada keluarga untuk meningkatkan pemahaman dan partisipasi dalam perawatan. -
Article No. 5495 | 13 Nov 2024
Klinis : Pasien bernama Tn. A, usia 38 tahun 0 bulan 17 hari, jenis kelamin laki-laki, alamat Sriwulan RT 03, RW 01 Sayung Demak, agama islam, pendidikan terakhir SMA sederajat, suku bangsa Jawa Indonesia, pasien bekerja sebagai buruh swasta. Penanggung jawab merupakan isteri dari pasien bernama Ny. S. bekerja sebagai ibu rumah tangga, pendidikan terakhir isteri pasien SMA sederajat, agama islam, suku bangsa Jawa Indonesia, alamat Sriwulan RT 03, RW 01 Sayung Demak. Pasien mengatakan diare sejak 2 hari yang lalu. Tn. A mengatakan BAB lebih dari 10 kali dalam sehari disertai dengan muntah. Konsistensi feses cair, tidak ada lendir dan warna feses kuning. Pasien mengatakan badan terasa lemas, nafsu makan menurun. Tn. A mengatakan tidak pernah mengalami penyakit yang serius, hanya pernah demam, pusing, batuk, pilek dan sembuh dalam waktu kurang dari 3 hari setelah dibawa keklinik terdekat. Pasien mengatakan sebelumnya tidak pernah dirawat dirumah sakit. Pasien tidak terdapat riwayat alergi makanan dan obat-obatan. Tn. A mengatakan keluarganya tidak memiliki riwayat penyakit yang serius. Sebelum sakit pasien mengatakan BAB 1x sehari dengan konsistensi padat, feses berwarna kuning. Setelah sakit pasien mengatakan BAB lebih dari 5x dalam sehari dengan konsistensi cair disertai muntah. Pasien mengatakan tidak ada kentut selama 1 minggu. Sebelum dan sesudah sakit pasien mengatakan tidak ada keluhan pada BAK. Persepsi nyeri pasien dengan menggunakan pendekatan P,Q,R,S,T P = Palatif (nyeri pada area seluruh perut) Q = Qualitas (nyeri terasa seperti diremas-remas) R = Regio (perut) S = Skala (4 dengan skala nyeri 1-10) T =Time (timbul nyeri:sering, tipe nyeri:hilang timbul) Pasien dalam keadaan sadar penuh, penampilan lemah dan lesu, GCS 15 (E:4, M:6, V:5). hasil pemeriksaan tanda vital: TD= 120/70 mmHg, N= 90x/menit, RR= 20x/menit, S= 36,3°C, Abdomen, inspeksi: dinding abdomen simetris, tidak ada luka, auskultasi: peristaltik usus terdengar 28x/menit, perkusi: terdengar bunyi timpani, palpasi: tidak ada edema, terdapat nyeri tekan. Hasil pemeriksaan labolatorium didapatkan hemoglobin hasil 15.7 dengan nilai rujukan 13.2-17.3 dengan satuan g/dL, hematokrit didapatkan hasil 48.5 dengan nilai rujukan 33.0-45.0 dengan satuan %, leukosit didapatkan hasil 13.19 dengan nilai rujukan 3.80-10.60 dengan satuan ribu/ μL, Pasien mendapatkan terapi infus RL 20 tpm, injeksi intravena yaitu ondansentron 3x1, omeprazole 1x1, ciprofloxasin 2x1, obat oral yaitu new diatabs 4x2, paracetamol 4x1, l.bio 1x1, zinc 2x1, ketoconazole 1x1, sucralfate syirup 3x10ml
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan, penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI, serta rencana tindakan keperawatan untuk Tn. A:
Diagnosa Keperawatan:
1. Diare akut berhubungan dengan infeksi gastrointestinal, ditandai dengan BAB lebih dari 10 kali sehari, konsistensi feses cair, dan rasa nyeri pada perut.
2. Risiko dehidrasi berhubungan dengan diare akut, ditandai dengan gejala seperti mulut kering, turgor kulit menurun, dan peningkatan denyut nadi.
3. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, ditandai dengan penurunan berat badan dan nafsu makan menurun.
4. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi gastrointestinal, ditandai dengan nyeri pada perut yang dirasakan seperti diremas-remas.
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
1. Diare Akut
- SDKI: Definisi, Faktor yang Mempengaruhi, Gejala dan Tanda, Penyebab
- SLKI: Tujuan, Kriteria Hasil
- SIKI: Intervensi Keperawatan
2. Risiko Dehidrasi
- SDKI: Definisi, Faktor yang Mempengaruhi, Gejala dan Tanda, Penyebab
- SLKI: Tujuan, Kriteria Hasil
- SIKI: Intervensi Keperawatan
3. Perubahan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
- SDKI: Definisi, Faktor yang Mempengaruhi, Gejala dan Tanda, Penyebab
- SLKI: Tujuan, Kriteria Hasil
- SIKI: Intervensi Keperawatan
4. Nyeri Akut
- SDKI: Definisi, Faktor yang Mempengaruhi, Gejala dan Tanda, Penyebab
- SLKI: Tujuan, Kriteria Hasil
- SIKI: Intervensi Keperawatan
Rencana Tindakan Keperawatan:
1. Lakukan pengkajian komprehensif terkait kondisi diare, dehidrasi, status nutrisi, dan nyeri.
2. Berikan terapi cairan dan elektrolit sesuai resep dokter untuk mencegah dehidrasi.
3. Pantau asupan dan output cairan pasien secara ketat.
4. Berikan nutrisi enteral yang sesuai untuk mengatasi masalah nutrisi.
5. Berikan terapi analgesik sesuai resep dokter untuk mengatasi nyeri.
6. Ajarkan pasien dan keluarga tentang manajemen diare, pencegahan dehidrasi, dan nutrisi yang tepat.
7. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk penanganan diare akut. -
Article No. 5496 | 13 Nov 2024
Klinis : Seorang pasien perempuan berusia 58 tahun melakukan pemeriksaan ke Poli Penyakit Dalam. Pasien dilakukan anamnesa awal oleh perawat Poli dan mengeluh sudah 2 minggu tidak dapat menahan buang air kecil (BAK) sehingga seringkali “mengompol”. Pasien mengatakan hal ini mengganggu aktifitas-nya yang sering kali masih mengikuti pengajian mingguan di masjid dekat rumahnya atau kegiatan sosial lainnya dalam lingkungan Rukun Tetangga (RT). Pasien mengatakan juga kesulitan apabila harus bepergian jauh karena sulit menahan terlalu lama BAK. Kondisi ini seringkali menimbulkan rasa malu dan stress bagi pasien. Pasien mengatakan tidak ada keluhan nyeri, panas atau perih saat BAK. Pasien memiliki 6 orang anak dan riwayat melahirkan per-vaginam. Perawat dan dokter menyampaikan bahwa pasien mengalami inkontinensia urin. Pasien memiliki berat badan berlebih dan sudah mengalami periode menopause.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi pasien yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat menggunakan standar SDKI - SLKI - SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Inkontinensia urin
Penjelasan singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Inkontinensia urin adalah ketidakmampuan mengendalikan pengeluaran urin.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Kontrol Inkontinensia
2. Kenyamanan
3. Integritas Kulit
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Inkontinensia Urin
2. Perawatan Inkontinensia
3. Peningkatan Kenyamanan
4. Pencegahan Luka Tekan
Penjelasan:
Pasien perempuan berusia 58 tahun mengalami inkontinensia urin, yaitu ketidakmampuan untuk menahan BAK sehingga sering "mengompol". Hal ini mengganggu aktivitas pasien, menimbulkan rasa malu dan stres. Faktor-faktor yang berkontribusi adalah riwayat persalinan pervaginam, berat badan berlebih, dan usia pasca menopause.
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen inkontinensia urin (misalnya latihan otot dasar panggul), perawatan inkontinensia (misalnya penggunaan alat bantu), peningkatan kenyamanan (misalnya menjaga kebersihan dan kulit agar tidak iritasi), serta pencegahan luka tekan. -
Article No. 5497 | 13 Nov 2024
Klinis : Seorang pasien perempuan berusia 58 tahun melakukan pemeriksaan ke Poli Penyakit Dalam. Pasien dilakukan anamnesa awal oleh perawat Poli dan mengeluh sudah 2 minggu tidak dapat menahan buang air kecil (BAK) sehingga seringkali “mengompol”. Pasien mengatakan hal ini mengganggu aktifitas-nya yang sering kali masih mengikuti pengajian mingguan di masjid dekat rumahnya atau kegiatan sosial lainnya dalam lingkungan Rukun Tetangga (RT). Pasien mengatakan juga kesulitan apabila harus bepergian jauh karena sulit menahan terlalu lama BAK. Kondisi ini seringkali menimbulkan rasa malu dan stress bagi pasien. Pasien mengatakan tidak ada keluhan nyeri, panas atau perih saat BAK. Pasien memiliki 6 orang anak dan riwayat melahirkan per-vaginam. Perawat dan dokter menyampaikan bahwa pasien mengalami inkontinensia urin. Pasien memiliki berat badan berlebih dan sudah mengalami periode menopause.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kasus ini adalah:
1. Inkontinensia Urin
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Kehilangan kendali urin yang tidak disengaja yang mengganggu aktivitas normal dan interaksi sosial.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Kemampuan mengendalikan pengeluaran urin.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Manajemen Inkontinensia Urin.
Penjelasan singkat:
Inkontinensia urin adalah kondisi di mana pasien tidak dapat menahan buang air kecil (BAK) dengan baik, sehingga sering mengalami "mengompol". Hal ini dapat mengganggu aktivitas sosial dan menyebabkan rasa malu bagi pasien. Faktor-faktor yang berkontribusi dalam kasus ini adalah usia lanjut, riwayat kelahiran per-vaginam, dan kelebihan berat badan.
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan meliputi edukasi kepada pasien dan keluarga, latihan kontrol BAK, pengaturan pola konsumsi cairan, serta penggunaan alat bantu seperti pembalut atau kateter jika perlu. Tujuannya adalah meningkatkan kemampuan pasien dalam mengendalikan pengeluaran urin dan mengurangi dampak negatif dari inkontinensia urin. -
Article No. 5498 | 13 Nov 2024
Klinis : pasien datang dengan keluhan pusing
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien dengan keluhan pusing.
Diagnosa Keperawatan:
Ketidakstabilan Tanda-Tanda Vital
Penjelasan:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Ketidakstabilan Tanda-Tanda Vital adalah keadaan di mana perubahan yang tidak normal terjadi pada satu atau lebih tanda-tanda vital (suhu, nadi, pernapasan, tekanan darah).
- Tanda dan gejala utama dapat termasuk, tetapi tidak terbatas pada, perubahan dalam frekuensi nadi, pernapasan, tekanan darah, atau suhu tubuh.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Stabilitas Tanda-Tanda Vital: Keadaan di mana tanda-tanda vital pasien (suhu, nadi, pernapasan, tekanan darah) berada dalam kisaran normal.
- Luaran yang diharapkan adalah pasien menunjukkan stabilitas tanda-tanda vital yang sesuai dengan nilai normal.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Pemantauan Tanda-Tanda Vital: Tindakan pemantauan terhadap suhu, nadi, pernapasan, dan tekanan darah pasien secara teratur dan dokumentasi hasil pemantauan.
- Intervensi yang dapat dilakukan adalah memonitor tanda-tanda vital secara rutin, mengenali tanda-tanda perubahan tanda-tanda vital, dan melaporkan perubahan yang signifikan kepada tenaga kesehatan yang sesuai.
Dengan menggunakan kerangka SDKI - SLKI - SIKI, perawat dapat mengidentifikasi masalah keperawatan, merencanakan luaran yang diharapkan, dan menentukan intervensi keperawatan yang sesuai untuk mengatasi masalah pasien dengan keluhan pusing.