Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 21878 | 01 Oct 2025
Klinis : Ny. A datang ke Puskemas untuk melakukan pemeriksaan kehamilan. Usia kehamilan Ny. A memasuki 32 minggu. Ny. A mengeluh sedikit pusing dan saat ini sering sekali merasa nyeri punggung, sesak nafas dan sering buang air kecil yang membuanya sulit tidur di malam hari (TD= 90/70 mmHG).
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Pengawasan Kehamilan Normal
Kode ICD-10: Z34.9
Deskripsi Singkat : Kode ini digunakan untuk kunjungan pengawasan kehamilan normal yang tidak memiliki komplikasi. Keluhan yang dialami Ny. A seperti pusing ringan (kemungkinan terkait tekanan darah 90/70 mmHg), nyeri punggung, sesak napas, dan sering buang air kecil merupakan ketidaknyamanan fisiologis yang umum terjadi pada trimester ketiga. Hal ini disebabkan oleh perubahan hormonal serta pertumbuhan rahim yang menekan organ-organ di sekitarnya seperti kandung kemih, paru-paru, dan pembuluh darah. Kode Z34.9 secara spesifik berarti 'Supervision of normal pregnancy, unspecified', yang menandakan kunjungan antenatal rutin tanpa informasi spesifik apakah ini merupakan kehamilan pertama atau kehamilan berikutnya.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 21810 | 30 Sep 2025
Klinis : gangguan tumbuh kembang
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Tumbuh Kembang
Kode SDKI: D.0096
Deskripsi Singkat: Gangguan tumbuh kembang adalah kondisi di mana seorang individu mengalami penyimpangan atau keterlambatan dalam mencapai tahapan pertumbuhan dan perkembangan yang diharapkan sesuai dengan usianya, yang dapat meliputi aspek fisik, kognitif, emosional, sosial, atau bahasa.
Kode SLKI: L.03135
Deskripsi : SLKI untuk diagnosa gangguan tumbuh kembang adalah "Perkembangan Anak Meningkat". Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) ini merujuk pada hasil yang diharapkan setelah intervensi keperawatan diberikan. Tujuannya adalah untuk memandu perawat dalam mengevaluasi apakah kondisi perkembangan anak telah menunjukkan kemajuan. Peningkatan perkembangan ini bersifat multidimensi. Secara fisik, ini dapat berarti peningkatan berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala yang sesuai dengan kurva pertumbuhan standar. Dalam aspek motorik, luaran yang diharapkan adalah anak mampu mencapai tonggak perkembangan motorik kasar (seperti berguling, duduk, merangkak, berjalan) dan motorik halus (seperti menggenggam, memindahkan benda) sesuai usianya. Dari sisi kognitif, peningkatan ditandai dengan kemampuan anak untuk mengeksplorasi lingkungan, memecahkan masalah sederhana, dan menunjukkan rasa ingin tahu. Perkembangan bahasa yang meningkat meliputi kemampuan untuk memahami perintah, mengucapkan kata-kata, dan berkomunikasi sesuai tahap usianya. Aspek sosial-emosional juga menjadi fokus, di mana luaran yang diinginkan adalah anak mampu berinteraksi dengan orang lain, menunjukkan respons emosional yang sesuai, dan membentuk keterikatan (attachment) yang sehat dengan pengasuh utamanya. Pencapaian SLKI ini diukur melalui observasi berkelanjutan, skrining perkembangan dengan alat standar (seperti Kuesioner Pra Skrining Perkembangan/KPSP), dan wawancara dengan orang tua untuk menilai kemajuan anak dalam aktivitas sehari-hari.
Kode SIKI: I.02803
Deskripsi : SIKI untuk menangani gangguan tumbuh kembang adalah "Intervensi Stimulasi Tumbuh Kembang". Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) ini merupakan serangkaian tindakan sistematis yang dilakukan perawat untuk membantu anak mencapai potensi tumbuh kembangnya secara optimal. Intervensi ini bersifat holistik dan terintegrasi. Langkah pertama biasanya adalah melakukan asesmen menyeluruh yang meliputi pengukuran antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkar kepala) dan plotting pada grafik tumbuh kembang untuk mendeteksi adanya kegagalan tumbuh (failure to thrive). Perawat juga akan melakukan skrining perkembangan menggunakan alat yang terstandar untuk mengidentifikasi area mana yang mengalami keterlambatan. Intervensi inti adalah memberikan stimulasi yang spesifik dan terarah berdasarkan hasil asesmen. Stimulasi ini mencakup domain-domain utama perkembangan. Untuk motorik kasar, perawat dapat mendemonstrasikan dan mendorong orang tua untuk melakukan permainan yang merangsang gerak tubuh, seperti "tummy time" untuk memperkuat otot leher dan punggung bayi, atau merangsang bayi untuk meraih mainan. Stimulasi motorik halus dapat dilakukan dengan memberikan mainan dengan berbagai tekstur, melatih memegang sendok, atau bermain menyusun balok. Stimulasi kognitif dan bahasa dilakukan melalui pembacaan cerita, bernyanyi, menamai benda-benda di sekitar, serta merespons celotehan anak untuk mendorong kemampuan komunikasinya. Stimulasi sosial-emosional difokuskan pada penguatan ikatan antara anak dan orang tua (bonding), mengajarkan orang tua untuk merespons kebutuhan anak dengan tepat, dan memberikan kesempatan bagi anak untuk berinteraksi dengan teman sebaya. Peran edukatif perawat sangat krusial dalam SIKI ini. Perawat harus memberdayakan orang tua dan pengasuh dengan pengetahuan tentang tahapan perkembangan normal, teknik stimulasi yang dapat dilakukan di rumah, serta pentingnya nutrisi yang adekuat untuk mendukung perkembangan otak dan tubuh. Perawat juga berperan sebagai koordinator, yang merujuk anak kepada tenaga profesional lain seperti dokter spesialis anak, fisioterapis, terapis okupasi, atau psikolog jika ditemukan gangguan yang lebih kompleks. Pemantauan berkelanjutan dan evaluasi terhadap efektivitas intervensi juga merupakan bagian integral dari SIKI ini, untuk memastikan bahwa luaran keperawatan (SLKI) dapat tercapai.
-
Article No. 21812 | 30 Sep 2025
Klinis : pasien gula darah tinggi 600 lebih, susah di bangunkan, penurunan kesadaran riwayat jatuh, kaki lemes,
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Hiperglikemia Hiperosmolar Nonketotik
Kode ICD-10: E11.00
Deskripsi Singkat: Suatu komplikasi diabetes tipe 2 yang mengancam jiwa, ditandai dengan kadar gula darah yang sangat tinggi (sering di atas 600 mg/dL), dehidrasi berat, dan penurunan kesadaran tanpa adanya ketosis yang signifikan. Kondisi ini dapat menyebabkan koma.
-
Article No. 21813 | 30 Sep 2025
Klinis : gula darah tinggi
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Hiperglikemia
Kode ICD-10: R73.9
Deskripsi Singkat: Suatu kondisi yang ditandai dengan kadar glukosa (gula) yang tinggi dalam darah, yang sering dikaitkan dengan diabetes mellitus tetapi dapat juga disebabkan oleh kondisi lain.
-
Article No. 21814 | 30 Sep 2025
Klinis : ketidakstabilan gula darah
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Ketidakstabilan Gula Darah
Kode ICD-10: R73.9
Deskripsi Singkat: Gangguan metabolisme glukosa yang tidak spesifik, ditandai dengan fluktuasi kadar gula darah yang tidak normal (baik hiperglikemia maupun hipoglikemia) di luar kisaran yang stabil.
-
Article No. 21815 | 30 Sep 2025
Klinis : gangguan tumbuh kembang, balita umur 4 th , laki-laki
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gangguan Perkembangan Fisik
Kode ICD-10: R62.50
Deskripsi Singkat: Gagal tumbuh pada anak yang tidak spesifik, menggambarkan ketidakmampuan seorang anak untuk berkembang sesuai dengan harapan pertumbuhan yang khas untuk usianya.
-
Article No. 21817 | 30 Sep 2025
Klinis : Tanggal/Jam Masuk RS: 25 September 2025/08.00 Tanggal/Jam Pengkajian: 26 September2025/ 21.00 Diangnosa Medis : Chest pain dengan HHD b. Identitas Penanggung Jawab Nama : Tn. A Umur : 25 Tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Alamat : Bulu 07/01 Beji, Andong, Boyolali Hubungan dengan Pasien : Anak 2. Keluhan Utama Pasien mengeluh nyeri pada dada sebelah kiri tembus hingga punggung 3. Riwayat Penyakit a. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien mengatakan setelah bangun tidur pasien mencuci piring sudah terasa nyeri tapi masih bisa ditahan, pada jam 6 pagi mau beli sarapan sudah tidak bisa ditahanjadi pasien pergi ke IGD b. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien mengatakan memiliki riwayat penyakit Diabetes Militus (DM) dan Hipertensi, dan memiliki riwayat operasi ambeien dan operasi laparoskopi pada tahun 2006 c. Riwayat Penyakit Keluarga Pasien mengatakan tidak ada anggota keluarga dengan penyakit menular. Genogram = Laki – laki = Perempuan = Meninggal = Klien Keterangan : 4. Pengkajian Pola Fungsional a. Persepsi Kesehatan/Penanganan Kesehatan Pasien mengetahui bahwa dirinya memiliki penyakit DM dan Hipertensi, b. Nutrisi/Metabolik Sebelum Saat Frekuensi Makan 3 kali sehari 3 x sehari tidak habis Jenis Makan Nasi + sayur Nasi + sayur + lauk Nafsu Makan Baik Menurun Makana Pantangan Tidak Ada Tidak Ada Frekuensi Minum Keluhan Yang dirasakan Tidak ada Tidak ada c. Eliminasi BAB Sebelum Saat Frekuensi 2 x sehari Belum BAB Kebiasaan waktu BAB Pagi hari - Konsistensi Lembek - Bau Khas - Keluhan : konstipasi, diare,inkontinensia bowel Tidak ada Sembelit Penggunaan obat pencahar Tidak ada Tidak BAK Sebelum Saat Frekuensi 6 x /hari 6x /hari Bau Khas Khas Warna Kuning, bening Kuning, bening Keluhan Tidak ada Tidak ada d. Aktivitas/Latihan Kemampuan Perawatan Diri 0 1 2 3 4 Makan/Minum Mandi Toileting Berpakaian Mobilitas Berpindah Ambulasi/ROM Keterangan: 0: Mampu merawat diri sendiri secara penuh 1: Memerlukan alat untuk mobilisasi 2: Memerlukan bantuan atau pengawasan orang lain, untuk mobilisasi 3: Memerlukan bantuan, pengawasan orang lain,dan peralatan untuk mobilisasi 4: Tergantung sepenuhnya pada bantuan alat dan orang lain e. Tidur/Istirahat Jumlah jam tidur siang 30 menit Jumlah jam tidur malam 8 jam Kebiasaan pengantar tidur Sholawatan Penggunaan obat tidur Tidak ada Kesulitan tidur menjelang tidur, mudah/ sering terbangun, Tidak ada Gangguan Lingkungan Tidak ada f. Perceptual Penglihatan : Normal Pendengaran : Normal Penciuman : Normal Sensasi Taktil : Normal Pengecapan : Normal g. Persepsi Diri Pasien merasa khawatir dengan kondisi kesehatannya, terutama karena nyeri dada yang dialami. pasien takut penyakitnya semakin parah, namun berusaha tetap tenang h. Seksualitas Dan Reproduksi Pasien seorang ibu rumah tangga, sudah menikah. pada usia 55 tahun kemungkinan sudah mengalami menopause. i. Peran-hubungan Pasien berperan sebagai ibu rumah tangga. hubungan dengan keluarga baik, suami dan anak-anak mendukung perawatan. j. Manajemen Koping-Stress Pasien mengatakan saat nyeri, ia berdoa dan berusaha tenang. pasien tampak cemas dengan kondisi penyakitnya tetapi mampu mengungkapkan keluhan dengan baik. k. Sistem nilai dan keyakinan Pasien beragama islam, rutin beribadah, dan menggunakan doa/sholawatan sebagai salah satu cara menenangkan diri. 5. Pengkajian head to toe a. Kepala Bentuk : Normosefal Keluhan yg berhubungan: Pusing b. Mata Ukuran Pupil :Isokor Reaksi cahaya : (+) Baik Akomodasi : Normal Bentuk : Bulat, simetris Konjungtiva : Merah muda Sklera: anikterik Fungsi Penglihatan : Baik Alat Bantu : Tidak ada tanda-tanda Radang : Tidak Ada Operasi : Tidak Ada Hidung : Reaksi Alergi : Tidak ada Perdarahan : Tidak Ada c. Mulut dan tenggorokan Kesulitan berbicara : Tidak Ada kesulitan menelan : Tidak Ada d. Pernapasan Suara Paru : Vesikuler normal, tidak ada ronkhi/wheezing Pola Napas : 20x/menit Batuk : tidak ada Darah: tidak ada Sputum : tidak ada Nyeri dada : Ada Ro Thorak terakhir : Hasil: e. Sirkulasi Nadi perifer : 97x/menit Capillary refill : < 3 detik Distensi vena jugularis: Tidak Ada Suara Jantung : S1,S2 jelas Suara jantung tambahan: S4 gallop Irama jantung : Reguler Nyeri dada : Ada Edema : Tidak Ada Palpitasi :Tidak Ada Baal : Tidak Ada Clubbing finger : Tidak Ada Keadaan ekstremitas : Teraba hangat, Syncope : Tidak ada riwayat pingsan f. Neurosis Tingkat kesadaran: Compos Mentis Gcs: E4 V5 M6 Disorientasi : Tidak Ada Riwayat Epilepsi/Kejang/Parkinson: Tidak ada Pergerakan Ekstremitas : g. Muskuloskeletal Nyeri : Tidak Ada 4 4 5 5 Kekuatan otot ekstremitas atas : Kekuatan oto ekstremitas bawah : Kemampuan melakukan aktivitas : Masih bisa aktivitas ringan teta[I terbatas saat nyeri dada muncul h. Kulit warna : Sawo matang Integritas : Tidak ada luka Turgor : kembali < 2 dtk 6. Pemeriksaan Penunjang Hasi Pemeriksaan Laboratorium Nama Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan HEMATOLOGI Hematologi Lengkap - Hemoglobin 13.4 g/dL 12.0 – 16.0 - Leukosit 8.2 /uL 4.5 – 11 - Trombosit 228 /uL 150 – 450 - Hematokrit 39 % 35.00 – 47.00 - Eritrosit 4.5 juta/uL 3.80 – 5.80 Index Eritrosit - MCV 86.90 fL 80.00 – 96.00 - MCH 29.80 Pg/mL 28.00 – 33.00 - MCHC 34.20 g/dL 33.00 – 36.00 Hitung Jenis Leukosit - MXD 7.8 % 25.0 – 30.0 - Granulosit 67 % - Limfosit 25.4 % 20.00 – 40.00 -RDW-CV 13.7 % 11.5 – 14.5 -RDW-SD 38.6 fL 35 – 47 -MPV 7.7 fL 7.2 – 11.1 -PDW 15.7 fL 9.0 – 13.0 -PCT 0.177 % 0.150 – 0.400 -P-LCR 15.3 % KIMIA KLINIK Fungsi Hati - AST (SGOT) 25 U/L < 37 - ALT (SGPT) 22 U/L <= 42 Fungsi Ginjal - Ureum 25.9 mg/dL 10.00-50.00 - Kreatinin 0.53 mg/dL 0.80 – 1.30 Karbohidrat - HbA1C 8.6 % 4.5 - 6.5 - Glukosa Darah Sewaktu 299 g/dL 70 - 150 IMUNOSEROLOGI Troponin I 0.01 Ng/mL < 0.03
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Chest Pain
Kode ICD-10: R07.9
Deskripsi Singkat: Nyeri dada, tidak spesifik.
Kondisi: Hypertensive Heart Disease
Kode ICD-10: I11.9
Deskripsi Singkat: Penyakit jantung hipertensi tanpa gagal jantung (kongestif).
Kondisi: Diabetes Mellitus, type 2, uncontrolled
Kode ICD-10: E11.65
Deskripsi Singkat: Diabetes melitus tipe 2 dengan hiperglikemia yang tidak terkontrol.
Kondisi: Essential (primary) hypertension
Kode ICD-10: I10
Deskripsi Singkat: Hipertensi primer (esensial).
-
Article No. 21818 | 30 Sep 2025
Klinis : Kelopak mata bengkak, terkadang disertai keluarnya cairan nanah atau kerak
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Blefaritis
Kode ICD-10: H01.0
Deskripsi Singkat (perkiraan 500 kata): Blefaritis adalah peradangan pada kelopak mata, khususnya di area di mana bulu mata tumbuh. Kondisi ini sangat umum dan sering menjadi masalah kronis yang sulit diobati. Blefaritis biasanya menyebabkan kelopak mata menjadi merah, bengkak, dan terasa gatal atau seperti terbakar. Gejala khas yang Anda sebutkan, seperti kelopak mata bengkak disertai keluarnya cairan nanah atau pembentukan kerak, sangat sesuai dengan gambaran blefaritis. Kerak ini, yang sering terlihat seperti ketombe di pangkal bulu mata, terutama terasa ketika bangun tidur dan dapat membuat mata sulit dibuka.
Penyebab blefaritis beragam. Seringkali, kondisi ini dikaitkan dengan infeksi bakteri (biasanya Staphylococcus), disfungsi kelenjar minyak (kelenjar Meibom) di kelopak mata, atau kondisi kulit seperti rosacea dan dermatitis seboroik. Blefaritis dapat dibagi menjadi dua jenis utama: blefaritis anterior (mempengaruhi bagian luar kelopak mata di mana bulu mata menempel) dan blefaritis posterior (mempengaruhi bagian dalam kelopak mata, tempat kelenjar Meibom berada). Blefaritis posterior, atau disfungsi kelenjar Meibom, terjadi ketika kelenjar ini tersumbat, sehingga minyak yang tidak normal dihasilkan dan mengiritasi mata.
Selain bengkak dan kerak, gejala lain dapat termasuk mata berair, merah, dan berpasir; sensasi terbakar atau menyengat; kelopak mata yang lengket; fotofobia (sensitif terhadap cahaya); bulu mata yang tumbuh abnormal atau rontok; dan penglihatan yang kabur. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah timbulnya bintitan (hordeolum) atau chalazion, mata kering kronis, dan kerusakan pada kornea akibat iritasi terus-menerus.
Penanganan blefaritis berfokus pada manajemen gejala dan menjaga kebersihan kelopak mata, karena kondisi ini seringkali kambuhan. Kompres hangat yang dioleskan ke kelopak mata tertutup dapat membantu melunakkan kerak dan minyak yang mengeras. Pijatan lembut kemudian dapat dilakukan untuk mengeluarkan sekresi dari kelenjar. Pembersihan kelopak mata setiap hari dengan sampo bayi encer atau pembersih kelopak mata khusus sangat dianjurkan untuk menghilangkan kotoran, minyak berlebih, dan bakteri. Dalam kasus infeksi bakteri, dokter mungkin meresepkan salep antibiotik atau tetes mata. Untuk peradangan yang signifikan, tetes mata steroid jangka pendek mungkin digunakan. Perubahan gaya hidup, seperti menghindari riasan mata dan menjaga kebersihan tangan, juga penting untuk mencegah kekambuhan. -
Article No. 21819 | 30 Sep 2025
Klinis : gangguan penyalahgunaan zat
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Penyalahgunaan Zat
Kode SDKI: 00096
Deskripsi Singkat: Sindrom ketergantungan zat adalah kondisi di mana individu mengalami ketergantungan fisik dan psikologis terhadap suatu zat, ditandai dengan pola penggunaan yang kompulsif, toleransi, dan gejala putus zat (withdrawal) ketika penggunaan dihentikan atau dikurangi. Kondisi ini menyebabkan gangguan signifikan dalam fungsi sosial, okupasional, dan kesehatan fisik individu. Perilaku mencari zat menjadi prioritas utama, seringkali mengabaikan tanggung jawab dan konsekuensi negatif. Dampaknya meliputi kerusakan organ, gangguan mental, isolasi sosial, masalah hukum, dan finansial. Asuhan keperawatan berfokus pada manajemen gejala putus zat, pencegahan komplikasi, meningkatkan motivasi untuk berubah, dan mengembangkan strategi koping yang sehat untuk mencapai dan mempertahankan abstinensia.
Kode SLKI: 4326
Deskripsi : Manajemen Abstinensia Zat. Intervensi ini bertujuan untuk membantu pasien secara aman melalui proses detoksifikasi dan mengatasi gejala putus zat. Perawat memantau tanda-tanda vital dan status neurologis secara ketat untuk mendeteksi komplikasi potensial seperti kejang atau delirium. Manajemen gejala fisik seperti mual, nyeri, dan agitasi dilakukan dengan pemberian farmakoterapi sesuai protokol. Perawat juga memberikan dukungan psikologis untuk mengatasi kecemasan, depresi, dan craving (keinginan kuat untuk menggunakan zat) yang menyertai proses abstinensia. Lingkungan yang tenang dan suportif diciptakan untuk mengurangi stres dan memfasilitasi penyembuhan. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang proses abstinensia dan apa yang diharapkan merupakan bagian integral dari intervensi ini, membantu mengurangi ketakutan dan meningkatkan kerja sama.
Kode SIKI: 4326A
Deskripsi : Monitor tanda dan gejala putus zat. Kriteria hasil ini mengukur sejauh mana perawat berhasil memantau dan mengidentifikasi manifestasi klinis dari sindrom putus zat. Ini termasuk pemantauan terus-menerus terhadap tanda-tanda vital (denyut nadi, tekanan darah, suhu, frekuensi pernapasan) untuk mendeteksi ketidakstabilan seperti takikardia, hipertensi, atau hipertermia. Perawat juga mengamati dengan cermat gejala otonom seperti berkeringat, pupil melebar (midriasis), hidung meler, dan menguap. Gejala gastrointestinal seperti mual, muntah, diare, dan kram perut dicatat. Selain itu, status mental dan neurologis dinilai untuk mendeteksi adanya kecemasan, iritabilitas, agitasi, tremor, gangguan orientasi, halusinasi, atau potensi kejang. Dokumentasi yang akurat dan terperinci tentang onset, intensitas, dan durasi gejala sangat penting untuk menyesuaikan rencana terapi dan mencegah komplikasi yang mengancam jiwa. Tindakan ini merupakan fondasi dari manajemen abstinensia yang aman dan efektif, memastikan intervensi yang tepat waktu dan sesuai.
-
Article No. 21820 | 30 Sep 2025
Klinis : gangguan pola tidur
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gangguan Tidur Tidak Tertentu
Kode ICD-10: G47.9
Deskripsi Singkat (perkiraan 250 kata): Gangguan pola tidur, atau yang dalam terminologi klinis sering diklasifikasikan sebagai gangguan tidur tidak tertentu, mengacu pada segala bentuk disfungsi dalam kuantitas, kualitas, atau waktu tidur yang menyebabkan distress secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, okupasional, atau area penting lainnya. Kondisi ini merupakan istilah payung yang mencakup kesulitan untuk memulai atau mempertahankan tidur (insomnia), tidur yang berlebihan (hipersomnia), atau pola tidur yang tidak teratur. Gangguan ini dapat bersifat sementara, akut, atau kronis, dan sering kali merupakan gejala dari masalah mendasar lainnya, seperti stres psikologis, gangguan kecemasan, depresi, kondisi medis tertentu (seperti nyeri kronis atau sleep apnea), atau gaya hidup (seperti kerja shift atau konsumsi kafein berlebihan). Dampaknya signifikan terhadap kualitas hidup, menyebabkan kelelahan di siang hari, penurunan konsentrasi, mudah marah, gangguan memori, dan penurunan performa kerja atau akademik. Diagnosis biasanya melibatkan evaluasi menyeluruh terhadap riwayat medis, kebiasaan tidur (sering menggunakan buku harian tidur), dan terkadang studi tidur (polisomnografi) untuk menyingkirkan gangguan tidur spesifik lainnya. Penanganannya bersifat holistik, dapat mencakup terapi perilaku kognitif untuk insomnia (CBT-I), perbaikan kebersihan tidur (seperti menjaga jadwal tidur yang teratur dan menciptakan lingkungan tidur yang nyaman), dan dalam beberapa kasus, obat-obatan untuk jangka pendek, dengan tujuan utama memulihkan pola tidur yang sehat dan restoratif.