Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 8341 | 09 Dec 2024
Klinis : Perempuan usia 60 tahun dirawat di ruang rawat jantung dengan diagnosa medis: gagal jantung. Hasil pemeriksaan fisik: pitting oedema, oliguria, urine pekat, akral dingin, TD 100/80 mmHg, frekuensi nadi 85 x/menit, frekuensi napas 24 x/menit, suhu 380C. Pasien mendapat terapi diuretik. Apakah data laboratorium yang harus di pantau pada kasus tersebut ? * Darah rutin: Hb, Ht, Leukosit, trombosit SGOT dan SGPT Enzim jantung Ureum dan kreatinin Elektrolit: Na, K, Cl, Mg
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, saya adalah seorang perawat klinis yang akan memberikan penjelasan rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, data laboratorium yang perlu dipantau, luaran yang diharapkan, dan intervensi keperawatan untuk kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan kemampuan jantung dalam memompa darah yang efektif, ditandai dengan pitting edema, oliguria, dan urine pekat.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan curah jantung, ditandai dengan kelelahan, napas pendek, dan akral dingin.
3. Ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan curah jantung, ditandai dengan tekanan darah rendah dan frekuensi nadi tinggi.
Data Laboratorium yang Perlu Dipantau:
1. Darah rutin: Hb, Ht, Leukosit, Trombosit - untuk mendeteksi anemia atau perubahan status hematologis.
2. SGOT dan SGPT - untuk mengevaluasi fungsi hati yang dapat terpengaruh oleh obat-obatan.
3. Enzim jantung (misalnya troponin, CK-MB) - untuk menilai kerusakan atau iskemia miokard.
4. Ureum dan kreatinin - untuk mengevaluasi fungsi ginjal yang dapat terganggu akibat gagal jantung.
5. Elektrolit: Na, K, Cl, Mg - untuk mendeteksi ketidakseimbangan elektrolit yang dapat mempengaruhi fungsi jantung.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Keseimbangan cairan: Indikator vital pasien stabil, tidak ada tanda-tanda kelebihan atau kekurangan volume cairan.
2. Toleransi aktivitas: Pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami kelelahan atau sesak napas yang berlebihan.
3. Perfusi jaringan: Tekanan darah, frekuensi nadi, dan akral pasien dalam batas normal, menunjukkan adanya perfusi jaringan yang adekuat.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen cairan:
- Pantau intake dan output cairan secara ketat.
- Berikan edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya pembatasan cairan.
- Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian diuretik dan pengaturan cairan.
2. Manajemen aktivitas:
- Lakukan pengkajian toleransi aktivitas pasien.
- Berikan edukasi tentang aktivitas yang aman dan sesuai kemampuan pasien.
- Lakukan aktivitas perawatan diri bersama pasien untuk meningkatkan toleransinya.
3. Manajemen perfusi:
- Pantau tanda-tanda vital secara rutin.
- Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi farmakologis untuk meningkatkan perfusi.
- Berikan posisi semi-fowler untuk memfasilitasi perfusi.
Semoga penjelasan ini bermanfaat. Jangan ragu untuk menanyakan hal lain yang masih belum jelas. Wassalamualaikum. -
Article No. 8342 | 09 Dec 2024
Klinis : Seorang laki-laki berusia 43 tahun dirawat dengan keluhan sesak nafas dan nyeri pada dada kiri. Hasil pengkajian: bunyi vesikuler menurun pada dada kiri, anoreksia, skala nyeri 7 (1-10) , Hb 12 gr/dl, saturasi oksigen 95 x/menit. Pasien di diagnosis tumor paru 1 tahun yang lalu. Apakah diagnosa keperawatan utama pada kasus tersebut ? * Nyeri kronis Defisit nutrisi Ketidakefektifan perfusi jaringan Gangguan pertukaran gas Ketidakefektifan bersihan jalan napas
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, serta intervensi keperawatan yang diperlukan untuk kasus pasien laki-laki berusia 43 tahun dengan keluhan sesak nafas dan nyeri dada kiri yang didiagnosis dengan tumor paru.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan utama yang sesuai untuk kasus ini adalah Gangguan Pertukaran Gas (00030). Hal ini didasarkan pada gejala-gejala yang dialami pasien, yaitu:
1. Bunyi vesikuler menurun pada dada kiri, yang menunjukkan adanya gangguan ventilasi paru.
2. Saturasi oksigen 95x/menit, yang menandakan adanya penurunan kemampuan paru untuk mempertahankan oksigenasi darah yang adekuat.
3. Pasien didiagnosis dengan tumor paru, yang dapat menyebabkan gangguan pertukaran gas.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Pertukaran Gas Efektif (0402)
- Kriteria Hasil:
- Oksigenasi jaringan membaik
- Fungsi pernafasan membaik
- Tidak ada tanda-tanda gagal nafas
2. Kontrol Nyeri (1605)
- Kriteria Hasil:
- Melaporkan nyeri terkontrol
- Tampak lebih rileks dan tenang
- Mampu melakukan aktivitas tanpa peningkatan nyeri
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen Jalan Napas (3140)
- Monitor pola napas, irama, dan kedalaman napas
- Berikan oksigen sesuai kebutuhan
- Ajarkan teknik batuk efektif dan latihan pernapasan
2. Manajemen Nyeri (1400)
- Kaji karakteristik nyeri (lokasi, kualitas, durasi, frekuensi)
- Berikan analgesik sesuai indikasi
- Ajarkan teknik non-farmakologis untuk mengatasi nyeri (relaksasi, distraksi)
3. Peningkatan Nutrisi (1100)
- Kaji status nutrisi pasien (berat badan, asupan makanan)
- Berikan makanan yang sesuai dengan preferensi dan kebutuhan pasien
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk merencanakan diet yang optimal
4. Manajemen Energi (0180)
- Pantau tanda-tanda vital dan tolenansi aktivitas
- Atur aktivitas sesuai dengan toleransi pasien
- Ajarkan teknik konservasi energi
Penjelasan rinci:
Diagnosa keperawatan utama adalah Gangguan Pertukaran Gas karena adanya bukti gangguan ventilasi dan oksigenasi darah pada pasien. Luaran yang diharapkan adalah efektifnya pertukaran gas dan kontrol nyeri yang memadai. Intervensi keperawatan difokuskan pada manajemen jalan napas, manajemen nyeri, peningkatan nutrisi, dan manajemen energi untuk memfasilitasi perbaikan status fisiologis pasien dan mempercepat proses pemulihan. -
Article No. 8343 | 09 Dec 2024
Klinis : Pasien setelah operasi appendicitis
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan SDKI, luaran/output SLKI, serta intervensi keperawatan SIKI yang sesuai untuk kondisi pasien setelah operasi apendisitis, dengan nada akademis dan persona sebagai perawat ahli.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi pasien setelah operasi apendisitis adalah:
1. Nyeri akut (SDKI: Nyeri) berhubungan dengan prosedur operatif. Pasien akan mengalami nyeri akut pada area luka operasi sebagai respons normal terhadap trauma pembedahan.
2. Risiko infeksi (SDKI: Risiko Infeksi) berhubungan dengan prosedur pembedahan. Pasien memiliki risiko tinggi mengalami infeksi pada area luka operasi akibat terbukanya kulit dan jaringan.
3. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh (SDKI: Ketidakseimbangan Nutrisi) berhubungan dengan penurunan nafsu makan dan mual/muntah. Pasien mungkin mengalami penurunan intake nutrisi setelah operasi sehingga berisiko malnutrisi.
Luaran/Output SLKI:
1. Nyeri akut teratasi: Pasien melaporkan nyeri berkurang, menggunakan teknik pengurangan nyeri dengan efektif, dan menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang normal.
2. Tidak terjadi infeksi: Luka operasi sembuh tanpa tanda-tanda infeksi, tidak ada demam, dan hasil laboratorium dalam batas normal.
3. Keseimbangan nutrisi tercapai: Pasien menunjukkan berat badan stabil, asupan nutrisi adekuat, dan tidak ada tanda-tanda malnutrisi.
Intervensi Keperawatan SIKI:
1. Manajemen Nyeri:
- Lakukan pengkajian nyeri komprehensif.
- Berikan analgesik sesuai resep.
- Ajarkan teknik nonfarmakologis pengurangan nyeri, seperti relaksasi, distraksi, atau terapi panas/dingin.
- Evaluasi efektivitas intervensi dan lakukan penyesuaian jika perlu.
2. Pencegahan Infeksi:
- Pertahankan teknik aseptik saat merawat luka.
- Pantau tanda-tanda infeksi secara berkala.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian antibiotik jika diperlukan.
- Edukasi pasien dan keluarga tentang perawatan luka dan pencegahan infeksi.
3. Manajemen Nutrisi:
- Kaji status nutrisi pasien, termasuk intake makanan, berat badan, dan tanda-tanda malnutrisi.
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana diet sesuai kebutuhan pasca operasi.
- Berikan nutrisi enteral atau parenteral jika asupan oral tidak adekuat.
- Pantau dan evaluasi status nutrisi secara berkala.
- Edukasi pasien dan keluarga tentang kebutuhan nutrisi dan pentingnya asupan yang adekuat.
Penerapan intervensi keperawatan yang komprehensif dan kolaboratif ini diharapkan dapat membantu mencapai luaran/output yang diharapkan, sehingga pasien dapat pulih secara optimal setelah menjalani operasi apendisitis. -
Article No. 8344 | 09 Dec 2024
Klinis : Perempuan usia 56 tahun di rawat di ruang penyakit dalam dengan diagnosis medis: Covid 19. Hasil pengkajian: keadaan umum lemah, cepat lelah, batuk berdahak, sputum kental dan sulit dikeluarkan, ronchi (+), frekuensi napas 28x/menit. Pasien telah dilatih teknik batuk efektif dan mendapat obat ekspektoran. Apakah evaluasi keperawatan utama pada kasus tersebut ? * Frekuensi napas 16-20x/menit Keadaan umum membaik Pernafasan eupnea Sputum berkurang Sesak berkurang
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, Ibu/Bapak. Berikut adalah Diagnosa Keperawatan SDKI, Luaran/Output yang Diharapkan SLKI, dan Intervensi Keperawatan yang Diperlukan SIKI untuk kasus yang Anda paparkan:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- Definisi: Ketidakmampuan untuk mengeluarkan sekresi atau benda asing dari saluran pernapasan.
- Penyebab: Sekresi pernapasan yang berlebihan, kelemahan otot pernapasan, dan nyeri.
- Karakteristik: Batuk tidak efektif, sputum kental dan sulit dikeluarkan, suara nafas tambahan (ronchi).
Luaran/Output yang Diharapkan SLKI:
1. Bersihan Jalan Napas
- Frekuensi napas 16-20x/menit
- Keadaan umum membaik
- Pernafasan eupnea
- Sputum berkurang
- Sesak berkurang
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan SIKI:
1. Manajemen Jalan Napas
- Pantau frekuensi, kedalaman, dan upaya napas
- Auskultasi suara napas, identifikasi adanya suara napas tambahan
- Beri tindakan batuk efektif dan ekspektoran
- Kolaborasi pemberian obat-obatan pernapasan
- Anjurkan teknik batuk efektif dan posisi lateral untuk drainase sekresi
- Lakukan suction jika diperlukan
2. Manajemen Energi
- Identifikasi faktor yang menyebabkan kelelahan
- Atur aktivitas dan istirahat sesuai toleransi pasien
- Anjurkan istirahat yang cukup
- Pantau tanda-tanda kelelahan
Penjelasan Rinci:
Diagnosa Keperawatan SDKI "Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif" dipilih karena pasien mengalami masalah pernapasan dengan sekresi kental yang sulit dikeluarkan, batuk tidak efektif, dan adanya ronchi saat auskultasi.
Luaran/Output yang Diharapkan SLKI mencakup frekuensi napas 16-20x/menit, keadaan umum membaik, pernafasan eupnea, sputum berkurang, dan sesak berkurang. Hal ini menunjukkan perbaikan status pernapasan pasien.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan SIKI meliputi Manajemen Jalan Napas untuk memantau, mengatasi, dan mempertahankan fungsi jalan napas yang efektif. Selain itu, Manajemen Energi juga diberikan untuk mengatasi kelelahan pasien.
Semoga informasi ini bermanfaat. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, saya siap membantu. Terima kasih.
Wassalamualaikum. -
Article No. 8345 | 09 Dec 2024
Klinis : Laki-laki usia 64 tahun di rawat di ruang penyakit dalam dengan diagnosis medik hipertensi. Hasil pengkajian: BB 53 kg, TB 155 cm, kepribadian introvert, merokok 2 bungkus /hari. Pasien nyeri kepala, skala nyeri 6 (1-10), pusing, kaku kuduk, diplopia, gelisah, TD 180/110 mmHg, frekuensi nadi 112 x/menit. Apakah materi pendidikan kesehatan utama pada kasus tersebut?
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, perkenalkan saya Perawat Rina, seorang pakar dalam bidang keperawatan. Berikut adalah jawaban saya terkait kasus yang Anda sampaikan:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial sekunder hipertensi, ditandai dengan nyeri kepala, pusing, kaku kuduk, dan diplopia.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan kapasitas fisik akibat hipertensi, ditandai dengan gejala kelelahan dan gelisah.
3. Risiko perubahan perfusi serebral berhubungan dengan peningkatan tekanan darah.
Materi Pendidikan Kesehatan Utama:
1. Manajemen hipertensi: pentingnya mematuhi regimen pengobatan, mengenali tanda-tanda komplikasi, dan melakukan modifikasi gaya hidup yang sehat (seperti berhenti merokok, diet rendah garam, dan aktivitas fisik yang teratur).
2. Pengelolaan nyeri kepala: teknik-teknik non-farmakologis (relaksasi, kompres hangat/dingin, distraksi), penggunaan analgesik yang tepat, dan pemantauan efektivitasnya.
3. Edukasi tentang risiko komplikasi hipertensi dan pentingnya kontrol tekanan darah untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Pasien melaporkan penurunan intensitas nyeri kepala.
2. Pasien menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas sehari-hari.
3. Pasien menunjukkan tekanan darah dalam rentang normal.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen Nyeri:
- Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif.
- Berikan intervensi nonfarmakologis (kompres hangat/dingin, teknik relaksasi, distraksi).
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik yang sesuai.
- Evaluasi efektivitas intervensi dan lakukan penyesuaian jika diperlukan.
2. Manajemen Aktivitas:
- Kaji kapasitas fisik pasien dan identifikasi aktivitas yang dapat dilakukan.
- Berikan edukasi tentang pentingnya aktivitas fisik yang teratur.
- Bantu pasien merencanakan dan melakukan aktivitas sesuai toleransinya.
- Pantau tanda-tanda vital dan gejala selama aktivitas.
3. Manajemen Hipertensi:
- Kaji faktor-faktor yang memengaruhi tekanan darah.
- Kolaborasi dengan dokter untuk pengaturan regimen pengobatan.
- Berikan edukasi tentang modifikasi gaya hidup yang sehat.
- Pantau tekanan darah secara berkala dan evaluasi efektivitas intervensi.
Semoga penjelasan ini dapat membantu Anda dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif bagi pasien. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu untuk menghubungi saya.
Wassalamualaikum. -
Article No. 8346 | 09 Dec 2024
Klinis : Seorang laki-laki berusia 37, BB tahun dirawat dengan diagnosa medis Covid 19. Hasil pengkajian: terpasang oksigen simple mask, nyeri pada dada kiri, bunyi vesikuler menurun pada dada kiri, anoreksia, muntah setiap kali pasien makan, penurunan BB >8 kg, Hb 10 gr/dl, saturasi oksigen 95 %. Apakah diagnosa keperawatan utama pada kasus tersebut ? * Bersihan jalan napas tidak efektif Gangguan pertukaran gas Defisit nutrisi Cemas Nyeri kronis
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, saya akan memberikan jawaban berdasarkan kondisi pasien yang Anda sampaikan.
Diagnosa Keperawatan Utama:
Berdasarkan data yang diberikan, diagnosa keperawatan utama yang sesuai adalah **Gangguan Pertukaran Gas**.
Alasannya:
1. Pasien terpasang oksigen sederhana (simple mask), menunjukkan adanya gangguan pernapasan.
2. Terdapat penurunan bunyi vesikuler pada dada kiri, yang mengindikasikan adanya gangguan pada paru-paru.
3. Saturasi oksigen pasien 95%, menunjukkan adanya penurunan kemampuan paru-paru untuk bertukar gas.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. **Pertukaran Gas Membaik**: Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan pertukaran gas dengan ditandai peningkatan saturasi oksigen >96% dan tidak ada tanda-tanda distres pernapasan.
2. **Ventilasi Membaik**: Pasien menunjukkan peningkatan ventilasi yang ditandai dengan peningkatan bunyi napas vesikuler dan tidak ada retraksi dinding dada.
3. **Tidak Ada Tanda-Tanda Distres Pernapasan**: Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda distres pernapasan seperti takipnea, penggunaan otot tambahan pernapasan, dan sianosis.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. **Pantau Status Pernapasan**: Lakukan pemantauan tanda-tanda vital, bunyi napas, dan saturasi oksigen secara berkala.
2. **Atur Posisi Semi Fowler**: Pertahankan posisi semi Fowler untuk memfasilitasi ekspansi dada dan meningkatkan ventilasi.
3. **Berikan Oksigen Sesuai Kebutuhan**: Berikan oksigen sesuai dengan kebutuhan pasien untuk mempertahankan saturasi oksigen dalam batas normal.
4. **Lakukan Suction Jika Diperlukan**: Lakukan suction jalan napas jika terdapat sekret yang mengganggu pernapasan.
5. **Kolaborasi Pemberian Bronkodilator**: Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian bronkodilator jika diperlukan untuk melebarkan jalan napas.
6. **Edukasi Pasien dan Keluarga**: Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya mempertahankan posisi semi Fowler, penggunaan oksigen, dan manajemen sekret.
Penjelasan Rinci:
Diagnosa keperawatan utama adalah Gangguan Pertukaran Gas karena pasien menunjukkan tanda-tanda adanya gangguan pada pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Hal ini ditandai dengan penggunaan oksigen, penurunan bunyi vesikuler, dan saturasi oksigen yang belum optimal. Intervensi keperawatan yang diperlukan adalah pemantauan status pernapasan, pengaturan posisi semi Fowler, pemberian oksigen, suction jika diperlukan, kolaborasi pemberian bronkodilator, serta edukasi pada pasien dan keluarga. Tujuan akhir dari asuhan keperawatan ini adalah untuk memulihkan pertukaran gas, ventilasi, dan mencegah tanda-tanda distres pernapasan.
Semoga penjelasan ini bermanfaat. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu untuk bertanya.
Wassalamualaikum. -
Article No. 8347 | 09 Dec 2024
Klinis : Perempuan usia 55 tahun dirawat di ruang penyakit dalam dan terpasang WSD di paru kiri. Hasil pemeriksaan fisik: bunyi ronchi pada paru kiri, vesikuler menurun, frekuensi napas 34 x/menit. Hasil AGD: PCO2: 32, HCO3: 22, PaO2: 60. Pasien . Apakah masalah keperawatan utama kasus tersebut ? * Gangguan pertukaran gas Ketidakefektifan bersihan jalan napas Kelebihan volume cairan Gangguan pola napas Ketidakefektifan perfusi jaringan
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, Ibu/Bapak. Berdasarkan informasi yang diberikan, saya akan memberikan analisis diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mengatasi masalah keperawatan pada pasien tersebut.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Masalah keperawatan utama pada kasus ini adalah **Gangguan pertukaran gas** yang ditandai dengan adanya penurunan oksigenasi (PaO2: 60 mmHg) dan hiperkarbia (PCO2: 32 mmHg). Pasien mengalami penurunan ventilasi alveolar yang ditandai dengan peningkatan frekuensi napas (34 x/menit) dan bunyi ronchi pada paru kiri serta penurunan suara napas vesikuler. Kondisi ini dapat disebabkan oleh adanya gangguan mekanis pernapasan akibat pemasangan WSD di paru kiri.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. **Pertukaran Gas Efektif**: Menunjukkan perfusi dan ventilasi alveolar yang adekuat yang ditandai dengan peningkatan nilai PaO2 menjadi 80-100 mmHg, penurunan PCO2 menjadi 35-45 mmHg, dan frekuensi napas 12-20 x/menit.
2. **Bersihan Jalan Napas Efektif**: Menunjukkan jalan napas yang bebas dari sekret dan obstruksi yang ditandai dengan suara napas vesikuler yang membaik dan tidak ada bunyi tambahan.
3. **Keseimbangan Cairan Terpelihara**: Menunjukkan status cairan dalam batas normal yang ditandai dengan tanda-tanda vital stabil, tidak ada edema, dan hasil laboratorium elektrolit dalam batas normal.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. **Pertukaran Gas Efektif**:
- Monitor status pernapasan: frekuensi, irama, kedalaman, dan suara napas
- Pantau hasil pemeriksaan gas darah arterial
- Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan untuk mencapai saturasi O2 >95%
- Kolaborasi pemberian ventilasi mekanik jika diperlukan
- Kolaborasi pemberian bronkodilator dan mukolitik untuk membantu mengeluarkan sekret
2. **Bersihan Jalan Napas Efektif**:
- Posisikan pasien untuk memfasilitasi drainase sekret
- Berikan terapi fisik seperti postural drainage, vibrasi, dan perkusi dada
- Lakukan suction untuk mengeluarkan sekret
- Pertahankan kelembaban udara dengan menggunakan alat bantu pernapasan
3. **Keseimbangan Cairan Terpelihara**:
- Monitor masukan dan pengeluaran cairan
- Pertahankan keseimbangan cairan sesuai kebutuhan pasien
- Pantau tanda-tanda kelebihan volume cairan (edema, distensi vena leher, dan pengisian kapiler lambat)
- Kolaborasi pemberian diuretik jika diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan cairan
Semoga penjelasan ini bermanfaat. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu untuk menghubungi saya. Terima kasih.
Wassalamualaikum. -
Article No. 8348 | 09 Dec 2024
Klinis : Laki-laki usia 50 tahun di bawa ke poliklinik penyakit dalam karena mengalami sesak napas berat. Hasil pengkajian: pasien gelisah, sulit tidur, Keadaan umum lemah, ronchi (+), suara parau, berkeringat di malam hari, TD 110/80 mmHg, frekuensi napas 32 x/menit, SaO2 95%.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
Penyebab: Peningkatan produksi sekret, kelemahan otot pernapasan, obstruksi jalan napas.
Gejala dan Tanda: Pasien gelisah, sulit tidur, ronchi, suara parau, peningkatan frekuensi napas.
2. Pola Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk bernapas dengan irama yang normal.
Penyebab: Gangguan mekanik pada sistem pernapasan, kelelahan otot pernapasan.
Gejala dan Tanda: Peningkatan frekuensi napas, SaO2 95%.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Bersihan Jalan Napas
- Pasien menunjukkan pembersihan jalan napas yang efektif.
- Pasien melaporkan tidak ada lagi sesak napas.
- Pasien menunjukkan pola napas yang stabil.
2. Pola Napas
- Pasien menunjukkan pola napas yang normal.
- Pasien melaporkan tidak ada lagi sesak napas.
- Pasien menunjukkan tingkat kelemahan yang berkurang.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- Pantau status pernapasan: frekuensi, irama, dan kedalaman napas.
- Berikan oksigen sesuai indikasi.
- Berikan bronkodilator inhalasi sesuai resep dokter.
- Ajarkan teknik batuk efektif dan latihan napas dalam.
- Pertahankan posisi semi-fowler untuk memfasilitasi pernapasan.
- Lakukan suction jika diperlukan.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk penanganan yang komprehensif.
2. Pola Napas Tidak Efektif
- Pantau status pernapasan: frekuensi, irama, dan kedalaman napas.
- Berikan oksigen sesuai indikasi.
- Ajarkan teknik pernapasan diafragma.
- Pertahankan posisi semi-fowler untuk memfasilitasi pernapasan.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk penanganan yang komprehensif.
Penjelasan:
Diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien adalah Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif dan Pola Napas Tidak Efektif. Hal ini didasarkan pada gejala dan tanda yang ditunjukkan pasien, seperti sesak napas berat, ronchi, suara parau, peningkatan frekuensi napas, dan penurunan saturasi oksigen.
Luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan adalah pasien menunjukkan pembersihan jalan napas yang efektif, pola napas yang normal, dan tidak lagi mengalami sesak napas. Intervensi keperawatan yang perlu dilakukan meliputi pemantauan status pernapasan, pemberian oksigen dan bronkodilator, pengajaran teknik batuk dan pernapasan, serta penempatan posisi yang memfasilitasi pernapasan. Kolaborasi dengan tim medis juga diperlukan untuk penanganan yang komprehensif. -
Article No. 8349 | 09 Dec 2024
Klinis : manajemen delirium
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum. Saya adalah perawat profesional yang bersertifikasi dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Berikut ini adalah diagnostik keperawatan beserta penjelasan singkat mengenai SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) untuk kondisi manajemen delirium:
Diagnosa Keperawatan:
Perubahan Persepsi Sensori (00122)
Definisi: Persepsi yang terdistorsi atau salah interpretasi atas suatu stimulus.
SDKI:
Faktor yang berhubungan: Perubahan fisiologis, obat-obatan, gangguan neurologis, gangguan psikologis.
Karakteristik Definisi: Halusinasi, ilusi, gangguan memori, gangguan atensi, disorientasi, perubahan persepsi.
SLKI:
Luaran yang diharapkan: Persepsi sensorik membaik, gangguan persepsi berkurang, kemampuan beradaptasi dengan perubahan persepsi meningkat.
SIKI:
Intervensi Keperawatan: Manajemen lingkungan, terapi reminiscence, terapi validasi, orientasi realitas, manajemen obat-obatan, manajemen perilaku.
Penjelasan singkat:
Delirium merupakan gangguan kesadaran dan fungsi kognitif yang terjadi secara tiba-tiba dan bersifat fluktuatif. Diagnosa keperawatan "Perubahan Persepsi Sensori" menggambarkan kondisi ini, di mana pasien mengalami distorsi atau salah interpretasi terhadap stimulus yang diterima. Standar asuhan keperawatan PPNI (SDKI, SLKI, SIKI) memberikan panduan dalam mengidentifikasi faktor-faktor terkait, mengukur luaran yang diharapkan, serta melaksanakan intervensi keperawatan yang komprehensif untuk mengelola kondisi delirium pada pasien.
Semoga penjelasan ini bermanfaat. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, saya siap membantu. Wassalamualaikum. -
Article No. 8350 | 09 Dec 2024
Klinis : manajemen delirium
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan, penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi manajemen delirium, dengan tone akademis dan persona sebagai pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Gangguan Proses Pikir Berhubungan dengan Delirium
Penjelasan singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Risiko Gangguan Proses Pikir didefinisikan sebagai kondisi rentan yang ditandai dengan perubahan fungsi kognitif, memori, dan/atau persepsi yang dapat mengganggu kemampuan berpikir jernih.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari diagnosa ini adalah pasien dapat menunjukkan peningkatan fungsi kognitif, memori, dan persepsi yang sesuai dengan kondisi baseline.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan meliputi:
1. Monitoring tanda-tanda vital dan tingkat kesadaran secara berkala
2. Menciptakan lingkungan yang tenang dan mendukung orientasi
3. Memberikan stimulasi sensorik yang sesuai
4. Melibatkan keluarga dalam perawatan
5. Menjaga pola tidur-bangun yang adekuat
6. Mengelola faktor pemicu delirium seperti infeksi, gangguan elektrolit, atau efek samping obat
Sebagai perawat, tujuan utama penanganan delirium adalah untuk meminimalkan dampak negatif yang dapat terjadi dan membantu pasien kembali ke kondisi baseline secara kognitif dan psikologis.