Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23510 | 06 Jan 2026
Klinis : Pasien mengeluh demam batuk pilek sudah 3 hari
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Peningkatan risiko invasi dan multiplikasi patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1900
Deskripsi : Manajemen Infeksi. Tujuan: Mencegah dan mengendalikan penyebaran infeksi. Kriteria hasil: 1) Pasien dan keluarga menyebutkan tanda dan gejala infeksi. 2) Pasien dan keluarga menyebutkan cara penularan infeksi. 3) Pasien dan keluarga mendemonstrasikan cara pencegahan penularan infeksi. 4) Tanda-tanda infeksi tidak muncul atau dapat dikendalikan. 5) Hasil laboratorium terkait infeksi dalam batas normal.
Kode SIKI: 4200
Deskripsi : Manajemen Infeksi. Tindakan: 1) Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal (seperti demam, menggigil, peningkatan denyut nadi dan pernapasan, kemerahan, bengkak, nyeri, adanya pus). 2) Anjurkan dan bantu kebersihan tangan (hand hygiene) pada pasien, keluarga, dan pengunjung. 3) Ajarkan etika batuk dan bersin yang benar (menggunakan tisu atau lengan baju bagian dalam, menutup mulut dan hidung). 4) Anjurkan penggunaan masker jika diperlukan. 5) Lakukan tindakan perawatan dengan teknik aseptik. 6) Tingkatkan asupan nutrisi dan cairan yang adekuat sesuai toleransi. 7) Anjurkan istirahat yang cukup. 8) Ajarkan pasien dan keluarga tentang tanda-tanda infeksi yang perlu dilaporkan. 9) Kolaborasi pemberian terapi farmakologis sesuai indikasi (seperti antipiretik, antibiotik). 10) Lakukan isolasi jika diperlukan. 11) Edukasi tentang pentingnya imunisasi.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0021
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, yang muncul tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berakhir dalam waktu 3 bulan.
Kode SLKI: 1400
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Tujuan: Mengurangi atau menghilangkan nyeri. Kriteria hasil: 1) Pasien melaporkan penurunan skala nyeri. 2) Ekspresi wajah pasien rileks. 3) Tanda vital dalam rentang normal. 4) Pasien dapat beristirahat dan beraktivitas dengan nyaman.
Kode SIKI: 2820
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Tindakan: 1) Kaji nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, intensitas dengan skala, faktor pencetus dan pereda). 2) Observasi tanda-tanda nonverbal ketidaknyamanan atau nyeri (ekspresi wajah, postur tubuh, gelisah). 3) Monitor tanda vital. 4) Ajarkan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri (seperti distraksi, relaksasi napas dalam, kompres hangat pada sinus jika nyeri kepala sinus). 5) Atur posisi yang nyaman. 6) Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk istirahat. 7) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi. 8) Evaluasi efektivitas intervensi pengurangan nyeri.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 0008
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: 0410
Deskripsi : Status Pernapasan: Ventilasi. Tujuan: Mempertahankan pertukaran udara yang adekuat. Kriteria hasil: 1) Suara napas bersih (tidak ada mengi, ronki). 2) Tidak ada sianosis. 3) Laju pernapasan dalam rentang normal sesuai usia. 4) Pasien tidak menggunakan otot bantu pernapasan. 5) Sekret dapat dikeluarkan.
Kode SIKI: 3140
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Tindakan: 1) Kaji status pernapasan (laju, irama, kedalaman, suara napas, penggunaan otot bantu). 2) Kaji kemampuan batuk dan karakteristik sputum. 3) Bantu dan ajarkan batuk efektif. 4) Anjurkan dan bantu intake cairan yang adekuat (kecuali kontraindikasi) untuk mengencerkan sekret. 5) Atur posisi semi-Fowler atau Fowler untuk memudahkan ekspansi paru. 6) Lakukan fisioterapi dada dan postural drainage jika diperlukan. 7) Ajarkan dan anjurkan napas dalam. 8) Lakukan penghisapan lendir (suction) jika diperlukan. 9) Kolaborasi pemberian terapi nebulizer atau obat mukolitik sesuai indikasi. 10) Monitor saturasi oksigen (jika tersedia).
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: 0001
Deskripsi Singkat: Suhu tubuh meningkat di atas rentang normal.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Status Termoregulasi. Tujuan: Mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal. Kriteria hasil: 1) Suhu tubuh dalam rentang normal (36,5 – 37,5°C). 2) Kulit hangat dan tidak berkeringat berlebihan. 3) Denyut nadi dan pernapasan dalam rentang normal.
Kode SIKI: 3900
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Tindakan: 1) Monitor suhu tubuh secara berkala. 2) Monitor tanda vital dan tanda dehidrasi. 3) Berikan kompres hangat/tepid sponge pada area lipatan (aksila, lipat paha) dan dahi. 4) Anjurkan penggunaan pakaian yang tipis dan menyerap keringat. 5) Atur suhu lingkungan agar nyaman dan tidak panas. 6) Tingkatkan asupan cairan oral (air putih, jus, kuah sup) untuk mencegah dehidrasi. 7) Anjurkan istirahat yang cukup untuk mengurangi produksi panas metabolik. 8) Kolaborasi pemberian antipiretik sesuai indikasi. 9) Edukasi pasien dan keluarga tentang penyebab demam dan penanganan di rumah.
-
Article No. 23493 | 05 Jan 2026
Klinis : labio palatokisis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Labio Palatoskisis (Bibir Sumbing dan Langit-langit Sumbing)
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : Tercapainya Kebutuhan Nutrisi
Kode SIKI: I.01259
Deskripsi : Manajemen Pemberian Makan
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosis Keperawatan (SDKI - D.0016): Risiko Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Definisi: Kondisi di mana individu berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Pada pasien labio palatoskisis, risiko ini sangat tinggi dan menjadi fokus utama asuhan keperawatan. Anatomi mulut dan langit-langit yang tidak utuh menyebabkan mekanisme menghisap, menelan, dan mengunyah menjadi sangat terganggu. Bayi dengan kondisi ini kesulitan membentuk tekanan negatif di dalam rongga mulut untuk menghisap ASI atau susu dari botol biasa, sehingga asupan menjadi tidak adekuat. Selain itu, makanan atau cairan sering kali masuk ke dalam rongga hidung (regurgitasi nasal) yang menyebabkan tersedak, muntah, dan ketidaknyamanan. Kesulitan makan ini berisiko menyebabkan malnutrisi, gagal tumbuh (failure to thrive), dehidrasi, dan aspirasi pneumonia. Faktor risiko lainnya termasuk peningkatan kebutuhan energi akibat usaha makan yang lebih besar dan potensi infeksi berulang. Oleh karena itu, diagnosis ini menjadi landasan untuk intervensi keperawatan yang tepat.
Luaran Keperawatan (SLKI - L.03115): Tercapainya Kebutuhan Nutrisi
Definisi: Kondisi terpenuhinya kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhan, perkembangan, dan pemeliharaan kesehatan. Luaran ini menjadi tujuan dari semua intervensi yang dilakukan. Kriteria luaran yang diharapkan pada pasien labio palatoskisis meliputi: berat badan dan panjang/tinggi badan meningkat sesuai kurva pertumbuhan (tidak terjadi penurunan persentil), tanda-tanda vital dan status hidrasi dalam batas normal (turgor kulit baik, produksi urin adekuat), tidak menunjukkan tanda-tanda malnutrisi seperti letargi atau iritabilitas berlebihan, serta keluarga/pengasuh mampu mendemonstrasikan teknik pemberian makan yang tepat. Pencapaian luaran ini dinilai secara berkala melalui pemantauan ketat pertumbuhan (plotting di kartu menuju sehat), observasi kemampuan menyusu/makan, dan evaluasi tingkat kelelahan selama proses makan. Keberhasilan mencapai luaran ini sangat krusial untuk memastikan kondisi pasien optimal sebelum menjalani tindakan bedah koreksi.
Intervensi Keperawatan (SIKI - I.01259): Manajemen Pemberian Makan
Definisi: Intervensi untuk membantu individu yang mengalami kesulitan makan untuk mencapai atau mempertahankan status nutrisi yang optimal. Intervensi ini bersifat komprehensif dan melibatkan edukasi serta dukungan praktis kepada orang tua/pengasuh. Aktivitas keperawatan spesifik meliputi: 1) Assessment: Menilai kemampuan menghisap dan menelan, mengobservasi adanya regurgitasi nasal, tersedak, atau kelelahan, serta memantau pertambahan berat badan. 2) Edukasi dan Demonstrasi Teknik Pemberian Makan: Mengajarkan posisi menyusu yang tepat (misalnya posisi tegak atau semi-duduk untuk mengurangi aliran cairan ke hidung). Merekomendasikan dan melatih penggunaan alat bantu khusus seperti botol dengan dot orthodontic lembut, dot dengan lubang besar, atau botot khusus seperti Haberman Feeder yang memungkinkan susu diperas dengan tekanan terkontrol. Mengajarkan teknik pemberian makan dengan ritme lambat, memberikan jeda untuk bersendawa, dan menjaga bayi tetap tegak selama dan setelah makan. 3) Modifikasi Tekstur Makanan: Untuk bayi yang lebih besar atau anak-anak, menyarankan pemberian makanan semi-padat atau puree yang lebih mudah ditelan dan mengurangi risiko masuk ke hidung. 4) Perawatan Pasca Makan: Membersihkan rongga mulut dan hidung dengan lembut setelah makan untuk mencegah iritasi dan infeksi. 5) Dukungan Psikososial: Memberikan dukungan emosional kepada orang tua yang mungkin merasa stres, cemas, atau bersalah, serta menguatkan bahwa kesulitan makan adalah akibat dari kondisi anatomi dan bukan ketidakmampuan mereka sebagai pengasuh. 6) Kolaborasi: Bekerja sama dengan dokter, ahli gizi, dan terapis okupasi atau wicara untuk menyusun rencana nutrisi yang individual. Intervensi ini bersifat berkelanjutan dan dievaluasi efektivitasnya secara rutin untuk memastikan kebutuhan nutrisi pasien benar-benar terpenuhi.
-
Article No. 23494 | 05 Jan 2026
Klinis : labio palatokisis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Labio Palatoskisis (Bibir Sumbing dan Langit-langit Sumbing)
Kode SDKI: 0017
Deskripsi Singkat: Risiko gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
Kode SLKI: 1007
Deskripsi : Status nutrisi pasien membaik. Pasien dengan labio palatoskisis, terutama bayi, menghadapi tantangan signifikan dalam pemenuhan nutrisi. Anatomi mulut dan langit-langit yang tidak utuh menyebabkan kesulitan menghisap, menelan, dan mempertahankan makanan/cairan di dalam rongga mulut. Hal ini berisiko tinggi menyebabkan asupan nutrisi yang tidak adekuat, aspirasi, dan gagal tumbuh. SLKI 1007 berfokus pada pencapaian status nutrisi yang optimal melalui intervensi khusus. Tujuannya adalah memastikan pertumbuhan dan perkembangan yang sesuai usia, ditandai dengan peningkatan berat badan yang adekuat, tanda-tanda hidrasi baik, dan tidak terjadi komplikasi seperti pneumonia aspirasi. Intervensi keperawatan untuk mencapai SLKI ini meliputi pemilihan dan penggunaan alat bantu menyusui yang tepat (seperti botol dan dot khusus, spuit, atau soft cup), penyesuaian posisi menyusui (misalnya posisi tegak), teknik pemberian makan dengan kecepatan terkontrol, serta pemantauan ketat tanda-tanda aspirasi dan kecukupan asupan. Edukasi dan dukungan kepada orang tua atau pengasuh mengenai teknik pemberian makan yang aman dan efektif merupakan komponen kritis dari SLKI ini.
Kode SIKI: 2007
Deskripsi : Manajemen nutrisi. SIKI 2007 adalah serangkaian tindakan keperawatan yang terencana dan ilmiah untuk mengatasi masalah atau risiko gangguan nutrisi. Pada pasien labio palatoskisis, manajemen nutrisi dimulai dengan penilaian komprehensif yang meliputi kemampuan menghisap dan menelan, adanya regurgitasi nasal, upaya batuk atau tersedak saat makan, serta pengukuran antropometri (berat badan, panjang badan, lingkar kepala) secara berkala. Tindakan inti meliputi: 1) Kolaborasi dengan dokter dan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori dan jenis nutrisi. 2) Memilih dan menyiapkan alat bantu pemberian makan yang sesuai dengan kondisi celah dan kemampuan bayi. 3) Melatih orang tua tentang posisi makan yang optimal (misalnya, mendudukkan bayi hampir tegak 60-90 derajat) untuk mengurangi aliran cairan ke hidung dan risiko aspirasi. 4) Mendemonstrasikan teknik pemberian makan dengan jeda untuk sendawa dan istirahat, serta menghindari tekanan pada dot yang dapat menyebabkan kolaps. 5) Melakukan pemberian makan dengan sabar, tidak terburu-buru. 6) Memantau durasi dan volume setiap kali pemberian makan serta mencatatnya. 7) Melakukan perawatan mulut pasca makan dengan memberikan air putih untuk membersihkan sisa susu dari celah. 8) Memantau dengan ketat tanda-tanda distress pernapasan, sianosis, atau batuk yang mengindikasikan aspirasi. 9) Memantau pertambahan berat badan dan pertumbuhan secara teratur. 10) Memberikan dukungan emosional dan psikologis kepada orang tua yang mungkin merasa stres, cemas, atau bersalah. Implementasi SIKI 2007 yang konsisten dan teliti sangat penting untuk memastikan pasien mendapatkan nutrisi yang cukup sebagai fondasi untuk tumbuh kembang yang baik dan kesiapan menjalani tindakan bedah koreksi.
-
Article No. 23495 | 05 Jan 2026
Klinis : seorang orang ibu hamil datang tidak ada keluhan tfu 23 djj 137 G 2 P1 A0 UK 27
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Kehamilan Normal Trimester Ketiga
Kode SDKI: 0001
Deskripsi Singkat: Kesiapan menjadi orang tua
Kode SLKI: 1302
Deskripsi : Kesiapan menjadi orang tua
Kode SIKI: 4201, 4202, 4203, 4204, 4205, 4206, 4207, 4208
Deskripsi : Intervensi Keperawatan untuk Meningkatkan Kesiapan Menjadi Orang Tua
Kondisi: Kehamilan Normal Trimester Ketiga
Kode SDKI: 0017
Deskripsi Singkat: Ansietas
Kode SLKI: 1402
Deskripsi : Kontrol ansietas
Kode SIKI: 4510, 4511, 4512, 4513, 4514, 4515, 4516, 4517
Deskripsi : Intervensi Keperawatan untuk Mengurangi Ansietas
Kondisi: Kehamilan Normal Trimester Ketiga
Kode SDKI: 0021
Deskripsi Singkat: Kurang pengetahuan
Kode SLKI: 1610
Deskripsi : Pengetahuan: proses persalinan
Kode SIKI: 5601, 5602, 5603, 5604, 5605, 5606, 5607, 5608, 5609, 5610
Deskripsi : Intervensi Keperawatan untuk Meningkatkan Pengetahuan
-
Article No. 23496 | 05 Jan 2026
Klinis : 3 DIAGNOSA PERITONITIS
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Peritonitis
Kode SDKI: 0015
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 2301
Deskripsi : Perilaku Pencegahan Infeksi
Kode SIKI: 4401
Deskripsi : Manajemen Infeksi
Kondisi: Peritonitis
Kode SDKI: 0001
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol Nyeri
Kode SIKI: 3401
Deskripsi : Manajemen Nyeri
Kondisi: Peritonitis
Kode SDKI: 0002
Deskripsi Singkat: Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SLKI: 1701
Deskripsi : Keseimbangan Cairan
Kode SIKI: 2101
Deskripsi : Manajemen Cairan
-
Article No. 23497 | 05 Jan 2026
Klinis : Nyeri Akut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0001
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau menyerupai kerusakan jaringan secara tiba-tiba atau lambat, dengan durasi kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Pasien mampu mengontrol nyeri dengan kriteria hasil: 1) Melaporkan nyeri dapat dikontrol, 2) Mengenali faktor penyebab, 3) Mengenali onset nyeri, 4) Menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengatasi nyeri, 5) Menggunakan analgesik dengan tepat, 6) Mematuhi regimen pengobatan nyeri, 7) Melaporkan tidur/istirahat cukup, 8) Melaporkan peningkatan aktivitas, 9) Menunjukkan ekspresi wajah rileks, 10) Menunjukkan posisi tubuh nyaman, 11) Menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang normal.
Kode SIKI: 4501
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan untuk meminimalkan atau meringankan nyeri, meliputi aktivitas: 1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, faktor presipitasi). 2) Observasi petunjuk non-verbal dari ketidaknyamanan, terutama pada pasien yang tidak mampu berkomunikasi dengan baik. 3) Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien. 4) Berikan lingkungan yang nyaman dan tindakan kenyamanan (reposisi, masase). 5) Berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab, berapa lama akan berlangsung, dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur. 6) Kontrol faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi persepsi nyeri (suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan). 7) Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologi (relaksasi napas dalam, distraksi, imajinasi terbimbing, stimulasi kutaneus). 8) Lakukan kolaborasi pemberian analgetik farmakologis sesuai indikasi. 9) Evaluasi efektivitas intervensi pengontrolan nyeri (farmakologis dan nonfarmakologis) dalam waktu yang tepat. 10) Monitor dan dokumentasi respons pasien terhadap intervensi dan adanya efek samping pengobatan. 11) Libatkan keluarga dalam manajemen nyeri sesuai kebutuhan. 12) Berikan edukasi tentang penggunaan analgetik yang aman dan tepat (dosis, waktu, efek samping). Intervensi ini bertujuan untuk mengurangi intensitas nyeri, meningkatkan kenyamanan, dan meningkatkan kemampuan pasien dalam mengelola nyeri secara mandiri.
-
Article No. 23498 | 05 Jan 2026
Klinis : seorang bayi mengalami trombositopenia, apakah rencana keperawatan serta tindakan keperawatan yang sesuai berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perdarahan pada Bayi dengan Trombositopenia
Kode SDKI: 0204
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan kehilangan darah akibat jumlah trombosit yang tidak adekuat untuk memfasilitasi hemostasis.
Kode SLKI: 0910
Deskripsi : Manajemen Perdarahan. Tujuan utama dari rencana keperawatan ini adalah untuk mencegah dan mengatasi perdarahan aktif, meminimalkan komplikasi akibat kehilangan darah, dan memastikan keselamatan bayi. Fokus SLKI ini mencakup serangkaian hasil yang diharapkan, yaitu: (1) Bayi tidak menunjukkan tanda-tanda perdarahan aktif atau baru (seperti petekie, ekimosis, epistaksis, perdarahan dari tali pusat, atau perdarahan mukosa). (2) Tanda-tanda vital bayi (denyut jantung, frekuensi napas, tekanan darah) tetap dalam rentang normal untuk usianya, menunjukkan tidak ada syok hipovolemik. (3) Kadar hemoglobin dan hematokrit bayi tetap stabil, tidak menunjukkan penurunan yang signifikan akibat perdarahan. (4) Bayi menunjukkan kulit dan membran mukosa yang utuh tanpa trauma atau lesi yang dapat memicu perdarahan. (5) Orang tua atau pengasuh memahami tanda-tanda perdarahan yang perlu dilaporkan dan tindakan pencegahan yang harus dilakukan di rumah. Pencapaian SLKI ini dinilai melalui pemantauan ketat tanda klinis, pemeriksaan laboratorium serial, dan evaluasi pemahaman keluarga.
Kode SIKI: 4230
Deskripsi : Manajemen Perdarahan. Tindakan keperawatan spesifik yang dilaksanakan untuk mencapai SLKI 0910 meliputi: (1) Pemantauan ketat dan dokumentasi tanda-tanda perdarahan setiap shift atau lebih sering jika diperlukan, termasuk inspeksi kulit (petekie, purpura, ekimosis), membran mukosa (gusi, konjungtiva), tempat injeksi, dan daerah perineum. (2) Melakukan tindakan invasif dengan teknik aseptik yang sangat hati-hati, memilih jarum terkecil, menerapkan tekanan lebih lama pada lokasi tusukan (5-10 menit atau sampai perdarahan berhenti), dan menghindari pengulangan tusukan yang tidak perlu. (3) Melindungi bayi dari trauma dengan menempatkannya di lingkungan yang aman, menggunakan bantalan pada sisi tempat tidur, menghindari pengukuran suhu rektal, serta meminimalkan manipulasi dan penanganan yang kasar. (4) Memberikan perawatan higienis lembut, seperti menyeka kulit dengan lembut (bukan menggosok), menggunakan sikat gigi sangat lembut atau kain kasa untuk perawatan mulut. (5) Memantau tanda-tanda vital dan status hemodinamik secara teratur untuk mendeteksi dini syok hipovolemik (takikardia, takipnea, hipotensi, penurunan produksi urin, kulit pucat dingin). (6) Kolaborasi pemberian transfusi trombosit sesuai indikasi dan protokol, serta memantau respons dan reaksi transfusi. (7) Memantau hasil laboratorium (jumlah trombosit, hemoglobin, hematokrit) dan melaporkan perubahan yang signifikan. (8) Edukasi orang tua tentang kondisi bayi, pentingnya menghindari obat yang mempengaruhi fungsi trombosit (seperti aspirin), cara mengenali tanda perdarahan (misalnya, darah dalam tinja atau urin, muntah darah, bercak kemerahan di kulit yang meluas), dan cara melakukan penekanan pada luka kecil. (9) Mengatur nutrisi yang adekuat, jika memungkinkan berikan ASI, dan hindari makanan atau benda keras yang dapat melukai mukosa mulut. (10) Mendokumentasikan semua temuan, tindakan, dan respons pasien secara komprehensif. Tindakan-tindakan ini bersifat preventif dan suportif, ditujukan untuk mengurangi risiko perdarahan sambil menunggu pemulihan jumlah trombosit atau penanganan penyebab dasarnya.
-
Article No. 23499 | 05 Jan 2026
Klinis : seorang bayi usia 1 hari mengalami perdarahan lambung. Hasil pemeriksaan darah sebelumnya, kadar trombosit dan hematokrit dalam batas normal. Apakah diagnosa dan intervensi yang sesuai berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Perdarahan Gastrointestinal (Lambung) pada Bayi Baru Lahir
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko Perfusi Jaringan Serebral Tidak Efektif
Kode SLKI: L.03104
Deskripsi : Perfusi jaringan serebral membaik, ditandai dengan: tingkat kesadaran sesuai usia, tanda vital dalam batas normal, tidak ada pucat, kulit hangat dan kering, capillary refill < 3 detik, produksi urine adekuat, dan tidak ada kejang.
Kode SIKI: I.08039
Deskripsi : Manajemen Perdarahan
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI D.0016 - Risiko Perfusi Jaringan Serebral Tidak Efektif): Pada bayi baru lahir (1 hari) dengan perdarahan lambung, ancaman utama bukan hanya kehilangan darah secara langsung, tetapi dampak sistemiknya terhadap pengiriman oksigen dan nutrisi ke organ vital, terutama otak. Perfusi serebral yang tidak efektif mengacu pada penurunan aliran darah ke otak yang dapat menyebabkan iskemia dan kerusakan neurologis. Meskipun kadar trombosit dan hematokrit awal normal, perdarahan aktif yang berlanjut dapat dengan cepat menurunkan volume darah sirkulasi (hipovolemia), menurunkan curah jantung, dan akhirnya menurunkan tekanan perfusi serebral. Bayi baru lahir sangat rentan karena volume darah totalnya kecil; kehilangan darah 50-100 mL sudah dapat menimbulkan syok hipovolemik. Tanda-tandanya bisa halus, seperti letargi, hipotermia, takikardia, fontanel cekung, dan penurunan produksi urine. Oleh karena itu, diagnosa ini menjadi fokus utama karena mengantisipasi komplikasi yang mengancam jiwa dan perkembangan saraf jangka panjang.
Luaran Keperawatan (SLKI L.03104 - Perfusi jaringan serebral membaik): SLKI ini merupakan tujuan yang ingin dicapai dari intervensi keperawatan. Luaran ini diukur melalui kriteria yang spesifik dan terukur. "Tingkat kesadaran sesuai usia" pada bayi 1 hari berarti bayi responsif, dapat dibangunkan untuk menyusu, dan menunjukkan refleks normal. "Tanda vital dalam batas normal" mencakup denyut jantung 120-160 kali/menit, frekuensi napas 30-60 kali/menit, dan tekanan darah yang sesuai usia (dengan mean arterial pressure yang memadai untuk perfusi). "Tidak ada pucat" menunjukkan hemoglobin yang cukup untuk pengangkutan oksigen. "Kulit hangat dan kering" serta "capillary refill < 3 detik" adalah indikator kuat dari sirkulasi perifer dan curah jantung yang baik, yang berkorelasi dengan perfusi sentral termasuk otak. "Produksi urine adekuat" (sekitar 1-2 mL/kg/jam) adalah indikator akhir (gold standard) perfusi ginjal yang baik, yang sejalan dengan perfusi serebral karena keduanya bergantung pada tekanan perfusi yang memadai. "Tidak ada kejang" menandakan tidak adanya iritasi atau iskemia saraf akut. Mencapai luaran ini berarti ancaman hipoksia-iskemik serebral akibat perdarahan telah berhasil dikendalikan.
Intervensi Keperawatan (SIKI I.08039 - Manajemen Perdarahan): Intervensi ini adalah tindakan spesifik yang dilakukan perawat untuk menangani perdarahan dan mencegah komplikasi perfusi. Pada konteks bayi dengan perdarahan lambung, intervensi ini meliputi: 1) Pemantauan Ketat: Memonitor tanda-tanda syok (tanda vital, capillary refill, warna kulit, tingkat kesadaran) dan tanda perdarahan lanjutan (muntah darah segar atau coffee ground, darah pada aspirat lambung, distensi abdomen, penurunan hematokrit serial meski awalnya normal). 2) Manajemen Jalan Napas dan Oksigenasi: Memastikan jalan napas paten, memberikan oksigen tambahan jika diperlukan untuk mempertahankan saturasi oksigen optimal, karena anemia mengurangi kapasitas angkut oksigen. 3) Resusitasi Cairan dan Darah: Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian cairan intravena (seperti NaCl 0,9%) atau transfusi darah/packed red cells jika kehilangan darah signifikan, dengan tujuan memulihkan volume intravaskuler dan tekanan perfusi. 4) Penghentian Perdarahan: Melaksanakan instruksi medis seperti pemberian obat hemostatik (contoh: Vitamin K), penghambat pompa proton, atau tindakan lain. 5) Perawatan Supportif: Mempertahankan suhu tubuh normal (hindari hipotermia yang memperburuk koagulopati), meminimalkan manipulasi lambung sesuai instruksi (mungkin puasa dan dekompresi nasogastrik), serta memberikan kenyamanan. 6) Edukasi dan Dukungan pada Orang Tua: Menjelaskan kondisi bayi dengan tenang, penyebab perdarahan (misal: gastritis atau ulkus stres, defisiensi Vitamin K), dan rencana perawatan, untuk mengurangi kecemasan. Intervensi ini bersifat dinamis dan terus dievaluasi berdasarkan respons klinis bayi.
Keterkaitan: Ketiga komponen ini membentuk satu kesatuan proses asuhan keperawatan yang logis. SDKI D.0016 menganalisis respons individu terhadap kondisi (perdarahan) dan mengidentifikasi masalah potensial (risiko perfusi serebral terganggu). SLKI L.03104 menetapkan tujuan spesifik yang ingin dicapai (kriteria perfusi yang baik). SIKI I.08039 memberikan serangkaian tindakan berbasis evidence untuk mencegah realisasi risiko tersebut dan mencapai tujuan luaran. Dengan melaksanakan I.08039 secara komprehensif, perawat berupaya untuk mengendalikan perdarahan, menjaga stabilitas hemodinamik, dan pada akhirnya mencapai L.03104, sehingga masalah dalam D.0016 dapat teratasi atau dicegah.
-
Article No. 23500 | 05 Jan 2026
Klinis : Pesien mengatakan perasaan lemas, lidah tersa pahit, susah tidur yang dialami 2 hari
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Asthenia dan Gejala Tidak Spesifik Lainnya
Kode ICD-10: R53.1
Deskripsi Singkat : Kode R53.1 mengacu pada kondisi asthenia (kelemahan) yang tidak spesifik, sering digambarkan sebagai perasaan lelah, lemas, atau kekurangan energi yang tidak disebabkan oleh aktivitas fisik yang berlebihan. Dalam konteks keluhan pasien yang meliputi perasaan lemas, lidah terasa pahit (dysgeusia), dan susah tidur (insomnia) yang dialami selama 2 hari, kode ini digunakan karena gejala-gejala tersebut bersifat umum dan belum dapat diklasifikasikan ke dalam diagnosis penyakit sistemik, neurologis, atau psikiatri yang lebih spesifik berdasarkan informasi terbatas. Keluhan-keluhan ini seringkali merupakan manifestasi dari berbagai kemungkinan penyebab, seperti infeksi virus ringan, stres psikologis, gangguan tidur, dehidrasi, atau efek samping pengobatan. Penggunaan kode R53.1 dalam simulasi ini tepat karena menangkap keluhan utama pasien (kelemahan) sambil mengakui bahwa gejala penyerta lainnya memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk menentukan diagnosis definitif. Kode ini termasuk dalam bab 'Gejala, Tanda dan Temuan Klinis serta Laboratorium yang Abnormal, Tidak Diklasifikasikan di Tempat Lain' (R00-R99) dari ICD-10, yang digunakan untuk mencatat masalah yang memerlukan investigasi tambahan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23501 | 05 Jan 2026
Klinis : I. IDENTITAS KLIEN No. Rekam Medis : Tidak disebutkan dalam kasus Tanggal Masuk RS : Tidak disebutkan dalam kasus Nama Klien : An. Ken Nama Panggilan : Tidak disebutkan Tempat/Tanggal Lahir : Tidak disebutkan Umur : 4 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Suku : Tidak disebutkan Bahasa yang dimengerti : Tidak disebutkan Orang Tua/Wali : Orang tua kandung Nama Ayah/Ibu/Wali : Ny. Diandra Pekerjaan Ayah/Ibu/Wali : Tidak disebutkan Pendidikan : Tidak disebutkan Alamat Ayah/Ibu/Wali : Tinggal bersama orang tua, kakak, nenek (ibu), dan bibi (ibu) II. KELUHAN UTAMA BAB cair tanpa ampas disertai muntah. III. RIWAYAT KELUHAN SAAT INI Orang tua mengatakan anak BAB 4–6 kali per hari dengan konsistensi cair tanpa ampas dan disertai muntah sekitar 3 kali per hari. Anak juga mengalami demam. Hasil pemeriksaan feses menunjukkan adanya darah dalam tinja. Anak tampak haus dan masih mau minum. IV. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU Prenatal : ANC 6 kali ke bidan, kenaikan BB ibu ±13 kg, TD normal, mendapat vitamin dan tablet besi, tidak ada komplikasi. Perinatal dan Postnatal : Persalinan normal per vaginam, lama persalinan ±2 jam, di rumah sakit. Penyakit yang pernah diderita: Pernah diare 1 bulan lalu dan sembuh sendiri. Hospitalisasi/Tindakan : Tidak ada. Injury/Kecelakaan : Tidak ada. Alergi : Tidak diketahui. Imunisasi & Tes Lab : Imunisasi tidak disebutkan; pemeriksaan feses terdapat darah. Pengobatan : Mendapat Cefotaxime IV, Zinc, Domperidone, dan Paracetamol. V. RIWAYAT PERTUMBUHAN BB 18 kg, TB 105 cm. Pertumbuhan sesuai usia. VI. RIWAYAT SOSIAL a. Yang mengasuh : Orang tua. b. Hubungan keluarga : Baik. c. Hubungan teman sebaya : Tidak disebutkan. d. Pembawaan umum : Anak kooperatif, tampak lemah. VII. RIWAYAT KELUARGA Sosial ekonomi : Tidak disebutkan. Lingkungan rumah : Tinggal satu rumah dengan keluarga besar. Penyakit keluarga : Tidak ada riwayat hipertensi, DM, jantung, hepatitis, HIV/AIDS, TBC. Genogram : Tinggal dengan orang tua, kakak, nenek, dan bibi. VIII. PENGKAJIAN TINGKAT PERKEMBANGAN SAAT INI Usia 4 tahun → menggunakan Denver II (belum dilampirkan). Interpretasi : Tidak dapat dinilai lengkap, perkembangan sesuai usia berdasarkan data terbatas. IX. PENGKAJIAN POLA KESEHATAN Persepsi & pemeliharaan kesehatan: Orang tua membawa anak ke RS karena diare dan muntah. Nutrisi: Sebelum sakit makan 3x/hari, porsi habis. Saat sakit makan sedikit ±3–4 sendok, minum air putih. Cairan: Asupan cairan menurun, anak tampak haus. Aktivitas: Aktivitas menurun, sebagian dibantu orang tua/perawat. Tidur & istirahat: Tidur terganggu karena diare, tidur ±6 jam/hari. Eliminasi: BAB sebelum sakit 1x/hari; saat sakit 6–8x/hari cair. BAK 5–7x/hari. Pola hubungan: Hubungan baik dengan orang tua. Koping/temperamen & disiplin: Anak menangis saat tindakan, orang tua mendampingi. Kognitif & persepsi: Sesuai usia, respons baik. Konsep diri: Tidak dapat dikaji mendalam. Seksual & menstruasi: Tidak relevan. Nilai: Keluarga kooperatif terhadap pengobatan. X. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum: Kesadaran compos mentis Nadi 110 x/menit Suhu 38,3°C RR 30 x/menit TD 97/70 mmHg Respons nyeri: tidak dikaji BB 18 kg, TB 105 cm Kulit: Turgor menurun, mukosa bibir kering. Kepala: Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik. Mata: Mata cekung. Telinga: Tidak dikaji. Hidung: Tidak dikaji. Mulut: Mukosa bibir kering. Leher: Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening. Dada: Simetris. Paru-paru: Vesikuler normal. Jantung: Iktus kordis normal, tidak ada kardiomegali. Abdomen: Distensi (-), peristaltik meningkat, timpani. Genitalia: Tidak dikaji. Anus & rektum: Tidak dikaji. Muskuloskeletal: ROM dilakukan pasif. Neurologi: Tidak ada kelainan nyata. XI. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK PENUNJANG Pemeriksaan feses: terdapat darah dalam tinja. XII. INFORMASI LAIN Terpasang infus Ringer Laktat 16 tpm. Terapi kolaborasi: Cefotaxime IV, Zinc 20 mg/hari, Domperidone 5 mg/8 jam, Paracetamol 240 mg/6 jam.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gastroenteritis Akut dengan Dehidrasi Ringan-Sedang
Kode ICD-10: A09.0
Deskripsi Singkat : Gastroenteritis akut adalah peradangan pada lambung dan usus yang ditandai dengan diare cair dan/atau muntah. Pada kasus ini, anak laki-laki berusia 4 tahun mengalami gejala khas berupa diare cair tanpa ampas (4-6 kali/hari), muntah (3 kali/hari), dan demam (38.3°C). Temuan darah dalam tinja (pada pemeriksaan feses) mengindikasikan adanya proses inflamasi atau infeksi yang lebih invasif pada saluran cerna. Tanda klinis seperti mata cekung, mukosa bibir kering, dan turgor kulit menurun menunjukkan komplikasi dehidrasi, yang diklasifikasikan sebagai derajat ringan hingga sedang karena anak masih kooperatif, sadar penuh (compos mentis), dan masih mau minum. Kode ICD-10 A09.0 digunakan untuk "Diare dan gastroenteritis yang diduga berasal dari infeksi," yang sesuai dengan presentasi klinis akut, demam, dan temuan laboratorium pendukung. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau parasit, dan memerlukan terapi suportif seperti rehidrasi (Ringer Laktat), zinc, serta pengobatan simtomatik (antipiretik, antiemetik) seperti yang diterima pasien.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***