Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 7400 | 30 Nov 2024
Klinis : Tn. A, 57 tahun, dirawat di RS dengan keluhan berak hitam dan muntah darah dengan kecurigaan hemofilia. BAB hitam sejak 13 hari sebelum masuk rumah sakit dengan konsistensi lengket dan bau khas, dengan volume 3-4 gelas perhari. Muntah darah kehitaman seperti kopi dan sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, frekuensi 3-4 kali dan volume seperempat gelas tiap kali muntah. Disertai nyeri ulu hati yang telah lama diderita sebelum timbul keluhan BAB hitam. Nyeri ulu hati dirasakan panas tidak menjalar ke bagian tubuh yang lainnya. Penderita kadang-kadang mengeluh mual. Badan terasa lemah sejak sakit, sehingga penderita terganggu aktifitas sehari-harinya. Aktifitas sehar-hari pasien dibantu oleh keluarga dan perawat. Riwayat sakit sebelumnya, penderita telah dirawat selama 13 hari di rumah sakit dan telah menerima transfusi darah sebanyak 15 kantung. Terdapat riwayat minum obat-obatan anti nyeri karena keluhan nyeri sendi lutut.Pasien pernah mengalami perdarahan yang hebat setelah cabut gigi, saat itu penderita dirawat di RS. Penderita sering mengalami perdarahan sejak usia 5 tahun terutama setelah terbentur atau terjatuh. Tidak ada riwayat penyakit kuning sebelumnya. Penderita tidak mengkonsumsi alkohol atau jamu. Riwayat penyakit keluarga, saudara kandung laki-laki penderita mengalami keluhan perdarahan yang sama dan telah meninggal dunia saat usia anak-anak.Pada pemeriksaan fisik penderita tampak lemah dengan kesadaran compos mentis, tekanan darah 100/70 mmHg, HR 120 kali/menit lemah, respirasi 28 kali/menit, nafas cepat dan dangkal dan suhu 36,70 C. Mata tampak anemis, cekung dan tidak ada ikterus. Bibir tampak pucat, dan kering, pada lidah tidak didapatkan atropi papil. Inspeksi thorak tidak didapatkan spider nevi. Batas-batas jantung normal, auskultasi: bunyi jantung pertama dan kedua teratur, tidak ada suara tambahan. Pemeriksaan paru normal, auskultasi: suara nafas vesicular dan tidak didapatkan suara nafas tambahan. Pemeriksaan abdomen tidak ditemukan distensi abdomen asites dan caput medusa. Bising usus normal. Hati dan limpa tidak membesar, timpani. Tidak dijumpai adanya defence muscular dan nyeri tekan epigastrial. Ekstremitas teraba hangat, odema pada kedua tungkai inferior, turgor kulit > 2 detik. Tampak hematom pada lengan atas kiri dengan diameter 5 cm. Pemeriksaan rectal toucher didapatkan tonus sphincter ani normal, mucosa licin, tidak ada massa dan terdapat melena. Pemeriksaan penunjang laboratorium darah lengkap menunjukkan leukosit 10,9 K/uL (normal: 4,5-11 K/uL), hemoglobin 7,7 gr/dl (normal: 13.5-18.0 gr/dl), hematokrit 14,3 % (normal: 40-54%), MCV 82,4 fl (normal: 80-94 fl), MCH 28,7 pg (normal: 27- 32 pg), trombosit 66 K/ul (normal: 150-440 K/uL). Hasil pemeriksaan faal hemostasis: waktu perdarahan: 2,0 menit (normal: 1-3 menit), waktu pembekuan: 14,0 menit (normal: 5-15 menit), waktu protrombin (PT) : 21 detik (normal: 12-18 detik), APTT : 96 detik (normal: 22.6-35 detik). AST 27 mg/dl (normal: 14-50mg/dl), ALT 33 mg/dl (normal: 11-64 mg/dl), bilirubin total 0,6 mg/dl (normal :0,0-1,0 mg/dl), bilirubin direk 0,1 mg/dl (normal: 0,0-0,3 mg/dl), cholesterol 26 mg/dl (normal: 110-200 mg/dl), albumin 0,8 mg/dl (normal 4.0-5.7 mg/dl). Pemeriksaan faktor VIII dan IX tidak dikerjakan karena tidak ada fasilitas pemeriksaan.Pasien dirawat dengan observasi hematemesis melena ec suspek ulkus peptikum dengan kondisi anemia ec perdarahan akut dan observasi trombositopeni, suspek hemofilia. Terapi : • Kreosipitat 15 unit • Tranfusi PRC sampai dengan kadar Hb > 10 g/dl • Traneksamat 3 x 500 mg (IV) • Ranitidin 2 x 200 mg (IV) • Antasida 3 x 10 ml (PO) • Sukralfat 3 x 10 ml (PO)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Perdarahan Berat berhubungan dengan gangguan fungsi pembekuan darah (hemofilia) ditandai dengan adanya riwayat perdarahan setelah tindakan medis, perdarahan spontan pada sendi atau otot, dan pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan perpanjangan waktu perdarahan dan pembekuan.
2. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan penurunan asupan nutrisi akibat mual, muntah, dan anoreksia, yang ditandai dengan penurunan berat badan, kadar albumin rendah, dan kelelahan.
3. Gangguan Aktivitas Mobilitas berhubungan dengan penurunan energi dan kekuatan akibat anemia, yang ditandai dengan keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) merupakan standar yang digunakan untuk mengidentifikasi dan merumuskan diagnosa keperawatan berdasarkan tanda dan gejala yang muncul pada pasien. Dalam kasus ini, terdapat tiga diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi Tn. A.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) merupakan standar yang digunakan untuk merumuskan luaran atau outcome yang diharapkan dari asuhan keperawatan yang diberikan. Contoh luaran yang dapat ditetapkan untuk kasus ini adalah: Risiko Perdarahan Berat terkendali, Keseimbangan Nutrisi Tercapai, dan Mobilitas Fisik Membaik.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) merupakan standar yang digunakan untuk merumuskan intervensi keperawatan yang akan dilakukan untuk mencapai luaran yang diharapkan. Intervensi yang dapat diberikan untuk kasus ini antara lain: Pemantauan Tanda-Tanda Vital, Pemberian Komponen Darah, Manajemen Mual dan Muntah, Edukasi Gizi, dan Bantuan Aktivitas Sehari-hari. -
Article No. 7401 | 30 Nov 2024
Klinis : Tn. A, 57 tahun, dirawat di RS dengan keluhan berak hitam dan muntah darah dengan kecurigaan hemofilia. BAB hitam sejak 13 hari sebelum masuk rumah sakit dengan konsistensi lengket dan bau khas, dengan volume 3-4 gelas perhari. Muntah darah kehitaman seperti kopi dan sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, frekuensi 3-4 kali dan volume seperempat gelas tiap kali muntah. Disertai nyeri ulu hati yang telah lama diderita sebelum timbul keluhan BAB hitam. Nyeri ulu hati dirasakan panas tidak menjalar ke bagian tubuh yang lainnya. Penderita kadang-kadang mengeluh mual. Badan terasa lemah sejak sakit, sehingga penderita terganggu aktifitas sehari-harinya. Aktifitas sehar-hari pasien dibantu oleh keluarga dan perawat. Riwayat sakit sebelumnya, penderita telah dirawat selama 13 hari di rumah sakit dan telah menerima transfusi darah sebanyak 15 kantung. Terdapat riwayat minum obat-obatan anti nyeri karena keluhan nyeri sendi lutut.Pasien pernah mengalami perdarahan yang hebat setelah cabut gigi, saat itu penderita dirawat di RS. Penderita sering mengalami perdarahan sejak usia 5 tahun terutama setelah terbentur atau terjatuh. Tidak ada riwayat penyakit kuning sebelumnya. Penderita tidak mengkonsumsi alkohol atau jamu. Riwayat penyakit keluarga, saudara kandung laki-laki penderita mengalami keluhan perdarahan yang sama dan telah meninggal dunia saat usia anak-anak.Pada pemeriksaan fisik penderita tampak lemah dengan kesadaran compos mentis, tekanan darah 100/70 mmHg, HR 120 kali/menit lemah, respirasi 28 kali/menit, nafas cepat dan dangkal dan suhu 36,70 C. Mata tampak anemis, cekung dan tidak ada ikterus. Bibir tampak pucat, dan kering, pada lidah tidak didapatkan atropi papil. Inspeksi thorak tidak didapatkan spider nevi. Batas-batas jantung normal, auskultasi: bunyi jantung pertama dan kedua teratur, tidak ada suara tambahan. Pemeriksaan paru normal, auskultasi: suara nafas vesicular dan tidak didapatkan suara nafas tambahan. Pemeriksaan abdomen tidak ditemukan distensi abdomen asites dan caput medusa. Bising usus normal. Hati dan limpa tidak membesar, timpani. Tidak dijumpai adanya defence muscular dan nyeri tekan epigastrial. Ekstremitas teraba hangat, odema pada kedua tungkai inferior, turgor kulit > 2 detik. Tampak hematom pada lengan atas kiri dengan diameter 5 cm. Pemeriksaan rectal toucher didapatkan tonus sphincter ani normal, mucosa licin, tidak ada massa dan terdapat melena. Pemeriksaan penunjang laboratorium darah lengkap menunjukkan leukosit 10,9 K/uL (normal: 4,5-11 K/uL), hemoglobin 7,7 gr/dl (normal: 13.5-18.0 gr/dl), hematokrit 14,3 % (normal: 40-54%), MCV 82,4 fl (normal: 80-94 fl), MCH 28,7 pg (normal: 27- 32 pg), trombosit 66 K/ul (normal: 150-440 K/uL). Hasil pemeriksaan faal hemostasis: waktu perdarahan: 2,0 menit (normal: 1-3 menit), waktu pembekuan: 14,0 menit (normal: 5-15 menit), waktu protrombin (PT) : 21 detik (normal: 12-18 detik), APTT : 96 detik (normal: 22.6-35 detik). AST 27 mg/dl (normal: 14-50mg/dl), ALT 33 mg/dl (normal: 11-64 mg/dl), bilirubin total 0,6 mg/dl (normal :0,0-1,0 mg/dl), bilirubin direk 0,1 mg/dl (normal: 0,0-0,3 mg/dl), cholesterol 26 mg/dl (normal: 110-200 mg/dl), albumin 0,8 mg/dl (normal 4.0-5.7 mg/dl). Pemeriksaan faktor VIII dan IX tidak dikerjakan karena tidak ada fasilitas pemeriksaan.Pasien dirawat dengan observasi hematemesis melena ec suspek ulkus peptikum dengan kondisi anemia ec perdarahan akut dan observasi trombositopeni, suspek hemofilia. Terapi : • Kreosipitat 15 unit • Tranfusi PRC sampai dengan kadar Hb > 10 g/dl • Traneksamat 3 x 500 mg (IV) • Ranitidin 2 x 200 mg (IV) • Antasida 3 x 10 ml (PO) • Sukralfat 3 x 10 ml (PO)
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, sesuai dengan informasi yang Anda berikan, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis:
1. Kode ICD-10:
- Kode: K92.0
- Deskripsi: Hematemesis (muntah darah)
2. Kode ICD-10:
- Kode: K92.1
- Deskripsi: Melena (berak hitam)
3. Kode ICD-10:
- Kode: D66
- Deskripsi: Defisiensi kongenital faktor VIII
Pada kasus ini, tidak ada tindakan medis yang dilakukan yang memerlukan kode ICD-9-CM. Tindakan yang diberikan adalah:
- Pemberian cryo-precipitat untuk mengatasi defisiensi faktor VIII (hemofilia)
- Transfusi PRC untuk mengatasi anemia akibat perdarahan
- Pemberian traneksamat, ranitidin, antasida, dan sukralfat untuk mengatasi kondisi saluran cerna
Secara keseluruhan, pasien ini didiagnosis dengan hematemesis, melena, dan dicurigai memiliki kondisi hemofilia (defisiensi faktor VIII) yang menyebabkan perdarahan saluran cerna. Penatalaksanaan utama adalah terapi suportif dengan pemberian produk darah, antifibrinolitik, dan obat-obatan untuk mengatasi masalah saluran cerna. -
Article No. 7402 | 30 Nov 2024
Klinis : Tn. A, 57 tahun, dirawat di RS dengan keluhan berak hitam dan muntah darah dengan kecurigaan hemofilia. BAB hitam sejak 13 hari sebelum masuk rumah sakit dengan konsistensi lengket dan bau khas, dengan volume 3-4 gelas perhari. Muntah darah kehitaman seperti kopi dan sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, frekuensi 3-4 kali dan volume seperempat gelas tiap kali muntah. Disertai nyeri ulu hati yang telah lama diderita sebelum timbul keluhan BAB hitam. Nyeri ulu hati dirasakan panas tidak menjalar ke bagian tubuh yang lainnya. Penderita kadang-kadang mengeluh mual. Badan terasa lemah sejak sakit, sehingga penderita terganggu aktifitas sehari-harinya. Aktifitas sehar-hari pasien dibantu oleh keluarga dan perawat. Riwayat sakit sebelumnya, penderita telah dirawat selama 13 hari di rumah sakit dan telah menerima transfusi darah sebanyak 15 kantung. Terdapat riwayat minum obat-obatan anti nyeri karena keluhan nyeri sendi lutut.Pasien pernah mengalami perdarahan yang hebat setelah cabut gigi, saat itu penderita dirawat di RS. Penderita sering mengalami perdarahan sejak usia 5 tahun terutama setelah terbentur atau terjatuh. Tidak ada riwayat penyakit kuning sebelumnya. Penderita tidak mengkonsumsi alkohol atau jamu. Riwayat penyakit keluarga, saudara kandung laki-laki penderita mengalami keluhan perdarahan yang sama dan telah meninggal dunia saat usia anak-anak.Pada pemeriksaan fisik penderita tampak lemah dengan kesadaran compos mentis, tekanan darah 100/70 mmHg, HR 120 kali/menit lemah, respirasi 28 kali/menit, nafas cepat dan dangkal dan suhu 36,70 C. Mata tampak anemis, cekung dan tidak ada ikterus. Bibir tampak pucat, dan kering, pada lidah tidak didapatkan atropi papil. Inspeksi thorak tidak didapatkan spider nevi. Batas-batas jantung normal, auskultasi: bunyi jantung pertama dan kedua teratur, tidak ada suara tambahan. Pemeriksaan paru normal, auskultasi: suara nafas vesicular dan tidak didapatkan suara nafas tambahan. Pemeriksaan abdomen tidak ditemukan distensi abdomen asites dan caput medusa. Bising usus normal. Hati dan limpa tidak membesar, timpani. Tidak dijumpai adanya defence muscular dan nyeri tekan epigastrial. Ekstremitas teraba hangat, odema pada kedua tungkai inferior, turgor kulit > 2 detik. Tampak hematom pada lengan atas kiri dengan diameter 5 cm. Pemeriksaan rectal toucher didapatkan tonus sphincter ani normal, mucosa licin, tidak ada massa dan terdapat melena. Pemeriksaan penunjang laboratorium darah lengkap menunjukkan leukosit 10,9 K/uL (normal: 4,5-11 K/uL), hemoglobin 7,7 gr/dl (normal: 13.5-18.0 gr/dl), hematokrit 14,3 % (normal: 40-54%), MCV 82,4 fl (normal: 80-94 fl), MCH 28,7 pg (normal: 27- 32 pg), trombosit 66 K/ul (normal: 150-440 K/uL). Hasil pemeriksaan faal hemostasis: waktu perdarahan: 2,0 menit (normal: 1-3 menit), waktu pembekuan: 14,0 menit (normal: 5-15 menit), waktu protrombin (PT) : 21 detik (normal: 12-18 detik), APTT : 96 detik (normal: 22.6-35 detik). AST 27 mg/dl (normal: 14-50mg/dl), ALT 33 mg/dl (normal: 11-64 mg/dl), bilirubin total 0,6 mg/dl (normal :0,0-1,0 mg/dl), bilirubin direk 0,1 mg/dl (normal: 0,0-0,3 mg/dl), cholesterol 26 mg/dl (normal: 110-200 mg/dl), albumin 0,8 mg/dl (normal 4.0-5.7 mg/dl). Pemeriksaan faktor VIII dan IX tidak dikerjakan karena tidak ada fasilitas pemeriksaan.Pasien dirawat dengan observasi hematemesis melena ec suspek ulkus peptikum dengan kondisi anemia ec perdarahan akut dan observasi trombositopeni, suspek hemofilia. Terapi : • Kreosipitat 15 unit • Tranfusi PRC sampai dengan kadar Hb > 10 g/dl • Traneksamat 3 x 500 mg (IV) • Ranitidin 2 x 200 mg (IV) • Antasida 3 x 10 ml (PO) • Sukralfat 3 x 10 ml (PO)
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang sesuai dengan kondisi Tn. A berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Perdarahan akut (Acute Bleeding)
Definisi: Kehilangan darah secara tiba-tiba dalam jumlah yang cukup banyak, dapat mengancam jiwa.
Penyebab: Gangguan sistem pembekuan darah, trauma, tukak pencernaan.
Tanda dan gejala: Hematemesis, melena, hematuria, perdarahan dari tempat luka, hematom, pusing, lemah, takikardia, hipotensi.
2. Intoleransi aktivitas (Activity Intolerance)
Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan, disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pasokan dan kebutuhan oksigen.
Penyebab: Anemia, keletihan, malnutrisi, gangguan kardiovaskular.
Tanda dan gejala: Lemah, lesu, mudah lelah, penurunan kekuatan dan daya tahan.
3. Risiko infeksi (Risk for Infection)
Definisi: Rentan terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen, yang mungkin dapat membahayakan kesehatan.
Penyebab: Prosedur invasif, malnutrisi, anemia.
Tanda dan gejala: Demam, takikardia, takipnea.
Luaran/Output yang diharapkan (SLKI):
1. Perdarahan akut (Acute Bleeding)
- Tidak terjadi perdarahan ulang
- Tidak terjadi komplikasi akibat perdarahan
- Tanda-tanda vital dalam batas normal
- Tingkat kecemasan menurun
2. Intoleransi aktivitas (Activity Intolerance)
- Pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri
- Tidak terjadi kelelahan yang berlebihan
- Tanda-tanda vital stabil saat beraktivitas
3. Risiko infeksi (Risk for Infection)
- Tidak terjadi infeksi
- Tanda-tanda infeksi tidak muncul
- Hasil pemeriksaan laboratorium dalam rentang normal
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Perdarahan akut (Acute Bleeding)
- Monitor tanda-tanda vital secara rutin
- Berikan oksigen sesuai indikasi
- Siapkan akses intravena dan lakukan rehidrasi cairan
- Berikan produk darah sesuai indikasi (kriosipitat, PRC)
- Berikan terapi antikoagulan (traneksamat)
- Kolaborasi pemberian obat-obatan antasida dan sukralfat
- Pantau intake dan output cairan, lakukan perawatan kulit dan mukosa
2. Intoleransi aktivitas (Activity Intolerance)
- Kaji tingkat kelelahan dan intoleransi aktivitas pasien
- Bantu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai toleransi
- Anjurkan istirahat yang cukup
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemenuhan nutrisi
- Berikan edukasi mengenai aktivitas yang dapat dilakukan
3. Risiko infeksi (Risk for Infection)
- Monitor tanda-tanda infeksi secara rutin
- Pertahankan teknik aseptik saat perawatan luka atau prosedur invasif
- Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi
- Dorong pasien untuk menjaga kebersihan diri
- Berikan edukasi mengenai pencegahan infeksi
Semoga penjelasan ini bermanfaat. Jika ada pertanyaan lain, jangan ragu untuk menanyakannya. -
Article No. 7403 | 30 Nov 2024
Klinis : pasien merasa sesak, terdapat rochi dan wheezing
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah penjelasan rinci terkait kondisi pasien yang Anda deskripsikan:
1. Diagnosa Keperawatan SDKI
Diagnosis keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien yang merasa sesak, terdapat rochi dan wheezing adalah:
Diagnosis Keperawatan: Pola Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk bernapas dengan normal yang menyebabkan ketidakadekuatan ventilasi.
Karakteristik Definisi:
- Perubahan frekuensi napas
- Perubahan irama napas
- Penggunaan otot bantu pernapasan
- Bunyi napas tambahan (mis. wheezing, rochi)
- Dyspnea
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI)
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan untuk pasien dengan diagnosa Pola Napas Tidak Efektif adalah:
Luaran Utama:
- Pola Napas: Setelah dilakukan intervensi keperawatan, diharapkan pola napas pasien menjadi efektif, dengan frekuensi, irama, dan kedalaman napas yang normal, serta tidak ditemukan bunyi napas tambahan seperti wheezing atau rochi.
Luaran Tambahan:
- Pertukaran Gas: Setelah dilakukan intervensi keperawatan, diharapkan pertukaran gas pasien membaik, ditandai dengan peningkatan saturasi oksigen dan penurunan kadar karbondioksida dalam darah.
- Status Pernapasan: Setelah dilakukan intervensi keperawatan, diharapkan status pernapasan pasien membaik, dengan adanya perbaikan pada tanda-tanda vital pernapasan seperti frekuensi napas, kedalaman napas, dan penggunaan otot bantu pernapasan.
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI)
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran pada pasien dengan diagnosa Pola Napas Tidak Efektif adalah:
1. Manajemen Jalan Napas
- Posisikan pasien dengan posisi semi-fowler atau fowler untuk memaksimalkan ekspansi dada
- Berikan oksigen sesuai kebutuhan pasien
- Auskultasi suara napas dan identifikasi bunyi tambahan
- Lakukan suction jika diperlukan untuk membebaskan jalan napas
2. Terapi Oksigen
- Berikan terapi oksigen sesuai kondisi pasien
- Monitor saturasi oksigen dan nilai gas darah
- Sesuaikan aliran oksigen berdasarkan respons pasien
3. Manajemen Bronkodilator
- Kolaborasikan dengan dokter untuk pemberian bronkodilator (misalnya nebulizer, inhaler)
- Monitor efektivitas bronkodilator dalam membuka jalan napas
- Evaluasi respons pasien terhadap pemberian bronkodilator
4. Edukasi Manajemen Napas
- Ajarkan teknik pernapasan dalam (deep breathing) dan latihan batuk efektif
- Anjurkan pasien untuk melakukan latihan pernapasan secara rutin
- Evaluasi kemampuan pasien dalam melakukan teknik pernapasan yang benar
Penerapan intervensi-intervensi keperawatan ini diharapkan dapat membantu mencapai tujuan luaran yang diharapkan, yaitu perbaikan pola napas, pertukaran gas, dan status pernapasan pasien. -
Article No. 7404 | 30 Nov 2024
Klinis : pasien merasa sesak, terdapat rochi dan wheezing
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan kondisi yang Anda deskripsikan, yaitu pasien merasa sesak, terdapat rochi dan wheezing, maka diagnosis keperawatan yang sesuai berdasarkan standar SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) adalah:
1. Pola Napas Tidak Efektif
- Definisi: Ketidakmampuan untuk mempertahankan ventilasi yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan oksigen.
- Gejala dan tanda: Sesak napas, penggunaan otot bantu napas yang berlebihan, wheezing, rochi.
Berdasarkan SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), luaran yang dapat ditetapkan untuk diagnosis ini adalah:
- Pola Napas
- Pertukaran Gas
- Status Pernapasan
Sementara itu, berdasarkan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia), intervensi yang dapat dilakukan antara lain:
- Pengaturan Posisi
- Manajemen Jalan Napas
- Terapi Oksigen
- Manajemen Bronkodilator
- Edukasi Kesehatan
Secara singkat, diagnosis keperawatan Pola Napas Tidak Efektif menggambarkan kondisi pasien yang tidak mampu mempertahankan ventilasi yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan oksigen, yang ditandai dengan gejala sesak napas, penggunaan otot bantu napas yang berlebihan, wheezing, dan rochi. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan berfokus pada pengaturan posisi, manajemen jalan napas, pemberian oksigen, penggunaan bronkodilator, serta edukasi kesehatan. -
Article No. 7405 | 30 Nov 2024
Klinis : pasien merasa sesak, terdapat rochi dan wheezing dan batuk berdahak terdapat sekret
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, sebagai perawat profesional, saya akan memberikan diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda sampaikan.
Diagnosa Keperawatan:
Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Penjelasan:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari diagnosa ini adalah pasien dapat mempertahankan jalan napas yang terbuka dan bebas dari sekret.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi yang dapat dilakukan untuk mengatasi Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif antara lain:
1. Pemantauan status pernapasan
2. Manajemen jalan napas
3. Manajemen sekret
4. Fisioterapi dada
5. Edukasi manajemen jalan napas
Dengan penanganan yang komprehensif sesuai standar SDKI - SLKI - SIKI, diharapkan pasien dapat mempertahankan jalan napas yang terbuka dan bebas dari sekret, sehingga dapat mengatasi kondisi sesak napas, ronki, wheezing, dan batuk berdahak yang dialami.
Semoga penjelasan ini dapat membantu Anda memahami diagnosa dan penanganan keperawatan yang sesuai untuk kondisi pasien. Jika ada pertanyaan lain, jangan ragu untuk menanyakannya. Saya akan berusaha menjawab dengan baik. -
Article No. 7406 | 30 Nov 2024
Klinis : demam sejak senin pagi jam 03.00 . demam naik turun
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, yaitu demam sejak Senin pagi pukul 03.00 dengan demam naik turun, maka berikut adalah Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
1. Hipertermia
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh di atas normal, yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh untuk mengatur suhu.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Suhu tubuh kembali normal
2. Tidak terjadi komplikasi akibat hipertermia
3. Klien dapat beradaptasi dengan perubahan suhu tubuh
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Monitor suhu tubuh secara berkala
2. Upayakan lingkungan yang nyaman dan sejuk
3. Berikan cairan yang cukup
4. Berikan obat penurun demam jika perlu
5. Edukasi klien dan keluarga tentang hipertermia dan penanganannya
Tone: Akademis
Persona: Pakar, Perawat
Dalam penjelasan ini, saya berusaha memberikan informasi yang objektif dan ilmiah berdasarkan standar PPNI. Sebagai seorang pakar dan perawat, saya menyampaikan diagnosis dan pengelolaan hipertermia sesuai dengan panduan praktik yang berlaku. -
Article No. 7407 | 30 Nov 2024
Klinis : bb : 44kg tb : 152 cm bb stabil, makan 3x sehari, makan ringan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, yaitu berat badan 44 kg, tinggi badan 152 cm, berat badan stabil, makan 3 kali sehari dengan makan ringan, serta dengan tone akademis dan persona pakar/nurse, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
1. Diagnosa Keperawatan:
Risiko Malnutrisi
2. Penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI:
a. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Keadaan di mana individu berisiko mengalami kurang asupan nutrisi yang dapat menyebabkan penurunan berat badan, perubahan komposisi tubuh, dan penurunan fungsi tubuh.
- Faktor Risiko: Asupan makanan yang tidak adekuat, penyakit kronis, kemiskinan, sosial ekonomi rendah, gangguan menelan, dan gangguan gastrointestinal.
b. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang Diharapkan: Klien akan mempertahankan status nutrisi yang adekuat.
- Kriteria Hasil: Berat badan stabil, Asupan makanan sesuai kebutuhan, Tidak ada tanda-tanda malnutrisi.
c. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi Keperawatan: Pengkajian status nutrisi, Edukasi tentang gizi seimbang, Konseling tentang pola makan, Kolaborasi dengan ahli gizi untuk perencanaan diet, Pemantauan asupan dan berat badan.
Dalam kasus ini, meskipun berat badan stabil, namun dengan berat badan 44 kg dan tinggi badan 152 cm, klien berisiko mengalami malnutrisi. Oleh karena itu, intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah melakukan pengkajian status nutrisi secara komprehensif, memberikan edukasi tentang gizi seimbang, melakukan konseling tentang pola makan, berkolaborasi dengan ahli gizi untuk perencanaan diet yang sesuai, serta melakukan pemantauan asupan dan berat badan secara berkala. -
Article No. 7408 | 30 Nov 2024
Klinis : bb : 44kg tb : 152 cm bb stabil, makan 3x sehari pagi : makan ringan minum teh dan air putih serta gorengan siang : makan berat, seperti nasi dan ayam, tidak terlalu sering makan sayur sore / malam : makan cemilan berat, seperti siomay, dimsum, sempol, dan minum kopi kegiatan pagi : menyapu dan membersihkan rumah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, dapat disimpulkan bahwa kondisi pasien tersebut dapat diidentifikasi dengan diagnosa keperawatan sebagai berikut:
1. Diagnosa Keperawatan:
a. Risiko Kelebihan Berat Badan
2. Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
a. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Risiko Kelebihan Berat Badan: Keadaan di mana individu memiliki potensi untuk mengalami peningkatan berat badan yang tidak diinginkan.
b. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Berat Badan: Keadaan di mana individu mencapai dan mempertahankan berat badan yang optimal.
c. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Manajemen Berat Badan: Tindakan yang dilakukan untuk mengatur, mengendalikan, dan mempertahankan berat badan yang optimal.
Penjelasan:
Pasien dengan berat badan 44 kg dan tinggi badan 152 cm memiliki indeks massa tubuh (IMT) sebesar 19,0, yang termasuk dalam kategori berat badan normal. Namun, pola makan yang tidak seimbang, yaitu konsumsi makanan tinggi kalori dan rendah serat, serta aktivitas fisik yang terbatas (hanya membersihkan rumah), dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan di kemudian hari.
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain:
1. Edukasi gizi: Memberikan informasi tentang pola makan yang sehat, jumlah dan jenis makanan yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.
2. Modifikasi diet: Menyusun rencana makanan yang seimbang, mengandung serat, protein, karbohidrat, dan lemak yang sesuai.
3. Peningkatan aktivitas fisik: Menganjurkan pasien untuk melakukan aktivitas fisik yang teratur, seperti jalan kaki atau senam.
4. Pemantauan berat badan: Melakukan pengukuran berat badan secara berkala untuk memantau perkembangan.
5. Konseling dan dukungan psikologis: Membantu pasien memahami pentingnya gaya hidup sehat dan memotivasi untuk melakukan perubahan.
Dengan penerapan intervensi keperawatan yang tepat, diharapkan pasien dapat mencapai dan mempertahankan berat badan yang optimal, serta mengurangi risiko kelebihan berat badan di kemudian hari. -
Article No. 7409 | 30 Nov 2024
Klinis : pasien telah melakukan persalinan pada 3 hari yang lalu. pasien mengeluh tidak nyaman pasca persalinan yang mengakibatkan pasien tampak meringis dan mengeluh payudara menjadi bengkak
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda jelaskan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri Akut
Penjelasan SDKI, SLKI, dan SIKI:
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Pasien melaporkan nyeri berkurang.
2. Pasien dapat mengenali dan menggunakan teknik pengurangan nyeri.
3. Pasien dapat mendemonstrasikan perilaku yang mendukung pengurangan nyeri.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Pengkajian nyeri: mengkaji lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri.
2. Manajemen nyeri: memberikan intervensi farmakologis dan non-farmakologis untuk mengurangi nyeri.
3. Edukasi manajemen nyeri: mengajarkan pasien dan keluarga tentang strategi pengurangan nyeri.
Dengan memperhatikan SDKI, SLKI, dan SIKI, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif untuk mengatasi nyeri akut yang dialami oleh pasien pascapersalinan, termasuk mengkaji nyeri secara menyeluruh, memberikan intervensi yang sesuai, serta melakukan edukasi kepada pasien dan keluarga.