Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23597 | 12 Jan 2026
Klinis : pasien terlihat lesu dan mengatakan mendengar suara aneh
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Resiko Perilaku Kekerasan
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Respon individu yang mengalami atau berisiko mengalami perilaku yang dapat menimbulkan cedera fisik, psikologis, atau seksual pada diri sendiri, orang lain, atau lingkungan.
Kode SLKI: 4301
Deskripsi : Kontrol Perilaku Kekerasan. Penjelasan: SLKI ini berfokus pada kemampuan klien untuk mengendalikan impuls, emosi, dan perilaku yang berpotensi melukai. Tujuan utamanya adalah klien dapat mengidentifikasi pemicu (stressor), mengenali tanda-tanda peringatan dini dari amarah atau agitasi, serta menggunakan strategi koping yang adaptif (seperti teknik relaksasi, time-out, atau komunikasi asertif) untuk mencegah eskalasi perilaku. Perawat berperan dalam menciptakan lingkungan yang aman, mengurangi stimulus yang memicu, dan membantu klien mengembangkan serta mempraktikkan keterampilan pengendalian diri. Keberhasilan SLKI ini ditandai dengan berkurangnya frekuensi, intensitas, dan durasi perilaku agresif, serta meningkatnya pengakuan klien atas tanggung jawab terhadap perilakunya.
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Manajemen Perilaku Kekerasan. Penjelasan: SIKI ini mencakup serangkaian intervensi keperawatan yang sistematis dan terapeutik untuk mencegah, mengurangi, dan mengatasi perilaku kekerasan. Intervensi dimulai dari pencegahan primer, yaitu pengkajian risiko yang komprehensif (termasuk riwayat kekerasan, faktor biologis, psikologis, dan sosial), penciptaan lingkungan terapeutik yang rendah stimulus, dan pembangunan hubungan saling percaya. Perawat melakukan observasi ketat terhadap tanda-tanda peningkatan agitasi (seperti bicara cepat, pandangan kosong, mengepalkan tangan). Intervensi kunci meliputi pendekatan yang tenang dan tidak mengancam, penggunaan komunikasi terapeutik untuk membantu klien mengekspresikan perasaan secara verbal, validasi perasaan klien, dan pemberian pilihan untuk meningkatkan rasa kontrol. Jika diperlukan, perawat dapat menerapkan teknik deskalasi verbal, mengalihkan perhatian, atau menawarkan obat sesuai resep. Intervensi juga mencakup edukasi pada klien dan keluarga tentang kondisi, pemicu, dan strategi koping. Dalam situasi darurat dimana klien membahayakan diri sendiri atau orang lain, intervensi mungkin melibatkan restriksi fisik atau isolasi sesuai protokol institusi dan regulasi yang berlaku, yang selalu dijadikan upaya terakhir dengan dokumentasi yang lengkap dan pemantauan ketat untuk keselamatan klien. Evaluasi terus-menerus terhadap efektivitas intervensi dilakukan untuk penyesuaian rencana keperawatan.
-
Article No. 23598 | 12 Jan 2026
Klinis : resiko infeksi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Resiko Infeksi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Peningkatan kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi agen patogen, yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1900
Deskripsi : Kontrol Infeksi. Tindakan keperawatan untuk meminimalkan atau mencegah masuk dan penularan mikroorganisme patogen. Fokus utama dari SLKI ini adalah pada penerapan prinsip-prinsip pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) secara ketat untuk melindungi pasien dari infeksi yang dapat dicegah. Intervensi ini bersifat preventif dan edukatif. Perawat bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang aman, baik bagi pasien, keluarga, maupun tenaga kesehatan. Implementasinya meliputi: (1) Kebersihan tangan (hand hygiene) yang benar dan tepat waktu menggunakan air mengalir dan sabun atau handrub berbasis alkohol, terutama sebelum dan setelah kontak dengan pasien atau lingkungan sekitar pasien. (2) Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai seperti sarung tangan, masker, pelindung mata, dan gaun khusus berdasarkan jenis tindakan dan tingkat risiko pajanan. (3) Pengelolaan peralatan medis yang aman, termasuk desinfeksi dan sterilisasi sesuai standar. (4) Pengelolaan limbah medis dan non-medis dengan pemisahan yang tepat sesuai kategori. (5) Penerapan etika batuk dan respiratory hygiene untuk mencegah penyebaran infeksi saluran pernapasan. (6) Isolasi atau tindakan pencegahan berbasis transmisi (kontak, droplet, udara) jika diperlukan. (7) Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya pencegahan infeksi, cara mencuci tangan yang benar, tanda-tanda infeksi yang perlu diwaspadai, dan perawatan luka di rumah. (8) Memastikan lingkungan perawatan bersih dan higienis. Keberhasilan SLKI ini diukur dari tidak terjadinya infeksi baru selama perawatan, kepatuhan terhadap protokol PPI, dan peningkatan pengetahuan serta perilaku pasien/keluarga dalam pencegahan infeksi.
Kode SIKI: 4500
Deskripsi : Pemantauan Kontrol Infeksi. Tindakan sistematis dan berkelanjutan untuk mengumpulkan data tentang penerapan dan efektivitas tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi. Kriteria hasil ini mengevaluasi sejauh mana intervensi kontrol infeksi berhasil mencegah terjadinya infeksi pada pasien yang berisiko. Pemantauan dilakukan melalui observasi langsung, pemeriksaan fisik, dan pengkajian data klinis. Aspek yang dipantau meliputi: (1) Tanda-tanda klinis infeksi: memantau suhu tubuh, denyut nadi, pernapasan, serta tanda lokal seperti kemerahan, bengkak, nyeri, hangat pada kulit, dan adanya drainase purulen dari luka atau area invansif. (2) Hasil pemeriksaan penunjang: memantau hasil laboratorium seperti leukosit, LED, kultur darah, urin, atau sputum yang dapat mengindikasikan infeksi sistemik atau lokal. (3) Kepatuhan terhadap protokol PPI: mengamati dan mencatat kepatuhan petugas kesehatan, pasien, dan pengunjung terhadap kebersihan tangan, penggunaan APD, dan prosedur isolasi. (4) Kondisi luka atau area invansif: memeriksa kondisi insisi bedah, area pemasangan kateter intravena, kateter urine, atau selang drainase untuk memastikan tetap kering, bersih, dan tanpa tanda infeksi. (5) Respon pasien terhadap edukasi: menilai pemahaman dan kemampuan pasien/keluarga dalam menerapkan tindakan pencegahan infeksi yang telah diajarkan. (6) Lingkungan: memastikan kebersihan lingkungan sekitar pasien, ketersediaan fasilitas cuci tangan, dan pengelolaan linen yang tepat. Hasil SIKI ini menentukan apakah SLKI Kontrol Infeksi perlu dipertahankan, ditingkatkan, atau dimodifikasi. Data yang terkumpul menjadi dasar evaluasi keperawatan dan dokumentasi objektif tentang status risiko infeksi pasien.
-
Article No. 23599 | 12 Jan 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Tuberkulosis Paru
Kode ICD-10: A15.0
Deskripsi Singkat : Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang terutama menyerang jaringan paru-paru. Kondisi ini ditandai dengan gejala seperti batuk berdahak berkepanjangan (lebih dari 2 minggu), demam, sesak napas, kehilangan nafsu makan, dan berkeringat di malam hari. Diagnosis didukung oleh temuan pemeriksaan fisik seperti suara napas bronkial dan konfirmasi melalui pencitraan radiologis (rontgen) yang menunjukkan lesi atau infiltrat di paru, seringkali di lobus atas. Kode ICD-10 A15.0 secara spesifik mengklasifikasikan "Tuberkulosis paru, dikonfirmasi secara bakteriologis dan histologis". Penggunaan kode ini mengindikasikan bahwa diagnosis tuberkulosis paru telah ditegakkan, idealnya dengan konfirmasi laboratorium melalui pemeriksaan dahak (BTA) atau biopsi, yang merupakan standar baku. Kode ini berada dalam bab "Penyakit Infeksi dan Parasit" (A00-B99) dan blok "Tuberkulosis" (A15-A19), yang membedakan lokasi dan metode konfirmasi penyakit. Penegasan konfirmasi dalam kode ini penting untuk pelaporan epidemiologi, tata laksana terapi yang tepat, dan pemutusan rantai penularan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23600 | 12 Jan 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan patogen yang menyerang paru, ditandai dengan adanya lesi, batuk berdahak, demam, sesak napas, dan anoreksia.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Pengendalian Infeksi: Tindakan untuk mencegah dan mengurangi infeksi. Pada kasus Tuberkulosis Paru, SLKI ini berfokus pada upaya untuk mencegah penularan kuman Mycobacterium tuberculosis ke orang lain dan mencegah infeksi sekunder pada pasien sendiri. Tindakan keperawatan meliputi isolasi pernapasan (menggunakan masker khusus), edukasi etika batuk (menutup mulut dengan tisu atau lengan), pembuangan dahak yang aman, serta pemantauan ketat terhadap tanda-tanda penyebaran infeksi seperti demam yang menetap atau memburuknya gejala pernapasan. Perawat juga akan memastikan ventilasi ruangan yang baik dan paparan sinar matahari untuk mengurangi konsentrasi kuman di udara. Pemenuhan SLKI ini diukur dari tidak adanya penularan ke petugas kesehatan atau pengunjung, serta pasien dan keluarga mampu mendemonstrasikan perilaku pencegahan penularan dengan benar.
Kode SIKI: 3320
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas: Tindakan untuk mempertahankan jalan napas paten dan meningkatkan pertukaran gas. Pada pasien Tuberkulosis Paru dengan batuk berdahak dan sesak napas, intervensi ini sangat krusial. Tindakan spesifik meliputi: (1) Posisi semi-Fowler atau Fowler untuk memudahkan ekspansi paru dan mengurangi kerja napas; (2) Teknik batuk efektif dan latihan napas dalam untuk membantu mengeluarkan sekret/dahak dari jalan napas; (3) Hidrasi adekuat (minum air hangat) untuk mengencerkan dahak sehingga lebih mudah dikeluarkan; (4) Fisioterapi dada (postural drainage dan perkusi) jika diindikasikan untuk membantu mobilisasi sekret dari area lesi; (5) Administrasi terapi oksigen sesuai kebutuhan untuk mengatasi hipoksia; (6) Pemantauan frekuensi, irama, dan kedalaman pernapasan, serta suara napas tambahan seperti wheezing atau ronki; (7) Memantau warna kulit dan membran mukosa untuk tanda sianosis. Evaluasi keberhasilan SIKI ini ditandai dengan berkurangnya keluhan sesak napas, dahak dapat dikeluarkan, suara napas tambahan berkurang, dan nilai saturasi oksigen dalam batas normal.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 0002
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas paten, ditandai dengan batuk berdahak, suara napas bronkial, dan sesak napas.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas: Tindakan untuk memfasilitasi kepatenan jalan napas. SLKI ini berfokus pada pencapaian hasil dimana jalan napas pasien tetap terbuka dan bersih dari sekret yang menghambat. Perawat bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan dan memberikan intervensi yang mendukung pengeluaran sekret. Ini termasuk memastikan kelembaban udara yang adequate, memberikan nebulisasi jika diperlukan, serta mengajarkan dan mendampingi pasien dalam melakukan latihan batuk efektif dan teknik pernapasan. Perawat juga akan melakukan auskultasi rutin untuk memantau perubahan suara napas (seperti berkurangnya suara bronkial atau munculnya ronki) sebagai indikasi pembersihan sekret. Keluarga akan diedukasi untuk membantu pasien dalam posisi yang tepat dan mengenali tanda-tanda darurat seperti sesak napas yang memberat. Keberhasilan SLKI ini tercapai ketika pasien mampu mengeluarkan dahak dengan usaha batuk yang efektif, tidak menunjukkan tanda distress pernapasan, dan suara napas terdengar jelas di sebagian besar area paru.
Kode SIKI: 3320
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas: Tindakan untuk mempertahankan jalan napas paten dan meningkatkan pertukaran gas. (Deskripsi sama dengan di atas, karena SIKI ini merupakan tindakan operasional dari kedua SLKI yang terkait dengan jalan napas). Secara teknis, perawat akan melaksanakan serangkaian tindakan yang telah disebutkan: penempatan posisi, latihan pernapasan, hidrasi, fisioterapi dada, pemberian oksigen, dan pemantauan ketat. Dalam konteks SDKI 0002, penekanan SIKI 3320 lebih kuat pada aspek mobilisasi dan pengeluaran sekret (dahak) yang menjadi penyebab utama ketidakefektifan bersihan jalan napas. Evaluasi dilakukan setiap shift dengan menilai konsistensi dan jumlah dahak, usaha batuk pasien, serta perubahan hasil pemeriksaan fisik. Tindakan ini harus dilakukan secara konsisten sepanjang hari, terutama setelah pasien bangun tidur atau sebelum waktu minum obat, untuk memaksimalkan efektivitas terapi.
Kondisi: Nutrisi Tidak Seimbang: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: 0003
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, ditandai dengan kehilangan nafsu makan dan berat badan yang tidak diinginkan (dapat disimpulkan dari kondisi umum).
Kode SLKI: 1104
Deskripsi : Status Nutrisi: Kecukupan asupan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan metabolik. Pada pasien Tuberkulosis, status nutrisi merupakan faktor penentu kesembuhan yang sangat penting karena penyakit ini bersifat katabolik (menguras energi dan protein tubuh). SLKI ini bertujuan untuk mencapai dan mempertahankan status gizi yang adekuat untuk mendukung proses penyembuhan dan respons imun. Tindakan keperawatan meliputi: (1) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori dan protein yang meningkat; (2) Memberikan makanan dalam porsi kecil namun sering (small frequent feeding) untuk mengatasi anoreksia; (3) Memilih jenis makanan yang tinggi kalori dan protein, mudah dicerna, dan disukai pasien; (4) Memantau asupan makan dan minum pasien setiap hari (catatan intake-output); (5) Memantau berat badan secara berkala (misalnya 2x seminggu) untuk menilai trend perubahan; (6) Mengatasi mual jika ada yang mungkin timbul akibat obat anti-tuberkulosis. Keberhasilan SLKI dinilai dari peningkatan nafsu makan pasien, peningkatan berat badan yang bertahap sesuai target, serta hasil laboratorium (seperti albumin) yang menunjukkan perbaikan.
Kode SIKI: 1120
Deskripsi : Manajemen Nutrisi: Tindakan untuk memberikan atau memantau asupan nutrisi. Ini adalah tindakan praktis yang dilakukan perawat di samping pasien. Perawat akan: (1) Menyiapkan lingkungan makan yang nyaman dan bebas bau tidak sedap (karena dahak); (2) Membantu pasien dalam posisi makan yang tepat (duduk) untuk mencegah aspirasi; (3) Memberikan motivasi dan pendampingan selama pasien makan; (4) Mencatat secara detail jenis, porsi, dan toleransi pasien terhadap makanan yang diberikan; (5) Memberikan edukasi kepada keluarga tentang pentingnya nutrisi dan jenis makanan yang dianjurkan, sehingga keluarga dapat membawakan makanan dari rumah yang sesuai; (6) Berkolaborasi dalam pemberian suplemen nutrisi oral jika asupan dari makanan biasa tidak mencukupi. SIKI ini bersifat kontinu dan memerlukan kesabaran, karena peningkatan nafsu makan seringkali baru terjadi setelah pengobatan berjalan beberapa minggu dan gejala sistemik seperti demam mulai berkurang.
-
Article No. 23601 | 12 Jan 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Gangguan Pertukaran Gas terkait Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons inflamasi tubuh terhadap mikroorganisme patogen atau toksinnya yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: L.03113
Deskripsi : SLKI ini berfokus pada pencegahan dan pengendalian infeksi. Tujuan utamanya adalah agar pasien bebas dari infeksi nosokomial atau penyebaran infeksi ke orang lain, dengan indikator sebagai berikut: (1) Pasien dan keluarga menyebutkan cara penularan penyakit. (2) Pasien dan keluarga mendemonstrasikan cara menutup mulut dan hidung saat batuk/bersin dengan tisu atau lengan baju. (3) Pasien dan keluarga mendemonstrasikan cara mencuci tangan dengan benar. (4) Pasien menggunakan masker sesuai indikasi. (5) Sputum dibuang dengan cara dibakar/dikubur/dibuang ke tempat sampah tertutup. (6) Tidak ada anggota keluarga atau pengunjung lain yang tertular. (7) Lingkungan pasien bersih dan terpelihara. (8) Status infeksi membaik: suhu tubuh dalam rentang normal, leukosit dalam rentang normal, dan hasil pemeriksaan mikrobiologi negatif. Pada konteks Tuberkulosis (TB) paru, SLKI ini menjadi sangat sentral karena penyakit ini sangat menular melalui droplet. Perawat harus memastikan pemahaman dan kepatuhan pasien serta keluarga terhadap prinsip-prinsip pencegahan penularan, seperti etika batuk, penggunaan masker, pembuangan dahak yang aman, dan kebersihan tangan. Edukasi yang komprehensif dan berkelanjutan diperlukan untuk memutus rantai penularan, mengingat pengobatan TB yang panjang. Selain itu, pemantauan tanda-tanda infeksi seperti demam juga termasuk dalam luaran ini untuk menilai perkembangan klinis pasien.
Kode SIKI: I.05090
Deskripsi : Intervensi ini bertujuan untuk meminimalkan risiko infeksi dan penularan. Langkah-langkah yang dilakukan perawat meliputi: (1) Mengidentifikasi faktor risiko infeksi. (2) Memantau tanda dan gejala infeksi. (3) Memantau kerentanan terhadap infeksi. (4) Menerapkan dan memantau kepatuhan terhadap tindakan pencegahan infeksi sesuai kebijakan institusi. (5) Mengajarkan cara mencuci tangan kepada pasien dan keluarga. (6) Mengajarkan etika batuk. (7) Menggunakan alat pelindung diri (APD) sesuai kebutuhan. (8) Mengelola peralatan untuk mencegah infeksi. (9) Mengisolasi pasien sesuai indikasi. (10) Mengajarkan pasien dan keluarga tentang tanda dan gejala infeksi yang perlu dilaporkan. (11) Memantau suhu tubuh. (12) Mengkolaborasikan pemberian terapi antibiotik. Dalam manajemen TB paru, SIKI ini dioperasionalkan melalui edukasi intensif tentang penularan TB dan pentingnya terapi obat anti tuberkulosis (OAT) hingga tuntas. Perawat mengajarkan dan mendemonstrasikan etika batuk yang benar (menggunakan tisu atau masker), teknik mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer, serta cara membuang dahak yang higienis (dikumpulkan dalam wadah tertutup dan dibakar/dikubur). Perawat juga memastikan pasien memakai masker, terutama saat berinteraksi dengan orang lain, dan melakukan isolasi droplet di fasilitas kesehatan. Pemantauan ketat terhadap tanda-tanda klinis seperti demam, produksi sputum, dan sesak napas dilakukan untuk menilai respons terapi. Perawat berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian OAT dan memastikan kepatuhan minum obat melalui pendekatan DOTS (Directly Observed Treatment Short-course). Selain itu, perawat mendukung upaya peningkatan status gizi pasien untuk memperkuat sistem imun.
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas terkait Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: L.03004
Deskripsi : SLKI ini bertujuan agar pertukaran gas pasien adekuat, dengan indikator: (1) Pasien menunjukkan pola napas yang efektif. (2) Frekuensi napas dalam rentang normal. (3) Irama napas reguler. (4) Bunyi napas bersih (bebas suara tambahan). (5) Warna kulit dan membran mukosa normal (tidak sianosis). (6) Saturasi oksigen dalam rentang normal. (7) Gas darah arteri dalam rentang normal. (8) Pasien menunjukkan tingkat kesadaran baik. (9) Pasien mampu melakukan aktivitas tanpa mengalami sesak napas. Pada pasien TB paru dengan lesi dan konsolidasi, pertukaran gas terganggu akibat infiltrasi dan kerusakan jaringan paru. Luaran yang diharapkan adalah perbaikan bertahap pada parameter pernapasan. Pola napas harus kembali efektif dengan frekuensi yang normal (12-20 kali/menit pada dewasa) dan irama yang teratur. Bunyi napas bronkial atau adanya ronki harus berkurang seiring dengan respons terapi. Warna kulit dan membran mukosa harus tetap merah muda, menunjukkan tidak adanya hipoksia. Pemantauan saturasi oksigen (target >95%) dan analisis gas darah (jika diperlukan) menjadi tolok ukur objektif. Selain itu, peningkatan kesadaran (compos mentis) dan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari tanpa dispnea merupakan indikator fungsional yang penting bagi kualitas hidup pasien.
Kode SIKI: I.05006
<>Deskripsi : Intervensi ini dilakukan untuk memaksimalkan pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Tindakan perawat mencakup: (1) Memantau status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas). (2) Memantau bunyi napas. (3) Memantau tanda dan gejala hipoksia (gelisah, cemas, pusing, sianosis). (4) Memantau saturasi oksigen. (5) Memantau hasil analisis gas darah. (6) Mengatur posisi pasien untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya, semi-Fowler atau Fowler). (7) Mengajarkan batuk efektif dan latihan napas dalam. (8) Mengelola kebutuhan oksigen sesuai program terapi. (9) Melakukan fisioterapi dada jika diperlukan. (10) Mempertahankan jalan napas paten. (11) Memantau tingkat kesadaran. (12) Mengatur aktivitas untuk mencegah kelelahan. Untuk pasien TB dengan sesak napas, perawat memposisikan pasien dalam posisi duduk (Fowler) untuk memudahkan ekspansi dada. Perawat mengajarkan dan mendorong latihan napas dalam dan batuk efektif untuk membersihkan jalan napas dari sekret, namun dengan hati-hati memperhatikan upaya batuk yang tidak terlalu kuat untuk mencegah kelelahan. Oksigen diberikan sesuai indikasi dan resep dokter jika saturasi rendah. Pemantauan ketat terhadap tanda-tanda distress pernapasan dan perubahan status kesadaran sangat penting. Perawat juga mengatur aktivitas pasien, menyeimbangkan antara istirahat dan aktivitas ringan untuk mencegah hipoksia akibat aktivitas. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian terapi farmakologis (OAT, bronkodilator jika ada komponen spasme) dan fisioterapi respirasi juga merupakan bagian dari intervensi ini untuk mengatasi gangguan pertukaran gas yang mendasarinya.
-
Article No. 23602 | 12 Jan 2026
Klinis : 3 diagnosa utama tetraparese
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Tetraparese (Kelemahan pada Keempat Ekstremitas)
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas berhubungan dengan kelemahan otot pernapasan dan ketidakmampuan batuk efektif.
Kode SLKI: L.03101
Deskripsi : Pasien mempertahankan bersihan jalan napas. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: suara napas bersih, tidak ada sianosis, frekuensi napas dalam rentang normal, mampu mengeluarkan sekret secara efektif (baik secara mandiri atau dengan bantuan), dan nilai gas darah arteri dalam batas normal. Perawat akan memantau status pernapasan setiap 2-4 jam, melakukan fisioterapi dada dan drainase postural, mengajarkan serta membantu teknik batuk efektif (seperti batuk dengan bantuan), melakukan penghisapan lendir jika diperlukan, memastikan hidrasi adekuat untuk mengencerkan sekret, dan memposisikan pasien dengan kepala tempat tidur ditinggikan 30-45 derajat untuk memaksimalkan ekspansi paru.
Kode SIKI: I.05280
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: membuka jalan napas dengan teknik chin-lift atau jaw-thrust jika diperlukan, melakukan penghisapan jalan napas (orofaring/nasofaring/trakeostomi) secara steril sesuai indikasi, memberikan oksigen tambahan, memantau saturasi oksigen secara terus menerus, memberikan nebulizer atau obat bronkodilator sesuai resep, melakukan latihan nafas dalam dan batuk efektif setiap 2-4 jam, mengajarkan penggunaan alat bantu batuk, memposisikan pasien untuk optimalisasi ventilasi (seperti posisi semi-fowler atau side-lying), serta berkolaborasi dengan tim medis untuk pertimbangan fisioterapi respirasi intensif atau penggunaan mechanical cough assist device.
Kondisi: Tetraparese (Kelemahan pada Keempat Ekstremitas)
Kode SDKI: D.0055
Deskripsi Singkat: Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler dan kelemahan pada keempat ekstremitas.
Kode SLKI: L.06001
Deskripsi : Pasien menunjukkan peningkatan mobilitas. Kriteria hasil meliputi: pasien mampu melakukan rentang gerak (ROM) dengan bantuan, kekuatan otot meningkat atau tidak memburuk, tidak terjadi kontraktur sendi, pasien dapat berpartisipasi dalam aktivitas perawatan diri sesuai kemampuan, dan tidak mengalami luka dekubitus. Perawat akan menilai kekuatan otot dan rentang gerak sendi tiap shift, melakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif asistif pada semua ekstremitas minimal 2 kali sehari, memposisikan pasien dengan alignment yang benar menggunakan bantal dan penyangga, melakukan perubahan posisi secara teratur setiap 2 jam, menggunakan alat bantu seperti splint atau botol untuk mencegah foot drop dan kontraktur, serta berkolaborasi dengan fisioterapis untuk program latihan yang terstruktur.
Kode SIKI: I.09066
Deskripsi : Terapi Latihan: Mobilisasi. Intervensi keperawatan mencakup: membantu pasien dalam perubahan posisi dari berbaring, duduk, hingga berdiri (dengan alat bantu dan personel yang memadai), melatih transfer pasien (dari tempat tidur ke kursi roda dan sebaliknya) dengan teknik yang aman, mendemonstrasikan dan membantu penggunaan alat bantu mobilitas (kursi roda, walker), mendorong partisipasi pasien dalam aktivitas sehari-hari sesuai toleransi, memantau respons hemodinamik selama mobilisasi (tekanan darah, nadi), dan menyusun jadwal aktivitas yang seimbang dengan istirahat untuk menghindari kelelahan berlebihan.
Kondisi: Tetraparese (Kelemahan pada Keempat Ekstremitas)
Kode SDKI: D.0128
Deskripsi Singkat: Risiko Kerusakan Integritas Kulit berhubungan dengan imobilitas fisik, penurunan sensasi, dan gesekan.
Kode SLKI: L.10001
Deskripsi : Integritas kulit tetap terjaga. Kriteria hasil: kulit utuh tanpa kemerahan, lecet, atau ulcerasi; tidak ada area yang tertekan terus-menerus; pasien dan keluarga memahami faktor risiko dan upaya pencegahan. Perawat akan melakukan penilaian kulit secara menyeluruh setiap hari dengan fokus pada area tulang tekan (tumit, sakrum, trokanter, siku, tengkuk), menggunakan skala Braden atau Norton untuk menilai risiko dekubitus, menjaga kulit tetap bersih dan kering terutama setelah berkeringat atau inkontinensia, memberikan pijatan pada area sekitar tulang tekan (bukan pada area yang sudah kemerahan), serta menggunakan matras dekubitus khusus (alternating pressure mattress atau matras busa spesifik).
Kode SIKI: I.11246
Deskripsi : Perawatan Tekanan. Intervensi keperawatan yang dilaksanakan adalah: menerapkan protokol perubahan posisi ketat setiap 2 jam (menggunakan jam pengingat), mendokumentasikan setiap perubahan posisi dan kondisi kulit, menggunakan bantal pengganjal dan bantal udara (donut) untuk mengurangi tekanan langsung pada tonjolan tulang, mengangkat而不是 menarik pasien saat memindahkan posisi untuk mengurangi gesekan, memastikan sprei tetap kencang, bersih, dan bebas dari kerutan, memberikan nutrisi tinggi protein dan vitamin C untuk mendukung penyembuhan jaringan, serta memeriksa kondisi kulit di bawah alat bantu (seperti gips, splint, atau cervical collar) secara rutin.
-
Article No. 23603 | 12 Jan 2026
Klinis : pasien ada bintik bintik di tubuh dan demam pada usia 17 tahun pasien meningitis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Meningitis dengan Manifestasi Demam dan Ruam
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Hipertermia
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Manajemen Hipertermia
Kode SIKI: 3520
Deskripsi : Monitor Suhu Tubuh; 3530: Manajemen Lingkungan Thermoregulasi; 1400: Manajemen Cairan; 6540: Manajemen Infeksi
Kondisi: Meningitis dengan Manifestasi Demam dan Ruam
Kode SDKI: 0014
Deskripsi Singkat: Risiko Penyebaran Infeksi
Kode SLKI: 1902
Deskripsi : Pencegahan Penyebaran Infeksi
Kode SIKI: 6540: Manajemen Infeksi; 6550: Pengendalian Infeksi; 0810: Manajemen Peralatan untuk Isolasi
Kondisi: Meningitis dengan Manifestasi Demam dan Ruam
Kode SDKI: 0020
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: 1001
Deskripsi : Manajemen Nyeri
Kode SIKI: 1400: Manajemen Cairan; 6540: Manajemen Infeksi; 2200: Manajemen Medikasi; 6540: Manajemen Infeksi
-
Article No. 23581 | 11 Jan 2026
Klinis : bersihan jalan nafas tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 00031
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: 3201
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Tindakan untuk memfasilitasi patensi jalan napas dan mencegah komplikasi. Luaran yang diharapkan adalah jalan napas pasien tetap paten, ditandai dengan suara napas bersih, tidak ada sianosis, dan saturasi oksigen dalam rentang normal. Perawat akan memantau status pernapasan, posisi pasien untuk memaksimalkan ventilasi (seperti semi-Fowler atau posisi miring jika aman), serta melakukan fisioterapi dada dan latihan napas dalam. Manajemen sekresi melalui batuk efektif, suction, atau nebulisasi juga menjadi fokus. Selain itu, perawat memastikan hidrasi yang adekuat untuk mengencerkan sekret dan mengajarkan pasien/keluarga tanda-tanda gangguan jalan napas yang perlu dilaporkan.
Kode SIKI: 4320
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Serangkaian intervensi keperawatan yang dilakukan untuk memastikan dan mempertahankan patensi jalan napas. Intervensi ini meliputi: 1) Pemantauan: Mengkaji frekuensi, irama, kedalaman pernapasan; mengauskultasi suara napas; memantau warna kulit dan membran mukosa; memantau status oksigenasi melalui pulse oximetry dan analisis gas darah. 2) Posisi: Menempatkan pasien pada posisi yang mengoptimalkan pertukaran udara, seperti kepala tempat tidur ditinggikan, atau posisi miring untuk mencegah aspirasi dan memudahkan drainase sekresi. 3) Manajemen Sekresi: Membantu dan mengajarkan batuk efektif serta latihan napas dalam. Melakukan fisioterapi dada (perkusi, vibrasi, dan drainase postural) jika diindikasikan. Melakukan suction jalan napas (oral, nasal, atau endotrakeal) dengan teknik steril untuk membersihkan sekresi yang tidak dapat dikeluarkan pasien sendiri. Memberikan terapi nebulisasi dan humidifikasi untuk mengencerkan sekret. 4) Dukungan Hidrasi: Mendorong asupan cairan yang cukup sesuai toleransi dan kondisi pasien untuk membantu mengencerkan sekresi bronkial. 5) Edukasi: Mengajarkan pasien dan keluarga tentang teknik batuk efektif, pentingnya mobilisasi, tanda-tanda distress pernapasan (seperti sesak napas, bibir kebiruan, gelisah), dan kapan harus mencari bantuan. 6) Kolaborasi: Berkolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat bronkodilator atau mukolitik, serta terapi oksigen sesuai kebutuhan. Tindakan ini dilakukan secara komprehensif, berkesinambungan, dan dinamis sesuai perkembangan kondisi pasien untuk mencegah hipoksia, atelektasis, dan infeksi paru sekunder.
-
Article No. 23582 | 11 Jan 2026
Klinis : Pasien mengatakan sesak nafas,batuk berdahak, demam, nyeri ulu hati, mual setiap kali makan dan minum Tekanan darah : 130/80 mmhg, Nadi : 93 x/mnt, Respirasi 24 kali permenit, Suhu 38 derajat celsiu, SPo2 95 % Room Air
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Pasien mempertahankan jalan napas yang paten, yang ditandai dengan: 1) Suara napas vesikuler/trakeobronkial, 2) Tidak ada suara napas tambahan (ronkhi, mengi, stridor), 3) Laju napas dalam rentang normal sesuai usia, 4) Irama napas teratur, 5) Tidak ada sianosis, 6) Batuk efektif, 7) Ekspansi dada simetris, 8) Nilai analisis gas darah dalam rentang normal, 9) Bebas dari dyspnea/ortopnea, dan 10) Produksi sputum sesuai dengan kondisi penyakit.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Intervensi untuk meningkatkan bersihan jalan napas meliputi: 1) Monitor status pernapasan (suara napas, laju, irama, kedalaman, dan upaya pernapasan), 2) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (mis., kepala tempat tidur ditinggikan, posisi semi-Fowler/Fowler), 3) Ajarkan dan bantu teknik batuk efektif dan napas dalam, 4) Lakukan fisioterapi dada dan postural drainage jika diindikasikan, 5) Lakukan suction jalan napas jika diperlukan, 6) Kelola kebutuhan oksigen sesuai program terapi, 7) Dorong asupan cairan yang adekuat untuk mengencerkan sekresi (kecuali ada kontraindikasi), 8) Berikan terapi nebulizer/uap dan obat-obatan bronkodilator/mukolitik sesuai resep, 9) Monitor analisis gas darah dan saturasi oksigen, 10) Ajarkan pasien/keluarga tentang tanda dan gejala gangguan jalan napas yang perlu dilaporkan, dan 11) Ciptakan lingkungan yang bebas dari alergen/iritan.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.07001
Deskripsi : Kontrol nyeri, yang ditandai dengan: 1) Mengungkapkan nyeri terkontrol, 2) Menunjukkan ekspresi wajah rileks, 3) Menunjukkan posisi tubuh rileks, 4) Berpartisipasi dalam aktivitas sesuai kemampuan, 5) Tanda vital dalam rentang normal, 6) Mengenali faktor pencetus nyeri, 7) Menggunakan metode nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, 8) Melaporkan tidur/istirahat yang cukup, 9) Menunjukkan kemampuan koping yang positif, dan 10) Menggunakan analgesik sesuai anjuran.
Kode SIKI: I.11001
Deskripsi : Manajemen nyeri meliputi: 1) Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, intensitas, dan faktor pencetus/peringan), 2) Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan, 3) Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien, 4) Ajarkan penggunaan skala nyeri, 5) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai resep dan evaluasi efektivitas serta efek sampingnya, 6) Lakukan tindakan nonfarmakologi (distraksi, relaksasi, kompres hangat/dingin, masase, posisi nyaman), 7) Kurangi faktor pencetus nyeri, 8) Monitor tanda vital sebelum dan sesudah intervensi nyeri, 9) Berikan informasi tentang nyeri dan penatalaksanaannya, 10) Libatkan keluarga dalam manajemen nyeri, dan 11) Lakukan evaluasi berkelanjutan terhadap respons nyeri pasien.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: D.0046
Deskripsi Singkat: Suhu tubuh di atas rentang normal yang diakibatkan oleh ketidakmampuan tubuh dalam mempertahankan keseimbangan antara produksi panas dan pengeluaran panas.
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Kontrol suhu tubuh, yang ditandai dengan: 1) Suhu tubuh dalam rentang normal, 2) Kulit hangat dan tidak kemerahan, 3) Nadi dan pernapasan dalam rentang normal, 4) Tidak ada menggigil, 5) Tingkat kesadaran baik (compos mentis), 6) Keseimbangan cairan tubuh adekuat (turgor kulit baik, mukosa bibir lembab), 7) Tidak ada kejang, 8) Menunjukkan perilaku untuk mencegah peningkatan suhu tubuh, dan 9) Melaporkan kenyamanan termal.
Kode SIKI: I.15001
Deskripsi : Manajemen hipertermia meliputi: 1) Monitor suhu tubuh secara berkala, 2) Observasi tanda vital (nadi, pernapasan, tekanan darah) dan status neurologis, 3) Berikan terapi pendinginan (kompres hangat/tepid sponge, selimut pendingin, lingkungan dingin), 4) Anjurkan pakaian tipis dan menyerap keringat, 5) Tingkatkan asupan cairan dan nutrisi sesuai toleransi, 6) Kolaborasi pemberian antipiretik sesuai resep, 7) Lakukan perawatan mulut dan kulit, 8) Monitor tanda-tanda dehidrasi, 9) Ajarkan pada pasien/keluarga tentang tanda dan gejala hipertermia serta cara penanganannya, 10) Identifikasi dan atasi faktor penyebab hipertermia jika memungkinkan, dan 11) Ciptakan lingkungan yang nyaman dan ventilasi yang baik.
Kondisi: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: D.0030
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Status nutrisi membaik, yang ditandai dengan: 1) Berat badan dalam rentang normal, 2) Asupan makanan dan cairan sesuai kebutuhan, 3) Kadar albumin dalam rentang normal, 4) Kadar hemoglobin dalam rentang normal, 5) Tidak ada mual dan muntah, 6) Mukosa bibir lembab, 7) Turgor kulit baik, 8) Menunjukkan pengetahuan tentang pemilihan makanan sesuai kebutuhan, 9) Tidak ada kelelahan yang berlebihan, dan 10) Luka/lesi di mulut sembuh.
Kode SIKI: I.05001
Deskripsi : Manajemen nutrisi meliputi: 1) Kaji pola makan, asupan, dan kebiasaan makan, 2) Timbang berat badan secara teratur, 3) Monitor tanda-tanda klinis malnutrisi (turgor kulit, edema, kelemahan), 4) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori dan jenis diet, 5) Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering, 6) Sajikan makanan dalam bentuk yang menarik dan sesuai selera, 7) Ciptakan lingkungan makan yang nyaman dan bebas bau, 8) Atasi gejala yang mengganggu asupan (mual, nyeri) sebelum waktu makan, 9) Berikan suplemen nutrisi oral sesuai anjuran, 10) Monitor nilai laboratorium terkait nutrisi (albumin, hemoglobin), 11) Ajarkan pasien/keluarga tentang pentingnya nutrisi dan pemilihan makanan, dan 12) Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan.
-
Article No. 23583 | 11 Jan 2026
Klinis : gangguan pola tidur
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pola Tidur
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Gangguan Pola Tidur adalah keadaan di mana individu mengalami atau berisiko mengalami perubahan dalam kuantitas dan kualitas pola tidur yang menyebabkan ketidaknyamanan atau mengganggu gaya hidup yang diinginkan.
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : Perilaku Tidur. Deskripsi: Perilaku tidur pasien membaik dengan kriteria hasil: 1) Pasien melaporkan peningkatan kualitas tidur (misalnya, merasa segar setelah bangun). 2) Pasien melaporkan peningkatan kuantitas tidur (misalnya, durasi tidur sesuai kebutuhan usia). 3) Pola tidur pasien teratur (misalnya, waktu tidur dan bangun konsisten). 4) Gejala gangguan tidur menurun (misalnya, sulit memulai tidur, sering terbangun, bangun terlalu dini). 5) Dampak gangguan tidur terhadap fungsi sehari-hari menurun (misalnya, kelelahan, kantuk di siang hari, lekas marah).
Kode SIKI: I.14666
Deskripsi : Manajemen Insomnia. Deskripsi: Intervensi keperawatan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas tidur, meliputi: 1) Kaji faktor-faktor yang mengganggu tidur pasien (fisik, psikologis, lingkungan, kebiasaan, pengobatan). 2) Monitor pola dan karakteristik tidur pasien (lama tidur, latensi tidur, frekuensi terbangun, kualitas subjektif). 3) Ciptakan lingkungan yang kondusif untuk tidur (nyaman, tenang, gelap, suhu ruangan sesuai, ventilasi baik). 4) Anjurkan teknik relaksasi sebelum tidur (napas dalam, relaksasi otot progresif, imajinasi terbimbing, mendengarkan musik lembut). 5) Anjurkan untuk membatasi konsumsi kafein, nikotin, dan alkohol terutama mendekati waktu tidur. 6) Anjurkan untuk membatasi asupan cairan berlebihan sebelum tidur untuk mengurangi kebangkitan ke kamar mandi. 7) Anjurkan aktivitas fisik rutin di siang hari dan hindari olahraga berat mendekati waktu tidur. 8) Anjurkan ritual sebelum tidur yang menenangkan (misalnya, mandi air hangat, membaca). 9) Ajarkan prinsip sleep hygiene (kebersihan tidur) seperti menggunakan tempat tidur hanya untuk tidur dan aktivitas seksual, serta bangun dari tempat tidur jika tidak bisa tidur setelah 20 menit. 10) Kolaborasi dengan tim kesehatan untuk manajemen nyeri atau ketidaknyamanan yang mengganggu tidur. 11) Kolaborasi dengan tim kesehatan mengenai pengobatan insomnia jika diperlukan, termasuk edukasi tentang efek samping obat tidur. 12) Edukasi pasien dan keluarga tentang kebutuhan tidur normal dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Intervensi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memodifikasi penyebab gangguan tidur, meningkatkan kebiasaan tidur yang sehat, dan mengurangi dampak negatif insomnia terhadap kesejahteraan pasien secara holistik. Pendekatan non-farmakologis menjadi pilihan pertama, dengan mempertimbangkan aspek psikologis seperti kecemasan tentang tidur itu sendiri yang sering memperparah kondisi. Perawat juga berperan dalam memberikan dukungan emosional dan meyakinkan pasien bahwa gangguan tidur dapat diatasi dengan perubahan perilaku dan lingkungan yang konsisten.