Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 7560 | 02 Dec 2024
Klinis : No. Observed (Tuliskan semua hasil observasi) Expected (Tuliskan adanya kesesuaian dengan harapan) Concern (Tuliskan Prioritas) 1. Seorang perempuan Ny R usia 37 tahun dibawa tetangganya ke rumah sakit jiwa karena berbicara sendiri, berteriak dan tertawa sendiri. Ny R juga memukul anaknya karena diingatkan anaknya untuk sholat namun Ny R marah-marah. Semenjak saat itu ia sering marah tanpa sebab dan hampir mencederai keluarganya sendiri. Orangtua pasien menjauhkan Ny R dari keluarganya karena merasa malu . Tidak Sesuai 1 2. Ny R mengalami gangguan jiwa sejak, diceraikan suaminya. Hal yang tidak menyenangkan bagi pasien yaitu pernah di PHK dari pekerjaannya, hal ini semakin membuat pasien merasa sedih dan malu karena menjadi seorang pengangguran. Ny R pernah satu kali dirawat di RS erba 5 tahun lalu dan sekarang masuk kembali dikarenakan tidak pernah konsul dan tidak minum obat. Tidak Sesuai 3 3. Berdasarkan interaksi dengan perawat, terlihat cara pasien berbicara cukup baik, namun terkadang cara bicara pasien cepat dengan suara yang keras saat pasien tidak menyukai suatu hal atau ketika pasien mulai merasa bosan. Berdasarkan hasil observasi aktivitas pasien, Ny. R terlihat gelisah dengan pasien sering mondar-mandir di dalam ruang perawatan. pasien cukup kooperatif saat berinteraksi dengan orang lain. Kontak mata ada. Namun terkadang, wajah pasien berubah menjadi tegang, mudah tersinggung dan wajahnya memerah. pasien mengatakan sering memendam perasaan dan masalah dan tidak mau bercerita dengan orang lain baik itu orang tua, maupun saudaranya. Tidak Sesuai 2
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan dan Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI Standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk Kasus Ny. R
Observed:
1. Ny. R menunjukkan perilaku berbicara sendiri, berteriak, tertawa sendiri, sering marah tanpa sebab, dan hampir mencederai keluarganya sendiri.
2. Ny. R mengalami gangguan jiwa sejak diceraikan suaminya dan pernah dirawat di rumah sakit 5 tahun lalu, namun tidak pernah konsul dan tidak minum obat.
3. Ny. R menunjukkan cara bicara yang cepat dengan suara keras saat tidak menyukai sesuatu atau merasa bosan, sering mondar-mandir di ruang perawatan, mudah tersinggung, dan memerah wajahnya. Ny. R juga mengatakan sering memendam perasaan dan masalah dan tidak mau bercerita dengan orang lain.
Expected:
Tidak Sesuai
Concern:
1. Gangguan Proses Pikir Tidak Efektif
2. Koping Individu Tidak Efektif
3. Risiko Perilaku Kekerasan
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
1. Gangguan Proses Pikir Tidak Efektif
- SDKI: Gangguan proses pikir yang ditandai dengan adanya distorsi, halusinasi, delusi, dan alogia.
- SLKI: Meningkatkan kemampuan pasien dalam mengontrol proses pikir yang tidak efektif.
- SIKI: Intervensi keperawatan dalam mengatasi gangguan proses pikir tidak efektif, seperti terapi realitas, terapi reminiscence, dan terapi kognitif.
2. Koping Individu Tidak Efektif
- SDKI: Ketidakmampuan pasien dalam beradaptasi terhadap stressor yang dihadapi.
- SLKI: Meningkatkan kemampuan pasien dalam menggunakan strategi koping yang efektif.
- SIKI: Intervensi keperawatan dalam mengatasi koping individu tidak efektif, seperti terapi suportif, relaksasi, dan psikoedukasi.
3. Risiko Perilaku Kekerasan
- SDKI: Adanya potensi pasien untuk melakukan tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri, orang lain, atau lingkungan.
- SLKI: Menurunkan risiko dan mencegah terjadinya perilaku kekerasan pada pasien.
- SIKI: Intervensi keperawatan dalam mengatasi risiko perilaku kekerasan, seperti manajemen lingkungan, terapi perilaku, dan teknik komunikasi terapeutik. -
Article No. 7561 | 02 Dec 2024
Klinis : Seorang perempuan Ny R usia 37 tahun dibawa tetangganya ke rumah sakit jiwa karena berbicara sendiri, berteriak dan tertawa sendiri. Ny R juga memukul anaknya karena diingatkan anaknya untuk sholat namun Ny R marah-marah. Ny R mengalami gangguan jiwa sejak, diceraikan suaminya. Hal yang tidak menyenangkan bagi pasien yaitu pernah di PHK dari pekerjaannya, hal ini semakin membuat pasien merasa sedih dan malu karena menjadi seorang pengangguran. Semenjak saat itu ia sering marah tanpa sebab dan hampir mencederai keluarganya sendiri. Ny R pernah satu kali dirawat di RS erba 5 tahun lalu dan sekarang masuk kembali dikarenakan tidak pernah konsul dan tidak minum obat. Orangtua pasien menjauhkan Ny R dari keluarganya karena merasa malu . Berdasarkan interaksi dengan perawat, terlihat cara pasien berbicara cukup baik, namun terkadang cara bicara pasien cepat dengan suara yang keras saat pasien tidak menyukai suatu hal atau ketika pasien mulai merasa bosan. Berdasarkan hasil observasi aktivitas pasien, Ny. R terlihat gelisah dengan pasien sering mondar-mandir di dalam ruang perawatan. pasien cukup kooperatif saat berinteraksi dengan orang lain. Kontak mata ada. Namun terkadang, wajah pasien berubah menjadi tegang, mudah tersinggung dan wajahnya memerah. pasien mengatakan sering memendam perasaan dan masalah dan tidak mau bercerita dengan orang lain baik itu orang tua, maupun saudaranya. Apa yang harus dilakukan perawat selanjutnya? Dan terapi apa yang diperlukan pasien Ny Y
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis, serta rekomendasi tindak lanjut dan terapi yang diperlukan untuk pasien Ny. R:
1. Kode ICD-10:
- Kode: F20.0
- Deskripsi: Skizofenia paranoida
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Tidak ada tindakan/prosedur ICD-9-CM yang spesifik disebutkan, hanya berupa rawat inap di rumah sakit jiwa.
Rekomendasi tindak lanjut dan terapi:
Berdasarkan gejala dan riwayat yang dialami pasien Ny. R, perawat perlu melakukan hal-hal berikut:
1. Lanjutkan perawatan dan pengamatan di rumah sakit jiwa untuk evaluasi kondisi pasien secara komprehensif.
2. Berkoordinasi dengan psikiater untuk melakukan assessment dan terapi yang sesuai, seperti:
- Terapi farmakologis: Pemberian obat antipsikotik (contoh: risperidon, olanzapin) dan anti-depresan (contoh: fluoksetin, sertralin) untuk mengatasi gejala psikotik dan depresi.
- Terapi psikososial: Terapi kognitif perilaku (CBT) untuk membantu pasien mengelola stres dan emosi negatif, serta terapi keluarga untuk meningkatkan dukungan sosial.
3. Edukasi dan konseling kepada keluarga pasien mengenai kondisi skizofrenia, pentingnya kepatuhan minum obat, dan cara memberikan dukungan yang tepat.
4. Rencana tindak lanjut setelah pasien dipulangkan, seperti pemantauan rutin, konsultasi psikiatri, dan terapi rehabilitasi psikososial.
Penanganan yang komprehensif, kolaboratif, dan berkelanjutan sangat diperlukan untuk membantu pasien Ny. R mencapai stabilitas kondisi dan kualitas hidup yang lebih baik. -
Article No. 7562 | 02 Dec 2024
Klinis : Seorang perempuan Ny R usia 37 tahun dibawa tetangganya ke rumah sakit jiwa karena berbicara sendiri, berteriak dan tertawa sendiri. Ny R juga memukul anaknya karena diingatkan anaknya untuk sholat namun Ny R marah-marah. Ny R mengalami gangguan jiwa sejak, diceraikan suaminya. Hal yang tidak menyenangkan bagi pasien yaitu pernah di PHK dari pekerjaannya, hal ini semakin membuat pasien merasa sedih dan malu karena menjadi seorang pengangguran. Semenjak saat itu ia sering marah tanpa sebab dan hampir mencederai keluarganya sendiri. Ny R pernah satu kali dirawat di RS erba 5 tahun lalu dan sekarang masuk kembali dikarenakan tidak pernah konsul dan tidak minum obat. Orangtua pasien menjauhkan Ny R dari keluarganya karena merasa malu . Berdasarkan interaksi dengan perawat, terlihat cara pasien berbicara cukup baik, namun terkadang cara bicara pasien cepat dengan suara yang keras saat pasien tidak menyukai suatu hal atau ketika pasien mulai merasa bosan. Berdasarkan hasil observasi aktivitas pasien, Ny. R terlihat gelisah dengan pasien sering mondar-mandir di dalam ruang perawatan. pasien cukup kooperatif saat berinteraksi dengan orang lain. Kontak mata ada. Namun terkadang, wajah pasien berubah menjadi tegang, mudah tersinggung dan wajahnya memerah. pasien mengatakan sering memendam perasaan dan masalah dan tidak mau bercerita dengan orang lain baik itu orang tua, maupun saudaranya. Apa yang harus dilakukan perawat selanjutnya? Dan terapi apa yang diperlukan pasien Ny Y
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang dijabarkan, pasien Ny. R memiliki beberapa diagnosa keperawatan yang sesuai dengan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), yaitu:
1. Risiko Perilaku Kekerasan
- Definisi: Keadaan di mana individu berisiko untuk melakukan tindakan yang dapat menyebabkan cedera fisik pada diri sendiri atau orang lain.
- Faktor Terkait: Stres, marah, frustasi, dan tidak dapat mengendalikan emosi.
2. Gangguan Proses Pikir
- Definisi: Keadaan di mana individu mengalami perubahan dalam proses berpikir, termasuk persepsi, pemahaman, dan penalaran.
- Faktor Terkait: Stres emosional, proses penyakit, dan perubahan situasi.
3. Isolasi Sosial
- Definisi: Keadaan di mana individu mengalami pengasingan diri dari hubungan sosial yang diinginkan.
- Faktor Terkait: Disfungsi keluarga, stigma, dan isolasi oleh keluarga.
Luaran/Output yang Diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Risiko Perilaku Kekerasan:
- Tujuan: Pasien dapat mengendalikan perilaku kekerasan.
- Kriteria Hasil:
- Pasien dapat mengidentifikasi pemicu perilaku kekerasan.
- Pasien dapat mendemonstrasikan strategi manajemen marah yang efektif.
- Pasien dapat menjalin hubungan yang kooperatif dengan orang lain.
2. Gangguan Proses Pikir:
- Tujuan: Pasien dapat mempertahankan proses pikir yang efektif.
- Kriteria Hasil:
- Pasien dapat mengidentifikasi gangguan proses pikir.
- Pasien dapat mengikuti instruksi dengan baik.
- Pasien dapat berpartisipasi dalam aktivitas terapeutik.
3. Isolasi Sosial:
- Tujuan: Pasien dapat berinteraksi secara efektif dengan orang lain.
- Kriteria Hasil:
- Pasien dapat menjalin interaksi sosial yang bermakna.
- Pasien dapat mengungkapkan perasaannya kepada orang lain.
- Pasien dapat berpartisipasi dalam aktivitas sosial yang sesuai.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
1. Risiko Perilaku Kekerasan:
- Manajemen Marah
- Penggunaan Teknik Relaksasi
- Terapi Kognitif-Perilaku
2. Gangguan Proses Pikir:
- Orientasi Realitas
- Aktivitas Terapeutik
- Komunikasi Terapeutik
3. Isolasi Sosial:
- Fasilitasi Interaksi Sosial
- Dukungan Emosional
- Psikoedukasi Keluarga
Perawat selanjutnya dapat memberikan intervensi yang sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah teridentifikasi, serta melibatkan keluarga dalam proses perawatan. Perawat juga perlu memantau perkembangan kondisi pasien dan melakukan evaluasi secara berkala untuk memastikan tercapainya hasil yang diharapkan. -
Article No. 7563 | 02 Dec 2024
Klinis : Bisul
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang dikeluarkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi bisul.
Diagnosa Keperawatan:
Integritas Kulit Terganggu
Definisi:
Kerusakan pada epidermis dan/atau dermis yang disebabkan oleh faktor intrinsik atau ekstrinsik.
Faktor Risiko:
- Infeksi (bakteri, virus, jamur)
- Trauma
- Gangguan sirkulasi
- Gangguan imunitas
Gejala dan Tanda:
- Kulit tampak kemerahan, bengkak, dan nyeri
- Terdapat lesi bernanah atau bisul
Tujuan (SLKI):
- Integritas kulit membaik
- Tanda-tanda infeksi berkurang
- Rasa nyeri berkurang
Intervensi (SIKI):
- Perawatan luka
- Pemberian obat topikal
- Pemberian analgetik
- Edukasi tentang perawatan luka dan pencegahan infeksi
Penjelasan:
Bisul merupakan salah satu kondisi yang dapat menyebabkan integritas kulit terganggu. Diagnosa keperawatan ini fokus pada kerusakan pada epidermis dan/atau dermis yang dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, trauma, gangguan sirkulasi, atau gangguan imunitas. Tujuan keperawatan adalah untuk memperbaiki integritas kulit, mengurangi tanda-tanda infeksi, dan mengurangi rasa nyeri. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain perawatan luka, pemberian obat topikal, pemberian analgetik, dan edukasi tentang perawatan luka serta pencegahan infeksi. -
Article No. 7564 | 02 Dec 2024
Klinis : Bisul
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai standar SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi Bisul.
Diagnosa Keperawatan:
Integritas Kulit Terganggu
Penjelasan:
Integritas Kulit Terganggu adalah diagnosa keperawatan yang menggambarkan perubahan pada struktur dan fungsi kulit yang mengakibatkan adanya lesi atau kerusakan pada kulit. Dalam kasus ini, kondisi Bisul termasuk dalam kategori Integritas Kulit Terganggu.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Definisi: Keadaan di mana terdapat gangguan pada struktur dan fungsi kulit.
Karakteristik Utama: Terdapat lesi pada kulit, adanya perubahan warna kulit, nyeri, dan pembengkakan.
Faktor Terkait: Infeksi, trauma, dan kondisi kronis.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan:
1. Integritas kulit membaik
2. Lesi pada kulit berkurang
3. Nyeri berkurang
4. Tanda-tanda infeksi menurun
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi Keperawatan:
1. Manajemen Luka: Melakukan perawatan luka sesuai prosedur, memantau perkembangan luka, dan mencegah infeksi.
2. Manajemen Nyeri: Memberikan analgesik, kompres hangat, dan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri.
3. Manajemen Infeksi: Memantau tanda-tanda infeksi, memberikan antibiotik sesuai indikasi, dan menjaga kebersihan lingkungan.
4. Edukasi Pasien: Memberikan informasi tentang perawatan luka, gejala infeksi, dan pentingnya menjaga kebersihan.
Dengan penerapan standar SDKI, SLKI, dan SIKI yang komprehensif, diharapkan kondisi Bisul dapat ditangani secara efektif dan efisien, sehingga dapat mencapai luaran yang diharapkan dan meningkatkan kualitas perawatan pasien. -
Article No. 7565 | 02 Dec 2024
Klinis : pasien mengeluh lemas, gampang lelah, pasien tampak pucat dan lemas, konjungtiva anemis, hemoglobin 8,3 g/dl, hematokrit 25,2 %, tekanan darah 182/112 mmHg, Nadi 98 kali, suhu 36,4°C, Respirasi 20 kali
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang diberikan, berikut adalah Diagnosa Keperawatan, penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Intoleransi Aktivitas
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan atau diperlukan di lingkungan.
Penyebab: Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, gangguan neuromuskuler, anemia, dan kelelahan.
Gejala & Tanda: Lemah, mudah lelah, perubahan tanda-tanda vital, dan keterbatasan dalam aktivitas.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Toleransi Aktivitas Meningkat
2. Keseimbangan Energi Terjaga
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Aktivitas
2. Manajemen Energi
3. Manajemen Nutrisi
4. Pemantauan Tanda-Tanda Vital
Penjelasan Singkat:
Pasien mengalami intoleransi aktivitas yang ditandai dengan keluhan lemah, mudah lelah, tampak pucat, dan anemia. Kondisi ini dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, gangguan neuromuskuler, atau anemia. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen aktivitas, manajemen energi, manajemen nutrisi, dan pemantauan tanda-tanda vital untuk meningkatkan toleransi aktivitas dan menjaga keseimbangan energi pasien. -
Article No. 7566 | 02 Dec 2024
Klinis : Seorang perempuan Ny R usia 37 tahun dibawa tetangganya ke rumah sakit jiwa karena berbicara sendiri, berteriak dan tertawa sendiri. Ny R juga memukul anaknya karena diingatkan anaknya untuk sholat namun Ny R marah-marah. Ny R mengalami gangguan jiwa sejak, diceraikan suaminya. Hal yang tidak menyenangkan bagi pasien yaitu pernah di PHK dari pekerjaannya, hal ini semakin membuat pasien merasa sedih dan malu karena menjadi seorang pengangguran. Semenjak saat itu ia sering marah tanpa sebab dan hampir mencederai keluarganya sendiri. Ny R pernah satu kali dirawat di RS erba 5 tahun lalu dan sekarang masuk kembali dikarenakan tidak pernah konsul dan tidak minum obat. Orangtua pasien menjauhkan Ny R dari keluarganya karena merasa malu . Berdasarkan interaksi dengan perawat, terlihat cara pasien berbicara cukup baik, namun terkadang cara bicara pasien cepat dengan suara yang keras saat pasien tidak menyukai suatu hal atau ketika pasien mulai merasa bosan. Berdasarkan hasil observasi aktivitas pasien, Ny. R terlihat gelisah dengan pasien sering mondar-mandir di dalam ruang perawatan. pasien cukup kooperatif saat berinteraksi dengan orang lain. Kontak mata ada. Namun terkadang, wajah pasien berubah menjadi tegang, mudah tersinggung dan wajahnya memerah. pasien mengatakan sering memendam perasaan dan masalah dan tidak mau bercerita dengan orang lain baik itu orang tua, maupun saudaranya. Apa yang harus dilakukan perawat selanjutnya? Dan terapi apa yang diperlukan pasien Ny Y
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang dijabarkan, berikut adalah diagnosa keperawatan SDKI, luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan (SLKI), serta intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran (SIKI):
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Risiko Perilaku Kekerasan
2. Distress Emosional
3. Harga Diri Rendah Situasional
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Risiko Perilaku Kekerasan:
- Pasien mengendalikan impuls untuk berperilaku kekerasan
- Pasien menunjukkan perilaku yang tidak mengancam
- Pasien menunjukkan pengurangan gejala perilaku kekerasan
2. Distress Emosional:
- Pasien menunjukkan emosi yang stabil
- Pasien mengatasi faktor penyebab distress emosional
- Pasien menunjukkan koping yang efektif
3. Harga Diri Rendah Situasional:
- Pasien menunjukkan peningkatan harga diri
- Pasien mengidentifikasi kekuatan dan kemampuannya
- Pasien menunjukkan penerimaan diri yang positif
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Risiko Perilaku Kekerasan:
- Kaji tanda dan gejala perilaku kekerasan
- Ciptakan lingkungan yang aman dan terapeutik
- Bantu pasien mengidentifikasi dan mengungkapkan perasaan secara tepat
- Ajarkan teknik manajemen marah dan koping yang efektif
- Libatkan keluarga dalam memonitoring dan mendukung pasien
2. Distress Emosional:
- Kaji faktor penyebab distress emosional
- Bantu pasien mengidentifikasi dan mengungkapkan perasaan
- Ajarkan teknik relaksasi dan manajemen stres
- Berikan dukungan emosional dan validasi perasaan pasien
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan jiwa lainnya untuk penanganan yang komprehensif
3. Harga Diri Rendah Situasional:
- Kaji harga diri pasien dan faktor penyebabnya
- Bantu pasien mengidentifikasi kekuatan dan kemampuan yang dimiliki
- Berikan umpan balik positif dan pujian atas pencapaian pasien
- Ajarkan teknik untuk meningkatkan penerimaan diri
- Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan dan penguatan positif
Selain itu, beberapa terapi yang dapat diberikan kepada pasien Ny. R antara lain:
- Terapi Okupasi: membantu pasien mengembangkan keterampilan, meningkatkan harga diri, dan memfasilitasi reintegrasi sosial
- Terapi Kelompok: membantu pasien mengeksplorasi dan mengelola emosi, serta membangun dukungan sosial
- Terapi Keluarga: melibatkan keluarga dalam proses penyembuhan dan memfasilitasi komunikasi yang lebih baik
Perawat harus memulai dengan memberikan dukungan emosional dan intervensi yang berfokus pada stabilisasi kondisi pasien. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan jiwa lainnya (psikolog, psikiater, dll.) juga penting untuk penanganan yang komprehensif. -
Article No. 7567 | 02 Dec 2024
Klinis : Tn Y (47 tahun) sedang menjalani perawatan di rumah sakit hari ke 2. Hasil pengkajian didapatkan pasien merasa mual, muntah dengan frekuensi 1x per 24 jam, tidak nafsu makan, tampak lemah, TD 140/80 mmHg, HR 87x/menit, RR 18x/menit, dah suhu normal. Pasien mengatakan memiliki riwayat hipertensi sejak 5 tahun yang lalu. Hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 7 gr/dL, ureum 4.5 mg/dL, kreatinin 6.9 mg/dL dan albumin 2 gr/dL.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan, penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI, dan langkah-langkah intervensi keperawatan yang sesuai dengan standar Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual, dan muntah.
Penjelasan SDKI, SLKI, SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Keadaan di mana asupan zat gizi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- Faktor Risiko: Anoreksia, mual, muntah, gangguan gastrointestinal.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran: Status Nutrisi, Asupan Nutrisi, Berat Badan.
- Kriteria Hasil: Asupan Nutrisi meningkat, Berat Badan membaik, Tanda-tanda kekurangan nutrisi berkurang.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi: Manajemen Nutrisi, Terapi Nutrisi, Pemantauan Nutrisi.
- Aktivitas: Evaluasi status nutrisi, Kolaborasi dengan ahli gizi, Pemberian nutrisi enteral/parenteral, Edukasi pasien dan keluarga.
Langkah-langkah Intervensi Keperawatan:
1. Lakukan pengkajian komprehensif status nutrisi pasien, meliputi riwayat makan, berat badan, intake cairan, dan tanda-tanda klinis kekurangan nutrisi.
2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan nutrisi yang adekuat dan merencanakan intervensi nutrisi yang sesuai (enteral atau parenteral).
3. Berikan nutrisi enteral atau parenteral sesuai dengan kebutuhan pasien, dan monitor toleransinya.
4. Berikan obat-obatan antiemetik jika diperlukan untuk mengatasi mual dan muntah.
5. Libatkan pasien dan keluarga dalam perencanaan dan pelaksanaan intervensi nutrisi, serta berikan edukasi terkait pentingnya nutrisi yang adekuat.
6. Lakukan pemantauan dan evaluasi status nutrisi pasien secara berkala.
Harapannya, dengan intervensi keperawatan yang komprehensif, status nutrisi pasien dapat membaik, berat badan meningkat, dan tanda-tanda kekurangan nutrisi dapat berkurang. -
Article No. 7568 | 02 Dec 2024
Klinis : Bisul
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis untuk kondisi Bisul:
1. Kode ICD-10:
- Kode: L02
- Deskripsi: Bisul dan karbokel
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 86.04
- Deskripsi: Insisi dan drainase abses, selain abses kulit dan abses subkutan
Penjelasan:
Kode ICD-10 L02 mencakup berbagai jenis bisul, termasuk furuncle, karbunkel, dan abses kulit lainnya. Kode ini digunakan untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan kondisi bisul dalam sistem klasifikasi penyakit internasional ICD-10.
Sementara itu, kode ICD-9-CM 86.04 merujuk pada prosedur insisi dan drainase abses, selain abses kulit dan abses subkutan. Prosedur ini dapat dilakukan untuk mengeluarkan nanah atau cairan dari dalam bisul dan membantu mempercepat proses penyembuhan.
Dalam praktik klinis, diagnosis dan tatalaksana bisul akan disesuaikan dengan kondisi spesifik pasien, riwayat medis, dan pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh dokter yang menangani. Penentuan kode ICD-10 dan ICD-9-CM yang tepat sangat penting untuk dokumentasi medis yang akurat dan pengkodean yang sesuai. -
Article No. 7569 | 02 Dec 2024
Klinis : data objektif untuk perfusi gastrointestinal tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang anda sebutkan.
Diagnosa Keperawatan:
Perfusi Gastrointestinal Tidak Efektif
Penjelasan:
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Perfusi Gastrointestinal Tidak Efektif adalah keadaan di mana aliran darah ke dan dari saluran pencernaan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan jaringan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari diagnosa ini adalah pasien akan menunjukkan perfusi gastrointestinal yang efektif, yang ditandai dengan:
1. Saturasi oksigen adekuat
2. Nadi perifer teraba kuat dan teratur
3. Peristaltik usus terdengar normal
4. Tidak ada tanda-tanda gangguan perfusi (seperti diare, kembung, mual, muntah)
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi diagnosa ini antara lain:
1. Memantau tanda-tanda vital secara berkala
2. Mengkaji fungsi gastrointestinal (frekuensi, konsistensi, warna, bau, dan volume feses)
3. Memberikan nutrisi enteral atau parenteral sesuai kebutuhan
4. Mengatur posisi pasien untuk memfasilitasi perfusi gastrointestinal
5. Memberikan obat-obatan yang dapat meningkatkan perfusi gastrointestinal jika diperlukan
6. Melakukan edukasi kepada pasien dan keluarga terkait pentingnya perfusi gastrointestinal yang efektif
Dengan penerapan SDKI, SLKI, dan SIKI yang tepat, diharapkan dapat membantu pasien mencapai luaran yang diharapkan dan meningkatkan kualitas asuhan keperawatan yang diberikan.