Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 7897 | 04 Dec 2024
Klinis : KOLABORASI PENYAKIT TB PARU
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi kolaborasi penyakit TB Paru.
Diagnosa Keperawatan:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan bersihan jalan napas.
- Penyebab: Peningkatan produksi sekret, kelemahan batuk, dan obstruksi jalan napas.
2. Ketidakefektifan Pola Napas
- Definisi: Perubahan dalam frekuensi atau kedalaman pernapasan yang menyebabkan ketidakadekuatan ventilasi.
- Penyebab: Kelelahan otot pernapasan, kekakuan dinding dada, dan penyakit paru.
3. Intoleransi Aktivitas
- Definisi: Keterbatasan dalam toleransi untuk melakukan aktivitas fisik yang rutin.
- Penyebab: Penurunan kapasitas fungsional, kelemahan, dan dispnea.
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) memberikan definisi dan kriteria diagnostik yang digunakan dalam praktik keperawatan di Indonesia.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) menyediakan daftar luaran yang dapat dicapai oleh pasien sebagai hasil intervensi keperawatan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) menyediakan daftar intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mencapai luaran yang diharapkan.
Dalam kasus kolaborasi penyakit TB Paru, perawat dapat menggunakan SDKI, SLKI, dan SIKI untuk mengidentifikasi masalah keperawatan, merencanakan intervensi yang sesuai, dan memantau hasil perawatan yang diberikan. Hal ini bertujuan untuk memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan berbasis bukti ilmiah. -
Article No. 7898 | 04 Dec 2024
Klinis : KOLABORASI PENYAKIT TB PARU
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan serta penjelasan singkat terkait standar SDKI - SLKI - SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi kolaborasi penyakit tuberkulosis (TB) paru.
Diagnosa Keperawatan:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
2. Intoleransi Aktivitas
3. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
4. Ketidakefektifan Pemeliharaan Kesehatan
5. Risiko Infeksi
Penjelasan singkat:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang bebas.
- SDKI: Etiologi, tanda, dan gejala dari masalah ini dapat meliputi adanya sekret yang berlebihan, batuk yang tidak efektif, dan gangguan pertukaran gas.
2. Intoleransi Aktivitas
- Definisi: Ketidakmampuan untuk menjalankan atau menyelesaikan aktivitas rutin sehari-hari akibat keterbatasan energi.
- SDKI: Penyebab dapat meliputi penyakit pernapasan, malnutrisi, dan kelelahan. Tanda dan gejala dapat berupa sesak napas, kelemahan, dan keterbatasan dalam melakukan aktivitas.
3. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
- Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan dan mempertahankan jalan napas yang bebas.
- SDKI: Faktor yang dapat memengaruhi masalah ini adalah adanya obstruksi jalan napas, sekret yang berlebihan, dan ketidakmampuan batuk yang efektif.
4. Ketidakefektifan Pemeliharaan Kesehatan
- Definisi: Ketidakmampuan untuk mengidentifikasi, mengelola, dan/atau mencari bantuan untuk mempertahankan kesehatan.
- SDKI: Penyebab dapat berupa kurangnya pengetahuan tentang penyakit, keterbatasan sumber daya, dan kurangnya motivasi untuk merawat diri.
5. Risiko Infeksi
- Definisi: Rentan terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
- SDKI: Faktor risiko dapat meliputi penurunan sistem imun, pajanan terhadap organisme patogen, dan riwayat infeksi sebelumnya.
Standar SLKI dan SIKI yang dapat digunakan dalam perawatan pasien dengan kolaborasi penyakit TB paru meliputi intervensi keperawatan untuk mengatasi masalah pernapasan, meningkatkan toleransi aktivitas, memelihara kesehatan, dan mencegah infeksi. -
Article No. 7899 | 04 Dec 2024
Klinis : KOLABORASI PENYAKIT TB PARU
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat sesuai dengan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi kolaborasi penyakit TB paru.
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
Penjelasan: Kondisi di mana individu mengalami ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan, yang dapat mengganggu ventilasi.
2. Intoleransi Aktivitas
Penjelasan: Keadaan di mana individu mengalami keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik yang diinginkan atau dibutuhkan, karena adanya ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
3. Ketidakefektifan Pola Napas
Penjelasan: Kondisi di mana individu mengalami perubahan frekuensi, kedalaman, atau irama pernapasan yang dapat mengganggu ventilasi.
4. Risiko Infeksi
Penjelasan: Keadaan di mana individu berisiko mengalami invasi dan multiplikasi organisme patogen yang dapat mengganggu kesehatan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Bersihan Jalan Napas Efektif
2. Toleransi Aktivitas Meningkat
3. Pola Napas Efektif
4. Tidak Terjadi Infeksi
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Jalan Napas
2. Manajemen Aktivitas
3. Manajemen Pernapasan
4. Manajemen Infeksi
Sebagai seorang perawat, saya akan bekerja dalam kolaborasi dengan tim kesehatan lainnya untuk mengelola dan memberikan perawatan yang komprehensif bagi pasien dengan TB paru. Tujuan utamanya adalah membantu pasien mencapai hasil yang optimal, mengatasi masalah kesehatan, dan mendukung proses pemulihan. -
Article No. 7900 | 04 Dec 2024
Klinis : KOLABORASI PENYAKIT TB PARU
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat pakar, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat sesuai dengan standar SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi kolaborasi penyakit Tuberkulosis (TB) Paru.
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
- Penjelasan: Pasien dengan TB Paru berisiko mengalami ketidakefektifan bersihan jalan napas akibat produksi mukus yang berlebihan, obstruksi saluran napas, dan penurunan kemampuan batuk efektif.
2. Intoleransi Aktivitas
- Penjelasan: Pasien dengan TB Paru dapat mengalami intoleransi aktivitas karena adanya keluhan seperti sesak napas, cepat lelah, dan penurunan kemampuan fungsional.
3. Kurang Pengetahuan
- Penjelasan: Pasien dengan TB Paru mungkin memiliki kurang pengetahuan terkait penyakitnya, pengobatan, dan langkah-langkah pencegahan penularan.
SDKI, SLKI, dan SIKI yang terkait:
1. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
- SDKI: Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
- SLKI: Bersihan Jalan Napas Efektif
- SIKI: Manajemen Jalan Napas, Fisioterapi Dada
2. Intoleransi Aktivitas
- SDKI: Intoleransi Aktivitas
- SLKI: Toleransi Aktivitas Meningkat
- SIKI: Manajemen Energi, Peningkatan Aktivitas
3. Kurang Pengetahuan
- SDKI: Kurang Pengetahuan
- SLKI: Pengetahuan Meningkat
- SIKI: Edukasi Kesehatan, Konseling
Dengan menggunakan standar SDKI, SLKI, dan SIKI, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan terstandar untuk mengatasi masalah-masalah yang dialami oleh pasien dengan kolaborasi penyakit TB Paru. -
Article No. 7901 | 04 Dec 2024
Klinis : Pasien mengeluhkan sesak napas yang semakin berat dalam dua hari terakhir. Cepat lelah meskipun hanya beraktivitas ringan. Kesulitan tidur dan merasa cemas akibat sesak napas. Riwayat hipertensi selama 5 tahun dan gagal jantung kongestif (GJK) selama 1 tahun.Tekanan darah: 160/95 mmHg. Nadi: 110 bpm, teraba cepat dan lemah. Frekuensi pernapasan: 24x/menit, terlihat cepat dan dangkal. Saturasi oksigen: 88% dengan oksigen nasal cannula 2L/menit. Inspeksi: Terdapat sianosis pada bibir dan kulit sekitar mulut. Edema pada tungkai bawah (+2). Bunyi napas: Terdengar ronki halus dan wheezing pada kedua paru bagian bawah.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan kondisi pasien yang Anda deskripsikan, maka Diagnosa Keperawatan yang sesuai adalah:
1. Ketidakefektifan Pola Napas berhubungan dengan gagal jantung kongestif dan hipertensi, ditandai dengan sesak napas, frekuensi pernapasan cepat dan dangkal, serta ronki halus dan wheezing pada kedua paru.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Ketidakmampuan untuk bernapas dengan mudah dan lancar.
- Faktor Berhubungan: Penyakit jantung, penyakit paru, dan obesitas.
- Gejala dan Tanda: Sesak napas, penggunaan otot bantu pernapasan, sianosis, dan perubahan irama napas.
SLKI (Standar Label Keperawatan Indonesia):
- Bersihan Jalan Napas
- Perfusi Perifer
- Toleransi Aktivitas
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Manajemen Jalan Napas
- Manajemen Gagal Jantung
- Manajemen Hipertensi
2. Gangguan Tidur berhubungan dengan kecemasan akibat sesak napas, ditandai dengan kesulitan tidur.
SDKI:
- Definisi: Ketidakmampuan untuk mencapai atau mempertahankan kualitas dan kuantitas tidur yang diinginkan.
- Faktor Berhubungan: Gejala penyakit, stres, dan kecemasan.
- Gejala dan Tanda: Sulit tertidur, sering terbangun, dan tidur yang tidak nyenyak.
SLKI:
- Kualitas Tidur
- Manajemen Kecemasan
SIKI:
- Terapi Relaksasi
- Edukasi Manajemen Stres
Penjelasan singkat: Pasien mengalami sesak napas yang semakin berat akibat kondisi gagal jantung kongestif dan hipertensi yang dialaminya. Hal ini berdampak pada pola napasnya yang tidak efektif, ditandai dengan frekuensi napas yang cepat dan dangkal serta adanya ronki halus dan wheezing pada paru. Selain itu, pasien juga mengalami gangguan tidur akibat kecemasan yang ditimbulkan oleh sesak napasnya. Intervensi keperawatan yang diperlukan mencakup manajemen jalan napas, manajemen gagal jantung, manajemen hipertensi, serta terapi relaksasi dan edukasi manajemen stres. -
Article No. 7902 | 04 Dec 2024
Klinis : Ibu D, seorang wanita berusia 45 tahun, datang ke ruang gawat darurat dengan keluhan utama sesak napas yang semakin berat sejak dua hari yang lalu. Pasien mengeluhkan cepat lelah meskipun hanya melakukan aktivitas ringan dan merasa dada terasa sesak, terutama saat berbaring. Sesak napas yang dirasakannya semakin parah setiap hari, dan pasien mengaku tidak bisa tidur nyenyak karena kesulitan bernapas. Ibu D memiliki riwayat hipertensi yang sudah berlangsung selama 5 tahun dan telah didiagnosis dengan gagal jantung kongestif (GJK) sekitar satu tahun yang lalu. Selain itu, Ibu D juga sering merasa cemas karena kondisinya yang semakin memburuk. Setelah dilakukan pemeriksaan, didapatkan data subyektif sebagai berikut: Pasien mengeluhkan sesak napas yang semakin berat dalam dua hari terakhir. Cepat lelah meskipun hanya beraktivitas ringan. Kesulitan tidur dan merasa cemas akibat sesak napas. Riwayat hipertensi selama 5 tahun dan gagal jantung kongestif (GJK) selama 1 tahun. Pada pemeriksaan objektif, ditemukan: Tekanan darah: 160/95 mmHg. Nadi: 110 bpm, teraba cepat dan lemah. Frekuensi pernapasan: 24x/menit, terlihat cepat dan dangkal. Saturasi oksigen: 88% dengan oksigen nasal cannula 2L/menit. Inspeksi: Terdapat sianosis pada bibir dan kulit sekitar mulut. Edema pada tungkai bawah (+2). Bunyi napas: Terdengar ronki halus dan wheezing pada kedua paru bagian bawah.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah diagnosa, luaran/output, dan intervensi keperawatan yang sesuai dengan kondisi Ibu D berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan bersihan jalan napas yang adekuat.
- Etiologi: Edema, produksi sekret yang berlebihan, kelemahan otot pernapasan.
2. Intoleransi Aktivitas
- Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin sehari-hari.
- Etiologi: Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, kelelahan.
3. Kecemasan
- Definisi: Respon emosional dan fisiologis individu terhadap sumber ancaman, bahaya, atau tantangan yang tidak jelas dan non-spesifik.
- Etiologi: Perubahan status kesehatan, ancaman terhadap integritas fisik.
Luaran/Output yang diharapkan (SLKI):
1. Bersihan Jalan Napas
- Kriteria hasil: Jalan napas yang bersih, bunyi napas normal, frekuensi pernapasan dalam batas normal.
2. Toleransi Aktivitas
- Kriteria hasil: Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa kelelahan berlebih.
3. Tingkat Kecemasan
- Kriteria hasil: Pasien menunjukkan tanda-tanda kecemasan yang berkurang, dapat mengendalikan kecemasan.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- Manajemen Jalan Napas
- Terapi Oksigen
- Manajemen Ventilasi
2. Intoleransi Aktivitas
- Manajemen Energi
- Peningkatan Latihan Fisik
- Manajemen Gejala
3. Kecemasan
- Manajemen Kecemasan
- Terapi Relaksasi
- Dukungan Emosional
Penjelasan rinci:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif:
- Pasien mengalami sesak napas yang semakin berat, adanya ronki halus dan wheezing pada paru, serta sianosis menunjukkan adanya gangguan pada bersihan jalan napas.
- Intervensi keperawatan yang diperlukan adalah manajemen jalan napas (misalnya suction, nebulizer), terapi oksigen, dan manajemen ventilasi (pengaturan posisi, penggunaan alat bantu napas) untuk mempertahankan bersihan jalan napas yang adekuat.
2. Intoleransi Aktivitas:
- Pasien mengeluhkan cepat lelah meskipun beraktivitas ringan, menunjukkan adanya ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
- Intervensi keperawatan yang diperlukan adalah manajemen energi (pengaturan aktivitas), peningkatan latihan fisik (rehabilitasi, latihan napas), dan manajemen gejala (penanganan sesak napas) untuk meningkatkan toleransi aktivitas pasien.
3. Kecemasan:
- Pasien merasa cemas akibat sesak napas yang semakin memburuk dan kondisi penyakitnya yang semakin memburuk, menunjukkan adanya kecemasan.
- Intervensi keperawatan yang diperlukan adalah manajemen kecemasan (terapi relaksasi, teknik distraksi), terapi relaksasi, dan dukungan emosional (konseling, terapi suportif) untuk membantu pasien mengendalikan kecemasan.
Secara keseluruhan, asuhan keperawatan yang komprehensif diperlukan untuk mengatasi masalah pernapasan, aktivitas, dan psikologis yang dialami oleh Ibu D sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya. -
Article No. 7903 | 04 Dec 2024
Klinis : hipernatremia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Kelebihan Volume Cairan Berhubungan dengan Peningkatan Kadar Natrium dalam Darah
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Kelebihan Volume Cairan adalah kondisi kelebihan cairan intravaskular, interstitial, atau cairan intraseluler. Indikator diagnosa ini termasuk dalam domain Keseimbangan Cairan dan Elektrolit dengan kelas Cairan Tubuh.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan pada kondisi ini antara lain Keseimbangan Cairan Terpelihara, Kadar Elektrolit dalam Batas Normal, dan Perfusi Jaringan Adekuat.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan meliputi Pemantauan Cairan dan Elektrolit, Manajemen Cairan, Manajemen Natrium, serta Manajemen Hipernatremia. Tujuannya untuk mengendalikan kadar natrium dalam darah, mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, serta mencegah komplikasi akibat hipernatremia.
Sebagai seorang perawat profesional, saya akan melakukan pengkajian menyeluruh, perencanaan, implementasi, dan evaluasi keperawatan yang berpusat pada pasien untuk membantu mengatasi kondisi hipernatremia dan memulihkan keseimbangan cairan dan elektrolit yang optimal. -
Article No. 7904 | 04 Dec 2024
Klinis : Pruritus
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, sebagai seorang perawat profesional, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi pruritus.
Diagnosa Keperawatan:
Pruritus (Gatal)
Definisi:
Pruritus adalah sensasi tidak menyenangkan pada kulit yang menimbulkan keinginan untuk menggaruk.
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Pruritus didefinisikan sebagai sensasi tidak nyaman pada kulit yang menyebabkan keinginan untuk menggaruk.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan pada pasien dengan pruritus adalah:
1. Pasien melaporkan penurunan sensasi gatal.
2. Pasien menunjukkan integritas kulit yang utuh.
3. Pasien melaporkan peningkatan kenyamanan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi pruritus meliputi:
1. Manajemen gejala pruritus, seperti memberikan lotion pelembab, penggunaan antihistamin, dan menghindari faktor pemicu.
2. Perawatan kulit, seperti menjaga kebersihan dan kelembaban kulit.
3. Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pruritus dan cara pengelolaannya.
Sebagai perawat profesional, saya akan menerapkan standar asuhan keperawatan PPNI ini dalam memberikan perawatan yang komprehensif dan berkualitas untuk mengatasi kondisi pruritus pada pasien. -
Article No. 7905 | 04 Dec 2024
Klinis : defisit nutrisi
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, Ibu/Bapak. Berikut saya sampaikan analisa dan rencana asuhan keperawatan untuk kondisi defisit nutrisi:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi defisit nutrisi adalah "Defisit Nutrisi" (00002). Diagnosa ini didefinisikan sebagai "Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik". Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti anoreksia, disfagia, malabsorpsi, atau ketidakmampuan untuk membeli/menyiapkan makanan yang memadai.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Indikator Status Nutrisi Membaik
- Berat badan meningkat sesuai usia dan jenis kelamin
- Lingkar lengan atas meningkat
- Kadar albumin/protein serum meningkat
- Tidak ada tanda-tanda malnutrisi (rambut rontok, edema, lesi kulit, dll.)
2. Indikator Asupan Nutrisi Memadai
- Asupan kalori sesuai kebutuhan
- Asupan protein sesuai kebutuhan
- Tidak ada tanda-tanda dehidrasi
- Tidak ada tanda-tanda defisiensi mikronutrien (vitamin, mineral)
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Pengkajian Nutrisi
- Kaji riwayat nutrisi dan pola makan pasien
- Ukur berat badan, tinggi badan, dan lingkar lengan atas
- Periksa tanda-tanda malnutrisi
- Periksa hasil laboratorium terkait status nutrisi
2. Perencanaan dan Implementasi Nutrisi
- Tentukan kebutuhan nutrisi berdasarkan usia, jenis kelamin, dan kondisi kesehatan pasien
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana diet yang sesuai
- Bantu pasien dalam mengonsumsi makanan atau suplemen yang direkomendasikan
- Lakukan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi yang adekuat
3. Monitoring dan Evaluasi
- Pantau berat badan, lingkar lengan atas, dan status nutrisi secara berkala
- Evaluasi kepatuhan pasien dalam mengonsumsi makanan atau suplemen
- Modifikasi rencana nutrisi jika diperlukan untuk mencapai target yang diharapkan
Penjelasan rinci:
Diagnosa keperawatan "Defisit Nutrisi" menggambarkan kondisi pasien yang mengalami kekurangan asupan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan metaboliknya. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti anoreksia, disfagia, malabsorpsi, atau ketidakmampuan untuk memperoleh makanan yang cukup.
Luaran yang diharapkan setelah asuhan keperawatan meliputi peningkatan status nutrisi dan asupan nutrisi yang memadai. Indikator status nutrisi yang membaik mencakup peningkatan berat badan, lingkar lengan atas, kadar albumin/protein serum, serta tidak adanya tanda-tanda malnutrisi. Sedangkan indikator asupan nutrisi yang memadai mencakup kecukupan asupan kalori, protein, dan tidak ada tanda-tanda dehidrasi atau defisiensi mikronutrien.
Intervensi keperawatan yang diperlukan meliputi pengkajian nutrisi, perencanaan dan implementasi nutrisi, serta monitoring dan evaluasi. Pengkajian nutrisi bertujuan untuk mengidentifikasi riwayat dan pola makan pasien, serta mendeteksi tanda-tanda malnutrisi. Perencanaan dan implementasi nutrisi dilakukan melalui kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana diet yang sesuai, serta membantu pasien dalam mengonsumsi makanan atau suplemen yang direkomendasikan. Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk memantau kemajuan pasien dan melakukan modifikasi rencana nutrisi jika diperlukan.
Semoga penjelasan ini bermanfaat bagi Ibu/Bapak. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, silakan ditanyakan. Terima kasih. -
Article No. 7906 | 04 Dec 2024
Klinis : Ny. A, berusia 35 tahun, No. RM 12345, pendidikan terakhir sekolah dasar, pekerjaan IRT, agama islam, suku jawa, Alamat jl melati, Kota Malang. Ny. A Datang ke rumah sakit UMM pada tanggal 1 september 2023, klien mengeluh perut nyeri dan kenceng-kenceng. Ny. A mengatakan sejak 1 hari yang lalu, tepatnya tanggal 31 agustus 2023, jam 22.00 mengeluh perut terasa nyeri dan kenceng-kenceng. Kemudian tgl 1 september j.08.00 oleh suami klien dibawa ke rumah sakit UMM. Oleh dokter dianjurkan untuk rawat inap. Klien mengatakan ini kehamilan anak ke-3. Pada tanggal 20 Maret 2019, Anak pertama mengalami keguguran pada usia kehamilan 16 minggu. Pada tanggal 15 Januari 2020 Anak ke-2 lahir normal pervaginam pada usia kehamilan 32 minggu dan hidup. Ditolong oleh dokter di RS UMM dengan BB lahir 2300 gram. Klien mengatakan menstruasi pertama kali pada usia 12 tahun, siklus teratur, lama 7 hari. HPHT: 10 desember 2022. Tidak ada perdarahan pervaginam, terdapat keputihan, tidak ada mual dan muntah. Baik klien maupun keluarga, tidak ada riwayat penyakit keturunan/menular. Hasil pemeriksaan didapatkan, usia kehamilan 38-39 minggu, kondisi klien terlihat lemas, kesadaran CM, TB 158 cm, LILA 25 cm, Pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan: T: 120/70 mmHg, S: 36°C, N: 84x/mnt, RR: 16x/mnt. Wajah dan leher klien terdapat perubahan warna hitam, dan terdapat bintik-bintik hitam. Sklera berwarna merah, mata sayu, konjuntiva berwarna merah muda, tidak ada caries gigi. Puting susu tenggelam, areola berwarna kehitaman, ASI belum keluar. Pemerikasaan abdomen didapatkan berwarna kehitaman, dan terdapat garis linea pada abdomen, hasil pemeriksaan leopold I teraba bokong, TFU 38 cm, leopold 2 teraba puka, DJJ 135x/mnt, leopold III kepala sudah masuk PAP dan tidak dapat digoyangkan, leopold IV teraba divergen. Klien mengeluh nyeri dan kenceng-kenceng pada area abdomen, nyeri bertambah saat dibuat bergerak, nyeri seperti ditusuk-tusuk, dan hilang timbul, area nyeri pada seluruh abdomen terutama bagian bawah, skala nyeri 8. Pemeriksan genetalia terdapat keputihan dan tidak terdapat hemoroid. Tidak ada edema pada ekstremitas, reflek patela positif. Klien mengatakan beberapa hari ini klien tidak bisa tidur, jumlah jam tidur malam hari kurang lebih 3-4 jam, siang tidak bisa tidur. klien terlihat lemas, klien terlihat sering menguap. Klien sering bertanya terkait kehamilan, dan klien bertanya tentang kondisi janinnya
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang dijelaskan, berikut adalah diagnosis keperawatan, serta penjelasan singkat standar SDKI-SLKI-SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosis Keperawatan:
1. Nyeri akut berhubungan dengan kontraksi uterus
2. Kelelahan berhubungan dengan gangguan pola tidur
3. Kecemasan berhubungan dengan ketidakpastian kondisi kehamilan
Penjelasan Singkat SDKI-SLKI-SIKI:
1. Nyeri Akut berhubungan dengan kontraksi uterus:
SDKI: Respon sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial atau yang dirasakan seperti kerusakan jaringan.
SLKI: Tindakan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri yang dirasakan individu.
SIKI: Mengidentifikasi lokasi, karakteristik, durasi, keparahan, dan faktor pencetus nyeri; Mengkaji respons individu terhadap nyeri; Mengajarkan teknik manajemen nyeri.
2. Kelelahan berhubungan dengan gangguan pola tidur:
SDKI: Perasaan keletihan dan penurunan kapasitas untuk melakukan aktivitas fisik dan mental yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pasokan dan kebutuhan sumber energi.
SLKI: Tindakan yang dilakukan untuk mengembalikan dan mempertahankan energi individu.
SIKI: Mengkaji pola tidur dan faktor yang memengaruhi; Memfasilitasi lingkungan yang nyaman untuk tidur; Mengajarkan teknik relaksasi.
3. Kecemasan berhubungan dengan ketidakpastian kondisi kehamilan:
SDKI: Perasaan tidak nyaman atau khawatir yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya.
SLKI: Tindakan yang dilakukan untuk mengurangi atau mengatasi perasaan cemas individu.
SIKI: Mengkaji penyebab dan tingkat kecemasan; Memberikan informasi yang akurat tentang kondisi kehamilan; Mengajarkan teknik pengelolaan kecemasan.
Secara umum, standar SDKI, SLKI, dan SIKI memberikan kerangka kerja yang komprehensif dalam mengidentifikasi, merencanakan, dan melaksanakan intervensi keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien.