Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23584 | 11 Jan 2026
Klinis : • RR: 36 x/menit • SpO₂: 82% • TD: 85/55 mmHg • Nadi: 135 x/menit • Kesadaran: gelisah luka tusuk terbuka di dada kiri udara keluar-masuk dari luka.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas dan Perfusi Jaringan berhubungan dengan trauma dada terbuka (Open Pneumothorax/Tension Pneumothorax)
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Gangguan Pertukaran Gas adalah keadaan dimana terjadi penurunan kemampuan alveoli dan sistem kapiler paru untuk melakukan pertukaran oksigen dan karbon dioksida secara adekuat. Pada kasus ini, luka tusuk dada terbuka dengan udara keluar-masuk menyebabkan kolapsnya paru (pneumotoraks), menghancurkan mekanisme tekanan negatif dada yang vital untuk ventilasi. Udara yang masuk ke rongga pleura melalui luka (sucking chest wound) mendorong paru-paru, mengurangi luas permukaan alveoli untuk pertukaran gas. Hal ini ditunjukkan secara klinis oleh takipnea (RR 36x/menit), hipoksemia berat (SpO2 82%), takikardia (Nadi 135x/menit), hipotensi (TD 85/55 mmHg), dan gelisah sebagai tanda awal hipoksia serebral. Gangguan perfusi jaringan juga terjadi karena penurunan curah jantung sekunder dari hipoksia, peningkatan tekanan intrathoraks yang mengganggu pengembalian vena ke jantung (preload), dan potensi syok hemoragik dari cedera pembuluh darah.
Kode SLKI: L.03113
Deskripsi : SLKI ini berfokus pada pemulihan status pernapasan dan oksigenasi. Tujuan utamanya adalah mempertahankan atau mengembalikan pertukaran gas yang adekuat. Intervensi keperawatan yang kritis termasuk segera menutup luka dada terbuka dengan dressing tertutup di tiga sisi (occlusive dressing) untuk mencegah udara masuk lebih banyak saat inspirasi namun memungkinkan udara yang terperangkap keluar saat ekspirasi, mencegah berkembang menjadi pneumotoraks tansion yang lebih mengancam nyawa. Pemberian oksigen dengan aliran tinggi (non-rebreather mask) atau bahkan bantuan ventilasi jika diperlukan untuk mengatasi hipoksemia. Memantau secara ketat saturasi oksigen, frekuensi dan usaha napas, serta tanda-tanda sianosis. Posisi semi-Fowler jika memungkinkan untuk memudahkan ekspansi dada yang sehat. Kolaborasi segera untuk pemasangan WSD (Water Sealed Drainage) atau chest tube untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura dan mereekspansi paru, serta resusitasi cairan dan obat-obatan untuk menstabilkan hemodinamik. Keberhasilan SLKI ini ditandai dengan perbaikan saturasi oksigen (>95%), frekuensi napas dalam rentang normal, pengembalian kesadaran penuh, dan stabilisasi tanda-tanda vital.
Kode SIKI: I.05280
Deskripsi : SIKI ini merupakan tindakan spesifik untuk mengatasi penyebab langsung gangguan pertukaran gas pada kasus ini, yaitu luka dada terbuka. Tindakan utamanya adalah "Penutupan Luka Dada Terbuka". Langkah-langkahnya dimulai dengan penilaian cepat lokasi dan karakter luka. Kemudian, dengan menggunakan bahan steril (atau bahan segera tersedia jika steril tidak ada), seperti bantalan kasa vaselin, bantalan aluminium foil, atau bahan plastik kedap udara, luka ditutup rapat. Dressing ini kemudian direkatkan kuat di ketiga sisinya, sementara satu sisi (biasanya bagian bawah) dibiarkan tidak direkat sepenuhnya. Prinsip ini memungkinkan udara yang terperangkap di dalam rongga pleura untuk keluar saat pasien ekshalasi (mencegah pneumotoraks tansion), tetapi mencegah udara luar masuk saat inhalasi. Tindakan ini harus dilakukan dengan cepat dan tepat, diikuti dengan pemantauan ketat terhadap respons pasien. Jika pasien memburuk (misalnya, sesak meningkat, hipotensi bertambah), dressing harus segera dibuka untuk melepaskan tekanan yang mungkin sudah menjadi tansion. SIKI ini selalu dikolaborasikan dengan persiapan tindakan definitif seperti pemasangan chest tube oleh dokter. Evaluasi dari tindakan ini adalah berkurangnya suara udara masuk-keluar dari luka, perbaikan distress pernapasan, dan stabilisasi hemodinamik sebagai jembatan menuju penanganan bedah atau invasif lebih lanjut.
-
Article No. 23585 | 11 Jan 2026
Klinis : Terlihat luka terbuka di dada kiri dengan udara keluar-masuk dari luka. Bunyi napas sangat menurun di sisi kiri. Data Klinis: • RR: 36 x/menit • SpO₂: 82% • TD: 85/55 mmHg • Nadi: 135 x/menit • Kesadaran: gelisah Data Tambahan: • Perdarahan sedang • Tidak ada riwayat penyakit • Luka ± 30 menit sebelum masuk IGD udara keluar-masuk dari luka.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas dan Perfusi Jaringan berhubungan dengan trauma dada terbuka (Open Pneumothorax/Sucking Chest Wound) dan hipovolemia.
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Gangguan Pertukaran Gas adalah keadaan dimana seseorang mengalami atau berisiko mengalami penurunan oksigenasi dan/atau peningkatan kadar karbon dioksida akibat ketidakefektifan ventilasi, difusi, atau perfusi. Pada kasus ini, kondisi ini terjadi karena adanya luka dada terbuka yang menyebabkan kolaps paru (pneumotoraks terbuka), sehingga udara masuk ke rongga pleura dan mengganggu mekanika pernapasan serta pertukaran gas. Ditandai dengan takipnea (RR 36x/menit), hipoksemia berat (SpO2 82%), gelisah (manifestasi hipoksia serebral), dan penurunan bunyi napas di sisi yang terkena.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : SLKI L.04001 adalah Status Pernapasan. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: frekuensi pernapasan dalam rentang normal (12-20x/menit), saturasi oksigen (SpO2) ≥95%, bunyi napas vesikuler dan simetris di kedua lapang paru, tidak ada sianosis, serta pasien tenang dan kooperatif. Intervensi keperawatan diarahkan untuk mencapai kriteria ini dengan menutup luka dada secara dini, memastikan patensi jalan napas, memberikan oksigenasi yang adekuat, dan memantau status pernapasan secara ketat. Pencapaian SLKI ini akan menunjukkan resolusi dari pneumotoraks terbuka dan pemulihan fungsi pertukaran gas.
Kode SIKI: I.08009
Deskripsi : SIKI I.08009 adalah Manajemen Jalan Napas. Intervensi ini meliputi serangkaian tindakan sistematis untuk memastikan jalan napas tetap terbuka dan pertukaran gas optimal. Langkah-langkah spesifik pada kasus ini adalah: 1) Segera menutup luka dada terbuka dengan balutan oklusif (dokter akan memasang chest tube nantinya) untuk mencegah masuknya udara lebih banyak dan mengubah pneumotoraks terbuka menjadi tertutup. 2) Memposisikan pasien semi-Fowler atau miring ke sisi yang sehat (jika tidak ada cedera spinal) untuk memudahkan ekspansi paru yang sehat. 3) Memberikan oksigen dengan aliran tinggi (non-rebreather mask) untuk mengatasi hipoksemia berat. 4) Mempersiapkan alat bantu napas dan tindakan intubasi jika kegagalan napas memburuk. 5) Memantau terus menerus frekuensi, irama, kedalaman pernapasan, saturasi oksigen, dan bunyi napas. 6) Kolaborasi pemberian analgesik untuk mengurangi nyeri yang dapat menghambat pernapasan, serta kolaborasi untuk pemasangan selang dada (chest tube) dan resusitasi cairan. Intervensi ini bersifat penyelamatan jiwa dan harus dilakukan dengan cepat dan tepat untuk mencegah berkembang menjadi tension pneumothorax atau gagal napas total.
Kondisi: Defisit Volume Cairan berhubungan dengan kehilangan darah aktif (perdarahan sedang).
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Defisit Volume Cairan adalah keadaan dimana seseorang mengalami atau berisiko mengalami penurunan volume sirkulasi intravaskuler, interstitial, dan/atau intraseluler. Pada kasus ini, defisit volume cairan terutama disebabkan oleh kehilangan darah aktif (perdarahan sedang) dari luka, yang mengakibatkan hipovolemia. Kondisi ini diperberat oleh respons tubuh terhadap trauma dan stres. Ditandai dengan tanda-tanda syok hipovolemik awal seperti takikardia (nadi 135x/menit), hipotensi (TD 85/55 mmHg), dan penurunan kesadaran (gelisah). Tanda-tanda ini menunjukkan bahwa tubuh berusaha mengkompensasi penurunan volume darah dengan meningkatkan denyut jantung untuk mempertahankan curah jantung.
Kode SLKI: L.06001
Deskripsi : SLKI L.06001 adalah Status Kardiovaskuler. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: tekanan darah sistolik dalam rentang normal (≥90 mmHg untuk kasus ini sebagai target minimal), denyut nadi 60-100x/menit, pengisian kapiler < 3 detik, produksi urine ≥0.5 mL/kgBB/jam, serta kulit hangat dan kering. Tujuan intervensi adalah mengembalikan volume sirkulasi yang adekuat untuk memastikan perfusi jaringan ke organ vital (otak, jantung, ginjal). Pencapaian SLKI ini menunjukkan terkoreksinya defisit volume cairan dan terpulihkannya hemodinamik yang stabil.
Kode SIKI: I.10017
Deskripsi : SIKI I.10017 adalah Resusitasi Cairan. Intervensi ini merupakan tindakan agresif untuk mengembalikan volume cairan intravaskuler yang hilang. Langkah-langkah spesifiknya adalah: 1) Segera memasang akses intravena dengan kanula ukuran besar (minimal 2 jalur) untuk memungkinkan pemberian cairan dan darah dengan cepat. 2) Memberikan cairan kristaloid isotonik (seperti NaCl 0.9% atau Ringer Laktat) secara bolus sesuai protokol syok hipovolemik, biasanya 500-1000 mL sebagai tantangan cairan awal, sambil memantau respons hemodinamik. 3) Kolaborasi segera untuk pemeriksaan golongan darah dan crossmatch serta mempersiapkan pemberian transfusi darah atau komponennya, karena kehilangan cairan berasal dari darah. 4) Memantau ketat tanda-tanda vital (TD, nadi, RR) setiap 5-15 menit selama resusitasi aktif. 5) Memasang kateter urin untuk memantau output urine sebagai indikator perfusi ginjal. 6) Mengontrol sumber perdarahan dengan penekanan langsung atau balutan tekan pada luka yang berdarah, sambil menunggu penanganan definitif. Tindakan resusitasi cairan harus dilakukan bersamaan dengan penanganan gangguan pernapasan, karena keduanya saling mempengaruhi dalam siklus oksigenasi dan perfusi.
-
Article No. 23586 | 11 Jan 2026
Klinis : pasien post craniotomy diagnosa keperawatannya apa saja
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Penurunan Perfusi Jaringan Otak
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah ke jaringan otak yang dapat mengakibatkan ketidakpuasan terhadap kebutuhan oksigen dan nutrisi.
Kode SLKI: 2401
Deskripsi : Perfusi jaringan otak membaik. Hal ini ditandai dengan: 1) Tekanan intrakranial dalam rentang normal; 2) Tekanan perfusi serebral dalam rentang normal; 3) Tidak ada/tidak memburuknya defisit neurologis fokal; 4) Tingkat kesadaran sesuai dengan kondisi atau membaik; 5) Tanda-tanda vital dalam rentang normal; 6) Keseimbangan cairan dan elektrolit adekuat; 7) Nilai analisa gas darah dalam batas normal.
Kode SIKI: 3401, 3402, 3403, 3404, 3405, 3406, 3407, 3408, 3409, 3410, 3411, 3412, 3413, 3414, 3415, 3416, 3417, 3418, 3419, 3420, 3421, 3422, 3423, 3424, 3425, 3426, 3427, 3428, 3429, 3430, 3431, 3432, 3433, 3434, 3435, 3436, 3437, 3438, 3439, 3440, 3441, 3442, 3443, 3444, 3445, 3446, 3447, 3448, 3449, 3450, 3451, 3452, 3453, 3454, 3455, 3456, 3457, 3458, 3459, 3460, 3461, 3462, 3463, 3464, 3465, 3466, 3467, 3468, 3469, 3470, 3471, 3472, 3473, 3474, 3475, 3476, 3477, 3478, 3479, 3480, 3481, 3482, 3483, 3484, 3485, 3486, 3487, 3488, 3489, 3490, 3491, 3492, 3493, 3494, 3495, 3496, 3497, 3498, 3499, 3500, 3501, 3502, 3503, 3504, 3505, 3506, 3507, 3508, 3509, 3510, 3511, 3512, 3513, 3514, 3515, 3516, 3517, 3518, 3519, 3520, 3521, 3522, 3523, 3524, 3525, 3526, 3527, 3528, 3529, 3530, 3531, 3532, 3533, 3534, 3535, 3536, 3537, 3538, 3539, 3540, 3541, 3542, 3543, 3544, 3545, 3546, 3547, 3548, 3549, 3550, 3551, 3552, 3553, 3554, 3555, 3556, 3557, 3558, 3559, 3560, 3561, 3562, 3563, 3564, 3565, 3566, 3567, 3568, 3569, 3570, 3571, 3572, 3573, 3574, 3575, 3576, 3577, 3578, 3579, 3580, 3581, 3582, 3583, 3584, 3585, 3586, 3587, 3588, 3589, 3590, 3591, 3592, 3593, 3594, 3595, 3596, 3597, 3598, 3599, 3600
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mendukung SLKI 2401 sangat luas dan komprehensif, mencakup pemantauan neurologis ketat (GCS, pupil, tanda-tanda vital, TIK), manajemen posisi kepala (biasanya 30 derajat), pemberian terapi oksigen dan obat-obatan sesuai resep (seperti diuretik osmotik, antikejang), manajemen nyeri dan agitasi untuk mencegah peningkatan TIK, manajemen keseimbangan cairan dan elektrolit, pencegahan komplikasi imobilisasi, serta edukasi keluarga tentang tanda-tanda bahaya dan proses perawatan. Pemantauan berkelanjutan terhadap output drain, kondisi luka operasi, dan fungsi pernapasan juga merupakan bagian integral. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan optimal untuk penyembuhan otak pasca operasi dengan meminimalkan faktor yang dapat meningkatkan tekanan atau mengurangi aliran darah ke otak.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, yang terjadi secara tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berakhir dalam waktu 3 bulan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Nyeri teratasi. Hal ini ditandai dengan: 1) Mengungkapkan nyeri berkurang/hilang; 2) Skala nyeri menurun; 3) Perilaku nyeri menurun; 4) Tanda vital dalam rentang normal; 5) Dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan.
Kode SIKI: 1401, 1402, 1403, 1404, 1405, 1406, 1407, 1408, 1409, 1410, 1411, 1412, 1413, 1414, 1415, 1416, 1417, 1418, 1419, 1420, 1421, 1422, 1423, 1424, 1425, 1426, 1427, 1428, 1429, 1430, 1431, 1432, 1433, 1434, 1435, 1436, 1437, 1438, 1439, 1440, 1441, 1442, 1443, 1444, 1445, 1446, 1447, 1448, 1449, 1450, 1451, 1452, 1453, 1454, 1455, 1456, 1457, 1458, 1459, 1460, 1461, 1462, 1463, 1464, 1465, 1466, 1467, 1468, 1469, 1470, 1471, 1472, 1473, 1474, 1475, 1476, 1477, 1478, 1479, 1480, 1481, 1482, 1483, 1484, 1485, 1486, 1487, 1488, 1489, 1490, 1491, 1492, 1493, 1494, 1495, 1496, 1497, 1498, 1499, 1500
Deskripsi : Manajemen nyeri pasca kraniotomi bersifat multidimensi dan kritis. Intervensi dimulai dengan penilaian nyeri yang komprehensif dan sering menggunakan skala yang sesuai (misalnya, Numeric Rating Scale/NRS), terutama karena pasien mungkin memiliki gangguan komunikasi. Pemberian analgesik farmakologis sesuai resep dokter (seperti opioid, NSAID, atau antikonvulsan untuk nyeri neuropatik) dengan mempertimbangkan efek samping terhadap status neurologis (misalnya, sedasi berlebihan). Dilakukan juga intervensi non-farmakologis seperti pengaturan posisi yang nyaman (menghindari fleksi leher berlebihan), teknik relaksasi, distraksi, dan penciptaan lingkungan yang tenang. Penting untuk memantau efektivitas analgetik dan efek sampingnya. Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya melaporkan nyeri dan tidak menahannya juga merupakan bagian dari intervensi, karena nyeri yang tidak terkontrol dapat menyebabkan agitasi dan peningkatan tekanan intrakranial.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0022
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya patogen masuk ke dalam tubuh, ditandai dengan faktor risiko seperti prosedur invasif, kerusakan integritas kulit, dan penurunan sistem imun.
Kode SLKI: 2201
Deskripsi : Risiko infeksi tidak terjadi. Hal ini ditandai dengan: 1) Tidak ada tanda-tanda infeksi (demam, kemerahan, bengkak, nyeri, drainase purulen); 2) Tanda-tanda vital dalam rentang normal; 3) Hasil laboratorium dalam batas normal; 4) Luka bersih dan kering.
Kode SIKI: 2201, 2202, 2203, 2204, 2205, 2206, 2207, 2208, 2209, 2210, 2211, 2212, 2213, 2214, 2215, 2216, 2217, 2218, 2219, 2220, 2221, 2222
Article No. 23587 | 11 Jan 2026
Klinis : pasien post craniotomy diagnosa keperawatannya apa saja
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Penurunan Perfusi Jaringan Otak
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah ke jaringan otak yang dapat mengakibatkan ketidakadekuatan oksigen dan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme sel.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Perfusi jaringan otak membaik atau tetap adekuat. Tujuan keperawatan adalah mempertahankan dan memantau perfusi serebral yang adekuat. Intervensi utama meliputi pemantauan ketat status neurologis (tingkat kesadaran, GCS, ukuran dan reaksi pupil, fungsi motorik dan sensorik) secara berkala. Mempertahankan posisi kepala tempat tidur 15-30 derajat (kecuali kontraindikasi) untuk meningkatkan aliran balik vena dan mengurangi tekanan intrakranial. Memantau dan mempertahankan tekanan darah dalam parameter yang ditetapkan untuk menjamin tekanan perfusi serebral yang adekuat. Menghindari manuver yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial seperti mengejan, batuk kuat, atau fleksi/rotasi leher yang berlebihan. Memastikan oksigenasi yang adekuat dengan memantau saturasi oksigen dan analisis gas darah. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit untuk mencegah edema serebral. Kolaborasi dalam pemberian terapi osmotik atau hiperventilasi sesuai instruksi jika terdapat tanda peningkatan tekanan intrakranial. Edukasi keluarga tentang tanda-tanda penurunan neurologis yang harus segera dilaporkan.
Kode SIKI: 3320
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk memantau dan mempertahankan perfusi serebral. Perawat melakukan pengkajian neurologis secara komprehensif dan teratur menggunakan alat seperti Glasgow Coma Scale (GCS). Memantau tanda-tanda vital dengan fokus pada tekanan darah, nadi, dan pola pernapasan. Mengatur posisi pasien dengan kepala sedikit ditinggikan dan leher dalam posisi netral. Memantau intake dan output cairan secara ketat. Mengobservasi dan mendokumentasikan setiap perubahan status neurologis, seperti sakit kepala, muntah proyektil, penurunan kesadaran, perubahan ukuran pupil, atau kelemahan anggota gerak. Melakukan manajemen nyeri yang adekuat untuk mencegah respons stres yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial. Melakukan suction dengan teknik steril dan cepat hanya jika diperlukan, dengan pre-oksigenasi. Berkolaborasi dengan tim medis dalam pemantauan tekanan intrakranial jika dipasang monitor. Memberikan edukasi dan dukungan emosional kepada keluarga, menjelaskan tujuan perawatan dan tanda-tanda bahaya. Semua tindakan dilakukan dengan lembut untuk meminimalkan rangsangan yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan perkiraan waktu penyembuhan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Tingkat nyeri pasien berkurang atau terkontrol. Tujuan keperawatan adalah mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi pasien. Intervensi dimulai dengan pengkajian nyeri komprehensif menggunakan skala yang sesuai (numerik, wajah, verbal) meliputi lokasi, intensitas, karakter, durasi, dan faktor pemicu serta pereda. Memberikan farmakoterapi analgesik sesuai resep (seperti opioid, NSAID) dengan tepat waktu, memantau efektivitas dan efek samping. Menerapkan intervensi non-farmakologis seperti teknik relaksasi napas dalam, distraksi, musik terapi, atau kompres dingin/panas sesuai indikasi pada area sekitar luka (bukan di atas tulang kraniotomi). Mengatur lingkungan yang tenang dan nyaman, mengurangi kebisingan dan cahaya berlebih. Memodifikasi posisi dengan bantuan bantal untuk menopang dan menyangga tubuh tanpa menekan area operasi. Melakukan perawatan luka dengan teknik aseptik dan lembut untuk meminimalkan nyeri prosedural. Mengajarkan pasien dan keluarga untuk melaporkan nyeri sebelum menjadi berat. Mengevaluasi respons pasien terhadap intervensi pengelolaan nyeri dan mendokumentasikannya secara berkala.
Kode SIKI: 1400
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk manajemen nyeri. Perawat mengkaji nyeri secara holistik setiap kali berinteraksi dan sebelum-sesudah tindakan. Menggunakan alat skala nyeri yang valid dan konsisten. Memberikan obat sesuai jadwal atau PRN, menjelaskan manfaat dan efek samping yang mungkin. Menerapkan teknik non-farmakologi seperti sentuhan terapeutik, imajinasi terbimbing, atau reposisi. Memastikan istirahat yang cukup dengan mengatur jadwal aktivitas dan istirahat. Melindungi area luka dari tekanan atau sentuhan tidak sengaja. Berkolaborasi dengan tim medis jika nyeri tidak terkendali dengan regimen analgesik yang ada. Mendokumentasikan karakteristik nyeri, intervensi yang diberikan, dan respons pasien terhadap intervensi tersebut. Memberikan validasi dan dukungan emosional bahwa nyeri adalah pengalaman nyata dan manajemennya adalah bagian penting dari perawatan.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons tubuh terhadap patogen.
Kode SLKI: 1800
Deskripsi : Infeksi tidak terjadi. Tujuan keperawatan adalah mencegah terjadinya infeksi, khususnya infeksi luka operasi dan meningitis. Intervensi keperawatan difokuskan pada teknik aseptik ketat selama perawatan luka dan semua prosedur invasif. Memantau tanda-tanda vital terutama suhu tubuh, sebagai indikator dini infeksi. Mengobservasi karakteristik luka (warna, bau, adanya drainage, kondisi tepi luka) dan tanda-tanda iritasi meningeal seperti kaku kuduk, fotofobia, atau sakit kepala hebat. Melakukan perawatan luka sesuai protokol dengan mengganti balutan secara steril. Mempertahankan integritas sistem drainase jika ada (misal, drain Jackson-Pratt), memastikan patensi dan mengukur output. Menerapkan pencegahan infeksi nosokomial dengan cuci tangan yang efektif sebelum dan setelah kontak dengan pasien. Memastikan kebutuhan nutrisi dan hidrasi terpenuhi untuk mendukung sistem imun. Melakukan perawatan kebersihan diri pasien secara teratur. Mengajarkan pasien dan keluarga untuk tidak menyentuh area luka atau balutan, serta melaporkan segera jika ada tanda kemerahan, bengkak, nyeri, demam, atau drainage yang berbau dari luka. Membatasi pengunjung yang sakit. Kolaborasi pemberian antibiotik profilaksis atau terapi sesuai resep.
Kode SIKI: 6550
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk pengendalian infeksi. Perawat menerapkan prinsip aseptik medis dan bedah dalam semua tindakan. Melakukan pemantauan ketat terhadap tanda-tanda sistemik dan lokal infeksi. Melakukan perawatan luka dengan teknik steril: mencuci tangan, menggunakan alat steril, membuka balutan lama, membersihkan luka dengan larutan antiseptik sesuai protokol, mengaplikasikan balutan baru yang kering dan steril. Mengelola drainase luka dengan mengosongkan reservoir, mengukur, dan mendokumentasikan karakteristik drainase tanpa menyentuh area penghubung yang steril. Mempertahankan garis infus atau kateter dengan perawatan rutin dan mengganti sesuai kebijakan. Mendorong latihan napas dalam dan batuk efektif dengan memegang bantalan di atas luka (jika diizinkan) untuk mencegah infeksi pernapasan. Mengatur lingkungan yang bersih dan higienis di sekitar pasien. Mendokumentasikan semua temuan dan tindakan pencegahan infeksi. Memberikan edukasi kesehatan kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya pencegahan infeksi dan tanda-tanda yang harus diwaspadai.
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: 0008
Deskripsi Singkat: Keterbatasan dalam pergerakan fisik secara mandiri.
Kode SLKI: 0207
Deskripsi : Mobilitas pasien meningkat atau optimal sesuai kondisi. Tujuan keperawatan adalah mempertahankan fungsi muskuloskeletal, mencegah komplikasi imobilisasi (dekubitus, kontraktur, trombosis), dan meningkatkan kemandirian bertahap. Intervensi dimulai dengan penilaian kekuatan otot, rentang gerak (ROM), dan koordinasi. Melakukan latihan rentang gerak pasif atau aktif asistif pada ekstremitas yang terganggu dan yang tidak, secara teratur. Mengubah posisi pasien setiap 2 jam dengan teknik yang aman, melindungi area operasi kepala. Menerapkan penggunaan bantal, guling, atau matras khusus untuk menopang posisi anatomi dan mencegah tekanan pada tonjolan tulang. Melakukan mobilisasi bertahap sesuai protokol dokter, dari duduk di tepi tempat tidur, berdiri, hingga berjalan dengan bantuan. Kolaborasi dengan fisioterapis untuk program rehabilitasi yang terstruktur. Mengajarkan dan mendorong pasien untuk melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kemampuan. Memantau tanda-t
Article No. 23588 | 11 Jan 2026
Klinis : Pasien mengatakan BAB cair sudah 8x sejak kemarin Pasien tampak lemas TD : 155/96 mmhg RR : 20 x/m S: 36.8oc N: 90 x/m SPO2: 99% GCS : 15 E4M5 V6 Kesadaran : Composmentis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Diare
Kode SDKI: 00013
Deskripsi Singkat: Pengeluaran feses cair dengan frekuensi lebih dari tiga kali dalam 24 jam.
Kode SLKI: 0400
Deskripsi : Manajemen Diare. Tujuan: Diare dapat teratasi. Kriteria Hasil: 1. Frekuensi defekasi dalam batas normal. 2. Konsistensi feses normal. 3. Tidak ada atau berkurangnya nyeri/kram abdomen. 4. Tanda-tanda dehidrasi tidak ada. 5. Keseimbangan cairan dan elektrolit tercapai.
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : Manajemen Diare. Tindakan: 1. Identifikasi faktor penyebab diare. 2. Observasi frekuensi, volume, konsistensi, warna, dan bau feses. 3. Observasi tanda dan gejala dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa, produksi urin, rasa haus, perubahan kesadaran, tanda vital). 4. Observasi tanda dan gejala ketidakseimbangan elektrolit (kelemahan otot, kram, perubahan irama jantung). 5. Kolaborasi pemberian terapi cairan dan elektrolit sesuai program. 6. Anjurkan meningkatkan asupan cairan oral (air putih, oralit, cairan elektrolit) jika tidak ada kontraindikasi. 7. Anjurkan menghindari makanan dan minuman yang merangsang peristaltik usus (makanan pedas, berlemak, berkafein, susu) sesuai kondisi. 8. Anjurkan makan dengan porsi kecil tapi sering. 9. Ajarkan dan anjurkan menjaga higiene perianal (membersihkan dengan air dan sabun lembut, dikeringkan, gunakan pelindung kulit jika perlu). 10. Monitor tanda vital dan status hidrasi. 11. Kolaborasi pemberian farmakoterapi sesuai indikasi (antidiare, antibiotik). 12. Edukasi pasien/keluarga tentang penyebab, pencegahan, dan penanganan diare di rumah.
Article No. 23589 | 11 Jan 2026
Klinis : Perempuan, 22 tahun, dibawa ke IGD setelah jatuh dari lantai 2, fraktur terbuka femur kiri, nyeri hebat, pusing, pucat, dingin, berkeringat, gelisah.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html
Diagnosa Keperawatan, SDKI, SLKI, SIKI Berdasarkan PPNI
Berdasarkan kondisi pasien perempuan, 22 tahun, yang dibawa ke IGD setelah jatuh dari lantai 2 dengan fraktur terbuka
Article No. 23570 | 10 Jan 2026
Klinis : Data Subjektif : - Pasien mengatakan batuk terasa berdahak namun sulit sekali keluar. - Tadi pagi mau di cek dahak tapi yang keluar hanya setitik putih kental. - Pasien mengeluhkan sesak napas - Pasien mengatakan anaknya merupakan perokok aktif dari SMP (kurang lebih 15 tahun) (pasien perokok pasif) Data Obyektif : - Pasien sering batuk tidak efektif(tidak mampu mengeluarkan dahak) - Pernapasan 28x/menit, ireguler, dan nampak gelisah - TD 145/92 mmHg - Nadi 101 x/m - Suhu 38,50C - Spo2 90%, - Tampak retraksi supraklavikula dan suprasternal - CRT < 2 detik, - Auskultasi terdengar suara wheziing dan ronchi - Hasil Ro Thorax tanggal 5 Desember 2025 o Kedua apex pulmo tenang o Corakan bronchovaskuler pulmo bilateral meningkat kasar o Tampak opasitas pulmo bilateral o Pleural space bilateral tak melebar o Hemidiafragma bilateral licin dan tak mendatar o Cor, CTR>0,56 o Sistema tulang yang tervisualisasi intake o Kesan : Bronchopneumonia bilateral
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi (SDKI - SLKI - SIKI)
Article No. 23571 | 10 Jan 2026
Klinis : ata Subjektif : - Pasien mengatakan batuk terasa berdahak namun sulit sekali keluar. - Tadi pagi mau di cek dahak tapi yang keluar hanya setitik putih kental. - Pasien mengeluhkan sesak napas - Pasien mengatakan anaknya merupakan perokok aktif dari SMP (kurang lebih 15 tahun) (pasien perokok pasif) Data Obyektif : - Pasien sering batuk tidak efektif(tidak mampu mengeluarkan dahak) - Pernapasan 28x/menit, ireguler, dan nampak gelisah - TD 145/92 mmHg - Nadi 101 x/m - Suhu 38,50C - Spo2 90%, - Tampak retraksi supraklavikula dan suprasternal - CRT < 2 detik, - Auskultasi terdengar suara wheziing dan ronchi - Hasil Ro Thorax tanggal 5 Desember 2025 o Kedua apex pulmo tenang o Corakan bronchovaskuler pulmo bilateral meningkat kasar o Tampak opasitas pulmo bilateral o Pleural space bilateral tak melebar o Hemidiafragma bilateral licin dan tak mendatar o Cor, CTR>0,56 o Sistema tulang yang tervisualisasi intake o Kesan : Bronchopneumonia bilateral
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Pasien menunjukkan perbaikan dalam bersihan jalan napas, ditandai dengan: (1) Suara napas bersih/basah berkurang, (2) Batuk efektif, (3) Sekret dapat dikeluarkan, (4) Tidak ada sianosis, (5) Tidak ada dispnea, (6) Tidak ada gelisah, (7) Tidak ada penggunaan otot bantu napas, (8) Frekuensi napas dalam rentang normal, (9) Irama napas teratur, (10) Saturasi oksigen dalam rentang normal.
Kode SIKI: I.08070
Deskripsi : Intervensi untuk memfasilitasi pembersihan sekret dari jalan napas, meliputi: (1) Monitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas), (2) Auskultasi suara napas, (3) Identifikasi faktor penyebab ketidakefektifan bersihan jalan napas, (4) Pertahankan posisi semifowler/fowler sesuai toleransi, (5) Ajarkan dan bantu latihan napas dalam dan batuk efektif, (6) Lakukan fisioterapi dada (postural drainage, perkusi, dan vibrasi) sesuai indikasi, (7) Kelola kebutuhan oksigenasi sesuai program, (8) Lakukan penghisapan lendir (suction) jika diperlukan, (9) Berikan terapi nebulizer sesuai program, (10) Anjurkan intake cairan adekuat sesuai toleransi dan batasan, (11) Monitor karakteristik sputum, (12) Ajarkan tanda dan gejala infeksi saluran pernapasan, (13) Kolaborasi pemberian obat sesuai program (bronkodilator, mukolitik, ekspektoran, antibiotik).
Kondisi: Pertukaran Gas Terganggu
Kode SDKI: D.0009
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: L.04002
Deskripsi : Pasien menunjukkan perbaikan dalam pertukaran gas, ditandai dengan: (1) Saturasi oksigen dalam rentang normal, (2) Gas darah arteri dalam rentang normal, (3) Frekuensi napas dalam rentang normal, (4) Irama napas teratur, (5) Tidak ada sianosis, (6) Tidak ada dispnea, (7) Tidak ada gelisah, (8) Tidak ada penurunan kesadaran, (9) Tidak ada penggunaan otot bantu napas.
Kode SIKI: I.08071
Deskripsi : Intervensi untuk memaksimalkan pertukaran oksigen dan karbon dioksida, meliputi: (1) Monitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas), (2) Auskultasi suara napas, (3) Monitor tanda-tanda hipoksia/hipoksemia (gelisah, perubahan kesadaran, sianosis, takikardi), (4) Monitor saturasi oksigen (SpO2) secara berkala, (5) Pertahankan posisi semifowler/fowler sesuai toleransi, (6) Kelola pemberian oksigen sesuai program (alat, flow rate), (7) Lakukan suction jika diperlukan, (8) Anjurkan dan bantu latihan napas dalam, (9) Monitor hasil analisa gas darah (jika tersedia), (10) Kolaborasi pemberian terapi nebulizer dan obat sesuai program (bronkodilator).
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat:
Kode SLKI: L.04003
Deskripsi : Pasien menunjukkan perbaikan pola napas, ditandai dengan: (1) Frekuensi napas dalam rentang normal, (2) Irama napas teratur, (3) Kedalaman napas adekuat, (4) Tidak ada dispnea, (5) Tidak ada penggunaan otot bantu napas, (6) Tidak ada gelisah, (7) Tidak ada sianosis, (8) Saturasi oksigen dalam rentang normal.
Kode SIKI: I.08072
Deskripsi : Intervensi untuk memfasilitasi pernapasan yang adekuat, meliputi: (1) Monitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas), (2) Identifikasi faktor penyebab pola napas tidak efektif, (3) Pertahankan posisi yang nyaman untuk bernapas (semifowler/fowler), (4) Ajarkan dan bantu latihan napas dalam dan bibir mengerucut (pursed-lip breathing), (5) Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman, (6) Kelola kebutuhan oksigenasi sesuai program, (7) Monitor saturasi oksigen (SpO2), (8) Lakukan penghisapan lendir (suction) jika diperlukan, (9) Kolaborasi pemberian obat sesuai program (bronkodilator).
Article No. 23572 | 10 Jan 2026
Klinis : NY. MULYONO (555576 / 70 TH) PPOK - Eksaserbasi Pneumonia Komunitas - HHD KU Lemah, Kes : CM sesak nafas berkurang,badan lemas Terpasang : MO, DC, O2 NC 5 lpm, SP TD : 89/52 mmHg N : 101 x/mnt RR : 21 x/mnt S : 36,5 C SPO2 : 96 % SP. Aminophillin 6,3 cc/jam (Tunda) Ro. Thorax (+) Cek D Dimer (+) Cek Kultur Sputum Mikroorganisme dan Sensitivitas AB (+) TH Plan CT Scan jika KU memungkinkan (-) GDS/Hari jam 05.00 : 229 mg/dl
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Diagnosis keperawatan ini ditegakkan berdasarkan kondisi pasien dengan PPOK eksaserbasi dan pneumonia komunitas. Kedua kondisi ini secara langsung merusak unit pertukaran gas di paru-paru. Pada PPOK, terjadi kerusakan alveolus (emfisema) dan penyempitan saluran napas kronis, mengurangi luas permukaan untuk difusi gas. Pneumonia memperburuk keadaan dengan mengisi alveoli dengan eksudat inflamasi dan cairan, yang menghalangi pertukaran oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO2). Data klinis yang mendukung adalah sesak napas (meskipun dikatakan berkurang), penggunaan oksigen nasal kanul 5 lpm, dan hasil pemeriksaan Ro. Thorax yang positif (mengindikasikan konsolidasi atau infiltrat). Meskipun SpO2 96% dalam kondisi terapi oksigen, nilai ini merupakan kompensasi dari pemberian oksigen tambahan dan tidak menyingkirkan adanya gangguan pertukaran gas yang mendasarinya, terutama dengan latar belakang penyakit paru ganda. Tujuan utama adalah mempertahankan atau memperbaiki pertukaran gas untuk mencegah hipoksemia dan komplikasinya.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah "Perbaikan Pertukaran Gas". Kriteria luaran ini mencakup beberapa indikator yang harus dipantau pada pasien. Pertama, status pernapasan harus menunjukkan frekuensi dalam rentang normal (16-20x/menit) dengan irama yang teratur, dan pasien melaporkan tidak ada atau berkurangnya sesak napas (dispnea). Kedua, status neurologis harus menunjukkan kesadaran yang compos mentis dan orientasi yang baik. Ketiga, status gas darah arteri harus dalam batas normal atau menunjukkan perbaikan, termasuk nilai PaO2, PaCO2, dan saturasi oksigen (SpO2 ≥95% pada udara ruangan atau dengan dosis oksigen yang semakin rendah). Pada kasus Ny. Mulyono, target jangka pendek mungkin mempertahankan SpO2 >94% dengan dosis oksigen yang dapat diturunkan secara bertahap, menurunkan frekuensi napas ke rentang normal, dan menghilangkan keluhan sesak. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan dan medis berhasil mengatasi gangguan pertukaran gas yang mendasarinya.
Kode SIKI: I.08229
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama adalah "Manajemen Jalan Napas". Intervensi ini komprehensif untuk memastikan jalan napas paten dan mendukung pertukaran gas. Langkah-langkahnya meliputi: (1) Mempertahankan kepatenan jalan napas dengan teknik posisi (misalnya, semi-Fowler atau high-Fowler untuk memudahkan ekspansi paru), serta melakukan fisioterapi dada dan latihan napas dalam jika kondisi pasien memungkinkan untuk membantu mobilisasi sekret. (2) Memantau status pernapasan secara ketat setiap 2-4 jam, termasuk frekuensi, irama, kedalaman, penggunaan otot bantu, dan adanya suara napas abnormal (ronkhi, wheezing) yang dapat mengindikasisi penumpukan sekret atau bronkospasme. (3) Mengelola terapi oksigen sesuai order (NC 5 lpm) dan memantau efektivitasnya melalui SpO2 dan tanda klinis. (4) Memberikan obat bronkodilator (seperti Aminophillin yang diresepkan) tepat waktu dan memantau efek serta efek sampingnya. (5) Memfasilitasi pengambilan sampel diagnostik seperti kultur sputum dan mendukung rencana CT scan dengan mempersiapkan kondisi pasien. (6) Mendorong asupan cairan yang adekuat (jika tidak ada kontraindikasi) untuk mengencerkan sekret. Intervensi ini bersifat kolaboratif dan terus-menerus untuk mencegah memburuknya pertukaran gas.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0011
Deskripsi Singkat: Diagnosis ini terkait dengan ketidakmampuan pasien untuk melakukan aktivitas atau mobilitas yang diinginkan karena ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. Pada Ny. Mulyono, intoleransi aktivitas disebabkan oleh multiple faktor. Gangguan pertukaran gas primer (PPOK dan Pneumonia) mengurangi suplai oksigen ke jaringan. Demikian pula, kondisi hemodinamik yang kurang stabil (TD 89/52 mmHg, Nadi 101x/mnt) menunjukkan kemungkinan penurunan curah jantung atau volume cairan yang tidak adekuat, yang juga menurunkan pengiriman oksigen. Hiperglikemia (GDS 229 mg/dl) dapat memperburuk kelelahan dan disfungsi seluler. Keluhan "badan lemas" dan "KU lemah" adalah manifestasi langsung dari intoleransi ini. Tubuh akan mengkompensasi dengan meningkatkan frekuensi jantung (takikardia), yang justru meningkatkan konsumsi oksigen miokard dan memperparah kelelahan. Tujuannya adalah meningkatkan toleransi aktivitas secara bertahap untuk mencegah kelemahan lebih lanjut dan memulihkan kemandirian.
Kode SLKI: L.09002
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah "Peningkatan Toleransi Aktivitas". Kriteria luaran ini diukur melalui: (1) Kemampuan melakukan Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (AKS) dengan tingkat bantuan yang semakin berkurang, dari total dependen menuju mandiri. (2) Tanda-tanda vital (denyut nadi, tekanan darah, frekuensi napas) yang stabil selama dan setelah aktivitas, tanpa takikardia atau desaturasi oksigen yang signifikan. (3) Pasien melaporkan penurunan perasaan lemas dan kelelahan. (4) Keseimbangan antara aktivitas dan istirahat tercapai. Pada pasien ini, target realistis mungkin mampu duduk di tepi tempat tidur atau melakukan perawatan diri sederhana (misal, mencuci muka) dengan bantuan minimal, tanpa menyebabkan peningkatan frekuensi napas >24x/menit atau penurunan SpO2 di bawah 92%. Pencapaian luaran ini menunjukkan peningkatan kapasitas fungsional dan efisiensi sistem kardiopulmonal.
Kode SIKI: I.09005
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang tepat adalah "Manajemen Energi". Intervensi ini berfokus pada penghematan dan pengoptimalan penggunaan energi pasien. Langkah-langkahnya meliputi: (1) Menilai tingkat kelemahan dan toleransi aktivitas dasar. (2) Merencanakan dan menjadwalkan aktivitas dengan periode istirahat yang cukup di sela-sela aktivitas (teknik pacing). Misalnya, istirahat sebelum dan sesudah makan atau sesi fisioterapi. (3) Membantu pasien dalam aktivitas yang membutuhkan banyak energi, seperti ambulasi atau mandi, sambil mendorong partisipasi sesuai kemampuan. (4) Mengajarkan teknik penghematan energi, seperti duduk saat melakukan aktivitas (mandi, berpakaian), menggunakan alat bantu jika diperlukan, dan memprioritaskan aktivitas yang penting. (5) Memantau respons kardiopulmoner (nadi, tekanan darah, respirasi, SpO2) sebelum, selama, dan setelah aktivitas. (6) Memastikan lingkungan yang aman dan nyaman untuk mencegah jatuh akibat kelemahan. (7) Berkolaborasi dalam manajemen nyeri jika ada, karena nyeri dapat meningkatkan konsumsi energi. Intervensi ini bertujuan memutus siklus kelemahan dan meningkatkan kapasitas fungsional secara bertahap.
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: D.0186
Deskripsi Singkat: Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data GDS 229 mg/dl yang menunjukkan hiperglikemia. Meskipun tidak disebutkan riwayat diabetes mellitus, stres fisiologis yang berat akibat infeksi (pneumonia) dan penyakit kronis (PPOK, HHD) dapat menyebabkan resistensi insulin dan peningkatan hormon kontra-regulator (seperti kortisol dan katekolamin), yang memicu hiperglikemia stres. Hiperglikemia sendiri dapat memperburuk outcomes: mengganggu fungsi imun (menghambat penyembuhan infeksi), menyebabkan diuresis osmotik yang berisiko dehidrasi dan memperburuk hipotensi, serta memperburuk kondisi sistemik secara keseluruhan. Dengan kondisi hemodinamik yang cenderung hipotensi, fluktuasi glukosa darah dapat semakin mengganggu keseimbangan cairan dan elektrolit. Tujuannya adalah untuk mencegah komplikasi lebih lanjut dari ketidakstabilan glukosa darah, seperti ketoasidosis, sindrom hiperglikemik hiperosmolar, atau hipoglikemia iatrogenik jika terapi insulin diberikan.
Kode SLKI: L.18006
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah "Kadar Glukosa Darah Terkendali". Kriteria luaran ini meliputi: (1) Nilai glukosa darah dalam rentang target yang ditetapkan (biasanya pra-prandial 140-180 mg/dL untuk pasien sakit kritis/rawat inap). (2) Tidak adanya tanda dan gejala hipoglikemia (berkeringat, gemetar, lemas, penurunan kesadaran) atau hiperglikemia berat (polidipsia, poliuria, dehidrasi, penurunan kesadaran). (3) Pasien dan keluarga (jika mungkin) memahami pentingnya pemantauan glukosa darah. Pada Ny. Mulyono, target awal adalah menurunkan dan menstabilkan kadar glukosa darah di bawah 200 mg/dl, kemudian menuju target yang lebih ketat, sambil memastikan tidak terjadi hipoglikemia, terutama mengingat status mak
Article No. 23573 | 10 Jan 2026
Klinis : pasien mengatkan nyeri pada perutnya dan ingin mengedan, pasien tampak meringis, skala nyeri 8 (0-10 skala nyeri).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: