Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 7485 | 01 Dec 2024
Klinis : resiko mutilasi diri pada anak autisme
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis terkait dengan risiko mutilasi diri pada anak dengan autism:
1. Kode ICD-10:
- Kode: F84.0
- Deskripsi: Autisme infantil
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 94.33
- Deskripsi: Terapi perilaku, modifikasi perilaku
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 F84.0 (Autisme infantil) digunakan untuk menggambarkan kondisi anak dengan gangguan perkembangan yang ditandai dengan defisit sosial dan komunikasi, serta pola perilaku yang terbatas dan repetitif. Anak-anak dengan autisme memiliki risiko yang lebih tinggi untuk melakukan tindakan mutilasi diri, seperti melukai diri sendiri, karena adanya kesulitan dalam mengekspresikan emosi dan perilaku yang tidak adaptif.
2. Kode ICD-9-CM 94.33 (Terapi perilaku, modifikasi perilaku) dapat digunakan untuk menggambarkan intervensi terapeutik yang ditujukan untuk mengurangi risiko mutilasi diri pada anak dengan autisme. Terapi perilaku, seperti modifikasi perilaku, menggunakan teknik-teknik yang dirancang untuk meningkatkan keterampilan sosial, komunikasi, dan manajemen emosi, serta mengurangi perilaku yang merugikan pada anak-anak dengan autisme.
Dalam penanganan kasus ini, pendekatan yang komprehensif dan terstruktur sangat diperlukan, dengan melibatkan tim multidisipliner yang terdiri dari dokter, psikolog, dan terapis. Intervensi yang berfokus pada pengembangan keterampilan sosial, komunikasi, dan manajemen emosi, serta penggunaan teknik modifikasi perilaku, dapat membantu mengurangi risiko mutilasi diri pada anak dengan autisme. -
Article No. 7486 | 01 Dec 2024
Klinis : retinoblastoma
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan untuk Retinoblastoma berdasarkan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Diagnosa Keperawatan:
a. Gangguan Penglihatan
b. Ansietas
c. Nyeri Akut
2. Penjelasan Singkat:
a. Gangguan Penglihatan
- SDKI: Keterbatasan kemampuan penglihatan yang disebabkan oleh adanya gangguan struktur atau fungsi mata.
- SLKI: Pasien dapat mempertahankan fungsi penglihatan seoptimal mungkin.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi manajemen nyeri, terapi farmakologi, terapi non-farmakologi, edukasi, dan pemantauan fungsi penglihatan.
b. Ansietas
- SDKI: Respon emosional dan psikologis individu terhadap sumber penyebab kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman.
- SLKI: Pasien dapat mengelola kecemasan yang dirasakan.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi manajemen ansietas, terapi relaksasi, terapi kognitif, terapi kelompok, dan pemberian dukungan emosional.
c. Nyeri Akut
- SDKI: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial.
- SLKI: Pasien dapat melaporkan nyeri dalam batas yang dapat ditoleransi.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi manajemen nyeri, terapi farmakologi, terapi non-farmakologi, edukasi, dan pemantauan tanda-tanda vital.
Dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan retinoblastoma, perawat perlu mempertimbangkan aspek-aspek tersebut untuk memberikan perawatan yang komprehensif dan terpusat pada pasien. -
Article No. 7487 | 01 Dec 2024
Klinis : retinoblastoma pada anak
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Perdarahan Berhubungan dengan Proses Penyakit Retinoblastoma
Penjelasan:
Retinoblastoma adalah kanker mata yang dapat menyebabkan perdarahan pada mata atau orbit mata. Anak dengan retinoblastoma memiliki risiko perdarahan yang tinggi, terutama jika tumor sudah menyebar atau metastasis.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Risiko Perdarahan
Definisi: Keadaan di mana seseorang rentan mengalami hilangnya darah dari pembuluh darah yang rusak.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Integritas Jaringan: Dapat Mempertahankan
Definisi: Kemampuan jaringan untuk tetap sehat dan berfungsi dengan baik.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Pemantauan Tanda Vital
Definisi: Tindakan memantau dan mencatat parameter fisiologis tubuh untuk mengidentifikasi perubahan status kesehatan.
2. Gangguan Penglihatan Berhubungan dengan Pertumbuhan Tumor Retinoblastoma
Penjelasan:
Retinoblastoma dapat menyebabkan gangguan penglihatan akibat adanya tumor yang tumbuh di dalam mata. Tumor dapat menekan saraf optik dan menyebabkan kebutaan.
SDKI:
Gangguan Penglihatan
Definisi: Keadaan di mana individu mengalami penurunan atau kehilangan kemampuan visual.
SLKI:
Fungsi Sensorik: Dapat Mempertahankan
Definisi: Kemampuan untuk memperoleh dan menginterpretasikan informasi sensorik.
SIKI:
Manajemen Nyeri
Definisi: Serangkaian tindakan yang dilakukan untuk mengendalikan nyeri yang dialami individu. -
Article No. 7488 | 01 Dec 2024
Klinis : retinoblastoma pada anak
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan senang hati, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci mengenai diagnosis keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan untuk pasien anak dengan kondisi retinoblastoma.
Diagnosis Keperawatan SDKI:
Berdasarkan kondisi pasien anak dengan retinoblastoma, diagnosis keperawatan yang sesuai adalah:
1. Nyeri Akut
Pasien anak dengan retinoblastoma dapat mengalami nyeri akut yang disebabkan oleh pertumbuhan tumor pada mata dan efek samping dari pengobatan, seperti kemoterapi atau radioterapi.
2. Risiko Infeksi
Pasien anak dengan retinoblastoma memiliki risiko infeksi yang tinggi karena kondisi imunosupresi akibat pengobatan kanker dan penurunan fungsi sistem imun.
3. Gangguan Citra Tubuh
Retinoblastoma dapat menyebabkan perubahan pada penampilan fisik anak, seperti kehilangan mata atau deformitas pada mata, yang dapat mempengaruhi citra tubuh dan konsep diri anak.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Nyeri Akut
- Pasien melaporkan penurunan intensitas nyeri.
- Pasien dapat mengelola nyeri dengan menggunakan strategi manajemen nyeri yang efektif.
- Tanda-tanda vital pasien stabil dalam rentang normal.
2. Risiko Infeksi
- Pasien tidak mengalami tanda-tanda infeksi.
- Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan nilai normal.
- Pasien dan keluarga mampu melakukan tindakan pencegahan infeksi dengan benar.
3. Gangguan Citra Tubuh
- Pasien dan keluarga dapat menerima perubahan fisik yang terjadi.
- Pasien menunjukkan peningkatan harga diri dan penerimaan diri.
- Pasien dapat terlibat dalam aktivitas yang meningkatkan citra tubuh positif.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Nyeri Akut
- Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif.
- Berikan analgesik sesuai dengan resep dokter.
- Ajarkan pasien dan keluarga teknik manajemen nyeri non-farmakologis, seperti relaksasi, distraksi, dan terapi komplementer.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk mengelola penyebab nyeri.
2. Risiko Infeksi
- Lakukan pengkajian tanda-tanda infeksi secara rutin.
- Berikan perawatan luka dan teknik aseptik saat memberikan intervensi.
- Edukasi pasien dan keluarga tentang pencegahan infeksi, seperti cuci tangan, penggunaan masker, dan menjaga kebersihan lingkungan.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk memberikan terapi antibiotik atau tindakan profilaksis sesuai indikasi.
3. Gangguan Citra Tubuh
- Lakukan pengkajian dan identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi citra tubuh pasien.
- Berikan dukungan emosional dan konseling untuk membantu pasien dan keluarga menerima perubahan fisik.
- Libatkan pasien dalam aktivitas yang dapat meningkatkan harga diri, seperti aktivitas kreatif atau rekreasi.
- Kolaborasi dengan tim psikolog atau konselor untuk intervensi terkait citra tubuh.
Dengan pemahaman yang komprehensif mengenai diagnosis keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang holistik dan berkualitas untuk pasien anak dengan retinoblastoma. -
Article No. 7489 | 01 Dec 2024
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, kode ICD-10 dan ICD-9-CM yang sesuai adalah sebagai berikut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: A15.0
- Deskripsi: Tuberkulosis paru dengan konfirmasi bakteriologi
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 87.44
- Deskripsi: Kultur spesimen sputum untuk identifikasi bakteri
Penjelasan:
Pasien ini datang dengan keluhan batuk berdahak, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan selama 2 minggu. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas dan lesi di paru pada pemeriksaan radiografi. Berdasarkan gejala dan temuan klinis, diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
Kode ICD-10 A15.0 (Tuberkulosis paru dengan konfirmasi bakteriologi) sesuai dengan diagnosis tuberkulosis paru yang didukung oleh hasil pemeriksaan klinis dan radiologis. Kode ini mencakup tuberkulosis paru yang dikonfirmasi dengan pemeriksaan mikrobiologis, seperti pewarnaan sputum atau kultur.
Dalam penanganan pasien ini, prosedur yang mungkin dilakukan adalah kultur spesimen sputum untuk identifikasi bakteri penyebab tuberkulosis. Kode ICD-9-CM 87.44 (Kultur spesimen sputum untuk identifikasi bakteri) sesuai dengan prosedur ini.
Dengan informasi klinis yang diberikan, diagnosis tuberkulosis paru dan pemeriksaan kultur sputum merupakan langkah diagnostik yang sesuai untuk mengelola kasus ini. -
Article No. 7490 | 01 Dec 2024
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan, penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan proses penyakit paru (tuberculosis paru).
2. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan kapasitas fungsional.
Penjelasan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Ketidakefektifan pola napas: Ketidakmampuan untuk memelihara ventilasi yang memadai yang menyebabkan pertukaran gas tidak optimal.
2. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh: Asupan makanan dan/atau cairan yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
3. Intoleransi aktivitas: Ketidakmampuan untuk menjalani atau menyelesaikan aktivitas rutin karena keterbatasan fisik dan/atau psikologis.
Penjelasan SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Pola napas efektif, ditandai dengan frekuensi napas dalam batas normal, tidak ada retraksi dinding dada, dan tidak ada suara napas tambahan.
2. Status nutrisi membaik, ditandai dengan peningkatan berat badan, kadar albumin dalam batas normal, dan tidak ada tanda-tanda kekurangan nutrisi.
3. Toleransi aktivitas meningkat, ditandai dengan peningkatan kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari tanpa kelelahan yang berlebihan.
Penjelasan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen jalan napas, bertujuan untuk mempertahankan patensi jalan napas dan memaksimalkan ventilasi.
2. Manajemen nutrisi, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien dan mencegah komplikasi.
3. Manajemen aktivitas, bertujuan untuk memfasilitasi peningkatan toleransi aktivitas pasien.
Sebagai perawat, saya akan mengembangkan rencana asuhan keperawatan yang komprehensif berdasarkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI untuk membantu pasien dalam proses pemulihan. -
Article No. 7491 | 01 Dec 2024
Klinis : Tn. A usia 20 tahun, klien mengatakan gatal-gatal sejak 2 tahun yang lalu terasa panas dan kemerahan didaerah wajah, leher dan punggung akibat rasa gatal tersebut. Klien menggaruknya sehingga timbul rasa panas dan merah pada kulitnya. Intensitas gatalnya akan meningkat saat klien terkena sinar matahari langsung dan berkeringat, klien mengatakan rasa gatal itu akan berkurang jika klien mandy. Klien mengatakan kalau gatalnya tersebut muncul karena alergi udang dan kerang. Dari hasil pemeriksaan fisik klien didapatkan hasil TTV sebagai berikut: TD: 100/70 mmhg, N: 70x/menit, RR: 20x/menit, S: 36,8°C
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang telah Anda deskripsikan, berikut adalah Diagnosa Keperawatan, serta penjelasan singkat terkait SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang sesuai:
Diagnosa Keperawatan:
Intoleransi Aktivitas Berhubungan dengan Gejala Pruritus (Gatal-gatal)
Penjelasan:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas harian yang diinginkan atau yang dibutuhkan, yang disebabkan oleh gejala pruritus (gatal-gatal).
- Karakteristik Definisi: Rasa gatal pada kulit, kemerahan, peningkatan gatal saat terkena sinar matahari atau berkeringat, penurunan gatal saat mandi.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan: Klien mampu melakukan aktivitas harian tanpa hambatan.
- Kriteria Hasil: Klien dapat melakukan aktivitas harian dengan nyaman, tingkat pruritus menurun, dan tidak ada komplikasi.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi Keperawatan:
1. Manajemen Pruritus (Gatal-gatal)
- Tujuan: Mengurangi rasa gatal dan mencegah komplikasi.
- Aktivitas: Identifikasi faktor-faktor pencetus gatal, kolaborasi pemberian obat antihistamin, kompres dingin pada area yang gatal, kontrol paparan sinar matahari, dan latih teknik mengatasi rasa gatal.
2. Peningkatan Kenyamanan
- Tujuan: Meningkatkan kenyamanan klien.
- Aktivitas: Identifikasi penyebab ketidaknyamanan, berikan intervensi yang sesuai, evaluasi efektivitas intervensi, dan berikan dukungan emosional.
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus mengacu pada standar-standar tersebut untuk memastikan kualitas dan keselamatan praktik keperawatan. -
Article No. 7492 | 01 Dec 2024
Klinis : Tn. A usia 20 tahun, klien mengatakan gatal-gatal sejak 2 tahun yang lalu terasa panas dan kemerahan didaerah wajah, leher dan punggung akibat rasa gatal tersebut. Klien menggaruknya sehingga timbul rasa panas dan merah pada kulitnya. Intensitas gatalnya akan meningkat saat klien terkena sinar matahari langsung dan berkeringat, klien mengatakan rasa gatal itu akan berkurang jika klien mandy. Klien mengatakan kalau gatalnya tersebut muncul karena alergi udang dan kerang. Dari hasil pemeriksaan fisik klien didapatkan hasil TTV sebagai berikut: TD: 100/70 mmhg, N: 70x/menit, RR: 20x/menit, S: 36,8°C
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat menggunakan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan intoleransi terhadap sinar matahari dan berkeringat sebagaimana ditandai dengan keluhan gatal-gatal, rasa panas dan kemerahan pada kulit.
Penjelasan Singkat:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Intoleransi aktivitas: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diinginkan atau diperlukan akibat kendala fisik atau psikologis.
- Faktor yang berhubungan: Intoleransi terhadap sinar matahari dan berkeringat, yang menyebabkan peningkatan gejala gatal-gatal, rasa panas, dan kemerahan pada kulit.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Toleransi aktivitas: Kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diinginkan atau diperlukan tanpa kendala fisik atau psikologis.
- Luaran yang diharapkan: Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan nyaman tanpa adanya kendala gatal-gatal, rasa panas, dan kemerahan pada kulit.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Manajemen alergi: Tindakan untuk mengendalikan dan mengelola respons hipersensitif terhadap suatu zat atau rangsangan.
- Intervensi keperawatan: Identifikasi faktor pemicu alergi (sinar matahari, berkeringat), hindari faktor pemicu, berikan obat anti-alergi sesuai rekomendasi, dan ajarkan teknik manajemen gejala alergi.
Dalam kasus ini, fokus utama keperawatan adalah membantu klien mengatasi intoleransi aktivitas akibat gejala alergi yang dialaminya, sehingga klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan nyaman. -
Article No. 7493 | 01 Dec 2024
Klinis : Tn. A usia 20 tahun, klien mengatakan gatal-gatal sejak 2 tahun yang lalu terasa panas dan kemerahan didaerah wajah, leher dan punggung akibat rasa gatal tersebut. Klien menggaruknya sehingga timbul rasa panas dan merah pada kulitnya. Intensitas gatalnya akan meningkat saat klien terkena sinar matahari langsung dan berkeringat, klien mengatakan rasa gatal itu akan berkurang jika klien mandy. Klien mengatakan kalau gatalnya tersebut muncul karena alergi udang dan kerang. Dari hasil pemeriksaan fisik klien didapatkan hasil TTV sebagai berikut: TD: 100/70 mmhg, N: 70x/menit, RR: 20x/menit, S: 36,8°C
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah:
1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan pruritus (gatal-gatal) yang mengakibatkan peningkatan enersi yang dibutuhkan.
Klien mengalami gatal-gatal yang memicu rasa tidak nyaman dan dorongan untuk menggaruk sehingga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Toleransi aktivitas meningkat
- Klien dapat beraktivitas sesuai kemampuan tanpa mengalami peningkatan gejala pruritus (gatal-gatal).
2. Kontrol gejala membaik
- Klien dapat mengendalikan gejala pruritus (gatal-gatal) dengan baik.
3. Manajemen pruritus efektif
- Klien dapat mengelola pruritus (gatal-gatal) dengan tepat sehingga tidak menimbulkan kerusakan kulit lebih lanjut.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Pruritus
- Identifikasi penyebab dan faktor pemicu pruritus (gatal-gatal)
- Ajarkan teknik non-farmakologis untuk mengurangi gatal, seperti teknik relaksasi, kompres dingin, dan hindari iritan kulit
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk pemberian terapi farmakologis yang sesuai
2. Manajemen Aktivitas
- Lakukan pengkajian toleransi aktivitas
- Bantu klien merencanakan aktivitas sesuai dengan kemampuan
- Ajarkan teknik energi konservasi
3. Edukasi Kesehatan
- Berikan edukasi terkait penyebab, pencetus, dan manajemen pruritus (gatal-gatal)
- Ajarkan cara mencegah dan mengatasi kekambuhan
Penjelasan rinci:
Diagnosa keperawatan "Intoleransi aktivitas berhubungan dengan pruritus (gatal-gatal) yang mengakibatkan peningkatan enersi yang dibutuhkan" didasarkan pada keluhan utama klien yaitu gatal-gatal yang timbul sejak 2 tahun lalu, serta tanda dan gejala yang dialami seperti rasa panas, kemerahan, dan dorongan untuk menggaruk kulit. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari klien.
Luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan yaitu toleransi aktivitas meningkat, kontrol gejala membaik, dan manajemen pruritus efektif. Hal ini bertujuan agar klien dapat beraktivitas dengan baik tanpa terganggu oleh gejala pruritus, dapat mengendalikan gejala pruritus dengan tepat, serta dapat mengelola pruritus secara efektif sehingga tidak terjadi kerusakan kulit lebih lanjut.
Intervensi keperawatan yang diperlukan adalah manajemen pruritus, manajemen aktivitas, dan edukasi kesehatan. Manajemen pruritus bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab dan faktor pemicu pruritus serta mengajarkan teknik non-farmakologis dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk penanganan farmakologis. Manajemen aktivitas bertujuan untuk mengkaji toleransi aktivitas klien, membantu merencanakan aktivitas yang sesuai, dan mengajarkan teknik energi konservasi. Edukasi kesehatan bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada klien terkait penyebab, pencetus, dan manajemen pruritus, serta cara mencegah dan mengatasi kekambuhan.
Penerapan intervensi keperawatan ini secara komprehensif diharapkan dapat membantu klien mencapai luaran yang diharapkan, yaitu meningkatnya toleransi aktivitas, membaikknya kontrol gejala, dan efektifnya manajemen pruritus. -
Article No. 7494 | 01 Dec 2024
Klinis : Klien (Ny. D) Usia 35 tahun dibawa ke UGD salah satu rumah sakit. Klien mengatakan tidak nafsu makan, mual dan muntah, Kulit berwarna kuning, BB turun 10 kg dalam 3 bulan terakhir. Pengukuran tanda vital didapatkan: TD 140/90mmHg, N 102x/mnt, S 36C, RR 20x/menit . BB 60 TB 150. Dokter meresepkan ranitidin, kepada klien.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
1. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan nafsu makan dan mual/muntah, ditandai dengan penurunan BB sebanyak 10 kg dalam 3 bulan terakhir.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Peningkatan Asupan Nutrisi
- Klien dapat mengonsumsi makanan dan cairan sesuai kebutuhan tubuh.
- Klien dapat mempertahankan berat badan dalam rentang normal.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Nutrisi
- Kaji asupan nutrisi dan cairan klien saat ini.
- Kolaborasi dengan tenaga gizi untuk merencanakan diet yang sesuai dengan kondisi klien.
- Anjurkan klien untuk mengonsumsi makanan dan cairan sesuai diet yang direkomendasikan.
- Pantau BB klien secara berkala.
- Berikan dukungan dan edukasi kepada klien dan keluarga terkait pentingnya asupan nutrisi yang adekuat.
2. Manajemen Mual dan Muntah
- Kaji frekuensi, durasi, dan penyebab mual dan muntah.
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antiemetik sesuai resep.
- Anjurkan klien untuk mengonsumsi makanan dan cairan dalam porsi kecil tapi sering.
- Ajarkan teknik relaksasi untuk mengurangi mual.
- Pantau tanda-tanda dehidrasi dan upayakan pencegahannya.
Penjelasan:
Diagnosa keperawatan "Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh" dipilih karena klien mengalami penurunan berat badan yang signifikan (10 kg dalam 3 bulan) akibat penurunan nafsu makan dan mual/muntah. Luaran yang diharapkan adalah klien dapat meningkatkan asupan nutrisi dan mempertahankan berat badan dalam rentang normal. Intervensi keperawatan yang diperlukan mencakup manajemen nutrisi dan manajemen mual/muntah untuk membantu klien memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan.