Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 6951 | 25 Nov 2024
Klinis : pasien datang dengan keluhan demam
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan kondisi yang Anda sampaikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat menurut SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
1. Hipertermia
- Definisi: Peningkatan suhu tubuh di atas nilai normal.
- Penyebab: Infeksi, dehidrasi, cedera, penyakit kronis, atau reaksi obat.
- Tanda dan Gejala: Suhu tubuh tinggi, kulit terasa panas, menggigil, sakit kepala, dan kelelahan.
Luaran Keperawatan (SLKI):
1. Suhu Tubuh Normal
- Kriteria Hasil: Pasien menunjukkan suhu tubuh normal (36,5-37,5°C).
- Indikator: Pasien mampu mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen Demam
- Tujuan: Menurunkan suhu tubuh pasien.
- Aktivitas Keperawatan:
- Monitor suhu tubuh secara berkala.
- Berikan cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi.
- Gunakan kompres hangat atau dingin untuk menurunkan suhu.
- Berikan obat antipiretik sesuai instruksi dokter.
- Anjurkan istirahat yang cukup.
Dalam pendekatan akademis dan sebagai seorang pakar, saya menyarankan untuk menerapkan intervensi keperawatan yang komprehensif untuk mengatasi hipertermia pada pasien. Pemantauan suhu tubuh secara teratur, pemberian cairan, penggunaan kompres, dan pemberian obat antipiretik dapat membantu menurunkan suhu tubuh pasien dan menjaga agar suhu tetap dalam batas normal. Selain itu, istirahat yang cukup juga penting untuk pemulihan pasien. -
Article No. 6952 | 25 Nov 2024
Klinis : tindakan keperawatan pada pelaku kekrasan hingga korban bundir terhadap tindakan memalukan
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk kondisi yang Anda sampaikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi pelaku kekerasan hingga korban bunuh diri terhadap tindakan memalukan adalah "Risiko Perilaku Kekerasan". Diagnosa ini didasarkan pada adanya perilaku agresif, impulsif, atau destruktif yang dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Kontrol Perilaku: Pasien mampu mengendalikan perilaku kekerasan atau agresi yang muncul.
2. Keamanan Diri: Pasien bebas dari bahaya atau cedera yang dapat ditimbulkan oleh perilaku kekerasan.
3. Integritas Fisik: Pasien bebas dari cedera fisik akibat perilaku kekerasan.
4. Dukungan Sosial: Pasien memperoleh dukungan sosial yang memadai untuk mengatasi perilaku kekerasan.
5. Stabilitas Emosional: Pasien mencapai keseimbangan emosional yang memadai untuk mengendalikan perilaku kekerasan.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Perilaku Kekerasan:
- Identifikasi pemicu penyebab perilaku kekerasan
- Kembangkan rencana intervensi untuk mengendalikan perilaku kekerasan
- Terapkan teknik pengendalian perilaku kekerasan (misalnya teknik relaksasi, pengalihan perhatian, dll.)
- Evaluasi efektivitas intervensi dan lakukan penyesuaian jika diperlukan
2. Pencegahan Cedera:
- Ciptakan lingkungan yang aman dan mendukung untuk mencegah cedera
- Ajarkan pasien dan keluarga teknik manajemen perilaku kekerasan
- Monitor tanda-tanda perilaku kekerasan dan lakukan intervensi segera jika diperlukan
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk memastikan keamanan pasien
3. Dukungan Emosional:
- Identifikasi sumber stres dan tantangan yang dihadapi pasien
- Berikan empati, dukungan, dan validasi perasaan pasien
- Dorong pasien untuk mengekspresikan perasaan dan membicarakan masalah yang dihadapi
- Libatkan keluarga atau significant other untuk memberikan dukungan emosional
4. Edukasi Kesehatan:
- Jelaskan tentang perilaku kekerasan, penyebab, dan dampaknya
- Ajarkan teknik manajemen stres dan pengendalian emosi
- Berikan informasi tentang sumber bantuan dan dukungan yang tersedia
- Dorong pasien dan keluarga untuk aktif terlibat dalam proses perawatan
Penerapan intervensi keperawatan yang komprehensif dan kolaboratif diharapkan dapat membantu pasien dalam mengendalikan perilaku kekerasan, mencegah cedera, meningkatkan stabilitas emosional, dan memperoleh dukungan sosial yang memadai. -
Article No. 6953 | 25 Nov 2024
Klinis : kejang
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan: Resiko Trauma Fisik
Penjelasan:
Berdasarkan Standar Diagnostik Keperawatan Indonesia (SDKI), kondisi kejang dapat dikategorikan sebagai Resiko Trauma Fisik. Resiko Trauma Fisik didefinisikan sebagai keadaan rentan terhadap cedera fisik yang dapat mengakibatkan kerusakan pada struktur atau fungsi tubuh.
Dalam konteks kejang, pasien berisiko mengalami trauma fisik akibat gerakan otot yang tidak terkendali selama episode kejang. Hal ini dapat menyebabkan cedera pada kepala, tulang, atau bagian tubuh lainnya. Selain itu, pasien juga dapat mengalami aspirasi atau hipoksia selama kejang, yang dapat menimbulkan komplikasi lebih lanjut.
Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) menetapkan bahwa hasil yang diharapkan dari penanganan Resiko Trauma Fisik adalah pasien dapat mempertahankan integritas fisik dan mencegah komplikasi. Sedangkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) merekomendasikan intervensi-intervensi seperti pemantauan tanda-tanda vital, manajemen kejang, pencegahan komplikasi, dan edukasi kepada pasien dan keluarga.
Sebagai perawat, peran saya adalah mengidentifikasi faktor risiko, memantau kondisi pasien secara ketat, memberikan intervensi keperawatan yang tepat, serta bekerja sama dengan tim kesehatan lainnya untuk meminimalkan risiko trauma fisik pada pasien yang mengalami kejang. -
Article No. 6954 | 25 Nov 2024
Klinis : resiko kejang
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi risiko kejang.
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Kejang
Definisi:
Keadaan di mana individu berisiko mengalami perubahan pola aktivitas listrik otak yang tidak normal, yang dapat menyebabkan gerakan yang tidak terkendali pada sebagian atau seluruh tubuh.
Faktor Risiko (SDKI):
1. Riwayat kejang sebelumnya
2. Peningkatan suhu tubuh
3. Gangguan keseimbangan elektrolit
4. Perubahan pola tidur
5. Stres
Tujuan (SLKI):
1. Tidak terjadi kejang
2. Tidak terjadi cedera akibat kejang
3. Tidak terjadi perburukan kondisi yang menyebabkan kejang
Intervensi (SIKI):
1. Observasi tanda-tanda vital dan gejala awal kejang
2. Pemberian obat anti-kejang sesuai resep
3. Pencegahan trauma akibat kejang
4. Pengaturan lingkungan yang aman
5. Edukasi terkait faktor risiko dan pencegahan kejang
Peran perawat sebagai pakar adalah mengidentifikasi faktor risiko, merencanakan intervensi yang tepat, dan memantau efektivitas penanganan untuk mencegah terjadinya kejang dan komplikasi yang mungkin timbul. Perawat juga berperan dalam memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga terkait kondisi ini. -
Article No. 6955 | 25 Nov 2024
Klinis : PASIEN MENGELUH NYERI
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk pasien yang mengeluh nyeri.
Diagnosa Keperawatan:
Nyeri Akut
Penjelasan:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Nyeri Akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut (International Association for the Study of Pain, 1979). Nyeri akut ditandai dengan munculnya nyeri yang tiba-tiba dan intensitasnya dapat bervariasi, serta dapat berlangsung dari beberapa menit hingga beberapa hari.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari pasien dengan diagnosa Nyeri Akut adalah:
a. Pasien dapat melaporkan pengurangan nyeri.
b. Pasien dapat mendemonstrasikan teknik pengurangan nyeri yang efektif.
c. Pasien dapat melaporkan peningkatan kemampuan beraktivitas.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan untuk mengatasi Nyeri Akut meliputi:
a. Manajemen nyeri: Mengidentifikasi karakteristik nyeri, mengkaji respon pasien terhadap nyeri, dan melakukan intervensi farmakologis maupun non-farmakologis untuk mengurangi nyeri.
b. Terapi relaksasi: Mengajarkan teknik relaksasi seperti napas dalam, distraksi, atau imagery untuk membantu pasien mengatasi nyeri.
c. Manajemen aktivitas: Mengatur aktivitas dan istirahat pasien untuk mencegah dan mengurangi nyeri.
Dalam praktik keperawatan, diagnosa, luaran, dan intervensi ini digunakan sebagai panduan untuk memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan efektif bagi pasien yang mengalami nyeri akut. -
Article No. 6956 | 25 Nov 2024
Klinis : PASIEN MENGELUH NYERI
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci terkait dengan kondisi pasien yang mengeluh nyeri.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi pasien yang mengeluh nyeri adalah "Nyeri Akut". Nyeri akut didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau diuraikan dalam istilah seperti itu (International Association for the Study of Pain, 1979).
Karakteristik definisi ini adalah:
- Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan
- Akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial
- Diuraikan dalam istilah seperti itu
Manifestasi klinis yang dapat muncul pada pasien dengan nyeri akut antara lain: perubahan tanda-tanda vital, perubahan ekspresi wajah, perubahan perilaku, dan verbalisasi nyeri.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI)
Berdasarkan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), luaran yang diharapkan setelah pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan nyeri akut adalah:
a. Kontrol Nyeri
- Pasien dapat mengenali faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
- Pasien dapat melaporkan penurunan intensitas nyeri
- Pasien dapat mendemonstrasikan teknik manajemen nyeri yang efektif
b. Kenyamanan
- Pasien dapat melaporkan rasa nyaman
- Pasien dapat beristirahat dengan tenang
- Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan nyaman
Luaran ini menggambarkan bahwa setelah diberikan asuhan keperawatan, pasien diharapkan dapat mengendalikan nyeri yang dirasakan dan meningkatkan kenyamanannya.
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI)
Berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), beberapa intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mencapai luaran yang diharapkan pada pasien dengan nyeri akut antara lain:
a. Manajemen Nyeri
- Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
- Identifikasi penyebab dan faktor yang mempengaruhi nyeri
- Berikan analgesik sesuai resep
- Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri (misalnya relaksasi, distraksi, kompres hangat/dingin)
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk penatalaksanaan nyeri yang optimal
b. Manajemen Kenyamanan
- Sediakan lingkungan yang nyaman
- Bantu pasien untuk beristirahat dan tidur yang cukup
- Dorong pasien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuan
- Libatkan keluarga dalam upaya meningkatkan kenyamanan pasien
Intervensi-intervensi ini ditujukan untuk mengendalikan nyeri yang dirasakan pasien dan meningkatkan kenyamanannya secara holistik, baik dari aspek fisik, psikologis, sosial, maupun spiritual.
Dengan demikian, diharapkan pasien dapat mencapai luaran yang diharapkan setelah diberikan asuhan keperawatan yang komprehensif. Jika ada pertanyaan atau hal yang perlu dijelaskan lebih lanjut, saya siap untuk membantu. -
Article No. 6957 | 25 Nov 2024
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan kondisi pasien yang dijelaskan, diagnosis awal yang diberikan adalah tuberkulosis paru. Berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis:
1. Kode ICD-10:
- Kode: A15.0
- Deskripsi: Tuberkulosis paru dengan konfirmasi bakteriologis dan histologis
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 33.26
- Deskripsi: Bronkoskopi, diagnostik, dengan atau tanpa biopsi
Penjelasan:
Kode ICD-10 A15.0 digunakan untuk tuberkulosis paru dengan konfirmasi bakteriologis dan histologis. Ini sesuai dengan gejala yang dialami pasien, yaitu batuk berdahak, demam, sesak napas, dan hasil pemeriksaan menunjukkan lesi di paru.
Untuk prosedur medis, kode ICD-9-CM 33.26 (Bronkoskopi, diagnostik, dengan atau tanpa biopsi) dapat digunakan jika dokter mempertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan bronkoskopi untuk membantu menegakkan diagnosis tuberkulosis paru pada pasien ini. -
Article No. 6958 | 25 Nov 2024
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan bersihan jalan napas.
- Faktor yang Berhubungan: Produksi sekret yang berlebihan, ketidakmampuan untuk batuk efektif, kelemahan otot pernapasan.
- Tanda dan Gejala: Bunyi napas bronkial, dispnea, penggunaan otot bantu napas, sputum berlebih atau kental.
2. Intoleransi Aktivitas
- Definisi: Ketidakmampuan untuk bertoleransi terhadap aktivitas fisik.
- Faktor yang Berhubungan: Penurunan kekuatan dan daya tahan otot, penurunan kapasitas fisiologis, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
- Tanda dan Gejala: Sesak napas, kelelahan, perubahan tanda-tanda vital saat beraktivitas.
3. Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
- Definisi: Asupan nutrisi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- Faktor yang Berhubungan: Anoreksia, penurunan nafsu makan, gangguan fungsi gastrointestinal.
- Tanda dan Gejala: Berat badan menurun, penurunan massa otot, dan perubahan laboratorium terkait status nutrisi.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Bersihan Jalan Napas Efektif
- Definisi: Mampu untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan bersihan jalan napas.
- Kriteria Hasil:
- Pasien dapat batuk efektif untuk mengeluarkan sekret.
- Suara napas bronkial berkurang.
- Frekuensi napas dalam batas normal.
2. Toleransi Aktivitas Membaik
- Definisi: Kemampuan untuk mentoleransi aktivitas fisik.
- Kriteria Hasil:
- Pasien dapat melakukan aktivitas harian tanpa sesak napas atau kelelahan yang berlebihan.
- Tanda-tanda vital dalam batas normal saat beraktivitas.
- Pasien melaporkan peningkatan energi dan kekuatan.
3. Status Nutrisi Membaik
- Definisi: Pasien dapat mempertahankan berat badan yang sehat dan asupan nutrisi yang adekuat.
- Kriteria Hasil:
- Berat badan pasien meningkat atau stabil.
- Hasil laboratorium terkait status nutrisi dalam batas normal.
- Pasien melaporkan peningkatan nafsu makan.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan (SIKI):
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif:
- Monitor status pernapasan dan bunyi napas.
- Ajarkan teknik batuk efektif dan senam napas.
- Berikan humidifikasi oksigen dan nebulizer sesuai indikasi.
- Lakukan suction sesuai kebutuhan.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian bronkodilator dan mukolitik.
2. Intoleransi Aktivitas:
- Evaluasi toleransi aktivitas pasien dan batasi aktivitas sesuai kemampuan.
- Berikan latihan fisik yang bertahap sesuai toleransi.
- Ajarkan teknik pengaturan energi dalam melakukan aktivitas.
- Kolaborasi dengan fisioterapis untuk intervensi rehabilitasi.
- Pantau tanda-tanda vital saat aktivitas.
3. Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh:
- Lakukan pengkajian status nutrisi secara komprehensif.
- Berikan nutrisi enteral atau parenteral sesuai kebutuhan.
- Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi yang adekuat.
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk merencanakan diet yang sesuai.
- Monitor asupan dan output nutrisi serta berat badan pasien.
Diharapkan melalui intervensi keperawatan yang komprehensif, pasien dapat mencapai luaran yang diharapkan dan memperoleh kondisi kesehatan yang optimal. Pendekatan holistik dengan melibatkan tim kesehatan lain akan mendukung proses pemulihan pasien. -
Article No. 6959 | 25 Nov 2024
Klinis : pasien datang dengan keluhan sakit saat buang air kecil
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan kondisi pasien seperti yang Anda deskripsikan, berikut diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
Nyeri Akut
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan terkait dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial atau yang digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut.
SDKI:
- Penyebab: Agen cedera fisik (infeksi saluran kemih)
- Tanda dan Gejala: Sensasi tidak nyaman atau tidak menyenangkan, Perubahan ekspresi wajah, Perilaku protektif
- Intervensi Keperawatan: Manajemen nyeri, Pemantauan tanda-tanda vital, Edukasi pasien/keluarga
SLKI:
- Kriteria Hasil: Pasien melaporkan nyeri berkurang, Pasien tampak tenang, Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan nyaman
SIKI:
- Diagnosa Medis Terkait: Infeksi saluran kemih
- Faktor Risiko: Anatomi saluran kemih wanita, Kebersihan diri yang buruk
- Intervensi Utama: Manajemen Nyeri Akut, Edukasi Pengelolaan Nyeri, Pemantauan Tanda Vital
Dalam konteks ini, pasien datang dengan keluhan nyeri saat buang air kecil, yang dapat disebabkan oleh infeksi saluran kemih. Perawat perlu melakukan manajemen nyeri, pemantauan tanda-tanda vital, serta memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pengelolaan nyeri dan pencegahan infeksi saluran kemih. -
Article No. 6960 | 25 Nov 2024
Klinis : pasien datang dengan keluhan sakit demam pusing berputar
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan persona sebagai pakar profesional perawat, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasannya berdasarkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk pasien dengan keluhan sakit demam dan pusing berputar:
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Ketidakseimbangan Suhu Tubuh Berhubungan dengan Proses Penyakit
Penjelasan:
- SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia): Risiko Ketidakseimbangan Suhu Tubuh adalah keadaan di mana individu berisiko mengalami kenaikan atau penurunan suhu tubuh yang melebihi batas normal.
- Hal ini sesuai dengan keluhan pasien yang mengalami demam, yang merupakan tanda kenaikan suhu tubuh.
- Faktor yang berhubungan adalah proses penyakit yang sedang dialami pasien.
2. Gangguan Kenyamanan Berhubungan dengan Pusing Berputar
Penjelasan:
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Gangguan Kenyamanan adalah ketidakmampuan untuk merasakan kenyamanan secara fisik, psikologis, sosial, dan spiritual.
- Keluhan pusing berputar yang dialami pasien merupakan gangguan kenyamanan secara fisik.
- Faktor yang berhubungan adalah adanya gejala atau proses penyakit yang menyebabkan pusing berputar.
3. Defisit Pengetahuan Berhubungan dengan Kurangnya Informasi Mengenai Kondisi Kesehatan
Penjelasan:
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Defisit Pengetahuan adalah keterbatasan informasi kognitif yang dimiliki individu atau keluarga tentang kondisi kesehatan, perawatan kesehatan, dan pengobatan.
- Pasien mungkin memiliki pengetahuan yang kurang tentang kondisi kesehatannya saat ini, sehingga perlu diberikan informasi dan edukasi yang tepat.
- Hal ini penting agar pasien dapat memahami penyebab, manifestasi klinis, dan penatalaksanaan yang diperlukan.
Dengan diagnosa keperawatan tersebut, perawat dapat menyusun rencana asuhan keperawatan yang komprehensif untuk mengatasi masalah kesehatan pasien secara holistik, berdasarkan standar praktik keperawatan di Indonesia.