Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 7699 | 03 Dec 2024
Klinis : antepartum
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan senang hati saya akan memberikan informasi terkait Diagnosa Keperawatan, Luaran/Output Asuhan Keperawatan, dan Intervensi Keperawatan yang sesuai untuk kondisi antepartum. Berikut adalah pembahasannya secara rinci dan terperinci:
Diagnosa Keperawatan SDKI untuk Kondisi Antepartum:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi antepartum, yaitu periode kehamilan sebelum persalinan, adalah:
1. Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Pasien dengan kondisi antepartum berisiko mengalami ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh akibat perubahan fisiologis dan psikologis selama kehamilan. Hal ini dapat berdampak pada perkembangan janin dan kesehatan ibu.
2. Nyeri Akut
Pasien dengan kondisi antepartum dapat mengalami nyeri akut, misalnya nyeri punggung, nyeri perut, atau kontraksi Braxton Hicks yang tidak teratur. Nyeri ini dapat mengganggu aktivitas dan istirahat pasien.
3. Risiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Uteroplasenta
Pasien dengan kondisi antepartum berisiko mengalami ketidakefektifan perfusi jaringan uteroplasenta akibat adanya komplikasi kehamilan, seperti preeklampsia, diabetes gestasional, atau kelainan plasenta. Hal ini dapat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan janin.
Luaran/Output Asuhan Keperawatan (SLKI) untuk Kondisi Antepartum:
1. Status Nutrisi Membaik
Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan status nutrisi pasien dapat membaik, ditandai dengan:
- Asupan nutrisi sesuai kebutuhan
- Berat badan sesuai target
- Tidak ada tanda-tanda kekurangan nutrisi
2. Nyeri Terkontrol
Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan nyeri pasien dapat terkontrol, ditandai dengan:
- Skala nyeri menurun
- Pasien dapat beristirahat dan melakukan aktivitas tanpa terganggu oleh nyeri
3. Perfusi Jaringan Uteroplasenta Efektif
Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan perfusi jaringan uteroplasenta pasien dapat efektif, ditandai dengan:
- Tanda-tanda vital dalam batas normal
- Pertumbuhan dan perkembangan janin sesuai usia gestasi
- Tidak ada komplikasi kehamilan yang mengancam
Intervensi Keperawatan (SIKI) untuk Mencapai Luaran Asuhan Keperawatan:
1. Untuk Meningkatkan Status Nutrisi:
- Identifikasi kebutuhan nutrisi pasien berdasarkan usia kehamilan dan kondisi kesehatan
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana diet yang sesuai
- Pantau asupan nutrisi dan berat badan pasien secara berkala
- Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi selama kehamilan
2. Untuk Mengatasi Nyeri:
- Identifikasi penyebab dan karakteristik nyeri yang dirasakan pasien
- Berikan intervensi nonfarmakologis, misalnya kompres hangat, pijatan, relaksasi, dan distraksi
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik yang aman bagi ibu dan janin
- Edukasi pasien dan keluarga tentang manajemen nyeri
3. Untuk Mempertahankan Perfusi Jaringan Uteroplasenta:
- Pantau tanda-tanda vital dan kondisi janin secara berkala
- Identifikasi faktor risiko yang dapat mengganggu perfusi uteroplasenta
- Kolaborasi dengan dokter untuk penatalaksanaan komplikasi kehamilan, jika ada
- Berikan intervensi yang dapat meningkatkan perfusi uteroplasenta, misalnya posisi miring, istirahat, dan oksigenasi
- Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya memantau tanda-tanda kesejahteraan janin
Demikian penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai Diagnosa Keperawatan, Luaran/Output Asuhan Keperawatan, dan Intervensi Keperawatan yang sesuai untuk kondisi antepartum. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda. -
Article No. 7700 | 03 Dec 2024
Klinis : status antepartum
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan senang hati saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai Diagnosa Keperawatan SDKI, Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI), dan Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI) untuk kondisi status antepartum.
Diagnosa Keperawatan SDKI untuk Status Antepartum:
Diagnosis keperawatan yang sesuai untuk kondisi status antepartum adalah "Risiko Komplikasi Kehamilan". Diagnosis ini didefinisikan sebagai "Kerentanan terhadap kejadian yang dapat mengganggu kesejahteraan ibu dan janin selama kehamilan, yang dapat dibuktikan dan menjadi fokus intervensi keperawatan". Kondisi status antepartum mengindikasikan adanya potensi risiko dan kerentanan terhadap komplikasi kehamilan, seperti perdarahan, preeklampsia, kelahiran prematur, dan lain-lain. Oleh karena itu, diagnosis "Risiko Komplikasi Kehamilan" merupakan diagnosis yang paling tepat untuk kondisi ini.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan ibu dengan status antepartum dapat mencapai luaran sebagai berikut:
1. Pengetahuan Manajemen Kehamilan: Ibu menunjukkan peningkatan pengetahuan tentang faktor risiko, tanda bahaya, dan tindakan yang perlu dilakukan selama kehamilan.
2. Perilaku Pemantauan Kehamilan: Ibu secara konsisten melakukan pemantauan kehamilan sesuai jadwal, termasuk pemeriksaan kehamilan, konsumsi suplemen, dan aktivitas fisik yang sesuai.
3. Pengendalian Gejala: Ibu mampu mengendalikan gejala-gejala yang muncul selama kehamilan, seperti mual, nyeri, atau perdarahan, dengan tepat dan segera.
4. Adaptasi Psikologis: Ibu menunjukkan adaptasi psikologis yang sehat terhadap kondisi kehamilannya, seperti rendahnya kecemasan dan peningkatan motivasi untuk menjaga kesehatan.
5. Integritas Kulit: Tidak terjadi komplikasi pada kulit ibu, seperti luka, infeksi, atau kondisi lainnya yang dapat memengaruhi kesejahteraan ibu dan janin.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran yang diharapkan, berikut adalah intervensi keperawatan yang dapat diberikan:
1. Edukasi Kesehatan Kehamilan:
- Memberikan informasi dan edukasi kepada ibu tentang faktor risiko, tanda bahaya, dan tindakan yang perlu dilakukan selama kehamilan.
- Mengajarkan ibu mengenali tanda-tanda komplikasi kehamilan dan kapan harus segera meminta bantuan tenaga kesehatan.
- Memberikan konseling dan dukungan emosional untuk membantu ibu beradaptasi secara psikologis dengan kondisi kehamilannya.
2. Pemantauan Kehamilan:
- Melakukan pemantauan kehamilan secara rutin, termasuk pemeriksaan tanda-tanda vital, kondisi janin, dan pemeriksaan laboratorium.
- Mengkaji secara komprehensif kondisi ibu dan janin, termasuk riwayat kesehatan, pola nutrisi, aktivitas, dan istirahat.
- Memfasilitasi ibu untuk melakukan pemantauan kehamilan sesuai jadwal yang direkomendasikan.
3. Manajemen Gejala:
- Mengkaji dan memantau gejala-gejala yang muncul selama kehamilan, seperti mual, nyeri, atau perdarahan.
- Memberikan intervensi keperawatan yang sesuai untuk mengelola gejala-gejala tersebut, misalnya melalui pemberian obat, terapi non-farmakologis, atau tindakan lainnya.
- Mengajarkan ibu teknik-teknik manajemen gejala secara mandiri.
4. Dukungan Psikologis:
- Memberikan dukungan emosional dan konseling untuk membantu ibu beradaptasi secara psikologis dengan kondisi kehamilannya.
- Memfasilitasi ibu untuk mengekspresikan perasaan, kekhawatiran, dan harapan terkait kehamilannya.
- Mengidentifikasi dan mengatasi masalah psikologis yang mungkin muncul, seperti kecemasan atau depresi.
5. Perawatan Kulit:
- Mengkaji kondisi kulit ibu dan mendeteksi adanya masalah atau komplikasi pada kulit.
- Memberikan perawatan kulit yang sesuai, misalnya perawatan luka, pencegahan infeksi, atau perawatan lainnya.
- Mengajarkan ibu teknik perawatan kulit yang dapat dilakukan secara mandiri.
Dengan penerapan diagnosis keperawatan, luaran yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang sesuai, diharapkan dapat membantu ibu dengan status antepartum mencapai kondisi kesehatan yang optimal selama kehamilannya. -
Article No. 7701 | 03 Dec 2024
Klinis : Pasien anak perempuan, usia 5 tahun, mengalami demam tinggi selama 3 hari, ruam merah di kulit, bintik Koplik di mukosa mulut, batuk kering, dan mata merah. Hasil pemeriksaan menunjukkan kemungkinan campak.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan gejala yang dipaparkan, yakni pasien anak perempuan usia 5 tahun dengan demam tinggi selama 3 hari, ruam merah di kulit, bintik Koplik di mukosa mulut, batuk kering, dan mata merah, maka dapat disimpulkan bahwa kondisi ini mengarah pada diagnosa kemungkinan campak (measles).
1. Kode ICD-10:
- Kode: B05.9
- Deskripsi: Campak, tanpa komplikasi
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 99.22
- Deskripsi: Pemantauan tanda-tanda vital
Penjelasan:
- Kode ICD-10 B05.9 digunakan untuk mengkodekan kondisi campak tanpa komplikasi. Campak adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Morbillivirus dan ditandai dengan demam tinggi, ruam kemerahan di kulit, bintik-bintik putih di mukosa mulut (bintik Koplik), dan gejala lainnya.
- Pada kasus ini, tidak ada tindakan medis spesifik yang tercatat, namun umumnya pasien dengan dugaan campak akan dilakukan pemantauan tanda-tanda vital, yang dikodekan dengan ICD-9-CM 99.22. -
Article No. 7702 | 03 Dec 2024
Klinis : Pasien wanita, usia 60 tahun, mengalami nyeri dada yang hebat, menjalar ke lengan kiri, disertai dengan sesak napas, mual, dan keringat dingin. EKG menunjukkan infark miokard akut. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus tipe 2.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan kondisi yang dijelaskan, kode diagnosis dan tindakan medis yang sesuai adalah:
1. Kode ICD-10:
- Kode: I21.9
- Deskripsi: Infark miokard akut, tidak dinyatakan lain
2. Kode ICD-9-CM Procedure:
- Kode: 93.90
- Deskripsi: Pemantauan elektrokardiografi [EKG], tidak dinyatakan lebih lanjut
Penjelasan:
Pasien wanita, usia 60 tahun, mengalami gejala-gejala yang khas menunjukkan infark miokard akut, yaitu nyeri dada hebat yang menjalar ke lengan kiri, disertai sesak napas, mual, dan keringat dingin. Hasil pemeriksaan EKG juga mendukung diagnosis ini. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus tipe 2, yang merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular.
Kode ICD-10 I21.9 (Infark miokard akut, tidak dinyatakan lain) digunakan untuk menggambarkan kondisi infark miokard akut tanpa spesifikasi lebih lanjut. Pada kasus ini, tidak tersedia informasi lebih detail tentang lokasi atau tipe infark miokard.
Sementara itu, kode ICD-9-CM 93.90 (Pemantauan elektrokardiografi [EKG], tidak dinyatakan lebih lanjut) mencakup prosedur pemantauan EKG yang dilakukan untuk mendiagnosis kondisi infark miokard akut pada pasien. -
Article No. 7703 | 03 Dec 2024
Klinis : Pasien wanita, usia 60 tahun, mengalami nyeri dada yang hebat, menjalar ke lengan kiri, disertai dengan sesak napas, mual, dan keringat dingin. EKG menunjukkan infark miokard akut. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus tipe 2.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan kondisi yang Anda deskripsikan, berikut adalah diagnosis keperawatan berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosis Keperawatan:
1. Nyeri akut berhubungan dengan infark miokard akut.
- SDKI: Nyeri akut
- SLKI: Bebas nyeri
- SIKI: Manajemen nyeri
2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan infark miokard akut.
- SDKI: Ketidakefektifan pola napas
- SLKI: Pola napas efektif
- SIKI: Manajemen ventilasi
3. Risiko intoleransi aktivitas berhubungan dengan infark miokard akut.
- SDKI: Risiko intoleransi aktivitas
- SLKI: Toleransi aktivitas
- SIKI: Manajemen aktivitas
4. Risiko hipervolemia berhubungan dengan infark miokard akut.
- SDKI: Risiko hipervolemia
- SLKI: Keseimbangan cairan
- SIKI: Manajemen cairan
Penjelasan singkat:
1. Nyeri akut berhubungan dengan infark miokard akut:
- Pasien mengalami nyeri dada yang hebat, menjalar ke lengan kiri, yang merupakan gejala khas dari infark miokard akut.
- Tujuannya adalah pasien dapat mencapai kondisi bebas nyeri.
- Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen nyeri, seperti pemberian analgesik, kompres hangat, teknik relaksasi, dan lain-lain.
2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan infark miokard akut:
- Pasien mengalami sesak napas, yang dapat disebabkan oleh infark miokard akut.
- Tujuannya adalah pasien dapat mempertahankan pola napas yang efektif.
- Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen ventilasi, seperti pemberian oksigen, pengaturan posisi, dan lain-lain.
3. Risiko intoleransi aktivitas berhubungan dengan infark miokard akut:
- Pasien berisiko mengalami intoleransi aktivitas akibat kondisi infark miokard akut.
- Tujuannya adalah pasien dapat mempertahankan toleransi aktivitas yang adekuat.
- Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen aktivitas, seperti pengaturan aktivitas, latihan aktivitas, dan lain-lain.
4. Risiko hipervolemia berhubungan dengan infark miokard akut:
- Pasien berisiko mengalami hipervolemia akibat kondisi infark miokard akut.
- Tujuannya adalah pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan yang adekuat.
- Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen cairan, seperti pemantauan intake dan output, pembatasan cairan, dan lain-lain. -
Article No. 7704 | 03 Dec 2024
Klinis : Pasien wanita, usia 60 tahun, datang dengan keluhan nyeri sejak 3 hari yang lalu. perkusi + pal - vit +. tampak pembesaran kelenjar limfa submandibula.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Deskripsi kasus:
Pasien wanita, usia 60 tahun, datang dengan keluhan nyeri sejak 3 hari yang lalu. Pada pemeriksaan fisik ditemukan hasil perkusi positif, palpasi negatif, dan pembesaran kelenjar limfa submandibula.
1. Kode ICD-10:
- Kode: R50.9
- Deskripsi: Demam, tidak terspesifikasi
Penjelasan:
Kode ICD-10 R50.9 (Demam, tidak terspesifikasi) dipilih karena keluhan utama pasien adalah nyeri yang dapat disertai dengan demam, dan pembesaran kelenjar limfa submandibula dapat menjadi salah satu tanda adanya infeksi atau proses patologis lainnya.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 89.14
- Deskripsi: Pemeriksaan kelenjar getah bening, limfonodi.
Penjelasan:
Kode ICD-9-CM 89.14 (Pemeriksaan kelenjar getah bening, limfonodi) dapat digunakan untuk prosedur pemeriksaan lebih lanjut terkait pembesaran kelenjar limfa submandibula yang ditemukan pada pasien.
Catatan:
Diagnosis dan kode tindakan medis yang tepat dapat ditentukan setelah dilakukan pemeriksaan dan evaluasi lebih lanjut oleh dokter yang menangani pasien. Kode-kode yang diberikan di atas merupakan kemungkinan kode yang sesuai berdasarkan informasi yang tersedia dalam kasus ini. -
Article No. 7705 | 03 Dec 2024
Klinis : Pasien wanita, usia 60 tahun, datang dengan keluhan nyeri sejak 3 hari yang lalu. gigi 34 perkusi + pal - vit +. tampak pembesaran kelenjar limfa submandibula. apa diagnosis oada oenyakit gigi
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis yang sesuai adalah:
1. Kode ICD-10:
- Kode: K04.6
- Deskripsi: Abses periapikal dengan sinus.
Penjelasan:
Berdasarkan gejala yang dialami oleh pasien, yaitu nyeri sejak 3 hari yang lalu, gigi 34 dengan perkusi positif, dan pembesaran kelenjar limfa submandibula, maka diagnosis yang sesuai adalah abses periapikal dengan sinus. Abses periapikal adalah infeksi pada ujung akar gigi yang menyebabkan rasa nyeri dan pembengkakan. Sinus pada abses ini menunjukkan adanya saluran drainase yang terbentuk dari abses untuk mengeluarkan cairan infeksi.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 41.5
- Deskripsi: Ekstraksi gigi.
Penjelasan:
Pada kasus ini, prosedur yang mungkin dilakukan adalah ekstraksi gigi 34 yang terkena abses periapikal. Ekstraksi gigi dilakukan untuk menghilangkan sumber infeksi dan mengatasi gejala nyeri yang dialami oleh pasien. -
Article No. 7706 | 03 Dec 2024
Klinis : gatal gatal di seluruh badan
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berdasarkan informasi yang diberikan, untuk kondisi gatal-gatal di seluruh badan, kode dan deskripsi yang sesuai adalah sebagai berikut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: L29.9
- Deskripsi: Pruritus, tidak terspesifikasi
Penjelasan:
Kode ICD-10 L29.9 digunakan untuk mendiagnosis pruritus (gatal-gatal) yang tidak terspesifikasi. Pruritus adalah sensasi gatal yang dapat terjadi di seluruh permukaan tubuh tanpa adanya tanda-tanda inflamasi kulit yang jelas. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti reaksi alergi, kondisi kulit, atau gangguan sistem saraf.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: Tidak ada kode ICD-9-CM yang spesifik untuk gatal-gatal secara umum.
- Deskripsi: Tidak ada prosedur atau tindakan medis yang spesifik untuk mengatasi gatal-gatal secara umum. Penanganan biasanya melibatkan pemberian obat antihistamin, kortikosteroid topikal, atau menghilangkan penyebab gatal-gatal jika dapat diidentifikasi.
Sebagai seorang dokter atau perekam medis, penting untuk mencatat kode ICD-10 yang sesuai untuk diagnosis gatal-gatal dan menjelaskan kondisi pasien secara rinci dalam catatan medis. Hal ini akan membantu dalam proses pengkodean, pelaporan, dan perawatan yang tepat bagi pasien. -
Article No. 7707 | 03 Dec 2024
Klinis : asma bronkial
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi asma bronkial.
Diagnosa Keperawatan:
Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Definisi:
Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan fungsi paru-paru yang optimal.
Penyebab:
1. Peningkatan produksi sekret
2. Penyempitan saluran napas
3. Kelemahan otot-otot pernapasan
Gejala dan Tanda:
1. Batuk berdahak
2. Wheezing
3. Sesak napas
4. Takipnea
5. Dispnea
Intervensi Keperawatan:
1. Identifikasi penyebab bersihan jalan napas tidak efektif
2. Monitor status pernapasan
3. Berikan posisi yang nyaman
4. Lakukan suction jika perlu
5. Berikan bronkodilator dan mukolitik sesuai resep
6. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Standar diagnosis keperawatan ini mengacu pada klasifikasi diagnosis keperawatan yang dikembangkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Diagnosa keperawatan "Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif" merupakan bagian dari standar ini.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Standar luaran keperawatan ini mengacu pada klasifikasi luaran keperawatan yang dikembangkan oleh PPNI. Beberapa luaran yang dapat digunakan untuk asma bronkial antara lain: Pemeliharaan Pernapasan, Pengendalian Gejala, dan Manajemen Penyakit Kronis.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Standar intervensi keperawatan ini mengacu pada klasifikasi intervensi keperawatan yang dikembangkan oleh PPNI. Intervensi yang dapat dilakukan untuk asma bronkial antara lain: Manajemen Jalan Napas, Manajemen Bronkodilator, Edukasi Manajemen Penyakit, dan Kolaborasi.
Dengan demikian, diagnosa keperawatan, SDKI, SLKI, dan SIKI yang saya paparkan di atas merupakan standar yang digunakan oleh perawat di Indonesia dalam memberikan asuhan keperawatan yang optimal bagi pasien dengan asma bronkial. Semoga penjelasan ini bermanfaat. -
Article No. 7708 | 03 Dec 2024
Klinis : Pasien datang dengan keluhan nyeri ulu hati, menyesak, mual, muntah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan kondisi yang Anda sampaikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan standar SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit gastrointestinal
Penjelasan singkat:
- SDKI: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah seperti itu.
- SLKI: Pasien dapat melaporkan nyeri yang terkontrol, pasien dapat menunjukkan ekspresi wajah yang tenang, dan pasien dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa hambatan.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain manajemen nyeri, pemberian analgesik, dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain.
2. Gangguan pola napas berhubungan dengan rasa tidak nyaman pada ulu hati
Penjelasan singkat:
- SDKI: Gangguan pola napas adalah ketidakefektifan ventilasi yang mengakibatkan pertukaran gas tidak optimal.
- SLKI: Pasien dapat bernapas dengan irama dan kedalaman yang normal, pasien dapat melakukan aktivitas tanpa hambatan, dan pasien dapat menunjukkan kenyamanan saat bernapas.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain monitor pola napas, oksigenasi, dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain.
3. Mual dan muntah berhubungan dengan proses penyakit gastrointestinal
Penjelasan singkat:
- SDKI: Mual dan muntah adalah sensasi tidak nyaman di daerah epigastrium yang dapat menyebabkan upaya paksa untuk memuntahkan isi lambung.
- SLKI: Pasien dapat menerima asupan nutrisi yang cukup, pasien dapat beraktivitas tanpa hambatan, dan pasien dapat menunjukkan kenyamanan.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain manajemen mual dan muntah, pemberian antiemetik, dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain.
Dengan melakukan pengkajian yang komprehensif, perawat dapat menetapkan diagnosa keperawatan yang tepat dan merencanakan intervensi yang sesuai untuk membantu pasien mencapai hasil yang diharapkan.