Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 21855 | 30 Sep 2025
Klinis : Tn.A berusia 42 tahun, bekerja sebagai operator pengepakan di pabrik kimia selama 15 tahun. Ia sering mengalami batuk kronis, sesak napas, nyeri otot terutama di leher dan punggung, serta merasa sangat stres akibat beban kerja yang meningkat dan jam lembur yang panjang. Lingkungan kerja penuh debu kimia dan ventilasi kurang baik.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Definisi dan Deskripsi SDKI (500-1000 kata): Definisi: Ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten.
Deskripsi Analitis Kasus Tn. A:
Diagnosis keperawatan "Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif" pada Tn. A, seorang operator pabrik kimia berusia 42 tahun, didasarkan pada akumulasi bukti dari riwayat pekerjaan, gejala klinArticle No. 21856 | 30 Sep 2025
Klinis : Seorang pasien laki-laki berusia 52 tahun dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) setelah mengalami kecelakaan industri yang menyebabkan trauma terbuka pada tungkai kiri dan abdomen dengan perdarahan aktif. Saat tiba di IGD, pasien dalam kondisi kritis dengan tekanan darah 70/40 mmHg, denyut nadi 140 bpm yang lemah, laju napas 32 kali/menit, saturasi oksigen 88% dengan oksigen 5 L/menit, suhu tubuh 35,5°C, serta kesadaran menurun (GCS 12). Pasien tampak pucat, berkeringat, gelisah, mual, dan muntah. Riwayat hipertensi ringan dimiliki pasien, namun pengobatan rutin tidak dilakukan dan tidak ada riwayat alergi. Selain itu, IGD sedang penuh dengan pasien lain dan keluarga pasien panik ingin segera tindakan.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Syok Traumatik
Kode ICD-10: T79.4
Deskripsi Singkat : Syok traumatik adalah kondisi kritis yang mengancam jiwa akibat cedera fisik parah. Pada kasus ini, syok disebabkan oleh kehilangan volume darah masif (syok hipovolemik) dari luka terbuka di tungkai dan abdomen. Penurunan volume darah secara drastis menyebabkan jantung tidak mampu memompa cukup darah beroksigen ke organ-organ vital. Hal ini termanifestasi melalui tanda-tanda klinis seperti tekanan darah sangat rendah (hipotensi), denyut nadi cepat dan lemah (takikardia), napas cepat, penurunan kesadaran, serta kulit pucat dan dingin. Kondisi ini memerlukan resusitasi cairan dan kontrol perdarahan segera untuk mencegah kerusakan organ permanen dan kematian. Kode ICD-10 T79.4 secara spesifik mengklasifikasikan 'Syok traumatik' sebagai komplikasi dini yang langsung disebabkan oleh cedera, membedakannya dari jenis syok lainnya dan
Article No. 21857 | 30 Sep 2025
Klinis : Pasien mengatakan pusing Pasien mengatakan tidak tahu namanya dan sedang berada di mana. Pasien tampak lemah Kesadaran composmentis, GCS 4-4-6 TD 178/94 mmHg pasien bingung saat ditanya oleh perawat sedang berada dimana sekarang? ditanya nama pasien, pasien tidak dapat menyebutkan namanya
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Konfusi Akut
Kode SDKI: D.0080
Definisi dan Deskripsi SDKI (500-1000 kata): Konfusi Akut, yang dalam Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) diklasifikasikan dengan kode D.0080, didefinisikan sebagai gangguan kesadaran, perhatian, kognisi, dan persepsi yang bersifat reversibel, terjadi secara tiba-tiba (akut), dan berlangsung singkat. Kondisi ini sering disebut juga sebagai delirium. Karakteristik utamanya adalah onset yang mendadak dan perjalanan klinis yang berfluktuasi sepanjang hari, di mana tingkat kesadaran dan atensi pasien dapat berubah-ubah dari waktu ke waktu. Konfusi akut bukanlah penyakit itu sendiri, melainkan sebuah sindrom atau manifestasi klinis dari berbagai kondisi medis, neurologis, atau psikologis yang mendasarinya.
Penyebab konfusi akut sangat beragam dan multifaktorial. Secara umum, penyebabnya dapat dikelompokkan menjadi faktor fisiologis dan situasional. Faktor fisiologis meliputi dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, hipoksia (kekurangan oksigen), infeksi (terutama infeksi saluran kemih dan pneumonia pada lansia), malnutrisi, nyeri hebat yang tidak teratasi, gangguan metabolik (seperti hipoglikemia atau hiperglikemia), gangguan tidur, gagal organ (ginjal atau hati), dan kondisi neurologis seperti stroke, perdarahan intrakranial, atau tumor otak. Dalam kasus yang disajikan, tekanan darah yang sangat tinggi (178/94 mmHg) dapat mengindikasikan krisis hipertensi atau kejadian serebrovaskular akut yang menyebabkan penurunan perfusi atau kerusakan jaringan otak, sehingga memicu konfusi akut. Efek samping dari agen farmakologis, seperti obat sedatif, antikolinergik, atau polifarmasi (penggunaan banyak obat sekaligus), juga merupakan pemicu umum. Faktor situasional yang dapat berkontribusi antara lain imobilisasi berkepanjangan, penggunaan kateter atau restrain fisik, serta perubahan lingkungan yang drastis seperti saat rawat inap di rumah sakit.
Gejala dan tanda konfusi akut dibagi menjadi kategori mayor dan minor. Tanda dan gejala mayor, yang harus ada untuk menegakkan diagnosis, meliputi:
1. **Subjektif:** Pasien mengalami atau melaporkan rasa bingung. Dalam kasus ini, pasien secara eksplisit tidak dapat menjawab pertanyaan orientasi, yang merupakan manifestasi dari kebingungannya.
2. **Objektif:** Pasien tidak mampu membuat keputusan yang sederhana dan mengalami disorientasi terhadap orang, tempat, atau waktu. Pasien dalam skenario ini menunjukkan disorientasi berat, yaitu tidak mengetahui nama sendiri (orientasi orang) dan lokasi keberadaannya (orientasi tempat).
Tanda dan gejala minor dapat bervariasi dan tidak selalu ada pada setiap pasien, meliputi:
- **Agitasi atau kegelisahan:** Pasien mungkin tampak gelisah, mudah tersinggung, atau hiperaktif.
- **Penurunan tingkat kesadaran:** Meskipun dalam kasus ini kesadaran dicatat sebagai 'compos mentis', skor GCS 14 (E4V4M6) menunjukkan adanya sedikit penurunan kesadaran (compos mentis adalah GCS 15). Skor V4 (verbal response: confused) secara langsung mencerminkan kondisi konfusi.
- **Gangguan fungsi kognitif:** Kesulitan dalam memusatkan, mempertahankan, atau mengalihkan perhatian; gangguan memori jangka pendek; dan kesulitan dalam berpikir logis.
- **Gangguan persepsi:** Halusinasi (visual atau auditori) atau ilusi (salah interpretasi terhadap stimulus nyata).
- **Gangguan siklus tidur-bangun:** Pasien mungkin mengalami insomnia di malam hari dan mengantuk di siang hari.
Berdasarkan data yang diberikan, diagnosis Konfusi Akut sangat tepat. Pasien mengeluhkan pusing dan tampak lemah, yang bisa menjadi gejala penyerta dari kondisi medis yang mendasarinya (misalnya, hipertensi berat). Data kunci yang mendukung diagnosis ini adalah ketidakmampuan pasien untuk menyebutkan nama dan lokasinya, serta kebingungan saat diajak berkomunikasi. Ini adalah manifestasi klasik dari disorientasi akut. Penegakan diagnosis keperawatan ini menjadi krusial karena mengarahkan perawat untuk segera mencari dan mengelola penyebab yang mendasari, bukan hanya menangani gejalanya. Mengidentifikasi konfusi akut secara dini dan menanganinya dengan tepat dapat mencegah komplikasi lebih lanjut, seperti cedera akibat jatuh, perpanjangan masa rawat inap, dan penurunan fungsional jangka panjang.Kode SLKI: L.09081
Luaran yang Diharapkan: Setelah dilakukan intervensi keperawatan, diharapkan **Orientasi Kognitif** pasien meningkat dengan kriteria hasil:
- Orientasi terhadap orang (mengetahui nama sendiri dan orang lain) meningkat.
- Orientasi terhadap tempat (mengetahui lokasi saat ini) meningkat.
- Orientasi terhadap waktu (mengetahui hari, tanggal, bulan) meningkat.
- Fungsi kognitif (kemampuan berpikir dan memproses informasi) membaik.
- Tingkat kesadaran (skor GCS) meningkat menuju 15.
- Kemampuan memusatkan perhatian membaik.
- Kemampuan membuat keputusan membaik.
Kode SIKI: I.09304
Intervensi Utama: **Manajemen Delirium**
**Observasi:**
- Monitor status neurologis secara berkala (misalnya, tingkat kesadaran, orientasi, GCS, ukuran dan reaksi pupil).
- Monitor tanda-tanda vital, terutama tekanan darah, secara ketat untuk mendeteksi perubahan yang signifikan.
- Identifikasi faktor risiko dan penyebab yang mendasari delirium (misalnya, ketidakseimbangan elektrolit, infeksi, hipoksia, efek obat, hipertensi berat).
- Monitor tingkat agitasi dan keamanan pasien untuk mencegah risiko cedera.
**Terapeutik:**
- Ciptakan lingkungan yang tenang, nyaman, dan rendah stimulus (misalnya, kurangi kebisingan, batasi jumlah pengunjung).
- Berikan reorientasi terhadap orang, tempat, dan waktu secara berkala dengan tenang dan jelas (misalnya, "Bapak/Ibu [sebut nama], sekarang berada di rumah sakit, saat ini hari Senin pagi").
- Gunakan alat bantu orientasi seperti jam besar, kalender, dan foto keluarga di samping tempat tidur pasien.
- Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan emosional dan membantu proses reorientasi.
- Hindari penggunaan restrain fisik sebisa mungkin; gunakan alternatif lain untuk memastikan keamanan pasien.
- Pastikan kebutuhan dasar pasien terpenuhi (misalnya, hidrasi, nutrisi, eliminasi, dan kenyamanan).
**Edukasi:**
- Anjurkan keluarga untuk tetap berada di samping pasien dan berbicara dengan suara yang tenang dan familiar.
- Jelaskan kepada keluarga mengenai kondisi konfusi akut yang dialami pasien, sifatnya yang sementara, dan pentingnya peran keluarga dalam pemulihan.
**Kolaborasi:**
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi untuk mengatasi penyebab delirium (misalnya, pemberian obat antihipertensi untuk mengontrol tekanan darah, antibiotik jika ada infeksi).
- Kolaborasi untuk evaluasi dan penyesuaian obat-obatan yang berpotensi menyebabkan atau memperburuk delirium.
- Kolaborasi dengan fisioterapis untuk mobilisasi dini jika kondisi pasien memungkinkan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti diagnosis atau kodifikasi resmi.***
Article No. 21858 | 30 Sep 2025
Klinis : cari intervensi resiko infeksi b.d insisi bedah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi berhubungan dengan Efek Prosedur Invasif (Insisi Bedah)
Kode SDKI: D.0142
Definisi dan Deskripsi SDKI (500-1000 kata):
Definisi: Berisiko mengalami peningkatan terserang organisme patogenik.
Deskripsi Rinci:
Risiko Infeksi adalah salah satu diagnosis keperawatan yang paling fundamental dan sering ditegakkan, terutama dalam lingkungan perawatan akut seperti pasca-pembedahan. Diagnosis ini tidak menunjukkan adanya infeksi yang sedang berlangsung, melainkan mengidentifikasi bahwa seorang individu memiliki kerentanan yang lebih tinggi untuk terinfeksi dibandingkan populasi umum. Faktor risiko utama dalam konteks ini adalah adanya insisi bedah, yang secara langsung merusak pertahanan tubuh primer, yaitu integritas kulit.
Kulit merupakan barier fisik, kimia, dan biologis yang luar biasa efektif dalam mencegah masuknya mikroorganisme dari lingkungan eksternal ke dalam tubuh. Ketika sebuah insisi bedah dibuat, barier ini ditembus, menciptakan sebuah "pintu masuk" atau portal of entry bagi bakteri, virus, dan jamur. Jaringan yang terpapar, pembuluh darah yang terpotong, dan adanya jahitan atau staples menjadi lingkungan yang ideal bagi mikroorganisme untuk berkolonisasi dan kemudian berproliferasi, yang pada akhirnya dapat menyebabkan infeksi.
Proses terjadinya infeksi pasca-bedah (Surgical Site Infection - SSI) adalah sebuah proses multifaktorial. Faktor-faktor risiko dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori utama: faktor pasien, faktor pra-operasi, dan faktor intra/pasca-operasi.
1. Faktor Pasien (Host Factors): Kondisi intrinsik pasien sangat mempengaruhi kemampuannya untuk melawan infeksi. Pasien dengan kondisi komorbid seperti Diabetes Melitus memiliki risiko lebih tinggi karena hiperglikemia dapat mengganggu fungsi leukosit (sel darah putih) dan memperlambat penyembuhan luka. Status nutrisi yang buruk, terutama defisiensi protein dan vitamin C, juga melemahkan sistem imun dan proses perbaikan jaringan. Pasien obesitas berisiko lebih tinggi karena jaringan adiposa memiliki vaskularisasi yang lebih sedikit, sehingga pengiriman sel-sel imun dan antibiotik ke lokasi insisi menjadi kurang efisien. Faktor lain termasuk usia lanjut, status imunosupresi (misalnya akibat kemoterapi, penggunaan steroid jangka panjang, atau infeksi HIV), dan kebiasaan merokok yang mengganggu oksigenasi jaringan.
2. Faktor Pra-operasi: Persiapan sebelum operasi juga krusial. Kolonisasi mikroorganisme pada kulit pasien, seperti Staphylococcus aureus (termasuk MRSA), dapat menjadi sumber infeksi endogen. Oleh karena itu, prosedur seperti mandi dengan antiseptik sebelum operasi sering direkomendasikan. Durasi rawat inap sebelum operasi yang terlalu lama juga dapat meningkatkan risiko kolonisasi dengan patogen nosokomial yang seringkali lebih resisten terhadap antibiotik.
3. Faktor Intra dan Pasca-operasi: Lingkungan dan teknik selama pembedahan sangat menentukan. Teknik aseptik yang ketat oleh tim bedah adalah pilar utama pencegahan infeksi. Durasi operasi yang panjang, kehilangan darah yang signifikan, dan tingkat kontaminasi luka (misalnya, operasi pada usus yang dianggap sebagai operasi bersih-terkontaminasi atau kotor) secara langsung meningkatkan risiko. Setelah operasi, manajemen luka menjadi sangat penting. Perawatan luka insisi yang tidak steril, adanya drainase yang tidak adekuat, atau kontaminasi dari lingkungan sekitar dapat memicu infeksi. Kehadiran benda asing seperti jahitan, staples, atau implan juga dapat menjadi nidus (titik fokus) bagi bakteri untuk membentuk biofilm, yang membuatnya lebih sulit untuk dieliminasi oleh sistem imun dan antibiotik.
Secara klinis, perawat harus waspada terhadap tanda dan gejala infeksi lokal pada area insisi, yang dikenal dengan akronim REEDA (Redness, Edema, Ecchymosis, Discharge, Approximation) atau tanda-tanda klasik inflamasi: rubor (kemerahan), calor (panas), dolor (nyeri), dan tumor (bengkak). Adanya drainase purulen (nanah) atau berbau busuk adalah tanda infeksi yang jelas. Selain itu, infeksi dapat menjadi sistemik, ditandai dengan demam, menggigil, takikardia, malaise, dan peningkatan jumlah sel darah putih (leukositosis) pada pemeriksaan laboratorium. Oleh karena itu, pemantauan ketat terhadap tanda-tanda vital dan kondisi luka pasien adalah intervensi keperawatan yang esensial dalam mengelola risiko ini.
Kode SLKI: L.14137
Luaran yang Diharapkan:
Tingkat Infeksi Menurun
Setelah dilakukan intervensi keperawatan, diharapkan tingkat infeksi menurun dengan kriteria hasil:
- Demam menurun
- Kemerahan pada area insisi menurun
- Nyeri pada area insisi menurun
- Bengkak pada area insisi menurun
- Kadar sel darah putih membaik
- Tidak ada pus pada area insisi
- Tidak ada cairan berbau busuk dari area insisi
- Kultur area luka menunjukkan hasil negatif (jika dilakukan)
Kode SIKI: I.14539
Intervensi Utama:
Pencegahan Infeksi
Definisi: Mengidentifikasi dan menurunkan risiko terserang organisme patogenik.
Tindakan:
Observasi
- Monitor tanda dan gejala infeksi lokal (kemerahan, bengkak, panas, nyeri, adanya pus) dan sistemik (demam, menggigil, peningkatan leukosit).
Terapeutik
- Batasi jumlah pengunjung untuk mengurangi paparan patogen dari luar.
- Terapkan kewaspadaan standar pada semua pasien.
- Cuci tangan dengan sabun antiseptik atau hand-rub berbasis alkohol sebelum dan sesudah kontak dengan pasien, lingkungan pasien, dan setelah melepas sarung tangan.
- Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi, terutama saat melakukan perawatan luka insisi bedah. Ganti balutan sesuai protokol atau ketika balutan kotor/basah.
- Pastikan peralatan yang digunakan untuk perawatan luka steril.
Edukasi
- Jelaskan kepada pasien dan keluarga mengenai tanda dan gejala infeksi yang harus segera dilaporkan (misalnya, demam, kemerahan yang meluas, nyeri yang meningkat, atau keluarnya nanah dari luka).
- Ajarkan pasien dan keluarga cara mencuci tangan yang benar untuk mencegah transmisi silang.
- Ajarkan pasien cara merawat luka insisi secara mandiri dengan teknik bersih atau steril sesuai anjuran.
- Anjurkan pasien untuk meningkatkan asupan nutrisi, terutama protein dan vitamin C, untuk mendukung penyembuhan luka dan fungsi imun.
- Anjurkan pasien untuk meningkatkan asupan cairan untuk menjaga hidrasi yang adekuat.
Kolaborasi
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotik profilaksis atau terapeutik sesuai indikasi dan hasil kultur (jika ada).
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk merencanakan diet tinggi kalori tinggi protein (TKTP) untuk mempercepat proses penyembuhan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti diagnosis atau kodifikasi resmi.***
Article No. 21859 | 30 Sep 2025
Klinis : pasien umur 3 tahun mengalami sindrom nefrotik, sudah 3 hari di rawat. ttv anak saat ini baik, tidak ada keluhan saat dikaji, hanya saja sakit pada tangan yang diinfus. anak terlihat ceria dan mampu diajak komunikasi dengan aktif. saat ini dipasang infus pump
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0077
Definisi dan Deskripsi SDKI (500-1000 kata): Nyeri akut didefinisikan sebagai pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan. Nyeri merupakan pengalaman yang sangat subjektif dan bersifat individual, di mana apa yang dilaporkan oleh pasien adalah representasi paling akurat dari nyeri yang dirasakannya. Dalam konteks keperawatan, nyeri adalah alasan paling umum seseorang mencari bantuan kesehatan dan dapat menjadi tanda peringatan adanya cedera atau penyakit. Pada kasus pasien anak usia 3 tahun dengan sindrom nefrotik yang mengeluh sakit pada tangan yang diinfus, diagnosis Nyeri Akut menjadi sangat relevan. Penyebab utama dalam skenario ini dikategorikan sebagai agen pencedera fisik, yaitu adanya kanula intravena (infus) yang terpasang di pembuluh darah. Pemasangan infus, meskipun merupakan prosedur terapeutik yang esensial, secara inheren bersifat invasif dan dapat menyebabkan kerusakan jaringan lokal. Iritasi mekanis dari kanula, iritasi kimia dari cairan infus, atau komplikasi seperti flebitis (peradangan vena) atau infiltrasi (cairan infus masuk ke jaringan sekitar) adalah pemicu umum dari nyeri di lokasi infus. Gejala dan tanda mayor untuk diagnosis ini meliputi data subjektif berupa keluhan nyeri dari pasien dan data objektif seperti tampak meringis, bersikap protektif (misalnya, tidak mau menggerakkan tangan yang diinfus), gelisah, dan peningkatan frekuensi nadi. Pada anak-anak, terutama pada usia 3 tahun yang kemampuan verbalnya masih berkembang, penilaian nyeri memerlukan pendekatan khusus. Anak mungkin tidak dapat mendeskripsikan nyeri dengan kata-kata yang kompleks, namun dapat menunjukkannya melalui perilaku. Pengkajian nyeri pada populasi pediatrik harus menggunakan alat ukur yang valid dan sesuai dengan usia perkembangan. Untuk anak usia 3 tahun, skala yang direkomendasikan adalah Wong-Baker FACES Pain Rating Scale, di mana anak diminta menunjuk gambar wajah yang paling sesuai dengan perasaannya, atau FLACC Scale (Face, Legs, Activity, Cry, Consolability) yang merupakan skala observasional yang dinilai oleh perawat. Meskipun dalam deskripsi kasus disebutkan anak terlihat ceria dan aktif berkomunikasi, keluhan nyeri spesifik pada tangan yang diinfus tidak boleh diabaikan. Anak-anak seringkali memiliki mekanisme koping yang baik dan dapat tampak bermain meskipun sedang merasakan nyeri. Oleh karena itu, laporan verbal sekecil apapun harus divalidasi dengan pengkajian fisik yang teliti pada area yang dikeluhkan. Perawat harus memeriksa lokasi pemasangan infus untuk tanda-tanda kemerahan, bengkak, teraba hangat, atau adanya kebocoran cairan. Nyeri akut yang tidak tertangani dengan baik pada anak dapat menimbulkan dampak negatif yang signifikan, baik secara fisiologis maupun psikologis. Secara fisiologis, nyeri dapat memicu respons stres yang meningkatkan denyut jantung, tekanan darah, dan laju pernapasan, serta dapat mengganggu pola tidur dan nafsu makan. Secara psikologis, pengalaman nyeri yang buruk dapat menyebabkan trauma, kecemasan, dan ketakutan terhadap prosedur medis di masa depan, yang dapat mempersulit perawatan selanjutnya. Oleh karena itu, identifikasi dan penatalaksanaan nyeri akut pada pasien ini adalah prioritas untuk meningkatkan kenyamanan, mencegah komplikasi, dan mendukung proses penyembuhan secara keseluruhan.
Kode SLKI: L.08066
Luaran yang Diharapkan: Tingkat Nyeri. Setelah dilakukan intervensi keperawatan, diharapkan tingkat nyeri pasien menurun dengan kriteria hasil:
- Keluhan nyeri menurun (dari skala 4 menjadi 1)
- Meringis menurun (dari skala 4 menjadi 1)
- Sikap protektif menurun (dari skala 4 menjadi 1)
- Gelisah menurun (dari skala 4 menjadi 1)
- Kesulitan tidur menurun (dari skala 4 menjadi 1)
- Frekuensi nadi membaik (mendekati rentang normal sesuai usia)
Kode SIKI: I.08238
Intervensi Utama: Manajemen Nyeri.
Observasi:- Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri pada area tangan yang terpasang infus.
- Gunakan teknik asesmen nyeri yang sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan anak (misalnya, skala wajah Wong-Baker atau skala FLACC).
- Identifikasi respons nyeri non-verbal (misalnya, meringis, menangis, menarik tangan).
- Monitor tanda-tanda vital sebelum dan sesudah intervensi nyeri.
- Periksa lokasi infus secara berkala untuk tanda-tanda flebitis atau infiltrasi (kemerahan, bengkak, nyeri tekan, teraba hangat/dingin).
- Berikan lingkungan yang nyaman dan minimalkan rangsangan yang dapat memperburuk nyeri.
- Gunakan teknik non-farmakologis untuk meredakan nyeri, seperti teknik distraksi (mengajak bermain, menonton kartun, membacakan cerita), terapi musik, atau sentuhan terapeutik.
- Fasilitasi istirahat dan tidur yang cukup untuk membantu menurunkan persepsi nyeri.
- Atur posisi tangan yang terpasang infus agar nyaman dan tidak tertekan.
- Jelaskan penyebab nyeri kepada orang tua dan kepada anak dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti.
- Anjurkan orang tua untuk melaporkan segera jika nyeri bertambah atau jika terdapat perubahan pada area infus.
- Ajarkan orang tua teknik non-farmakologis (misalnya, distraksi) yang dapat mereka lakukan secara mandiri untuk membantu anak.
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik, jika diperlukan dan sesuai indikasi.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk mengevaluasi ulang kebutuhan dan kondisi jalur intravena. Jika ditemukan tanda flebitis atau infiltrasi, pertimbangkan untuk memindahkan lokasi infus.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti diagnosis atau kodifikasi resmi.***
-
Article No. 21798 | 29 Sep 2025
Klinis : ganguan pola tidur
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pola Tidur
Kode SDKI: 00044
Deskripsi Singkat: Gangguan Pola Tidur didefinisikan sebagai gangguan dalam jumlah dan kualitas tidur yang menyebabkan ketidaknyamanan dan mengganggu fungsi kehidupan yang diinginkan. Ini adalah kondisi di mana individu mengalami kesulitan untuk memulai atau mempertahankan tidur, atau merasa tidurnya tidak restoratif (tidak menyegarkan). Gangguan ini dapat bermanifestasi sebagai insomnia (kesulitan tidur), hipersomnia (terlalu banyak tidur), atau pola tidur-bangun yang tidak teratur. Dampaknya sangat luas, mempengaruhi kesehatan fisik, fungsi kognitif, stabilitas emosional, dan kualitas hidup secara keseluruhan. Faktor penyebabnya multifaktorial, dapat berasal dari faktor internal seperti penyakit, nyeri, kecemasan, atau depresi, maupun faktor eksternal seperti kebisingan, cahaya, suhu ruangan yang tidak nyaman, atau stresor psikososial. Perawat berperan penting dalam mengkaji faktor-faktor ini secara komprehensif dan merencanakan intervensi yang tepat untuk membantu pasien mencapai kualitas dan kuantitas tidur yang optimal.
Kode SLKI: 1400
Deskripsi : SLKI dengan kode 1400 berfokus pada Peningkatan Tidur. Tujuan akhir dari diagnosa ini adalah agar pasien dapat mencapai pola tidur yang memadai dan meningkatkan kualitas tidurnya. Luaran yang diharapkan ini diukur melalui beberapa indikator kunci. Pertama, pasien mampu melaporkan peningkatan perasaan istirahat setelah bangun tidur dan peningkatan energi di siang hari. Kedua, pasien dapat mendemonstrasikan kemampuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor individual yang menghambat dan mendukung tidurnya, yang menunjukkan pemahaman tentang kondisi dirinya sendiri. Ketiga, pasien akan menerapkan perilaku yang mendukung peningkatan kualitas tidur, yang dikenal dengan istilah 'sleep hygiene'. Perilaku ini mencakup menciptakan lingkungan tidur yang nyaman (gelap, tenang, suhu sesuai), menghindari konsumsi kafein dan makanan berat mendekati waktu tidur, serta melakukan aktivitas yang menenangkan sebelum tidur seperti membaca atau mandi air hangat. Keempat, pasien diharapkan dapat mempertahankan periode tidur dan bangun yang konsisten, yang membantu mengatur ulang ritme sirkadian tubuh. Kelima, durasi tidur pasien harus meningkat hingga mendekati jumlah jam tidur normal yang direkomendasikan untuk usianya. Terakhir, pasien akan melaporkan penurunan frekuensi terjaga di malam hari dan penurunan kesulitan untuk memulai tidur kembali jika terbangun. Pencapaian luaran-luaran ini menunjukkan keberhasilan dalam mengatasi gangguan pola tidur yang dialami.
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : SIKI dengan kode 4410 adalah Manajemen Insomnia, yang merupakan serangkaian intervensi keperawatan spesifik yang dirancang untuk mengatasi kesulitan dalam memulai atau mempertahankan tidur. Intervensi ini bersifat komprehensif dan holistik. Pertama, perawat mengajarkan pasien tentang teknik relaksasi yang efektif, seperti latihan napas dalam, relaksasi otot progresif, atau visualisasi, untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan yang sering menjadi penghalang tidur. Kedua, perawat mendorong pasien untuk membatasi waktu di tempat tidur hanya untuk tidur dan aktivitas seksual, bukan untuk bekerja atau menonton TV, sehingga otak mengasosiasikan tempat tidur secara eksklusif dengan istirahat. Ketiga, intervensi penting adalah mengatur jadwal tidur yang konsisten, termasuk bangun pada waktu yang sama setiap hari bahkan di akhir pekan, untuk menstabilkan jam biologis internal. Keempat, perawat akan memandu pasien untuk menghindari stimulan seperti kafein (dalam kopi, teh, cokelat) dan nikotin, terutama di sore dan malam hari. Kelima, menciptakan lingkungan tidur yang optimal adalah kunci; perawat dapat membantu mengevaluasi dan menyarankan perbaikan pada faktor pencahayaan, kebisingan, dan suhu ruangan. Keenam, intervensi juga mencakup manajemen faktor medis yang mendasari, seperti pemberian obat nyeri sesuai program terapi jika nyeri adalah penyebabnya, atau koordinasi dengan tim medis untuk mengatur jadwal pemberian obat yang mungkin mengganggu tidur. Ketujuh, perawat mendorong pasien untuk menghindari tidur siang yang berlebihan, karena dapat mengurangi dorongan tidur di malam hari. Intervensi ini dilakukan melalui pendidikan kesehatan, pendampingan, dan evaluasi berkelanjutan untuk memastikan efektivitasnya bagi setiap pasien secara individual.
-
Article No. 21799 | 29 Sep 2025
Klinis : gangguan pola tidur
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pola Tidur
Kode SDKI: 00116
Deskripsi Singkat: Gangguan Pola Tidur adalah keadaan dimana individu mengalami atau berisiko mengalami perubahan dalam kuantitas dan kualitas pola tidurnya, yang menyebabkan ketidaknyamanan dan mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari. Diagnosa ini mencakup berbagai manifestasi, termasuk insomnia (kesulitan memulai atau mempertahankan tidur), hipersomnia (tidur berlebihan), narkolepsi, sleep apnea, parasomnia (seperti berjalan dalam tidur atau mimpi buruk), dan gangguan ritme sirkadian. Penyebabnya multifaktorial, dapat berasal dari faktor fisiologis (nyeri, sesak napas, efek samping obat), psikologis (kecemasan, stres, depresi), atau lingkungan (kebisingan, suhu ruangan, pencahayaan). Dampak dari gangguan ini sangat signifikan, tidak hanya menyebabkan kelelahan fisik dan penurunan energi, tetapi juga mempengaruhi fungsi kognitif seperti konsentrasi, memori, dan kemampuan pengambilan keputusan. Secara emosional, individu dapat menjadi lebih mudah tersinggung, labil, dan mengalami penurunan toleransi terhadap stres. Dalam jangka panjang, kualitas hidup secara keseluruhan dapat menurun, dan risiko untuk mengalami kecelakaan atau kesalahan dalam pekerjaan meningkat. Tujuan utama dari diagnosa keperawatan ini adalah untuk mengidentifikasi faktor penyebab, meminimalkan dampaknya, dan membantu individu untuk mencapai pola tidur yang restoratif dan memadai.
Kode SLKI: 4401
Deskripsi : SLKI 4401 berfokus pada Peningkatan Pola Tidur. Tujuan utamanya adalah agar pasien dapat mencapai dan mempertahankan pola tidur yang optimal, ditandai dengan kriteria hasil yang terukur. Pasien diharapkan mampu melaporkan peningkatan perasaan segar dan beristirahat setelah bangun tidur. Durasi dan kualitas tidur harus meningkat, yang dapat dilihat dari berkurangnya frekuensi terbangun di malam hari dan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk tertidur. Secara fisiologis, tanda-tanda vital seperti tekanan darah dan denyut nadi harus berada dalam rentang normal untuk pasien tersebut, menunjukkan bahwa tubuh telah mendapatkan istirahat yang cukup. Perilaku yang terkait dengan kurang tidur, seperti mengantuk berlebihan di siang hari, gelisah, lekas marah, dan penurunan tingkat energi, harus berkurang secara signifikan. Selain itu, pasien diharapkan dapat mendemonstrasikan pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi tidurnya dan mampu menerapkan setidaknya dua strategi non-farmakologis untuk mempromosikan tidur yang lebih baik. Pencapaian kriteria-kriteria ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan telah berhasil dalam memulihkan fungsi tidur yang vital bagi kesehatan dan kesejahteraan pasien.
Kode SIKI: 4410, 4411, 4412, 4413, 4414, 4415, 4416, 4417, 4418
Deskripsi : SIKI untuk gangguan pola tidur terdiri dari serangkaian intervensi yang komprehensif dan holistik. 4410: Manajemen Lingkungan Tidur melibatkan penciptaan suasana kamar yang kondusif untuk tidur, seperti mengatur pencahayaan yang redup, mengurangi kebisingan, memastikan suhu ruangan nyaman, dan memeriksa kenyamanan tempat tidur. 4411: Manajemen Kebersihan Tidur adalah edukasi kepada pasien tentang kebiasaan sehat, seperti menghindari kafein dan nikotin sebelum tidur, membatasi tidur siang, serta menetapkan waktu tidur dan bangun yang konsisten bahkan di akhir pekan. 4412: Peningkatan Relaksasi mencakup mengajarkan teknik-teknik seperti latihan pernapasan dalam, relaksasi otot progresif, meditasi, atau mendengarkan musik yang menenangkan untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan yang menghambat tidur. 4413: Terapi Stimulus Kontrol dilakukan dengan membimbing pasien untuk menggunakan tempat tidur hanya untuk tidur dan aktivitas seksual, bukan untuk bekerja atau menonton TV, sehingga otak mengasosiasikan tempat tidur dengan tidur. 4414: Manajemen Kecemasan berfokus pada pendekatan terapeutik seperti mendengarkan keluhan pasien, membantu mereka mengidentifikasi sumber kecemasan, dan mengembangkan mekanisme koping yang adaptif. 4415: Manajemen Nyeri sangat krusial jika nyeri adalah penyebabnya, yang meliputi pemberian analgesik sesuai program, reposisi pasien, dan teknik distraksi untuk meminimalkan gangguan tidur akibat rasa sakit. 4416: Manajemen Aktivitas menekankan pentingnya aktivitas fisik rutin di siang hari untuk meningkatkan kelelahan fisik yang sehat, namun menghindari olahraga berat terlalu dekat dengan waktu tidur. 4417: Manajemen Nutrisi melibatkan pemberian saran untuk menghindari makanan berat atau pedas sebelum tidur, serta mungkin mengonsumsi camilan ringan yang mengandung triptofan seperti pisang atau susu hangat. 4418: Monitoring Pola Tidur adalah tindakan terus-menerus untuk mengobservasi dan mendokumentasi pola tidur pasien, termasuk lama tidur, kualitas, faktor yang mengganggu, dan respons terhadap intervensi yang diberikan, yang menjadi dasar evaluasi keberhasilan asuhan keperawatan. Keseluruhan intervensi ini dirancang untuk menangani akar permasalahan dan memampukan pasien mengembangkan kebiasaan tidur yang sehat dan berkelanjutan.
-
Article No. 21800 | 29 Sep 2025
Klinis : pasien gastritis, cemas dengan kondisi penyakitnya
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gastritis dan Kecemasan
Kode ICD-10: K29.70 dan F41.9
Deskripsi Singkat: Gastritis tanpa perdarahan, tidak ditentukan sebagai akut atau kronis, disertai dengan gangguan kecemasan yang tidak spesifik terkait kondisi kesehatannya.
-
Article No. 21801 | 29 Sep 2025
Klinis : pasien gastritis, cemas dengan kondisi penyakitnya
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pasien Gastritis dengan Kecemasan
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Ansietas
Kode SLKI: L.07001
Deskripsi : Ansietas Terkontrol
Kode SIKI: I.01228
Deskripsi : Manajemen Ansietas
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosis Keperawatan (SDKI): Ansietas (D.0016)
Ansietas didefinisikan sebagai perasaan khawatir, gelisah, atau ketakutan yang samar-samar atau tidak jelas sumbernya, yang dialami oleh seorang individu sebagai respons terhadap suatu ancaman yang dipersepsikan. Pada pasien gastritis, ansietas ini muncul secara spesifik sebagai respons terhadap kondisi penyakitnya. Gastritis, yang ditandai dengan peradangan pada lapisan lambung, seringkali menimbulkan gejala yang tidak nyaman seperti nyeri ulu hati, mual, muntah, dan perasaan kembung. Ketidaknyamanan fisik ini, ditambah dengan ketidaktahuan tentang perjalanan penyakit, penyebab, pengobatan, dan dampak jangka panjangnya, menjadi pemicu utama kecemasan. Pasien mungkin merasa takut akan terjadinya komplikasi serius (seperti tukak lambung atau kanker), khawatir bahwa nyeri yang dialami adalah pertanda sesuatu yang lebih buruk, atau cemas karena harus mengubah pola makan dan gaya hidup secara drastis. Ansietas bukan hanya sekadar perasaan, tetapi juga memicu respons fisiologis seperti peningkatan denyut jantung, pernapasan cepat, ketegangan otot, dan gangguan tidur, yang pada gilirannya dapat memperburuk gejala gastritis karena stres merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan produksi asam lambung. Dengan demikian, diagnosis ansietas ini sangat relevan karena menangani akar permasalahan psikologis yang dapat memperburuk keadaan fisiologis pasien.
Luaran Keperawatan (SLKI): Ansietas Terkontrol (L.07001)
Luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan adalah "Ansietas Terkontrol". Ini berarti setelah diberikan asuhan keperawatan, tingkat kecemasan pasien mengalami penurunan yang signifikan menuju tingkat yang normal atau dapat dikelola oleh pasien sendiri. Kriteria luaran ini tidak mengharapkan kecemasan hilang sepenuhnya, tetapi pasien mampu mengendalikannya sehingga tidak lagi mengganggu kenyamanan, proses pemulihan, dan aktivitas sehari-hari. Indikator pencapaian luaran ini dapat diamati dari beberapa hal. Pertama, secara subjektif, pasien melaporkan penurunan perasaan gugup, khawatir, dan takut. Kedua, secara objektif, tanda-tanda fisiologis kecemasan seperti wajah tegang, telapak tangan berkeringat, dan tubuh gemetar berkurang atau hilang. Ketiga, pasien menunjukkan kemampuan kognitif yang lebih baik, seperti mampu berkonsentrasi, mendengarkan dan memahami penjelasan perawat atau dokter tentang penyakit gastritisnya, serta mampu mengingat informasi penting terkait perawatan dirinya. Keempat, pasien mulai menunjukkan perilaku adaptif, seperti mau bertanya tentang kondisinya, bersedia mengikuti rencana terapi, dan dapat beristirahat dengan tenang. Pencapaian luaran "Ansietas Terkontrol" sangat krusial karena kondisi psikis yang tenang akan mendukung kepatuhan terapi dan mempercepat proses penyembuhan gastritis.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Manajemen Ansietas (I.01228)
Manajemen Ansietas adalah intervensi keperawatan yang komprehensif yang ditujukan untuk membantu pasien dalam mengidentifikasi, memahami, dan mengurangi gejala ansietasnya. Intervensi ini terdiri dari serangkaian tindakan yang logis dan berurutan. Pertama, perawat harus membangun hubungan terapeutik yang didasarkan pada rasa percaya dan empati. Pendekatan yang tenang dan meyakinkan sangat dibutuhkan. Kedua, lakukan assessment mendalam terhadap tingkat ansietas pasien, faktor pemicu spesifik (dalam hal ini terkait gastritis), serta manifestasi yang dirasakan baik secara emosional, kognitif, maupun fisiologis. Ketiga, berikan edukasi kesehatan yang jelas, sederhana, dan mudah dipahami tentang penyakit gastritis. Jelaskan penyebab, gejala, proses pengobatan, dan langkah-langkah pencegahannya. Pengetahuan yang memadai akan mengurangi rasa takut terhadap hal yang tidak diketahui (fear of the unknown). Keempat, ajarkan teknik relaksasi sederhana yang dapat langsung diaplikasikan pasien, seperti latihan napas dalam (deep breathing) dan relaksasi otot progresif. Teknik ini membantu menurunkan respons fisiologis tubuh terhadap stres. Kelima, libatkan pasien dalam perencanaan perawatan. Beri kesempatan padanya untuk mengungkapkan perasaan dan kekhawatirannya, serta berpartisipasi dalam menetapkan tujuan perawatan. Perasaan memiliki kendali (sense of control) dapat sangat menurunkan tingkat kecemasan. Keenam, ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman, kurangi stimulus yang tidak diperlukan, dan atur posisi pasien senyaman mungkin untuk mengurangi ketegangan fisik. Terakhir, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain jika diperlukan, seperti konsultasi dengan psikolog atau psikiater jika ansietas yang dialami pasien tergolong berat dan membutuhkan penanganan lebih lanjut. Dengan menerapkan Manajemen Ansietas secara sistematis, perawat berperan aktif tidak hanya dalam menangani gejala fisik gastritis, tetapi juga dalam membangun ketahanan mental pasien untuk menghadapi penyakitnya.
-
Article No. 21802 | 29 Sep 2025
Klinis : Ny. S dirawat dengan keluhan penurunan gerak janin. Pasien mengatakan dirinya hamil kembar namun telah di diagnosa pada salah satu janin terjadi IUFD sementara janin yang lain IUGR. Pasien mengatakan dirinya merasa lemas dan tidak bertenaga, kadar hemoglobin 9,6 gr/dL dan telah mendapatkan terapi oral tablet penambah darah. Pasien mengatakan tidak nafsu makan, hanya makan ½ porsi saja dan merasa mual. Setelah dilakukan pemeriksaan didapatkan tekanan darah 109/65 mmHg, N 88 x/menit, S 36,4 C, RR 16 x/menit, SpO2 96%, DJJ 146 x/menit.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Anemia dalam Kehamilan, Kehamilan Kembar dengan Kematian Janin Intrauterin dan Pertumbuhan Janin Terhambat
Kode ICD-10: O99.0, O31.2, O36.4
Deskripsi Singkat: Ibu hamil kembar dengan anemia (Hb 9,6 gr/dL), satu janin mengalami kematian dalam kandungan (IUFD) dan janin lainnya mengalami hambatan pertumbuhan (IUGR), disertai keluhan lemas, tidak nafsu makan, dan mual.