Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 6398 | 19 Nov 2024
Klinis : Penyumbatan napas
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah penjelasan rinci terkait kondisi Penyumbatan Napas:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Pola Napas Tidak Efektif berhubungan dengan Penyumbatan Jalan Napas yang ditandai dengan:
- Kesulitan bernapas
- Penggunaan otot tambahan untuk bernapas
- Bunyi napas tambahan (wheezing, stridor)
- Perubahan frekuensi dan kedalaman napas
Luaran/Output SLKI yang Diharapkan:
1. Pemeliharaan Jalan Napas
- Pasien dapat mempertahankan jalan napas yang bebas dari sumbatan
- Pasien dapat bernapas dengan mudah dan tidak ada tanda-tanda kerja napas yang meningkat
- Tidak ada infeksi saluran napas yang muncul
2. Pengendalian Gejala
- Pasien melaporkan berkurangnya sesak napas dan rasa tidak nyaman saat bernapas
- Tanda-tanda vital pasien stabil dan dalam rentang normal
Intervensi Keperawatan SIKI:
1. Manajemen Jalan Napas
- Identifikasi penyebab penyumbatan jalan napas
- Lakukan suction untuk membersihkan jalan napas
- Atur posisi pasien untuk memfasilitasi pernafasan
- Kolaborasi dengan tim medis untuk penanganan definitif penyumbatan
2. Manajemen Oksigenasi
- Pantau saturasi oksigen dan berikan oksigen sesuai kebutuhan
- Kolaborasi dengan tim medis untuk terapi inhalasi bronkodilator
3. Edukasi Kesehatan
- Ajarkan teknik pernapasan dan latihan untuk mempertahankan jalan napas terbuka
- Edukasi pasien dan keluarga mengenai faktor pencetus dan tindakan pencegahan
Melalui intervensi keperawatan yang komprehensif ini, diharapkan pasien dapat mempertahankan jalan napas yang bebas dari sumbatan, mengendalikan gejala sesak napas, serta mencegah komplikasi lebih lanjut. Evaluasi secara berkala perlu dilakukan untuk memastikan tercapainya luaran yang diharapkan. -
Article No. 6399 | 19 Nov 2024
Klinis : gangguan tidur
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, sebagai perawat yang berpengalaman, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat terkait SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi gangguan tidur.
Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Pola Tidur
Penjelasan Singkat:
1. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI):
Gangguan Pola Tidur didefinisikan sebagai perubahan dalam kualitas dan/atau kuantitas tidur yang mengganggu fungsi sehari-hari. Tanda dan gejala yang mungkin muncul antara lain sulit memulai atau mempertahankan tidur, tidur tidak restoratif, mengantuk di siang hari, dan perubahan ritme sirkadian.
2. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):
Luaran yang diharapkan dari asuhan keperawatan untuk gangguan pola tidur antara lain pola tidur yang adekuat, kualitas tidur yang baik, dan tidak ada gejala kantuk di siang hari. Indikator keberhasilan dapat dinilai melalui jumlah jam tidur, latency onset tidur, dan kualitas tidur yang dirasakan pasien.
3. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi gangguan pola tidur meliputi manajemen lingkungan (menciptakan lingkungan yang nyaman untuk tidur), terapi relaksasi (teknik pernafasan, distraksi, dan relaksasi otot), edukasi terkait higiene tidur, dan pemberian terapi farmakologis jika diperlukan. Intervensi dilakukan secara kolaboratif dengan tenaga kesehatan lain untuk mencapai hasil yang optimal.
Secara umum, penanganan gangguan pola tidur memerlukan pendekatan holistik dengan memperhatikan faktor fisik, psikologis, dan lingkungan untuk memfasilitasi perbaikan kualitas dan kuantitas tidur pasien. Peran perawat sangat penting dalam melakukan asesmen, perencanaan, implementasi, dan evaluasi asuhan keperawatan yang komprehensif. -
Article No. 6164 | 18 Nov 2024
Klinis : Ibu berusia 24 tahun memiliki anak berusia 15 bulan mengeluhkan bahwa asinya sudah seret atau tidak keluar. Terdapat lecet disekitaran puting. Ibu menginginkan agar asinya dapat kembali membaik dengan teknik pijat oksitosin. Ibu mengetahui bahwa asi lebih baik dibanding dengan susu formula. Bayi dari si ibu sudah jarang diberi asi dari umur 4 bulan. Tidak ada riwayat penyakit apapun yang di derita oleh ibu
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
1. Ketidakefektifan Menyusui: Penurunan atau penghentian produksi ASI yang mengakibatkan pemenuhan kebutuhan nutrisi bayi tidak adekuat.
Karakteristik Definisional:
- Ibu mengeluhkan ASI yang seret atau tidak keluar
- Terdapat lecet di sekitar puting
- Bayi jarang diberi ASI sejak usia 4 bulan
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Peningkatan Produksi ASI
- Kriteria Hasil:
- Ibu melaporkan produksi ASI kembali memadai
- Bayi mendapatkan asupan ASI yang cukup
- Tidak ada tanda-tanda kekurangan nutrisi pada bayi
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen Laktasi
- Kaji penyebab penurunan produksi ASI (faktor fisiologis, psikologis, atau gaya hidup)
- Ajarkan teknik menyusui yang benar
- Ajarkan teknik pemijatan oksitosin
- Anjurkan ibu untuk menyusui sesering mungkin sesuai kebutuhan bayi
- Anjurkan ibu untuk menggunakan pompa ASI untuk merangsang produksi ASI
- Berikan dukungan dan motivasi kepada ibu untuk terus menyusui
- Kolaborasi dengan ahli laktasi atau dokter jika diperlukan
Penjelasan:
Diagnosa keperawatan "Ketidakefektifan Menyusui" dipilih karena kondisi yang dialami ibu, yaitu penurunan atau penghentian produksi ASI, yang berdampak pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bayi. Luaran yang diharapkan adalah "Peningkatan Produksi ASI", dengan kriteria hasil yang menunjukkan bahwa produksi ASI kembali memadai dan bayi mendapatkan asupan ASI yang cukup. Intervensi keperawatan yang diperlukan mencakup manajemen laktasi, seperti mengidentifikasi penyebab penurunan produksi ASI, mengajarkan teknik menyusui yang benar, memijat oksitosin, dan memberikan dukungan dan motivasi kepada ibu. Kolaborasi dengan ahli laktasi atau dokter juga dapat dilakukan jika diperlukan. -
Article No. 6165 | 18 Nov 2024
Klinis : berikan data objektif dan subjektif resiko defisit nutrisi pada pasien gerd
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan hormat, sebagai perawat profesional dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia, saya akan memberikan diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat terkait SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) untuk kondisi risiko defisit nutrisi pada pasien dengan GERD (Gastroesophageal Reflux Disease).
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Defisit Nutrisi
Definisi:
Berisiko mengalami penurunan asupan nutrisi yang tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Data Objektif:
1. Keluhan rasa nyeri atau tidak nyaman pada dada atau ulu hati setelah makan
2. Sering merasakan gejala refluks asam lambung
3. Berat badan menurun dalam waktu tertentu
4. Terdapat tanda-tanda malnutrisi, seperti turgor kulit menurun, mukosa kering, dan rambut mudah rontok
Data Subjektif:
1. Pasien mengeluhkan sering mengalami rasa terbakar di dada atau ulu hati setelah makan
2. Pasien mengatakan sulit menelan makanan atau minuman
3. Pasien mengatakan tidak selera makan dan takut makan karena keluhan GERD yang dialami
4. Pasien mengatakan berat badan menurun dalam beberapa waktu terakhir
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Risiko Defisit Nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan menelan, gangguan fungsi gastrointestinal, dan faktor psikologis.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Pasien akan mempertahankan berat badan yang adekuat
- Pasien akan menunjukkan tanda-tanda perbaikan status nutrisi
- Pasien akan melaporkan peningkatan asupan makanan dan minuman
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Identifikasi faktor risiko yang dapat menyebabkan defisit nutrisi
2. Monitor asupan nutrisi pasien dan evaluasi status nutrisinya
3. Kolaborasi dengan tim medis untuk menangani penyebab defisit nutrisi
4. Berikan edukasi tentang manajemen diet dan nutrisi yang sesuai untuk pasien GERD
5. Dorong pasien untuk meningkatkan asupan nutrisi yang adekuat
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus menggunakan pendekatan holistik dan berpusat pada pasien untuk mencapai luaran keperawatan yang optimal bagi pasien dengan risiko defisit nutrisi akibat GERD. -
Article No. 6166 | 18 Nov 2024
Klinis : berikan data objektif dan subjektif resiko aspirasi pada pasien gerd
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda berikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat terkait SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk pasien dengan risiko aspirasi pada kondisi GERD (Gastroesophageal Reflux Disease):
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Aspirasi berhubungan dengan regurgitasi dan refluks gastrik pada pasien GERD.
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Risiko aspirasi didefinisikan sebagai keadaan rentan yang dapat menyebabkan masuknya cairan, makanan, secret, atau benda asing ke dalam paru-paru.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan pada pasien dengan risiko aspirasi adalah pasien dapat mempertahankan jalan napas yang bebas dari aspirasi, tidak terjadi komplikasi seperti pneumonia aspirasi, dan pasien mampu mengenali tanda-tanda risiko aspirasi.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengelola risiko aspirasi pada pasien GERD meliputi:
1. Pengaturan posisi tubuh (elevasi kepala, posisi miring)
2. Pemantauan tanda-tanda vital dan status pernapasan
3. Edukasi pasien dan keluarga mengenai pencegahan aspirasi
4. Pemberian nutrisi enteral dengan teknik yang tepat
5. Suction sekret saluran napas jika diperlukan
6. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk manajemen GERD
Data Objektif:
- Pasien tampak kesulitan menelan
- Terdapat refluks gastrik yang terlihat
- Suara napas terdapat ronki/wheezing
Data Subjektif:
- Pasien mengeluhkan rasa terbakar di dada (heartburn)
- Pasien sering mengalami regurgitasi atau rasa asam di mulut
- Pasien merasa kesulitan bernapas atau batuk-batuk saat berbaring
Dengan pendekatan akademis dan persona pakar keperawatan, diharapkan penjelasan ini dapat memberikan gambaran komprehensif mengenai risiko aspirasi pada pasien GERD berdasarkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia. -
Article No. 6167 | 18 Nov 2024
Klinis : Seorang anak laki-laki berusia 8 tahun diantar ibunya ke dokter, dengan keluhan utama adanya bintik – bintik merah di seluruh tubuhnya termasuk wajah sejak 3 hari yang lalu. Anak juga mengeluhkan rasa gatal di seluruh tubuh disertai dengan demam dan sakit kepala. Sebelumnya, anak mengatakan ada teman sekelasnya yang memiliki gejala yang sama dan sudah tidak bersekolah selama 4 hari. Pada pemeriksaan fisik didapat kondisi anak komposmentis, tekanan darah 110/80 mmHg, RR 20 x/mnt, suhu 38,4 derajat celcius, dan nadi 80x/mnt. Saat dilakukan inspeksi terdapat vesikel berisi cairan dan beberapa sudah pecah di seluruh tubuh dan muka. Anak tampak sangat tidak nyaman dan sering menggaruk vesikel. Dokter mendiagnosis anak mengalami cacar air dan bisa dilakukan perawatan di rumah. Namun, Ibunya mengatakan tidak tahu bagaimana cara merawat anak di rumah. Anak juga mengatakan sangat malu dengan kondisinya saat ini karena di sekolah anak diejek oleh teman-temannya.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kasus yang Anda paparkan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik akibat cacar air.
2. Gangguan kenyamanan berhubungan dengan rasa gatal akibat cacar air.
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan fisik akibat cacar air.
Penjelasan singkat:
1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik akibat cacar air:
- SDKI: Intoleransi aktivitas
- SLKI: Peningkatan Toleransi Aktivitas
- SIKI: Manajemen Energi
Pasien mengalami kelemahan fisik akibat demam dan penyakit cacar air, sehingga perlu intervensi keperawatan untuk meningkatkan toleransi aktivitas.
2. Gangguan kenyamanan berhubungan dengan rasa gatal akibat cacar air:
- SDKI: Gangguan Kenyamanan
- SLKI: Peningkatan Kenyamanan
- SIKI: Manajemen Gejala
Pasien mengalami rasa gatal yang mengganggu kenyamanan akibat cacar air, sehingga perlu intervensi keperawatan untuk mengatasi masalah kenyamanan.
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan fisik akibat cacar air:
- SDKI: Gangguan Citra Tubuh
- SLKI: Peningkatan Citra Tubuh
- SIKI: Konseling Citra Tubuh
Pasien merasa malu dengan perubahan penampilan fisik akibat cacar air, sehingga perlu intervensi keperawatan untuk membantu pasien dalam menerima dan beradaptasi dengan perubahan citra tubuh.
Dalam melakukan perawatan di rumah, perawat dapat memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai manajemen cacar air, termasuk perawatan lesi kulit, pengendalian gatal, serta cara mencegah penularan kepada orang lain. Selain itu, perawat juga dapat memberikan dukungan psikologis untuk membantu pasien dalam beradaptasi dengan perubahan citra tubuh. -
Article No. 6168 | 18 Nov 2024
Klinis : pasien muntah darah. muntah warna hitam.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Risiko Perdarahan Gastrointestinal
Penjelasan singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Risiko Perdarahan Gastrointestinal adalah kondisi di mana individu rentan mengalami hilangnya darah dari saluran cerna, yang ditandai dengan gejala seperti muntah darah (hematemesis) atau muntah warna hitam (melena).
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan pada pasien dengan risiko perdarahan gastrointestinal adalah:
1. Tidak terjadi perdarahan aktif
2. Tidak terjadi komplikasi akibat perdarahan
3. Tanda-tanda vital dalam batas normal
4. Tidak terjadi syok hipovolemik
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan meliputi:
1. Pemantauan tanda-tanda vital secara berkala
2. Pemberian oksigen sesuai kebutuhan
3. Pemberian cairan/transfusi darah sesuai indikasi
4. Pemberian obat-obatan sesuai resep
5. Kolaborasi dengan tim medis untuk penanganan lebih lanjut
Sebagai perawat, saya akan melakukan pengkajian komprehensif, pemantauan keadaan pasien, dan bekerja sama dengan tim medis untuk memastikan pasien mendapatkan penanganan yang tepat dan mencegah komplikasi lebih lanjut. -
Article No. 6169 | 18 Nov 2024
Klinis : pasien muntah darah. muntah warna hitam.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
1. Perdarahan Gastrointestinal
Definisi: Keluarnya darah dari saluran cerna yang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, seperti ulkus peptikum, esofagitis, varises esofagus, atau neoplasma.
Karakteristik Definisi: Pasien mengalami muntah darah (hematemesis) dan/atau tinja berwarna hitam (melena).
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Kontrol Perdarahan
- Kriteria Hasil:
a. Tanda-tanda vital dalam batas normal
b. Tidak ada darah segar yang keluar
c. Kadar hemoglobin dalam batas normal
d. Tidak ada tanda-tanda perdarahan aktif
2. Perfusi Jaringan Perifer Membaik
- Kriteria Hasil:
a. Ekstremitas hangat dan kering
b. Tekanan darah dalam batas normal
c. Frekuensi nadi dalam batas normal
d. Kapiler refill kurang dari 3 detik
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan (SIKI):
1. Intervensi Perdarahan
- Monitor tanda-tanda vital secara berkala
- Kaji perdarahan aktif (warna, jumlah, konsistensi)
- Berikan oksigen sesuai kebutuhan
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat-obatan (misalnya proton pump inhibitor, vasokonstriktor)
- Siapkan cairan intravena dan darah/produk darah untuk resusitasi cairan jika diperlukan
- Berikan perawatan luka/penjahitan jika ada perdarahan aktif
2. Intervensi Perfusi Jaringan
- Monitor status hemodinamik (tekanan darah, frekuensi nadi, saturasi oksigen)
- Kaji tanda-tanda hipoperfusi (ekstremitas dingin, pucat, lama pengisian kapiler)
- Berikan cairan intravena sesuai kebutuhan
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat-obatan vasoaktif jika diperlukan
- Pertahankan posisi yang meningkatkan aliran darah ke organ vital
Dalam kondisi pasien dengan muntah darah dan muntah berwarna hitam, diagnosa keperawatan Perdarahan Gastrointestinal menjadi prioritas utama. Intervensi keperawatan yang diberikan bertujuan untuk mengendalikan perdarahan, mempertahankan perfusi jaringan, dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Pemantauan ketat, kolaborasi dengan dokter, dan pemberian terapi yang sesuai merupakan langkah-langkah penting dalam asuhan keperawatan pasien dengan kondisi ini. -
Article No. 6170 | 18 Nov 2024
Klinis : pasien datang dengan keluhan sesak nafas sejak 1 jam yang lalu, terdengar suara lendir di tenggorokan
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Berdasarkan kondisi pasien yang datang dengan keluhan sesak napas sejak 1 jam yang lalu dan terdengar suara lendir di tenggorokan, diagnosis keperawatan yang sesuai dengan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) adalah:
Diagnosis Keperawatan: Pola Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk bernapas dengan lancar yang dapat mengancam kesehatan.
Karakteristik Utama:
- Perubahan irama napas
- Kesulitan bernapas
- Suara napas tidak normal (seperti suara lendir di tenggorokan)
Diagnosis ini menggambarkan kondisi pasien yang mengalami gangguan dalam proses pernapasan, ditandai dengan sesak napas dan suara lendir di tenggorokan, yang dapat mengancam kesehatan pasien.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan yang tepat, diharapkan pasien dapat mencapai luaran/output sebagai berikut:
Luaran Keperawatan: Pola Napas Efektif
Definisi: Kemampuan untuk bernapas dengan lancar tanpa kesulitan.
Kriteria Hasil:
- Frekuensi napas dalam batas normal
- Kedalaman napas dalam batas normal
- Irama napas teratur
- Tidak ada suara napas tidak normal (seperti suara lendir di tenggorokan)
- Rasa sesak napas berkurang atau hilang
Luaran ini menggambarkan kondisi pasien yang dapat bernapas dengan lancar, tanpa adanya kesulitan atau suara napas tidak normal, sehingga dapat memenuhi kebutuhan oksigenasi tubuh dengan baik.
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Untuk membantu pasien mencapai luaran keperawatan "Pola Napas Efektif", diperlukan intervensi keperawatan yang sesuai, berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), yaitu:
a. Pemantauan Respirasi
- Pantau frekuensi, kedalaman, dan irama napas
- Pantau suara napas tidak normal (seperti suara lendir di tenggorokan)
- Pantau tanda-tanda vital (terutama saturasi oksigen)
b. Manajemen Jalan Napas
- Beri posisi yang nyaman untuk memfasilitasi pernapasan
- Lakukan tindakan suction untuk mengeluarkan sekret/lendir di saluran napas
- Berikan oksigen sesuai indikasi
c. Manajemen Nyeri
- Lakukan pengkajian nyeri terkait sesak napas
- Berikan analgesik sesuai indikasi untuk mengurangi rasa sesak napas
d. Edukasi Kesehatan
- Ajarkan teknik pernapasan yang benar
- Berikan edukasi terkait penyebab dan penatalaksanaan sesak napas
Intervensi ini ditujukan untuk memantau, mengelola, dan mengatasi masalah pernapasan pasien, sehingga dapat mencapai luaran "Pola Napas Efektif" yang diharapkan.
Semoga penjelasan ini dapat membantu Anda dalam memahami diagnosis keperawatan, luaran, dan intervensi yang sesuai untuk kondisi pasien dengan keluhan sesak napas dan suara lendir di tenggorokan. Jika ada pertanyaan lain, jangan ragu untuk menanyakannya. -
Article No. 6171 | 18 Nov 2024
Klinis : pasien gagal ginjal dengan kejiwaan
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan hormat, berikut adalah penjelasan rinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran keperawatan, dan intervensi keperawatan untuk pasien gagal ginjal dengan kondisi kejiwaan:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Gangguan Pola Tidur
- Definisi: Gangguan dalam jumlah dan kualitas tidur yang mengganggu fungsi sehari-hari.
- Faktor yang Berhubungan: Kecemasan, depresi, rasa tidak nyaman.
- Karakteristik Mayor: Sulit memulai tidur, sering terbangun, tidak puas dengan kualitas tidur.
2. Gangguan Proses Pikir
- Definisi: Perubahan dalam proses berpikir yang mengganggu fungsi sehari-hari.
- Faktor yang Berhubungan: Perubahan fisiologis, kecemasan, depresi.
- Karakteristik Mayor: Konsentrasi terganggu, pemikiran kacau, kesulitan dalam pengambilan keputusan.
3. Gangguan Coping
- Definisi: Ketidakmampuan untuk beradaptasi secara efektif terhadap stressor.
- Faktor yang Berhubungan: Penyakit kronis, pengobatan yang kompleks, perubahan gaya hidup.
- Karakteristik Mayor: Perilaku maladaptif, penurunan motivasi, penurunan harga diri.
Luaran/Output SLKI:
1. Perbaikan Pola Tidur
- Definisi: Peningkatan jumlah dan kualitas tidur yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
- Indikator: Pasien dapat tertidur dalam waktu 30 menit, tidur tanpa terbangun, dan merasa terpuaskan dengan kualitas tidurnya.
2. Proses Berpikir Membaik
- Definisi: Peningkatan kemampuan berpikir yang terorganisir dan logis.
- Indikator: Pasien dapat berkonsentrasi, membuat keputusan, dan menyelesaikan masalah dengan baik.
3. Koping Efektif
- Definisi: Kemampuan untuk beradaptasi secara efektif terhadap stressor.
- Indikator: Pasien menunjukkan perilaku adaptif, peningkatan motivasi, dan peningkatan harga diri.
Intervensi Keperawatan SIKI:
1. Manajemen Tidur
- Definisi: Intervensi untuk memfasilitasi tidur yang adekuat dan meningkatkan kualitas tidur.
- Aktivitas: Mengevaluasi pola tidur pasien, menjadwalkan rutinitas tidur, mengatur lingkungan tidur, dan memberikan terapi relaksasi.
2. Terapi Kognitif
- Definisi: Intervensi untuk membantu pasien mengidentifikasi dan mengubah pola berpikir maladaptif.
- Aktivitas: Mengidentifikasi pikiran-pikiran negatif, membantu pasien menantang dan mengganti pikiran tersebut, serta melatih keterampilan pemecahan masalah.
3. Dukungan Emosional
- Definisi: Intervensi untuk membantu pasien mengekspresikan dan mengelola emosi.
- Aktivitas: Mendengarkan aktif, memberikan validasi, mengidentifikasi sumber stres, dan membantu pasien mengembangkan strategi koping yang efektif.
Dengan penerapan diagnosa keperawatan, luaran keperawatan, dan intervensi keperawatan yang tepat, diharapkan dapat membantu pasien gagal ginjal dengan kondisi kejiwaan mencapai perbaikan pola tidur, proses berpikir yang membaik, serta pengembangan koping yang efektif.