Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 6645 | 21 Nov 2024
Klinis : Seorang anak laki-laki usia 3 tahun datang dengan keluarga ke IGD dengan keluhan yaitu sering mimisan dan gusi mudah sekali berdarah. Dari hasil pengkajian didapatkan Keadaan umum lemah, konjungtiva anemis, terdapat sebuah tanda biru pada lengan serta jari-jari tangan balita. Hasil TTV menunjukan RR 28 x/menit, HR 115 x/menit, suhu 37,8˚C, BB 12 kg, Hb 8,3 gr/dl, RBC 2,82 x 106 /uL. Apakah masalah diagnnosa keperawatan utama pada kasus
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan rinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan untuk kasus yang Anda berikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan utama yang sesuai untuk kasus ini adalah "Penurunan Volume Darah" (Hypovolemia). Hal ini didasarkan pada gejala yang muncul, yaitu sering mimisan, gusi mudah berdarah, konjungtiva anemis, dan adanya tanda kebiruan pada lengan serta jari-jari tangan balita. Temuan ini menunjukkan adanya penurunan volume darah dalam tubuh pasien.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Keseimbangan Cairan: Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan yang adekuat, yang ditandai dengan:
- Tidak ada tanda-tanda dehidrasi (misalnya, turgor kulit baik, mukosa lembab, intake dan output cairan seimbang)
- Tanda-tanda vital dalam rentang normal sesuai usia
- Tidak terjadi perdarahan lanjut
2. Perfusi Jaringan: Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan pasien dapat mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat, yang ditandai dengan:
- Pemulihan nilai Hb dan RBC dalam rentang normal sesuai usia
- Tidak ada tanda-tanda pucat atau sianosis
- Capillary refill time kurang dari 2 detik
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Cairan:
- Pantau tanda-tanda vital secara berkala
- Catat intake dan output cairan secara akurat
- Berikan cairan intravena sesuai kebutuhan untuk mengganti volume darah yang hilang
- Pantau status hidrasi pasien (turgor kulit, mukosa, produksi urin)
2. Perawatan Perdarahan:
- Identifikasi penyebab perdarahan dan lakukan penghentian perdarahan
- Berikan kompres dingin pada area yang mengalami perdarahan untuk membantu vasokonstriksi
- Berikan terapi oksigen sesuai kebutuhan
- Observasi tanda-tanda perdarahan lebih lanjut
3. Manajemen Anemia:
- Berikan suplemen besi sesuai kebutuhan untuk meningkatkan kadar Hb
- Anjurkan asupan nutrisi yang kaya zat besi, vitamin, dan mineral
- Pantau respons hematologis (Hb, RBC) secara berkala
4. Edukasi Keluarga:
- Jelaskan penyebab dan penatalaksanaan kondisi pasien
- Ajarkan keluarga mengenai tanda-tanda perdarahan dan komplikasinya
- Beri panduan perawatan di rumah dan kapan harus kembali ke fasilitas kesehatan
Dengan intervensi keperawatan yang komprehensif dan berfokus pada manajemen cairan, perawatan perdarahan, manajemen anemia, serta edukasi keluarga, diharapkan pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan, perfusi jaringan yang adekuat, dan mencegah komplikasi lebih lanjut. -
Article No. 6646 | 21 Nov 2024
Klinis : Pasien tidak mau berbicara
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Komunikasi Verbal Terganggu
Penjelasan:
Berdasarkan kondisi pasien yang tidak mau berbicara, dapat ditetapkan diagnosa keperawatan "Komunikasi Verbal Terganggu" sesuai dengan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
Komunikasi Verbal Terganggu didefinisikan sebagai keterbatasan atau ketidakmampuan untuk menerima atau menyampaikan pesan verbal yang efektif.
Penyebab:
1. Faktor psikologis, seperti kecemasan, depresi, atau trauma
2. Gangguan neurologis, seperti afasia
3. Gangguan fisik, seperti intubasi atau disfungsi organ
Karakteristik:
1. Pasien menolak atau tidak mampu berbicara
2. Pasien menggunakan komunikasi non-verbal yang terbatas
3. Pasien mengalami kesulitan dalam memahami atau menyampaikan pesan verbal
Intervensi Keperawatan:
1. Identifikasi penyebab komunikasi verbal terganggu
2. Ciptakan lingkungan yang mendukung komunikasi
3. Gunakan komunikasi non-verbal yang efektif
4. Libatkan keluarga dalam proses komunikasi
5. Berikan edukasi dan dukungan psikologis
Luaran Keperawatan (SLKI):
1. Kemampuan berkomunikasi verbal membaik
2. Pasien dapat mengekspresikan kebutuhan dan perasaannya
3. Tercapainya interaksi yang efektif antara pasien dan petugas kesehatan
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Terapi Komunikasi
2. Manajemen Lingkungan: Komunikasi
3. Dukungan Psikososial
Dengan pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif, diharapkan pasien dapat memulihkan kemampuan komunikasi verbalnya dan mencapai hasil akhir yang optimal. -
Article No. 6647 | 21 Nov 2024
Klinis : defisit perawatan diri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi defisit perawatan diri.
Diagnosa Keperawatan:
Defisit Perawatan Diri
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Defisit Perawatan Diri didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas perawatan diri secara mandiri. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti penurunan kemampuan fisik, kognitif, atau psikologis.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari penanganan Defisit Perawatan Diri adalah pasien dapat melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri atau dengan bantuan minimal. Hal ini dapat dicapai melalui intervensi keperawatan yang berfokus pada peningkatan kemampuan, penggunaan alat bantu, dan pendidikan kesehatan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi Defisit Perawatan Diri mencakup:
1. Perawatan Diri: Membantu pasien dalam melakukan aktivitas perawatan diri, seperti mandi, berpakaian, makan, dan menggunakan toilet.
2. Latihan Kemampuan Perawatan Diri: Memberikan latihan dan bimbingan untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri.
3. Penggunaan Alat Bantu: Menyediakan dan mengajarkan penggunaan alat bantu yang dapat memfasilitasi aktivitas perawatan diri.
4. Pendidikan Kesehatan: Memberikan edukasi dan konseling kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya perawatan diri dan strategi untuk meningkatkan kemandirian.
Dengan penerapan pendekatan yang komprehensif berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI, diharapkan pasien dengan Defisit Perawatan Diri dapat meningkatkan kemandirian dan kualitas hidup. -
Article No. 6648 | 21 Nov 2024
Klinis : defisit perawatan diri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, akan saya berikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi defisit perawatan diri.
Diagnosa Keperawatan:
Defisit Perawatan Diri
Penjelasan:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Defisit Perawatan Diri adalah ketidakmampuan individu untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas perawatan diri secara mandiri. Hal ini dapat disebabkan oleh penurunan fungsi fisik, kognitif, atau psikososial.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari penanganan kondisi defisit perawatan diri adalah peningkatan kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri, seperti mandi, berpakaian, berhias, makan, dan toileting.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat diberikan untuk menangani kondisi defisit perawatan diri meliputi:
a. Manajemen Perawatan Diri: Membantu pasien dalam melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan kemampuannya.
b. Pelatihan Perawatan Diri: Memberikan edukasi dan pelatihan kepada pasien untuk meningkatkan kemampuan dalam melakukan aktivitas perawatan diri.
c. Modifikasi Lingkungan: Menyediakan alat bantu dan melakukan perubahan pada lingkungan untuk memfasilitasi kemandirian pasien dalam perawatan diri.
Sebagai perawat, saya akan melakukan penilaian yang komprehensif untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan defisit perawatan diri pada pasien. Selanjutnya, saya akan menyusun rencana perawatan yang berpusat pada pasien, melibatkan pasien dan keluarga, serta menerapkan intervensi keperawatan yang sesuai dengan standar SDKI, SLKI, dan SIKI untuk membantu pasien mencapai kemandirian dalam perawatan diri. -
Article No. 6649 | 21 Nov 2024
Klinis : Nyeri dada kiri seperti tertindih menjalar ke rahang
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Nyeri Dada Berhubungan dengan Masalah Kardiovaskular
Penjelasan singkat:
Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI):
Nyeri dada kiri seperti tertindih menjalar ke rahang merupakan salah satu indikator dari diagnosa keperawatan "Nyeri Dada Berhubungan dengan Masalah Kardiovaskular". Nyeri dada seperti ini dapat disebabkan oleh kondisi jantung seperti angina pektoris atau serangan jantung.
Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):
Luaran keperawatan yang diharapkan pada pasien dengan diagnosa ini adalah pengurangan tingkat nyeri, peningkatan kemampuan aktivitas, dan penurunan risiko komplikasi.
Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan meliputi manajemen nyeri, edukasi tentang kondisi, dan pemantauan tanda-tanda vital serta pemeriksaan jantung. Tujuannya adalah untuk mengatasi nyeri, meningkatkan pemahaman pasien, dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Tone: Akademis
Persona: Pakar -
Article No. 6651 | 21 Nov 2024
Klinis : badab lemas, sering lapar dan sering kencing gds 250
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci terkait dengan kondisi yang Anda paparkan.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien yang mengalami badan lemas, sering lapar, dan sering kencing dengan GDS 250 adalah "Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang Dari Kebutuhan Tubuh".
Penjelasan:
- Badan lemas dan sering lapar merupakan tanda-tanda klinis dari ketidakseimbangan nutrisi, yang menunjukkan bahwa asupan nutrisi ke dalam tubuh kurang dari kebutuhan tubuh.
- Sering kencing dengan GDS 250 mengindikasikan adanya diabetes mellitus, yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan nutrisi.
- Diagnosa keperawatan "Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang Dari Kebutuhan Tubuh" sesuai dengan kondisi pasien yang ditandai dengan gejala-gejala tersebut.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
- Pemeliharaan Berat Badan: Berat badan pasien dapat dipertahankan dalam rentang normal.
- Keseimbangan Cairan: Pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan yang adekuat.
- Kontrol Glikemik: Pasien dapat mempertahankan kadar gula darah dalam rentang normal.
Penjelasan:
- Pemeliharaan Berat Badan: Diharapkan berat badan pasien dapat dipertahankan dalam rentang normal setelah diberikan asuhan keperawatan yang tepat.
- Keseimbangan Cairan: Diharapkan pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan yang adekuat, sehingga tidak lagi mengalami sering kencing.
- Kontrol Glikemik: Diharapkan pasien dapat mempertahankan kadar gula darah dalam rentang normal, sehingga dapat mencegah komplikasi diabetes.
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
- Manajemen Nutrisi
- Identifikasi kebutuhan nutrisi pasien
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana diet yang sesuai
- Edukasi kepada pasien dan keluarga terkait pola makan yang sehat
- Manajemen Cairan
- Monitor intake dan output cairan pasien
- Berikan edukasi tentang pentingnya asupan cairan yang adekuat
- Kolaborasi dengan Tim Kesehatan untuk pemberian terapi cairan jika diperlukan
- Manajemen Diabetes
- Monitor kadar gula darah secara berkala
- Kolaborasi dengan dokter untuk pengaturan terapi farmakologis (obat-obatan)
- Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pengelolaan diabetes
Penjelasan:
- Manajemen Nutrisi: Bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan nutrisi pasien, menyusun rencana diet yang sesuai, serta memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga untuk mempertahankan berat badan dalam rentang normal.
- Manajemen Cairan: Bertujuan untuk menjaga keseimbangan cairan pasien, memantau asupan dan pengeluaran cairan, serta memberikan edukasi tentang pentingnya asupan cairan yang adekuat.
- Manajemen Diabetes: Bertujuan untuk memantau kadar gula darah, mengatur terapi farmakologis, serta memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga untuk mencapai kontrol glikemik yang optimal.
Dengan melaksanakan intervensi keperawatan yang komprehensif dan berkoordinasi dengan tim kesehatan lainnya, diharapkan pasien dapat mencapai luaran yang diharapkan, yaitu pemeliharaan berat badan, keseimbangan cairan, dan kontrol glikemik yang baik. -
Article No. 6652 | 21 Nov 2024
Klinis : Stemi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan Utama:
Risiko Penurunan Curah Jantung berhubungan dengan disfungsi miokard akut
Penjelasan:
Sesuai dengan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), diagnosis keperawatan utama yang sesuai untuk kondisi STEMI (ST-Elevation Myocardial Infarction) adalah "Risiko Penurunan Curah Jantung berhubungan dengan disfungsi miokard akut".
Kondisi STEMI dapat menyebabkan kerusakan atau disfungsi pada otot jantung (miokard), yang selanjutnya dapat mengganggu kemampuan jantung untuk memompa darah secara efektif ke seluruh tubuh. Hal ini berisiko menyebabkan penurunan curah jantung, yang dapat mengancam perfusi jaringan vital.
Berdasarkan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), luaran utama yang diharapkan adalah Curah Jantung dan Perfusi Jaringan yang adekuat. Sedangkan berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), intervensi utama yang diperlukan adalah Manajemen Kardiovaskular, yang meliputi pemantauan tanda-tanda vital, pemberian oksigenasi, tindakan reperfusi, dan tatalaksana farmakologis.
Sebagai perawat yang berpengalaman, saya akan melakukan pengkajian yang komprehensif, memantau status hemodinamik pasien secara ketat, dan berkoordinasi dengan tim medis untuk memastikan penatalaksanaan STEMI yang optimal, guna mencegah komplikasi dan memulihkan kondisi pasien sebaik mungkin. -
Article No. 6653 | 21 Nov 2024
Klinis : Ecg st depresi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi ECG ST depresi.
Diagnosa Keperawatan:
Pola Aktifitas Jantung Tidak Efektif
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Pola Aktifitas Jantung Tidak Efektif didefinisikan sebagai ketidakmampuan jantung untuk memompa darah secara adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Tanda dan gejala utamanya adalah adanya depresi segmen ST pada pemeriksaan EKG.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari diagnosa ini adalah Pemulihan Pola Aktifitas Jantung, yang ditandai dengan:
1. Tanda vital dalam batas normal
2. Tidak ada depresi segmen ST pada pemeriksaan EKG
3. Perfusi jaringan adekuat
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain:
1. Pemantauan tanda-tanda vital secara berkala
2. Pemantauan hasil pemeriksaan EKG
3. Pemberian oksigen sesuai indikasi
4. Manajemen nyeri dada, jika ada
5. Edukasi pasien dan keluarga mengenai penyakit jantung dan faktor risikonya
Dengan pendekatan ini, diharapkan pasien dapat pulih dan mencapai pola aktifitas jantung yang efektif. -
Article No. 6654 | 21 Nov 2024
Klinis : Tiga orang mahasiswa semester akhir yang sedang menyelesaikan skripsi saling menceritakan kebiasaan tidur dalam waktu satu bulan ini. Mahasiswa A: "dalam sebulan ini, aku belum konsul lagi loh, setiap hari badan terasa ngantuk terus; bagun tidur, makan terus tidur lagi, jadinya malas untuk membuka laptop mengerjakan skripsi." Mahasiswa B: "kalau aku, dalam sebulan ini setiap kali bangun tidur badan terasa capek, tidur mudah terbangun bahkan kadang merasa tidak mengantuk padahal sudah malam." Mahasiswa C:"kualitas tidur buruk tu...!"
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan penjelasan dari ketiga mahasiswa, dapat diketahui bahwa mereka mengalami masalah terkait tidur atau gangguan pola tidur. Berikut adalah diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi tersebut, beserta penjelasan singkat menggunakan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Pola Tidur
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Definisi: Gangguan kemampuan untuk mempertahankan atau meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur yang dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan:
- Pola tidur membaik
- Kualitas tidur membaik
- Tingkat energi meningkat
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi yang dapat dilakukan:
- Asesmen tidur
- Pengaturan lingkungan tidur
- Teknik relaksasi
- Edukasi mengenai higiene tidur
- Konseling terkait masalah tidur
Penjelasan singkat:
Mahasiswa A, B, dan C mengalami gangguan pola tidur yang ditandai dengan pola tidur yang tidak teratur, kualitas tidur yang buruk, dan tidak merasa segar saat bangun tidur. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti stres dalam mengerjakan skripsi, lingkungan tidur yang kurang mendukung, atau gaya hidup yang tidak sehat. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah melalui asesmen tidur, pengaturan lingkungan tidur, teknik relaksasi, edukasi mengenai higiene tidur, dan konseling terkait masalah tidur, sehingga diharapkan pola tidur dan kualitas tidur mahasiswa dapat membaik dan tingkat energi mereka meningkat. -
Article No. 6447 | 20 Nov 2024
Klinis : Pasien mengeluh demam dan muntah, ada kejang kurang lebih 15 detik, ada batuk berdahak
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berdasarkan gejala yang Anda deskripsikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat menggunakan standar SDKI - SLKI - SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
1. Diagnosa Keperawatan: Risiko Kejang
Penjelasan:
- Risiko Kejang adalah kemungkinan terjadi peningkatan aktivitas elektrik abnormal dan sinkronisasi di dalam otak yang menyebabkan perubahan perilaku, kesadaran, dan/atau fungsi motorik.
- Faktor risiko yang mungkin terjadi pada kondisi pasien ini antara lain demam, infeksi, dan gangguan metabolik.
- Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan mencakup pemantauan tanda-tanda vital, manajemen demam, pemberian obat antikonvulsan, dan edukasi kepada pasien/keluarga.
2. Diagnosa Keperawatan: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Penjelasan:
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif adalah ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
- Faktor yang mungkin terkait pada kondisi pasien ini adalah batuk produktif dan perubahan konsistensi sekresi.
- Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain suction, pemberian bronkodilator, dan latihan batuk efektif.
3. Diagnosa Keperawatan: Hipertermia
Penjelasan:
- Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh di atas batas normal akibat kegagalan mekanisme pengaturan suhu tubuh.
- Faktor yang mungkin terkait pada kondisi pasien ini adalah infeksi.
- Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan mencakup pemantauan tanda-tanda vital, manajemen demam, pemberian cairan, dan penggunaan kompres hangat/dingin.
Harap dicatat bahwa diagnosa keperawatan dan intervensi yang diuraikan di atas merupakan rekomendasi berdasarkan gejala yang diberikan. Evaluasi dan penegakan diagnosa yang lebih tepat memerlukan pengkajian dan pemeriksaan fisik yang lebih lengkap oleh perawat atau tenaga kesehatan profesional.