Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 7437 | 30 Nov 2024
Klinis : Kasus II : NW Studi Kasus Komprehensif: Gagal Nafas Kompleks pada Ny. Retno Widiastuti Latar Belakang Klinis yang Mendalam Riwayat Pasien Ny. Retno Widiastuti, 64 tahun, seorang guru bahasa Indonesia yang pensiun 2 tahun lalu, adalah sosok perempuan dengan perjalanan penyakit kompleks yang menggambarkan tantangan sistemik dalam gagal napas kronik. Profil Penyakit Dasar Riwayat PPOK berat selama 15 tahun Hipertensi dekompensata Diabetes melitus tipe 2 dengan komplikasi mikrovaskuler Riwayat merokok berat (>40 pack years) Obesitas derajat I (IMT 32) Episode Kritis: Perjalanan Menuju Gagal Napas Total Kronologi Klinis Detil Pada tanggal 17 November 2024, pukul 03.45 dini hari, Ny. Retno mengalami perburukan fungsi respirasi yang dramatis: Gejala Awal Peningkatan produksi sputum kental Batuk produktif dengan warna hijau kekuningan Sesak napas progresif Penurunan saturasi oksigen mendadak Kondisi Masuk IGD Kesadaran: Somnolen (GCS 13) Frekuensi Napas: 42x/menit (takipnea berat) Saturasi O2: 65% (tanpa oksigen tambahan) Penggunaan otot bantu napas (cuping hidung, retraksi intercostal) Pemeriksaan Penunjang Komprehensif Analisa Gas Darah (AGD) pH: 7,25 (asidosis respiratorik) PaO2: 48 mmHg PaCO2: 68 mmHg HCO3: 26 mEq/L Base Excess: -2 Foto Toraks High-Resolution Destruksi parenkim paru difus Bullae multipel Hiperinflasi bilateral Penurunan vaskularisasi paru Gambaran bronkiekasis Pemeriksaan Laboratorium Lengkap Leukosit: 16.500/mm³ (leukositosis) Prokalsitonin: 0,8 ng/mL Kultur sputum: Pseudomonas aeruginosa multiresisten HbA1c: 8,2% Ureum/Kreatinin: Gangguan ringan fungsi ginjal Intervensi Ventilator Mekanik Advance Strategi Ventilasi Mode: Volume Control dengan Pressure Support Tidal Volume: 6 ml/kgBB (sesuai protokol lung protective) Frekuensi: 14-16x/menit PEEP: 10 cmH2O FiO2: 70% Parameter Khusus Tekanan Inspirasi Puncak: 28 cmH2O Rasio I:E: 1:3 Trigger Sensitifitas: -2 Inspiratory Time: 0,8 detik
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan latar belakang kasus Ny. Retno Widiastuti yang mengalami gagal napas kompleks, berikut adalah diagnosa keperawatan SDKI yang sesuai, luaran yang diharapkan (SLKI), dan intervensi keperawatan yang diperlukan (SIKI):
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Pola Napas Tidak Efektif berhubungan dengan gangguan mekanik paru, kelelahan otot pernapasan, dan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
2. Perfusi Jaringan Tidak Efektif berhubungan dengan gangguan pertukaran gas, vasokonstriksi perifer, dan gangguan fungsi kardiovaskular.
3. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan kelelahan, dispnea, dan penurunan kekuatan otot.
4. Risiko Infeksi berhubungan dengan penyakit paru obstruktif kronik, diabetes melitus, dan prosedur invasif.
5. Manajemen Kesehatan Tidak Efektif berhubungan dengan ketidakmampuan mengenali tanda-tanda gejala perburukan, kurangnya pengetahuan tentang pengelolaan penyakit, dan ketidakpatuhan terhadap pengobatan.
Luaran yang Diharapkan (SLKI):
1. Pola Napas Efektif: Pasien memperlihatkan pola napas yang normal dengan frekuensi, kedalaman, dan irama yang sesuai.
2. Perfusi Jaringan Adekuat: Pasien menunjukkan tanda-tanda perfusi jaringan yang baik seperti akral hangat, pengisian kapiler <3 detik, dan saturasi oksigen yang memadai.
3. Toleransi Aktivitas Meningkat: Pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari dengan tingkat kelelahan minimal.
4. Bebas Infeksi: Pasien tidak mengalami tanda-tanda infeksi seperti peningkatan suhu tubuh, produksi sputum yang berlebihan, dan hasil kultur mikroorganisme negatif.
5. Manajemen Kesehatan Efektif: Pasien dan keluarga mampu mengenali tanda-tanda gejala perburukan, mematuhi regimen pengobatan, dan menerapkan perilaku hidup sehat.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen Jalan Napas
- Lakukan suction sputum jika diperlukan
- Berikan oksigen tambahan dan sesuaikan setingan ventilator mekanik
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk nutrisi yang adekuat
2. Manajemen Perfusi
- Pantau tanda-tanda vital dan respons hemodinamik
- Berikan cairan intravena dan obat-obatan vasopressor sesuai indikasi
- Kolaborasi dengan tim medis untuk mengoreksi gangguan elektrolit
3. Manajemen Aktivitas
- Lakukan mobilisasi dini dan latihan fisik bertahap
- Ajarkan teknik-teknik konservasi energi dan perencanaan aktivitas
- Kolaborasi dengan fisioterapis untuk program rehabilitasi
4. Pencegahan Infeksi
- Lakukan pencucian tangan dan teknik aseptik saat perawatan
- Berikan antibiotik sesuai hasil kultur dan uji kepekaan
- Kolaborasi dengan ahli penyakit dalam untuk manajemen infeksi
5. Edukasi Kesehatan
- Ajarkan pasien dan keluarga tentang penyakit, pengobatan, dan perawatan diri
- Dorong partisipasi aktif pasien dalam perawatan
- Kolaborasi dengan tim multidisiplin untuk koordinasi perawatan
Dalam asuhan keperawatan komprehensif pada kasus Ny. Retno Widiastuti, perawat perlu menerapkan intervensi yang berfokus pada stabilisasi kondisi pernapasan, perfusi jaringan, manajemen aktivitas, pencegahan infeksi, serta edukasi kesehatan yang melibatkan pasien dan keluarga. Kolaborasi dengan tim medis lainnya juga sangat penting untuk mencapai luaran yang diharapkan dan memaksimalkan kualitas hidup pasien. -
Article No. 7438 | 30 Nov 2024
Klinis : 1. ketidakstabilan kadar glukosa darah 2. Penurunan curah jantung 3. Pola nafas tidak efektif buatkan berhubungan dengan, dengan data berikut Pasien mengalami penurunan kesadaran, pasien tampak demam, mukosa mulut kering, retraksi dada (-). pasien terlihat terpasang ETT, Ventilator (On Verit Mode SIMV), CVC (Central Venous Catheter) Triple Lumen di Jugularis Dextra. Dengan tanda-tanda vital : td 160/80, denyut nadi radial 95 kali/menit, denyut nadi karotis 105 kali/menit, CRT >2, suhu 40, RR 25, spo2 90%, GDS : 474. DAN HASIL LAB pH: 7.40 PCO₂ (T): 21.4 mmHg PO₂ (T): 78.6 mmHg HCO₃ (act): 12.5 mmol/L Hb: 13.3 g/dL Hematokrit: 39% Aseton: 5.1 mmol/L
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi pasien:
1. Ketidakstabilan kadar glukosa darah
Berhubungan dengan: Perubahan keseimbangan insulin-glukosa yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang tinggi (474 mg/dL)
2. Penurunan curah jantung
Berhubungan dengan: Penurunan perfusi jaringan yang ditandai dengan tanda vital yang tidak stabil (TD 160/80 mmHg, denyut nadi radial 95 kali/menit, denyut nadi karotis 105 kali/menit, CRT >2)
3. Pola napas tidak efektif
Berhubungan dengan: Gangguan pertukaran gas yang ditandai dengan SpO2 rendah (90%), retraksi dada (-), dan parameter gas darah (pH 7.40, PCO2 21.4 mmHg, PO2 78.6 mmHg, HCO3 12.5 mmol/L)
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Ketidakstabilan kadar glukosa darah
- Kadar glukosa darah dalam rentang normal
- Tidak terjadi komplikasi akibat hiperglikemia
2. Penurunan curah jantung
- Tanda vital dalam batas normal
- Perfusi jaringan adekuat
3. Pola napas tidak efektif
- Pola napas efektif
- Pertukaran gas normal
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Ketidakstabilan kadar glukosa darah
- Monitoring kadar glukosa darah secara rutin
- Pemberian insulin sesuai dengan protocol
- Edukasi tentang manajemen diabetes
2. Penurunan curah jantung
- Monitoring tanda vital secara ketat
- Pemberian cairan intravena sesuai kebutuhan
- Manajemen nyeri dan kecemasan
3. Pola napas tidak efektif
- Monitoring oksigenasi (SpO2, gas darah)
- Pengaturan ventilator sesuai kebutuhan
- Suction sekret jika diperlukan
- Posisi semi fowler untuk memfasilitasi ventilasi
Penjelasan rinci:
Pasien mengalami penurunan kesadaran, demam, mukosa kering, dan terpasang peralatan medis seperti ETT, ventilator, dan CVC. Kondisi ini mengindikasikan adanya ketidakstabilan kadar glukosa darah, penurunan curah jantung, dan pola napas tidak efektif. Tujuan luaran keperawatan adalah untuk menstabilkan kadar glukosa darah, meningkatkan curah jantung, dan memfasilitasi pola napas yang efektif. Intervensi keperawatan yang diperlukan meliputi pemantauan yang ketat, pemberian terapi sesuai kebutuhan, serta edukasi kepada pasien dan keluarga. Semua tindakan dilakukan dengan pendekatan komprehensif dan holistik untuk memastikan hasil yang optimal bagi pasien. -
Article No. 7439 | 30 Nov 2024
Klinis : anak muntah dan bab cair sejak pasien mengeluh muntah terus menerus sampai tidak terhitung setelah habis ashar. keluhan disertai BAB cair 1xtadi pagi, pasien muntah setiap minum, bab cair 5x, berwarna kuning kehijauan. anak tampak lebih rewel.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, berikut adalah Diagnosa Keperawatan dengan penjelasan singkat menggunakan standar SDKI - SLKI - SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
Diare akut
Penjelasan:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Diare akut adalah pengeluaran feses yang encer atau cair dalam jumlah yang lebih banyak dari normal, yang berlangsung kurang dari 14 hari.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Pasien akan menunjukkan pengeluaran feses yang normal, tidak ada tanda-tanda dehidrasi, dan tidak ada komplikasi.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi yang dapat diberikan meliputi manajemen cairan dan elektrolit, pemberian diet yang sesuai, serta edukasi kepada pasien dan keluarga tentang penanganan diare akut.
Sebagai perawat, saya akan melakukan pengkajian yang lebih mendalam untuk memastikan diagnosa dan mengidentifikasi penyebab dari diare akut yang dialami oleh anak tersebut. Selanjutnya, saya akan menyusun rencana keperawatan yang komprehensif untuk mengatasi masalah kesehatan anak tersebut dan mencegah komplikasi yang mungkin terjadi. -
Article No. 7440 | 30 Nov 2024
Klinis : anak muntah dan bab cair sejak pasien mengeluh muntah terus menerus sampai tidak terhitung
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, yaitu anak yang mengalami muntah dan diare yang persisten, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
1. Defisit Volume Cairan (SDKI)
Penjelasan: Kondisi di mana terdapat ketidakseimbangan antara intake dan output cairan yang menyebabkan penurunan volume cairan dalam tubuh.
2. Risiko Dehidrasi (SDKI)
Penjelasan: Kondisi di mana terdapat peningkatan risiko kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan, yang dapat menyebabkan dehidrasi.
3. Diare (SDKI)
Penjelasan: Kondisi di mana terdapat peningkatan frekuensi, volume, dan/atau keenceran eliminasi feses yang tidak dapat dikendalikan.
4. Mual (SDKI)
Penjelasan: Kondisi di mana terdapat pengalaman subjektif tidak nyaman yang mendorong untuk muntah.
Intervensi Keperawatan (SLKI):
1. Manajemen Cairan
Tujuan: Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.
Aktivitas: Mengkaji status cairan, memantau intake dan output cairan, memberikan cairan intravena, dan mengganti cairan dan elektrolit yang hilang.
2. Manajemen Diare
Tujuan: Mengendalikan frekuensi dan volume diare.
Aktivitas: Mengkaji karakteristik diare, mengidentifikasi penyebab, memberikan obat antidiare, dan mengatur diet.
3. Manajemen Mual dan Muntah
Tujuan: Mengurangi gejala mual dan muntah.
Aktivitas: Mengkaji penyebab mual dan muntah, memberikan anti-emetik, dan mengatur diet.
4. Edukasi Kesehatan
Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan pasien/keluarga dalam perawatan.
Aktivitas: Memberikan informasi terkait penyebab, pencegahan, dan penanganan diare dan dehidrasi.
Hasil yang Diharapkan (SIKI):
1. Keseimbangan Cairan Terpenuhi
2. Tidak Terjadi Dehidrasi
3. Diare Terkendali
4. Tidak Terjadi Mual dan Muntah
5. Pasien/Keluarga Memahami Perawatan yang Diperlukan
Harapan saya, penjelasan ini dapat membantu Anda dalam memahami diagnosa keperawatan dan intervensi yang sesuai untuk kondisi anak yang mengalami muntah dan diare persisten. Jangan ragu untuk bertanya lebih lanjut jika memerlukan penjelasan tambahan. -
Article No. 7441 | 30 Nov 2024
Klinis : pasien mengeluh muntah terus menerus sampai tidak terhitung
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Intoleransi Makan
Definisi:
Ketidakmampuan untuk mentolerir asupan makanan oral atau enteral yang menyebabkan gejala gastrointestinal yang merugikan.
Penjelasan Singkat:
Berdasarkan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia, pasien yang mengeluh muntah terus-menerus dapat didiagnosis dengan "Intoleransi Makan".
SDKI:
- Faktor yang berhubungan: Obstruksi saluran gastrointestinal, penyakit metabolik, infeksi, kecemasan, perubahan respon psikologis.
- Karakteristik Definisi: Muntah, rasa kenyang dini, nyeri abdomen, diare, penurunan berat badan.
SLKI:
- Hasil yang diharapkan: Toleransi makan meningkat, asupan nutrisi adekuat, status cairan dan elektrolit seimbang.
SIKI:
- Intervensi Keperawatan: Manajemen mual dan muntah, manajemen diare, manajemen nyeri abdomen, konseling nutrisi, terapi cairan dan elektrolit.
Perawat harus melakukan pengkajian komprehensif, menentukan intervensi yang tepat, dan memantau respon pasien secara teratur untuk mencapai hasil yang diharapkan. -
Article No. 7442 | 30 Nov 2024
Klinis : pasien mengeluh muntah terus menerus sampai tidak terhitung. keluhan disertai BAB cair 1x
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, yakni pasien mengeluh muntah terus-menerus hingga tidak terhitung, disertai dengan BAB cair 1 kali, maka diagnosis keperawatan yang sesuai adalah:
1. Diagnosa Keperawatan (SDKI):
Mual (00134)
Definisi: Pengalaman subyektif yang tidak menyenangkan yang mengarah pada keinginan untuk memuntahkan isi perut.
2. Penjelasan singkat:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
SDKI merupakan standar terminologi diagnosis keperawatan yang dikembangkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Diagnosa keperawatan dalam SDKI dirumuskan berdasarkan pola respons manusia, masalah kesehatan yang dialami, dan potensi masalah kesehatan yang mungkin timbul.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
SLKI adalah standar terminologi hasil/luaran yang diharapkan dari asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien. SLKI membantu perawat dalam menetapkan dan mengevaluasi tujuan/hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
SIKI adalah standar terminologi intervensi keperawatan yang dikembangkan oleh PPNI. SIKI membantu perawat dalam merencanakan dan melaksanakan intervensi keperawatan yang tepat untuk mencapai hasil/luaran yang diharapkan.
Dengan tone akademis, persona pakar, dan nurse, diharapkan penjelasan di atas dapat memberikan informasi yang jelas dan komprehensif mengenai diagnosis keperawatan dan standar-standar keperawatan yang berlaku di Indonesia. -
Article No. 7443 | 30 Nov 2024
Klinis : pasien mengeluh muntah terus menerus. keluhan disertai BAB cair 1x
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Untuk kondisi pasien yang mengeluh muntah terus menerus dan disertai BAB cair 1x, berdasarkan standar SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang dikeluarkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia, dapat diberikan diagnosa dan penjelasan singkat sebagai berikut:
Diagnosa Keperawatan:
Diare akut
Penjelasan:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Diare akut didefinisikan sebagai pengeluaran feses yang lebih sering dari normal, dengan konsistensi cair atau lembek, yang berlangsung kurang dari 14 hari.
- Karakteristik utama: Pengeluaran feses yang lebih sering dari normal, dengan konsistensi cair atau lembek, disertai rasa tidak nyaman dan/atau nyeri perut.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan: Pemulihan status cairan dan elektrolit, perbaikan pola defekasi, dan pengendalian gejala.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi keperawatan yang dapat diberikan: Manajemen diare akut, manajemen cairan dan elektrolit, manajemen nyeri, dan edukasi tentang diare.
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus mengkaji lebih lanjut kondisi pasien, faktor penyebab, dan respons pasien terhadap intervensi yang diberikan. Tujuan utama adalah untuk memulihkan status cairan dan elektrolit, mengendalikan gejala, dan mencegah komplikasi yang mungkin terjadi. -
Article No. 7444 | 30 Nov 2024
Klinis : pasien mengeluh muntah terus menerus. keluhan disertai BAB cair 1x
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Diagnosa Keperawatan yang sesuai untuk kondisi pasien dengan keluhan muntah terus-menerus dan BAB cair 1 kali adalah Diare. Diare didefinisikan sebagai perubahan konsistensi dan frekuensi BAB menjadi lebih encer dan sering, umumnya lebih dari 3 kali dalam sehari.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Pemulihan Status Cairan: Pasien akan mempertahankan status cairan yang adekuat, ditandai dengan:
a. Intake dan output cairan yang seimbang
b. Tanda-tanda vital stabil
c. Mukosa lembab
d. Turgor kulit baik
2. Pengendalian Diare: Pasien akan mengendalikan episode diare, ditandai dengan:
a. Frekuensi BAB menurun menjadi normal
b. Konsistensi feses kembali normal
c. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi
3. Manajemen Gejala: Pasien akan mengelola gejala diare dengan efektif, ditandai dengan:
a. Tidak ada episode muntah
b. Rasa mual menurun
c. Tidak ada nyeri abdomen
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
1. Pemulihan Status Cairan:
a. Kaji status cairan secara komprehensif, termasuk intake, output, tanda-tanda vital, dan turgor kulit.
b. Berikan cairan intravena atau oral sesuai kebutuhan untuk mempertahankan keseimbangan cairan.
c. Monitor dan catat intake dan output cairan secara akurat.
d. Pantau tanda-tanda vital dan turgor kulit untuk mendeteksi tanda-tanda dehidrasi.
2. Pengendalian Diare:
a. Kaji frekuensi, konsistensi, dan karakteristik feses.
b. Identifikasi faktor pencetus diare dan ambil tindakan untuk mengendalikannya.
c. Berikan diet rendah serat dan mudah dicerna untuk mengurangi frekuensi BAB.
d. Berikan obat antidiare sesuai indikasi untuk menghentikan episode diare.
3. Manajemen Gejala:
a. Kaji tanda-tanda dan gejala, seperti mual, muntah, dan nyeri abdomen.
b. Berikan antiemetik atau antiasam sesuai indikasi untuk mengatasi mual dan muntah.
c. Berikan analgesik atau antispasmodik sesuai indikasi untuk mengatasi nyeri abdomen.
d. Ajarkan teknik manajemen gejala, seperti relaksasi dan distraksi, kepada pasien.
Penjelasan rinci:
Diagnosa Keperawatan SDKI "Diare" dipilih karena pasien mengeluh muntah terus-menerus dan BAB cair 1 kali, yang merupakan gejala-gejala utama dari diare. Luaran yang diharapkan adalah pemulihan status cairan, pengendalian diare, dan manajemen gejala. Intervensi keperawatan yang diperlukan meliputi pemantauan status cairan, pemberian cairan, pengendalian faktor pencetus, pemberian obat, dan manajemen gejala. Semua intervensi ini bertujuan untuk memulihkan kondisi pasien dan mencegah komplikasi yang dapat terjadi akibat diare. -
Article No. 7445 | 30 Nov 2024
Klinis : tampak menggunakan otot bantu pernafasan, RR 60 x/mnt,. terpasang CPAP 5, flow 8 L/mnt, FiO2 50%, SPO2 97%
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, serta intervensi keperawatan yang diperlukan untuk kondisi yang Anda sampaikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Berdasarkan kondisi yang Anda berikan, yaitu tampak menggunakan otot bantu pernapasan, RR 60 x/mnt, terpasang CPAP 5, flow 8 L/mnt, FiO2 50%, dan SPO2 97%, maka diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Pola Napas Tidak Efektif. Diagnosa ini menggambarkan adanya ketidakmampuan pasien untuk bernapas dengan mudah, dalam, dan teratur, yang ditandai dengan penggunaan otot bantu pernapasan, laju pernapasan yang cepat, dan kebutuhan dukungan oksigen tambahan.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Pola Napas: Pasien akan menunjukkan pola napas yang efektif, ditandai dengan frekuensi napas 12-20 x/menit, irama napas teratur, serta tidak ditemukan penggunaan otot bantu pernapasan.
2. Status Oksigenasi: Pasien akan menunjukkan status oksigenasi yang memadai, dengan nilai SPO2 ≥ 95% pada FiO2 ≤ 40%.
3. Kenyamanan Pernapasan: Pasien akan melaporkan kenyamanan pernapasan yang meningkat, dengan keluhan sesak napas minimal atau tidak ada.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan (SIKI):
1. Pantau tanda-tanda vital (frekuensi napas, irama napas, penggunaan otot bantu pernapasan) secara teratur.
2. Berikan oksigen sesuai kebutuhan pasien, dengan mengatur laju aliran dan FiO2 untuk mempertahankan SPO2 ≥ 95%.
3. Kolaborasi dengan tim medis untuk penggunaan CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) yang sesuai untuk mempertahankan pola napas efektif.
4. Anjurkan pasien untuk melakukan napas dalam dan latihan batuk efektif untuk meningkatkan ekspansi paru.
5. Berikan posisi semi-fowler atau fowler untuk memfasilitasi ekspansi paru.
6. Pantau dan catat hasil pemeriksaan laboratorium terkait status oksigenasi (misalnya, analisis gas darah).
7. Kolaborasi dengan tim medis untuk memantau dan mengevaluasi efektivitas terapi oksigen dan CPAP.
8. Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya penggunaan oksigen dan CPAP, serta latihan pernapasan untuk memperbaiki pola napas.
9. Lakukan koordinasi dengan tim multidisiplin (fisioterapis, ahli gizi, dll.) untuk memberikan intervensi tambahan yang diperlukan.
Penjelasan rinci:
Diagnosa keperawatan Pola Napas Tidak Efektif dipilih karena pasien menunjukkan tanda-tanda pernapasan yang tidak efektif, seperti penggunaan otot bantu pernapasan dan laju pernapasan yang cepat. Luaran/output yang diharapkan adalah agar pasien dapat mencapai pola napas yang efektif, status oksigenasi yang memadai, serta kenyamanan pernapasan yang meningkat. Intervensi keperawatan yang diperlukan berfokus pada pemantauan tanda-tanda vital, pemberian oksigen dan CPAP, serta upaya untuk meningkatkan ekspansi paru dan kenyamanan pernapasan pasien. -
Article No. 7446 | 30 Nov 2024
Klinis : bayi tidak mampu melekat pada payudara ibu, BAK bayi kurang dari 8 kali perhari, bayi berada di inkubator
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan senang hati, saya akan memberikan rincian diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan yang sesuai dengan kondisi yang diberikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Ketidakefektifan menyusu: Ketidakmampuan bayi untuk melekat dan mengisap payudara ibu secara efektif, yang dapat disebabkan oleh imaturitas saraf, distress pernapasan, atau kurang pengalaman menyusu.
2. Ketidakcukupan volume cairan: Intake cairan yang tidak adekuat, yang ditandai dengan frekuensi berkemih kurang dari 8 kali per hari.
3. Risiko hipotermi: Adanya faktor yang dapat menyebabkan penurunan suhu tubuh bayi, dalam kasus ini dikarenakan bayi berada di inkubator.
Luaran/Output yang diharapkan (SLKI):
1. Ketidakefektifan menyusu:
- Bayi dapat melekat dan mengisap payudara ibu secara efektif.
- Bayi dapat menyusu secara mandiri dan konsisten.
- Ibu dapat menyusui bayi dengan teknik yang benar.
2. Ketidakcukupan volume cairan:
- Bayi dapat memenuhi kebutuhan cairan yang adekuat.
- Frekuensi berkemih bayi meningkat menjadi minimal 8 kali per hari.
- Berat badan bayi meningkat sesuai dengan kurva pertumbuhan normal.
3. Risiko hipotermi:
- Suhu tubuh bayi terpelihara dalam batas normal.
- Bayi dapat beradaptasi dengan suhu di luar inkubator.
- Bayi menunjukkan tanda-tanda kestabilan suhu tubuh.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Ketidakefektifan menyusu:
- Ajarkan ibu teknik menyusui yang benar.
- Bantu bayi untuk melekat dan mengisap payudara secara efektif.
- Pantau pola menyusu dan durasi menyusu.
- Berikan dukungan dan edukasi kepada ibu terkait proses menyusui.
2. Ketidakcukupan volume cairan:
- Pantau intake dan output cairan bayi.
- Berikan cairan intravena sesuai kebutuhan bayi.
- Ajarkan ibu teknik menyusui yang efektif untuk meningkatkan produksi ASI.
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk menentukan kebutuhan cairan bayi.
3. Risiko hipotermi:
- Pantau suhu tubuh bayi secara teratur.
- Atur suhu inkubator sesuai dengan kebutuhan bayi.
- Lakukan tindakan pencegahan kehilangan panas, seperti penggunaan selimut atau topi.
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk mengevaluasi kondisi bayi dan rencana perawatan.
Penjelasan rinci dan terperinci:
Diagnosa keperawatan SDKI yang diberikan merupakan masalah-masalah keperawatan yang sering ditemui pada bayi dengan kondisi tidak mampu melekat pada payudara ibu, frekuensi berkemih kurang dari 8 kali per hari, dan berada di inkubator. Setiap diagnosa keperawatan ini memiliki luaran/output yang diharapkan sesuai dengan SLKI, yang menggambarkan keberhasilan asuhan keperawatan dalam mengatasi masalah-masalah tersebut.
Selanjutnya, intervensi keperawatan yang diberikan berdasarkan SIKI bertujuan untuk mencapai luaran yang diharapkan. Intervensi-intervensi tersebut melibatkan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain, edukasi kepada ibu, serta tindakan keperawatan spesifik untuk mengatasi masing-masing masalah keperawatan. Secara keseluruhan, rencana asuhan keperawatan ini dirancang untuk membantu bayi mencapai kondisi yang optimal dan memfasilitasi proses pemulihan serta peningkatan kesehatan.