Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 6458 | 20 Nov 2024
Klinis : Mohon buatkan DS dan DO gangguan integritas kulit/jaringan pada pasien abses mamae
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Integritas Kulit/Jaringan
Definisi:
Kerusakan atau perubahan struktur dan fungsi kulit dan/atau jaringan yang menyebabkan penyakit atau cedera.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Luka/perubahan pada kulit atau jaringan (misalnya luka, abses, ulkus)
2. Nyeri/rasa tidak nyaman pada area luka/perubahan
3. Pembengkakan pada area luka/perubahan
4. Perubahan suhu pada area luka/perubahan
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Integritas kulit/jaringan membaik
2. Nyeri/rasa tidak nyaman berkurang
3. Pembengkakan berkurang
4. Suhu normal kembali
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Observasi tanda-tanda infeksi dan komplikasi pada luka/perubahan
2. Perawatan luka/perubahan sesuai prosedur
3. Penatalaksanaan nyeri/rasa tidak nyaman
4. Intervensi untuk mengurangi pembengkakan
DS (Data Subyektif):
Pasien mengeluhkan adanya pembengkakan dan nyeri pada area payudara kanan. Rasa tidak nyaman dan sakit dirasakan semakin memburuk selama beberapa hari terakhir.
DO (Data Objektif):
Pada pemeriksaan fisik ditemukan pembengkakan, kemerahan, dan peningkatan suhu pada area payudara kanan pasien. Terdapat lesi yang terasa fluktuatif, mengindikasikan adanya abses pada payudara. -
Article No. 6459 | 20 Nov 2024
Klinis : Mohon buatkan DS dan DO Hipertermi pada pasien abses mamae
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat terkait SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi hipertermi pada pasien abses mamae.
Diagnosa Keperawatan:
Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi pada abses mamae.
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Hipertermi: Peningkatan suhu tubuh di atas kisaran normal.
- Penyebab: Proses infeksi, inflamasi, atau respon imun.
- Karakteristik: Suhu tubuh meningkat, kulit terasa panas, menggigil.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Suhu tubuh dalam rentang normal.
- Tidak ada tanda-tanda infeksi.
- Kulit terasa nyaman dan tidak panas.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Pemantauan tanda-tanda vital secara berkala.
- Pemberian kompres hangat/dingin untuk menurunkan suhu.
- Pemberian obat antipiretik sesuai dengan resep dokter.
- Peningkatan asupan cairan.
- Identifikasi dan penanganan penyebab hipertermi.
Data Subjektif (DS):
- Pasien mengeluhkan tubuh terasa panas dan menggigil.
- Pasien mengatakan nyeri pada area payudara kanan.
- Pasien merasa lemah dan tidak bertenaga.
Data Objektif (DO):
- Suhu tubuh pasien 38,8°C.
- Warna kulit kemerahan, teraba hangat.
- Terdapat bengkak dan nyeri tekan pada payudara kanan.
- Kondisi umum pasien lemah.
Kesimpulan:
Berdasarkan data subjektif dan objektif yang diperoleh, pasien mengalami hipertermi yang berhubungan dengan proses infeksi pada abses mamae. Perawat akan memberikan intervensi keperawatan sesuai dengan SIKI untuk mengatasi kondisi hipertermi dan menangani penyebabnya. -
Article No. 6460 | 20 Nov 2024
Klinis : Eliminasi feses: frekuensi BAB: 1x/hari warna: kuning kecoklatan konsitensi: lunak Eliminasi urin: Volume: sedikit dibandingkan biasanya Warna urin: keruh kecoklatan Nyeri saat BAK (+), terpasang kateter, Kreatinin: 2,3 Urinalisa urine Warna urine: urine keruh kecoklatan Eritrosit: +2 Protein; +2 Leukosit: +1
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda sampaikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Eliminasi Urin
2. Gangguan Eliminasi Feses
Penjelasan:
1. Gangguan Eliminasi Urin
SDKI: Pola Eliminasi Urin Terganggu
SLKI: Pemantauan Fungsi Vesika Urinaria
SIKI: Perawatan Kateter Urin
Penjelasan:
Pasien mengalami gangguan eliminasi urin yang ditandai dengan volume urin yang sedikit dibandingkan biasanya, warna urin yang keruh kecoklatan, serta adanya nyeri saat berkemih. Selain itu, hasil urinalisis menunjukkan adanya eritrosit (+2), protein (+2), dan leukosit (+1), yang mengindikasikan adanya infeksi saluran kemih. Kreatinin yang tinggi (2,3) juga menunjukkan adanya gangguan fungsi ginjal.
2. Gangguan Eliminasi Feses
SDKI: Pola Eliminasi Feses Terganggu
SLKI: Pemantauan Fungsi Gastrointestinal
SIKI: Perawatan Konstipasi
Penjelasan:
Pasien mengalami gangguan eliminasi feses yang ditandai dengan frekuensi BAB hanya 1 kali per hari dan konsistensi feses yang lunak. Warna feses yang kuning kecoklatan dapat menunjukkan adanya masalah dalam proses pencernaan atau penyerapan nutrisi.
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus mengacu pada standar SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia. Hal ini bertujuan untuk menjamin kualitas dan keamanan pelayanan keperawatan yang diberikan. -
Article No. 6461 | 20 Nov 2024
Klinis : Andi (25 tahun) datang ke Rumah Sakit dengan keluhan demam, batuk, dan penurunan berat badan yang cukup drastis selama 2 bulan terakhir. Andi mengatakan bahwa ia mulai merasa lelah dan mudah berkeringat, terutama pada malam hari. Selain itu, ia juga mengalami diare yang berlangsung selama beberapa minggu. Andi diketahui bekerja sebagai seorang pekerja lepas dan mengaku memiliki banyak pasangan seksual tanpa pelindung. Pasien belum pernah melakukan tes HIV sebelumnya dan tidak memiliki riwayat penyakit kronis. Dokter yang menangani pasien mencurigai adanya infeksi HIV dan memutuskan untuk melakukan tes HIV. Hasil tes HIV Andi positif. Dokter kemudian memberikan diagnosis "Infeksi HIV Lanjutan" dan merekomendasikan pengobatan antiretroviral (ARV). Pasien diminta untuk melakukan konseling terkait penyakit ini dan perubahan gaya hidup.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, Andi dengan kondisi yang Anda paparkan dapat ditetapkan diagnosis keperawatan berdasarkan standar Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) sebagai berikut:
1. Diagnosis Keperawatan: Risiko Infeksi Oportunistik Berhubungan dengan Penurunan Sistem Kekebalan Tubuh
Penjelasan:
- SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia): Risiko Infeksi Oportunistik adalah kondisi di mana individu berisiko mengalami infeksi oleh patogen yang memanfaatkan penurunan sistem kekebalan tubuh.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Tujuan yang diharapkan adalah Tidak Terjadi Infeksi Oportunistik, dengan indikator seperti vital sign dalam batas normal, tidak ada tanda-tanda infeksi, dan tidak ada komplikasi.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi yang dapat dilakukan adalah Manajemen Infeksi, Manajemen Sistem Kekebalan Tubuh, Edukasi tentang Infeksi Oportunistik, dan Pemantauan Tanda-Tanda Vital.
2. Diagnosis Keperawatan: Ketidakefektifan Pola Tidur Berhubungan dengan Kecemasan dan Gejala Infeksi
Penjelasan:
- SDKI: Ketidakefektifan Pola Tidur adalah kondisi di mana individu mengalami kesulitan untuk mempertahankan atau mencapai pola tidur yang adekuat dan restoratif.
- SLKI: Tujuan yang diharapkan adalah Pola Tidur Efektif, dengan indikator seperti durasi tidur yang cukup, tidak ada gangguan tidur, dan merasa segar setelah bangun.
- SIKI: Intervensi yang dapat dilakukan adalah Manajemen Kecemasan, Manajemen Nyeri, Terapi Aktivitas, dan Edukasi Pola Tidur.
Dengan diagnosa keperawatan tersebut, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan berfokus pada pencegahan infeksi oportunistik serta peningkatan kualitas tidur Andi. Hal ini penting untuk mendukung proses pengobatan dan peningkatan kualitas hidup pasien dengan infeksi HIV lanjut. -
Article No. 6462 | 20 Nov 2024
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, Selamat siang. Sebagai seorang perawat, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai standar SDKI, SLKI, dan SIKI yang sesuai untuk kondisi pasien tersebut.
Diagnosa Keperawatan:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
Faktor Terkait: Produksi sekret yang berlebihan, penyakit paru-paru.
Gejala dan Tanda: Batuk berdahak, sesak napas, suara napas bronkial.
2. Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Definisi: Asupan nutrisi yang tidak adekuat dibandingkan dengan kebutuhan tubuh.
Faktor Terkait: Penurunan nafsu makan, penyakit kronis.
Gejala dan Tanda: Penurunan berat badan, kehilangan nafsu makan.
Penjelasan Singkat Standar SDKI, SLKI, dan SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif: Karakteristik utama, faktor risiko, dan kriteria hasil.
- Ketidakseimbangan Nutrisi: Karakteristik utama, faktor risiko, dan kriteria hasil.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif: Luaran yang diharapkan seperti bebas dari sputum, pola napas yang normal.
- Ketidakseimbangan Nutrisi: Luaran yang diharapkan seperti berat badan kembali normal, status gizi membaik.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif: Intervensi seperti fisioterapi dada, penggunaan bronkodilator, suction.
- Ketidakseimbangan Nutrisi: Intervensi seperti konseling gizi, pemberian suplemen, modifikasi diet.
Semoga informasi ini bermanfaat. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, silakan ditanyakan. Wassalamualaikum. -
Article No. 6463 | 20 Nov 2024
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Baik, saya akan membantu memberikan informasi yang rinci dan terperinci terkait diagnosa keperawatan, luaran/output, dan intervensi keperawatan untuk kondisi pasien yang Anda berikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan fungsi pernapasan yang optimal.
Penyebab: Sekresi jalan napas yang berlebihan, kelemahan otot pernapasan, dan obstruksi jalan napas.
Tanda dan gejala: Batuk tidak efektif, produksi sputum yang berlebihan, suara nafas bronkial, distres pernapasan, dan adanya lesi di paru.
2. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Definisi: Asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Penyebab: Anoreksia, mual, dan kehilangan nafsu makan.
Tanda dan gejala: Penurunan berat badan, penurunan intake makanan, dan kehilangan nafsu makan.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Bersihan Jalan Napas
- Pasien dapat batuk dan mengeluarkan sputum secara efektif.
- Suara napas normal dan tidak ada lagi suara bronkial.
- Distres pernapasan menurun.
- Saturasi oksigen dalam batas normal.
2. Status Gizi
- Berat badan pasien stabil atau meningkat.
- Intake makanan adekuat.
- Tidak ada tanda-tanda malnutrisi.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Bersihan Jalan Napas
- Monitor status pernapasan pasien secara berkala.
- Berikan bronkodilator dan mukolitik sesuai resep dokter.
- Ajarkan teknik batuk efektif dan senam dada.
- Lakukan suction atau pemberian oksigen jika diperlukan.
- Ubah posisi pasien untuk memfasilitasi drainase sekret.
2. Manajemen Nutrisi
- Evaluasi status nutrisi pasien secara komprehensif.
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan nutrisi yang adekuat.
- Berikan makanan yang mudah dicerna dan tinggi kalori/protein.
- Pantau intake makanan dan cairan pasien.
- Berikan tambahan suplemen nutrisi jika diperlukan.
- Beri edukasi kepada pasien dan keluarga terkait pentingnya nutrisi yang adekuat.
Semoga informasi ini dapat membantu Anda dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif untuk pasien dengan diagnosis tuberkulosis paru. Jika ada pertanyaan atau hal yang perlu klarifikasi, jangan ragu untuk menanyakannya. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. -
Article No. 6464 | 20 Nov 2024
Klinis : Nefrotik sindrom (kelompok 5) Seorang laki-laki usia 23 tahun sedang dirawat di ruang penyait dalam dengan diagnosa nefrotik sindrom. Hasil wawancara didapatkan keluhan Utama : Bengkak pada kedua tungkai bawah dari pangkal paha sampai ujung kaki, wajah dan perut. Riwayat Penyakit Sekarang : Bengkak dirasakan sejak 1 Mei 2019 yang lalu, bengkak dirasakan di kedua tungkai kemudian ke bagian perut dan wajah. Bengkak dikatakan tidak nyeri saat digerakkan ataupun saat di tekan. Bengkak di kaki membuat pasien sulit untuk beraktivitas seperti biasa. Nyeri saat berkemih (-) Hasil pemeriksaan fisik didapatkan Tekanan Darah : 120/70mmHg, Laju Pernafasan : 20x/ menit, regular, torako-abdominal, Nadi : 80x/ menit, regular, isi cukup, Suhu : 36,7 SpO2 : 98% room air, VAS : 0/10 Berat Badan : 56 kg Tinggi Badan : 170 cm. Hasil pemeriksaan laboratorium : Protein (2+) 200 mg/dL, Albumin 1.90 g/dL 3.40-4.80
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan mempertimbangkan kondisi pasien yang dideskripsikan, berikut adalah Diagnosis Keperawatan, penjelasan singkat, serta kaitannya dengan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosis Keperawatan:
1. Edema berhubungan dengan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit sekunder akibat nefrotik sindrom.
Penjelasan Singkat:
Nefrotik sindrom adalah suatu kondisi klinis yang ditandai dengan proteinuria masif, hipoalbuminemia, edema, dan hiperlipidemia. Pada kasus ini, pasien mengalami edema pada kedua tungkai bawah, wajah, dan perut, yang merupakan gejala khas nefrotik sindrom. Edema terjadi akibat gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, di mana terjadi kehilangan protein melalui urin (proteinuria) sehingga menyebabkan hipoalbuminemia dan peningkatan retensi cairan.
Kaitannya dengan Standar:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Edema
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Keseimbangan Cairan, Fungsi Ginjal
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Manajemen Edema, Manajemen Cairan, Perawatan Ginjal
Intervensi Keperawatan yang dapat diberikan antara lain:
- Pemantauan tanda-tanda vital dan status cairan
- Pembatasan asupan natrium dan cairan
- Edukasi terkait diet rendah garam dan cairan
- Penggunaan diuretik sesuai dengan resep
- Perawatan kulit untuk mencegah komplikasi akibat edema
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pemeriksaan dan penatalaksanaan nefrotik sindrom -
Article No. 6465 | 20 Nov 2024
Klinis : Nefrotik sindrom (kelompok 5) Seorang laki-laki usia 23 tahun sedang dirawat di ruang penyait dalam dengan diagnosa nefrotik sindrom. Hasil wawancara didapatkan keluhan Utama : Bengkak pada kedua tungkai bawah dari pangkal paha sampai ujung kaki, wajah dan perut. Riwayat Penyakit Sekarang : Bengkak dirasakan sejak 1 Mei 2019 yang lalu, bengkak dirasakan di kedua tungkai kemudian ke bagian perut dan wajah. Bengkak dikatakan tidak nyeri saat digerakkan ataupun saat di tekan. Bengkak di kaki membuat pasien sulit untuk beraktivitas seperti biasa. Nyeri saat berkemih (-) Hasil pemeriksaan fisik didapatkan Tekanan Darah : 120/70mmHg, Laju Pernafasan : 20x/ menit, regular, torako-abdominal, Nadi : 80x/ menit, regular, isi cukup, Suhu : 36,7 SpO2 : 98% room air, VAS : 0/10 Berat Badan : 56 kg Tinggi Badan : 170 cm. Hasil pemeriksaan laboratorium : Protein (2+) 200 mg/dL, Albumin 1.90 g/dL 3.40-4.80
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah diagnosa keperawatan SDKI, luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan (SLKI), dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran (SIKI) berdasarkan kondisi pasien dengan nefrotik sindrom:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Edema berhubungan dengan retensi cairan dan protein serum rendah
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keluhan fisik (bengkak)
3. Risiko infeksi berhubungan dengan penurunan imunitas
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Edema Terkendali
- Indikator: Bengkak di ekstremitas berkurang, tidak ada pembengkakan di wajah dan perut
- Target: Bengkak berkurang dalam 3-5 hari perawatan
2. Toleransi Aktivitas Membaik
- Indikator: Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa kelelahan berlebih
- Target: Pasien dapat beraktivitas tanpa bantuan dalam 1 minggu perawatan
3. Bebas Infeksi
- Indikator: Tidak ada tanda-tanda infeksi (demam, peningkatan laju pernafasan, peningkatan denyut nadi)
- Target: Pasien bebas infeksi dalam 1 minggu perawatan
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Edema Terkendali
- Manajemen cairan
- Terapi diuretik
- Pengaturan diet rendah garam
- Elevasi ekstremitas
- Pemantauan tanda-tanda vital
2. Toleransi Aktivitas Membaik
- Manajemen energi
- Bantuan aktivitas sehari-hari
- Latihan fisik progresif
- Monitoring status nutrisi
3. Bebas Infeksi
- Manajemen risiko infeksi
- Pemantauan tanda-tanda infeksi
- Edukasi higiene personal
- Pemberian obat antibiotik sesuai indikasi
Penjelasan:
1. Diagnosa keperawatan SDKI mencakup masalah utama yang dialami pasien, yaitu edema, intoleransi aktivitas, dan risiko infeksi. Hal ini sesuai dengan keluhan utama pasien berupa bengkak di ekstremitas, wajah, dan perut serta kesulitan dalam beraktivitas.
2. Luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan (SLKI) mencakup pengendalian edema, peningkatan toleransi aktivitas, dan bebas infeksi. Indikator dan target yang ditetapkan bertujuan untuk memastikan perbaikan kondisi pasien secara terukur.
3. Intervensi keperawatan (SIKI) yang diperlukan meliputi manajemen cairan dan nutrisi, terapi diuretik, latihan fisik, serta manajemen risiko infeksi. Intervensi-intervensi ini bertujuan untuk mencapai luaran yang diharapkan sesuai dengan masalah keperawatan yang teridentifikasi.
Secara keseluruhan, pendekatan ini bertujuan untuk mengatasi kondisi nefrotik sindrom pada pasien, memulihkan status kesehatan, dan mencegah komplikasi yang mungkin terjadi. -
Article No. 6466 | 20 Nov 2024
Klinis : Nefrotik sindrom (kelompok 5) Seorang laki-laki usia 23 tahun sedang dirawat di ruang penyait dalam dengan diagnosa nefrotik sindrom. Hasil wawancara didapatkan keluhan Utama : Bengkak pada kedua tungkai bawah dari pangkal paha sampai ujung kaki, wajah dan perut. Riwayat Penyakit Sekarang : Bengkak dirasakan sejak 1 Mei 2019 yang lalu, bengkak dirasakan di kedua tungkai kemudian ke bagian perut dan wajah. Bengkak dikatakan tidak nyeri saat digerakkan ataupun saat di tekan. Bengkak di kaki membuat pasien sulit untuk beraktivitas seperti biasa. Nyeri saat berkemih (-) Hasil pemeriksaan fisik didapatkan Tekanan Darah : 120/70mmHg, Laju Pernafasan : 20x/ menit, regular, torako-abdominal, Nadi : 80x/ menit, regular, isi cukup, Suhu : 36,7 SpO2 : 98% room air, VAS : 0/10 Berat Badan : 56 kg Tinggi Badan : 170 cm. Hasil pemeriksaan laboratorium : Protein (2+) 200 mg/dL, Albumin 1.90 g/dL 3.40-4.80
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda sampaikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk pasien dengan nefrotik sindrom:
Diagnosa Keperawatan:
1. Edema berhubungan dengan gangguan keseimbangan cairan akibat nefrotik sindrom.
Penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Domain: Pertukaran/Metabolisme
- Kelas: Cairan
- Definisi: Akumulasi cairan yang berlebihan dalam rongga atau ruang interstisial.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Hasil yang diharapkan: Pasien menunjukkan penurunan edema.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi:
1. Pantau tanda-tanda vital secara berkala.
2. Timbang berat badan harian.
3. Kaji intake dan output cairan.
4. Batasi asupan cairan sesuai kebutuhan.
5. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian diuretik.
6. Anjurkan pasien untuk istirahat dan elevasi ekstremitas.
7. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk perencanaan diet rendah garam.
Tujuan intervensi adalah untuk membantu mengurangi akumulasi cairan dan edema pada pasien dengan nefrotik sindrom. -
Article No. 6467 | 20 Nov 2024
Klinis : gangguan persepsi sensori
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, serta intervensi keperawatan yang diperlukan untuk kondisi gangguan persepsi sensori.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Gangguan Persepsi Sensorik
Definisi: Gangguan dalam pengorganisasian atau interpretasi sensasi yang diterima oleh individu.
Karakteristik Utama:
1. Perilaku yang tidak sesuai dengan realitas
2. Kesulitan mengenali atau menginterpretasikan sensasi
3. Perubahan dalam waktu periode sensasi
4. Perubahan dalam pola atau kualitas sensasi
5. Kesulitan memfokuskan atau mempertahankan perhatian
Faktor Terkait:
1. Stres
2. Perubahan gaya hidup
3. Cedera otak
4. Penyakit neurologi
5. Penggunaan obat-obatan
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Perilaku yang sesuai dengan realitas
2. Kemampuan menginterpretasikan sensasi secara akurat
3. Stabilitas periode sensasi
4. Pola dan kualitas sensasi yang normal
5. Kemampuan memfokuskan dan mempertahankan perhatian
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Monitoring tanda-tanda vital dan status neurologis
2. Menciptakan lingkungan yang tenang dan aman
3. Mengidentifikasi dan menghilangkan penyebab gangguan persepsi sensorik
4. Membantu klien mengembangkan strategi koping yang efektif
5. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (psikolog, neurolog, dll.)
6. Edukasi klien dan keluarga tentang gangguan persepsi sensorik
7. Evaluasi secara berkala terhadap kemajuan klien
Penjelasan Rinci:
Diagnosa keperawatan "Gangguan Persepsi Sensorik" dipilih karena klien mengalami perubahan dalam pengorganisasian atau interpretasi sensasi yang diterima. Hal ini dapat ditandai dengan perilaku yang tidak sesuai dengan realitas, kesulitan mengenali atau menginterpretasikan sensasi, perubahan dalam waktu periode sensasi, perubahan dalam pola atau kualitas sensasi, serta kesulitan memfokuskan atau mempertahankan perhatian.
Luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan adalah agar klien dapat menampilkan perilaku yang sesuai dengan realitas, memiliki kemampuan menginterpretasikan sensasi secara akurat, stabilitas periode sensasi, pola dan kualitas sensasi yang normal, serta kemampuan memfokuskan dan mempertahankan perhatian.
Intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran tersebut meliputi monitoring tanda-tanda vital dan status neurologis, menciptakan lingkungan yang tenang dan aman, mengidentifikasi dan menghilangkan penyebab gangguan persepsi sensorik, membantu klien mengembangkan strategi koping yang efektif, kolaborasi dengan tim kesehatan lain, edukasi klien dan keluarga, serta evaluasi secara berkala terhadap kemajuan klien.