Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 8135 | 07 Dec 2024
Klinis : Pasien dbd dengan tanda syok dan dilakukan rawat inap dan resusitasi cairan
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, yaitu pasien mengalami demam berdarah dengue (DBD) dengan tanda syok yang memerlukan rawat inap dan resusitasi cairan, berikut kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis:
1. Kode ICD-10:
- Kode: A91
- Deskripsi: Demam berdarah dengue
2. Kode ICD-9-CM Procedure:
- Kode: 99.19
- Deskripsi: Resusitasi cairan intravena
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 A91 mewakili diagnosis Demam Berdarah Dengue (DBD), yang merupakan penyakit virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Penyakit ini ditandai dengan demam tinggi, manifestasi hemoragik, dan dapat berkembang menjadi syok hipovolemik.
2. Kode ICD-9-CM 99.19 untuk Resusitasi cairan intravena menunjukkan bahwa pasien telah mendapatkan intervensi medis berupa pemberian cairan intravena sebagai bagian dari manajemen syok hipovolemik akibat kebocoran plasma pada DBD.
Dalam penanganan pasien DBD dengan tanda syok, resusitasi cairan intravena merupakan salah satu tindakan krusial untuk menjaga volume darah dan mencegah terjadinya komplikasi yang mengancam jiwa. Kode-kode ini akan digunakan untuk keperluan dokumentasi medis, penagihan, dan pelaporan epidemiologi. -
Article No. 8136 | 07 Dec 2024
Klinis : REsiko infeksi pemasangan kateter urine
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran asuhan keperawatan, dan intervensi keperawatan yang sesuai untuk kondisi "Risiko infeksi pemasangan kateter urine".
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi "Risiko infeksi pemasangan kateter urine" adalah "Risiko Infeksi". Diagnosa ini diambil dari Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) yang menjelaskan bahwa risiko infeksi adalah "Rentan terhadap invasi dan multiplikasi organisme patogen, yang dapat membahayakan kesehatan". Dalam konteks pemasangan kateter urine, pasien memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena infeksi saluran kemih (ISK) akibat masuknya kuman melalui kateter.
Luaran/Output SLKI:
Luaran/output yang diharapkan setelah pemberian asuhan keperawatan untuk mengatasi "Risiko Infeksi pemasangan kateter urine" adalah:
1. Tidak terjadi infeksi saluran kemih (ISK)
2. Tidak terjadi komplikasi akibat infeksi
3. Pasien menunjukkan tanda-tanda vital dalam batas normal
4. Pasien melaporkan tidak ada gejala infeksi (demam, nyeri, disuria, dll.)
5. Hasil pemeriksaan laboratorium (urinalisis, kultur urine) dalam batas normal
Luaran ini diambil dari Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) yang menggambarkan hasil yang diharapkan setelah pemberian asuhan keperawatan.
Intervensi Keperawatan SIKI:
Berikut adalah intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai luaran/output yang diharapkan:
1. Observasi
- Pantau tanda-tanda vital (suhu, nadi, pernapasan, tekanan darah)
- Pantau karakteristik urine (warna, bau, jumlah, kejernihan)
- Lakukan pemeriksaan laboratorium (urinalisis, kultur urine) sesuai indikasi
2. Edukasi
- Jelaskan kepada pasien/keluarga tentang pentingnya menjaga kebersihan daerah genital dan perawatan kateter urine
- Ajarkan pasien/keluarga tentang tanda dan gejala infeksi serta tindakan yang harus dilakukan
3. Tindakan Keperawatan
- Lakukan pencegahan infeksi sesuai prosedur, seperti cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan kateter
- Pertahankan sistem drainase kateter tetap tertutup dan tidak ada kebocoran
- Ganti kateter sesuai indikasi untuk mencegah kolonisasi kuman
- Berikan terapi antibiotik sesuai indikasi dan anjuran dokter
Intervensi di atas diambil dari Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang mencakup observasi, edukasi, dan tindakan keperawatan yang diperlukan untuk mencegah dan mengatasi risiko infeksi pada pasien dengan pemasangan kateter urine.
Dengan melaksanakan diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi yang sesuai, diharapkan dapat mencegah dan mengatasi risiko infeksi pada pasien dengan pemasangan kateter urine sehingga dapat mencapai hasil yang optimal. -
Article No. 8137 | 07 Dec 2024
Klinis : Pasien TB Paru, batuk tidak sembuh-sembuh, cemas
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, saya akan memberikan kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis yang sesuai dengan kondisi yang Anda berikan. Saya akan menyajikan informasi dalam format yang terstruktur dan memberikan penjelasan detail dengan nada akademis dan persona seorang dokter atau perekam medik.
1. Kode ICD-10:
- Kode: A15.0
- Deskripsi: Tuberkulosis paru, secara bakteriologis dan histologis terkonfirmasi.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 94.26
- Deskripsi: Pencitraan toraksal, Computer Tomografi Scan (CT Scan) toraks, tanpa kontras.
Penjelasan:
Pasien yang didiagnosis dengan Tuberkulosis Paru (Tuberculosis, Pulmonary) berdasarkan pemeriksaan bakteriologis atau histologis akan diklasifikasikan dengan kode ICD-10 A15.0. Hal ini mencakup berbagai manifestasi paru dari infeksi Mycobacterium tuberculosis, termasuk kavitas paru, infiltrasi, nodul, dan lesi tuberkulosis paru lainnya.
Untuk pasien dengan gejala batuk yang berkepanjangan dan disertai kecemasan, pemeriksaan radiologis menggunakan CT Scan toraks tanpa kontras (kode ICD-9-CM 94.26) dapat dilakukan untuk mengevaluasi kondisi paru-paru, mencari adanya perubahan patologis, dan membantu menegakkan diagnosis. Pemeriksaan ini dapat memberikan informasi yang lebih rinci tentang lesi paru, ukuran, lokasi, dan kemungkinan komplikasi yang terkait dengan tuberkulosis paru.
Pemantauan yang cermat dan pengobatan yang sesuai berdasarkan protokol penatalaksanaan tuberkulosis akan sangat penting untuk mengatasi kondisi pasien ini secara komprehensif. -
Article No. 8138 | 07 Dec 2024
Klinis : Pasien TB Paru, batuk tidak sembuh-sembuh, cemas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi pasien dengan TB Paru, batuk tidak sembuh-sembuh, dan cemas:
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
2. Cemas
Penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI:
1. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Keadaan di mana individu mengalami hambatan dalam pembersihan sekret atau obstruksi jalan napas.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Pasien mampu mempertahankan bersihan jalan napas yang efektif.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini antara lain auskultasi dan perkusi dada, suction, pemberian oksigen, inhalasi, dan latihan batuk efektif.
2. Cemas
- SDKI: Keadaan emosi dan pengalaman subyektif individu yang tidak menyenangkan berupa perasaan khawatir, was-was, dan tidak tenang yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya.
- SLKI: Pasien dapat mengontrol kecemasan yang dirasakan.
- SIKI: Intervensi yang dapat dilakukan untuk mengatasi kecemasan antara lain terapi relaksasi, terapi musik, terapi distraksi, konseling, dan pemberian obat anti-cemas.
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus mempertimbangkan kondisi klinis pasien, faktor-faktor yang mempengaruhi, serta melibatkan pasien dan keluarga dalam perencanaan dan pelaksanaan intervensi keperawatan. -
Article No. 8139 | 07 Dec 2024
Klinis : Pasien TB Paru, batuk terus menerus
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan rinci terkait kondisi pasien TB Paru dengan batuk terus menerus, dari sudut pandang seorang perawat pakar.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
- Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi pasien TB Paru dengan batuk terus menerus adalah "Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas" (00031).
- Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
- Karakteristik Definisi: Pasien mengeluhkan batuk yang terus-menerus, terdapat sputum berlebih, suara napas abnormal, dan klien mengalami kesulitan dalam mengeluarkan sekret.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
- Tujuan Utama: Pasien dapat mempertahankan jalan napas yang terbuka dan bersih.
- Indikator Luaran:
1. Frekuensi batuk menurun
2. Produksi sputum menurun
3. Tidak ada suara napas abnormal
4. Pasien dapat dengan mudah mengeluarkan sekret
5. Pasien tidak mengalami sesak napas
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
- Manajemen Jalan Napas
- Tujuan: Mempertahankan jalan napas yang terbuka dan bersih
- Aktivitas:
1. Lakukan pengisapan lendir bila diperlukan
2. Bantu pasien melakukan batuk efektif dan latihan pernapasan
3. Berikan posisi semi-fowler untuk memudahkan drainase sekret
4. Kolaborasi dengan tim kesehatan untuk pemberian terapi oksigen, bronkodilator, atau mukolitik jika diperlukan
- Manajemen Batuk
- Tujuan: Mengurangi frekuensi dan intensitas batuk
- Aktivitas:
1. Identifikasi faktor pencetus batuk, seperti iritasi, infeksi, atau lendir berlebih
2. Anjurkan pasien untuk minum banyak cairan
3. Kolaborasi dengan tim kesehatan untuk pemberian terapi antitusif atau ekspektoran jika diperlukan
- Edukasi Kesehatan
- Tujuan: Meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga tentang manajemen batuk
- Aktivitas:
1. Jelaskan penyebab dan manajemen batuk pada pasien TB Paru
2. Ajarkan teknik batuk efektif dan latihan pernapasan
3. Kolaborasi dengan tim kesehatan untuk melakukan edukasi terkait pengobatan dan perawatan TB Paru
Penjelasan di atas mencakup diagnosa keperawatan, luaran yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang komprehensif untuk menangani kondisi pasien TB Paru dengan batuk terus menerus. Sebagai seorang perawat pakar, saya berharap dapat memberikan pemahaman yang jelas dan terperinci untuk membantu mencapai hasil perawatan yang optimal bagi pasien. -
Article No. 8140 | 07 Dec 2024
Klinis : patah tulang terbuka di klavikula dengan tindakan pemasangan implan
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, saya akan memberikan kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis yang sesuai dengan kondisi patah tulang terbuka di klavikula dengan pemasangan implan, dengan format yang terstruktur dan penjelasan detail.
1. Kode ICD-10:
- Kode: S42.01
- Deskripsi: Patah tulang terbuka di klavikula
2. Kode ICD-9-CM Procedure:
- Kode: 78.55
- Deskripsi: Pemasangan implan internal lainnya di tulang lengan atau bahu, termasuk klavikula
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 S42.01 menunjukkan diagnosis patah tulang terbuka di klavikula. Klavikula atau tulang selangka adalah salah satu bagian dari bahu yang sering mengalami patah tulang, dan kode 'S42.01' secara spesifik menggambarkan kondisi tersebut.
2. Kode ICD-9-CM 78.55 merujuk pada prosedur pemasangan implan internal lainnya di tulang lengan atau bahu, termasuk klavikula. Ini sesuai dengan tindakan pemasangan implan yang dilakukan pada pasien dengan patah tulang terbuka di klavikula.
Dalam praktik perawatan kesehatan, kode ICD-10 dan ICD-9-CM digunakan secara luas untuk pengodean diagnosis dan prosedur medis. Penggunaan kode yang tepat sangat penting untuk dokumentasi medis yang akurat, penagihan yang benar, dan analisis data kesehatan yang efektif. -
Article No. 8141 | 07 Dec 2024
Klinis : patah tulang terbuka di klavikula dengan tindakan pemasangan implan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi patah tulang terbuka di klavikula dengan tindakan pemasangan implan, dengan nada akademis dan persona sebagai seorang pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri akut
2. Risiko infeksi
3. Ketidakstabilan fisik
4. Penurunan mobilitas fisik
Penjelasan singkat:
1. Nyeri Akut
SDKI: Respon sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau yang dirasakan seolah-olah terjadi kerusakan.
SLKI: Manajemen nyeri, manajemen analgesia, dan manajemen kenyamanan.
SIKI: Intervensi keperawatan untuk mengenali, mencegah, dan mengurangi nyeri yang dirasakan pasien.
2. Risiko Infeksi
SDKI: Kerentanan mengalami invasi dan multiplikasi mikroorganisme patogen yang dapat mengganggu kesehatan.
SLKI: Manajemen risiko infeksi dan pencegahan infeksi.
SIKI: Intervensi keperawatan untuk mencegah dan mengendalikan infeksi yang dapat terjadi pada pasien.
3. Ketidakstabilan Fisik
SDKI: Respon fisiologis yang tidak stabil atau tidak seimbang akibat perubahan kondisi kesehatan.
SLKI: Manajemen stabilitas fisiologis.
SIKI: Intervensi keperawatan untuk mempertahankan stabilitas kondisi fisik pasien.
4. Penurunan Mobilitas Fisik
SDKI: Keterbatasan dalam gerakan bebas secara mandiri dari satu tempat ke tempat lain.
SLKI: Peningkatan mobilitas dan manajemen pergerakan.
SIKI: Intervensi keperawatan untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam bergerak dan berpindah tempat.
Sebagai seorang pakar perawat, saya berharap penjelasan singkat ini dapat membantu Anda memahami diagnosa keperawatan dan standar SDKI-SLKI-SIKI untuk kondisi patah tulang terbuka di klavikula dengan tindakan pemasangan implan. Jangan ragu untuk menanyakan lebih lanjut jika Anda membutuhkan informasi tambahan. -
Article No. 8142 | 07 Dec 2024
Klinis : Sirkumsisi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, Selamat pagi. Sebagai seorang perawat profesional, izinkan saya memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi sirkumsisi.
Diagnosa Keperawatan:
1. Integritas Kulit Terganggu
Definisi: Perubahan pada kulit dan membran mukosa.
Faktor yang berhubungan: Prosedur Pembedahan (Sirkumsisi).
Penjelasan Singkat:
Integritas Kulit Terganggu adalah diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi sirkumsisi. Sirkumsisi adalah prosedur bedah yang melibatkan pemotongan sebagian atau seluruh kulit penutup glans penis. Hal ini dapat menyebabkan perubahan pada integritas kulit dan membran mukosa di area genital. Perawat harus memantau tanda-tanda infeksi, perdarahan, dan penyembuhan luka untuk memastikan pemulihan yang optimal.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Kode Diagnosis: 00046
Definisi: Perubahan pada kulit dan membran mukosa.
Karakteristik Mayor: Kerusakan pada struktur kulit, Perubahan warna kulit, Perubahan tekstur kulit.
Faktor yang Berhubungan: Prosedur pembedahan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Kode Luaran: 1102
Judul Luaran: Integritas Jaringan: Kulit dan Membran Mukosa
Definisi: Kemampuan untuk mempertahankan struktur dan fungsi kulit dan membran mukosa.
Kriteria Hasil: Tidak ada tanda-tanda infeksi, Luka sembuh dengan baik, Tidak ada perubahan warna kulit.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Kode Intervensi: 6480
Judul Intervensi: Perawatan Luka
Definisi: Memfasilitasi penyembuhan luka dan mencegah komplikasi.
Aktivitas Keperawatan: Observasi tanda-tanda infeksi, Lakukan perawatan luka secara aseptik, Ajarkan pasien/keluarga perawatan luka di rumah.
Semoga penjelasan ini bermanfaat. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu untuk menanyakannya. Terima kasih. -
Article No. 8143 | 07 Dec 2024
Klinis : Implementasi keperawatan manajemen nyeri kompres hangat pada pasien gastritis dengan masalah nyeri akut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) untuk kondisi implementasi keperawatan manajemen nyeri kompres hangat pada pasien gastritis dengan masalah nyeri akut.
Diagnosa Keperawatan:
Nyeri akut
Penjelasan:
Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut. Nyeri akut merupakan respon fisiologis yang terjadi secara tiba-tiba dan disebabkan oleh stimulasi spesifik, seperti cedera atau penyakit.
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
- Domain: Kenyamanan
- Kelas: Nyeri
- Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran: Kontrol Nyeri
- Definisi: Derajat kenyamanan individu yang dapat dicapai melalui manajemen nyeri.
- Indikator:
1. Melaporkan nyeri terkontrol
2. Menunjukkan ekspresi wajah rileks
3. Mempertahankan aktivitas sehari-hari
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi: Manajemen Nyeri
- Definisi: Serangkaian aktivitas yang dilakukan untuk mengurangi atau meminimalkan nyeri yang dirasakan oleh pasien.
- Aktivitas Keperawatan:
1. Identifikasi karakteristik nyeri (lokasi, jenis, durasi, frekuensi, dan keparahan)
2. Pilih modalitas tatalaksana nyeri yang sesuai, seperti kompres hangat
3. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk penatalaksanaan nyeri yang komprehensif
Dalam kondisi ini, dimana pasien gastritis mengalami nyeri akut, maka intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen nyeri dengan kompres hangat. Kompres hangat dapat membantu mengurangi rasa nyeri yang dirasakan oleh pasien. -
Article No. 8144 | 07 Dec 2024
Klinis : Sirkumsisi
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Sebagai seorang dokter atau perekam medis, berikut adalah informasi yang saya berikan terkait dengan kode ICD-10 dan ICD-9-CM untuk kondisi sirkumsisi:
1. Kode ICD-10:
- Kode: N30.3
- Deskripsi: Sirkumsisi
2. Kode ICD-9-CM Procedure:
- Kode: 64.0
- Deskripsi: Sirkumsisi
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 N30.3 merupakan kode untuk diagnosis "sirkumsisi". Sirkumsisi adalah prosedur bedah yang melibatkan penghapusan sebagian atau keseluruhan kulit yang menutupi glans penis.
2. Kode ICD-9-CM 64.0 adalah kode untuk prosedur "sirkumsisi". Prosedur ini dilakukan untuk berbagai alasan, seperti higienis, agama, atau alasan medis, seperti fimosis (ketidakmampuan untuk menarik prepusium) atau infeksi.
Pengkodean yang tepat dalam rekam medis sangat penting untuk memastikan dokumentasi yang akurat, tagihan yang sesuai, dan analisis epidemiologi yang efektif.